Back

KECERDASAN EMOSIONAL ENTREPRENEUR

BAB IV

KECERDASAN EMOSIONAL ENTREPRENEUR

           

Pembahasan Materi

            Dalam bab ini Anda akan mempelajari tentang kumpulan dasar emosi, konsep kecerdasan emosional, hubungan kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional entrepreneur, emosi dalam bisnis, menyelaraskan otak berpikir dan otak emosional, mencerdaskan otak kanan, faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional, dan dimensi kecerdasan emosional.

4.1.  Kumpulan Dasar Emosi

            Terdapat banyak emosi, yang mencakup rasa marah, antusias, iri, takut, frustasi, kecewa, malu, bahagia, benci, berharap, cemburu, gembira, cinta, bangga, terkejut, dan sedih. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk membatasi dan mendefinisikan emosi-emosi tersebut ke dalam satu kelompok fundamental atau dasar dari emosi (Ekman, 1992). Namun beberapa peneliti beragumen bahwa adalah tidak masuk akal untuk memikirkan emosi-emosi dasar karena emosi-emosi tersebut jarang kita alami, seperti goncangan (shock), dapat berpengaruh sangat kuat pada kita (Solomon, 2002).

            Dalam penelitian kontemporer, psikolog telah mencoba mengidentifikasi emosi-emosi dasar dengan mempelajari berbagai ekspresi wajah (Ekman, 2003). Salah satu masalah dari pendekatan ini adalah beberapa emosi terlalu kompleks untuk secara mudah diekspresikan melalui wajah. Contohnya adalah cinta. Banyak orang menganggap cinta sebagai hal paling universal dari semua emosi, tetapi tidak mudah mengekspresikan cinta melalui wajah. Selain itu tiap kultur memiliki norma yang mengatur ekspresi emosi, sehingga bagaimana kita mengalami sebuah emosi tidak akan selalu sama dengan bagaimana kita menunjukkannya. Saat ini banyak perusahaan yang menawarkan program manajemen kemarahan untuk melatih orang menahan atau bahkan menyembunyikan perasaan-perasaan tersembunyi mereka.

            Sedikit kemungkinan para psikolog atau filosof akan dapat seluruhnya sependapat pada sekumpulan dasar emosi, atau bahkan apakah masuk akal untuk memikirkan tentang emosi-emosi dasar. Tetapi cukup banyak peneliti masih setuju pada enam emosi dasar universal, yaitu: rasa marah, takut, sedih, bahagia, benci, dan terkejut (Robbins and Judge, 2008). Semakin dekat dua emosi terhadap emosi lainnya dalam rangkaian ini, semakin besar kemungkinan orang akan sulit membedakannya. Misalnya kita kadang-kadang menganggap kebahagiaan sebagai rasa terkejut, tetapi jarang sekali kita bingung membedakan kebahagiaan dengan rasa benci.

4.2.  Konsep Kecerdasan Emosional

Penelitian empiris terbaru menunjukkan bahwa emosi bisa terbangun dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan kinerja dan pengambilan keputusan lebih baik, baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan pribadi. Ketika semakin banyak orang menyadari dan menerima bahwa kecerdasan emosional (EQ) adalah sama pentingnya untuk kesuksesan profesional sebagai keterampilan teknis, maka semakin banyak organisasi menggunakan pengujian EQ ketika menyusun penggajian, mengevaluasi, dan mempromosikan personil. Penggunaan EQ sebagai indikator komprehensif kecerdasan terbukti berpengaruh positif terhadap keberhasilan organisasi di masa mendatang. Dalam perjalanan dua dekade terakhir peneliti EQ telah mengembangkan tiga model utama. Ketiga model tersebut termasuk ability, mixed, dan trait. Jadi, dalam mengukur EQ berbeda tiap model yang bervariasi mulai dari menguji kemampuan ketat dengan jawaban yang benar dan salah.

Meskipun banyak peneliti percaya bahwa EQ didasarkan pada kemampuan bawaan yang bervariasi setiap orang, sebagian besar dari mereka setuju bahwa EQ dapat ditingkatkan melalui pelatihan, pemrograman, dan terapi.  Menurut Kinicki dan Kreitner (2008) kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengelola diri sendiri dan hubungan seseorang dengan cara yang dewasa dan konstruktif. Oleh sebagian orang sering disebut EI dan lainnya menyebut EQ, kecerdasan emosional memiliki empat dimensi yaitu self-awareness, self-management, social awareness, dan relationship management. Dua yang pertama merupakan kompetensi pribadi, dan yang dua lainnya kompetensi sosial.

            Psikolog Daniel Goleman dalam Slocum Hellriegel (2009) berpendapat bahwa kecerdasan emosional (EI) sebenarnya lebih penting daripada kecerdasan umum (IQ) dalam hal keberhasilan karir. Kecerdasan emosional mengacu pada seberapa baik seorang individu menangani diri sendiri dan orang lain daripada seberapa pintar atau seberapa mampu individu dalam hal keterampilan teknis. Goleman menunjukkan bahwa para pemimpin membutuhkan EQ tinggi untuk menjadi efektif dalam posisi kepemimpinan mereka. Seseorang yang memiliki EQ tinggi memungkinkan seorang pemimpin untuk secara akurat menilai kebutuhan bawahannya, menganalisis situasi, dan kemudian menyarankan tindakan yang tepat. Pemimpin memproses informasi ini untuk menyesuaikan perilakunya sesuai situasi.

            Sedangkan Colquitt Le Pine dan Wesson memberikan batasan tentang kecerdasan emosional sebagai ukuran kemampuan mempengeruhi sampai sejauh mana orang cenderung efektif dalam situasi sosial, terlepas dari tingkat kemampuan kognitif lainnya. Meskipun telah ada beberapa debat di antara banyak peneliti, mereka percaya bahwa kecerdasan emosional dapat mempengaruhi fungsi sosialnya. Kecerdasan emosional dapat didefinisikan dalam empat kemampuan yang berbeda tetapi saling terkait.

            Istilah kecerdasan emosional pada mulanya dikemukakan oleh dua orang ahli psikologi, yaitu Peter Salovey pada tahun 1990 dari Universitas Havard, dan John Mayer dari Universitas New Hampshire. Istilah ini kemudian dipopulerkan oleh Daniel Goleman (1997), seorang psikologi dan penulis buku Emotional Intelligence untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Kualitas-kualitas tersebut mencakup mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, empati, dan membina hubungan dengan orang lain (Goleman, 2002)

            Pada dasarnya pengertian kecerdasan emosional tidak dapat lepas dari pengertian emosi. Emosi berasal dari kata latin movere, yang artinya “menggerakkan, bergerak”, ditambah awalan “e” untuk memberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi (Goleman, 2002). Selanjutnya, Goleman mendefinisikan emosi sebagai perasaan dan pikiran khas; suatu keadaan biologik dan psikologik; suatu rentang kecenderungan-kecenderungan untuk bertindak. Hal senada diungkapkan Mayer dalam Steinberg (1999) bahwa emosi merupakan sistem respon yang terkoordinir, emosi terjadi dalam keadaan biologis tertentu, keadaan eksperiensial tertentu, keadaan kognitif tertentu yang terjadi simultan, dan karena itu emosi menyatukan pikiran, perasaan dan tindakan (Steinberg, 1999 ). Ini berarti bahwa emosi membebaskan dari kelumpuhan dan memotivasi kita untuk bertindak.

            Salovey dan Mayer menggunakan istilah kecerdasan emosi untuk menggambarkan sejumlah keterampilan yang berhubungan dengan keakuratan penilaian tentang emosi diri sendiri dan orang lain serta kemampuan mengelola perasaan untuk memotivasi, merencanakan, dan meraih tujuan kehidupan. Pendapat lain menyatakan bahwa kecerdasan emosional adalah suatu keterampilan memahami diri sendiri, kemampuan mengatur diri sendiri, memotivasi dan empati, yang merupakan prediktor yang sangat kuat dan dapat dipercaya untuk meraih keberhasilan di tempat kerja. Karena itu, seseorang yang mempunyai kecerdasan emosional adalah seseorang yang menyadari emosinya sendiri dan emosi orang lain dan menyesuaikan perilakunya berdasarkan pengetahuannya tentang kecerdasan emosional tersebut (Dulewicz dan Higgs, 2000).           

            Salah satu bagian otak yang ada hubungannya dengan kecerdasan emosional adalah Amigdala. Amigdala merupakan sel otak yang menghubungkan antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan emosional, yaitu antara kemampuan kognitif dengan kemampuan mengendalikan emosi sehingga orang menjadi sukses. Rasa sedih, merah, takut, nafsu dan lain-lain sangat tergantung pada Amigdala. Jika Amigdala dipisahkan dari bagian-bagian otak lainnya, hasilnya adalah ketidakmampuan yang amat mencolok dalam menangkap makna emosional suatu peristiwa. Kehilangan bobot emosional menyebabkan peristiwa-peristiwa tidak mempunyai makna (Sumiyati, 2008). Orang yang amigdalanya terpotong tanpa sengaja dalam suatu operasi otak misalnya, akan sulit mengenal berbagai emosi dalam dirinya, apalagi mengekspresikannya, bahkan ia tidak mengenal lagi ibunya, dan tetap pasif meskipun menghadapi kecemasan. Amigdala berfungsi sebagai semacam gudang ingatan emosional, dan dengan demikian hidup tanpa Amigdala merupakan kehidupan tanpa makna pribadi.

            Hal yang paling menarik yakni bagaimana arsitektur otak memberi tempat istimewa bagi Amigdala sebagai penjaga emosi, penjaga yang mampu membajak otak. Sinyal-sinyal indera dari mata atau telinga telah lebih dahulu berjalan di otak menuju thalamus, kemudian – melewati sebuah sinaps tunggal – menuju ke Amigdala; sinyal kedua dari talamus disalurkan ke neocortex otak yang berpikir. Percabangan ini memungkinkan Amigdala mulai memberi respons sebelum neocortex yang mengolah informasi melalui beberapa lapisan jaringan otak sebelum otak sepenuhnya memahami dan pada akhirnya memulai respons yang telah diolah lebih dahulu (Reni Akbar Hawadi, 2004). Kegiatan ini sangat penting karena mengamati jalur saraf untuk perasaan yang melangkahi peran neocortex. Perasaan yang menempuh jalan pintas menuju Amigdala mencakup perasaan yang paling primitif dan berpengaruh, sirkuit ini sangat bermanfaat untuk menjelaskan kekuatan emosi yang mengalahkan rasionalitas.

            Terjadinya peristiwa di mana kekuatan emosi dapat mengalahkan rasio yakni karena Amigdala mampu mengambil alih kendali tindakan, sewaktu otak masih menyusun keputusan (LeDoux, 1996). Kemungkinan terjadinya pembajakan emosi ini lebih besar pada orang yang memiliki kecerdasan emosi rendah, atau karena otak mereka dirakit dalam suasana tegang. Adanya kemungkinan pembajakan emosi ini, maka dapat diketahui bahwa emosi bisa membahayakan. Orang yang tidak mampu mengendalikan emosi cenderung menunjukan reaksi impulsif berlebihan, dan mudah merasa terancam atau tersingkirkan, misalnya di sekeliling kita sering terjadi tindak kekerasan hanya karena masalah sepele.

            Saat ini perusahaan-perusahaan raksasa dunia sudah menyadari akan hal ini. Mereka menyimpulkan bahwa inti kemampuan pribadi dan sosial yang merupakan kunci utama keberhasilan seseorang adalah kecerdasan emosi. Sekarang yang menjadi masalah, apakah kita  jujur kepada diri kita sendiri? Seberapa cermat kita merasakan perasaan terdalam pada diri kita? Seringkah kita tidak memperdulikannya? Inilah kunci dari kecerdasan emosi kita, kejujuran pada suara hati. Suara hati inilah yang sebenarnya yang dicari Stephen R Covey (1997), yang seharusnya dijadikan sebagai pusat prinsip yang akan memberikan rasa aman, pedoman, daya dan kebijaksanaan. Disinilah kita berurusan dengan visi dan nilai kita.

4.3. Hubungan Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Intelektual

            Dari uraian di atas, tampak bahwa manusia mempunyai dua kecerdasan yang berbeda, yaitu kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual. Menjelaskan bahwa ukuran intelegensi intelektual dapat digunakan untuk mengukur dan meramalkan sukses akademis, namun tidak menjamin untuk meramalkan keunggulan di luar dibanding di sekolah. Sukses merupakan kemampuan untuk menentukan dan mencapi sasaran pribadi dan pekerjaan apapun bentuknya. Oleh Goleman (2002) diungkapkan bahwa setinggi-tingginya kecerdasan intelektual hanya menyumbang kira-kira 20% bagi faktor-faktor yang menentukan sukses dalam hidup, sisanya sebesar 80% diisi oleh kekuatan-kekuatan lain. Selanjutnya dikatakan bahwa “status akhir seorang dalam masyarakat pada umumnya ditentukan oleh faktor-faktor bukan kecerdasan intelektual saja, melainkan juga oleh kecerdasan emosional (Goleman, 2002). Hal ini sejalan dengan pendapat Shapiro (1997) yang menyatakan bahwa kecerdasan emosional bukanlah lawan kecerdasan intelektual, namun keduanya berinteraksi secara dinamis baik pada tingkatan konseptual maupun pada tingkat dunia nyata.

            Dalam dunia pendidikan formal, kecerdasan intelektual kelihatannya lebih berperan dominan daripada kecerdasan emosional. Suatu kecerdasan yang dibutuhkan untuk lebih dapat memahami dunia kognitif pengetahuan, penalaran dan abstraksi pembelajaran. Dunia kecerdasan emosional lebih dominan digunakan dalam dunia kerja dalam menghadapi kenyataan dan tantangan permasalahan yang kadangkala sangat membutuhkan perasaan dan intuisi untuk tetap survive. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional tidak berhubungan dengan prestasi belajar. Preatasi belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan sehingga kecerdasan emosional saja tidak dapat menentukan prestasi belajar (Reni Akbar Hawadi, 2002).

            Dari hasil tes IQ, kebanyakan orang yang memiliki IQ tinggi menunjukkan kinerja buruk dalam pekerjaan, sementara yang ber-IQ sedang, justru sangat berprestasi. Kemampuan akademik, nilai rapor, predikat kelulusan pendidikan tinggi tidak bisa menjadi tolok ukur seberapa baik kinerja seseorang sesudah bekerja atau seberapa tinggi sukses yang akan dicapai. Seperangkat kecakapan khusus seperti empati, disiplin diri, dan inisiatif akan menghasilkan orang-orang sukses dan bintang-bintang kinerja (Ary Ginanjar A, 2003).

            Selanjutnya, Cooper dan Sawaf (1997) mengungkapkan kecerdasan emosional sebagai kemampuan untuk merasakan, memahami dan secara efektif dapat menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan menanamkan pengaruh terhadap orang lain. Baron dalam Goleman (2002) mengungkapkan hal yang senada, bahwa kecerdasan emosional adalah serangkaian kemampuan, kompetensi, dan kecakapan nonkognitif, yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan. Sedangkan Solvey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya serta mengendalikan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual. Kesimpulannya, kecerdasan emosional adalah serangkaian kecakapan yang memungkinkan kita melapangkan jalan di dunia yang rumit, aspek pribadi, sosial, dan pertahanan dari seluruh kecerdasan, akal sehat yang penuh misteri dan kepekaan yang penting untuk berfungsi secara efektif setiap hari (Stein dan Howard 2002).

            Kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual berasal dari dua sumber yang sinergis, tanpa yang lain menjadi tidak lengkap dan tidak efektif. Kecerdasan intelektual tanpa kecerdasan emosional tidak menghasilkan apa-apa. Dengan kecerdasan intelektual tinggi yang tidak diimbangi oleh kecerdasan emosional yang baik, maka keunggulan kecerdasan intelektual bisa mengarah pada hal-hal yang merugikan masyarakat. Wewenang kecerdasan emosional adalah hubungan pribadi dan dengan orang lain, dia bertanggung jawab untuk penghargaan diri, kesadaran diri, kepekaan sosial, dan adaptasi sosial. Ini berarti bahwa dengan kecerdasan emosional memungkinkan seseorang untuk memilih apa yang harus dilakukan, pekerjaan apa yang akan diambil, dan bagaimana menjaga keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan kebutuhan orang lain.

            Kecerdasan emosional merupakan kemampuan yang sebagian besar diperoleh dari pengalaman, itu berarti kecerdasan emosional umumnya dapat ditingkatkan melalui latihan yang serius. Hal ini terus akan memberikan harapan dan optimisme baru terhadap dunia pendidikan, karena kecerdasan emosional umumnya dapat dikembangkan. Hal ini berbeda dengan kecerdasan intelektual, yang menurut teori klasik, cenderung tidak dapat dikembangkan atau relatif stabil. Goleman (2002) menyatakan terdapat 5 (lima) dimensi kecerdasan emosional, yaitu: kemampuan untuk: (a) mengenali emosi diri sendiri, (b) mengelola dan mengekspresikan emosi diri sendiri dengan tepat, (c) memotivasi diri sendiri, (d) mengenali emosi orang lain, dan (e) membina hubungan dengan orang lain. Kelima dimensi kecerdasan emosional tersebut akan diurai secara singkat di bawah ini.

            Mengenali emosi diri, kesadaran diri untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Kesadaran diri merupakan prasyarat bagi ke empat dimensi lain. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat seseorang berada dalam kekuasaan perasaan. Orang yang memiliki keyakinan yang lebih tentang perasaannya adalah pilot yang andal bagi kehidupan mereka, karena mempunyai kepekaan lebih tinggi akan perasaan mereka yang sesungguhnya atas pengambilan keputusan-keputusan sampai pada masalah pribadi. Seseorang tidak mungkin bisa mengendalikan sesuatu yang tidak mereka kenal, jika mereka tidak menyadari perbuatannya. Tanpa kesadaran diri, meskipun telah bersungguh-sungguh berupaya untuk menyelesaikan permasalahan satu demi satu, seseorang tidak bisa memantau kemajuan yang telah diraih, dan kesempatan orang untuk mencapai sasaran akan sangat terkendala. Dengan adanya kesadaran diri maka seseorang dapat mengetahui keadaan mereka, dan dengan mengetahui keadaanya maka dapat mengubah perilaku mereka agar menjadi lebih baik.

            Mengelola emosi, merupakan salah satu pekerjaan yang cukup sulit, namun jika emosi dapat dikuasai tentu emosi dapat “dikelola dengan baik” dalam artian tercipta keseimbangan emosi atau pengendalian emosi. Salah satu kemampun mengelola emosi adalah menyesuaikan emosi, pikiran dan perilaku dengan perubahan situasi dan kondisi. Unsur kecerdasan emosional ini mencakup seluruh kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang tidak biasa, tidak terduga, dan dinamis. Orang yang fleksibel adalah orang yang tangkas, mampu bekerja sama yang menghasilkan sinergi, dan dapat menanggapi perubahan secara luwes. Orang seperti ini bersedia berubah pikiran jika ada bukti yang menunjukkan bahwa mereka salah. Pada umumnya mereka terbukti dan mau menerima gagasan, orientasi, cara dan kebiasaan yang berbeda. Namun demikian, individu yang menyangkal emosi yang mendalam dapat menyebabkan diskoneksi (Cooper dan Sawaf, 1997). Diskoneksi ini dapat mengakibatkan seseorang kehilangan sentuhan dengan aspek-aspek yang berkaitan dengan keberadaan dirinya. Ia cenderung menjadi orang yang mudah tersinggung, penakut, penyangkal, dan takut terhadap kritik.

4.4. Kecerdasan Emosional Entrepreneur

            Entrepreneur yang memiliki kecerdasan emosional optimal, akan lebih berpeluang mencapai puncak keberhasilannya. Sosok semacam ini sangat kita perlukan guna membangun masyarakat entrepreneur Indonesia. Entrepreneur yang memiliki kecerdasan emosional optimal, akan tetap menganggap, bahwa krisis itu adalah sebuah peluang. Itulah sebabnya mengapa entrepreneur itu harus tetap jeli dalam memanfaatkan emosinya. Sebaliknya, jika seseorang secara intelektual cerdas, kerapkali justru bukanlah seorang entrepreneur yang berhasil dalam bisnis dan kehidupan pribadinya. Dia harus yakin, bahwa dia dalam dunia bisnis saat ini maupun di masa mendatang, kecerdasan emosional akan lebih tetap berperan.

            Dengan memiliki kecerdasan emosional yang optimal, akan lebih bisa mentransformasikan situasi sulit. Bahkan, kita juga semakin peka akan adanya peluang entrepreneur dalam situasi apa pun. Kalau kita memiliki kecerdasan emosional yang optimal, saya yakin akan mampu mengatasi berbagai konflik. Orang yang benar-benar mengoptimalkan EQ, akan lebih jeli dalam melihat sebuah peluang. Ia akan lebih cekatan dalam bertindak dan lebih punya inisiatif. Atau, ia pun akan lebih siap dalam melakukan negosiasi bisnis. Lebih mampu melakukan langkah strategi bisnisnya, memiliki kepekaan, daya cipta, dan komitmen yang tinggi. Bahkan, ada pakar yang mengungkapkan, bahwa keberhasilan seseorang dalam bidang bisnis, 80% ditentukan oleh kecerdasan emosionalnya (Goleman, 2003).

            Banyak orang yang sukses menjadi entrepreneur meski nilai akademiknya sedang-sedang saja. Hal ini disebabkan, mereka yang lulus dengan nilai yang sedang itu sebagian besar memiliki kecerdasan emosional optimal. Lantaran kecerdasan emosional yang optimal inilah yang justru mendorongnya untuk menjadi entrepreneur yang kreatif. Contohnya adalah Bill Gates, seorang supermiliader di Amerika Serikat. Dia adalah pemilik perusahaan perangkat lunak Microsoft. Saat Bill Gates kuliah di Harvard Business School, ia merasa tidak mendapat pengetahuan apa-apa. Akhirnya ia putuskan berhenti kuliah. Namun meski drop-out dari Harvard, Bill dikenal sebagai penyumbang dana terbesar bagi universitasnya.

            Hal yang sama juga terjadi pada Steven K. Scout. Saat ini dia dikenal sebagai miliader di Amerika Serikat. Ketika masih di sekolah, Steven tidak pintar. Dia tidak popular di sekolahnya. Namun, sekarang Steven berhasil menjadi pengusaha yang bergerak di bidang bisnis pemasaran nomor sati di Amerika Serikat. Saya yakin, entrepreneur itu memang perlu kecerdasan emosional yang optimal. Nilai akademis saat studi tidak harus tinggi. Sulit bagi seseorang untuk menjadi entrepreneur, meski memiliki kecerdasan intelektual tinggi, tetapi kecerdasan emosionalnya rendah. Lantas, apakan Anda ingin memiliki kecerdasan emosional yang optimal? Itu bisa dipelajari, dilatih, dan bisa dikembangkan. Oleh karena semuanya itu proses yang membutuhkan waktu, ketekunan, dan semangat tinggi.

4.5.  Emosi Dalam Bisnis

            Emosi bisnis bagi entrepreneur sangat penting perannya. Apalagi, dalam mengatasi tantangan persaingan bisnis di Milenium ketiga ini. Oleh karena, emosi memicu kreativitas inovasi kita. Emosi juga mengaktifkan nilai-nilai etika, mendorong atau mempercepat penalaran kita dalam berbisnis. Bahkan tidak hanya itu, emosi juga akan memotivasi kita, dan membuat kita nyata akan hidup. Josh Hammond dalam Satiadarma dan Waruwu (2003) berpendapat, bahwa emosi adalah sesuatu yang punya makna penting bagi perusahaan. Menurutnya, emosi adalah pengorganisasi yang hebat dalam bidang pikiran dan perbuatan. Meskipun demikian, emosi tidak dapat dipisahkan dari penalaran dan rasionalitas. Pendapat hampir serupa diungkapkan Robert K. Cooper (1997) yang mengatakan, bahwa pada umumnya, emosi lebih jujur dari pada pikiran atau nalar. Menurutnya, emosi juga memiliki kedalaman dan kekuatan, sehingga dengan bahasa latin, misalnya, emosi dikatakan sebagai motus anima, yang artinya “jiwa yang menggerakkan kita”. Mengapa penulis melukiskan gambaran begitu, terutama bagi seorang entrepreneur yang setiap harinya selalu menghadapi tantangan di dalam menggeluti bisnisnya? Itu karena, selama ini kita mungkin belum menyadari atau menghargai secara sebenarnya makna penting emosi itu sendiri.

            Kita lebih menangkap pengertian emosi dari makna konvensional. Sehingga, emosi dianggap sebagai lambang kelemahan, bahkan tidak boleh ada dalam bisnis, harus dihindari, dan membingungkan. Kita juga cenderung suka menghindari orang yang emosional, hanya pikiran yang diperhatikan dan suka menggukan kata-kata tanpa emosi. Tidak hanya itu, emosi juga dikatakan mengganggu penilaian yang baik, mengalihkan perhatian kita, tanda kerentanan, menghalangi mekanisme control, memperlemah sikap-sikap yang sudah baku, menghambat aliran data objektif, merumitkan perencanaan manajemen, dan mengurangi otoritas. Padahal, emosi itu sendiri menurut Cooper (1997) adalah sumber energi. Sementara rekannya, Voltaire berpendapat emosi adalah “bahan bakar”. Sehingga, berbisnis tanpa disertai dengan emosi, seolah tanpa ada gairah. Saya sendiri juga merasakan hal yang seperti itu. Hal itu juga akan membuat kita tak lagi memiliki keberanian berwirausaha, apalagi bersaing. Padahal, dunia bisnis penuh persaingan. Mereka yang bisa eksis usahanya adalah mereka yang menang dalam persaingan. Maka kita harus pandai-pandai mengerahkan sumber energi ini dalam kehidupan, termasuk di dalam bisnis kita.

            Sebenarnya, telah banyak studi yang mengungkapkan, bahwa emosi penting sebagai “energi pengaktif” untuk nilai-nilai etika, misalnya kepercayaan, integritas, empati, keuletan, dan kredibilitas serta untuk modal sosial. Hal tersebut dapat berupa kemampuan membangun dan mempertahankan hubungan-hubungan bisnis yang menguntungkan, serta didasarkan pada saling percaya. Wirausaha atau entrepreneur akan lebih minat ke sesuatu yang punya makna penting daripada makna konvensional (Purdi E. Chandra, 2008). Oleh karena itu, seorang wirausahawan adalah seseorang yang memiliki visi bisnis, dan selalu ingin mengubahnya menjadi realita bisnis. Dia tahu, bahwa mengubah visi menjadi realita lebih berupa kerja keras daripada nasib baik. Begitu juga halnya dengan emosi. Bukan lambang kelemahan, tapi dianggapnya sebagai lambang kekuatan dalam bisnisnya. Sehingga, meski persaingan bisnis di era millennium ketiga bakal ketat, namun dia akan tetap terus bergerak maju.

4.6.  Menyelaraskan Otak Berpikir dan Otak Emosional

            Hasil penelitian Daniel Golemen, pengarang “Emotional intelligence”, tentang otak dan ilmu perilaku yang dimuat “The New York Times”, menarik untuk dikaji. Dikatakannya, sesungguhnya kita memiliki 2 otak, satu yang berpikir (otak berpikir) dan satu yang merasakan (otak emosional). Biasanya, otak berpikir itu kita sebut otak kiri, dan otak emosional kita sebut otak kanan. Maksudnya, apa-apa yang kita ketahui ada di otak berpikir, dan apa-apa yang kita rasakan ada di otak emosional.

            Hasil penelitian ini mengingatkan kita, bahwa di dalam kita menggeluti dunia usaha, sebaiknya bisa menyelaraskan antara otak berpikir dengan otak emosional. Keselarasan kedua otak itu bagi kita sangat dibutuhkan, terutama di dalam kita mengambil keputusan penting dalam bisnis. Keselarasan itu akan membuat kita lebih tepat dan bijaksana dalam mengambil keputusan bisnis terlebih di saat persaingan bisnis seperti sekarang ini yang kerap kali menghadapkan kita kepada rentetan pilihan-pilihan cukup banyak. Apalagi, kedua otak tersebut, yang emosional dan yang berpikir, pada umumnya bekerja pada keselarasan yang erat, saling melengkapi, saling terkait di dalam otak. Di mana, emosi memberi masukan dan informasi kepada proses berpikir atau pikiran rasional. Sementara pikiran rasional memperbaiki dan terkadang memveto masukan emosi tersebut.

            Tetapi sebaiknya, jika saja keduanya tidak ada keselarasan atau katakanlah otak emosional yang dominan serta menguasai otak berpikir, maka keseimbangan kedua otak itu akan goyah. Kita akan cenderung tidak bisa berpikir jernih, suka bertindak gegabah dan sering melakukan kesalahan fatal dalam setiap mengambil keputusan penting dalam bisnis. Kalau dominan otak berpikir, maka kita hanya sekadar bersikap analitis, dan mengambil tindakan tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Akibatnya menimbulkan hilangnya kegairahan dan antusiasme bisnis.

            Oleh karena itu, kita jangan sampai kehilangan keselarasan kedua otak tersebut. Sebab, seperti juga yang ditegaskan oleh Damasio, seorang ahli neurologi, bahwa perasaan atau emosi biasanya sangat dibutuhkan untuk keputusan rasional. Otak emosional kita akan menunjukkan pada arah yang tepat. Maka, adalah tindakan yang tepat, jika mulai sekarang kita bisa mengatur emosi kita sendiri. Dalam konteks ini, pakar manajemen, Patricia Patton mengatakan, bahwa untuk mengatur emosi, kita bisa melakukan dengan cara belajar, yaitu: Pertama, belajar mengidentifikasi apa yang biasanya memicu emosi kita dan respons apa yang bisa kita berikan. Kedua, belajar dari kesalahan, belajar membedakan dalam segala hal di sekitar kita yang dapat memberikan pengaruh dan yang tidak memberikan pengaruh pada diri kita. Ketiga, belajar selalu bertanggung jawab terhadap setiap tindakan kita. Keempat, belajar mencari kebenaran, belajar memanfaatkan waktu secara maksimal untuk menyelesaikan masalah, dan kelima, belajar menggunakan kekuatan sekaligus kerendahan hati.

            Dampak positif dari terciptanya keselarasan kedua otak itu juga akan memunculkan tindakan-tindakan produktif, membuat kita semakin mantap dalam berbisnis, dan pada akhirnya akan berdampak positif bagi kemajuan bisnis kita. Singkatnya, keselarasan itu sangat berkaitan dengan pemberdayaan diri kita. Di mana, kita mesti bisa mengontrol diri, dan menggunakan akal sehat. Keselarasan itu tidak akan berwujud kalau kita masih juga memegang teguh sifat mementingkan diri sendiri. Sehingga, seorang wirausahawan yang bisa menyelaraskan otak berpikir dan otak emosional, akan sangat mungkin lebih berhasil dalam bisnisnya. Boleh jadi peluang menjadi wirausahawan yang kompeten, bernilai, professional, dan bahagia akan lebih bisa dicapai. Meski tidak mudah kita menyelaraskan keldua otak tersebut, kita harus berani mencobanya. Menghubungkan otak kiri dan otak kanan untuk berpikir lebih holistik, menjajagi kesempatan dari masa lalu menuju masa depan. Ini bisa dilakukan jika pemimpin mampu mengkombinasikan inteligensi dengan imajinasi. Jadi jenius adalah intelligence ditambah imajinasi menghasilkan hasil yang luar biasa (Sudarwan Danim, 2010).

4.7. Mencerdaskan Otak Kanan

            Upaya mencerdaskan memberdayakan otak kanan itu semakin hari semakin penting. Baik itu untuk kepentingan kehidupan kita sehari-hari, maupun kegiatan bisnis. Hanya saja, bagaimana sebaiknya cara kita mencerdaskan otak kanan itu? Serta, latihan apa yang perlu kita lakukan? Sebaiknya kita bisa melakukan hal-hal berikut (Ippho Santosa, 2012): Pertama, kita harus lebih banyak menyukai kegiatan atau hobi di alam terbuka. Misalnya: berenang, memancing, bersepada, berjalan-jalan, lari-lari, berkemah, atau haking. Kegiatan ini dapat mencerdaskan otak kanan. Kedua, melatih diri untuk berfikir divergen atau menyebar, loncat-loncat bukan linier, berpikir yang aneh-aneh, dan suka humor. Sehingga, kita akan lebih mudah menemukan ide-ide kreatif. Ketiga, mengaktifkan kemampuan bawah sadar kita. Latihan sederhana, misalnya bisa kita lakukan yaitu: di saat kita menerima pelajaran, mata dalam keadaan terpejam, atau mendengarkan radio sambil memejamkan mata tetapi tidak tidur. Keempat, bisa melalui pendekatan religious, misalnya yang alami sendri, yakni melakukan dzikir dalam hati.

            Dzikir dalam hati dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Dzikir itu akan membuat sesuatu itu terjadi. Sementara, intuisi yang tajam akan menunjukkan sesuatu itu terjadi. Cara lain yaitu dengan melakukan sholat malam, atau Tahajjud, dan shalat minta petunjuk atau Istikharah. Puasa juga dapat mencerdaskan otak kanan (Muhammad Syahrial, 2011). Berdasarkan pengalaman di dalam pelatihan kewirausahawan, biasanya pembimbing berkali-kali mencoba melakukan tes indikator minat otak pada peserta pelatihan. Ternyata mereka umumnya lebih dominan otak kiri. Itu karena selama mereka menuntut ilmu sejak masuk SD sampai perguruan tinggi yang dicerdaskan hanya otak kiri.

            Dalam konteks ini, jika kita ingin mencerdaskan otak kanan, maka otak kiri otomatis semakin cerdas. Sebaliknya, jika otak kiri yang kita cerdaskan, otak kanan tidak otomatis tambah cerdasnya. Sebab, otak kanan berkaitan dengan munculnya gagasan-gagasan baru, gairah, dan emosi. Sementara, otak kiri sangatlah berkaitan dengan hal-hal yang logis, linier, dan rasional. Namun, itu bukan berarti peran otak kiri diabaikan begitu saja. Otak kiri, saya kira tetap penting. Memang, ada saatnya seorang entrepreneur itu harus bisa menyeimbangkan pemanfaatkan otak kanan dan otak kirinya (Ippho Santosa, 2012). Oleh karena itu, sebagai seorang entrepreneur, maka kita harus terus berusaha mencerdaskan otak kanan, selain bermanfaat mempertajam intuisi kita, juga akan meningkatkan daya kreativitas kita. Kita akan lebih percaya diri, dan optimis dapat memenangkan persaingan bisnis. Saya kira tidak hanya itu saja. Kita pun akan lebih jadi sabar dan tabah di dalam setiap menghadapi berbagai cotaan maupun bisnis. Kita akan merasa lebih nyaman dengan hal-hal yang kita lakukan, dan tidak mustahil laju keberhasilan bisnis kita bakal meningkat.

            Otak kanan makin menjadi penting saat ini. Bukan karena kita “sirik” otak kiri, tetapi karena betul-betul dirasakan kebutuhannya, khususnya oleh entrepreneur. Terlebih lagi, karena ilmu manajemen yang selama ini ada, yang lebih didasarkan logika dan rasional, ternyata tidak selamanya mampu mengatasi setiap persoalan bisnis. Dan, mengapa harus otak kanan? Oleh karena, di otak kanan itulah sarat dengan hal-hal yang sifatnya eksperimental, divergen, bukan penilaian, metaforikal, subjektif, nonverbal, intutif, diffuse, holistic, dan reseptif. Sementara kita sadar, otak kiri cenderung bersikap objektif, presisi, aktif, logical, verbal, penilaian, linier, konvergen, dan numerical. Padahal, jika kita mampu memberdayakan otak kanan, maka ada kecenderungan akan mampu menyelesaikan setiap masalah dalam bisnis, bila dibandingkan kalau kita dengan hanya mengandalkan otak kiri.

            Dengan kita mampu memberdayakan otak kanan. Maka setiap memecahkan persoalan dalam bisnis, kita pun akan dapat melihat secara keseluruhan, dan kemudian memecahkan berdasarkan firasat, dugaan atau intuisi. Intuisi ini adalah kemampuan untuk menerima atau menyadari informasi yang tidak dapat diterima oleh kelima indra kita. Tampaknya ada yang khawatir dengan intuisi, karena mereka pikir intuisi bisa menghalangi pemikiran rasional. Sebenarnya intuisi justru berdasarkan pada pemikiran yang rasional dan tidak dapat berfungsi tanpanya. Robert Bernstrin menyatakan, bahwa hanya intuisi yang dapat melindungi kita dari orang-orang paling berbahaya, orang-orang yang tidak mampu bekerja dan hanya paandai bicara. Seorang entrepreneur yang mampu memberdayakan otak kanan, juga cenderung memiliki manajemen yang berstruktur luwes dan spontan, serta pada struktur yang sifatnya sama. Lain halnya bila dia lebih mengandalkan otak kirinya. Maka dia akan lebih cenderung pada struktur hierarki dan pada kondisi manajemen yang berstruktur (Purdi E Chandra, 2005).

            Mengandalkan otak kiri juga cenderung membuat penyelesaian masalah dipecahkan satu per satu berdasarkan logika. Kenyataan ini pernah kita alami saat studi dulu. Kita lebih banyak diajarkan atau dilatih oleh guru kita untuk selalu berpikir dengan otak kiri. Misalnya kita selalu dituntut berpikiran logis, analistik, dan berdasarkan pemikiran edukatif. Padahal hal tersebut ada kelemahannya. Kita tidak dapat menggunakannya, bila data tidak tersedia, data tidak lengkap, atau sukar diperoleh data. Maka, jika kita termasuk kategori otak kiri dan tidak melakukan upaya tentu untuk memasukkan beberapa aktivitas otak kanan, maka akan menimbulkan ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan tersebut dapat mengakibatkan kesehatan mental dan fisik yang buruk, seperti mudah stress, mudah putus asa atau patah semangat.

            Tetapi dengan kita mampu memberdayakan otak kanan kita, maka kita juga akan lebih intuitif dalam menghadapi setiap masalah yang muncul. Tentu saja hal tersebut berbeda dengan mereka yang hanya mengandalkan otak kiri, yang cenderung bersifat analitis. Yang jelas, kedua belah otak tersebut sama pentingnya. Jika kita mampu memanfaatkan kedua otak ini, maka kita akan cenderung “seimbang” dalam setiap aspek kehidupan, termasuk urusan bisnis. Bagaimana kalau kenyataannya dalam bisnis kita sehari-hari, kerap kali masih diharuskan untuk memutuskan, memilih, dan mengambil keputusan, dari beberapa alternatif yang faktor-faktornya tidak diketahui? Tentu saja, jika proses berpikir kita masih dominan ke otak kiri yang cenderung bersifat logis, linier, dan rasional, tentu kita akan menyodorkan berpuluh-puluh pilihan. Sebaliknya jika proses berpikir kita dominan ke otak kanan yang cenderung acak, tidak teratur, dan intuitif, saya yakin kita dengan antusiasi yang kuat akan memilih satu pilihan dan berhasil. Maka, tidak ada salahnya jika kita mau memberdayakan otak kanan.

4.8.  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosional

            Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional baik langsung maupun tidak langsung. Mayer, Caruso, dan Salovey (2000) menemukan fakta bahwa kecerdasan emosional juga terkait dengan usia. Mereka menemukan korelasi positif antara tingkat kecerdasan emosional dan umur individu. Bukti menunjukkan bahwa variasi genetik memiliki dampak signifikan terhadap EI, hasil perhitungan untuk tiga perempat orang dewasa. Meskipun heritabilitas IQ tinggi beberapa gen telah ditemukan memiliki efek yang substansial pada EI, menunjukkan bahwa EI adalah produk dari interaksi antara beberapa gen. faktor biologis lain berhubungan dengan EI termasuk rasio berat otak untuk berat badan dan volume dan lokasi jaringan gray matter pada otak. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan emosional maka dapat disintesiskan sebagai berikut:

 

 

Faktor Internal.

Faktor internal adalah apa yang ada dalam diri individu yang mempengaruhi kecerdasan emosinya. Faktor internal ini memiliki dua sumber yaitu segi jasmani dan segi psikologis. Segi jasmani adalah faktor fisik dan kesehatan individu termasuk umur, gender, IQ, dan apabila fisik dan kesehatan seseorang dapat terganggu dapat dimungkinkan mempengaruhi proses kecerdasan emosinya. Segi psikologis mencakup didalamnya pengalaman, perasaan, kemampuan berfikir, motivasi, dan kepribadian.

Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah stimulus dan lingkungan dimana kecerdasan emosional berlangsung. Faktor eksternal meliputi: 1) Stimulus itu sendiri, kejenuhan stimulus merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam memperlakukan kecerdasan emosional tanpa distorsi dan 2) Lingkungan atau situasi khususnya yang melatarbelakangi proses kecerdasan emosional. Objek lingkungan yang melatarbelakangi merupakan kebetulan yang sangat sulit dipisahkan.

4.9.  Dimensi Kecerdasan Emosional

            Menurut Caruso dan Salovey (2003) kecerdasan emosional terdiri 4 dimensi sebagai berikut: 1. Identifikasi emosi yaitu individu yang selalu mawas diri, sadar bagaimana mengekspresikan perasaannya, mampu membaca dengan cermat emosi perasaan orang lain, isyarat emosi nonverbal, kuat rasa estetikanya, mampu mengontrol emosi, mengetahui ketika seseorang sedang mencoba memanipulasi. 2. Menggunakan emosi untuk memfasilitasi pikirannya: mampu membangkitkan emosi dan menggunakannya untuk berpikir, bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, dapat membangkitkan emosi mendadak dengan mudah, untuk semua emosi, bisa mendapatkan suasana hati energik sebelum menghadiri acara penting, suasana hati yang berbeda mempengaruhi pemikiran dan pengambilan keputusan dalam cara yang berbeda. Mampu menggunakan perasaan untuk memusatkan pikiran pada hal-hal penting, sangat kuat imajinasi emosionalnya, dapat mengubah suasana hati dengan mudah, ketika orang menggambarkan peristiwa emosionalnya dengan kuat. 3. Memahami emosi adalah individu yang memiliki perbendaharaan emosi yang banyak dan detil, pengalaman dalam mengetahui tentang bagaimana emosi berubah dan berkembang, dapat merasakan kasih sayang dan benci dalam situasi yang sama, memiliki pola tertentu pada perubahan emosi, memiliki sebuah pengalaman dalam perbendaharaan emosi. 4. Mengelola emosi adalah individu dengan karakteristik mampu merawat perasaan, bertindak atas perasaan dengan segera. Memiliki emosi yang kuat, jelas tentang bagaimana merasa, memahami bagaimana perasaan mempengaruhi orang lain, mampu mengolah emosi dengan kuat agar tidak membesar-besarkan atau meminimalkannya.

            Kinicki dan Kreitner (2008) mengatakan bahwa kecerdasan emosional terdiri dari 5 dimensi sebagai berikut: Self-awareness: membaca dan mengenal dampak emosinya sendiri, menggunakan good sense sebagai petunjuk keputusannya, tepat dalam menilai diri, dan mengetahui batas kekuatannya. Self-management: menyadari kekuatan harga diri dan kemampuannya. Social awareness: merasakan emosi orang lain, memahami perspektif mereka, dan mengambil minat aktif dalam keprihatinannya. Social competence: mencermati hal-hal baru, jaringan keputusan, dan politik di tingkat organisasi. Layanan: Mengenali kebutuhan, pertemuan, klien, atau pelangga. Relationship management: membimbing dan memotivasi dengan visi yang menarik, menggunakan berbagai taktik untuk persuasi, menyalurkan kemampuan lain, melalui umpan balik dan bimbingan.

            Menurut Slocum Hellriegel (2009) salah satu dimensi kecerdasan emosional adalah self awareness yaitu: Self awareness mengacu pada pengenalan emosinya, keterbatasan, kekuatan, dan kemampuan serta bagaimana pengaruhnya terhadap orang lain. Orang dengan kesadaran diri yang tinggi mengetahui kondisi emosionalnya, mengakui hubungan antara perasaan orang dan apa yang mereka pikirkan, terbuka untuk masukan dari yang lain tentang bagaimana untuk terus meningkatkan kinerja mereka, dan mampu membuat keputusan meskipun berada dalam ketidakpastian dan tekanan. Mereka mampu menunjukkan rasa humor.

            Social emphaty mengacu pada penginderaan apa yang orang lain perlukan agar mereka dapat berkembang. Individu yang memiliki kesadaran sosial sendiri menunjukkan kepekaan, memahami kebutuhan orang lain dan perasaan, menentang bias dan intoleransi, dan bertindak sebagai penasihat terpercaya bagi yang lain. Mereka mengakui kekuatan manusia, prestasi, dan pengembangan. Sebagai mentor, mereka selalu memberikan bimbingan dan menawarkan tugas yang menantang bagi kompetensi seseorang. Self motivation mengacu pada orientasi hasil dan mengejar tujuan di luar apa yang dibutuhkan. Orang yang motivasi dirinya tinggi, menetapkan tujuan yang menantang untuk diri mereka sendiri dan orang lain, mencari cara untuk meningkatkan kinerja mereka, dan siap melakukan pengorbanan pribadi untuk mencapi tujuan organisasi. Mereka bekerja didasari dari harapan keberhasilan daripada takut gagal.

            Social skill mengacu pada kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain. Seseorang dengan keterampilan sosial yang efektif baik di membujuk orang lain untuk berbagi visinya; melangkah maju sebagai seorang pemimpin, terlepas dari posisi di organisasi; memimpin dengan contoh, dan berurusan dengan situasi interpersonal semakin sulit dengan cara mudah. Menurut Colquitt LePine dan Wesson (2009) dimensi kecerdasan emosional terdiri dari 3 dimensi sebagai berikut:

  1. Self Awareness. Aspek ini mengacu pada kemampuan individu untuk memahami jenis emosinya atau pengalamannya, kemauan untuk mengakuinya, dan kemampuan untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Sebagai contoh, seseorang yang rendah dalam aspek kecerdasan emosional mungkin tidak mengakui dirinya sendiri atau menunjukkannya kepada orang lain, bahwa ia merasa agak cemas selama beberapa hari pertama terhadap pekerjaan barunya. Jenis emosi yang sangat alami dalam konteks ini, dan mengabaikannya mungkin akan menambah situasi stres. Mengabaikan emosi mungkin juga akhirnya sinyal salah terhadap rekan barunya.
  2. Other Awareness. Dimensi ini merujuk kepada kemampuan individu untuk mengenali dan memahami emosi yang dirasakan orang lain. Orang yang tinggi dalam aspek kecerdasan emosional tidak hanya peka terhadap perasaan orang lain tetapi juga dapat mengantisipasi emosi yang akan dialami orang lain dalam situasi yang berbeda. Sebaliknya, orang-orang yang rendah dalam aspek kecerdasan emosional tidak peka terhadap emosi yang dialami orang lain secara efektif, dan jika emosinya negatif, ketidakmampuan ini dapat mengakibatkan orang melakukan sesuatu yang memperburuk situasi.
  3. Emotion Regulation. Aspek ini mengacu pada seberapa cepat memulihkan emosinya secara cepat. Sebagai contoh dari aspek kecerdasan emosional ini, mempertimbangkan kemungkinan respon seseorang ketika sedang mengendarai mobil baru disalib oleh seorang pengemudi agresif yang saat dia lewat, melemparkan bir dan diteriakan dengan kata-kata cabul. Jika orang ini mampu mengatur emosinya secara efektif, ia akan dapat memulihkan dengan cepat dari kemarahan awal dan kejutan dari kejadian itu. Dia akan pulih seperti sediakala, dan saat ia mulai bekerja, kejadian tersebut kemungkinan akan terlupakan. Namun, jika orang ini tidak bisa mengatur emosinya secara efektif, dia mungkin marah, menyusul pengemudi agresif itu, dan membalasnya di lampu merah berikutnya. Meskipun contoh ini menyoroti pentingnya mengatur emosi negatif, kita juga harus menunjukkan bahwa aspek kecerdasan emosional berlaku juga untuk emosi positif. Pertimbangkan respon seseorang yang mengatakan bahwa dia akan menerima kenaikan gaji yang signifikan. Jika orang ini tidak dapat mengatur emosi sendiri secara efektif, dia mungkin merasa gembira dan pusing sepanjang hari dan sebagai konsekuensinya, tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya.
  4. Use of Emotion. Kemampuan ini mencerminkan sejauh mana orang bisa memanfaatkan emosi dan menggunakannya untuk meningkatkan kesempatan untuk mencapai kesuksesan dalam hal apa pun yang mereka ingin lakukan. Untuk memahami aspek kecerdasan emosional ini, pertimbangan seorang penulis yang ditantang untuk menyelesaikan sebuah buku tetapi dalam jangka waktu yang sempit. Jika penulis memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, secara psikologis ia kemungkinan akan menerima sebagai tantangan dan mendorong dirinya untuk bekerja keras. Sebaliknya, jika penulis rendah dalam aspek kecerdasan emosional, dia mungkin mulai meragukan kemampuannya sebagai penulis dan berpikir tentang hal-hal lain yang dia bisa lakukan dengan hidupnya. Karena perilaku ini akan memperlambat kemajuan lebih lanjut, jumlah dan intensitas pikiran kegagalan mungkin akan meningkat, dan akhirnya, penulis dapat menarik diri dari tugas sepenuhnya.

            Goleman (2003) membagi karakteristik kecerdasan emosional menjadi 5 dimensi yaitu: 1. Self awareness adalah pemahaman diri, pengetahuan tentang perasaan yang sebenarnya pada saat ini. 2. Self management adalah kemampuan mengenai emosi untuk memfasilitasi bukan menghalangi; dan melepaskan emosi negatif kemudian kembali ke jalur yang konstruktif untuk pemecahan masalah. 3. Self motivation adalah keteguhan dalam menuju tujuan yang diinginkan, mengatasi dorongan emosi negatif dan menunda kepuasan untuk mencapai hasil yang diinginkan. 4. Empathy adalah memahami dan peka terhadap perasaan orang lain; mampu merasakan apa yang orang lain rasakan dan inginkan. 5. Social skill adalah kemampuan untuk membaca situasi sosial, luwes dalam berinteraksi dengan orang lain, serta mampu mengarahkan emosi orang lain dan cara tindakannya.

            Dari beberapa batasan para ahli maka dapat disintesiskan bahwa karakteristik kecerdasan emosional umumnya terdiri dari empat dimensi yaitu:

  1. Self awareness berkaitan dengan kemampuan mengenal emosi diri sendiri, menyadari kekuatan, kelemahannya, terbuka menerima masukan konstruktif mampu membuat keputusan terbaik dalam ketidakpastian dan tekanan.
  2. Self-management berkaitan dengan kemampuan mengendalikan emosi, kejujuran dan integritas, fleksibel dalam beradaptasi dengan perubahan situasi dan mengatasi hambatan, dorongan untuk meningkatkan kinerja sesuai standar kesiapan untuk bertindak dan menangkap peluang. Mampu melihat potensi diri dan mengambil manfaat dari setiap kejadian.
  3. Social empathy adalah kemampuan untuk memahami dan peka terhadap perasaan orang lain, mampu merasakan apa yang orang lain rasakan, mampu bertindak sebagai penasihat, mampu memberikan tantangan bagi kompetensi seseorang.
  4. Social skill adalah kemampuan membimbing dan memotivasi dengan visi menarik, menggunakan berbagai taktik untuk berbagai visi, memimpin dengan contoh kemampuan umpan balik dan bimbingan, mempelopori, mengelola, dan memimpin ke arah yang baru, menyelesaikan konflik, memelihara jaringan sosial, kerja tim dan kolaborasi.

 

  • Inspirasi Entrepreneur Sukses
    • Henky Eko Sriyantono: Lingkaran Laba Bakso Malang

Majelis Ulama Indonesia, sertifikat BPOM Dinas Kesehatan, serta sertifikat uji laboratorium. Di situ terlihat bahwa produknya bebas dari formalin, borak dan zat lain yang membahayakan kesehatan. Produk yang ditawarkan Eko terbilang unik. Ia tidak hanya menjual satu jenis jajanan melainkan juga jenis makanan khas Jawa Tengah dan Jawa Timur yang lain. Di antaranya soto ayam dan daging, nasi, dan mi goreng Jawa.

Kesuksesan meraih penggemar dalam waktu sekejap membuahkan gagasan baru dalam benak Eko, yaitu menjual waralaba bisnis tersebut. Rupanya, kesempatan berbisnis dengan sistem waralaba ini langsung disambar oleh orang-orang yang berjiwa pengusaha. Mereka merasa mendapat keuntungan dengan mengambil waralaba Bakso Malang Kota “Cak Eko”. Dengan modal yang tidak terlalu besar, pembeli waralaba (franchise) sudah bisa memprediksi omset yang akan diraih. Bahkan dalam menjalankan usaha ini mereka akan terus dipantau dan dibantu oleh pemilik waralaba (franchisor) agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Calon pembeli waralaba boleh memilih jenis usaha yang paling sesuai dengan kemampuan financial dan kemampuan menjalani usaha. Untuk lokasi biasanya Eko juga akan turun tangan memberi saran tentang pemilihan lokasi yang strategis. Calon pembeli waralaba pun tidak perlu khawatir memikirkan bahan baku. Karena dengan modal itu Eko akan menyediakan bahan baku termasuk daging sapi segar dan bumbu jadi, yang dipasok secara rutin. Selain itu, ia juga mengadakan pelatihan untuk para calon karyawan, misalnya bagi para koki dan para pramusaji. Dengan demikian rasa masakan dan layanan Bakso Kota Malang Cak Eko akan selalu sama, di manapun Anda berada. Untuk membeli waralaba ini, tidak sulit. Calon pembeli hanya perlu menyediakan modal minimum sekitar Rp 50 juta. Dari pengamatan Eko, para franchise sudah bisa mendapatkan modalnya kembali rata-rata dalam 8 bulan. Sebab, ia menghitung, omzet dari penjualan Bakso Malang ini bisa sekitar Rp 3 juta per hari atau sekitar Rp 80 juta sebulan.

Kenapa idenya bakso? Idenya sederhana saja. Pada 2005 secara tidak sengaja saya melihat ada gerai bakso di bandara Cengkareng. Hal itu membuat saya berpikir bahwa hanya dengan berjualan bakso, seseorang bisa menyewa gerai di Bandara yang biayanya pasti ratusan juta rupiah setahun. Kalau begitu, bisnis ini sangat prospektif. Dari situlah inspirasi saya muncul. Anda pernah bangkrut? Pernah mengalami kegagalan usaha? Ya, saya sudah pernah bangkrut sepuluh kali. Sudah mulai bisnis sejak 1997, mulai dari jual ponsel bekas sampai agrobisnis. Gagal. Setelah itu, busana muslim sampai kerajinan barang antik, saya tekuni. Barangnya laku, tetapi saya baru dapat uangnya tiga minggu kemudian. Cash-flow tidak lancar. Lalu saya pikir, bisnis itu ternyata perlu sistem, sedangkan waktu itu saya berusaha tanpa sistem. Makanya ketika ada business opportunity, enam tahun lalu, langsung saya ambil. Modalnya hanya 5 juta rupiah, sudah dapat gerobak. Kalau dibilang balik modal, belum pada waktu itu. Namun saya jadi dapat ilmu.

Jika dilihat lebih jauh, tukang bakso hanya membuka satu gerai, dan ada disitu terus. Paling ditambah perlahan-lahan menjadi dua atau tiga, dengan uangnya sendiri. Lain halnya dengan Cak Eko, dia membuka cabang. Ini merupakan suatu business opportunity yang di-franchise-kan. Selain itu metode promosinya berbeda. Ilmu lapangan pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) berbeda dengan ilmu sekolahan atau kampus. Menurut Cak Eko, waktu itu menggunakan strategi mengirim email ke pemimpin redaksi majalah-majalah. Setiap jam 3 pagi saya harus menggiling daging di pasar Pondok Gede, terus bikin bakso untuk jualan. Nah, ternyata itu menyentuh.

Dengan dimuat di media akhirnya datanglah orang-orang yang ingin membeli franchise itu? Dijual berapa franchise-nya? Pertama itu saya menarik franchise itu antara 30 sampai 35 juta rupiah. Mereka memperoleh peralatan. Karyawan dari pihak mitra kami ajarkan bagaimana cara memasaknya. Namun bahan baku kami sediakan. Itu 85 persen. Kuah baksonya instan, sudah saya ramu. Tinggal didihkan berapa liter air, dimasukkan begitu saja sudah jadi. Karena sudah diberi brand, rasanya juga harus sama. Usaha yang kecil, biasanya orang belum merekrut karyawan yang banyak. Apalagi sekretaris, jadi biasanya dipekerjakan suami istri ya. Mengajak istri ternyata juga bisa jadi masalah? Memang saya mengalami proses dari gagal jatuh-bangun sampai sekarang dapat mandiri. Istri saya juga tahu bagaimana komitmen saya terhadap usaha sehingga pada saat melakukan usaha bakso, mindset bisnisnya sudah terbentuk. Mulai dari bagaimana saya struggle untuk meyakinkan bahwa kesuksesan tinggal satu langkah lagi. Saya selalu bilang seperti itu. Nah akhirnya pada saat saya buka usaha bakso, kerangka pemikiran istri sudah terbentuk untuk berwirausaha.

Yang jadi masalah seperti apa kalau suami istri terlibat? Mindset yang tadi diceritakan? Kalau mindset-nya belum siap itu, lebih nyaman kalau pihak suaminya tetap menjalankan pekerjaannya. Seorang karyawan lebih baik jangan keluar dari zona amannya dulu, sebab kalau tidak siap ia akan merasa terganggu. Nantinya, risiko pendapatan berhadapan dengan istri.

Sebenarnya mungkin yang dimaksud oleh Cak Eko begini, sebagai seorang suami yang sudah memasuki kuadran wirausaha, ketika sudah invest, dia punya expected income. Expected income itu adalah penghasilan kira-kira setelah berapa tahun, setelah usahanya jalan pendapatannya akan sampai. Sementara istrinya itu tidak punya expected income itu. Yang dia rasakan uang dapurnya berkurang, suaminya tidak punya uang atau uangnya keluar terus, kemudian resah, dan mulai menghambat karena takut.

Punya Mimpi Lain

Namun, Eko tidak ingin berhenti sampai di situ. Masih banyak cita-cita yang ingin ia capai. Misalnya, Eko bertekad membuat bakso nice jadi makanan yang bergengsi, tidak kalah dari makanan-makanan asing yang juga banyak menjadi favorit, terutama di kota besar. Ia juga ingin memperluas pasar hingga ke berbagai kota di tanah air. Tidak hanya itu ia bahkan bercita-cita membuat produknya dikenal di mancanegara. Kabarnya Eko berencana membuka cabang di Singapura dan Amerika Serikat. Yang jelas, satu mimpinya yang mulia sudah bisa 10 wujudkan yaitu menyediakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang?

Di samping itu Eko juga rajin berbagi ilmu. Ia tidak segan membeberkan rahasia kesuksesan bisnisnya. Ia memberikan workshop wirausaha kepada sejumlah mahasiswa. Kepeduliannya ini karena ia ingin agar banyak pengusaha muda yang tumbuh di antara calon lulusan kampus. Ia berharap mereka tidak mencari pekerjaan melainkan membuka lapangan kerja baru. Eko bisa dibilang merupakan pemain baru di dunia bisnis kuliner, tetapi belum genap tiga tahun usianya, bisnis bakso Malang kebanggaannya itu bukan hanya menjadi usaha rumahan semata melainkan berkembang menjadi sebuah kerajaan bisnis.

Hingga kini waralaba bisnis tersebut telah tersebar di sejumlah kota di hampir seluruh penjuru Indonesia (dari Sumatera hingga Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat). Jumlah kedainya mencapai lebih dari 102, sementara ia sendiri memiliki 3 cabang diantaranya. Ia berhasil menepis anggapan banyak orang bahwa bisnis bakso bukanlah bisnis yang modern, gaya, dan mendatangkan banyak laba. Perjalanannya membangun bisnis ini telah banyak menginspirasi orang sehingga mereka terpacu mengikuti jejak langkahnya untuk menjadi pengusaha sukses.

  • Inspirasi Berwirausaha: Belajar Dari Kegagalan

Kegagalan merupakan bagian dari proses kehidupan yang harus kita hadapi setiap saat. Kita harus mampu mengubah ketakutan terhadap kegagalan (fear of failure) menjadi kekuatan atas kegagalan (power of failure), karena takut gagal adalah alasan yang paling utama yang menyebabkan seseorang tidak mengambil tindakan. Ada pepatah yang mengatakan kegagalan merupakan pengalaman-pengalaman yang harus dihadapi dalam perjalanan menuju kesuksesan. Karena sesungguhnya, harus ada kegelapan malam yang sangat pekat terlebih dahulu sebelum fajar menyongsong. Thomas Edison, penemu hak paten terbanyak didunia, pada usia tuanya tidak melihat kebakaran pabriknya sebagai kegagalan yang harus disesali, bahkan dengan semangat ia mengajak keluarganya untuk menyaksikan kebakaran gedung kesayangannya. Keesokan harinya ia mengumpulkan karyawannya dan bertekad dengan semangat penuh untuk membangun lagi gedung yang baru. Inilah sikap yang dibutuhkan setiap kali kita menghadapi kegagalan. Cobalah lihat kegagalan dari sudut pandang yang positif dan berusahalah mencari pelajaran dibalik semua yang terjadi. Sesungguhnya kegagalan adalah:            

Pertama, kegagalan merupakan guru yang terbaik. Bagi setiap individu bermental positif, kegagalan merupakan guru terbaik dalam perjalanan menuju pintu kesuksesan. Pada hakikatnya, kegagalan merupakan hal yang lumrah terjadi dalam setiap episode kehidupan kita. Tidak ada suatu pencapaian sukses tanpa pernah terlebih dahulu melewati pintu kegagalan. Kegagalan akan memberikan pelajaran langsung berupa fakta-fakta yang akan membawa kita ke arah yang benar dalam perjalanan menuju puncak kesuksesan. Namun, jika lengah dalam pelajaran tersebut, Anda akan mengulangi kegagalan yang sama pada waktu mendatang. Ibarat sekolah, Anda akan tinggal kelas dan mengulangi pelajaran yang sama. Celakanya, jika disekolah ada yang memberi tahu dan memberikan peringatan agar kita tidak mengulanginya terus-menerus, dalam hidup ini, bisa jadi tidak ada yang memberikan peringatan kepada kita, sehingga kita akan terus menerus mengulangi kegagalan yang sama seumur hidup.

            Ada seorang karyawan yang melayangkan protes kepada bosnya, saya sudah bekerja di perusahaan ini selama 20 tahun, tetapi mengapa gaji saya disamakan dengan gaji karyawan yang baru masuk 1 tahun? Sang bos menjawab, Anda memang sudah bekerja 20 tahun, tetapi Anda tidak memiliki pengalaman sebagai orang yang bekerja 20 tahun. Anda adalah orang yang bekerja dengan pengalaman 1 tahun tetapi diulang 20 kali. Anda tidak pernah belajar! Itu sebabnya, saya bayar Anda sama dengan orang yang bekerja satu tahun!

            Tom Watson, pendiri IBM selalu menerapkan budaya IBM dalam sistem kepemimpinannya. Pada suatu ketika, seorang eksekutif muda IBM melakukan transaksi fatal yang merugikan perusahaan lebih dari US$10 juta. Kemudian, ia dipanggil oleh Tom Watson untuk menghadap. Dalam hati kecil si eksekutif muda tersebut sudah terbayang akan dimarahi dan dipecat dari IBM. Namun, betapa terkejutnya ia ketika Tom Watson berkata, apakah kamu pikir, saya akan memecatmu? Sedangakan kamu sudah menghabiskan uang perusahaan US$10 juta untuk biaya pendidikanmu!

            Perlu Anda ketahui bahwa sesungguhnya metode yang paling sering dan paling banyak dilakukan oleh ilmuwan dalam melakukan penelitiannya adalah metode trial and error. Mereka mencoba suatu hipotesis dan kemudian mempraktekannya. Dalam praktek tersebut, mereka sering kali menemukan ketidakcocokan yang menyebabkan mereka gagal. Kemudian mereka mengambil pelajaran dari kegagalan tersebut dan mencoba memperbaikinya dengan menyusun suatu hipotesis baru yang lebih baik dari yang sebelumnya. Mereka kemudian mencoba hipotesis baru tersebut dengan metode yang sama, begitulah seterusnya hingga mereka berhasil mendapatkan suatu hasil yang sempurna. Dalam hidup ini, bayangkanlah diri Anda seperti ilmuwan tersebut.

Ketika Anda sedang mencoba merealisasikan goals Anda dengan berbagai strategi, janganlah takut dan gusar akan datangnya kegagalan. Justru sebaliknya, bergembiralah ketika bertemu dengan suatu kegagalan, karena Anda telah belajar daripadanya. Jadi, jangan takut gagal, karena kegagalan akan menjadi guru terbaik yang akan mengarahkan Anda menuju arah yang tepat mewujudkan setiap goals Anda.

            Kedua, kegagalan akan membuat Anda mengubah tindakan. Ketika seorang menghadapi kesuksesan, ia cenderung bersuka cita dan berpesta, tetapi ketika ia gagal ia cenderung menghabiskan waktu berpikir dan mencari tahu hal apa yang harus diperbaiki. Apa pepatah yang mengatakan bahwa definisi dari orang yang tidak waras adalah orang yang melakukan hal yang sama terus menerus tetapi menginginkan hasil yang berbeda. Kegagalan yang datang kepada kita sebenarnya merupakan waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi terhadap strategi yang telah kita jalankan. Mungkin strategi yang selama ini kita terapkan, tidak dapat mencapai hasil maksimal yang kita inginkan. Dengan adanya kegagalan, kita dapat mengambil waktu untuk memikirkan strategi lain untuk mencapai yang kita inginkan.

            Ketiga, kegagalan adalah tantangan yang akan membuat kita lebih kuat. Kegagalan akan memperkuat karakter kita. Bayangkan karakter kita laksana sebuah bola yang dibanting dari suatu ketinggian tertentu. Setelah jatuh, bola tersebut akan memantul ke atas. Semakin keras Anda membantingnya, akan semakin tinggi pantulannya. Hal yang sama berlaku dalam hidup, semakin keras tantangan yang diberikan kepada Anda, semakin besar pula potensi yang akan Anda keluarkan untuk meresponsnya. Itulah realitas hidup. Ketika kita jatuh dan gagal dalam satu episode kehidupan kita, bukan berarti kita akan jatuh selamanya. Belajarlah dari sebab-sebab kejatuhan dan kegagalan Anda tersebut, dan kemudian perkuatlah diri Anda dengannya. Dengan demikian, pasti Anda akan menjadi pribadi yang lebih kuat lagi pada masa mendatang. Ketika Anda menanggapi kegagalan Anda dengan sikap positif, maka pada posisi paling terpuruk pun Anda akan merasakan gairah yang luar biasa besar untuk bangkit dan berusaha lagi. Perjalanan hidup manusia tidak terlepas dari tantangan-tantangan yang sering kali membuat kita putus asa dan kesal. Namun sesungguhnya, tantangan-tantangan di masa depan. Ingatlah, bahwa sesungguhnya kesuksesan Anda pada hakikatnya diukur dari beberapa banyak rintangan yang telah berhasil Anda lalui.

            Keempat, kegagalan merupakan peringatan bagi kita untuk lebih waspada. Proses untuk mencoba dan gagal adalah proses pelajaran yang penting. Kegagalan tanpa pernah mencoba mempunyai resiko yang jauh lebih berbahaya dibandingkan kegagalan setelah mencoba. Kegagalan dan kesuksesan bagaikan dua sisi mata uang, kegagalan dan kesuksesan adalah satu paket yang tidak dapat dipisahkan. Anda tidak dapat meraih kesuksesan tanpa pernah mengalami kegagalan. Dan jangan berkecil hati bahwa dengan selalu siap dan pantang menyerah terhadap kegagalan, Anda juga bersiap menerima kesuksesan.

Kalau saya tidak pernah berani tersasar, kalian tidak akan pernah menemukan jalan baru (Christopher Columbus). Saat ditertawakan oleh orang-orang Spanyol karena tersasar, Christopher Columbus mengeluarkan wisdom “Kalau saya tidak pernah berani tersasar, kalian tidak akan pernah menemukan jalan baru.” Semua orang heran, mengapa ia tetap bisa tersenyum walaupun diolok-olok sebagai orang gagal dan bodoh. Padahal jelas ia telah melakukan kesalahan. Bayangkan puluhan kapal beserta awaknya telah diserahkan Ratu Isabel agar Columbus menyelesakan misi perjalanan lautnya: Menemukan India. Alih-alih menemukan India, ia cuma mendarat di Amerika Selatan. Lebih fatal lagi, orang-orang di pulau itu ia paksakan namanya menjadi Indian. Ia merasa sudah menemukan India karena di sana ada rempah-rempah yang dicari kerajaan Spanyol seperti yang diucapkan pedagang-pedagang Arab yang biasa berdagang ke Eropa.

Namun meskipun diolok-olok, popularitas Christopher Columbus tidak pernah pudar. la tetap dikenal sebagai penjelajah hebat yang membuka cakrawala manusia dalam berpikir. Ia benar, kalau kita tidak pernah mau kesasar, maka kita tidak akan pernah menemukan jalan-jalan baru di dunia ini. Seperti itu pulalah yang dapat dipelajari dari  “Cak Eko”. Ia menyeberangi pulau sambil ter­antuk-antuk sepuluh kali sebelum akhirnya menemukan “pulau” yang ia cari yaitu Bakso Malang Kota. Yang penting dalam hidup ini bukan sukses atau gagal tetapi kalau gagal atau berhasil, apa pembelajaran yang dapat ditarik dan hasil yang telah dicapai itu. Belajar dari Cak Eko, menurut Rhenald Kasali ada beberapa tip berikut ini:

  1. Setiap waktu yang Anda habiskan untuk apa saja anggaplah semua biaya, tenaga, dan waktu yang Anda keluarkan itu sebagai investasi Anda. Dengan investasi itu berarti Anda telah berkorban. Periksalah semua investasi itu dan kalau hasilnya negatif (Anda kehilangan), satu hasil yang pasti Anda bisa dapatkan, adalah pembelajaran. Periksalah dan renungi hikmah pembelajaran itu.
  2. Sukses bukanlah merupakan kumpulan dari bukit-bukit tinggi yang Anda raih, melainkan kalau Anda jatuh ke bawah, seberapa cepat Anda bangkit kembali.
  3. Sukses berarti Anda menang bersama, yaitu bersama-sama dengan pelanggan Anda, partner Anda atau pasangan hidup Anda. Inilah hukumnya: Kalau saya menang – dia kalah, saya hanya menang sekali saja. 2. Kalau saya kalah – dia menang, dia hanya menang sekali saja. 3. Kalau kita sama-sama menang, kita akan memenangkan babak-babak selanjutnya, terus menerus. 4. Kalau kita sama-sama kalah, selamat tinggal – kita bubar saja.
  4. Setiap kegagalan terjadi karena kita tidak mengenal sistem bisnisnya. Kenalilah dan bekerjalah dengan sistem dan aturannya.
  5. Setiap kegagalan dapat terjadi kalau Anda terlalu menguras energi. Inilah ABC dari energi yang terkuras: Aktivitas tanpa arah yang jelas. 2. Beban tanpa tindakan nyata. 3. Konflik tanpa kesudahan.

Evaluasi Mandiri

  1. Jelaskan apa yang dimaksud emosi dan mengapa penting bagi entrepreneur!
  2. Apa yang dimaksud dengan kecerdasan emosional menurut para ahli!
  3. Jelaskan hubungan antara kecerdasan emosional dengan kecerdasan intelektual!
  4. Sebut dan jelaskan dimensi-dimensi kecerdasan emosional yang harus dikembangkan!
  5. Apa yang dimaksud dengan kecerdasan emosional entrepreneur!
  6. Bagaimana caranya menyelaraskan otak berpikir dengan otak emosional!
  7. Apa yang Anda ketahui dengan otak kanan dan bagaimana cara mencerdaskan otak kanan!
  8. Jelaskan istilah-istilah berikut: social emphaty, social skill, dan self awareness!

 

Daftar Pustaka

Ary Ginanjar Agustian. 2003. ESQ (Emotional Spiritual Quotient): Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Penerbit Arga: Jakarta.

Colquitt, Le Pine, and Wesson. 2009. Organizational Behavior. Mc Graw Hill Irwin: New York.

Cooper, Robert K and Ayman Sawaf, 1997. Executive EQ – Emotional Intelligence in Business. London: Orion Business Books.

Caruso dan Salovey. 2003. The Emotionally Intelligent Manager, How To Develop And use of Four Key Emotional Skill of Leadership. Jossey-Bass: New York.

Dulewicz, Vic and Higgs, Malcolm. 2000, Emotional Intelligence You Can’t Afford to Ignore It, ASE (http://www.asesolutions.co.ak/ei/Default.thm)

Ekman P. 1992. “An Argument for Basic Emotion,” Journal of Personality and Social Psychology. Juli 1992.

Ekman P. 2003. Emotion Revealed: Recognizing Faces and Feelings to Improve Communication and Emotional Life. Time Books Henry Holt and Co.: New York.

Goleman, Daniel. 2002. Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional): Mengapa EI Lebih Penting Daripada IQ. Alih Bahasa: T.Hermaya. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Goleman, Daniel. 2003. Emotional Intelligence: Kecerdasan Emosi Untuk Mencapai Puncak Prestasi. Alih Bahasa: Alex Tri Kantjono. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Ippho Santosa. 2012. Wasiat Terlarang: Dasyat Dengan Otak Kanan. Elex Media Komputindo: Jakarta.

Ippho Santosa. 2012. Percepatan Rezeki: Dalam 40 Hari Dengan Otak Kanan. Elex Media Komputindo: Jakarta.

Kinicki and Kreitner. 2008. Organizational Behavior: Key Concept, Skill and best Practices. Mc Graw Hill Irwin: New York.

LeDoux, Joseph. 1996, The Emotional Brain: The Mysterious Underpinnings of Emotional Life. Simon & Schuster: New York.

Monty P. Satiadarma, Fidelis E. Waruwu. 2003. Mendidik Kecerdasan. Pustaka Populer Obor: Jakarta.

Mayer, J. D. Salovey, P. dan Caruso, D. R. 2000. Models of Emotional Intelligence. In R. J. Sternberg (Editor). Cambridge Handbook of Human Intelligence (2nd ed): New York.

Muhammad Syahrial. 2011. Anakku Maukah Kau Jadi Pengusaha: Spiritual Entrepreneur Quotient. Lentera Ilmu Cendekia: Jakarta.

Reni Akbar Hawadi. 2004. Akselerasi: A-Z Informasi Program Percepatan Belajar dan Anak Berbakat Intelektual. Gramedia Widiasarana Indonesia: Jakarta.

Slocum, Hellriegel. 2009. Principles of Organizational Behavior 12th Edition. Chengage Learning, International Student: South-Western.

Solomon R.C. 2002. “Back to Basics: On the Very Idea of Basic Emotions”. Journal for the Theory of Social Behaviour 32 Nomor 2. Juni 2002.

Stephen P. Robbins and Timothy A. Judge. 2008. Perilaku Organisasi: Organizational Behaviour. Alih Bahasa: Diana Angelica. Salemba Empat: Jakarta.

Steinberg, John M. 1999. What Are Emotions? EQ Today http://www.eqtoday.com/emotions.html.

Sumiyati. 2008. “Analisis Kinerja Guru Kimia SMU DKI Jakarta Ditinjau Dari Kecerdasan Emosional”. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 071.Tahun Ke-14. Maret 2008.

Sudarwan Danim. 2010. Kepemimpinan Pendidikan: Kepemimpinan Jenius (IQ + EQ), Etika, Perilaku Motivasional, dan Mitos.

Shapiro, Lawrence E.. 1997. Mengajarkan Emosional Intelligence pada Anak. Alih Bahasa: Alex Tri Kantjono. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Stein, J. Steven dan E Howard. 2002. Ledakan EQ. Alih Bahasa: Trinanda Rainy Januar Sari dan Yudhi Murtanto. Penerbit Kaifa: Bandung.

 

Leave A Reply