Back

SIKAP MENTAL ENTREPENEUR

BAB III

SIKAP MENTAL ENTREPENEUR

 

Pembahasan Materi

            Dalam bab ini Anda akan mempelajari tentang sikap mental entrepreneur, yaitu: berani bermimpi, berani mencoba, berani gagal, melihat peluang bisnis ada di sekitar kita, berani memulai bisnis baru, berani memulai bisnis tanpa uang tunai, belajar bisnis sambil jalan, sukses adalah guru yang buruk, rezeki itu bisa direncanakan, tipe pengusaha climber, optimisme entrepreneur, dan mengembangkan Entre-Q.

3.1. Berani Bermimpi

            Jadi entrepreneur itu memang harus berani bermimpi. Bagaimana dengan Anda? Bahkan saat krisis ekonomi pun, kita janganlah merasa takut bermimpi. Sebab, kita harus yakin bahwa mimpi atau visi itu sama dengan cetak biru (blue print) dan realita. Artinya, sesuatu yang akan menjadi kenyataan. Kita harus punya keyakinan, kalau entrepreneur berani memiliki visi, ia pasti mampu menciptakan kekuatan positif di dalam pikirannya. Hasilnya adalah kemampuan kerja dan kualitas hidupnya yang meningkat. Seperti yang disampaikan oleh Antonius Arif (2012), salah satu alasan entrepreneur tidak mengejar impiannya karena hanya sekedar keinginan saja bukan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi.

            Banyak pengusaha yang memulai usahanya dengan mengembangkan mimpi-mimpinya dari modal nol. Kita lihat saja bagaimana Bill Gates yang bermimpi, bahwa personal computer akan tersedia di rumah setiap orang. Untuk merealisasikan mimpinya, ia rela drop out dari studinya, dan lebih memilih menekuni Microsoftnya. Ternyata ia berhasil. Sehingga ia kini menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Begitu pula Michael Dell. Impiannya juga menakjubkan, ia ingin mengalahkan perusahaan komputer raksasa IBM. Akhirnya, ia juga berhasil jadi orang pertama memasarkan komputer pribadi dengan strategi direct marketing. Usahanya yang dirintis tahun 1984 berhasil, buktinya penjualan Dell Computer sangat laris. Bahkan, Dell dalam usia 34 tahun berhasil  menjadi salah satu orang terkaya di Amerika Serikat.

            Contoh lainnya adalah Jeff Bezos. Mimpinya ingin jadi pengusaha sukses di dunia perdagangan melalui internet. Meski baru tahun 1995, yaitu di saat usianya 30 tahun, ia memberanikan diri masuk ke dunia maya. Ia mendirikan Amazon.com yang merupakan salah satu situs paling banyak dikunjungi orang, untuk mendapatkan informasi atau membeli buku-buku bermutu dari seluruh dunia. Mimpinya akhirnya terwujud juga. Dan kini ia juga tercatat sebagai miliader di negeri Paman Sam itu (Purdi E. Chandra, 2005).

3.2.  Berani  Mencoba

            Lebih baik mencoba dan gagal daripada gagal mencoba. Mencoba untuk menjadi entrepreneur dan gagal adalah lebih baik, karena kita mendapat ilmu dan pengalaman yang luar biasa yang tidak akan kita dapatkan kalau kita belum pernah mencoba untuk membuka usaha. Lebih penting lagi adalah bangkit dari kegagalan setelah kita mencoba (Suyanto, 2011).     Karena sesungguhnya untuk dapat meraih kesuksesan dalam karier atau bisnis, setiap orang harus punya keberanian mencoba. Seorang entrepreneur dalam situasi sesulit apa pun akan semakin tertantang untuk tidak berhenti mencoba. Dengan kata lain “berani mencoba”, dan orang yang selalu berani mencoba itulah yang ada akhirnya justru akan meraih kemenangan atau kesuksesan. Dalam bisnis, tampaknya kita perlu mengedepankan sikap seperti itu, dan tidak ada salahnya bila kita bersikap positif semacam itu.

            Tegasnya, keberhasilan dalam bisnis memang sangat ditentukan oleh semangat kewirausahaan kita yang tinggi. Dengan demikian sikap mencoba dan mencoba terus-menerus sebaliknya dimiliki oleh seorang entrepreneur. Pada akhirnya dengan sikap kita yang “berani mencoba” itu, menghindarkan kita untuk tidak terpuruk dalam keputusasaan. Apalagi sampai menghancurkan hidup dan bisnis yang telah kita rintis lama. Selain itu, pikiran kita juga harus tetap diformulasikan ke arah positif (Ibrahim Elfiky, 2009). Bukan sebaliknya, suka berpikir negatif, apalagi sampai putus asa. Sikap semacam ini harus kita buang jauh-jauh. Jika pikiran kita tidak melihat hasil akhir, bahwa bisnis kita bakal sukses, tentu kita akan kehilangan semangat kewirausahaan. Sebab, dengan kita memiliki bayangan kesuksesan di masa depan, tentu akan dapat memotivasi kita untuk bekerja lebih giat.

            Dalam bisnis modern, kita tidak akan dapat hidup tanpa memiliki sikap berani mencoba. Kita lihat saja, masih banyak orang gagal dalam usahanya, yang akhirnya putus asa tanpa mampu lagi berbuat sesuatu, tanpa berani mencoba lagi. Sikap semacam ini jelas akan merugikan kita, bukan saja dari aspek materi atau finansial saja, tapi juga dari aspek psikolgis. Oleh karena itu, walaupun di masa krisis, sebaiknya kita harus tetap menjadi entrepreneur yang memiliki semangat kewirausahaan yang tinggi. Kita juga harus punya keyakinan, bahwa sesunguhnya seseorang itu tidak ada yang gagal dalam bisnisnya. Mereka yang gagal hanyalah karena dia berhenti mencoba, berhenti berusaha. Seandainya kita berani mencoba, dan kita lebih tekun dan ulet, maka pasti yang namanya kegagalan itu tidak akan pernah ada. Artinya, kita mau berjerih payah dalam berusaha, tentu kita akan menuai keberhasilan.

3.3.  Berani Gagal

            Hanya orang yang berani gagal total, akan meraih keberhasilan total. Pernyataan John F. Kennedy ini patut diyakini kebenarannya. Itu bukan sekadar retorika, tetapi sudah terbukti dalam perjalanan hidup John F. Kennedy. Gagal total itulah awal karier bisnis, bagi mereka yang merenungi nasehat Thomas Henry Huxley “Terdapat faedah luar biasa dalam mengalami beberapa kegagalan dalam hidup”. Tetapi kebanyakan dari kita tidak memahaminya. Ketika mengalami masa sulit, masa mengecewakan, kita menjadi marah dan kecewa. Kita mulai memaki dan menyumpah serapah. Orang yang tidak dapat mengetahui manfaat pengalaman buruk mungkin terus tunduk pada nasib dan menghabiskan sisa hidup sebagai orang yang marah dan kecewa, dan juga menjadi pecundang (Billi Lim, 2002).

            Kisah bagaimana seseorang dapat menjadi wirausahawan memang seringkali tidak terjadi begitu saja. Diperlukan proses panjang yang harus ditempuh, sehingga orang tersebut memiliki kekenyalan untuk menghadapai segala macam ujian (Rhenald Kasali, 2012). Sukses bukanlah seberapa tinggi bukit yang bisa kita raih, tetapi seberapa cepat kita bisa kembali saat persoalan menghempaskan kita jauh di bawah.   Dalam kehidupan sosial, kegagalan itu memang sebuah kata yang tidak begitu enak didengar. Kegagalan bukan sesuatu yang disukai, dan merupakan kejadian yang dihindari oleh orang. Kita tidak bisa memungkiri diri kita, yang nyata-nyata masih lebih suka melihat orang sukses daripada melihat orang yang gagal, bahkan tidak menyukai orang yang gagal. Jadi, ketika Anda seorang entrepreneur yang menemui kegagalan dalam usaha, maka jangan berharap orang akan memuji Anda. Jangan berharap pula orang di sekitar Anda maupun relasi Anda akan memahami mengapa Anda gagal. Jangan berharap Anda tidak disalahkan. Jangan berharap juga semua sahabat masih tetap berada di sekeliling Anda. Jangan berharap Anda akan mendapat dukungan moral dari teman yang lain. Jangan berharap pula ada orang yang akan meminjami uang sebagai bantuan sementara. Jangan berharap bank akan memberikan pinjaman selanjutnya. Begitulah masyarakat kita, cenderung memuji yang sukses dan menang. Sebaliknya, menghujat yang kalah dan gagal. Kita sebaiknya mengubah budaya seperti itu, dan memberikan kesempatan kepada setiap orang pada peluang yang kedua.

            Suka atau tidak suka, setiap manusia akan mengalami berbagai masalah, bahkan mungkin penderitaan. Kerumitan membuahkan sifat-sifat terbaik dalam diri seseorang dan memungkinkan unggul. Orang yang memenangkan perjuangan mengatasi kerumitan dihiasi tanda-tanda kemengangan di wajahnya. Bagi seorang entrepreneur, sebaiknya jangan sampai terpuruk dengan kondisi dan suasana seperti itu. Kita harus berani menghadapi kegagalan dan ambil saja hikmahnya (kejadian di balik itu). Mungkin saja kegagalan itu datang untuk memuliakan hati kita, memberikan pikiran kita dari keangkuhan dan kepicikan, memperluas wawasan kita, serta untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Untuk mengajarkan kita menjadi gagah, tatkala lemah. Menjadi berani ketika kita takut. Richard Gere, aktor terkemuka Hollywood, mengatakan bahwa kegagalan itu penting bagi karier siapa pun (Purdi E. Chandra, 2008).

            Mengapa demikian? Karena selama ini banyak orang membuat kesalahan sama, dengan menganggap kegagalan sebagai musuh kesuksesan. Justru sebaliknya, kita seharusnya menganggap kegagalan itu dapat mendatangkan hasil. Ingat, kita harus yakin akan menemukan kesuksesan di penghujung kegagalan. Ada berapa sebab dari kegagalan itu sendiri. Pertama, kita ini sering menilai kemampuan diri kita tidak terlalu rendah. Kedua, setiap bertindak, kita sering terpengaruh oleh mitos yang muncul di masyarakat sekitar kita. Ketiga, biasanya kita terlalu “melankolis” dan suka menghakimi  diri terlebih dahulu, bahwa kita ini dilahirkan dengan nasib buruk. Keempat, kita cenderung masih memiliki sikap, tidak mau atau tidak mau tahu dari mana kita harus memulai kembali suatu usaha.

            Dengan mengetahui sebab kegagalan itu, tentunya akan membuat kita yakin untuk bisa mengatasinya. Bila kita mengalami sembilan dari sepuluh kali lebih giat. Maka sebaiknya kita bekerja sepuluh kali lebih giat. Dengan memiliki sikap dan pemikiran semacam itu, maka akan menjadikan kita tetap sebagai sosok entrepreneur yang selalu optimis akan masa depan. Maka, sebaiknya janganlah kita suka mengukur seorang entrepreneur dengan menghitung berapa kali dia jatuh. Tapi ukurlah, berapa kali bangkit kembali. Renungkanlah pernyataan berikut: Kegagalan sering bertutur dengan kita dalam bahasa bisu yang tidak kita pahami. Jika kita benar, kita tidak akan membuat kesalahan yang sama berulang kali tanpa mendapat faedah darinya; ingat saja dari pelajaran yang ia ajarkan. Jika tidak benar, kita akan memperhatikan dengan lebih teliti kesalahan yang telah dibuat orang lain dan mendapat faedah darinya.

            Jika Anda telah mencoba dan menemui kegagalan; jika anda telah merancang dan menyaksikan rancangan Anda hancur di depan mata; ingat saja bahwa tokoh-tokoh besar dalam sejarah semuanya menjadi besar karena keberanian dan keberanian lahir dalam buaian kesusahan. Peter Drucker mengatakan: “Jika telah dirancang dengan teliti dan diatur dengan rapi dan dilaksanakan dengan efektif namun tetap gagal, maka kegagalan menandakan perubahan dan dengannya terbuka peluang”. Para usahawan diseluruh dunia memahami hakikat ini. Jika Anda ingin menjadi seorang usahawan ada banyak alasan mengapa Anda harus memahaminya. Tidak ada pilihan lain lagi, Anda tidak bisa bisnis yang aman saja dan di saat yang sama mengharapkan peluang datang dengan sendirinya (Muhammad Syahrial, 2011).

3.4.  Peluang Bisnis Ada Di Sekitar Kita

            Dalam buku ini, saya juga ingin mengungkapkan dimana sebenarnya kita bisa menangkap peluang bisnis di sekitar kita. Istilah populernya Economic Orbit of Opportunity (EOO). Saya kira ini penting. Oleh karena itu, peluang bisnis itu sebenarnya ada di sekitar kita. Referensinya juga bisa didapat dari lingkungan kita juga dari membaca, mendengar cerita orang lain, seminar, jalan-jalan, atau wisata. Ini dapat membangkitkan inspirasi dan ide-ide bisnis serta pengembangannya. Namun, untuk menangkap peluang itu dibutuhkan keberanian, kejelian, dan kreativitas bisnis. Sebenarnya di sekitar kita ini banyak sekali macam bisnis yang bisa diraih. Hanya saja, kita harus betul-betul memahami kebutuhan masyarakat konsumen. Sebagai contoh, di beberapa kota di Amerika Serikat, sudah banyak bisnis yang dikembangkan dari ide-ide sederhana seperti bisnis membangunkan orang tidur (morning call).

            Barangkali sekarang ini belum banyak yang kita temukan. Namun, saya yakin jika kreatif, akan mampu melihat peluang bisnis sebanyak-banyaknya dan mampu menangkap satu atau dua di antaranya. Pendek kata, peluang bisnis tidak akan pernah ada habisnya, selama minat manusia masih menjalankan hajat hidupnya di dunia ini. Di mana saja sebenarnya peluang bisnis ada di sekita kita? Misalnya, saat Idul Fitri yang membawa tradisi kirim mengirim parcel dan buah tangan lainnya, walaupun sifatnya musiman, namun saya melihat itu adalah peluang bisnis. Awalnya musiman, tetapi bila dikembangkan dan ditekuni dapat dijadikan bisnis permanen bersama berkembangnya kehidupan sosial masyarakat (Purdi E. Chandra, 2008).

            Keterampilan tentu juga bisa dijadikan peluang bisnis. Terampil di bidang elektronika misalnya, bisa membuka bisnis reparasi dan maintenance alat-alat elektronik. Ahli di bidang komputer bisa membuka bisnis software dan hardware. Terampil di mesin, bisa memulai bisnis dari servis motor atau mobil. Atau barangkali, punya kreativitas yang berciri khas dan unik, kita bisa merintis bisnis kreatif, seperti kaos Dagadu itu. Bahwa produk ini akhirnya jadi souvenir khas Yogya, itu sebagai bukti bahwa kreativitas bisa jadi peluang bisnis yang menarik untuk digeluti. Maka, tidak ada salahnya, jika kita juga mencoba mengembangkan kreativitas yang tidak lazim dan unik, agar bisa dijadikan peluang bisnis.

            Tingkat pendidikan kita juga bisa menjadi peluang bisnis dengan pengembangan profesi. Misalnya sarjana Matematika membuka kursus Matematika. Sarjana Sastra Inggris mulai usaha dengan membuka kursus bahasa Inggris. Peluang bisnis ini juga ada di lingkungan keluarga. Bisa dimulai dengan berbisnis makanan atau catering dan keluarga bisa diajak serta, dan bisnis ini bisa dikelola dari rumah. Peluang itu juga terdapat di lingkungan pekerja, organisasi, dan tetangga. Tentu saja, di lingkungan itu kita banyak teman. Maka, jika punya produk tertentu, kita bisa jual produk tersebut kepada mereka. Bahkan, relasi kita pun bisa jadi peluang bisnis. Misalnya, bisa pinjam uang pada relasi untuk modal usaha. Produk yang dihasilkan, selain bisa dijual pada orang lain, juga pada relasi kita itu. Dengan begitu, kita tidak hanya mencari peluang bisnis, tapi juga mampu menciptakan pasar.

3.5.  Memulai Bisnis Baru

            Peluang untuk memasuki dunia usaha adalah memulai atau membuka usaha baru. Artinya seseorang memulai sesuatu yang sama sekali baru yang belum pernah ada sebelumnya. Dalam kondisi awal seperti ini biasanya seseorang calon entrepreneur dibayangi oleh perasaan ragu. Keraguan ini wajar terjadi karena yang selalu muncul dan menjadi pertanyaan adalah dari manakah usaha baru tersebut harus dimulai.  Setiap tahun telah cukup banyak orang yang masuk dunia bisnis. Mereka umumnya melakukan tiga cara. Yakni, membeli bisnis yang sudah ada, menjadi partner dalam sebuah franchise, atau dengan memiliki bisnis baru.

            Jika ingin memulai bisnis baru, tentu kita harus bisa menjawab empat pertanyaan ini. Pertama, produk atau layanan apakah yang akan kita buat, dan itu untuk siapa? Kedua, mengapa harus usaha itu? Mengapa calon pelanggan harus membeli dari kita? Apa yang akan kita berikan jika ternyata produk itu belum ada? Bagaimana kompetisinya? Apa keuntungan yang kita peroleh dari kompetisi itu? Ketiga, apakah kita mempunyai sumbernya? Apakah kita akan mendapat order? Apakah order itu datang segera? Keempat, siapa pasar kita? Lantas dari manakah ide untuk mulai bisnis baru itu berasal?

            Hasil survei di AS menunjukkan, bahwa 43% pengusaha itu dapat ide dari pengalaman yang diperoleh saat dia bekerja di industri yang sama. Mereka tahu operasional suatu usaha dan umumnya punya jaringan kerja sama. Sebanyak 15% pengusaha dapat ide bisnis saat melihat orang lain mencoba suatu usaha. Sebanyak 11% pengusaha dapat ide saat melihat peluang pasar yang tidak atau belum terpenuhi, 7% pengusaha dapat ide karena telah meneliti secara sistematik kesempatan bisnis, dan 3% pengusaha dapat ide karena hobi atau tertarik akan kegemaran tertentu (Alex McMillan, 2013). Menurut saya, jika kita memang benar-benar ingin memulai bisnis baru, semestinya peluang pasarlah yang lebih kita jadikan pijakan.

            Untuk itulah langkah yang kita gunakan pun bukannya inside out approach melainkan outside in approach, yaitu pendekatan dari luar ke dalam. Cara ini cenderung melihat dahulu, apakah ada peluang bisnis atau tidak. Sebab, sesungguhnya ide dasar bisnis itu sukses adalah jika kita mampu merespons dan mengkreasikan kebutuhan pasar. Cara ini biasanya disebut opportunity recognition. Sebagai pengusaha kita semestinya harus berani memulai bisnis baru. Hal itu memang bukan hal mudah karena membutuhkan analisis dan perencanaan yang serius. Namun, percayalah bahwa ide memulai bisnis baru tidak terlalu sulit. Ide itu bisa berasal dari mana saja dalam berbagai cara. Yang pasti, sekali ide bisnis itu dikembangkan dengan jelas, maka bisnis baru itu niscaya akan berkembang. Apalagi, setelah terlebih dahulu kita adakan evaluasi dengan teliti, baik itu berkaitan dengan pelanggan dan kompetisinya.

 

3.6.  Memulai Bisnis Tanpa Uang Tunai

            Mungkinkah kita memulai bisnis tanpa memiliki uang tunai? Saya kira itu mungkin saja. Mengapa tidak! Jika kita mampu mengoptimalkan pemikiran kita, maka banyak jalan yang bisa ditempuh adalah menghadapi masalah permodalan untuk kita bisa memulai  bisnis. Cuma masalahnya, dari mana duit itu berasal? Logikanya, semua bisnis itu membutuhkan modal uang. Memang, kebanyakan kita selalu mengeluh ketiadaan modal uang sebagai alasan mengapa kita malas berwirausaha. Padahal, modal yang paling vital sebenarnya bukanlah uang, tetapi modal non-fisik, yakni berupa motivasi dan keberanian yang menggebu-gebu. Saya yakin, jika hal itu bisa dipenuhi, maka mencari modal uang bukanlah persoalan yang tidak mungkin, meski secara pribadi kita tidak memiliki uang. Sementara kita telah tahu, bahwa peluang bisnis telah ada di depan mata (Purdi E. Chandra, 2008).

            Kita tahu, bahwa sebenarnya banyak sumber permodalan. Seperti uang tabungan, uang pesangon, pinjam di bank, dan di koperasi atau dari lembaga keuangan, atau dari pihak lainnya. Namun, jika kita ternyata tidak memiliki uang tabungan, uang pesangon atau katakanlah belum ada keberanian untuk meminjam uang ke bank atau koperasi, saya kira kita juga tidak perlu risau. Karena ada cara untuk kita memulai bisnis, meski kita tidak memiliki uang tunai sekalipun. Contohnya, kita bisa menjadi seorang perantara. Misalnya, menjadi perantara jual beli rumah, motor dan lain-lain. Keuntungan yang kita dapat bisa dari komisi penjualan atau dari cara lain atas kesepakatan kita dengan pemilik produk. Saya yakin, kita pasti bisa melakukannya.

            Kita bisa juga membuat usaha dengan cara konsumen melakukan pembayaran di muka. Dalam hal ini, kita bisa mencari bisnis di mana konsumen yang jadi sasaran bisnis kita itu mau membayar atau mengeluarkan uang dulu sebelum proses bisnis, baik jasa maupun produk, itu terjadi. Misalnya bisa dilakukan pada bisnis jasa, seperti industri  jasa pendidikan. Di mana, siswa diwajibkan membayar dulu di depan sebelum proses pendidikannya itu terjadi. Bisa juga misalnya, ada orang yang memesan barang pada kita, namun sebelum barang yang dipesan itu jadi, pihak konsumen sudah memberikan uang muka dulu. Artinya, ini sama saja kita telah diberi modal oleh konsumen.

            Masih ada cara lain memulai bisnis tanpa kita memiliki uang tunai. Contohnya, menggunakan sistem bagi hasil. Biasanya, cara bisnis model ini banyak diterapkan pada Rumah Makan Padang. Di mana kita sebagai orang yang memiliki keahlian memasak, sementara partner bisnis kita sebagai pemilik modal uang. Kita bekerjasama dan keuntungan yang didapat pun dibagi sesuai kesepakatan bersama. Atau kita mungkin ingin cara lain? Tentu masi ada. Contohnya, kita bisa melakukannya dengan sistem barter dengan pemasok, dan kita pun jika memiliki keahlian tertentu, mengapa tidak saja menjadi seorang konsultan. Selain itu, bisa saja dengan cara kita mengambil dulu produk yang akan diperdagangkan, hanya untuk membayarnya bisa kita lakukan setelah produk tersebut terjual pada konsumen. Tentu, masih banyak cara lain untuk kita memulai binis tanpa uang tunai. Kuncinya sebetulnya terletak pada motivasi dan keberanian kita memulai bisnis yang menggebu-gebu. Hanya saja, untuk cepat meraih sukses, apalagi tanpa memiliki uang tunai, itu tidak semudah seperti kita membalikkan telapak tangan. Semuanya membutuhkan perjuangan.

3.7.  Belajar Bisnis Sambil Jalan

            Saya sependapat kalau ada yang mengatakan, bahwa untuk meraih sukses bisnis, kita bisa meniru sukses orang lain, apakah itu strateginya, atau pilihan usaha yang dilakukannya. Selain itu, saya ingin menambahkan, bahwa untuk kita bisa menjadi pengusaha, sesungguhnya tidak harus punya pengalaman bisnis yang mumpuni dulu. Logikanya adalah, kalau kita menunggu sampai punya pengalaman bisnis yang mumpuni, lantas kapan kita akan memulai usaha? Pengalaman pengusaha Bob Sadino, juga pengalaman pengusaha lain, menunjukkan bahwa sesungguhnya pengalaman bisnis yang mumpuni itu bisa kita raih sambil menjalankan bisnis kita. Maka, jika kita ingin memulai usaha, ada baiknya jangan banyak dipikir atau pakai rencana yang muluk-muluk. Yakinlah, bahwa dalam bisnis bisa saja berubah, dan itu bisa kita tangani sambil jalan.

            Hanya saja, mungkin ketakutan kita sementara ini justru karena kita terlalu siap, terlalu banyak yang dipikir, bahkan terlalu takut pada risiko bisnis. Padahal dalam praktik bisnis, yang terjadi sesungguhnya banyak berbeda dengan apa yang pernah dipikirkan. Sehingga tidak mengherankan kalau kita kemudian banyak menemukan jalan keluar untuk mengatasi semua kesulitan bisnis yang kita alami. Jadi, sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita untuk memulai usaha, karena alasan pengalaman bisnis kita terbatas. Katakanlah, dengan kita piawai menarik pelajaran dari setiap kejadian, saya yakin hal itu justru membuat kita tambah piawai dalam bisnis (Mulyadi, 2009).

            Kemudian, kalau kita lihat di lapangan, banyak usaha yang ternyata dimulai dengan nol. Misalnya, uang tidak punya, itu bisa diatasi dengan pinjam orang lain. Kemudian pengalaman bisnis tidak punya, bisa bertanya pada orang lain. Bahkan ide pun tidak punya, bisa pakai ide orang lain. Begitu juga tempat usaha yang tak ada, dan masih banyak lagi. Apa artinya semua itu? Artinya, kita bisa menggunakan “kepunyaan” orang lain. Justru dari keadaan semacam inilah, akan membuat kita mendapat banyak pelajaran dalam berbisnis. Pemikiran tersebut merupakan hal yang paling penting untuk memulai bisnis. Oleh karena itu, sesungguhnya belajar bisnis sambil jalan atau jalan sambil belajar, di dunia usaha itu sama saja, yang penting kita telah berusaha dengan memulai usaha. Menurut Bob Sadino dengan melangkah seperti itu, paling tidak kita sudah selangkah lebih maju dalam berbisnis. Kita tidak lagi hanya berjalan di tempat, yang berarti tidak ke mana-mana atau tidak melakukan bisnis apapun.

3.8.  Sukses Adalah Guru Yang Buruk

            Robert T. Kiyosaki dalam bukunya “Cash flow Quadrant” berpendapat, bahwa sebenarnya sukses itu guru yang buruk. Tetapi itu berlaku untuk diri kita sendiri. Artinya, sebagai entrepreneur, sebaiknya tidak berguru pada kesuksesan kita sendiri. Sebab, hal itu akan membuat kita menjadi kurang bersemangat, menjadi tidak kreatif, menjadikan kita lengah atau sombong, menjadikan kita lupa diri, bahkan tidak menutup kemungkinan kesuksesan yang kita raih akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Sukses itu, menurut saya, bukan berarti “waktunya untuk menikmati”. Kesuksesan kita itu bisa menjerumuskan kita. Apalagi, kalau kita terlalu membanggakan kesuksesan itu, akan membuat kita lupa diri. Oleh karena itu, agar kesuksesan itu tidak menjadi bumerang bagi kita sendiri, maka kita  harus pandai-pandai mengelola kesuksesan itu. Namun, tentu saja, orang lain bisa saja belajar dari kesuksesan kita. Bahkan, itu bisa menjadikan kesuksesan bisnis seseorang. Sebab, pada dasarnya belajar dari kesuksesan orang lain itu sah-sah saja. Pendeknya, kalau seseorang belajar kesuksesan orang lain, itu memang bisa menjadi guru yang baik. Meski kita sebetulnya juga bisa belajar banyak pada orang yang gagal (Robert T. Kiyosaki, 2008).

            Dalam konteks inilah, agar bisnis kita tetap langgeng bahkan bisa berkembang lebih baik di masa mendatang, ada kalanya kita harus menyadari hal ini. Atau lebih tepatnya, sebagai entrepreneur seharusnya lebih menilai, bahwa kegagalan itu sebetulnya sebagian pelajaran yang terbaik. Oleh karena itulah, saya kira kita sebaiknya janganlah terlalu takut dengan kegagalan. Kita belajar paling banyak tentang diri kita ketika kita gagal, jadi jangan takut gagal. Sebab, kegagalan itu sebenarnya adalah proses kita untuk menjadi sukses. Saya yakin, yang namanya entrepreneur itu sebetulnya tidak bisa sukses tanpa mengalami kegagalan. Untuk itu, pada saat kita ingin memulai bisnis atau di saat bisnis kita mulai berkembang, tetapi kemudian tiba-tiba bangkrut atau mengalami kegagalan, saya kira hal itu janganlah membuat kita patah semangat. Justru, saat itulah jiwa entrepreneur kita harus bangkit kembali. Entrepreneur tidak akan pernah mendapatkan pelajaran tanpa melakukan langkah-langkah yang berarti. Baik itu langkah yang gagal maupun itu yang sukses. Langkah-langkahnya dimulai dari langkah kecil sampai langkah besar. Dengan perkataan lain, saya mengatakan, sebuah perjalanan 1.000 km itu sebenarnya dimulai dari langkah kecil.

3.9.  Rezeki Itu Bisa Direncanakan

            Rezeki itu sebenarnya sudah ada yang mengatur-Nya. Saya kira, itu memang benar. Dan, sebagian besar kita berpendapat demikian. Oleh karena sejak lahir setiap orang itu membawa rezeki sendiri-sendiri. Tetapi, apakah kita itu bisa meningkatkan rezeki kita sendiri? Dan, apakah kita tidak bisa merencanakannya? Saya berpendapat, meski rezeki itu sudah ada yang mengatur-Nya, Namun kita harus tetap aktif merencanakannya. Tanpa direncanakan, rezeki itu akan sulit kita raih. Saya kira, rezeki itu membutuhkan peluang untuk mendatanginya. Mana mungkin rezeki itu datang kalau setiap harinya kita tidak punya aktivitas apa-apa. Hanya pasrah saja. Dan, kita terlalu yakin, bahwa rezeki itu tidak perlu dikejar, pasti akan datang sendiri. Saya tidak sepedapat dengan prinsip ini. Sebab, bagaimanapun kalau pada diri kita tidak ada kegairahan bekerja, dan hanya selalu memimpikan rezeki itu datang, maka rezeki itu pun akan sulit datang atau justru malah menjauh. Tetapi sebaliknya, jika tekun bekerja, dan kreatif berwirausaha, saya yakin, pasti rezeki akan datang (Purdi E. Chandra, 2005).

            Apalagi, kalau kita berani memilih profesi seperti pengusaha, dokter, notaris, pengacara, pelukis, seniman, dan lain-lain. Profesi ini saya lihat sangat berpeluang mendatangkan rezeki yang relatif besar atau tidak linier. Sebab, profesi ini berbeda dengan orang yang digaji atau seperti karyawan. Artinya, jika saat ini kita misalnya, sedang menekuni dunia usaha atau sebagai pengusaha, maka jelas sangat memungkinkan sekali bagi kita untuk mendatangkan rezeki yang relatif besar. Sementara kalau saja kita sekarang ini bekerja ikut orang lain atau setiap bulannya digaji tetap, maka jelas peluang akan datangnya rezeki yang relatif besar, menjadi kecil. Oleh karena itu, rezeki besar itu datangnya mencari tempat yang pas, dan ini bisa kita rencanakan.

3.10.  Pengusaha “Climber

            Hari K. Lasmono mengungkapkan, bahwa untuk kita bisa sukses dalam bisnis maupun karier, tidak cukup hanya mengandalkan IQ (Intelligence Quotient) dan EQ (Emotional Quotient), tapi juga AQ (Adversity Quotient). Mengapa AQ penting? Menurut pakar SDM, Paul G. Stoltz,  AQ merupakan perpaduan antara IQ dan EQ. Jadi AQ bisa saja kita artikan sebagai keandalan mental. Sementra, Daniel Goleman pernah mengatakan, banyak pengusaha ber-IQ tinggi, namun usahanya cepat jatuh. Sedang, yang ber-IQ biasa-biasa saja justru berkembang. Lantas, ia mengenalkan kecerdasan emosi (EQ). di mana EQ merefleksikan kemampuan kita berempati pada orang lain, mengontrol kemampuan hati, dan kesadaran diri. Sehingga Goleman yakin EQ lebih penting dari IQ (Daniel Goleman, 2002).

            Tetapi kenyataannya, seperti IQ, tidak semua orang mengambil keuntungan dari EQ. Karena kurangnya ukuran validitas dan metode definitif untuk mempelajarinya, membuat EQ sukar dipahami. Bahkan beberapa orang ber-IQ, tinggi dan punya semua aspek EQ, ternyata akan jatuh pula. Itu sebabnya mengapa Stoltz, berani mengatakan, bahwa IQ dan EQ tidak menentukan kesuksesan seseorang, meskipun keduanya memegang peranan. Lantas, mengapa pengusaha bisa bertahan, meski di saat krisis ekonomi sekali pun, sedang pengusaha lain yang rata-rata pintar menyerah akibat badai krisis? AQ itulah kuncinya.

            Konsep AQ lahir melalui riset yang telah dilakukan selama 19 tahun mengenai faktor yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan. Adversity sendiri bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah kemalangan atau kesulitan, dan dapat dijabarkan sebagai suatu kondisi dari ketidakbahagiaan, kesulitan, atau ketidakberuntungan. Kadang-kadang dalam bahasa Psikologi, kata ini sering diterjemahkan sebagai suatu tantangan kehidupan. AQ mempunyai tiga bentuk sebagai berikut (Purdi E. Chandra, 2008):

  1. AQ adalah suatu kerangka kerja konseptual baru dalam memahami dan meningkatkan semua bagian dari keberhasilan.
  2. AQ adalah suatu ukuran untuk mengetahui respons seseorang terhadap kesulitan hidup.
  3. AQ adalah seperangkat alat yang memiliki dasar ilmiah untuk memperbaiki kemauan respons seseorang terhadap seseorang.

            Untuk memahami AQ, kita menggambarkannya dengan pendaki gunung. Ada 3 kategori, yang pertama adalah “Climber”. Tipe orang ini, akan terus mendaki sampai puncak tanpa mempertimbangkan lebih jauh keuntungan atau kerugian, ketidak beruntungan atau keberuntungan. Tipe pengusaha”Climber ” ini, juga cenderung tidak pernah mempermasalhkan usia, gender, ras, ketidakmampuan fisik atau mental, atau berbagai rintangan lain mencapai puncak kesuksesannya. Tipe yang kedua adalah pengusaha “Camper ”. Dia mengompromikan hidupnya. Dia bekerja keras tetapi hanya sebatas yang mampu dia lakukan. Sebenarnya kesuksesan bisa diraih lebih baik lagi, tetapi, dia cenderung untuk tidak mau mencapainya. Dia sudah cukup puas dengan apa yang sudah diraihnya. Terakhir tipe ketiga, pengusaha Quitters  juga mengompromikan hidupnya, namun tidak berusah sekeras “Camper”. Dia lebih memilih bisnis yang mudah, tanpa gejolak. Tapi, jika dalambisnis menghadapi kesukaran, ia cenderung lebih mudah terkena depresi, atau frustasi. Pendeknya, disadari atau tidak, pengusah “Quitter” lebih memilih melarikan diri dari pendakiannya. Padahal, sebetulnya dia punya potensi untuk mencapai sukses.

             Dengan melihat 3 tipe pengusaha di atas, dapat disimpulkan bahwa jika kita ingin eksis sebagai pengusaha, maka sebaiknya kita harus berusaha menjadi pengusaha “Climber ”, dan bukan “Camper” maupun “Quitter”. Sebab, hanya tipe “Climber” yang benar-benar bisa mengisi hidupnya. Sebab, mereka mempunyai perasaan yang kuat mencapai tujuan dan semangat untuk melakukannya. Baginya, tidak ada kata menyerah dalam kamusnya. Dia punya kebijaksanaan dan kedewasaan untuk memahami kapan harus maju dan kapan harus mundur. Namun demikian, “Climber” itu juga manusia. Kadang meraka punya keraguan, kesepian dan pertanyaan dalam perjuangannya. Karena itu, tidak mengherankan kadang-kadang pengusaha tipe “Climber” bergabung juga dengan “Camper” untuk merenungkan kembali, mengisi ulang energi untuk berjuang lagi. Salah satu cara meningkatkan AQ adalah melalui LEAD, yang merupakan akronim dari Listen, Explore, Analyse dan Do. Rangkaian LEAD didasarkan pada pengertian bahwa kita dapat mengubah keberhasilan kita dengan mengubah kebiasaan berpikir kita. Akhirnya dengan usaha yang sungguh-sungguh maka peningkatan AQ dapat tercapai. Makin tinggi AQ suatu bangsa, besar kemungkinan lahir manusia-manusia yang unggul, yaitu manusia yang pantang menyerah dan selalu berusaha mengatasi kesulitan. 

  • Optimisme Entrepreneur

            Dalam situasi ekonomi sesulit apa pun, seorang entrepreneur atau wirausahawan harus tetap optimis dalam menggeluti bisnisnya. Sebab, sesungguhnya keberanian seorang entrepreneur dalam menggeluti bisnisnya adalah terletak pada optimisme. Dengan tetap optimis, kita akan tetap termotivasi dan cemerlang dalam memanfaatkan setiap peluang bisnis. Bukan sebaliknya, pesimis. Sebab, sikap pesimis itu akan membuat semangat berwirausaha kita menjadi runtuh. Hal semacam itu jelas kalau bakal merugikan kita. Saya rasa wajar manakala dalam menggeluti bisnis kita, ada saja masalah yang timbul pada setiap harinya. Tinggal bagaimana sikap kita masing-masing.

            Bila kita menghadapinya tidak dengan pikiran yang segar, dengan tidak optimis, maka tentu saja kita akan dihadapkan pada situasi pikiran yang rumit, terlalu tegang dan akhirnya bisa stress sendiri. Bahkan, idea tau gagasan kita yang cemerlang tiba-tiba berhenti, dan pada akhirnya merembet pada sikap kurang percaya diri. Sehingga dalam setiap kita melakukan negosiasi bisnis akan selalu grogi. Tetapi coba bandingkan, bila kita tetap punya optimisme yang tinggi, meski diterpa “angin keras” apa pun kita tetap optimis, baik dalam bisnis maupun kehidupan sehari-hari, maka kita akan menjadi seorang yang selalu optimis dalam mengarungi masa depan. Kita pun menjadi tidak mudah terkejut oleh berbagai kesulitan apa pun. Bahkan kita akan tertantang dan selalu berusaha mencari jalan pemecahannya yang terbaik. Dengan pemikiran yang optimis itu, kita juga akan lebih bisa menggunakan imajinasi untuk meraih kesuksesan atau keberhasilan. Dengan demikian, optimisme akan meningkatkan kekuatan atau kemampuan kita dalam berusaha (Li Shi Guang, 2012).

            Namun kalau kita cenderung suka berpikir negatif, maka pasti akan memenuhi banyak kesukaran. Justru dengan optimism, kita selalu akan terdorong untuk berpikir positif. Saya rasa berpikir positif adalah suatu cara yang terbaik untuk mempromosikan percaya diri, dan menghimpun energi positif. Sebab pikiran kita merupakan sumber-sumber ide atau gagasan yang paling berharga jika kita mau berpikir secara positif. Itu sebabnya, mengapa sikap mental positif (positive mental attitude) seorang entrepreneur itu menjadi penting.

  • Mengembangkan Entre-Q

            Banyak orang berpendapat bahwa, sudah seharusnya sistem pendidikan kita direvisi kembali. Sebab, selama ini sistem tersebut cenderung mengajarkan kita untuk takut berbuat sesuatu. Kita jadi takut berbuat salah. Sebagai contoh, ketika kita sekolah dulu, selalu kita diharuskan oleh guru kita untuk mengerjakan segala sesuatu tidak boleh salah. Padahal, semakin banyak kita membuat kesalahan, maka kita akan banyak belajar dari kesalahan itu. Begitu juga saat sekolah dulu kita selalu diharuskan menghafal pelajaran dan menghitung angka, dan bukan bagaimana berkomunikasi dengan baik, bagaimana praktik memimpin, dan bagaimana praktik bekerja sama. Sehingga ada yang berpendapat bahwa sistem pendidikan kita di sekolah selama ini sebetulnya memiskinkan kecerdasan entrepreneur  kita sendiri.

            Apalagi bagi kita yang ingin menggeluti dunia bisnis, maka akan selalu dihantui persaan takut untuk berbuat sesuatu dalam bisnis. Padahal di dalam kita menjalankan bisnis, tidak ada salahnya kita belajar dari kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat. Artinya, kita harus berani berbuat sesuatu. Kita jangan takut memulai atau mengembangkan bisnis kita. Itulah sebenarnya manfaat kalau kita benar-benar memiliki kecerdasan entrepreneur, yang disingkat Entre-Q. Jika kita memiliki Entre-Q biasanya cenderung memiliki perilaku atau kepribadian yang aneh-aneh. Itu menurut ukuran orang pada umumnya. Sebab yang membedakan seseorang itu entrepreneur atau bukan antara lain terletak pada Entre-Q. Misalnya dia akan menjadi seorang entrepreneur yang cenderung memiliki keberanian, dan itu sangat menonjol jika dibandingkan orang pada umumnya.

            Sebagian besar entrepreneur yang memiliki Entre-Q mempunyai prinsip bahwa, setiap menghadapi tantangan bisnis dan kehidupan selalu dengan mengedepankan semangat dan spritualnya. Itu biasanya dia bangun sendiri dari pemikiran-pemikirannya, yang itu bisa dia pelajari dari orang lain, atau dia temukan sendiri. Entrepreneur yang memiliki Entre-Q biasanya juga selalu komit atau konsisten dengan apa yang dia lakukan. Dan, dia akan selalu punya keinginan untuk terus belajar dari pengalaman bisnisnya baik pahit maupun manis. Sehingga tidak mengherankan, kalau sosok pengusaha seperti ini biasanya mempunyai kelebihan berpikir yang tidak linier atau tidak teratur (Robert T. Kiyosaki, 2008). Dia juga cenderung tidak hanya cerdas dalam emosi atau keberaniannya, tetapi dia juga cerdas dalam kreativitasnya, intuisinya dan spiritualnya. Apakah Entre-Q itu bisa kita kembangkan? Saya kira bisa saja. Caranya, dengan memperbanyak pengalaman secara langsung. Maksud saya, kita harus banyak praktik, banyak mencoba. Begitu juga halnya dalam bisnis. Kalau Robert Kiyosaki dalam bukunya “Rich Dad’s Guide to Investing”, lebih suka menyebut bahwa kita tidak hanya cukup memiliki School Smart, tapi kita juga harus memiliki Street Smart.

 

 

  • Inspirasi Entrepreneur Sukses
    • ID Software: Siapa Butuh Pengawasan Orang Dewasa

John Carmack merupakan seseorang yang introspektif dan menghindari publisitas. Namanya nyaris tidak dikenal di luar dunia penggila game komputer. Namun, jika dia memutuskan untuk bicara tentang sebuah isu yang biasanya dia lakukan dengan sebuah pesan rendah hati di sebuah situs chat internet maka orang-orang seperti Bill Gates dari Microsoft dan Steve Jobs dari Apple akan memperhatikan dengan saksama. Dalam pesan-pesannya, Carmack mengkritik Apple karena ketinggalan dalam teknologi grafis. Steve Jobs lantas memanggilnya, mengatur sebuah pertemuan dan memulai upaya perubahan dalam perusahaannya. Ketika Carmack dianugerai tempat dalam ball of frame Academy of Interactive Arts and Sciences pada 2000, Bill Gates mengirim sebuah video ucapan selamat, sambil berkoar dirinya penulis perangkat lunak yang lebih baik daripada Carmack sebuah lelucon yang sangat lucu dalam lingkungan ini. Pasca 2001, majalah Times menetapkan Carmack yang baru berusia 28 tahun waktu itu pada peringkat ke -10 dalam daftar 50 orang penghibur digital teratas.

Perusahaan Carmack, Id Software, berkantor pusat cukup jauh dari Silicon
Valley
, tempatnya di Mesquite, Texas, dan hanya memiliki 22 karyawan. Perusahaan ini membuat paling banyak satu atau dua produk baru dalam setahun dan praktik bisnisnya seringkali bertabrakan dengan akal sehat, seperti ketika mereka membagikan produk mereka secara gratis. Struktur manajemen mereka juga kadang kala anarkis dalam industri komputer ada lelucon bahwa id “butuh pengawasan orangtua”. Jadi bagaimana mungkin Carmack memiliki pengaruh yang begitu besar? Hanya sedikit orang yang menganggap serius game komputer, baik sebagai bentuk seni atau sebagai industri. Walaupun demikian, dalam hal penghasilan, industri game dengan cepat mengejar industri film dan musik, serta semakin besar pengaruhnya pada bidang-bidang sektor teknologi lainnya dalam industri PC yang mengalami stagnasi ini, hanya para penggila game yang terus-menerus membeli PC baru yang lebih kuat.

Pada 2004, game yang membangkitkan minat para pemain game untuk membeli komputer baru adalah Doom III, sekuel termutakhir dari serial yang dibuat id Software, perusahaan yang dibangun John Carmack dengan seorang pemain game lain yang berusia dua puluhan, John Romero, dan beberapa penggila game lainnya. Carmack dan Romero disebut-sebut sebagai Lennon dan McCartney dari dunia gaming. Dan walaupun analogi ini tidak terlalu pas, tapi itu menggambarkan tingkat kreativitas mereka dan dampak yang mereka buat terhadap industri.

Carmack tumbuh besar dalam istilahnya sendiri sebagai “khas seorang penggila teknologi”, dengan minat pada bidang backing komputer, fiksi ilmiah, roket dan bom. “Saya sangat congkak karena lebih pintar daripada orang kebanyakan, tetapi tidak bahagia karena saya tidak bisa menghabiskan waktu saya untuk mengerjakan apa yang ingin saya kerjakan,” tulisnya dalam sebuah pesan yang dimuat dalam situs industry Slashdot.org, menjelaskan mengapa dia menghabiskan setahun dalam panti rehabilitasi remaja. Akhirnya dia bergabung dengan sebuah perusahaan perangkat lunak kecil bernama Softdisk, di mana dia bertemu John Romero. “Saya bahagia, “ katanya, “Saya menulis program, atau membaca tentang penulisan program, atau bercakap-cakap tentang penulisan program, hampir setiap jam saya terjaga.”

Carmack si genius dalam hal teknologi dan Romero si jago desain membuat game pertama mereka di waktu senggang, mendapat sambutan yang cukup besar sampai-sampai mereka mengundurkan diri dari pekerjaan rutin mereka dan mendirikan id Software. Setelah serangkaian game arcade yang menghibur, mereka mengubah game yang akan mendefinsikan id dan seluruh dunia game komputer. Game yang diberi judul Wolfenstein 3-D memberi para pemainnya pandangan pertama sebuah dunia virtual dari sudut pandang tokoh utamanya. Perusahaan itu juga salah satu perusahaan pertama yang membagikan sampel produk secara gratis. Alih-alih bekerja sama dengan para distributor dan membelanjakan uangnya untuk iklan, id membagikan secara gratis sebagian dari Wolfenstein kepada para pemain dalam floppy disk, yang disebut shareware. Jika konsumen cukup menyukainya, maka mereka dapat mengirim cek untuk mendapatkan game itu secara utuh. Saat ini, sample yang dapat diunduh dalam bentuk demo dan shareware mudah ditemui, tetapi pada 1991 ide itu dianggap radikal. Dan ternyata sukses.

Ketika id meluncurkan DoomI pada 1994, mereka membagikan kira-kira 15 juta salinan demo gratis, tetapi sejak itu mereka telah menghasilkan lebih dari 100 juta dolar AS dari waralaba. Carmack dan Romero juga membagikan apa yang oleh banyak orang dianggap sebagai rahasia-rahasia dagang. Seperti memberi peluang bagi pengembang lain dan bahkan para pehobi untuk mengakses kode “mesin” mereka, cara kerja game mereka, sebuah tindakan yang belakangan membuahkan fee lisensi. Dan karena para pemain game dapat memodifikasi dan memberbaiki game aslinya, id dapat menjaga statusnya di pasar, walaupun keluaran produknya rendah. Pihak id juga membantu membangun komunitas-komunitas yang menjaga minat jelang keluarnya produk-produk berikutnya. Contohnya, Doom III merupakan game yang paling banyak dibicarakan orang selama tiga tahun sebelum benar-benar muncul di toko-toko, pada 2002, game ini memenangkan anugerah setara Oscar pada Electronic Entertainment Expo sebagai Best of Show dan itu baru versi demonya.

Kemitraan Carmack dan Romero pecah pada 1996, sebagian Karena Romero ingin perusahaan berkembang lebih besar daripada sebuah tim yang mengerjakan satu game dalam sekali waktu. Jadi, dia mengundurkan diri untuk mendirikan sebuah perusahaan ambisius bernama Ion Storm, yang akhirnya menjadi salah satu pengembang terdepan. Tetapi itu terjadi setelah game pertama mereka jatuh di pasaran, karena baru dirilis setahun kemudian. Carmack bertahan di id yang kini dimilikinya bersama Adrian Carmack, Kevin Cloud, dan Todd Hollenshead. Dia bertahan dengan formula aslinya yang ramah untuk para remaja. Bahkan ketika media menemukan bahwa si pembantai di Columbine High School, Eric Harris dan Dylan Klebold, yang menembak mati 12 teman sekelasnya pada 1999, terobsesi dengan Doom dan pemain id lainnya, Quake. Bahkan Presiden Bill Clinton menyatakan ketakutannya terhadap kekerasan yang ditampilkan jenis game shooter. Tetapi kontroversi ini sama sekali tidak mengganggu pikiran John Carmack: rilis termutaknir perusahaannya, Doom III, sekali lagi merupakan evolusi dari first-person-shooter bertema mirip film horror. Tetapi secara teknik dan grafis, ini contoh di nama sekali lagi id menetapkan agenda bagi industri game di luar mereka. Pada Juni 2007, Carmack memamerkan ”mesin” barunya, Tech5 sebuah game baru id Software juga tengah dipersiapkan.

John Carmack membeli Ferrari pertamanya di usia 22 tahun. Dia kini memiliki beberapa Ferrari dan membiayai sekumpulan sukarelawan yang disebut Armadillo Aerospace yang sedang mencoba membangun sebuah kendaraan angkasa dan menghabiskan dana sekitar 1,5 juta dolar AS dari kantongnya sendiri dalam proses ini. Di luar mengurus hobi dan istrinya (yang ditemuinya di id dimana lagi bisa bertemu dengan seorang wanita?), Carmack masih tetap bersikukuh menjadi seorang penggila komputer yang mengabdikan hidupnya untuk menulis kode-kode komputer. “Saya bisa mengendarai Ferrari ke tempat kerja, tetapi kehidupan saya dari hari ke hari nyaris sama persis dengan delapan tahun lalu,” paparnya. “Saya bangun tidur, berangkat kerja, dengan harapan melakukan beberapa hal baik, lalu pulang ke rumah.”

  • Google: Bukan yang Pertama, Hanya yang Terbaik

            Google sebenarnya datang terlambat untuk meramaikan pesta internet. Di pertengahan 1990-an, mesin pencari seperti Yahoo, AltaVista dan Lycos dianggap sama bergunanya dan tampaknya tidak perlu lagi ada sebuah mesin pencari baru. Lagi pula mesin-mesin pencari tidak menghasilkan banyak keuntungan. Pada 1995, dua kandidat Ph.D, dalam ilmu komputer berusia dua puluhan di Stanford University, Sergey Brin dan Larry Page, keduanya putra seorang professor Matematika mulai mengeksplorasi hubungan antarhalaman di internet untuk sebuah proyek riset. Dengan melihat hyperlink-hyperlink yang membawa satu halaman ke halaman lainnya, mereka menyadari bahwa hyperlink-hyperlink ini membentuk sebuah sistem peringkat informal raksasa yang membawa para pengguna ke halaman-halaman yang berguna.

            Dengan memakai sebuah alat yang dikendalikan oleh komputer untuk menjelajahi Web dan mengevaluasi pentingnya link-link ini, mereka membangun sebuah mesin pencari awalnya diberi nama Black Rub yang menyediakan hasil-hasil begitu bagus bagi para penggunanya. Karena tidak ada yang berminat membeli ide mereka, mereka memutuskan untuk terjun ke bisnis ini. Page menemukan cara-cara membangun server-server komputer menggunakan suku cadang yang murah dan mudah didapat dan bukannya mesin-mesin buatan khusus yang dijual perusahaan komputer dengan harga ratusan ribu dollar. Brin mengatakan: “Kami pergi ke ruang pembongkaran barang di gedung fakultas ilmu komputer, kami seakan meminjam barang-barang yang ada di sana sebelum orang-orang yang sebenarnya membeli barang-barang itu menyadari kiriman mereka telah tiba. Namun, akhirnya cara itu tidak lagi bisa dilakukan dan kami memutuskan akan mendapatkan sumber daya yang lebih baik jika kami membangun sebuah perusahaan.”

Page dan Brin membangun pusat data pertama mereka di kamar asrama Page dari suku cadang PC murah dan 15.000 dolar AS yang dipinjam dengan kartu kredit. Mereka kemudian pindah ke sebuah garasi di Palo Alto. Perusahaan diluncurkan pada September 1998, pada Juni 1999 mereka mengumumkan telah berhasil mengumpulkan speed capital, termasuk USD 25 juta dari venture capital Sequoia Capital dan Keleiner Perkins Caufield & Byers, sebuah saham yang kini bernilai sekitar 4 miliar dolar AS. Dengan segera mereka harus menjawab 10.000 pencarian sehari. Sebagai sebuah perusahaan internet, Google menghasilkan laba dengan relatif cepat, setelah dilaporkan merugi 6 juta dolar AS pada 1999 dan 14 juta dolar AS pada 2000, mereka pun menghasilkan laba bersih 6 juta dolar AS pada 2001. 

Penghasilan terus melambung secara dramatis. Perusahaan memiliki penjualan 10,6 miliar dolar AS pada 2006. Tidak seperti sebagian besar perusahaan baru di Silicon Velley, Google menahan diri untuk tidak buru-buru go public, ketika akhirnya mereka mengumumkan untuk terjun ke bursa saham pada 2004, mereka disebut-sebut sebagai IPO terbesar tahun itu, dengan perkiraan nilai awal sekitar 20 miliar dolar AS (ini membuat Page dan Brin menjadi multimiliarder di atas kertas). Pada Juni 2007, perusahaan tersebut bernilai 160 miliar dolar AS. Jadi, bagaimana caranya sebuah perusahaan internet baru tanpa arus penghasilan yang jelas bisa sukses? Dari sejak awal, Page dan Brin berfokus pada tujuan tunggal: hasil-hasil pencarian yang efisien. Itu berarti akurasi, kecepatan, dan kejujuran. Seperti sebuah balapan mobil Formula One, di mana bobot beberapa gram yang tidak perlu bisa sangat menentukan dalam perebutan pole position, halaman muka Google juga sangat Spartan: tanpa gambar, tanpa grafis yang wah, dan hanya berisi 37 kata. Pada 1999, rata-rata pencarian memakan waktu tiga detik, kini waktunya hanya 0,2 detik.

Google nyaris tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk pemasaran, hanya mengandalkan berita dari mulut ke mulut. Alih-alih mengumpulkan pendapatan di atas kertas melalui sebuah IPO premature, Google menemukan sebuah arus pendapatan yang jelas dari penjualan hasil pencariannya pada mesin-mesin pencari lainnya, termasuk pemimpin pasar, Yahoo!, serta dari iklan yang dikembangkan dengan gaya yang menantang akal sehat. Iklan ditempatkan dalam bentuk teks yang di-link pada kata yang dicari (ketik kata “holiday”, misalnya, dan promosi perusahaan wisata akan muncul di samping hasil pencarian Anda). Iklan dibatasi di puncak halaman dan para pengiklan berebut mengambil tempat terbaik. Pop-up, gambar, video streaming, bahkan juga logo, dilarang keras: terlalu makan waktu, terlalu mengganggu. Tetapi pengiklanan tidak butuh begitu banyak ruang untuk berhasil, dan Google mengklaim memiliki tingkat clik-through sebesar 5 – 10 kali lipat dari format iklan biasa. Iklan-iklan di Google ditarget dengan rapid dan dalam gaya dan isi yang tampak lebih berguna ketimbang mengganggu.

Di samping itu, bahkan dalam topografis ketat ini, masih ada ruang untuk berkembang. Dua karyawan Google terus-menerus bereksperimen untuk melihat kombinasi kata mana yang paling berhasil: sebuah iklan bunga untuk hari Valentine yang berbunyi: “Fast. Fresh. Guaranteed” diubah menjadi “Fast Safe Guaranted” dan penjualan pun berlipat. Sebagai sebuah tempat kerja, Google cukup fanatik dengan detail, tetapi sekaligus juga nyaris tanpa hierarki, berfokus secara obsesif pada produk inti, tetapi juga cukup fleksibel untuk mendorong timbulnya ide-ide baru. Tidak ada jabatan manajer di sana, para insinyur bekerja dalam unit-unit yang kecil dan otonom, bergantian menjabat posisi pimpinan dan melakukan apa saja yang mereka pikir penting untuk dilakukan. Konon kabarnya, tidak seorang pun diperbolehkan bicara lebih dari 10 menit dalam tiap rapat. Kantor pusat Google di Mountain View, California diberi nama Googleplex merupakan surge bagi ke 1000 karyawannya dengan makanan gratis, es krim tidak terbatas, kolam renang, dan meja-meja pingpong dan jatah layanan pijat, plus opsi untuk menghabiskan 20 persen waktu kerja untuk aktivitas luar ruang apa pun. Page dan Brin berkendara keliling kangtor dengan model Segway (sejenis moda transportasi personal hemat energi) yang serasi.

Walaupun begitu, Google bukanlah sekadar tempat berkumpul-kumpul anak kuliahan: Page dan Brin menyewa mantan CEO Novell, Eric Schmidt, untuk menjalankan operasi mereka sebagai “orang dewasa yang diperbolehkan ada di situ” (CEO dan chairman). Page yang merupakan CEO pertama Google menjadi presiden bidang produk pada April 2001. Pendekatan Google terhadap teknologi baru adalah meluncur bebas, tetapi juga konservatif. Ide-ide baru muncul setiap saat di bagian situs yang disebut Google Labs, tetapi cuma sebagian kecil yang diperkenankan mengotori kemurnian halaman mukanya. Google juga menjaga algoritma inti mereka basis dari bisnisnya layaknya menjaga berlian di mahkota kerajaan, tetapi mereka memperkenankan para pengembang untuk mengunduh mesin pencari mereka untuk digunakan pada aplikasi mereka sendiri. Beberapa orang mungkin memandang pembagian produk secara gratis ini sebagai hal yang gila, namun Google berharap teknologi mereka akan dapat diintegrasikan pada sesuatu yang menarik. “Ada yang mengatakan Google itu adalah Tuhan,” Brin pernah berkata. “Yang lain mengatakan Google adalah Setan. Tetapi jika mereka mengira Google itu terlalu kuat, ingatlah bahwa orang hanya butuh satu klik untuk berpindah ke mesin pencari lainnya.”

 

3.13.3. Prinsip Entrepreneur: Kembangkan Intuisimu

            Masalah terbesar bagi kalangan terdidik dalam menjadi wirausaha adalah terlalu intensnya cara berpikir formal logik (logika ilmiah) dalam mengambil keputusan. Formal logik adalah cara berpikir yang dikembangkan para ilmuwan untuk mendapatkan kebenaran ilmiah terhadap suatu hal. Cara ini sangat bagus untuk memutus tradisi berpikir berbasiskan mitos, namun untuk berbisnis perlu beberapa penyesuaian.

            Dalam pendekatan formal logik, seseorang cenderung mengandalkan pikiran, melihat dunia dengan pikiran. Cara yang dikembangkan dalam tradisi ini adalah dengan mengumpulkan dan menguji data. Jadi segala sesuatu dinilai dengan mengumpulkan dan mengolah data. Dengan semakin kompleksnya masyarakat, maka terjadilah spesialisasi-spesialisasi, sehingga orang yang mengumpulkan data dan mengolah data bukanlah orang yang sama. Bahkan terdapat kecenderungan, kalangan berpendidikan mengambil peran sebagai pengolah data, sedangkan para pengumpul data diserahkan pada mereka yang pendidikannya relatif lebih rendah.

            Pendidikan bisa membuat Anda merasa “lebih”, dan menuntut “lebih” sehingga menjadikan Anda sebagai orang yang bekerja dibelakang meja, jauh dari fakta-fakta di lapangan. Anda bekerja dengan pikiran. bukan dengan mata dan kepekaan panca indera. Efek negatif yang terjadi, para ilmuwan menjadi steril dan kurang peka terhadap perubahan. Padahal keilmuwan seseorang ditentukan oleh kemampuannya menjembatani fakta dengan data, bukan dengan memisahkannya.

            Untuk berhasil dalam berwirausaha Anda perlu memiliki kemampuan berpikir strategis (dikembangkan dari pengetahuan) sekaligus kepekaan intuisi. Sebagai usahawan terdidik, Anda sudah memiliki yang pertama, namun untuk meraih intuisi Anda perlu melatih dan mengembangkannya. Anda bisa mendapatkannya dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut (Rhenald Kasali, 2012):

  1. Tumbuh dari bawah. Jangan memulai usaha Anda dengan tumbuh dari atas. Sekalipun Anda menerima usaha dengan warisan, tumbuhlah dari bawah, dari lapangan. Kuasai benar-benar keadaan di lapangan, kenali orang-orang yang berhubungan dengan bisnis Anda dari ujung tombaknya, akrabi masalah-masalah yang muncul, dan rasakan sendiri dengan panca indera dan perasaan-perasaan Anda bagaimana bekerja sebagai bawahan atau orang yang membantu perusahaan.
  2. Perkaya pengalaman. Selain tumbuh dari bawah, perluaslah wawasan pergaulan dan pengalaman Anda. Dapatkan cara melihat dari berbagai perspektif dengan keahlian yang bervariasi, suka ataupun tidak suka. Poin dari pengalaman adalah melihat dan mengetahui, bukan melulu menjadi ahli dari bidang yang berbeda-beda itu. Satu di antara yang Anda alami itu akan membentuk keahlian Anda, namun tidak semuanya.
  3. Lepaskan ego, gengsi, rasa sok tahu, dan persepsi atas kekuasaan yang Anda miliki. Sekalipun Anda berpendidikan tinggi, saat memasuki dunia yang baru Anda harus memulainya kembali dari nol. Katakanlah pada diri sendiri, “Saya siap belajar dan menerima pengalaman-pengalaman baru.” Tidak ada buruknya melepas semua atribut untuk menyerap dan memperkaya diri. Hanya orang-orang yang terbelenggu yang sulit untuk membuka pikirannya.
  4. Bukalah mata, telinga, dan pikiran. Tangkaplah segala hal yang tidak dapat ditangkap oleh pikiran Anda. Orang-orang yang terlalu pintar sulit menangkap sinyal-sinyal dan gerakan-gerakan yang dikirim orang-orang, alam, atau benda-benda bergerak karena semua sudah ada tafsiran otomatisnya. Tangkaplah apa yang tersirat seperti getaran-getaran emosi, bahasa tubuh, intonasi, warna, getaran, gerakan, dan simbol-simbol lainnya. Cari hubungan antara semua yang Anda lihat dengan tindakan-tindakan yang diambil orang-orang.
  5. Bekerjalah dengan emosi, namun kendalikan emosi Anda saat bekerja dan memimpin. Dengan menghidupkan simpul-simpul emosi, Anda bekerja dengan hati. Namun emosi yang berlebihan dapat merusak hidup Anda. Perkayalah dengan pengetahuan untuk mengendalikan simpul-simpul itu dalam bekerja.
  6. Latih intuisi setelah memiliki usaha yang besar dengan tidak memutuskan jalinan Anda dengan keadaan di lapangan. Asah terus dengan menghabiskan sekitar 25% waktu Anda pada apa yang Anda lihat sendiri, berada di tengah-tengah persoalan dan menangkap getaran-getarannya.
  7. Uji setiap data yang Anda miliki dengan informasi lapangan. Terlalu percaya pada data bisa membuat Anda kehilangan pijakan. Terlalu percaya pada intuisi dapat membuat Anda kehilangan kepercayaan. Jadi gunakan kedua-duanya agar Anda tidak tersesat.
  8. Biasakan membuat keputusan. Untuk melatih intuisi, Anda harus mulai berani mengambil keputusan sedari muda. Sebab dengan mengambil keputusan, Anda akan mengerti dan merasakan sendiri akibat yang ditimbulkan dari keputusan yang Anda buat. Perhatikan dan dengarlah umpan balik serta reaksi-reaksi yang muncul, baik yang terlihat kasatmata, samar-samar, maupun tersembunyi di balik perasaan orang-orang.
  9. Jangan takut mengoreksi keputusan yang Anda buat, kalau jalan yang Anda ambil ternyata salah. Biasakanlah bereksperimen dengan beberapa cara, apakah cara langsung ataupun tidak langsung dalam melakuan treatment-treatment

 

Evaluasi Mandiri

  1. Salah satu sikap mental menjadi entrepreneur adalah berani bermimpi. Apa maksudnya!
  2. Sikap mental entrepreneur adalah berani mencoba dan berani gagal. Jelaskan!
  3. Peluang bisnis ada disekitar kita. Jelaskan makna ungkapan tersebut!
  4. Jelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam memulai bisnis baru!
  5. Memulai bisnis tanpa uang tunai. Jelaskan maksud kalimat tersebut!
  6. Sukses adalah guru yang buruk. Jelaskan secara singkat makna ungkapan tersebut!
  7. Jelaskan istilah-istilah berikut: Emotional Quotient dan Adversity Quotient!
  8. Jelaskan istilah-istilah berikut: Camper, Quitter, dan Climber!
  9. Mengapa seorang calon entrepreneur harus memiliki optimisme yang tinggi dalam menjalankan usahanya!
  10. Apa yang dimaksud dengan Entre-Q dan bagaimana cara mengembangkannya!

 

Daftar Pustaka

Alex McMillan. 2013. Menjadi Seorang Entrepreneur Sukses: Wawancara Eksklusif Dengan Entrepreneur Terkemuka. Alih Bahasa: Alexandra. Indeks: Jakarta.

Antonius Arif. 2012. The Billionaire Attitude: 90 Hari Percepatan Sukses Melalui Mind-Logy. Titik Media: Jakarta.

Billi P.S. Lim. 2002. Berani Gagal: Buku Yang Sangat Dibutuhkan Saat Ini. Alih Bahasa: Suharsono. Delapratasa Publishing: Jakarta.

Daniel Goleman. 2002. Emotional Intelligence: Kecerdasan Emosional Mengapa EI Lebih Penting Daripada IQ. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Ibrahim Elfiky. 2009. Terapi Berpikir Positif: Biarkan Mukjizat dalam Diri Anda Melesat Agar Hidup Lebih Sukses dan Lebih Bahagia. Alih Bahasa: Khalifurrahman Fath dan M Taufik Damas. Zaman Tranforming Lives: Jakarta.

Li Shi Guang. 2012. Jatuh 2 kali Berdiri 3 kali. Penerbit Andi: Yogyakarta.

Muhammad Syarial. 2011. Anakku Maukah Kau Jadi Pengusaha: Mengapa Harus Jadi Pengusaha. Lentera Ilmu Cendekia: Jakarta.

Mulyadi N. 2009. Kewirausahaan dan Manajemen Usaha Kecil. Alfabeta: Bandung.

Purdi E. Chandra. 2005. Menjadi Entrepreneur Sukses. Gramedia Widiasarana Indonesia: Jakarta.

Purdi E. Chandra. 2008. Cara Gila Jadi Pengusaha. Elex Media Komputindo: Jakarta.

Rhenald Kasali. 2012. Wirausaha Muda Mandiri: Kisah Inspiratif Anak-Anak Muda Menemukan Masa Depan Dari Hal-Hal yang Diabaikan Banyak Orang. Part.2. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Robert T. Kiyosaki and Sharon L. Lechter. 2008. The Cashflow Quadrant: Panduan Ayah Kaya Menuju Kebebasan Finansial. Alih Bahasa: Rina Bundaran. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Suyanto. 2011. Everyone Can Become A Successful Entrepreneurship: Setiap Orang Bisa Menjadi Pengusaha Sukses. Penerbit Andi: Yogyakarta.

Valentino Dinsi. 2011. Bisnis Rumahan Bermodal Cekak, Omzet Miliaran. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

 

Leave A Reply