Back

INOVASI PENDIDIKAN ENTREPRENEURSHIP

BAB X

INOVASI PENDIDIKAN ENTREPRENEURSHIP

 

Pembahasan Materi

Dalam bab ini Anda akan mempelajari tentang konsep inovasi, inovasi merupakan kebutuhan mendesak, kreativitas dan inovasi entrepreneurship, karakteristik organisasi kreatif, ciri utama inovatif entrepreneur, tujuan pembelajaran entrepreneurship, proses pembelajaran pada laboratorium entrepreneurship, rancangan modul-modul pembelajaran laboratorium entrepreneurship,  hambatan kreativitas entrepreneurship menurut Ciputra, dan contoh-contoh inovasi entrepreneurship.

10.1.  Konsep Inovasi

Konsep inovasi dalam penggunaannya sering diartikan sama dengan perubahan, padahal inovasi dan perubahan adalah dua hal yang berbeda. Inovasi adalah ide, praktik, dan bahan-hahan atau materi yang dianggap baru oleh individu atau unit yang mengadopsi. Dengan demikian, inovasi adalah objek perubahan yang digunakan sebagai alat untuk melakukan perubahan. Semua inovasi mengandung perubahan, tetapi tidak semua perubahan mengandung inovasi karena tidak semua modifikasi dianggap sebagai sesuatu hal yang baru. Perubahan dalam inovasi adalah suatu bentuk yang menggambarkan kebaruan hubungan antara ide-ide dan konsep-konsep. Rogers mengemukakan bahwa inovasi adalah penemuan-penemuan baru, baik itu berupa gagasan, tindakan, maupun benda-benda baru yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat. Selanjutnya, dijelaskan oleh Rogers kebaruan dalam inovasi mungkin diekspresikan dalam bentuk pengetahuan, persuasi, atau suatu keputusan untuk mengadopsi.

Inovasi dapat diartikan dari berbagai sudut pandang. Dari sisi pemakai, inovasi didefinisikan sebagai sesuatu ide, latihan, atau cara yang dipersepsikan sebagai sesuatu yang baru, sebagai sesuatu yang dapat diterima. Dari sisi lain inovasi diartikan sebagai suatu rentang yang kontinu memberikaan pengaruh baru pada produk dan dapat diterima. Inovasi adalah ide baru yang diaplikasikan untuk menghasilkan atau memperbaiki sebuah produk, proses, atau servis. Inovasi adalah menerjemahkan ide-ide menjadi produk baru, jasa barang, atau metoda baru. Seseorang yang menyatakan dirinya berorientasi ke masa depan atau seseorang yang berani bersaing di masa depan harus mempunyai keinovatifan yang tinggi karena tanpa itu maka ia akan kalah dan (mungkin) akan mati. Selanjutnya, inovasi juga diartikan sebagai suatu usaha mencari peluang melalui perancangan ide-ide sehingga dapat digunakan untuk berbagai tujuan (Ade Febriansyah, 2010). Senada dengan itu, Levesque mengemukakan bahwa inovasi adalah suatu usaha individu dalam mencari kemungkinan baru untuk menghadapi tantangan, kontribusi ide, membantu pemecahan permasalahan, mencari dan mengembangkan penekanan pembiayaan, serta mengembangkan prosedur, metoda, atau produk yang baru.

Sesuatu yang baru dalam inovasi adalah segala sesuatu alternatif yang mungkin, selain status quo, yang cenderung memberikan keuntungan relatif pada orang melalui cara penciptaan situasi atau pekerjaan yang lebih baik. Inovasi juga berarti melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda dan menciptakan kombinasi baru. Inovasi berhubungan dengan penemuan cara baru melalui kombinasi segala sesuatunya secara keseluruhan. Kemungkinan bahwa ide, gagasan, atau produk itu bukan merupakan sesuatu yang baru di tempat lain tidak menggugurkannya sebagai inovasi. Karena inovasi tidak harus merupakan sesuatu yang baru sama sekali sehingga penerapan konsep atau gagasan apa pun yang berbeda dari yang sudah ada atau yang pernah dilakukan sebelumnya dengan tujuan meningkatkan efisiensi, efektifitas kerja, dan pencapaian keuntungan dapat dikategorikan sebagai inovasi.

Di dalam inovasi tidak dipersoalkan apakah ide pembaruan itu betul-betul baru atau tidak, dilihat dari selang waktu sejak digunakan atau diketemukan pertama kali. Kebaruan dalam inovasi diukur secara subjektif menurut pandangan individu masing-masing. Sesuatu yang penting pada inovasi adalah ada sesuatu yang baru atau ada perubahan, yaitu mengubah sesuatu sehingga menjadi berbeda, pembaruan dan perubahan yang berbeda dari yang sudah ada atau sudah dikenal sebelumnya. Semua inovasi merupakan suatu perubahan, tetapi tidak semua perubahan adalah inovasi, karena tidak semua perubahan mengandung suatu ide baru.

10.2.  Inovasi Merupakan Kebutuhan Mendesak

            Inovasi menggerakkan dunia. Dengan kehadiran listrik, hidup menjadi lebih mudah. Mesin uap membuat berbagai macam industri berkembang dan menyediakan lapangan kerja secara missal. Kelahiran internet menjadikan dunia serasa tanpa batasan. Saat ini inovasi menjadi kebutuhan yang mendesak, baik bagi suatu perusahaan maupun suatu Negara, karena (Safitri Siswono, 2010):

  1. Perdagangan bebas, serta rendahnya biaya komunikasi dan transportasi antarnegara, menyebabkan Indonesia bersaing semakin ketat dengan Negara lain yang memiliki upah tenaga kerja lebih rendah atau keterampilan serta pendidikan yang lebih baik.
  2. Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi mengubah dunia lebih cepat dari sebelumnya. Pengembangan teknologi informasi dan komunikasi, biteknologi, nanoteknologi, energi hijau, dan sebagainya membuka banyak peluang komersial bagi para
  3. Fenomena media abad 21, ketika komunikasi global berlangsung secara non-stop (24 jam/hari, 7 hari/minggu), memungkinkan informasi disebarkan ke seluruh dunia segera termasuk fashion, ide, dan produk. Hal ini menyebabkan selera konsumen berubah dengan sangat cepat.

Bagi konsumen inovasi berarti kualitas produk yang lebih baik, pelayanan yang semakin efisien, dan standar hidup yang meninggi. Bagi bisnis, inovasi berarti profit yang lebih tinggi dan kemampuan hidup lebih lama. Bagi suatu Negara, inovasi adalah peningkatkan produktivitas dan pendapatan perkapita. Secara umum, ciri inovasi adalah: (1) susunan pembaruan dimulai dengan menganalisis peluang, (2) pembaruan adalah perpaduan antara konsepsi dan persepsi, (3) pembaruan itu efektif, simpel, dan dipusatkan pada sesuatu, (4) pembaruan yang efektif dimulai dan yang kecil, dan (5) keberhasilan tujuan pembaruan terletak pada kepemimpinan. Selain itu, ada tiga kondisi yang diperlukan dalam pembaruan, yaitu: (1) pembaruan adalah pekerjaan, (2) supaya berhasil para pembaharu harus bekerja keras, dan (3) pembaharuan berdampak pada ekonomi dan masyarakat.

Inovasi memiliki karakteristik yang dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan individu atau masyarakat dalam mengadopsi inovasi. Ada lima ciri utama yang seharusnya ada dalam gagasan baru agar dapat diterima sebagai bagian dari hidup individu maupun dan kelompok. Lima ciri tersebut adalah: (1) dapat menguntungkan (relative advantage) pengguna gagasan baru tersebut, (2) kecocokan (compatibility) dengan nilai dan karakter budaya individu dan kelompok, (3) kesulitan (complexity) dari gagasan baru yang dimaksudkan, (4) divisibility, dan (5) mudah dikomunikasikan (communicability). Keinovatifan adalah suatu tingkat kecepatan relatif individu atau unit adopsi dalam mengadopsi suatu inovasi jika dibandingkan dengan individu atau sistem lainnya. Keinovatifan menunjukkan perubahan perilaku sesuai dengan tujuan difusi inovasi. Dengan kata lain, perubahan tidak hanya sekadar bersifat kognitif atau perubahan sikap. Keinovatifan adalah bentuk dasar yang membatasi penlaku dalam proses inovasi yang dikategorikan ke dalam inovator, pengadopsi awal (early adopter), mayoritas awal (early mayority), mayoritas akhir (late mayority), dan kolot (laggard).

Inovator adalah individu atau kelompok sosial yang tertarik dengan ide-ide baru, baik yang ada dilingkungannya maupun yang datang dari luar. Seorang inovator cenderung mencari ide-ide baru melalui interaksi sosial dengan kelompok lain di luar kelompok sosialnya. Pengadopsi awal adalah individu atau kelompok sosial yang memiliki kecepatan yang relatif lebih lama dalam mengadopsi hal-hal atau ide-ide bani jika dibandingkan dengan kelompok inovator. Kelompok ini biasanya melakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum mengadopsi sesuatu yang baru.

10.3. Kreativitas dan Inovasi Entrepreneurship

Kreativitas (creativity) merupakan kemampuan dalam mengembangkan ide dan cara-cara baru dalam memecahkan masalah dan menemukan peluang. Kreativitas merupakan penggunaan akal pikiran dan imajinasi untuk menghasilkan ide atau solusi permasalahan. Daya kreativitas dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah usia, pendidikan dan intensitas penggunaan daya kreasi. Terdapat kecenderungan bahwa semakin bertambah usia, semakin menurun daya kreativitas seseorang. Kreativitas adalah suatu proses yang dapat dikembangkan dan ditingkatkan. Sedangkan inovasi adalah proses untuk mengubah kesempatan menjadi ide yang dapat dipasarkan. Inovasi merupakan proses memanfaatkan ide baru dan mengaplikasikannya. Kalau kreativitas merupakan thinking new things, sedangkan inovasi merupakan doing new things. Inovasi lebih dari sekedar ide yang baik. Namun, Inovasi merupakan kelanjutan dari suatu ide yang semakin dimatangkan konsepnya dan selanjutnya diimplementasikan. Oleh karena itu, inovasi merupakan kombinasi kreativitas, ide, visi, serta dedikasi untuk mengimplementasikan ide yang telah dirumuskan.

Pada prinsipnya, manusia memiliki kapasitas tertentu untuk mengingat berbagai pengetahuan dan pengalaman. Semakin luas wawasan seseorang, cenderung semakin tinggi kreativitas seseorang. Oleh karena itu, untuk meningkatkan daya kreativitas dapat dilakukan dengan memperbanyak akumulasi pengetahuan yang produktif, misalnya dengan membaca, berdiskusi, melakukan pengamatan, dan penelitian. Selanjutnya, pikiran sadar dan pikiran bawah sadar manusia akan melakukan proses inkubasi, yaitu mengaitkan pengetahuan dan pengalaman yang telah terakumulasi. Pada tahap ketiga, yaitu pengalaman ide, ide akan mencuat walaupun sering kali ide itu muncul justru pada saat kita tidak sedang melakukan pekerjaan yang relevan, misalnya sedang beristirahat, membaca koran, atau mengendarai mobil. Pada tahap keempat dilakukan evaluasi dan implementasi ide. Tahap ini merupakan tahap yang paling berat karena dibutuhkan komitmen dan dedikasi untuk merealisasikan ide me njadi sesuatu yang konkret. Hasil dari tahapan ini adalah inovasi.

Menurut Schermerhorn, J.R. (1996), proses inovasi dalam organisasi melalui empat tahapan, yaitu:

  1. Penciptaan ide (idea creation) pada tahapan ini, terjadi pengetahuan baru ditemukan, perluasan pemahaman maupun kreativitas spontan oleh individu, dan dikomunikasikan kepada anggota organisasi lainnya.
  2. Penelitian awal (initial experimentation). Ide yang muncul pada tahapan penciptaan ide selanjutnya diuji konsepnya, yaitu melalui diskusi oleh anggota organisasi, serta dapat melibatkan konsumen, klien, maupun pihak yang ahli. Pada tahapan ini dapat pula dibuat prototipe, yaitu model berbentuk fisik dari ide tersebut.
  3. Penetapan kelayakan (feasibility determination). Pada tahapan ini ide diuji kelayakannya melalui studi kelayakan, dilakukan analisis cost and benefit. Kalau dinilai layak, ide tersebut akan diaplikasikan atau dilakukan komersialisasi.
  4. Aplikasi akhir (final application). Pada tahapan ini, produk baru telah difinalisasi, serta dikomersialkan, atau proses baru telah diimplementasikan pada kegiatan operasional.

10.3.1. Karakteristik Organisasi Inovatif

Organisasi inovatif merupakan organisasi yang memobilisasi kreativitas dan inovasi. Organisasi inovatif mendukung jiwa entrepreneurship, dimana para pemimpinnya memegang peran aktif dalam proses inovasi. Peran kunci inovasi dalam organisasi antara lain (Reniati, 2013):

  1. Idea generator (pembangkit ide), yaitu karyawan yang menciptakan pengetahuan baru, baik melalui proses penemuan internal, maupun hasil pengamatan atau kepekaan terhadap lingkungan.
  • Information gatekeeper (penjaga informasi), yaitu karyawan yang melayani sebagai penghubung antara organisasi dengan sumber eksternal.
  • Product champion, yaitu karyawan yang mendukung dan mendorong perubahan dan inovasi, serta mengadopsi produk ataupun proses hasil inovasi.
  • Inovation leader atau pemimpin inovasi, yaitu karyawan yang mendorong, mensponsori dan membimbing anggota organisasi tetap memegang teguh nilai-nilai inovasi, dan menjaga pencapaian tujuan inovasi serta menjadi saluran energi inovasi.

Zuhal (2010) mengatakan bahwa berdasarkan sejumlah survei ternyata perusahaan melakukan inovasi dengan tujuan antara lain: meningkatkan kualitas, menciptakan pasar baru, mengembangkan rentang produk, menurunkan upah buruh, meningkatkan proses produksi, menurunkan penggunaan material, menurunkan kerusakan lingkungan, mengganti produk dan jasa, serta menurunkan konsumsi energi.

            Selanjutnya dikatakan Zuhal bahwa inovasi bukanlah suatu istilah teknis, ia lebih merupakan istilah sosial-ekonomi yang menggambarkan perubahan kebutuhan pasar atas sesuatu yang bersifat baru dan berguna bagi para pengguna akhir. Dilihat dari kacamata industry dan pebisnis, inovasi itu haruslah selalu “market focused”. Industri yang berorientasi pada “product focused” sangat menghasilkan “terobosan teknologi”, tetapi belum tentu dinikmati pemakai atau pasar. Inovasi entrepreneurship adalah tentang nilai baru, bukan hal baru. Inovasi adalah relevan hanya jika ia menciptakan nilai bagi pelanggan, sehingga menciptakan hal-hal baru tidak cukup dan tidak perlu untuk inovasi bisnis. Pelanggan adalah orang-orang memutuskan nilai dari suatu inovasi dengan cara membeli produk tersebut.

10.3.2. Ciri Utama Innovative Entrepreneur

Urgensi pendidikan  entrepreneurship untuk abad 21 ditegaskan oleh Klaus Schwab, Pendiri dan Kepala Ekonomi Forum Ekonomi Dunia dalam laporan ringkasan eksekutif mereka berjudul Education the Next Wave of Entrepreneurs: Unlocking entrepreneurial capabilities to meet the global challenges of the 21 st century (April 2009). Ia menyatakan bahwa pendidikan entrepreneurship memiliki dampak sangat luar biasa terhadap pembangunan masyarakat masa depan: “Entrepreneurship and education are two such extraordinary opportunities that need to be leveraged and interconnected if we ar to develop the human capital required for building the societies of the future. Seorang innovative entrepreneur  melakukan banyak hal. Menurut saya 3 ciri ini akan menjadi pembeda, yaitu: pencipta peluang (opportunity creator), inovator (innovator), dan pengambil resiko terukur (calculated risk taker).

Pencipta peluang tidak mengopi ia sosok pencipta out of the box. Ia tidak terpaku dengan pasa yang sudah ada, cara baku, atau kebiasaan lama. Seorang pencipta peluang menggambarkan yang disebut oleh Joseph Schummpeter sebagai “Creative Destruction”. Ia mengubah “tatanan pasar” karena berhasil melakukan sesuatu yang baru. Menciptakan peluang berhubungan dengan sisi permintaan (demand side) atau sisi pasar, dan inovasi berhubungan dengan sisi pasokan (supply side). Jadi inovasi menyangkut apa yang dilakukan perusahaan atau organisasi untuk meraih peluang tersebut. Sebuah inovasi baru selesai bila setiap aspek bisnis usdah dijamah inovasi sedemikian rupa sehingga pelanggan tidak sanggup mengatakan tidak. Bahkan pelanggan rela antre untuk mendapatkan produk baru tersebut. Sedangkan mengambil risiko terukur mengambarkan proses perencanaan. Seorang entrepreneur bukan asalan berani rugi atau berani gagal. Ia menghitungkan dan mengelola risiko. Berikut ini kisah sukses dari peluncuran produk baru Ipad dan Apple dan Galaxy dari Samsung seperti tertulis dalam berita media di bawah ini:

Serbu Penantang iPad, Pembeli Rela Antre Enam Jam

Jakarta – Demam komputer tablet berlayar sentuh menyerbu Jakarta. Kemarin seribu pembeli rela antri hingga enam jam dengan antrean sejauh 300 meter di Plaza Senayan hanya untuk membeli Komputer Tablet Samsung Galaxy Tab. Saking panjangnya antrian, para pembeli terpaksa berjajar hingga ruang parkir. Itulah yang dilakukan Cahya Aziz, 46 tahun, warga Cipinang, Jakarta Timur, satu dari pembeli Galaxy Tab. Dia rela antre sejak pukul 11.00 sampai 17.00 “Histeria” para pembeli itu sama dengan fenomena antrean saat ada diskon untuk sandal dan sepatu merek Crocs beberapa bulan lalu. Antrian itu memanjang hingga empat lantai di Senayan City, Jakarta. “Seribu kupon pembelian yang kami siapkan ludes semua,” ujar Head of Marketing HP Division PT Samsung Electronics Indoensia Eka Anwar, kemarin.

Samsung Galaxy Tab adalah Komputer layar sentuh bikinan raja komputer Korea yang disebut-sebut sebagai penantang “sang fenomea”, iPad bikinan Apple Inc. iPad memang meciptakan tren baru berkomputer, yakni komputer tanpa papan ketik. Semuanya tinggal disentuh. Setelah diluncurkan pada April 2010, iPad terjual 3 juta unit di seluruh dunia dalam waktu 80 hari. Di took-toko Apple, ribuan orang antre membeli. Bahkan mereka rela menginap. Demam membeli iPad itu rupanya menular menjadi membeli Samsung Galaxy Tab. Antrean pembeli membludak karena kemarin Samsung memberi potongan harga hinggal Rp. 1 juta. Tablet yang di bandrol harga Rp. 6.9 juta itu kemarin bisa di beli Rp. 5.9 juta. Gara-gara diskon itulah antrean mengular mulai pukul 10.00, sejak belanja mewah ini dibuka. Panitia sampai kewalahan mangaturnya.

Karena lamanya waktu antri dan adanya pembatasan satu orang boleh membeli satu unit, banyak pembeli yang mengakali dengan menyuruh sopir atau babysistter ikut antri. “Saya baru rebahan setelah parkir, disuruh antri di sini menggantikan majikan saya, Ibu Rini,” kata Dayat. “Mengapa antrian panjang sekali? Memang di Roxy (pusat penjualan telepon seluler di Jakarta) enggak ada yang jual, ya?” Dayat bertanya dengan wajah polos. Edi Suryanto, 40 tahun, salah satu pembeli Galaxy Tab, mengaku kepincut karena produk ini punya beberapa keunggulan dibanding iPad. Misalnya memiliki kamera dan bisa digunakan untuk telekoferensi video. Produk ini, menurut Edi, popular di Eropa dan Amerika Serikat. Ukuranya yang lebih kecil ketimbang iPad membuatnya lebih enteng. Galaxy Tab berukuran 7 inci, sementara iPad berukuranya 9,7 inci (Ciputra, Antonius Tanan & Agung Waluyo, 2011).

10.3.3. Tujuan Pembelajaran Entrepreneurship

Dalam pengamatan kami, pendidikan dan pelatihan entrepreneurship harus memenuhi 3 syarat. Pertama, memiliki konsep dan struktur program yang akan mengantar peserta didik menjadi (to be) entrepreneur inovatif. Bukan sekedar bisa melakukan sebagian aktifitas entrepreneur (to do), apalagi hanya tahu tentang entrepreneurship (to know). Sebuah contoh pendidikan yang mengarah pada to be (menjadi) adalah fakultas kedokteran. Tujuan utama semua peserta didik adalah menjadi dokter. Proses pembelajaran dirancang sedemikian rupa untuk menghasilkan dokter (to be). Pendidikan seperti ini melibatkan banyak dokter berpengalaman  untuk menjadi pengajar, pelatih dan juga mentor. Selain itu peserta didik harus kerja praktik di rumahsakit (experiential learning) dalam waktu tertentu. Tanpa persentuhan dengan dokter-dokter berpengalaman dan juga pembelajaran praktik (experiential learning), tampaknya akan sukar mendidik seorang menjadi dokter. Karena itu pendidikan kewirausahaan yang bertujuan menghasilkan entrepreneur perlu melibatkan para entrepreneur berpengalaman dan memberikan waktu cukup untuk pembelajaran melalui pengalaman langsung.

Kedua, terdapat pelatih (tidak harus semua) yang memiliki pengalaman nyata mulai dari penciptaan bisnis (business creation), pengelolaan bisnis (business operation) dan pengembangan bisnis (business growth). Kami percaya bahwa entrepreneurship tidak bisa hanya diajarkan tetapi harus ditularkan. Sebuah tim yang lengkap dalam mengajarkan keentrepreneuran memiliki 3 kelompok pendidik, yaitu (Ciputra, 2011):

Spesialis: ini adalah pelatih spesialis untuk kecakapan-kecakapan tertentu yang dibutuhkan calon entrepreneur. Para spesialis ini tidak perlu entrepreneur. Yang kita butuhkan adalah seseorang yang memiliki keahlian dapat melakukan dengan baik. Sebagai contoh, entrepreneur harus pandai berkomunikasi publik yang baik, tidak harus dilakukan oleh si entrepreneur sendiri, seorang pelatih komunikasi yang handal bisa melakukannya. Bekerja samalah dengannya.

Edukator yang entrepreneurial: ini adalah para pengajar yang mendalami pendidikan entrepreneurship. Kelompok ini selain paham bagaimana mendidik entrepreneur secara terstruktur dan sistematis, mereka juga harus entrepreneurial atau memiliki semangat dan perilaku entrepreneur. Semangat tersebut tidak harus mereka wujudkan dalam bentuk bisnis. Bisa saja mereka menerapkan entrepreneurial mereka dalam ranah sosial, pelayanan rohani, hidup keluarga atau gaya hidup pribadi. Apapun itu, mereka harus bisa membuktikan entrepreneurial mereka melalui kisah nyata kehidupan mereka. Mereka harus menceritakan pengalaman-pengalaman mereka menciptakan peluang, berinovasi, dan mengambil resiko terukur. Kelompok ini akan bertugas sebagai pengembang kurikulum, guru atau dosen entrepreneurial, pembimbing mahasiswa.

Mentor: kelompok ini adalah mereka yang hidupnya merupakan sebuah praktik innovative entrepreneurship dalam dunia bisnis. Biasanya mereka sangat sibuk, karena biasanya yang inovatif tentu sibuk dan sukses. Karena itu keterlibatan mereka terutama untuk testimoni, bimbingan dan mentoring. Jangan hanya menunggu mereka punya waktu datang ke sekolah atau ke kampus, namun buatlah sebuah skema mentorship yang memungkinkan peserta didik untuk berkonsultasi di tempat kerja maupun di rumah mereka. Perjumpaan para pembelajar dengan mereka yang sudah kenyang makan asam garam dunia nyata entrepreneurial akan memperkaya wawasan para pembelajar. Dengan begitu diharapkan akan terjadi proses transfer pengetahuan, kebijaksanaan lokal, dorongan motivasi, inspirasi pertumbahan karakter dan juga kesempatan memperluas akses bisnis bagi pembelajar.

Ketiga, membangun semangat dan kecakapan entrepreneuran butuh durasi waktuyang cukup. Kami tidak yakin bahwa dengan satu hari motivational, meeting atau dengan 5 hari pelatihan sekalipun, seseorang bisa jadi entrepreneur sukses. Kalaupun ada, itu hanya berlaku untuk mereka yang memang telah siap sebelumnya. Pelatihan entrepreneurship memerlukan waktunya sedikitnya 3 bulan dan harus tersedia sebuah proses mentoring setelah masa pelatihan berakhir. Pelatihan 3 bualn ini pun sebenarnya hanya sebuah crash program. Paling ideal pendidikannya harus dimulai sejak dini yaitu mulai TK.

10.3.4.  Mentor: Bukan Sekedar Praktisi

Tidak semua orang yang kita sebut praktisi bisnis dapat kita anggap mewakili innovative entrepreneurship. Seorang innovative entrepreneur yang dapat dianggap lengkap pengalaman entrepreneurial akan memiliki 5 jenis pengalaman ini (Ciputra, 2011):

  1. Business Creation (Menciptakan Bisnis Baru)

            Tidak semua orang yang kita sebut pengusaha memiliki pengalaman penciptaan bisnis baru (new venture creation) yang cukup banyak. Bahkan bisa saja seseorang yang sudah puluhan tahun menjadi praktisi bisnis namun tidak pernah memiliki pengalaman langsung mengembangkan ide bisnis baru dan mengalami sendiri bagaimana pengalaman tersebut. Sebaliknya seorang entrepreneur sejati, rajin berburu peluang hingga menciptakan usaha baru adalah merupakan bagian dari gaya hidupnya. Dr (HC) Ir. Ciputra pernah mengatakan, “saya tidak pernah mendaki gunung yang sama untuk kedua kalinya”.

  1. Business Operation (Pengelolaan Bisnis)

Seandainya yang diundang menjadi mentor adalah seorang profesional bisnis (bekerja pada seorang entrepreneur), maka kebanyakan dari mereka memang berada dalam posisi ini menjadi praktisi dalam salah satu fungsi bisnis misalnya pemasaran, keuangan, Management Information System, Sumberdaya Manusia, atau produksi. Kelompok ini bisa menjadi mentor yang baik, asalkan masalah yang didiskusikan bersentuhan langsung dengan dunia kerja mereka.

  1. Business Growth (Pertumbahan Bisnis)

Mereka yang bekerja dalam bidang pemasaran biasanya kental dengan pengalaman menumbuhkan bisnis. Ini berkaitan dengan pengalaman mengembangkan produk baru, pasar baru, strategi pemasaran baru, ataupun diversifikasi bisnis.

  1. Business Revitalization (Revitalisasi Bisnis)

Ini adalah sebuah proses untuk mengangkat kembali bisnis yang sudah menurun. Mereka yang memilki pengalaman ini biasanya para pemilik usaha sendiri dan para pemimpin puncak usaha bisnis. Dalam situasi seperti ini, manajemaen puncak pasti terlibat penuh.

  1. Business Closing (Keluar Dari Bisnis)

Pemahman penutupan sebuah bisnis atau keluar dari bisnis tidak selalu merupakan preseden buruk. Seorang pemilik sebuah usaha bisnis bisa saja sengaja menjual usahanya karena mendapatkan tawaran keuntungan yang sangat tinggi. Proses inipun biasanya ditangani para pemimpin puncak. Dalam konteks pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi, isu yang paling adalah penciptaan usaha baru (new venture creation), sehingga paling tidak perlu mentor atau pelatih yang cukup paham business creation dan business operation. Bila kita bisa mendapatkan seorang mentor dengan 5 ragam pengalaman tersebut tentu sangat ideal. Namun bila tidak bisa seideal itu, tetaplah melakukannya karena pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi biasanya menyangkut skala usaha bisnis yang masih kecil dengan resiko lebih rendah.

Kata mentor berbeda dengan coach atau pelatih. Pelatih bertugas membangun satu atau dua keahlian dalam diri seseorang atau sekelompok orang dalam jangka waktu tertentu. Mentor tugasnya lebih luas dari tugas pelatih. Mentor bersedia membagikan “hidup” nya kepada yang dilatihnya, pengalaman dan keberhasilan atau kegagalan, nasehat, dorongan dan juga membuka akses jejaring yang dibutuhkan sang pembelajar. Mentor memilki peran sangat besar dan sangat berarti bagi keberhasilan mentee (pembelajar). Mentor yang baik akan berpola pikir bahwa mereka yang dibimbingnya harus didorong untuk berprestasi lebih tinggi. Salah satu motto mentor yang baik adalah: My ceiling become you flooring. Ini adalah contoh mentor yang ideal. Tentunya pasti ada banyak orang di sekitar peserta didik yang memiliki kualifikasi mentor berhati mulia seperti itu.

10.4.  Proses Pembelajaran pada Laboratorium Entrepreneurship

Sagala (2007) mengatakan bahwa, pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu mahasiswa mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang baru. Proses pembelajaran awalnya meminta dosen untuk mengetahui kemampuan dasar yang dimiliki oleh mahasiswa meliputi kemampuan dasarnya, motivasinya, latar belakang akademisnya, latar belakang sosial ekonominya, dan lain sebagainya. Metode pembelajaran yang digunakan laboratorium entrepreneurship mengadopsi metode experiential learning. Berdasarkan metode tersebut, siklus belajar manusia dari pengalamannya dibagi dalam empat siklus seperti terlihat pada gambar 10.1 berikut (Kolb, 1994):

 

 
  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 10.1. Siklus belajar manusia

Berdasarkan gambar 10.1 tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Pengalaman, baik pribadi maupun orang lain, merupakan guru yang baik, tetapi itu tidak cukup. Diperlukan suatu respon terhadap pengalaman tersebut. Ketika mendapat satu pengalaman baru (concrete experience), manusia akan mencoba memaknai dengan merefleksikannya atas apa yang pernah ia alami atau membandingkan pengalaman orang lain (reflective observation). Setelah itu ia akan memikirkannya, mencoba mencari pola, dan menarik kesimpulan sehingga dihasilkan satu konsep atau kiat baru (abstract conceptualization). Kiat baru ini digunakan sebagai dasar untuk melakukan tindak lanjut (active experience).

Aktivitas-aktivitas di laboratorium entrepreneurship didesain sedemikian rupa sehingga mahasiswa mengalami proses yang dialami entrepreneur. Pengalaman ini kemudian direnungkan, direfleksikan secara sistematis, dan dikaitkan dengan teori-teori bisnis. Hasilnya adalah konsep-konsep dan kiat-kiat baru untuk dicobakan. Salah satu aktivitas yang dilakukan mahasiswa di laboratorium entrepreneurship adalah mempresentasikan dan mendiskusikan pengalaman bisnisnya secara berkala. Setelah itu mendapat masukan-masukan dan pengarahan dari para dosen yang bersangkutan. Hasil diskusi dicobakan dan dilihat hasilnya. Begitu seterusnya sehingga perkembangan bisnis makin nyata terlihat.

Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Istilah lain yang mirip strategi adalah pendekatan pembelajaran (approach). Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran. Ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada dosen dan pendekatan yang berpusat pada mahasiswa (Sanjaya, 2006). Perilaku pembelajaran yang terpusat pada dosen merupakan perilaku pembelajaran ekspositori, sedangkan perilaku pembelajaran heuristik merupakan perilaku pembelajaran yang terpusat pada mahasiswa. Secara lengkap strategi dan proses pembelajaran pada laboratorium entrepreneurship dapat dilihat pada gambar 10.2 berikut (Suhartanto, 2010).

 

 

 

 

 

 
  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 10.2. Proses pembelajaran pada Laboratorium Entrepreneurship

Berdasarkan gambar 10.2 tersebut dapat dikatakan bahwa laboratorium entrepreneurship harus mampu membuat mahasiswa memahami proses entrepreneurial dengan mengalami proses sebagaimana yang dialami entrepreneur. Laboratorium entrepreneurship adalah katalisator untuk menghasilkan entrepreneur terdidik. Untuk itu, di dalamnya tidak cukup dipelajari tentang pengetahuan dan ketrampilan bisnis, tetapi juga penanaman tentang karakter entrepreneurship dan kepedulian sosial (Soehadi, 2010). Ranah kognitif (cognitive) adalah ranah yang mencakup kegiatan otak. Artinya, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak termasuk ke dalam ranah kognitif. Ranah afektif (affective) adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai, dan sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya apabila ia telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Ranah psikomotorik (psycomotoric) adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif dan hasil belajar afektif (Winkel, 2004).

Sedangkan taksonomi hasil belajar menurut Mukhtar (2003) adalah ranah kognitif (cognitive domain) menurut Bloom dan kawan-kawan mencakup: pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation). Ranah afektif (affective domain) menurut taksonomi Krathwohl, Bloom, dan kawan-kawan dalam Mukhtar (2003) meliputi: penerimaan (receiving), partisipasi (responding), penilaian/penentuan sikap (valuing), organisasi (organization), pembentukan pola hidup (characterization by a value or value complex). Ranah psikomotorik (psychomotoric domain) menurut klasifikasi Simpson dalam Mukhtar (2003) mencakup: Persepsi (perception), kesiapan (set), gerakan terbimbing (guided response), gerakan yang terbiasa (mechanical response), gerakan yang kompleks (complex response), penyesuaian pola gerakan (adjustment), dan kreativitas (creativity).

Prinsip-prinsip dasar yang harus dikembangkan dalam pengembangan kurikulum pendidikan kewirausahaan, adalah: 1) mahasiswa bertanggung jawab penuh terhadap aktivitas belajarnya; 2) mahasiswa harus terlibat dan berpartisipasi aktif dalam penyusunan proses pembelajaran; 3) hubungan antara satu pembelajar dengan pembelajar yang lainnya adalah seimbang; 4) pendidik lebih sebagai fasilitator daripada sumber ilmu; 5) pengalaman pembelajar menentukan apa yang didapatkannya; dan 6) pada akhir proses pembelajaran, mahasiswa melihat dirinya berbeda dari sebelum mengikuti pembelajaran.

Untuk mencapai keberhasilan pendidikan kewirausahaan harus dirancang kurikulum yang disusun berdasarkan empat pilar, yaitu: 1) pendekatan yang didasarkan pada studi kasus; 2) pendekatan yang didasarkan pada proyek-proyek entrepreneurship; 3) program pengembangan individu atau personal; dan 4) program pengembangan kelompok. Oleh karena itu ada tiga dimensi utama yang harus dikembangkan dalam laboratorium entrepreneurship sebagaimana terlihat pada gambar 10.3 berikut (Suhartanto, 2009).

 
  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 10.3. Dimensi-dimensi Utama untuk Pengembangan Laboratorium Entrepreneurship

            Berdasarkan gambar 10.3 tersebut, maka dapat diuraikan sebagai berikut. Salah satu karakter entrepreneur terdidik adalah bervisi yang kuat untuk selalu menumbuhkan dan mengembangkan peluang. Karena itu dalam menjalankan tiap aktivitas dan pekerjaannya, entrepreneur terdidik akan dipenuhi oleh hasrat (passion) untuk meraih visinya. Pekerjaan yang dilakukan dengan hasrat akan memberikan hasil dengan standar tinggi dan diatas rata-rata. Dapat disimpulkan ada tiga karakter utama yang dimiliki oleh entrepreneur terdidik, yaitu: mempunyai visi, passion, dan standar kerja tinggi di atas rata-rata.

Kepedulian terhadap kondisi sosial dan lingkungan harus menjadi ciri entrepreneur terdidik karena modal sosial berpengaruh besar untuk kelancaran bisnis. Dukungan masyarakat sangat penting untuk efisiensi dan efektivitas proses bisnis. Selain itu, dewasa ini konsumen tidak hanya melihat produk / jasa sebagai hasil akhir, namun semakin menuntut transparansi terhadap proses bisnis yang melibatkan lingkungan dan masyarakat. Maka social awareness dalam berbisnis menjadi sangat penting (Suhartanto, 2010). Pengetahuan dan keterampilan bisnis terdiri dari manajemen operasi, pemasaran, finansial, sumber daya manusia, teknologi informasi, dan strategi. Umumnya sekolah-sekolah bisnis yang menekankan pada aspek ini.

Proses untuk mendapatkan ketiga kompetensi dasar tersebut sebenarnya bisa dilakukan di dunia kerja. Entrepreneur yang berangkat dari dunia professional umumnya memerlukan sekitar 3–5 tahun untuk mempelajari ketiganya sebelum membangun bisnis sendiri.  Justru dengan adanya laboratorium entrepreneurship, proses yang sedianya terjadi di dunia kerja dicoba untuk dilakukan sistematis di masa perkuliahan. Untuk itu di dalam laboratorium entrepreneurship perlu dirancang modul-modul praktikum yang terintegrasi dengan rangkaian-rangkaian mata kuliah sehingga terjalin kurikulum yang solid.

10.5.  Rancangan Modul Laboratorium Entrepreneurship

Sebagaimana di sekolah teknik, modul-modul praktikum entrepreneurship merupakan bagian dari matakuliah-matakuliah tertentu, disebut matakuliah jangkar (anchor subject). Wujud modul-modulnya adalah serangkaian proyek bisnis yang diberikan mulai semester 1 sampai 8. Melalui proyek-proyek itu para mahasiswa berlatih untuk mengimplementasikan teori dan konsep yang diajarkan pada semester yang sedang berlangsung dan semester sebelumnya. Setiap proyek memiliki kompleksitas dan tema yang berbeda namun saling berhubungan dalam jalinan skenario pembelajaran.

Dalam rancangan kurikulum entrepreneurship, antara teori dan praktik memang diberikan secara paralel dalam waktu yang bersamaan. Dengan demikian, mahasiswa selalu mempunyai media untuk melatihkan (exercise) teori yang ia terima. Mahasiswa akan menyerap pengetahuan bisnis dengan jauh lebih baik bila ia selain melihat dan mendengar, juga belajar dengan cara merasakan dan melakukan. Secara lengkap rancangan kurikulum pendidikan entrepreneurship dapat dilihat pada tabel 10. 1 berikut (Kao, 1999):

Tabel 10.1. Rancangan Kurikulum Pendidikan Entrepreneurship

Semester

1               2

3            4

5              6

7              8

 

Big Mapping

 

Entrepreneur character

Foundation of Entrepreneurship

Community development

Hatchery

 

Theme

Discovery Entrepreneurial Competencies

Apply Entrepreneurial Competencies

 

Estabilishing Entrepreneurial Competencies

 

Business Incubator

 

 

Objective output

Creative Business

Ideas

Business Plan

Business Management Experience

 

Establishing Business Partner

Community Capacity

 

Innovative Business Launch

 

Sumber: Kao, John J, 1999. Entrepreneurship, Creativity and Organization: Text, Cases and Reading, New Jersey: Harvard Business School-Prentice Hall, Inc.

Berdasarkan tabel 10.1 yang merupakan tahapan dalam desain kurikulum entrepreneurship, modul dalam laboratorium entrepreneurship dibagi dalam empat tahap, yaitu: 1) proyek-proyek untuk scanning peluang, mengasah kreativitas dan kemampuan menghasilkan inovasi; 2) proyek-proyek untuk merencanakan, melalui dan mengelola bisnis; 3) proyek-proyek untuk mengembangkan komunitas bisnis dan mengasah kesepakatan sosial; dan 4) proyek-proyek untuk mengembangkan bisnis secara lebih formal dan sistematis.

Tahun 1

Tahun 1 dimulai dengan matakuliah technopreneurship sebagai matakuliah jangkar pertama. Mahasiswa diajak untuk memahami peranan teknologi dalam berwirausaha. Fakta-fakta menunjukkan bahwa muatan inovasi teknologi menentukan tingkat keberlanjutan dan pertumbuhan wirausaha. Tidak cukup hanya dengan memahami, mahasiswa ditantang untuk memberikan nilai tambah dan inovasi pada teknologi yang sudah ada. Melalui matakuliah ini mahasiswa mulai dilatih untuk secara sekilas melihat kebutuhan masyarakat kemudian mencari teknologi yang sudah ada sebagai alat memenuhi kebutuhan tersebut.

Tahun 2

Tahun 2 diberikan matakuliah: 1) Analisis dan Kreativitas Berpikir; dan 2) Ide dan Peluang Bisnis. Analisis dan Kreativitas Berpikir secara sistematis mulai diajarkan cara mendefinisikan masalah, mencari ide solusi kreatif, mematangkan ide, mewujudkan, memvisualisasikan, dan memamerkannya. Ide dan Peluang Bisnis, mahasiswa diajarkan bagaimana mematangkan hasil kreativitas menjadi konsep bisnis. Hasilnya berupa proposal rencana bisnis yang matang, detail, dan siap didanai. Di mata kuliah ini, mahasiswa dibagi dalam kelompok kecil, masing-masing terdiri dari 4 – 5 orang. Konsep bisnis tiap kelompok dipresentasikan dan dikompetisikan melalui beberapa tahap penjurian. Ujian akhir pada kedua mata kuliah ini berupa pameran yang digelar untuk umum dan dinilai oleh juri yang kompeten di bidangnya. Tiap tahun, tema pameran berubah disesuaikan dengan isu yang sedang marak. Hal ini dilakukan supaya mahasiswa peka terhadap isu di sekitarnya.

Tahun 3

Tahun 3 diberikan matakuliah Pengembangan Bisnis, mahasiswa diberi waktu tiga bulan untuk menjalankan bisnis riil. Setiap tiga minggu mereka harus mempresentasikan perkembangan bisnisnya di hadapan tim dosen entrepreneurship untuk dievaluasi. Mereka dibimbing untuk mempraktekkan fungsi-fungsi bisnis dalam bisnis nyata mereka. Proses pelaksanaan Bisnis riil selama lima bulan yang disertai dengan presentasi, evaluasi, dan perbaikan merupakan implementasi dari metode experiental learning. Selanjutnya mahasiswa dipersiapkan untuk secara nyata terjun membangun bisnis bersama masyarakat melalui kegiatan pengembangan masyarakat. Setiap kelompok, 7 – 8 mahasiswa tinggal selama satu bulan di rumah penduduk yang bersedia menjadi mitra bisnis. Selama sebulan mereka bersama-sama mengembangkan produk dari komoditas daerah tersebut, kemudian memasarkan dan mengelolanya. Di akhir tahun, kelompok mahasiswa dan mitra bisnisnya tetap bekerja bersama mempertahankan dan mengembangkan bisnis. Tujuan aktivitas ini adalah melatih adaptasi dan kepedulian sosial mahasiswa. Di mana pun berada, mahasiswa harus mampu menyesuaikan diri dan member nilai tambah. Untuk masyarakat, aktivitas ini terbukti mampu meningkatkan penghasilan mereka dan membangkitkan semangat serta inspirasi baru.

Tahun 4

Di tahun ke-4 mahasiswa dipersiapkan untuk mengerjakan tugas akhir berupa proyek bisnis. Mereka bekerja secara kelompok, terdiri 3 – 5 orang. Berbeda dengan apa yang sudah mereka lakukan di tahun ke-2, di sini yang ditonjolkan adalah proses pengembangan bisnis yang lebih formal dan terukur. Tidak menutup kemungkinan bisnis yang sudah mereka jalankan sejak di tahun ke-2 bisa dilanjutkan untuk tugas akhir, dengan menambahkan unsur inovasi. Di akhir tahun, bisnis mahasiswa diharapkan sudah bisa diluncurkan kemudian dianalisa perkembangannya. Perbaikan dan modifikasi model bisnis dimungkinkan di tahap ini. Selama beberapa tahun terakhir ini, aktivitas laboratorium entrepreneurship telah menghasilkan puluhan karya kreatif mahasiswa dengan tema tertentu dan beberapa binis riil. Lebih penting dari itu adalah didapatkannya faktor-faktor yang menentukan keberhasilan bisnis yang dijalankan dari bangku kuliah.

Dewasa ini proses penciptaan manfaat (value creation) tidak hanya melibatkan produsen, melainkan juga konsumen dalam sebuah kolaborasi. Oleh karena itu, produsen perlu menciptakan platform yang transparan untuk memfasilitasi aspirasi konsumen dan menjadi penghubung antar-konsumen. Yahoo Messenger, Wikipedia, Youtube, FaceBook, Twitter, Google, BlackBerry adalah contoh platform yang sangat efektif menstimulasi penciptaan manfaat (value creation) oleh konsumen. Maka mereka mempunyai ratusan juta pengguna di seluruh dunia yang masih akan tumbuh lagi. Mahasiswa S1 STMIK Raharja selalu ditantang menciptakan kreasi dengan menggunakan teknologi informasi untuk membangun komunitas di dunia maya. Diharapkan, komunitas ini bisa menjadi saluran pasar bisnis mereka di kemudian hari.

Setelah laboratorium entrepreneurship memberi pengalaman tentang bisnis riil kepada mahasiswa melalui matakuliah utama, tantangan selanjutnya adalah bagaimana bisnis tersebut bertahan. Ibarat memanah, aktivitas di laboratorium adalah merentangkan anak panah, membidik, kemudian melepasnya. Setelah anak panah lepas, banyak faktor luar yang tidak bisa dikendalikan oleh laboratorium. Yang bisa dilakukan adalah selalu memperbaiki desain laboratorium entrepreneurship untuk memperkuat daya tahan bisnis mahasiswa dan mempercepat proses keberhasilan (Suhartanto, 2009). Laboratorium ini masih terus berkembang. Perbaikan-perbaikan dilakukan berdasarkan hasil-hasil aktivitas dan masukan para praktisi bisnis, serta dari para mahasiswa sebagai pelaku proses dalam laboratorium. Di waktu yang akan datang, dari hasil aktivitas, pengamatan, dan penelitian di laboratorium ini diharapkan muncul model laboratorium entrepreneurship yang lebih solid dan mudah diimplementasikan.

10.6. Hambatan Kreativitas Entrepreneurship Menurut Ciputra

            UCEC (Universitas Ciputra Entrepreneurship Center) mendefinisikan inovasi sebagai hasil kreativitas dalam ragam aspek bisnis yang disambut pasar atau publik (target audiences) sedemikian rupa hingga pasar atau publik tidak sanggup mengatakan tidak. Jadi Pak Ciputra menyatakan bahwa karva inovasi harus dapat muncul di seluruh pelosok dari fungsi bisnis dan satu sama lain menciptakan interaksi sinergis, sehingga secara keseluruhan menciptakan multiplikasi nilai tambah. Inilah yang disebut sebagai strategi membuat pelanggan tidak sanggup mengatakan tidak dan ini pula yang disebut  Pak Ciputra sebagai keentrepreneuran. Gagasan Pak Ci ini mirip dengan Alan G. Lafley yang pernah menjadi Chairman dari P&G di tahun 2000. Menurut Alan, innovation itu adalah “across the spectrum”. Dave Whitwam yang pernah menjadi CEO Whirlpool pada 1999 menggunakan kalimat “Innovation from Everyone and Everywhere,”

Pak Ciputra memiliki keyakinan kuat bahwa betapa pentingnya kreativitas sebagai dasar inovasi dan keentrepreneuran. Ia berkali-kali mengatakan hahwa “otak kanan” kita terbengkalai. Sekolah lebih banyak mempromosikan “otak kiri” saja. Tidak heran bila orang dewasa yang kreatif merupakan “kaum minoritas”. George Land pada akhir 1960-an melakukan tes kreativitas dikalangan anak hingga dewasa. Hasilnya sangat mengejutkan. Dari 280.000 responden dewasa, hanya 2% yang kreatif. Sedangkan anak usia 5 tahun, 98% kreatif. Usia 10 tahun, 30% kreatif. Usia 15 tahun, 12% kreatif. Makin dewasa ternyata makin tidak kreatif. George Land menyimpulkan: “non-creative behavior is learned.” Jadi, berhati-hatilah dengan pendidikan sekolah dan pendidikan keluarga yang memiliki potensi membunuh kreativitas (Riant Nugroho, 2010). Selanjutnya, jadilah kelompok minoritas kreatif yang percaya diri. Dengan jumlah yang hanya sedikit itu terdapat tanggung jawab besar yaitu untuk menciptakan pembaharuan di segala bidang. Edward de Bobo mengatakan: There is no doubt that creativity is the most important human resource of all. Without creativity, there would be no progress, and we woidd beforever repeating the same patterns.

Barangkali, pesan Roger Von Oech, pelatih kreativitas terkemuka yang mendapatkan Ph.D. dari Stanford University di bidang “History of Ideas”, ini patut diperhatikan. Dalam salah satu bukunya berjudul A Whack on the Side of the Head menyebutkan terdapat 10 halangan menjadi kreatif, yaitu:

  1. Trying to Find the “Right” Answer
  2. Logical Thinking
  3. Following Rules
  4. Being Practical
  5. Play is Not Work
  6. That’s Not My Job
  7. Being a “Serious” Person
  8. Avoiding Ambiguity
  9. Being Wrong is Bad
  10. I’m Not Creative

Bila kita perhatikan baik-baik, sebagian besar anak-anak kita di sekolah maupun di rumah juga mengalami ke sepuluh penghalang itu. Mari kita urai.

  1. Trying to Find the “Right” Answer. Temukan jawaban yang tepat. Siapa bilang untuk setiap persoalan hanya ada satu jawaban yang tepat.
  2. Logical Thinking. Pakai akal sehatmu! Tidak semua hal dalam kehidupan bisa diterangkan secara logika.
  3. Following Rules: Ikuti aturan yang sudah ada! Ada aturan yang harus diikuti, ada yang harus diganti karena kedaluwarsa, dan ada yang harus dilanggar karena ternyata dulu salah.
  4. Being Practical: Langsung saja to the point, jangan mutar-mutar! Padahal peserta didik yang berputar-putar sedang melakukan eksplorasi lebih luas.
  5. Play is Not Work: Kok main terus! Siapa bilang tidak ada proses kreatif dalam bermain.
  6. That’s Not My Job: Kerjakan saja apa yang jadi pekerjaanmu! Dia tertarik dengan pekerjaan temannya karena itu lebih memiliki tantangan kreativitas dan cocok dengan talentanya.
  7. Being a “Serious” Person: Jangan bercanda ya! Bercanda memang harus ada tempatnya namun bukan berarti sama sekali tidak boleh. Dalam tertawa ide-ide segar keluar lebih lancar.
  8. Avoiding Ambiguity. Jangan cari yang repot, yang jelas-jelas saja! Entre­preneur akan selalu menghadapi ambiguitas. Bila sejak kecil tidak dibiasakan berani menghadapi ambiguitas akan sangat sukar untuk sukses dalam keentrepreneuran.
  9. Being Wrong is Bad: Kalau kamu salah akan dihukum! Kalah dan menang, gagal dan berhasil, memiliki nilai sama. Hukuman-hukuman untuk “kesalahan” secara berlebihan atau tidak ada toleransi terhadap kegagalan, akan membuat jiwa muda takut gagal.Tidak ada orang yang takut gagal bisa berhasil hidupnya.
  10. I’m Not Creative: Kamu memang tidak kreatif! Ini adalah pelabelan yang sangat mahal biaya sosialnya. Seorang anak yang disuntikkan pesan tidak kreatif secara terus menerus akan menanggung akibatnya sampai pada akhir kehidupannya.

Kaitan pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi (kesejahteraan) akan makin erat bila kita mendekatkan strategi pendidikan dengan kepentingan pertumbuhan ekonomi. Inilah yang kami sebut sebagai integrasi pendidikan entrepreneurship ke dalam kurikulum nasional. Namun bila kita ingin mencapai kesejahteraan dengan waktu singkat atau bila kita ingin menghapuskan kemiskinan dan pengangguran melalui pendidikan, tetapi hanya mengandalkan sekolah dan perguruan tinggi, maka itu semua tidak akan memadai untuk memikul keseluruhan beban. Alvin dan Heidi Toller, pengarang dari Future Shock dan The Third Wave, dalam bukunya Revolutionary Weilth menyatakan: It would be naiveto as sume that india or china can wipe out proverty with technology alone. No country can. We have repeated throught  that the wealth revolution more than  computers and hardwares – more in fact, than economics. It is clearly a social, institutional, educational, cultural and political revolution as well.

10.7.    Inspirasi Inovasi Entrepreneurship

10.7.1. Pendidikan Entrepreneur Menjadi Pemeran Kunci: Kuffman Foundation Berbagi Kepada Indonesia

Untuk mengintegrasikan pembelajaran entrepreneurship ke dalam pendidikan nasional, maka peran para pendidik sangat penting. Saya berkeyakinan bahwa entrepreneurship tidak bisa hanya diajarkan lewat buku. Ini seperti berenang. Kita butuh kolam renang dan pelatih yang tahu bagaimana mengajarkan berenang. Permasalahan ini terus saya pikirkan hingga pada tahun 2007 di acara Earnst & Young World Entrepreneur of the Year, di Monako, saya bertemu Dr.Cral Schramm, Presiden dari Kauffmann Foundation. Saya memang pernah mendengar tentang program global Scholar Program yang dilakukan Kuffman Foundation atas permintaan perdana Menteri Gordon Brown dari Inggris. Ini program untuk mempersiapkan lulusan S2 dan S3 dari jurusan Science, Engineering dan Technology untuk mampu menjadi entrepreneur kelas dunia.

Saya meminta Dr. Schramm agar Indonesia mendapat kesempatan agar ikut serta. Ia menyetujuinya. Namun saya berpikir yang kita lebih butuhkan adalah para pengajarnya, bahkan sekadar entrepreneurnya. Sebab, pengajar keentrepreneuran akan menghasilkan jauh lebih banyak entrepreneur. Karena itu saya meminta kepada Dr. Schramm agar untuk Indonesia pelatihannya dikhususkan bagi mereka yang menjadi pengajar keentrepreneuran. Mempertimbangkan dan mempersiapkan. Namun setelah itu ia menyetujuinya. Sebagai langkah awal, tahun lalu UCEC mengirim 5 dosen, 4 dari Universitas Ciputra dan 1 dari Universitas Tarumanegara.

Sepanjang tahun 2009 UCEC (Universitas Ciputra Enterpreneurship Center) melalui Dirjen Pendidikan Tinggi mendapatkan kesempatan untuk berbagi materi pelatihan Keenterpreneuran kepada lebih dari 1.300 dosen dan 317 perguruan tinggi di Indonesia dalam acra TOT (Training of Trainers) di 7 kota besar Indonesia. Keterlibatan saya dalam TOT ini makin menguatkan saya tentang betapa pentingnya menciptakan lebih banyak dosen yang mengetahui praktik-praktik pembelajaran entrepreneurship terbaik dunia. Ini berarti perlu lebih banyak dosen Indonesia yang dapat memperoleh kesempatan belajar di Kauffmann Foundation. Karena itu saya kembali menghubungi Kauffman Foundation untuk meminta jatah lebih banyak. Mereka menyetujuinya dan memberikan kesempatan kepada 20 dosen dari Indonesia. Sebanyak 5 dosen akan pilih dari Universitas Ciputra, Universitas Tarumanegara, dan Sekolah Tinggi Bisnis Manajemen Prasetya Mulia.

Adapun 15 yang lain kami serahkan kepada Dikti untuk memilih. Keseluruhan biaya perorang untuk pelatihan yang sangat istimewa ini adalah US$90.000 selama 6 bulan. Namun, Kauffmann Foundation mendanai 2/3-nya. Sehingga, tiap peserta cukup didanai US$30.000, sudah termasuk biaya pelatihan, akomodasi, dan transportasi selama di Amerika Serikat. Ini tentunya sebuah investasi untuk masa depan yang sangat bernilai. Selain pola pelatihan seperti ini, bentuk lainnya adalah mendatangkan 3-5 pelatih atau dosen berpengalaman dari luar negeri. Selain itu, melatih dosen-dosen atau pelatih keentrepreneuran di Indonesia, sehingga melahirkan entrepreneur-entrepreneur yang akan tersebar lebih luas lagi.

Saya berharap agar ke-16 dosen dari 14 perguruan tinggi ini kelak bukan saja melatih para mahasiswa, namun mereka juga melatih para dosen lain. Saya bersyukur karena di antara 16 dosen tersebut terdapat 2 dosen yang berasal dari Universitas Pendidikan (Universitas Negri Jakarta dan Universitas Negeri Semarang). Saya berpendapat peran mereka besar sekali. Seandainya setiap perguruan tinggi pendidikan di Indonesia dapat menyiapkan program untuk mendidik dan melatih para pendidik keentrepreneuran, dampaknya akan besar sekali dalam mempercerpat penyebarluasan semangat dan kecakapan keentrepreneuran. Memang setiap tahun harus kita tambahkan jumlah para guru dan dosen yang mampu mengajarkan keentrepreneuran dengan metodologi yang cepat.

Kalau ini semua bisa kita laksanakan secara konsisten, maka terjadi “quantum leap” dalam pertumbuhan ekonomi kita sekaligus melakukan pemeratan kesejahteraan kepada seluruh anak bangsa. Ini realitas yang dapat dijangkau. Dengan cara ini kita menumbuhkan perekonomian nasional. Bukan sekedar dengan cara mendorong investasi nasional dan multinasional. Tapi kita juga menumbuhkannya dengan memberdayakan sebanyak mungkin lulusan perguruan tinggi untuk mampu mendirikan usaha kecil dan menengah yang inovatif. Mereka bukan lagi bagian dari masalah. Mereka telah berubah menjadi bagian dari solusi. Mereka mampu menciptakan lapangan kerja bagi diri mereka sendiri, untuk masyarakat, dan sekaligus menjadikan mereka sendiri sebagai salah satu aktor pertumbuhan ekonomi, inilah cita-cita, perjuangan dan harapan kita semua (Sebuah Pengalaman Pribadi Dr. (HC) Ir. Ciputra).

10.7.2. Wirausaha Tidak Bisa Dilatih

Kalimat di atas adalah judul berita sebuah harian nasional pada 18 November 2010. Kalimat ini mengutip pernyataan dari Carl Scharman, Presiden dan CEO Kauffman Foundation, ketika di Jakarta. Kauffman Foundation adalah sebuah yayasan terbesar di Amerika Serikat yang mempromosikan dan menyebarluaskan semangat entrepreneurship di Amerika Serikat dan di seluruh dunia. Salah satu program dunia dari Kauffman Foundation adalah kampanye GEW (Global Entrepreneurship Week) yang saat ini diselenggarakan di 112 negara dan pembukaannya dilakukan pada 15 November 2010 lalu di Jakarta.

Apakah betul entrepreneurship tidak bisa dilatihkan? Bagaimana dengan pernyataan Peter Drucker yang mengatakan: the entrepreneural mystique? It’s not magic, it’s not mysterious, and is has nothing to do with the genes. It’s a diciplineand like any dicipline, it can be learned. Memang kalau hanya judulnya yang dibaca, tanpa membaca keseluruhan berita, maka dapat muncul pemahaman menyimpang. Jadi apakah betul entrepreneurship  tidak bisa dilatihkan? Jawabannya, ya! Pelatihan entrepreneurship tidak akan menolong orang yang tidak memiliki “kharisma” seperti disebutkan Dr.Schramm, dan yang ia maksud dengan kharisma adalah orang-orang yang memiliki visi atau impian dan semangat luar biasa (sekali lagi luar biasa) untuk mewujudkan impiannya itu. Dr.(HC) Ir.Ciputra, pelopor pendidikan entrepreneurship di Indonesia, mengatakan bahwa menjadi entrepreneur ada tiga, yaitu: ingin sekali jadi entrepreneur, semanget, dan percaya diri. Kharisma dan bakat itu tentu sebuah pilihan, bukan keturunan.

Jadi bagaimana menyimpulkan semua ini? Kami percaya bahwa entrepreneurship  dapat diajarkan dan menghasilkan orang-orang yang sanggup menciptakan usaha baru asalkan 4 syarat ini terpenuhi. Pertama, the right people. Mereka yang dilatih adalah orang-orang yang tepat, yaitu mereka yang datang kepelatihan bukanlah orang-orang yang dipaksa untuk berlatih atau didorong-dorong untuk berlatih keentrepreneuran. Sebaliknya adalah mereka yang terinspirasi memiliki motivasi besar untuk belajar dan bekerja keras jadi entrepreneur. Kedua, the right trainer atau pelatih yang tepat. Ini sangat penting karena membentuk manusia entrepreneur adalah membangun manusia holistik, bukan hanya mengajarkan kecakapan teknis seperti membuat kue atau memperbaiki kulkas. Kecakapan entrepreneur adalah kecakapan yang kompleks, merupakan keterpaduan antara mindset, karakter, kecakapan hidup, dan pengetahuan bisnis.

Seorang trainer entrepreneur harus mampu menginspirasi pola pikir entrepreneur, mengembangkan pelatihan untuk membangun karakter, mengasah kecakapan hidup, dan membuka wawasan bisnis mereka yang dilatih. Pelatihan yang menghasilkan entrepreneur yang sanggup membuka usaha baru. Tidak hanya mengajarkan pengetahuan (to know) entrepreneurship. Tidak gampang tentunya mencari pelatih dengan kaliber itu. Namun dari kalangan kami bila sebuah tim yang kompatibel satu sama lain, termasuk didalamnya seorang mentor bisnis yang berpengalaman, maka tim ini dapat menjadi tim pelatih yang tepat (the right trainers).

Ketiga, harus terdapat metodologi yang tepat (the right method). Mengajarkan entrepreneurship seperti mengajarkan berenang. Kita tidak bisa mengajarkan berenang dengan kursus tertulis atau tanpa kolam renang yang bisa membuat peserta pelatihan “basah”. Pembelajaran entrepreneurship sepatutnya melalui sebuah pembelajaran berdasarkan pengalaman (experiential learning) yang terencana dan terstruktur yang baik. Melatih kecakapan entrepreneurship jangan sampai tereduksi dengan hanya pelatihan membuat rencana bisnis (business plan). Seakan-akan kalau rencana bisnisnya bagus, maka bisnisnya pun akan sukses. Ini keliru, paling tidak untuk dua alasan. Pertama, rencana bisnis memiliki banyak asumsi yang belum tentu cocok dengan lapangan sehingga penyesuaian lapangan harus dilakukan. Kedua, pada waktu pelaksanaan akan terjadi perjumpaan dengan yang tak terduga, tak terpikirkan, kejutan, dan “tikungan” tajam yang juga tak terduga. Semuanya tidak ada dalam rencana bisnis. Membuat rencana bisnis barulah sebagian kecil dari keseluruhan entrepreneurship.

Sebagian besar yang lain berupa kelenturan terhadap perubahan, ketangguhan menghadapi masalah, kreatifitas mencari solusi baru, dan kecakapan untuk menemukan dukungan-dukungan tambahan. Keempat, harus terdapat lingkungan belajar yang cocok (the right environment). Suasana belajar dan lingkungan pelatihan harus positif dan kondusif terhadap keinginan dan usaha menjadi entrepreneur. Entrepreneur tidak kebal terhadap kegagalan. Sukses dan gagal memiliki nilai sama bagi seorang entrepreneur. Bila lingkungan tidak toleran terhadap kegagalan dan tidak membangun keinginan jadi entrepreneur maka, “bakat” dan “kharisma” mengatakan bahwa sebagai mahasisiwa Universitas Ciputra pernah mengatakan bahwa sebagai mahasiswa Universitas Ciputra, ia merasa malu kalau selama kuliah tidak memiliki sebuah bisnis. Inilah sebuah contoh lingkungan entrepreneur yang kondusif. Suasana keentrepreneuran di Universitas Ciputra memang sengaja dibangun dan dikobarkan terus menerus. Tanpa dukungan dari sekolah, keluarga dan masyarakat memang akan sulit untuk membangun sebuah lingkungan yang positif terhadap entrepreneurship, padahal itu sangat dibutuhkan.

Carl Scharmm juga mengatakan bahwa tujuan dari pendidikan dan pelatihan adalah untuk mengurangi resiko gagal. Ini tepat sekali karena dengan bekal pendidikan entrepreneurship, resiko kegagalan bisnis dapat direduksi menjadi lebih kecil. Data yang di peroleh melaui tabulasi khusus dari Bureau of the census yang dipersiapkan untuk Office of Advocacy of the U.S. Small Business Administration menunjukan bahwa setelah 10 tahun hanya 29% dari UMKM Amerika Serikat yang masih mampu bertahan. Ia menunjukan dengan jelas bahwa persiapan lebih dini dan persiapan lebih matang melalui pendidikan dan pelatihan sangat dibutuhkan untuk melahirkan entrepreneur-entrepreneur baru yang memiliki peluang sukses lebih besar.

Jadi bagaimana kita menyimpulkannya? Entrepreneurship memang bisa dipelajari dan dilatihkan dengan syarat-syarat itu tapi jangan dilatihkan ke sembarang orang. Untuk itu terdapat dua langkah implementasi yang bisa dilakukan pemerintah atau pengelola pendidikan di Indonesia. Pertama, ajarkan pemahaman dasar keentrepreneuran  untuk menginsprirasi semua peserta didik, diperlukan sebuah standar “enrepreneurship literacy” yang patut dimiliki oleh setiap peserta didik kita di seluruh nusantara.  Kalau menyanyi saja kita ajarkan di sekolah-sekolah, walaupun tidak semua orang akan jadi penyanyi kenapa tidak kita ajarkan juga “entrepreneurship literacy” untuk semua anak dibangku sekolah walaupun tidak semua akan jadi entrepreneur dalam dunia bisnis? Kedua, ciptakan program khusus untuk mereka yang menunjukkan “bakat” (ingin sekali, semangat, dan percaya diri) atau “kharisma” (visi dan semangat seperti yang dikatakan Carl Schramm). Mereka yang sudah memiliki modal SDM awal ini perlu kita dukung dan fasilitasi untuk dapat belajar, bertumbuh, dan berkembang jadi entrepreneur yang bisa menolong diri sendiri dan sesamanya dengan cara membuka lapangan kerja (Antonius Tanan- Presiden UCEC).

Evaluasi Mandiri

  1. Apa yang dimaksud dengan konsep inovasi dan apa manfaatnya untuk mengembangkan bisnis Anda!
  2. Sebutkan karakteristik dari inovasi dilihat dari sisi konsumen, bisnis, dan negara!
  3. Jelaskan secara singkat perbedaan antara kreativitas dan inovasi!
  4. Berikan salah satu contoh penelitian tentang organisasi yang inovatif dan jelaskan kesimpulan hasil penelitian tersebut!
  5. Jelaskan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi untuk keberhasilan pendidikan dan pelatihan entrepreneurship!
  6. Jelaskan istilah-istilah berikut: mentor, business creation, business operation, business growth, dan business revitalization!
  7. Jelaskan secara singkat proses pembelajaran yang harus dilakukan dalam laboratorium entrepreneurship!
  8. Jelaskan secara singkat dimensi-dimensi utama yang diperlukan dalam rangka pengembangan pengembangan laboratorium entrepreneurship!
  9. Jelaskan secara singkat hambatan-hambatan kreativitas dalam sistem pendidikan dan pengajaran di sekolah!
  10. Inspirasi apa yang dapat Anda ambil dari pengusaha sukses Ciputra!
Daftar Pustaka

A.B. Susanto. 1997.  Budaya Perusahaan: Manajemen dan Persaingan Bisnis 1. Elex Media Komputindo: Jakarta.

Ahmadi, 2010. “Evaluasi Kinerja Wirausahawan Etnik China Lulusan SMK di Kota Singkawang  Kalimantan Barat”. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 16 (5), 499-519.

Bygrave, William D. 2004. The Portable MBA in Entrepreneurship. New Jersey: John Wiley and Sons, Inc.

Ciputra, Tanan, A. & Agung, W. 2011. Ciputra Quantum Leap 2 Kenapa dan Bagaimana?. Elex Media Komputindo: Jakarta.

Drucker, Peter F, 2004. Innovation and Entrepreneurship: Practices and Principles. Penerjemah Rusdi Naif. Jakarta: Gelora Aksara Pratama.

Hisrich, Robert P., and Michael P. Peters. 2005. Entrepreneurship. New York: McGraw-Hill.

Kao, John J, 1999. Entrepreneurship, Creativity and Organization: Text, Cases and Reading, New Jersey: Harvard Business School-Prentice Hall, Inc.

Kolb, David A. 1994. Experiential Learning. New Jersey: Prentice Hall, Inc

Lambing, Peggy, and Charles R. Kuehl, 2000. Entrepreneurship, New Jersey: Prentice Hall International, Inc.

Meredith G., Geoffrey. 1996. Kewirausahaan: Teori dan Praktek, Jakarta: Pustaka Binaman Presindo.

Mukhtar, Samsu, 2003. Evaluasi yang Sukses: Pedoman Mengukur Kinerja Pembelajaran. Jakarta: Sasama Mitra Suksesa.

Purba, C. Isabela, 2011. “Melahirkan Generasi Baru Wirausahawan Indonesia”. Campus Indonesia, I (3), pp.16-17.

Prawirokusumo, Soeharto, 2007. Peranan Pendidikan Tinggi dalam Menciptakan Wirausaha-Wirausaha Tangguh. Makalah Seminar. Jakarta: Universitas Budi Luhur.

Reniati, 2013. Kreativitas Organisasi & Inovasi Bisnis: Implementasi pada IKM Berbasis Kreativitas dan Budaya Menuju Keunggulan Bersaing Global. Alfabeta: Bandung.

Riant Nugroho. 2010. Memahami Latar Belakang Pemikiran Entrepreneurship Ciputra. Elek Media Komputindo: Jakarta.

Robbins, Stephen P., 1998, Organizational Behavior: Concepts, Controversiess, Application, 8th ed,  Prentice-Hall International, Inc.: New Jersey.

Rogers, Everett M, 1995. Diffusion and Innovations. New York: The Free Press.

Rachman, A. 2012. Dalam Memotivasi dan Mendidik Harus Nyaman. The Intrepreneur, I (2), pp. 9-12.

Suhartanto, Eko. 2010. “Laboratorium Entrepreneurship”, Majalah Investor, edisi Maret dan April.

Suhartanto, Eko. 2010. “Designing a Laboratory of Entrepreneurship at Prasetiya Mulya Business School”, Proceeding of Indonesia Conference on Innovation, Entrepreneurship, and Small Business (ICIES).

Soehadi, Agus W. 1010. “Presentation and Discussion in Entrepreneurship Education Concept for Undergraduate Program of Prasetiya Mulya Business School”, unpublished.

Siswono, Safitri, 2010. Prasetiya Mulya on Innovation: Kekayaan Perspektif untuk Mendesain Hari Esok yang Lebih Baik. Jakarta: Prasetiya Mulya Publishing.

Suryana, 2008. Kewirausahaan Pedoman Praktis: Kiat dan Proses Menuju Sukses, Jakarta: Salemba Empat.

Sagala, Syaiful, 2007. Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung: Alfabeta.

Sanjaya, Wina, 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Tidd, Joe, John  Bessant, and Keith Pavitt, 1994,  Managing Innovation: Integrating Technological, Market and Organizational Change, New York: John Wiley and Son, Inc.

Winkel, W.S. 2004. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.

Zimmerer, W, Thomas, Norman, M. Scarborough, 1996, Entrepreneurship and the New Venture Formation, New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Zuhal, 2010. Knowledge & Innovation-Platform Kekuatan Daya Saing. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

 

 

 

 

 

Leave A Reply