Back

IDE, PELUANG DAN KREATIVITAS ENTREPRENEUR

BAB II

IDE, PELUANG DAN KREATIVITAS ENTREPRENEUR

 

Pembahasan Materi

            Dalam bab ini Anda akan mempelajari ide dan gagasan usaha, sumber-sumber potensial peluang: menciptakan produk baru yang berbeda dan menciptakan pintu peluang, pengembangan kewirausahaan, bekal pengetahuan dan kompetensi kewirausahaan, karakteristik wirausaha kreatif: dimensi pribadi, proses, pendorong, dan produk.

2.1. Ide atau Gagasan Usaha

Untuk memulai atau merintis usaha, modal utama yang harus dimiliki adalah sebuah ide atau gagasan, baik ide untuk melakukan proses imitasi dan duplikasi, ide untuk melakukan pengembangan, maupun ide untuk melakukan sesuatu yang baru atau berbeda. Seperti telah dikemukakan, wirausaha dapat menambah nilai suatu barang dan jasa melalui inovasi. Keberhasilan dapat dicapai apabila wirausaha menggunakan produk, proses, dan jasa-jasa inovasi sebagai alat untuk menggali perubahan (Syariah Yusup, 2010). Oleh sebab itu, inovasi merupakan instrumen penting untuk memberdayakan sumber-sumber agar menghasilkan sesuatu yang baru dan menciptakan nilai. Ketangguhan kewirausahaan sebagai penggerak perekonomian terletak pada kreasi baru untuk menciptakan nilai secara terus-menerus.

Wirausaha dapat mencipatakan nilai dengan cara mengubah semua tantangan menjadi peluang melalui ide-ide dan akhirnya menjadi pengendali usaha. Semua tantangan bisa menjadi peluang apabila terdapat inovasi, misalnya menciptakan permintaan mulai penemuan baru. Dengan penemuan baru, para pengusaha perusahaan mengendalikan pasar, dan akhirnya membuat konsumen-konsumen membeli kepada produsen. Dengan demikian, produsen tidak lagi bergantung pada konsumen seperti falsafah pemasaran yang konvensional. Menurut Suyanto (2011), ide-ide yang berasal dari wirausaha dapat menciptakan peluang untuk memenuhi kebutuhan riil di pasar. Ide-ide itu menciptakan nilai potensial di pasar sekaligus menjadi peluang usaha. Dalam mengevaluasi ide untuk menciptakan nilai-nilai potensial (peluang usaha), wirausaha perlu mengidentifikasi dan mengevaluasi semua risiko yang mungkin terjadi dengan cara: 1. Mengurangi kemungkinan risiko melalui strategi yang proaktif. 2. Menyebarkan risiko pada aspek yang paling mungkin. 3. Mengelola risiko yang mendatangkan nilai atau manfaat.

Risk management adalah suatu proses dimana manajer perusahaan melakukan identifikasi adanya resiko pada seluruh bagian di dalam organisasi yang berpotensi menimbulkan kerugian  kemungkinan mengembangkan rencana untuk meniadakan atau memperkecil jumlah kerugian yang mungkin terjadi (James A.F. Stoner, et.al, 1996). Tujuan manajemen resiko adalah untuk meminimalkan berbagai dampak yang merugikan sebagai akibat dari timbulnya resiko pada tingkat biaya yang paling minimum sejalan dengan sasaran dan tujuan perusahaan atau keluarga. Sementara pakar lain berpendapat bahwa tujuan manajemen resiko adalah merencanakan sumber daya secara efektif gunanya untuk mengembalikan keseimbangan dan keefektifan operasional organisasi sesudah mengalami gangguan kerugian yang sangat hebat.

Menurut Zimmerer et.al (1996), kreativitas sering kali muncul dalam bentuk ide untuk menghasilkan barang dan jasa baru. Ide bukanlah peluang dan tidak akan muncul bila wirausaha tidak mengadakan evaluasi dan pengamatan secara terus-menerus. Banyak ide yang betul-betul asli, akan tetapi sebagian besar peluang tercipta ketika wirausaha memiliki cara pandang baru terhadap ide yang lama. Pertanyaannya, bagaimana ide bisa menjadi peluang? Terdapat beberapa jawaban atas pertanyaan ini, yaitu:

  • Ide dapat digeneralkan secara internal melalui perubahan cara-cara/metode yang lebih baik untuk melayani dan memuaskan pelanggan dalam memenuhi kebutuhannya.
  • Ide dapat dihasilkan dalam bentuk produk dan jasa baru.
  • Ide dapat dihasilkan dalam bentuk modifikasi pekerjaan yang dilakukan atau cara melakukan suatu pekerjaan.

            Hasil dari ide-ide tersebut secara keseluruhan adalah perubahan dalam bentuk arahan atau petunjuk bagi perusahaan atau kreasi baru tentang barang yang dihasilkan perusahaan. Banyak wirausaha yang berhasil bukan atas ide sendiri tetapi hasil pengamatan dan penerapan ide-ide orang lain yang bisa dijadikan peluang. Peluang untuk memasuki dunia usaha dapat dilakukan melalui beberapa alternatif jalan masuk. Alternatif mana yang akan digunakan sangat tergantung kepada situasi dan kondisi calon pelaku usaha yang telah berniat akan terjun ke dunia usaha.  

2.2.  Sumber-Sumber Potensial Peluang

            Agar ide-ide potensial menjadi peluang bisnis yang riil, maka wirausaha harus bersedia melakukan evaluasi terhadap peluang secara terus-menerus. Proses penjaringan ide atau disebut proses screening merupakan suatu cara terbaik untuk menuangkan ide potensial menjadi produk dan jasa riil. Adapun langkah dalam penjaringan ide dapat dilakukan sebagai berikut:

2.2.1. Menciptakan Produk Baru dan Berbeda

            Ketika ide dimunculkan secara riil atau nyata, misalnya dalam bentuk barang dan jasa baru, maka produk dan jasa tersebut harus berada dengan produk dan jasa yang ada di pasar. Selain itu, produk dan jasa tersebut harus menciptakan nilai bagi pembeli atau penggunanya. Agar berguna, barang dan jasa harus bernilai bagi konsumen, baik pelanggan maupun konsumen potensial lainnya. Oleh sebab itu, wirausaha harus benar-benar mengetahui perilaku konsumen di pasar. Dalam mengamati perilaku pasar, paling sedikit ada dua unsure pasar yang perlu diperhatikan: 1. Permintaan terhadap barang / jasa yang dihasilkan. 2. Waktu penyerahan dan waktu permintaan barang / jasa

            Dengan demikian, jelaskan bahwa wirausaha yang sukses perlu menciptakan produk dan jasa unggul yang memberikan nilai kepada konsumen. Misalnya, apakah produk-produk barang dan jasa tersebut dapat meningkatkan efisiensi bagi pemakainya? Berapa besarnya? Apakah perbaikan dalam efisiensi dapat diketahui juga oleh pembeli potensial? Berapa persen target yang ingin dicapai dari segmentasi pasar tersebut? Pertanyaan-pertanyaan di atas penting dalam menciptakan peluang. Secara implisit, apabila wirausaha baru berfokus pada segmen pasar, maka secara spesifik peluang itu akan tergantung pada perilaku segmen. Kemampuan untuk memperoleh peluang itu sendiri sangat bergantung pada kemampuan wirausaha untuk menganalisis pasar, meliputi aspek (Nugraha Alexander Dion, 2008):

  • Kemampuan menganalisis demografi pasar
  • Kemampuan menganalisis sifat serta tingkah laku pesaing
  • Kemampuan menganalisis keunggulan bersaing dan kevakuman pesaing yang dapat dijadikan sebagai peluang.

2.2.2.  Mengamati Pintu Peluang

            Wirausaha harus mengamati potensi-potensi yang dimiliki pesaing, misalnya kemungkinan pesaing mengembangkan produk baru, pengalaman keberhasilan dalam mengembangkan produk baru, dukungan keuangan, dan keunggulan-keunggulan yang dimiliki pesaing di pasar. Kemampuan pesaing untuk mempertahankan posisi pasar dapat dievaluasi dengan mengamati kelemahan-kelemahan dan risiko pesaing dalam menanamkan modal barunya. Untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang dimiliki pesaing serta peluang yang dapat kita peroleh, ada beberapa pertanyaan penting, yaitu:

  • Pertanyaan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan pesaing dalam mengembangkan produk, meliputi:
  • Bagaimana kemampuan teknik yang dimiliki pesaing dalam mengembangkan produk jika dibandingkan kemampuan teknik yang kita miliki?
  • Bagaimana catatan prestasi pesaing untuk mencapai sukses dalam mengembangkan produknya?
  • Pertanyaan untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan pesaing tentang kapabilitas dan sumber-sumber yang dimiliki, meliputi:
  • Sejauh maha kemampuan dan kesediaan pesaing untuk melakukan investasi dalam mengembangkan produk baru dan produk awal?
  • Keunggulan pasar apa yang dimiliki oleh pesaing?
  • Pertanyaan untuk menentukan apakah pintu peluang ada atau tidak, meliputi:
  • Sejauh mana kecepatan perusahaan membawa produk ke pasar dapat mendahului pesaing?
  • Apakah kapabilitas dan sumber-sumber yang dimiliki perusahaan cukup untuk membawa produk ke pasar yang sedang dikuasai pesaing?

Menurut Zimmerer et.al (1996), ada beberapa keadaan yang dapat dijadikan sebagai peluang, yaitu:

  • Produk baru harus segera dipasarkan dalam jangka waktu yang relatif singkat.
  • Kerugian teknik harus rendah. Oleh karena itu, penggunaan teknik harus dipertimbangkan sebelumnya.
  • Saat di mana pesaing tidak begitu agresif untuk mengembangkan strategi produknya.
  • Pesaing sejak awal tidak memiliki strategi dalam mempertahankan posisi pasarnya.
  • Perusahaan baru memiliki kemampuan dan sumber-sumber untuk menghasilkan produk barunya.

2.3.  Pengembangan Kewirausahaan

Untuk pengembangan kewirausahaan, konsep sederhananya adalah pengertian berwirausaha, karakteristik wirausaha, perencanaan keuangan, penggunaan sumber daya, dan spesifikasi usaha. Yang dimaksud berwirausaha dalam tulisan ini adalah kemampuan seseorang untuk membuat sesuatu yang baru dan berbeda (kreativitas dan inovasi) dalam membuka lapangan usaha baru dan mampu mengorganisasi, menanggung resiko, berorientasi hasil, peluang, kepuasan pribadi, kebebasan, mental dan sikap jiwa yang selalu aktif berusaha meningkatkan hasil karya dalam arti meningkatkan penghasilan.

Karakteristik wirausaha adalah kepribadian yang dimiliki pengusaha, seperti jiwa wirausaha, kepemimpinan, mengambil resiko, mengambil keputusan, perencanaan bisnis, menggunakan waktu secara efektif. Suryana (2008) mengatakan, kewirausahaan merupakan suatu kemampuan dalam menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengelolaan sumber daya dengan cara baru dan berbeda-beda, seperti pengembangan teknologi, penemuan pengetahuan, perbaikan produk barang dan jasa, menemukan cara baru untuk mendapatkan produk lebih banyak dengan sumber daya lebih efisien. Perencanaan keuangan adalah kemampuan mengendalikan uang, seperti rencana tindakan keuangan, mengembangkan sikap perhitungan keuangan terhadap sumber daya, mengukur dan mengendalikan strategi hasil keuangan, sukses keuangan melalui orang, perangkat untuk pengendalian keputusan (sistem informasi). Dan penggunaan sumber daya adalah penempatan sumber daya yang sesuai, seperti memperoleh sumberdaya langka, menilai peluang pasar, memasarkan barang atau jasa, menggunakan sumberdaya luar, dan berhubungan dengan badan pemerintah.

            Tujuan kewirausahaan menurut Kasmir (2006) adalah persahabatan dan pergaulan, menyenangkan orang lain, membujuk pelanggan, mempertahankan pelanggan, membina dan menjaga hubungan. Dalam tulisan ini yang dimaksud tujuan kewirausahaan adalah kemampuan anak berkebutuhan khusus memberdayakan semangat, sikap, perilaku dapat mengaplikasikan pengetahuan, manajemen, dan kreativitas untuk mengembangkan bidang usaha (individu atau kelompok), persahabatan dan pergaulan, menyenangkan orang, membujuk dan mempertahankan pelanggan, membina dan menjaga hubungan, keberanian, keutamaan, keperkasaan untuk memenuhi kebutuhan dan memecahkan permasalahan hidup.

            Ibnu Syamsi (2010) mengatakan, sasaran kewirausahaan adalah (1) generasi muda, peserta pendidikan nonformal, anak putus sekolah, calon wirausaha, (2) pelaku ekonomi yang terdiri dari atas pengusaha mikro (kecil), menengah dan koperasi, (3) instansi pemerintah yang melakukan kegiatan kemitraan dengan usaha kecil, menengah dan koperasi untuk organisasi profesi dan kelompok masyarakat. Karakteristik kepribadian wirausaha membicarakan mengenai berjiwa wirausaha, kepemimpinan, mengambil risiko, mengambil keputusan, perencanaan bisnis, menggunakan waktu secara efektif. Perencanaan dan pengendalian keuangan membahas mengenai perencanaan tindakan keuangan, mengembangkan sikap perhitungan keuangan terhadap sumberdaya, mengukur dan mengendalikan strategis secara hasil keuangan, sukses dibidang keuangan melalui orang, perangkat untuk pengendalian keputusan (sistem informasi). Penggunaan sumberdaya membahas mengenai memperoleh sumberdaya langka, menilai peluang pasar, memasarkan barang atau jasa, menggunakan sumberdaya luar, berhubungan dengan badan pemerintah.

2.4.  Bekal Pengetahuan Dan Kompetensi Kewirausahaan.

            Seperti dikemukakan dalam hasil survei yang dilakukan oleh Buchori Alma (2005), kebanyakan responden menjadi wirausaha karena didasari oleh pengalaman sehingga ia memiliki jiwa dan watak kewirausahaan. Jadi, untuk menjadi wirausaha yang berhasil, persyaratan utama yang harus dimiliki adalah memiliki jiwa dan watak kewirausahaan. Jiwa dan watak kewirausahaan tersebut dipengaruhi oleh keterampilan, kemampuan, atau kompetensi. Kompetensi itu sendiri ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman usaha.

            Wirausaha adalah seseorang yang memiliki jiwa dan kemampuan tertentu dalam berkreasi dan berinovasi. Ia adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda atau kemampuan kreatif dan inovatif. Kemampuan kreatif dan inovatif tersebut secara riil tercermin dalam kemampuan dan kemauan untuk memulai usaha, mengerjakan sesuatu yang baru, kemauan dan kemampuan mencari peluang, kemampuan dan keberanian menanggung risiko, dan kemampuan untuk mengembangkan ide serta memanfaatkan sumber daya. Kemauan dan kemampuan-kemampuan tersebut diperlukan terutama untuk:

  • Menghasilkan produk atau jasa baru.
  • Menghasilkan nilai tambah baru.
  • Merintis usaha baru.
  • Melakukan proses/teknik baru.
  • Mengembangkan organisasi baru.

Wirausaha berfungsi sebagai perencana sekaligus pelaksana usaha. Sebagai perencana, wirausaha berperan dalam (Hukude Gail, 2006):

  • Merancang perusahaan.
  • Mengatur strategi perusahaan.
  • Mempelopori ide-ide perusahaan.
  • Pemegang visi untuk memimpin.

Sedangkan sebagai pelaksana usaha, wirausaha berperan dalam:

  • Menemukan, menciptakan, dan menerapkan ide baru yang berbeda.
  • Meniru dan menduplikasi.
  • Meniru dan memodifikasi.
  • Mengembangkan produk, teknologi, citra, dan organisasi baru.

Karena wirausaha identik dengan pengusaha kecil yang berperan sebagai pemilik dan manajer, maka wirausahalah yang memodali, mengatur, mengawasi, menikmati, dan menanggung risiko. Seperti telah dibahas, untuk menjadi wirausaha, hal yang harus dimiliki pertama kali adalah modal dasar berupa idea atau visi yang jelas, kemampuan dan komitmen yang kuat, kecukupan modal baik uang maupun waktu, dan kecukupan tenaga serta pikiran. Modal-modal tersebut sebenarnya tidak cukup apabila tidak dilengkapi dengan kemampuan. Menurut Casson (1982), yang dikutip oleh Lenardus Saiman (2009), terdapat beberapa kemampuan yang harus dimiliki, yaitu:

  • Self knowledge, yaitu memiliki pengetahuan tentang usaha yang akan dilakukan atau ditekuni.
  • Imagination, yaitu memiliki imajinasi, ide, dan perspektif serta tidak mengandalkan kesuksesan masa lalu.
  • Partical knowledge, yaitu memiliki pengetahuan praktis, misalnya pengetahuan teknik, desain, pemrosesan, pembukuan, administrasi, dan pemasaran.
  • Search skill, yaitu kemampuan menemukan, berkreasi, dan berimajinasi.
  • Foresight, yaitu berpandangan jauh ke depan.
  • Computation skill, yaitu kemampuan berkomunikasi, bergaul, dan berhubungan dengan orang lain.

Dengan beberapa keterampilan dasar di atas, maka seseorang akan memiliki kemampuan (kompetensi) dalam kewirausahaan. Menurut Donald J. Trump (2007), ada 10 kompetensi yang harus dimiliki seorang wirausaha, yaitu:

  • Knowing your business, yaitu mengetahui usaha apa yang akan dilakukan. Dengan kata lain, seorang wirausaha harus mengetahui segala sesuatu yang ada hubungannya dengan usaha atau bisnis yang akan dilakukan. Misalnya, seorang yang akan melakukan bisnis perhotelan harus memiliki pengetahuan tentang perhotelan, sedangkan orang yang ingin melakukan bisnis pemasaran komputer harus memiliki pengetahuan tentang cara memasarkan komputer.
  • Knowing the basic business management, yaitu mengetahui dasar-dasar pengelolaan bisnis, misalnya cara merancang usaha, mengorganisasikan, dan mengendalikan perusahaan, termasuk dapat memperhitungkan, memprediksi, mengadministrasikan, dan membukukan kegiatan-kegiatan usaha. Mengetahui manajemen bisnis berarti memahami kiat, cara, proses, dan pengelolaan semua sumber daya perusahaan secara efektif dan efisien.
  • Having the proper attitude, yaitu memiliki sikap yang benar terhadap usaha yang dilakukannya. Ia harus bersikap sebagai pedagang, industriawan, pengusaha, eksekutif yang sungguh-sungguh, dan tidak setengah hati.
  • Having adequate capital, yaitu memiliki modal yang cukup. Modal tidak hanya berbentuk materi, tetapi juga moril. Kepercayaan dan keteguhan hati merupakan modal utama dalam usaha, oleh karena itu harus dapat kecukupan dalam hal waktu, tenaga, tempat, dan mental.
  • Managing finances effectively, yaitu memiliki kemampuan mengatur/mengelola keuangan secara efektif dan efisien, mencari sumber dana dan menggunakannya secara tepat, serta mengendalikannya secara akurat.
  • Managing time efficiently, yaitu kemampuan mengatur waktu seefisien mungkin. Mengatur, menghitung, dan menepati waktu sesuai denga kebutuhannya.
  • Managing people, yaitu kemampuan merencanakan, mengatur, mengarahkan, menggerakan (memotivasi), dan mengendalikan orang-orang dalam menjalankan perusahaan.
  • Satisfying customer by providing high quality product, yaitu member kepuasan kepada pelanggan dengan cara menyediakan barang dan jasa yang bermutu, bermanfaat, dan memuaskan.
  • Knowing how to compete, yaitu mengetahui strategi/cara bersaing. Wirausaha harus dapat menganalisis SWOT dalam diri dan pesaingnya.
  • Copying with regulations and paperwork, yaitu membuat aturan / pedoman yang jelas (tersurat, tidak tersirat).

Di samping keterampilan dan kemampuan, wirausaha juga harus memiliki pengalaman yang seimbang. Menurut Zimmerer, W, Thomas, Norman, M. Scarborough (1996), ada empat kemampuan utama yang diperlukan untuk mencapai pengalaman yang seimbang agar kewirausahaan berhasil, di antaranya:

  • Technical competence, yaitu memiliki kompetensi dalam bidang rancangan bangun sesuai dengan bentuk usaha yang akan dipilih. Misalnya, kemampuan dalam bidang teknik dan desain produksi. Ia harus betul-betul mengetahui bagaimana barang dan jasa dapat dihasilkan dan disajikan.
  • Marketing competence, yaitu memiliki kompetensi dalam menemukan pasar yang cocok, mengidentifikasi pelanggan, dan menjaga kelangsungan hidup perusahaan. Ia harus mengetahui bagaimana menemukan peluang pasar yang spesifik, misalnya pelanggan dan harga khusus yang belum dikelola pesaing.
  • Financial competence, yaitu memiliki komptensi dalam bidang keuagnan mengatur pembelian, penjualan, pembukuan, dan perhitungan laba/rugi. Ia harus mengetahui bagaimana cara mendapatkan dana dan menggunakannya.
  • Human relation competence, yaitu kompetensi dalam mengembangkan hubungan personal, seperti kemampuan berelasi dan menjalin kemitraan antarperusahaan. Ia harus mengetahui hubungan interpersonal secara sehat.

            Umumnya, wirausaha yang memiliki kompetensi-kompetensi tersebut cenderung berhasil dalam berwirausaha. Oleh karena itu, bekal kewirausahaan berupa pengetahuan dan keterampian perlu dimiliki. Beberapa bekal pengetahuan yang perlu dimiliki misalnya:

  • Bekal pengetahuan bidang usaha yang dimasuki dan lingkungan usaha yang ada di sekitarnya.
  • Bekal pengetahuan tentang peran dan tanggung jawab.
  • Pengetahuan tentang kepribadian dan kemampuan diri.
  • Pengetahuan tentang manajemen dan organisasi bisnis.

            Dalam lingkungan usaha yang semakin kompetitif, pengetahuan keahlian dalam bidang perusahaan yang dilakukan mutlak diperlukan bagi seorang wirausaha. Pengetahuan keahlian dalam bidang perusahaan tersebut di antaranya pengetahuan tentang pasar dan strategi pemasaran, tentang konsumen (pelanggan) dan pesaing (yang baru masuk maupun yang sudah ada), pengetahuan tentang pemasok, serta cara mendistribusikan barang dan jasa yang dihasilkan, termasuk kemampuan menganalisis dan mendiagnosis pelanggan, mengidentifikasi segmentasi, dan motivasinya. Di samping itu, diperlukan juga adanya pengetahuan spesifik seperti pengetahuan tentang prinsip-prinsip akuntansi dan pembukuan, jadwal produksi, manajemen personalia, manajemen keuangan, pemasaran, dan perencanaan.

            Bekal pengetahuan saja tidaklah cukup jika tidak dilengkapi dengan bekal keterampilan. Beberapa hasil penelitian terhadap usaha kecil menunjukkan bahwa sebagian besar wirausaha yang berhasil cenderung memiliki tingkat keterampilan khusus yang cukup. Beberapa keterampilan yang perlu dimiliki tersebut di antaranya:

  • Keterampilan konseptual dalam mengatur strategi dan memperhitungkan risiko.
  • Keterampilan kreatif dalam menciptakan nilai tambah.
  • Keterampilan dalam memimpin dan mengelola.
  • Keterampilan berkomunikasi dan berinteraksi.
  • Keterampilan teknik dalam bidang usaha yang dilakukan.

Pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan wirausaha itulah yang membentuk kepribadian seorang wirausaha. Menurut Dan Bradstreet and Business Credit Service (1993), pengusaha kecil harus memiliki kepribadian khusus, yaitu penuh pendirian, realities, penuh harapan, dan berkomitmen. Modal yang cukup bisa diperoleh apabila perusahaan mampu mengembangkan hubungan baik dengan lembaga-lembaga keuangan, karena hubungan baik dapat menambah kepercayaan diri para penyandang dana. Penggunaan dana tersebut harus efektif agar memperoleh kepercayaan yang terus-menerus. Menurut Stoner, Freeman and Gilbert (1996), efektivitas manajer perusahaan tergantung pada keterampilan dan kemampuan. Keterampilan dasar manajemen tersebut meliputi:

  • Technical skill, yaitu keterampilan yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas khusus, seperti sekretaris, akuntan-auditor, dan ahli gambar.
  • Human relations skill, yaitu keterampilan memahami, mengerti, berkomunikasi, dan berelasi dengan orang lain dalam organisasi.
  • Conceptual skill, yaitu kemampuan personal untuk berpikir abstrak, mendiagnosis, menganalisis situasi yang berbeda, dan melihat situasi luar. Keterampilan konseptual sangat penting untuk memperoleh peluang pasar baru dan menghadapi tantangan.
  • Decision making skill, yaitu keterampilan merumuskan masalah dan memilih cara bertindak terbaik untuk memecahkan masalah tersebut.

Ada tiga tahap utama dalam pengambilan keputusan, yaitu:

  • Merumuskan masalah, mengumpulkan fakta, dan mengidentifikasi alternatif pemecahannya.
  • Mengevaluasi setiap alternatif dan memilih alternatif yang terbaik.
  • Mengimplementasikan alternatif yang terpilih, menindaklanjutinya secara periodik, dan mengevaluasi keefektifan yang telah dipilih tersebut.
  • Time management skill, yaitu keterampilan dalam menggunakan dan mengatur waktu seproduktif mungkin.

Kemampuan menguasai persaingan merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam bisnis. Wirausaha harus mengetahui kelemahan dan kekuatan sendiri ataupun yang dimiliki oleh pesaing. Seperti dikemukakan Dan Bradstreet (1993): “My best advice for competing successfully is to find your own distinctive riche in the marketplace”. Seorang wirausaha harus memiliki keunggulan yang merupakan kekuatan bagi dirinya dan harus memperbaiki kelemahan agar menghasilkan keunggulan. Kelemahan dan kekuatan yang dimiliki oleh kita maupun pesaing merupakan peluang yang harus digali. Kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan tersebut biasanya tampak dalam berbagai hal, misalnya dalam pelayanan, harga dan kualitas barang, distribusi, promosi, dan lain-lain. Variabel-variabel dalam bauran pemasaran secara strategis pada umumnya bisa dijadikan sebagai peluang. Semua informasi tentang kekuatan dan kelemahan perusahaan dapat diperoleh dari berbagai sumber, misalnya pelanggan, karyawan, lingkungan sekitar, distributor, laporan rutin, periklanan, dan pameran dagang.

Jelaslah bahwa kemampuan tertentu mutlak diperlukan bagi seorang wirausaha. Seperti telah dikemukakan dalam Small Busines Development Centre (1993) bahwa wirausaha yang berhasil memiliki lima kompetensi yang merupakan fungsi dari kapabilitas yang diperlukan, yaitu teknik, pemasaran, keuangan, personalia, dan manajemen. Wirausaha sebagai manajer dan sekaligus pemilik perusahaan dalam mencapai keberhasilan usahanya harus memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap, tujuan, pandai mencari peluang, dan adaptif dalam menghadapi perubahan. Menurut Small Business Development Center (1993), untuk mencapai keberhasilan usaha yang dimiliki sendiri sangatlah bergantung pada:

  • Individual skills and attitudes, yaitu keterampilan dan sikap individual.
  • Knowledge of business, yaitu pengetahuan tentang usaha yang akan dilakukan.
  • Establishment of goal, yaitu kemantapan dalam menentukan tujuan perusahaan.
  • Take advantages of the apportunities, yaitu keunggulan dalam mencari peluang.
  • Adapt to the change, yaitu kemampuan beradaptasi dengan perubahan.
  • Minimize the threats to business, yaitu kemampuan meminimalkan ancaman terhadap perusahaan.

Di samping bekal pengetahuan dan keterampilan di atas, pada akhirnya seorang wirausaha harus memiliki perencanaan strategis, yaitu suatu proses penentuan tujuan dan penetapan langkah-langkah yang harus diambil untuk mengidentifikasi sumber-sumber daya perusahaan, misalnya fasilitas, pasar, produk/jasa, dana, dan karyawan. Strategi tersebut sangat penting agar para wirausaha dapat menggunakan sumber dayanya seoptimal mungkin. Dengan lebih proaktif dalam menghadapi perubahan dan selalu memotivasi karyawan, maka peluang untuk mencapai keberhasilan akan lebih mudah untuk diwujudkan. Untuk mencapai keberhasilan dalam wirausaha khususnya perusahaan kecil, terdapat beberapa klasifikasi strategi yang harus dimiliki, yaitu:

  • Craft; firms are prepared by people who are technical specialist.
  • Promotion; promotion are typically dominated by their leader and are designed to exploit some kind of innovative advantages.
  • Administrative; administrative firm have formal management and are built around necessary business cunction.

Karena perusahaan kecil bergantung pada lingkungan setempat, maka perusahaan tersebut akan berhasil bila lingkungannya stabil. Jadi, lingkungan harus stabil. Oleh sebab itu, pada umumnya perusahaan kecil menggunakan keahlian khusus atau human skill. Keahlian khusus adalah kemampuan untuk bekerja, memahami, dan memotivasi orang, baik sebagai individu maupun kelompok. Selanjutnya, kemampuan konseptual merupakan kemampuan mental untuk menganalisis dan mendiagnosis situasi yang kompleks. Jadi, kemampuan diartikan sebagai kapasitas seseorang untuk melakukan berbagai tugas dalam suatu perusahaan. Dalam rumusan yang lebih sederhana, kemampuan berwirausaha bisa dilihat dari keterampilan manajerial. Robert Katz yang dikutip oleh Stephen P. Robbin (1993) mengemukakan tentang kemampuan manajemen yang meliputi kemampuan teknik, khusus, dan konseptual. Kemampuan teknik adalah kemampuan utnuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan perusahaan.  

Kemampuan khusus adalah kemampuan bersosialisasi, bergaul, dan berkomunikasi, sedangkan kemampuan konseptual adalah kemampuan merencanakan, merumuskan, meramalkan, atau memprediksikan. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi wirausaha yang berhasil seseorang harus memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan kewirausahaan. Bekal pengetahuan yang terpenting adalah bekal pengetahuan bidang usaha yang dimasuki dan lingkungan usaha, pengetahuan tentang peran dan tanggung jawab, pengetahuan tentang kepribadian dan kemampuan diri, serta pengetahuan tentang manajemen dan organisasi bisnis. Sedangkan bekal keterampilan yang perlu dimiliki meliputi keterampilan konseptual dalam mengatur strategi dan memperhitungkan risiko, kreatif dalam menciptakan nilai tambah, memimpin dan mengelola, berkomunikasi dan berinteraksi, serta keterampilan teknis bidang usaha.

 

 

 

2.5.  Karakteristik Wirausaha Kreatif

Ide kreatif akan muncul apabila wirausaha melihat sesuatu yang lama akan memikirkan sesuatu yang baru atau berbeda. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kewirausahaan merupakan perilaku yang secara terus-menerus mencari ide-ide baru. Dengan demikian, kewirausahaan selalu terkait dengan inovasi sebab menurut Drucker (2004) inovasi merupakan alat kewirausahaan. Inovasi berarti kegiatan yang menjadikan peluang-peluang ke dalam ide-ide baru dan melaksanakannya agar terwujud dengan baik (Tidd dan Pavitt, 1994). Sedangkan Rogers (1995) mengatakan bahwa inovasi merupakan sebuah ide, praktik, atau objek yang dipersepsikan sebagai sesuatu yang baru oleh individu atau kelompok adopsi lainnya.

Seluruh perguruan tinggi yang memiliki mata kuliah kewirausahaan hendaklah senantiasa melakukan inovasi yang dapat memberikan kepuasan pada pelanggannya atau pihak-pihak yang berkepentingan dengan institusi tersebut. Suryo (2010), mengatakan bahwa pelanggan dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu pelanggan eksternal dan pelanggan internal. Pelanggan eksternal dalam institusi pendidikan adalah mahasiswa dan mitra kerja sedangkan stakeholdernya adalah para pengguna lulusan institusi pendidikan tersebut. Jika dikaitkan dengan konteks penulisan buku ini, maka kewirausahaan dalam pendidikan dapat berbentuk diversifikasi program studi, perubahan kurikulum, diversifikasi dalam proses pembelajaran atau peningkatan pelayanan institusi pendidikan terhadap mahasiswanya.

Lebih lanjut Prawirokusumo (1997) mengatakan bahwa pendidikan kewirausahaan telah diajarkan sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri yang independen, karena: (1) kewirausahaan berisi bidang pengetahuan yang utuh dan nyata, yaitu terdapat teori, konsep, dan  metode ilmiah yang lengkap; (2) kewirausahaan memiliki dua konsep, yaitu posisi permulaan dan didikan manajemen umum yang memisahkan antara manajemen dan kepemilikan usaha; (3) kewirausahaan merupakan disiplin ilmu yang memiliki objek tersendiri, yaitu kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda; (4) kewirausahaan merupakan alat untuk menciptakan pemerataan usaha dan pendapatan, atau kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur; dan (5) kewirausahaan dapat dipandang dari berbagai sudut dan konteks, yaitu pandangan ahli ekonomi, ahli manajemen, pelaku bisnis, psikolog, dan pemodal atau investor.

            Dari pandangan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan adalah kemampuan dalam berpikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan sebagai dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan siasat, kiat, dan proses dalam menghadapi tantangan hidup. Oleh karena itu, seorang wirausaha adalah orang yang berani menghadapi resiko dan menyukai tantangan. Ide kreatif dan inovatif wirausaha diawali dengan proses imitasi dan duplikasi, kemudian berkembang menjadi proses pengembangan, dan berujung pada proses penciptaan sesuatu yang baru dan berbeda itulah yang disebut tahap kewirausahaan.

            Secara umum seorang entrepreneur perlu memiliki karakteristik tertentu untuk berhasil dalam berwirausaha. Karakteristik adalah sifat psikis dari suatu sistem kepribadian. Entrepreneur secara umum perlu memiliki karakteristik segingga dapat berhasil dalam berwirausaha (Leonardus, 2009). Karakteristik wirausaha secara garis besar adalah percaya diri (self confident). Wirausahawan juga memiliki karakter berorientasi tugas dan hasil, berani mengambil resiko, memiliki jiwa kepemimpinan, keorisinilan dan selalu berorientasi ke masa depan (Ahmadi, 2010).

Sedangkan karakteristik wirausaha yang kreatif menurut Rheinald Kasali (2012) adalah:

  1. Wirausaha kreatif selalu membuka pintu dan mengeksplorasi pilihan-pilihan.
  2. Wirausaha kreatif menghubungkan hal-hal yang tidak berhubungan. Semua yang terputus disambung, dibuat rangkaian hidup, karena ia bekerja dengan banyak orang.
  3. Wirausaha kreatif membangunkan orang-orang kreatif.
  4. Wirausaha kreatif menambah value pada apa yang ia ciptakan.
  5. Wirausaha kreatif tidak takut kegagalan. Baginya kegagalan adalah ibunya penemuan.
  6. Wirausaha kreatif menantang status quo dan memerlukan disiplin.

Dengan demikian kreativitas dapat dikelompokkan ke dalam empat dimensi, yaitu pribadi, proses, pendorong, dan produk. Keempat dimensi kreativitas tersebut disebut sebagai “the Four p’s of Creativity” (Rhodes, 1994, dalam Utami Munandar, 2004) atau “konsep 4P” menurut Munandar (2004).

2.5.1.  Dimensi Pribadi

Kreativitas tidak terbatas pada tingkat usia, jenis kelamin, suku, bangsa, dan kebudayaan tertentu (Semiawan, 2007). Setiap orang memiliki kemampuan kreatif, karena kreativitas merupakan atribut dari semua orang. Kreativitas yang dimiliki manusia lahir bersama dengan lahirnya manusia itu dan dapat muncul serta terwujud dalam semua bidang kegiatan manusia (Munandar, 2004). Namun, orang yang kreatif memiliki ciri-ciri kepribadian yang secara signifikan berbeda dengan orang yang kurang kreatif (Clark, 2003). Clark (2003) melihat kreativitas sebagai fungsi integratif dari pikiran (thinking), perasaan (feeling), penginderaan (sensing), dan firasat (intuiting).

            Dari segi pribadi, Munandar (2006) mengemukakan bahwa kreativitas merupakan ungkapan unik dari keseluruhan kepribadian sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya yang tercermin dalam pikiran, perasaan, sikap, atau perilakunya. Kreativitas seseorang dapat dicerminkan melalui lima macam perilaku, yaitu: (1) Fluency, yaitu kelancaran atau kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan; (2) Flexibility, yaitu kemampuan menggunakan bermacam-macam pendekatan dalam mengatasi persoalan; (3) Originality, yaitu kemampuan mencetuskan gagasan-gagasan asli; (4) Elaboration, yaitu kemampuan menyatakan gagasan secara terperinci; dan (5) Sensitivity, yaitu kepekaan menangkap dan menghasilkan gagasan sebagai tanggapan terhadap suatu situasi (Clark, 2003). Dengan demikian, ditinjau dari pribadi, kreativitas menunjuk pada potensi atau daya kreatif yang ada pada setiap pribadi. Kreativitas adalah hasil dari keunikan pribadi seseorang dalam interaksinya dengan lingkungannya.

2.5.2. Dimensi Proses

Kreativitas sebagai suatu proses, berarti bahwa setiap orang untuk menemukan hubungan-hubungan yang baru, untuk mendapatkan jawaban, metode, atau cara-cara baru dalam menghadapi suatu masalah tidak selalu dilakukan secara spontan tetapi memerlukan proses berpikir. Kreativitas merupakan hasil dari proses interaksi antara faktor-faktor psikologis dan lingkungan (Amabile, 2003). Karya kreatif tidak lahir karena kebetulan, melainkan melalui serangkaian proses kreatif yang menuntut kecakapan, keterampilan, dan motivasi yang kuat. Hurlock (2002) mengemukakan bahwa kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, apakah suatu gagasan atau suatu objek dalam suatu bentuk atau susunan yang baru. Rogers (2000) merumuskan proses kreatif sebagai munculnya dalam tindakan suatu produk baru yang tumbuh dari keunikan individu di satu pihak, dan dari kejadian, orang-orang, dan keadaan hidupnya di lain pihak. Dua definisi tersebut di samping menekankan aspek interaksi (proses) antara individu dan lingkungannya atau kebudayaannya, juga aspek “baru” dari produk kreatif yang dihasilkan.

            Sementara itu, Munandar (2004) merumuskan kreativitas sebagai suatu proses yang tercermin dalam kelancaran, kelenturan, dan keaslian dalam berpikir. Proses kreativitas melalui empat tahap, yaitu: tahap persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi (Wallas, 1990). Tahap persiapan ialah tahap pengumpulan informasi atau data yang diperlukan untuk memecahkan masalah. Tahap inkubasi ialah tahap pengendapan dalam alam bawah sadar, pencarian inspirasi. Tahap iluminasi ialah tahap penemuan yang bersifat insight, gagasan pemecahan, dan modifikasi untuk melihat kecocokannya. Tahap verifikasi adalah tahap pengetesan pemecahan dan modifikasi untuk melihat kesesuaiannya. Dengan demikian, ditinjau dari segi proses, kreativitas menunjuk pada perlunya seseorang berusaha untuk melihat lebih jauh dan lebih mendalam melalui suatu proses berpikir dan bertindak, tidak sekedar menginginkan hasil (produk) secepatnya.

2.5.3. Dimensi Pendorong

Kreativitas dapat berkembang karena adanya dorongan internal dari dalam diri individu (Rogers, 2000) dan dorongan eksternal berupa faktor sosiokultural (Arieti, 2006). Rogers (2000) menyatakan bahwa kreativitas tumbuh karena adanya dorongan dari dalam diri individu (internal press) berupa keterbukaan terhadap pengalaman, kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi, dan kemampuan untuk bereksperimen, dengan konsep-konsep. Namun, dorongan internal saja tidak cukup, perlu stimulus dan respon yang dapat mendorong seseorang untuk berpikir kreatif.

            Terdapat sembilan faktor sosiokultural yang menunjang kreativitas, dan merupakan dorongan eksternal (Arieti, 2006), yaitu: (1) tersedianya sarana kebudayaan, (2) keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan, (3) penekanan pada “becoming” (menjadi tumbuh), tidak hanya pada “being” (sekedar berada), (4) pemberian kesempatan kepada semua warga negara tanpa diskriminasi, (5) adanya kebebasan setelah pengalaman tekanan dan tindakan yang keras, (6) keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan yang berbeda, bahkan yang kontras, (7) toleransi dan minat terhadap pandangan yang divergen, (8) ada interaksi antarpribadi yang berarti, (9) adanya insentif, penghargaan, atau hadiah. Dengan demikian, agar kreativitas dapat berkembang memerlukan faktor pendorong, yaitu faktor pendorong yang datang dari diri sendiri (internal) berupa hasrat dan motivasi yang kuat untuk mencipta, dan faktor pendorong dari luar (eksternal) baik dari lingkungan dekat seperti teman sejawat maupun dari lingkungan makro seperti masyarakat dan kebudayaan di mana ia tinggal.

2.5.4. Dimensi Produk

Dari segi produk, kreativitas mengacu pada hasil perbuatan, kinerja, atau karya individu dalam bentuk barang atau gagasan. Kreativitas sebagai suatu produk, yaitu kreativitas sebagai kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru (orisinil), baik berupa benda maupun gagasan. Produk kreatif sebagai kriteria puncak (the ultimate criteria) karena produk merupakan hal yang paling eksplisit dalam menentukan kreativitas seseorang.

            Amabile (2003) mempersyaratkan adanya dua kriteria kreativitas, yaitu: (1) kebaruan (novelty) dan kesesuaian (appropriateness). Kebaruan mengandung unsur adanya perbedaan dari segala sesuatu yang telah ada, sedangkan kesesuaian mengacu pada kebermaknaan bagi kehidupan. Jadi, kreativitas menekankan pada penciptaan sesuatu yang baru dan bermakna bagi kehidupan. Rogers (2000) mengemukakan bahwa kriteria produk kreatif adalah: (1) produk itu harus nyata atau dapat diamati, (2) produk itu harus baru, dan (3) produk tersebut adalah hasil dari kualitas unik individu dalam interaksi dengan lingkungannya.

            Selanjutnya, Campbell (2002) menyatakan bahwa ditinjau dari segi produk, kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya baru (novel), berguna (useful), dan dapat dimengerti (understandable). Baru, maksudnya adalah inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh, dan mengejutkan. Berguna, maksudnya adalah lebih enak, lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, dan mendatangkan hasil lebih baik/banyak. Dapat dimengerti, maksudnya adalah hasil yang sama dapat dibuat di lain waktu. Peristiwa-peristiwa yang terjadi begitu saja (secara tidak terduga), tidak dapat dimengerti, tidak dapat diramalkan, dan tidak dapat diulangi. Meskipun baru dan sangat berguna tetapi lebih merupakan hasil keberuntungan (luck), berarti bukan kreativitas.

            Dengan demikian, setelah dikaji dari segi 4P di atas (pribadi, proses, pendorong, dan produk) dapat disimpulkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan yang mencerminkan kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility), keaslian (originality), dan kemampuan mengelaborasi (elaboration), serta merumuskan kembali (redefinition) suatu gagasan (Widyastono, 2006).

  • Inspirasi: Martha Tilaar Membangun Imperium Bisnis Kosmetika Dari Garasi

Dia menjalani hidup dengan penuh keajaiban kuasa Tuhan. Pernah ‘divonis’ mandul, namun melahirkan anak pertama diusia 42 tahun setelah 16 tahun menikah. Diapun membangun imperium industri jamu dan kosmetik berkelas dunia, bermula dari garasi rumah ayahnya. Dari sebuah salon kecantian sederhana, berkembang menjadi Martha Tilaar Group (MTG), sebuah grup usaha industri jamu dan kosmetika dengan produk merek dagang Sariayu Martha Tilaar. Grup usaha ini memayungi 11 anak perusahaan dan memperkerjakan sekitar  6000 karyawan.

Istri pendidik Prof. Dr. H.A.R Tilaar, ibu dari empat orang anak Bryan Email Tilaar, Pinkan Tilaar, Wulan Tilaar, Kilala Tilaar dan nenek dari beberapa orang cucu, ini menyempatkan diri mengambil kuliah kecantikan dan lulus dari  Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, Amerika Serikat, saat mengikuti suami tugas belajar. Dia telah membuat  kecantikan dan keayuan wanita Indonesia selalu terpelihara. Lulusan Jurusan Sejarah Institut Keguruan dan Ilmu pendidikan (IKIP) Jakarta tahun 1963, ini resmi mendirikan badan uaha pada tahun 1971. Peraih gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dalam bidang “Fashion and Artistry” dari World University Tuscon, Arizona, Amerika Serikat tahun 1984, ini memulai operasi bisnisnya dari titik nol. Bermula di garasi rumahnya ayahnya Yakob Handana, terletak di jalan Kusuma Atmaja No 45 Menteng, Jakarta pusat. Martha, yang semasa kecilnya dikenal sebagai gadis tomboy dan ‘elek’ mendirikan sebuah salon kecantikan sederhana “Martha Salon”, persis pada 3 Januari 1970, di sebuah ruangan berukuran 6 x 4 meter. Di sini ia sekaligus membuat pula produk-produk kecantikan dari bahan alam.

Cerita lebih lanjut mengenai keberhasilan Martha Tilaar menjadi pengusaha papan atas, yang tetap komit mencintai produk dalam negeri  demi membangun kemandirian  bangsa  khususnya di bidang jamu dan kosmetika, memulai titik picu yang sesungguhnya pada tahun 1987. Ketika itu secara cerdik dan unik ia mempopulerkan “Senja di Sriwendari” sebagai trend tatarias baru, sebuah ide yang diilhami oleh kekayaan alam dan budaya Indonesia. Sejak itulah Martha Tilaar selalu mempersuntingkan nama tempat dan unsur budaya suatu daerah, kemudian dipadukan dengan trend busana daerah, ke setiap produk Sariayu Martha Tilaar. Sariayu berhasil tampil sebagai trendsetter tatarias wajah wanita Indonesia. Pemerhati tatarias sangatlah paham benar akan apa yang disebut dengan konsep Gaya Warna Desainer (1998) sebuah tatarias yang mengambil unsur budaya Jawa Barat dan Kalimantan, Sumatra Bergaya (1989) dari Sumatra, Puri Prameswari (1990) mengambil  dari etnik Cirebon dan Bali, Senandung Nyiur (1991) dari pantai Indonesia, Riwayat Asmat (1992) dari Irian Jaya/Papua, Rama-rama Toraja (1993), serta konsep-konsep dari berbagai daerah lain seperti Banda/Ambon, Jakarta, Aceh. Dan, puncaknya adalah trend warna Pusako Minang dari Minagkabau.

Berdasarkan strategi pendekatan etnik Martha Tilaar berhasil menjalin hubungan emosional dengan konsumen, bahkan berhasil menyelamatkan biduk bisnisnya dari hantaman krisis ekonomi. Sebab dengan konsep baru itu Martha Tilaar berhasil meraih penjualan besar bahkan bisnisnya pernah bertumbuh hingga 400%. Perjalanan bisnis Martha Tilaar tidak selamanya mulus. Ia pernah mengalami jatuh-bangun atau pasang-surut usaha. Pernah, suatu ketika, bendera Martha Tilaar sudah berkibar orang masih saja memandang sebelah mata. Maklum produk jamu kosmetik Sariayu Martha Tilaar sangat identik sekali sebagai produk lokal. Orang tahunya demikian saja tanpa mau mengenal bahwa produk Martha Tilaar sesungguhnya sudah mendunia, berkualitas, dan bergengsi. Bahkan, Sariayu Martha Tilaar sudah menjadi sebuah ikon produk lokal yang mendunia. Sebagai misal, Sariayu Marta Tilaar memiliki  produk kosmetik berkelas Biokos, Belia, Caring Colours, Professional Artist Cosmetics (PAC), Aromatic, Jamu Garden, dan lainlain yang sudah terkenal sampai ke mancanegara.

Produk-produk itu dipasarkan di kantor-kantor pemasaran Martha Tilaar di luar negeri seperti Malaysia, Brunei Darusalam, Filipina, bahkan ke Los Angeles, Amerika Serikat. Ditambah di Paris, Perancis ia memiliki sebuah laboratorium penelitian parfum. Martha Tilaar juga memiliki puluhan spa di luar negeri yang tetap menempelkan merek dagang Martha Tilaar. Seperti di Malaysia, bertempat di Crown Princess Kuala Lumpur pembukaan spa Martha Tilaar dihadiri oleh Permaisuri Agung Siti Aishah. Spa ini didirikan khusus untuk memenuhi banyaknya permintaan terutama pelanggan dari salon  di City Square, Kuala Lumpur. Kembali kekisah bagaimana dahulu orang memandang Sariayu Martha Tilaar masih sebelah mata. Walau bergemilang sukses dan bersohor nama di negeri asing, Martha Tilaar justru pernah merasakan sebuah  kepahitan di tanah air. Itu terjadi tatkala ia hendak menyewa dan membuka gerai jamu dan kosmetik di beberapa mall dan plaza terkemuka di Jakarta, persis di pusat perkantoran dan rumah tinggal kalangan berduit. Ia ditolak menyewa tempat. “Dulu kalau saya mau sewa tempat diusir. Mereka hanya mau jual produk branded. Dibilang standar plazanya akan turun karena dianggap tidak ada image, ”kata Martga Tilaar, yang dalam hidup tidak pernah mau menyerah apalagi berpuus asa.

Respon atas penolakan itu Martha Tilaar menyegarakan mendirikan Putri Ayu Martha Tilaar, sejak Mei 1995, sebagai gerai jamu dan kosmetik Sariayu sekaligus berfungsi sebagai pusat pelayanan konsumen. Gerai dan pusat pelayanan konsumen ini berada dalam bendera usaha PT Martha Beauty Galey. Gerai putri Ayu Martha Tiaar pertama kali berdiri di Graha Irma, di kawasan elite Kuningan, Jakarta Selatan,  kemudian berkembang pesat memasuki kota-kota besar lain di Indonesia.

Investasi Riset

Martha Tilaar mempunyai komitmen tinggi membangun industri kosmetika. Ia investari besar di bidang riset dan pengembangan (R & D). Ia mau mengirim staf ahli farmasinya belajar ke luar negeri, atau mengikuti berbagai pameran di luar negeri. Ia memiliki dua orang staf ahli farmasi bergelar doktor, sejumlah magister dan sarjana strata satu lainnya. Berdasarkan komitmen kuat itu Martha ingin menunjukkan kepada bangsa – bangsa di dunia bahwa Indonesia bisa unjuk diri dan tidaklah ketinggalan di bidang kosmetika dan tata rias. Research and Development memberi hasil lain. Martha Tilaar perlahan – lahan berhasil mengurangi ketergantungan kandungan bahan baku impor, berganti dengan bahan baku lokal di setiap produknya. Hasil lain lagi, ini yang lebih mencengangkan, pada bulan Juli 2002 Sekjen PBB Kofi Annan mengundang Martha Tilaar hadir dalam forum Global Compact, di New York, Amerika Serikat.

Di forum itu para pengusaha yang diundang diminta mempromosikan praktik berbisnis yang baik dalam bidang hak asasi manusia, tenaga kerja, dan lingkungan, yang telah dipraktikkan. Tujuannya agar setiap pengusaha menempatkan masalah sumber daya alam, lingkungan, dan hak-hak asasi manusia sebagai prioritas penanganan dunia usaha. Ketika berbicara pada pertemuan Komite Pengarah Nasional Global Environment Facility (GEF) / Small Grant Program, di Jakarta, 5 Oktober 2004, Martha Tilaar kembali mengangkat ulang komitmennya yang tinggi terhadap produk lokal dalam nada berbeda. Martha sangat menyayangkan betapa produk–produk lokal yang selama ini diklaim sebagai warisan budaya, seperti rendang masakan Padang, atau songket kain dari Palembang, itu ternyata sudah didaftar patenkan oleh tetangga negeri serumpun Malaysia. Ia pun khawatir akan jamu, yang dari jaman kapan pun  kita merasa itu milik kita, namun keburu dipatenkan oleh pihak lain.

Keajaiban Tuhan

Martha agaknya menjadi salah seorang wanita Indonesia yang sangat diuji oleh Tuhan. Ahli obstetri dan ginekologi dalam dan luar negeri pernah memvonisnya mandul. Sudah 11 tahun menikah keinginan kuat untuk segera mempunyai anak tidak kunjung terwujud. Dokter– dokter mancanegara di Skotlandia, Belanda hingga Amerika Serikat rela ia kunjungi untuk berobat medis. Semua memberi vonis mandul kepada Martha. Untung Martha mempunyai seorang nenek yang ahli membuat  jamu, dan dia meminta diberi kesempatan  mengobati kemandulan dengan jejamuan. Sang nenek, Ny. Pranoto dengan telaten dan penuh kasih sayang memberi jamu penyubur peranakan. Jamu itu diolah sederhana, hanya direbus. Martha Tilaar yang berusia 37 tahun namun belum mempunyai anak, saat itu diurut dua kali seminggu  dan diberi tapel. Tiba tepat pada usia 41 tahun  Martha Tilaar ketahuan tidak mengalami masa haid. Ia tidak datang bulan atau menstruasi. Ia melapor ke professor  dokter yang biasa memeriksanya, mengatakan sudah hamil sebab berhenti menstruasi. Professor malah megatakan kalau Martha tengah mengalami masa menopause.

Hati Martha menjadi sedih dan menangis dalam perjalanan pulang ke rumah, sambil membayangkan wajah suaminya, Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, seorang akademisi dan tokoh pendidikan yang sangat senang terhadap anak.  Pasrah saja, “Sesampainya di rumah saya langsung katakan pada suami bahwa saya sudah mandul, kalau mau kawin lagi silakan, tetapi dengan hati hancur. Tetapi suami saya mengatakan, jangan khawatir saya sudah mempunyai istri kedua yaitu buku–buku,” kenang Martha, menjelaskan saat menjalani masa–masa pergumulan hidupnya yang terpenting.

Walau sedih Martha tidak putus harapan. Ia berinisiatif memeriksakan diri ke laboratorium. Dan hasilnya positif hamil. Dokter tetap saja tidak percaya. Ia disuruh menunggu lagi selama 120 hari untuk memperoleh kepastian. Maklum, saat itu belum ada pemeriksaan model ultrasonografi (USG). “Setelah 120 hari menunggu, saya diperiksa ternyata ada denyut jantung anak saya. Ini keajaiban Tuhan. Dia lahir cantik dan setelah kuliah dia lulus summa cum laude,” kata Martha, yang melahirkan anak pertama di usia 42 tahun lama menunggu setelah 16 tahun menikah.

Pada usia 46  tahun Martha kembali berkesempatan  melahirkan anak kedua, hingga keluarga ini genap dianugerahi 4 orang anak. Semuanya tumbuh cerdas dan pintar. Anak pertamanya yang berhasil lulus dengan predikat summa cum laude, di Amerika Serikat, itu membuat Martha menangis terharu karena merasa dirinya sampai saat ini  bukanlah apa-apa.

Perjalanan bisnis Martha Tilaar agaknya tidak juga lepas dari keajaiban pekerjaan tangan Tuhan. Walau pernah mengalami nyaris bangkrut, atau pecah kongsi, biduk usahanya tetap terpelihara baik. Tahun 1970 ia mendirikan salon kecil Martha Salon, di garasi rumah ayahnya sekaligus mencoba membuat produk– produk kecantikan dari bahan alam. Tidak lama, dua tahun kemudian 1972 ia membuka salon kedua di Jalan Anggur No. 3 Cipete, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sambil memulai penggunaan merek dagang baru Sariayu Martha Tilaar, merek yang jika diartikan “Sarinya Wong Ayu.”

Menginjak tahun 1977 Martha Tilaar menjajaki kerja sama dengan Theresia Harsini Setiady, dari PT. Kalbe Farma sekaligus pemiliknya. Mereka sepakat membuat perusahaan kosmetika dan jamu, namanya PT. Martina Berto, dan meluncurkan Sariayu Martha Tilaar sebagai produk pertama. Pada 22 Desember 1981 PT. Martina Berto membuka pabrik kosmetika pertama di Jalan Pulo Ayang, Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta Timur diresmikan oleh Ny. Nelly Adam Malik saat itu istri Wakil Presiden Adam Malik. Tahun 1983 Martha Tilaar mendirikan PT. Sari Ayu Indonesia, khusus sebagai distributor produk kosmetika Sariayu Martha Tilaar. Tahun 1986 Martha Tilaar kembali membuka pabrik kedua, kali ini di Jalan Pulokambing II/I, masih di areal sama Kawasan Industri Pulogadung yang kali ini diresmikan oleh Ny. Karlinah Umar Wirahadikusumah, istri Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah.

Sepanjang tahun 1988–1995 PT. Martina Betto berkesempatan mangakuisisi sejumlah perusahaan, seperti PT. Kurnia Harapan Raya, PT. Cempaka Belkosindo Indah, PT. Cedefindo, PT. Estrella Lab, dan PT. Kreasi Boga. Kemudian pada tahun 1999 Martha Tilaar beserta anggota keluarga berkesempatan membeli seluruh saham PT. Kalbe Farma yang ada pada PT. Martine  Berto. Sejak saat itulah Martha Tilaar dan keluarga menguasai sepenuhnya saham PT. Martina Berto. Bersamaan itu dilakukanlah konsolidasi perusahaan digabungkan ke dalam Martha Tilaar Group. Anak perusahaan Martha Tilaar Group  terdiri dari PT. Martina Berto dan PT. Tiara Permata Sari (sebagai pemanufaktur dan pemasar produk Sariayu Martha Tilaar, Biokos Martha Tilaar, Belia Martha Tilaar, Berto Martha Tilaar, Aromatic Oil of Java Martha Tilaar, Dewi Sri Spa Martha Tilaar, Jamu Garden Martha Tilaar). PT. Cedefindo (pemanufaktur dan pemasar produk Rudy Hadisuwarno Cosmetics, Madonna), PT. Cempaka Belkosindo Indah (pemanufaktur dan pemasar produk Mirabella dan Cempaka).

Anak Tomboy

Martha Tilaar yang memproduksi beragam jamu dan kosmetika untuk mempercantik wanita Indonesia, ternyata pada masa  mudanya adalah seorang wanita yang begitu tomboy dan bahkan ‘elek’. Martha Tilaar sebagai bayi dilahirkan  dalam keadaan fisik yang tidak begitu sehat. Sedang berada dalam kandungan, sang ibunda sering kali mengalami beragam masalah dengan kesehatannya. Seperti tidak mau melihat sinar matahari, tidak mau bergerak, dan terutama tidak mau makan karena perut terasa mual terus–menerus. Bayi Martha pun tumbuh tidak sehat sebab sering terserang penyakit. Tidak kurang tersedia 13 orang dokter yang merawatnya.

Oleh sebab itu, sejak dini kepada Martha diajarkan cara hidup how to solve the problem. Martha dibekali dengan keterampilan seperti berjualan kecil–kecilan, disuruh menghitung uang, hingga memilih dan memastikan mana telur segar dan mana yang busuk. Sang ibunda tetap saja dihinggapi rasa  kekhawatiran perkembangan Martha kecil akan lambat sebagai pengaruh kurang sehat selama dalam kandungan. Nyatanya Martha tumbuh menjadi anak yang sehat. Martha Tilaar remaja  adalah gadis yang tomboy. Tidak pernah bisa tinggal diam. Tingkah laku  dan cara berpakaiannya seperti anak lelaki kebanyakan. Meski rumah eyangnya berpagar tinggi ia tetap saja bisa menyelinap keluar untuk pergi bermain layang–layang, menikmati pemandangan desa, atau menikmati sawah–sawah yang menghampar hijau. Ia bahkan tidak ragu mencebur ke dalam sungai yang mengalir untuk berenang.

Kenakalannya sebagai anak–anak salah satunya adalah suka mencuri uang ibunya. Biasanya, uang itu digunakannya untuk jajan membeli makanan yang enak. Ketika aksinya ketahuan oleh ibunya menasihati, jika ingin punya uang banyak untuk jajan Martha harus bekerja keras. Nasihat itu dituruti benar. Bermodalkan uang jajan pemberian orang tua Martha kecil membeli jajanan di toko, seperti kacang, lalu dibungkusnya kecil–kecil untuk kemudian dijual kembali kepada teman–teman sekolah. Ia memperoleh uang jajan lebih jadinya. Demikian pula terhadap tanaman Sogok Telik dan Jali–jali Putih, yang tumbuh subur di tanah milik eyangnya, ia rangkai menjadi satu paduan yang bagus. Perhiasan berupa kalung dan gelang yang ia rangkai sendiri dari kedua jenis tanaman tadi, Martha jual kepada teman–temannya di sekolah. Kedua tanaman tersebut sangat bernilai di dalam kehidupan masa kecil Martha.

Martha adalah anak yang paling ‘elek’ (bahasa Jawa = ‘jelek’), paling bandel, dan sangat tidak suka merawat diri jika dibandingkan dengan saudara lainnya. Hobi berenang membuat kulit Martha tidak sehat, rambut yang panjang memerah semua, wajah pun tidak karuan. Ibunya sering kali menegur mengingatkn Martha agar lebih peduli merawat diri. Apalagi Martha, yang kuliah mengambil Jurusan Sejarah IKIP Negeri Jakarta dan lulus tahun 1963, sebagai seorang guru diingatkan akan sering bertemu dan tampil dihadapan murid–murid. Dengan diantar Sang Ibu Martha Tilaar “dipaksa” mengikuti les tata kecantikan ke Titi Purwoesoenoe. Yang menjadi unik, sejak saat itulah Martha mulai jatuh cinta terhadap kecantikan.

Martha Tilaar sesuai kodratnya sebagai perempuan dan istri dari Prof. Dr. H.A.R. Tilaar mau berdiam di negeri Paman Sam mengikuti sang suami yang sedang menjalani tugas belajar. Kesempatan itu digunakan untuk belajar kecantikan di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, AS. Begitu lulus dari Academy kecantikan, Martha segera membuka praktek salon kecantikan di negeri Paman Sam itu.    Ia membuat selebaran semacam brosur sederhana, mempromosikan jasa layanan salonnya. Berbagai usaha promosi dilakukannya seperti masuk ke kampus–kampus, mendatangi rumah–rumah mantan dosen untuk mendandani para istri dosen. Begitu pula kepada mahasiswa – mahasiswa Indonesia, atau ibu–ibu yang mengikuti suaminya tugas di luar negeri. Martha  juga menyempatkan diri melamar bekerja sebagai salesgirl produk kosmetika Avon. Setiap sore ia keluar masuk asrama mahasiswa dan mengetuk pintu untuk berteriak lantang, Avon Calling.

Ketika kembali ke Indonesia Martha segera ingin membuka salon. Karena belum mempunyai rumah sendiri “Martha Salon” miliknya yang pertama menumpang di garasi rumah orang tuanya, di Jalan Kusuma Atmaja No. 47, Menteng, Jakarta Pusat di sebuah ruangan berukuran 3 x 4 meter. Martha Salon ia dirikan persis tanggal 3 Januari 1970. Martha Tilaar di tahun 1970-an itu masih bukan apa-apa dan bukan siapa –siapa, sangat berbeda jauh dengan kondisi kekinian.

Martha Tilaar sesudah di puncak kesuksesan karir dan usaha ingin berbuat banyak kepada masyarakat. Ia tidak tega merasakan ketika sedang berada di Yogyakarta menyaksikan langsung seorang ibu berusia muda menyusui anaknya kelihatan berwajah sudah seperti sangat tua. Beban persoalan hidup yang menghimpit ibu muda itu untuk harus bekerja keras menafkahi keluarga, telah menggerogoti  kecantikan usia mudanya. Melihat itu Martha berpikir  harus segera melakukan sesuatu. Lalu lahirlah konsep community trade, salah satu bentuk pengembangan masyarakat melalui industri kerajinan. Komunitas ini telah behasil mengumpulkan 142 pengrajin di Sentolo, Yogyakarta bernama Prama Pratiwi Martha Gallery.

Martha melahirkan konsep community trade bersama rekannya, Emmy Pratiwi, karena itu namanya disebut Prama Pratiwi Martha Gallery yang menyediakan segala fasilitas produksi industri kerajinan. Hasilnya sangat memuaskan. Ketekunan para perajin dan tekad mau berkembang membuat mereka cepat berhasil. Produk dari para perajin sebagian besar ditujukan untuk pasar ekspor ke Perancis, Australia dan Amerika. Martha juga mendirikan Yayasan Martha Tilaar. Ia mendidik banyak wanita dan ibu–ibu tentang kecantikan. Tujuannya agar mereka mengerti kecantikan sehingga bisa merawat diri. Namun, yang terutama agar mereka mempunyai keterampilan tentang kecantikan, sesuatu yang pernah banyak menolong wanita di saat krisis multidimensi melanda bangsa termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan wanita maupun laki–laki dibanyak perusahaan lain. Bagi Martha Tilaar perempuan adalah pemersatu yang sangat besar perannya bagi keutuhan bangsa. Karena itu, ia tidak ingin terbelakang dalam soal pendidikan.  Bagi Martha, di era modern seperti sekarang makna emansipasi bukan semata dimaknai untuk memperoleh persamaan hak dengan kaum pria. Melainkan jauh lebih besar dari itu, berjuang demi memperoleh hak memilih dan menentukan nasib sendiri. “Sebenarnya yang perlu dituntut kaum perempuan, bukan hanya persamaan hak, tetapi juga hak memilih dan menentukan nasib sendiri,” kata Martha Tilaar.

 

Evaluasi Mandiri

  1. Jelaskan menurut pendapat Anda apa yang dimaksud dengan idea tau gagasan usaha!
  2. Jelaskan secara singkat bagaimana caranya ide bisa menjadi peluang usaha!
  3. Sebut dan jelaskan secara singkat sumber-sumber potensial peluang yang Anda ketahui!
  4. Sebut dan jelaskan beberapa kemampuan yang harus dimiliki calon entrepreneur!
  5. Jelaskan istilah-istilah berikut: knowing your business, having the proper attitude, having adequate capital, dan managing people!
  6. Jelaskan istilah-istilah berikut: technical competence, marketing competence, financial competence, dan human relation competence!
  7. Jelaskan ciri-ciri dasar yang harus dimiliki oleh entrepreneur untuk mencapai keberhasilan usaha!
  8. Sebutkan karakteristik-karakteristik yang harus dimiliki oleh entrepreneur kreatif!
  9. Mengapa pendidikan kewirausahaan diajarkan sebagai disiplin ilmu tersendiri yang independen!
  10. Apa yang dimaksud dengan kreativitas dan sebutkan dimensi-dimensi kreativitas!

Daftar Pustaka

Ahmadi. 2010. “Evaluasi Kinerja Wirausahawan Etnik China Lulusan SMK di Kota Singkawang Kalimantan Barat”. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol. 16 (5): p 499-519.

Amabile, Teresa M. 2003. Growing Up Creative Nurturing a Life Time of Creativity. Crown Publisher Inc: New York.

Arieti, Silvano. 1986. Creativity, the Magic Synthesis. Basic Books: New York.

Buchori Alma. 2005. Kewirausahaan: untuk Mahasiswa dan Umum. Alfabeta: Bandung.

Campbell, David. 1992. Take the Road to Creativity and Get of Your Dead End. Alih Bahasa: Mangunhardjana. Kanisius: Yogyakarta.

Clark, Barbara. 2003. Growing up Gifted. Charles E. Merril: Ohio.

Dan Bradstreet and Business Credit Service. 1993. Strategi Plan and Business Plan. Prentice Hall Inc: New York.

Drucker, Peter F. 2004. Innovation and Entrepreneurship: Practices and Principles. Penerjemah Rusdi Naif. Gelora Aksara Pratama: Jakarta.

Hurlock, Elizabeth B. 2002. Child Development. McGraw-Hill Kogakusha: Tokyo.

Hukude Gail P. 2006. Small Business on Entrepreneurs Business Plan. Internasional Edition. Thomson Higher Education: Ohio.

Ibnu Syamsi. 2010. Membuka Peluang Berwirausaha Untuk Pemberdayaan Anak Berkebutuhan Khusus. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Badan Penelitian dan Pengembangan. Vol. 16. Edisi Khusus I. Jakarta.

James A. F. Stoner, Edward R. Freeman, Daniel R. Gilbert. 1996. Manajemen. Alih Bahasa: Alexander Sindoro. Prenhallindo: Jakarta.

Leonardus Saiman. 2009. Kewirausahaan: Teori, Praktik, dan Kasus-Kasus. Salemba Empat: Jakarta.

Munandar, S.C. Utami. 2004. Kreativitas Sepanjang Masa. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta.

Nugraha Alexander Dion. 2008. 8 Revolusi Sikap Menjadi Entrepreneur. Elex Media Komputindo.

Prawirokusumo, Soeharto. 2007. Peranan Pendidikan Tinggi dalam Menciptakan Wirausaha-Wirausaha Tangguh. Makalah Seminar. Jakarta: Universitas Budi Luhur.

Rogers, Everett M. 1995. Diffusion and Innovations. The Free Press: New York.

Rhenald Kasali. 2012. Wirausaha Muda Mandiri: Kisah Inspiratif Anak Muda Mengalahkan Rasa Takut dan Bersahabat Dengan Ketidakpastian. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Rogers, Clark. 2000. Towards a Theory of Creativity. Penguin Publishing: England.

Syahrial Yusuf. 2010. Entrepreneurship: Teori dan Praktik Kewirausahaan yang Telah Terbukti. Lentera Ilmu Cendekia: Jakarta.

Suyanto. 2011. Everyone Can Become A Successful Entrepreneurship: Setiap Orang Bisa Menjadi Pengusaha Sukses. Penerbit Andi: Yogyakarta.

Suryana. 2008. Kewirausahaan Pedoman Praktis: Kiat dan Proses Menuju Sukses. Salemba Empat: Jakarta.

Small Business Development Centre. 1993. Practical Solution for Small Business and School of Business. University of Wiscosin: Madison.

Stephen P. Robbin. 1993. Organizational Behavioral: Concept Controversies and Applications. Prentice Hall Inc: New York.

Suryo, Laksmono C. 2010. “Hubungan Antara Integritas, Ketahanmalangan, dan Percaya Diri dengan Kewirausahaan Mahasiswa pada Sekolah Tinggi Pariwisata di DKI Jakarta”. Jurnal Kepemimpinan Pendidikan. Vol. 2 (1): p 66-87.

Semiawan, Conny R. 2007. Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Tidd, Joe, John  Bessant, and Keith Pavitt. 1994.  Managing Innovation: Integrating Technological, Market and Organizational Change. John Wiley and Son Inc: New York.

Valentino Dinsi. 2011. Bisnis Rumahan Bermodal Cekak, Omzet Miliaran. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Wallas, G. 1990. The Art of Thought. Penguin Publishing: England.

Widyastono, Herry. 2006. Pengembangan Kreativitas: Panduan Bagi Guru dan Orang Tua Siswa Akselerasi. Yayasan Pendidikan Masjid Panglima Besar Jenderal Sudirman:  Jakarta.

Zimmerer, W, Thomas, Norman, M. Scarborough. 1996. Entrepreneurship and the New Venture Formation. Prentice Hall Inc: New Jersey.

Leave A Reply