Back

NILAI, PERSEPSI DAN SIKAP INDIVIDU

BAB VIII

NILAI, PERSEPSI DAN SIKAP INDIVIDU

 

Tidak ada yang semudah kelihatannya, semuanya memakan waktu
lebih lama dari yang seharusnya, dan jika sesuatu berpotensi gagal,
hal itu akan gagal dan terjadi dalam momen terbaik.

Hukum Murphy

 

Tidak ada yang sesulit kelihatannya, semuanya lebih bernilai dari
yang seharusnya, dan jika sesuatu berpotensi benar, hal itu pasti akan
benar dan terjadi dalam momen terbaik.

 Hukum Maxwell

Pembahasan Materi

Pembahasan dalam bab ini meliputi: pengertian nilai, kerangka Hofstede menilai budaya, kerangka GLOBE menilai budaya, nilai, kesetiaan, dan perilaku etis, implikasi nilai terhadap perilaku organisasi. Konsep persepsi, teori hubungan atau attibution theory, persepsi terhadap orang lain, persepsi selektif, efek halo, efek kontras, proyeksi, dan pembentukan stereotipe. Konsep sikap atau attitude, sikap positif dan sikap negatif, komponen-komponen sikap, dan sikap kerja.

8.1. Pengertian Nilai (Value)

            Nilai (value) menunjukan alasan dasar bahwa cara pelaksanaan atau keadaan akhir tertentu lebih disukai secara pribadi atau sosial dibandingkan cara pelaksanaan atau keadaan akhir yang berlawanan. Nilai memuat elemen pertimbangan yang membuat ide-ide seseorang individu mengenai hal-hal yang benar, baik, atau diinginkan. Nilai memiliki sifat isi dan intensitas. Sifat isi menyampaikan bahwa cara pelaksanaan atau keadaan akhir dari kehidupan adalah penting. Sifat intensitas menjelaskan betapa pentingnya hal tersebut. Ketika menggolongkan nilai seseorang individu menurut intensitasnya, kita mendapatkan sistem nilai (value sistem) orang tersebut. Setiap dari kita memiliki hierarki nilai yang membentuk sistem nilai kita. Sistem ini diidentifikasikan oleh kepentingan relatif yang kita tentukan untuk nilai seperti kebebasan, kesenangan, harga diri, kejujuran, kepatuhan, dan persamaan.

            Nilai dapat diartikan sebagai keyakinan orang yang membimbing orang dalam bertindak dan menilai dalam berbagai situasi. Ada alasan yang mendasar mengapa kita perlu memahami nilai yang dipegang seseorang (Badeni, 2013). Pertama, nilai merupakan atribut individu. Kedua, nilai meletakkan dasar untuk memahami sikap, persepsi, motivasi, dan perilaku seseorang. Misalnya seseorang yang sangat menjunjung tinggi komitmen kejujuran, ketika ia diminta mengerjakan pekerjaan yang mengandung unsur kebohongan maka ia akan berat hati menerimanya. Atau seseorang yang punya keyakinan bahwa kenaikan jabatan seharusnya didasarkan pada prestasi kerja, namun ketika ia memasuki suatu organisasi kerja ternyata lembaga organisasi itu memberikan kenaikan jabatan seseorang mengandalkan senioritas, maka ia akan kecewa  dan kurang bersemangat kerja. Tentunya akan sebaliknya ketika seseorang memasuki atau bekerja pada organisasi yang segaris dengan nilai yang ia pegang (Robbins & Judge, 2008).

Nilai penting terhadap penelitian prilaku organisasional karena menjadi dasar pemahaman sikap dan motivasi individu, dan karena hal tersebut berpengaruh terhadap persepsi kita. Individu memasuki suatu organisasi dengan pendapat yang telah terbentuk sebelumnya tentang apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya terjadi. Tentu saja, pendapat-pendapat ini tidak bebas dari nilai. Sebaliknya, hal tersebut memuat interprestasi-interprestasi mengenai apa yang benar dan yang salah. Selanjutnya, timbul implikasi bahwa perilaku atau hasil-hasil tertentu lebih disukai dari yang lain. Akibatnya, nilai menutupi objektivitas dan rasionalitas. Nilai dapat diartikan sebagai keyakinan universal yang membimbing orang dalam bertindak dan menilai dalam berbagai situasi. Nilai mengandung unsur pertimbangan atau gagasan seseorang mengenai benar atau salah.

8.2. Kerangka Hofstede Menilai Budaya

Salah satu pendekatan yang palingbanyak digunakan untuk menganalisis variasi kultur dibuat pada akhir tahun 1970-an oleh Greet Hofstede. Geert Hofstede (1993) berdasarkan hasil penelitiannya menyimpulkan ada 6 variasi nilai untuk menganalisa variasi budaya:

  1. Jarak kekuasaan (power distance). Tingkatan dimana individu di dalam suatu Negara setuju bahwa kekuatan atau kekuasaan institusi dan organisasi didistribuskan secara tidak sama. Peringkat tinggi atas jarak kekuasaan berarti bahwa ketidaksamaan kekuataan dan kekayaan yang besar ada ditoleransi dalam kultur tersebut. Kultur-kultur seperti ini cenderung mengikuti sistem kelas atau kasta yang tidak mendukung mobilitas warga negaranya ke atas. Peringkat jarak kekuasaan yang rendah menunjukan bahwa kultur tersebut tidak mendukung perbedaan antara kekuataan dan kekayaan. masyarakat ini menekankan persamaan dan peluang.
  2. Individualisme (individualism) melawan kolektivisme (collectivism). Individualism adalah tingkatan dimana individu lebih suka bertindak sebagai individu dari pada sebagai anggota suatu kelompok dan menjunjung tinggi hak-hak individual. Kolektivisme menekankan kerangka sosial yang kuat dimana individu mengharapkan individu lain dalam kelompok mereka untuk melindungi dan menjaga mereka.
  3. Maskulinitas (masculinity) melawan feminitas (feminity). Tingkatan dimana kultur lebih menyukai peran maskulin tradisional seperti pencapaian, kekuatan, dan pengendalian melawan kultur yang memandang pria dan wanita memiliki kedudukan yang sejajar. Penilaian maskulinitas yang tinggi menunjukan bahwa terdapat peran yang terpisah untuk pria dan wanita, dengan pria yang mendominasi masyarakat. Penilaian feminitas yang tinggi berarti bahwa terdapat sedikit perbedaan antara peran pria dan wanita. Dalam hal ini, tingkat feminitas yang tinggi tidak berarti kultur tersebut menekankan  peran wanita, justru menekankan persamaan antara pria dan wanita. Dalam kultur seperti ini, wanita diperlukan sama dengan pria dalam segala aspek kehidupan masyarakat.
  4. Penghindaran ketidakpastian (uncertainty avoidance). Tingkatan dimana individu dalam suatu Negara lebih memilih situasi terstruktur dibandingkan situasi tidak terstruktur. Dalam budaya dimana tingkat ketidakpastian tinggi, individu memiliki tingkat kekhwatiran yang juga tinggi mengenai ketidakpastian dan ambiguitas. Kultur semacam ini cenderung menekankan hukum, peraturan dan kendali yang didesain untuk mengurangi ketidakpastian. Dalam kultur tingkat ketidakpastian rendah, individu tidak begitu cemas akan ambiguitas dan ketidakpastian serta memiliki toleransi yang lebih besar terhadap keragaman opini. Budaya seperti ini tidak begitu terorientasi pada peraturan, mengambil lebih banyak resiko dan lebih siap menerima perubahan.
  5. Orientasi jangka panjang (long term orientation) melawan orientasi jangka pendek (short term orientation). Ini merupakan poin terbaru dalam tipologi Hofstede, poin ini berfokus pada tingkat ketaatan jangka panjang masyarakat terhadap nilai-nilai tradisonal. Individu dalam orientasi jangka panjang melihat ke masa depan dan menghargai penghematan, ketekunan, dan tradisi. Sementara itu, individu dalam budaya orientasi jangka pendek menghargai masa kini, perubahan diterima dengan lebih siap, dan komitmen tidak mewakili halangan-halangan perubahan.
  6. Kuantitas dan kualitas kehidupan (quantity and quality life). Kuantitas kehidupan adalah sampai tingkatan mana nilai-nilai seperti ketegasan, perolehan uang dan bahan material, serta persaingan tu gagal. Kualitas kehidupan adalah sampai tingkat mana orang menghargai hubungan dan memperlihatkan kepekaan dan keprihatinan untuk kesejahteraan orang lain.

Bagaimana Negara-negara yang berbeda mendapatkan nilai dalam dimensi-dimensi Hofstede? Robbins & Judge (2008) menjelaskan sebagai berikut. Malaysia memiliki angka indeks paling besar dalam jarak kekuasaan. Ini berarti jarak kekuasaan di Malaysia lebih tinggi daripada di Negara lain manapun, menempatkannya pada peringkat nomor satu. Amerika Serikat paling individualistis diikuti oleh Australia dan Inggris. Amerika Serikat juga cenderung memiliki orientasi jangka pendek dan rendah dalam jarak kekuasaan  (orang Amerika cenderung tidak menerima perbedaan kelas yang sudah ada diantara mereka). Amerika Serikat juga relatif rendah dalam dalam penghindaran ketidakpastian, berarti bahwa sebagian besar orang Amerika relatif toleran terhadap ketidakpastian dan ambiguitas. Amerika Serikat mendapatkan nilai yang relatif tinggi untuk maskulinitas. Berarti sebagian besar warga Amerika mengedepankan peran gender tradisional  (setidaknya relatif dengan Negara-negara lain seperti Denmark, Findlandia, Norwegia, dan  Swedia).

Negara individualitas seperti Amerika Serikat dan Inggris cenderung merupakan negara–negara dengan jarak kekuasaan yang rendah dan Negara-negara kolektivistis seperti Malaysia dan Meksiko cenderung merupakan Negara-negara jengan jarak kekuasaan yang tinggi. Negara-negara Barat dan Utara seperti Kanada atau Belanda cenderung lebih individualistis. Negara-negara yang lebih miskin seperti Meksiko dan Filipina cenderung lebih tinggi dalam jarak kekuasaan. Negara-negara Amerika Selatan cenderung lebih tinggi dalam penghindaran ketidakpastian, dan Negara-negara Asia cenderung memiliki orientasi jangka pendek.

Dimensi-dimensi budaya Hofstede sangat mempengaruhi manajer dan peneliti perilaku organisasi. Meskipun demikian, penelitiannya menuai kritik. Pertama, meskipun data tersebut selalu diperbaharui data yang asli sudah berusia 30 tahun dan didasarkan hanya pada satu perusahaan (IBM). Sejak data tersebut dikumpulkan, telah terjadi banyak hal di dunia ini. Beberapa peristiwa yang paling nyata meliputi jatuhnya Uni Soviet, pembentukan Eropa Tengah dan Eropa Timur, berakhirnya apartheid di Afrika Selatan, penyebaran agama Islam ke seluruh dunia, dan bangkitnya China sebagai kekuatan global. Kedua, beberapa peneliti telah membaca detail dari dari metodologi Hofstede dan oleh karena itu tidak sadar akan banyaknya keputusan dan penilaian yang harus dibuatnya (misalnya mengurangi nilai-nilai budaya menjadi lima). Beberapa dari hasil Hofstde tidak dapat diduga. Sebagi contoh Jepang yang sering dianggap sebagi Negara kolektivitas, dianggap hanya memilki separuh dalam dimensi-dimensi Hofstede. Di samping persoalan–persoaln ini, Hofstede merupakan salah satu ahli ilmu pengetahuan sosial yang paling diuji dimanapun dan kerangkanya telah abadi dalam ilmu perilaku organisasi.

 

8.3.  Kerangka GLOBE Menilai Budaya

Program penelitian Global Leadership and Organization Behavior Effectiveness (GLOBE) adalah suatu penyelidikan lintas budaya mengenai kepemimpinan dan budaya nasional yang terus-menerus dilakukan, dimulai pada tahun 1993. Menggunakan data dari 825 organisasi dari 62 negara, tim GLOBE mengidentifikasikan sembilan dimensi dalam budaya nasional yang saling berbeda (Robbins & Judge, 2008) sebagai berikut:

  1. Tingkatan sampai mana masyarakat mendorong suatu individu untuk bersifat tegar, konfrontatif, tegas, dan kompetitif dibandingkan rendah hati dan lembut.
  2. Orientasi masa depan. Tingkatan sampai mana masyarakat mendorong dan menghargai pada perilaku yang berorientasi pada masa depan, seperti perencanaan, investasi masa depan, dan penundaan kepuasan. Pada dasarnya, hal ini sama dengan orientasi jangka panjang atau jangka pendek milik Hofstede.
  3. Perbedaan gender. Tingkatan sampai mana suatu masyarakat memperbesar perbedaan peran gender. Hal sama dengan dimensi maskulinitas-feminitas dari Hofstede.
  4. Penghindaran ketidakpastian. Seperti yang diidentifikasikan oleh Hofstede, tim Globe mendefiniskan istilah ini sebagai kepercayaan masyarakat kepada norma dan prosedur sosial untuk mengurangi ketidakmampuan dalam memprediksi kejadian masa depan.
  5. Jarak kekusaan. Seperti Hofstede, tim GLOBE mendefinisikan hal ini sebagai tingkatan sampai mana anggota masyarakat dapat menerima kekuasaan dibagi secara tidak adil.
  6. Individualisme atau kolektivisme. Sekali lagi, istilah ini didefinisikan seperti yang didefinisakan oleh Hofstede sebagai tingkatan sampai mana individu didorong oleh situasi–situasi sosial untuk bergabung dalam kelompok-kelompok suatu organisasi masyarakat.
  7. Kolektivisme dalam kelompok. Berlawanan dengan berfokus pada institusi sosial, dimensi ini mencakup hal luas dari bagaimana anggota suatu institusi sosial merasa bangga atas keanggotaannya dalam kelompok kecil, seperti keluarga, teman-teman disekitarnya, dan peruhaaan tempatnya bekerja.
  8. Orientasi kinerja. Hal ini merujuk pada tingkatan sampai mana suatu masyarakat mendorong dan menghargai anggotanya atas peningkatan prestasi dan keunggulan.
  9. Orientasi kemanusiaan. Hal ini didefiniskan sebagai tingkatan sampai mana suatu masyarakat mendorong dan menghargai jndividu untuk bersikap adil, altruistis (mendahulukan kepentingan individu lain) murah hati, perhatian, dan baik terhadap individu lain.

Perbandingan antara dimensi-dimensi GLOBE dengan dimensi–dimensi yang diidentifikasikan oleh Hofstede menunjukkan bahwa GLOBE melengkapi karya Hofstede bukan menggantikannya. Proyek GLOBE menegaskan bahwa keenam dimensi Hofstede masih valid. Bagaimanapun, proyek ini telah menambahkan beberapa dimensi tambahan dan memberi suatu ukuran terbaru angka-angka untuk setiap dimensi dari masing-masing Negara. Seiring berkembangnya generasi dan masuknya imigran-imigran ke suatu Negara, nilai-nilai budaya Negara tersebut dapat berubah. Sebagai contoh, survei GLOBE menunjukkan bahwa Amerika Serikat telah menjadi tidak begitu individualis. Kita dapat mengharapkan penelitian-penelitian lintas budaya di masa depan mengenai perilaku manusia dan praktik-praktik organisasional untuk meningkatkan penggunaaan dimensi-dimensi GLOBE guna menilai perbedaan yang ada di setiap Negara.

8.4. Nilai, Kesetiaan, dan Prilaku Etis

Apakah terdapat penurunan dalam etika bisnis? Skandal-skandal terbaru perusahaan seperti manipulasi laporan keuangan, penyembunyian fakta, dan konflik-konflik kepentingan memang menunjukkan suatu penurunan. Tetapi, apakah ini merupakan sebuah fenomena baru? Meskipun isu ini belum pasti, banyak individu berfikir bahwa standar-standar etika mulai terkikis pada akhir tahun 1970-an. Bagaimanapun manajer terus melaporkan bahwa tindakan atasan mereka merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi perilaku etis dan tidak etis dalam organisai mereka. Dengan adanya fakta ini, nilai yang dimiliki oleh individu yang berada pada posisi manajemen menengah dan atas harus memiliki kaitan dengan seluruh iklim etis dalam sebuah organisasi.

            Selama pertengahan tahun 1970-an, peringkat manajerial didominasi oleh para Veteran, yang setia terhadap para pemberi kerja mereka. Ketika dihadapkan pada dilema etika, keputusan mereka dibuat menurut apa yang paling baik untuk organisasi mereka. Pada pertengahan sampai akhir tahun 1970-an, generasi Boomer naik ke tingkat manajemen yang lebih tinggi. Pada awal tahun 1990-an, sebagian besar posisi manajemen menengah dan puncak dalam organisasi bisnis dipegang oleh Boomers. Kesetiaan Boomers adalah pada karier mereka. Fokus mereka ditujukan ke dalam diri dan perhatian utama mereka adalah menjadi Nomor Satu. Nilai yang berpusat pada diri sendiri ini konsisten dengan penurunan dalam standar etika. Bisakah hal ini mendukung pernyataan tanpa bukti mengenai penurunan dalam etika bisnis yang berawal pada akhir tahun 1970-an? Berita bagus dan potensial dalam berita ini adalah alat saat ini Generasi X sedang bergerak menuju celah-celah manajemen menengah dan dengan segera akan naik ke manajemen puncak. Karena sangat menghargai hubungan, mereka cenderung mempertimbangkan implikasi etis dari tindakan-tindakan mereka terhadap individu lain di sekitar mereka. Hasilnya? kita mungkin melihat peningkatan standar etika dalam bisnis selama satu dekade atau dua dekade berikutnya semata-mata sebagai hasil dari nilai yang berubah dalam posisi manajemen.

8.5.  Implikasi Nilai Terhadap Perilaku Organisasi.

            Dua puluh tahun yang lalu adalah wajar untuk mengatakan bahwa perilaku organisasi memilki bias Amerika yang kuat. Sebagian besar konsep dikembangkan oleh Amerika menggunakan  subjek orang-orang Amerika dalam konteks domestik. Sebagai contoh sebuah penelitian komprehnsif yang dipublikasikan pada awal 1980-an dan mencakup lebih dari 11.000 artikel yang diterbitkan dalam 24 jurnal manajemen dan perilaku organisasi selama lebih dari periode 10 tahun menemukan bahwa kurang lebih 80 persen penelitian dilakukan Amerika Serikat dan orang–orang Amerika, namun zaman telah berganti. Meskipun mayoritas penemuan yang diterbitkan masih berfokus pada orang–orang Amerika, penelitian yang dilakukan setahun terakhir telah memperluas perilaku organisasi secara signifikan untuk mencakup subjek-subjek Eropa, Amerika Serikat, Afrika Selatan dan Asia. Selain itu, terdapat peningkatan yang nyata dalam penilitian lintas budaya oleh tim-tim peneliti dari Negara yang berbeda-beda.

Perilaku organisasi telah menjadi sebuah disiplin ilmu global dan konsep-konsepnya harus mencerminkan nilai-nilai kultural yang berbeda-beda dari setiap individu di negara-negara yang berbeda. Untungnya terdapat banyak penelitian yang telah diterbitkan selama beberapa tahun terakhir, yang memungkinkan kita untuk menentukan dimana konsep-konsep tersebut tidak bisa diterapkan. Setiap kebudayaan terdiri dari suatu nilai yang merupakan sesuatu yang diyakini paling benar. Misalnya untuk masyarakat Indonesia, pemecahan masalah diyakini paling baik melalui musyawarah atau hormat kepada orang tua atau yang lebih tua dapat mendidik orang menjadi orang yang sopan dan ramah.

8.6.  Konsep Persepsi (Perception)

            Ekspresi mengenai orang lain merupakan studi awal tentang persepsi. Secara etimologis, persepsi atau dalam bahasa Inggris perception berasal dari bahasa Latin perception, dari percipere, yang artinya menerima atau mengambil. Menurut Alex Sobur (2002), persepsi dalam arti sempit adalah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu. Sedangkan dalam arti luas, persepsi adalah pandangan atau pengertian, yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. DeVito (1997) mengatakan bahwa persepsi adalah proses ketika kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indra kita. Sedangkan Rachmat (1994) menyatakan bahwa persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Bagi Atkinson et al (2003), persepsi adalah proses saat kita mengorganisasikan dan menafsirkan pola stimulus dalam lingkungan.

Persepsi adalah proses dimana seseorang mengorganisasikan dan menginterpretasikan kesan sensori untuk member arti pada lingkungannya. Oleh karena itu maka dapat terjadi interpretasi yang berbeda terhadap obyek yang sama (Suharsono, 2012). Dengan kata lain suatu obyek dapat memiliki makna yang berbeda-beda bergantung pada interpretasinya. Dalam kajian perilaku organisasi yang menjadi obyeknya adalah manusia. Perilaku manusia sangat dinamis, mudah berubah dan perubahan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti situasi dan kondisi yang terjadi di sekitarnya. Persepsi adalah inti komunikasi, karena jika tidak akurat, kita tidak mungkin berkomunikasi dengan efektif. Persepsilah yang mementukan kita memilih suatu pesan dan mengabaikan pesan yang lain. Semakin tinggi derajat kesamaan persepsi antarindividu, semakin mudah dan semakin sering mereka berkomunikasi dan sebagai konsekuensinya, semakin cenderung membentuk kelompok budaya atau kelompok identitas.

8.7. Teori Hubungan (Attribution Theory)

Persepsi kita tentang individu berbeda dari persepsi kita tentang benda-benda mati seperti meja, mesin atau gedung karena kita membuat kesimpulan tentang berbagai tindakan dari individu yang tidak kita temui dari benda-benda mati. Benda-benda mati bergantung pada hukum alam, tetapi tidak memiliki keyakinan, motif atau niat, sementara manusia memiliki semua hal tersebut. Hasilnya adalah kita mengobservasi individu, kita berusaha untuk mengembangkan berbagai penjelasan tentang mengapa merekea berperilaku dengan cara-cara tertentu. Oleh karenanya, persepsi dan penilaian kita tentang tindakan seseorang akan dipengaruhi secara signifikan oleh asumsi-asumsi yang kita buat tentang keadaan internal orang itu.

Teori hubungan (attribution theory) dikemukakan untuk mengembangkan penjelasan tentang cara-cara kita menilai individu secara berbeda, bergantung pada arti yang kita hubungkan dengan perilaku tertentu. Pada dasarnya, teori ini mengemukakan bahwa ketika mengobservasi perikalu suatu individu, kita berupaya menentukan apakah perilaku tersebut disebabkan secara internal atau eksternal. Namun, sebagian besar penentuan tersebut bergantung pada tiga faktor (Robbins & Judge, 2008): (1) kekhususan, (2) konsensus, (3) konsistensi.

Perilaku yang disebabkan secara internal adalah perilaku yang diyakini dipengaruhi oleh kendali pribadi seorang individu. Perilaku yang disebabkan secara eksternal dianggap sebagai akibat dari sebab-sebab luar, yaitu individu tersebut dianggap telah dipaksa berperilaku demikian oleh situasi. Sebagai contoh, apabila seorang karyawan Anda terlambat kerja, Anda mungkin menghubungkan keterlambatannya dengan pesta sampai larut malam dan kemudian bangun kesiangan. Ini adalah hubungan internal. Tetapi apabila Anda menghubungkan keterlambatannya dengan kecelakaan mobil yang membuat kemacetan pada jalan yang biasa digunakan karyawan ini, Anda membuat suatu hubungan eksternal.

Sekarang, mari kita diskusikan setiap faktor dari tiga faktor yang menentukan ini. Kekhususan merujuk pada apakah seorang individu memperlihatkan perilaku-perilaku berbeda dalam situasi-situasi berbeda. Apakah karyawan yang datang terlambat hari ini juga merupakan sumber keluhan dari rekan-rekan kerja karena menjadi individu yang mengabaikan  komitmen secara tetap? Yang ingin kita ketahui apakah perilaku ini tidak biasa? Bila ya, si pengamat cenderung memberi perilaku tersebut suatu hubungan eksternal. Apabila tindakan ini sudah biasa, tindakan ini mungkin akan dinilai sebagai hubungan internal. Apabila semua individu yang menghadapi situasi serupa merespon dalam cara yang sama, kita bisa berkata bahwa perilaku tersebut menunjukan konsensus. Perilaku karyawan tersebut akan sesuai dengan kriteria ini apabila semua karyawan yang mengambil rute yang sama menuju tempat kerja juga terlambat.

Dari persfektif hubungan, apabila konsensus tinggi Anda diharapkan untuk memberika hubungan eksternal untuk keterlambatan karyawan tersebut. Sementara apabila karyawan lainnya yang mengambil rute yang sama bisa tepat waktu ke tempat kerja, kesimpulan Anda tentang sebab tersebut adalah hubungan internal. Akhirnya seorang pengamat mencari konsistensi dalam tindakan-tindakan seseorang. Apakah individu tersebut selalu merespon dengan cara yang sama? Datang terlambat 10 menit ke tempat kerja tidak diartikan dalam cara yang sama untuk karyawan yang merupakan kasus yang tidak biasa dengan karyawan yang keterlambatannya merupakan dari pola rutin. Semakin konsisten perilaku, semakin besar kecenderungan pengamat untuk menghubungkannya dengan sebab-sebab internal.

Salah satu penemuan yang lebih menarik teori hubungan adalah terdapat kesalahan atau bias yang mengubah berbagai hubungan. Sebagai contoh terdapat bukti yang substansial bahwa ketika membuat penilaian tentang perilaku individu lain, kita memiliki kecenderungan untuk merendahkan faktor-faktor eksternal dan meningkatkan faktor-faktor internal atau pribadi. Hal ini disebut kesalahan hubungan yang fundamental dan bisa menjelaskan bagaiamana seorang manajemen penjualan sering menghubungkan kinerja yang buruk dari para agen penjualannya dengan kemalasan dari pada dengan lini produk inovatif  yang diperkenalkan oleh saingannya. Ada juga kecenderungan para individu dan organisasi untuk menghubungkan keberhasilan mereka sendiri dengan faktor-faktor internal seperti usaha  atau kemampuan, sementara  menyalahkan faktor-faktor eksternal seperti keberuntungan yang buruk atau rekan–rekan kerja yang tidak produktif atas kegagalan. Hal ini disebut bias pemikiran diri sendiri.

Apakah kesalahan atau bias yang mengubah hubungan tersebut sama di seluruh kultur yang berbeda? Buktinya bermacam-macam, tetapi sebagian besar menunjukkan terdapat perbedaan budaya. Sebagai contoh, sebuah penelitian tentang manajer Korea menemukan  bahwa, berbeda dengan bias pemikiran diri, mereka cenderung menerima pertanggung jawaban untuk kegagalan kelompok karena saya bukanlah seorang pemimpin yang cakap daripada menghubungkannya dengan para anggota kelompok. Sebagi besar  teori hubungan dikembangkan berbagai percobaan dengan orang-orang Amerika dan Eropa Barat. Namun, penelitian di Korea menunjukkan peringatan dalam membuat prediksi teori hubungan di masyarakat Non-Barat, terutama di negara-neara yang memiliki tradisi kebersamaan yang kuat (Robbins, 2003).

Kita menggunakan sejumlah jalan pintas untuk menilai individu lain. Mengartikan dan menginterprestasikan apa yang dilakukan individu lain sangatlah berat. Akibatnya, para individu mengembangkan berbagai tekhnik yang membuat tugas tersebut menjadi lebih dapat diatur. Tehnik-tehnik ini sering kali berharga memungkinkan kita untuk membuat berbagai persepsi yang akurat dengan cepat dan memberikan data yang valid untuk membuat berbagai prediksi. Namun, tehnik-tehnik tersebut bukan merupakan tehnik –tehnik yang sangat mudah sehingga bisa dilakukan oleh siapapun, sebaliknya tehnik-tehnik tersebut dapat dan benar-benar menyulitkan kita. Pemahaman hal ini bermanpaat dalam mengenai kapan tehnik-tehnik tersebut dapat mengakibatkan penyimpangan yang signifikan.

8.8.  Persepsi Terhadap Orang Lain

            Apa yang dijelaskan sebelum ini menyangkut persepsi secara umum terhadap semua obyek yang berakibat adanya perbedaan dan penyimpangan persepsi. Secara lebih spesifik, penyimpangan persepsi pada manusia dapat terjadi dalam beberapa bentuk yang menurut Stephen P Robbins (2004) terdiri dari selection perception, hallo effect, contras effect, projection, dan stereotyping.

 

8.8.1. Persepsi Selektif (Selection Perception)

Karakteristik apapun yang membuat seseorang, objek, atau peristiwa bisa dikenali dengan mudah meningkatkan memungkinkannya untuk diterima. Mengapa? Karena tidak mungkin bagi kita untuk menerima semua yang kita lihat-hanya stimulus tertentu yang bisa diterima. Kecenderungan ini menjelaskan mengapa Anda kemungkinan besar lebih memperhatikan mobil-mobil seperti milik Anda sendiri atau mengapa beberapa individu mungkin ditegur oleh atasan mereka karena melakukan sesuatu yang ketika dilakukan oleh karyawan lain, tidak diketahui. Karena kita tidak bisa mengamati semua yang terjadi tentang diri kita, kita terlibat dalam persepsi selektif. Sebuah contok klasik menunjukkan bagaimana minat pribadi bisa mempengaruhi berbagai masalah yang kita lihat secara signifikan.                  Dearborn dan Simon melakukan sebuah penelitian persepsi di mana 23 eksekutif bisnis (6 dari bagian penjualan, 5 dari bagian produksi, 4 dari bagian akuntansi, dan 8 dari bagian umum) membaca sebuah kasus komprehensif yang mendeskripsikan organisasi dan aktivitas sebuah perusahan baja. Setiap manajer meminta untuk menuliskan masalah paling penting yang mereka temukan dalam kasus tersebut. Delapan puluh tiga persen eksekutif penjualan menganggap penting penjualan, hanya 29 persen eksekutif dari bagian lain yang beranggapan demikian. Bersama hasil-hasil lain dari penelitian tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa para pastisipan menerima aspek-aspek situasi yang khususnya berhubungan dengan aktivitas-aktivitas dan tujuan-tujuan unit dengan bagian mana mereka terikat. Persepsi sebuah kelompok tentang aktifitas-aktifitas organisional diubah secara selektif agar sejalan dengan minat-minat pribadi yang mereka tunjukkan.

Dengan perkataan lain, ketika stimulus yang ada bersifat ambigu, seperti dalam kasus perusahaan baja, persepsi cenderung lebih dipengaruhi oleh dasar interpretasi seorang individu yaitu: sikap, minat dan latar belakang dari pada oleh stimulus itu sendiri. Tetapi bagaimana kemampuan memilih berfungsi sebagai jalan pintas dalam menilai individu lain? Karena kita tidak bisa menerima semua yang kita amati, kita hanya mengambil sedikit-sedikit. Bagian-bagian kecil tersebut tidak dipilih secara acak, melainkan dipilih secara selektif menurut minat, latar belakang, pengalaman dan sikap kita. Persepsi selektif memungkinkan  kita membaca individu lain dengan cepat, tetapi tetap terdapat resiko bahwa kita mendapatkan gambaran yang tidak akurat. Karena kita melihat apa yang ingin kita lihat, kita bisa menarik kesimpulan yang tidak beralasan dari situasi yang ambigu. Jadi dapat disimpulkan bahwa selection perception adalah seseorang yang melihat sesuatu didasarkan pada kepentingan, latar belakang, dan harapan-harapannya. Misalnya dalam melihat suatu permasalahan kemiskinan, orang yang memiliki latar belakang pendidikan ekonomi akan selalu melihat faktor ekonomi dalam menganalisis penyebabnya.

8.8.2. Efek Halo (Hallo Effect)

Ketika kita membuat sebuah kesan umum tentang seorang individu berdasarkan sebuah karakteristik, seperti kepandaian, keramahan, atau penampilan, efek halo sedang bekerja. Fenomena ini sering kali muncul ketika para siswa menilai guru mereka. Para siswa mungkin memberikan keunggulan untuk satu sifat seperti antusiasme dan membuat seluruh evaluasi mereka dipengaruhi oleh bagaimana mereka menilai guru tersebut berdasarkan sifat itu. Jadi, seorang guru bisa jadi pendiam, percaya diri, pandai, dan sangat cakap, tetapi jika gayanya kurang bersemangat, para siswa mungkin akan memberikan nilai yang rendah untuk guru tersebut (Solomonson, 1997).

Kenyataan akan efek halo diperkuat dalam sebuah penelitian di mana para pelaku diberi daftar sifat seperti pandai, mahir, praktis, rajin, tekun, dan ramah, kemudian diminta untuk mengevaluasi individu dengan sifat-sifat tersebut diberlakukan. Ketika sifat-sifat itu digunakan, individu tersebut dinilai bijaksana, humoris, populer, dan imajinatif. Ketika daftar yang sama dimodifikasi, ramah diganti dengan dingin, diperoleh serangkaian persepsi yang sama sekali berbeda. Tentu saja para pelaku mengizinkan satu sifat untuk mempengaruhi seluruh kesan mereka tentang individu yang dinilai. Kecenderungan berlakunya efek halo tidaklah acak. Penelitian menunjukkan bahwa hal ini cenderung menjadi sangat ekstrem ketika sifat-sifat yang harus diterima bersifat ambigu sehubungan dengan perilaku, ketika sifat-sifat tersebut mempunyai kualitas tambahan moral dan ketika si penerima menilai sifat-sifat tersebut dengan pengalaman yang terbatas. Jadi hallo effect adalah memberikan kesan umum untuk seseorang yang didasarkan pada satu ciri pribadi. Misalnya wanita yang ramah disimpulkan seseorang yang baik, sopan, atau pintar.

8.8.3. Efek-efek Kontras (Contras Effect)

            Contras effect merupakan penilaian karakteristik seseorang yang dipengaruhi oleh hasil pembandingan dengan orang lain yang baru saja ditemui yang berakting lebih tinggi atau lebih rendah pada karakteristik yang sama. Seringkali reaksi kita pada seseorang dipengaruhi oleh orang lain yang baru saja kita temui. Dalam interview penerimaan karyawan kita seringkali menilai seseorang terpengaruh oleh tampilan seseorang peserta interview yang baru saja kita temui. Seringkali penilaian terhadap seseorang pelamar dalam interview diberikan dengan skor lebih tinggi ketika interview baru saja menginterview pelamar-pelamar yang memiliki reputasi rendah dan diberikan lebih rendah ketika baru saja menginterview pelamar yang sangat bagus (Badeni, 2013).

            Terdapat sebuah pepatah kuno di antara para penghibur yang tampil dalam berbagai pertunjukkan: Jangan pernah meniru permainan yang melibatkan anak-anak atau hewan. Mengapa? Keyakinan umumnya adalah para penonton sangat menyukai anak-anak dan hewan sehingga Anda akan terlihat buruk dalam perbandingan. Contoh ini menunjukkan bagaimana efek-efek kontras dapat mengubah persepsi. Kita tidak mengevaluasi seseorang secara terisolasi. Reaksi kita terhadap seseorang individu dipengaruhi oleh individu lain yang baru kita temui.

8.8.4. Proyeksi (Projection)  

            Mudah untuk menilai individu lain bila kita beranggapan bahwa mereka mirip dengan diri kita. Sebagai contoh, bila Anda menginginkan tantangan dan tanggungjawab dalam pekerjaan Anda, Anda berasumsi bahwa individu lain menginginkan hal yang sama. Atau Anda adalah orang yang jujur dan bisa dipercaya, jadi Anda menganggap orang lain juga jujur dan dapat dipercaya. Kecenderungan untuk menghubungkan karakteristik-karakteristik diri sendiri dengan individu lain yang disebut proyeksi (projection), bisa mengubah berbagai persepsi yang dibuat seseorang terhadap individu lain.

            Proyeksi adalah menyimpulkan seseorang berdasarkan ciri yang dimiliki oleh orang yang mempersepsi. Misalnya seseorang yang mempersepsi seorang bendaharawan proyek suka mempermainkan kwitansi, ketika yang bersangkutan menjadi bendaharawan proyek suka mempermainkan kwitansi. Individu yang terlibat dalam proyeksi cenderung menerima individu lain sesuai dengan gambaran diri mereka sendiri dibandingkan berdasarkan hasil observasi mengenai gambaran diri individu tersebut. Ketika para manajer terlibat dalam proyeksi, mereka mengompromikan kemampuan mereka untuk merespons perbedaan-perbedaan individual (Robbins & Judge, 2008). Mereka cenderung melihat individu lain secara lebih homogen dibandingkan yang sebenarnya.  

8.8.5. Pembentukan Stereotipe

            Stereotipe pada dasarnya mengacu pada kecenderungan untuk mengembangkan dan mempertahankan persepsi yang tetap dan tidak berubah mengenai sekelompok manusia dan menggunakan persepsi ini untuk mengevaluasi anggota kelompok tersebut, dengan mengabaikan karakteristik individu yang unik. Jika orang-orang membentuk pendapat tentang segolongan obyek atau orang tertentu dan bertindak sesuai dengan pendapat itu, hal ini dinamakan stereotipe. Kata stereotip digunakan untuk menunjukkan pendapat yang baik atau buruk pada umumnya yang dipunyai oleh seseorang tentang sekelompok orang tertentu (Pareek, 1996). Membuat stereotipe memang perlu untuk menghemat persepsi. Namun stereotip adalah prasangka tentang segolongan orang yang mempengaruhi persepsi dan penafsiran data yang telah diterima. Misalnya para manajer mempunyai persepsi bahwa manajer lebih jujur daripada pekerja.

            Berhubungan dengan stereotip ini ada penelitian yang menarik. Robert Rosenthal dan Leonore Jacobson (1968) dalam Rachmat (1994) ingin meneliti pengaruh ekspektasi guru terhadap prestasi murid. Apakah murid yang diduga cerdas akan lebih berhasil? Mereka meneliti murid-murid SD dan memberikan tes kecerdasan. Nama-nama siswa diduga akan membuat prestasi intelektual yang menonjol disampaikan kepada para guru (sebetulnya nama-nama itu diambil secara random saja, tidak ada perbedaan berarti di antara mereka). Ternyata anak-anak yang diharapkan cerdas menunjukkan prestasi akademis yang jauh menonjol dari teman-temannya. Para peneliti menjelaskan, mungkin guru memberikan perhatian yang lebih besar kepada nurid, lebih mendorong dan membantu, mungkin mereka mengomunikasikan secara verbal atau nonverbal persepsi mereka kepada murid-murid tersebut, mungkin persepsi guru itu tertangkap oleh murid-murid itu dan memperbaiki konsep dirinya (Alex Sobur, 2002).

8.9. Konsep Sikap (Attitude)

Kita hidup di dunia yang penuh kata-kata, kita sering mendengar ungkapan kata-kata bernada kecewa yang keluar dari mulut seorang dengan berkata, Tuhan Tidak Adil.  Jika kita berandai-andai apa yang dilakukan Tuhan, tentunya kita pasti akan menemukan bahwa sering kali keputusan Tuhan terlihat tidak cocok dengan standar keadian manusia. Jika Anda diberi kepercayaan untuk memutuskan sesuatu seperti contoh berikut ini, apa yang akan Anda putuskan? Bagaimana kalau Anda dihadapkan pada permintaan dua orang yang kontradiksi satu sama lain. Sebagai contoh, seorang petani berdoa agar segera diturunkan hujan, agar padi di sawahnya dapat tumbuh dengan subur dan menghasilkan panen yang sukses. Sementara itu, di sebelah rumah sang petani tadi ada seorang anak kecil yang atap rumahnya bocor mengharapkan jangan turun hujan agar dia bisa tidur dan tidak basah kuyup. Apa kemudian keputusan yang diambil?

Mungkin masalah ini masih terlalu mudah bagi Tuhan, Ia dapat segera memutuskan diturunkannya hujan sementara di lain pihak, Tuhan akan mengutus seseorang yang murah hati agar dapat memperbaiki rumah yang bocor tersebut. Lebih rumit lagi, seorang bapak mendoakan dijatuhkannya hukuman mati kepada seorang narapidana yang merenggut nyawa anaknya, di sisi lain keluarga narapidana berdoa dengan sungguh-sungguh meminta pengampunan dari Tuhan. Kita tahu, pasti banyak sekali doa-doa kompleks yang dipanjatkan kepada Tuhan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Pada kesempatan di mana Tuhan tidak berpihak kepada keinginan kita, muncul kesal dan kita bergumam, Tuhan Tidak Adil.

Biarlah saya yang menyampaikan berita duka mengenai dunia ini. Benar, dunia ini memang tidak adil karena hidup tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita melainkan sesuai dengan kehidupan itu sendiri. Namun berita yang menggembirakan dan yang terpenting adalah respons apa yang Anda berikan terhadap kenyataan hidup ini, itulah arti kehidupan sebenarnya. Dunia ini begitu kejam dan tidak memperhatikan keinginan kita. Dunia ini benar-benar seperti perlombaan yang ingin segera menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Jika kita selalu memiliki sikap sebagai orang yang tidak siap bersaing dan sulit bangkit dari kegagalan, maka hasil akhirnya pasti kita akan menjadi orang-orang yang terkalahkan.

Sebaliknya, jika kita memiliki sikap sebagai orang yang selalu siap bersaing dan mau bangkit dari setiap kegagalan yang kita alami, tidak mudah putus asa, tidak mudah menyerah kalah, tidak selalu menyalahkan kegagalan pada lingkungan atau orang lain, kita akan keluar sebagai pemenang. Setidaknya, menang dari sifat negatif diri sendiri. Persaingan dalam hidup adalah hal biasa dan tidak dapat dihindari. Justru dengan adanya persaingan, kita seharusnya menjadi lebih terpacu lagi untuk berbuat yang jauh lebih baik dan mengeluarkan seluruh kemampuan kita. Lingkungan di sekitar kita juga akan memperdengarkan ke telinga kita hal-hal negatif yang dapat membuyarkan konsentrasi dan fokus kita menuju keberhasilan. Bagaimana respons kita terhadap hal-hal negatif tersebut, tentunya sangat bergantung pada bagaimana sikap dan cara berpikir kita.

            Jadi, jangan sekali-kali Anda mempermasalahkan hal-hal kecil dan menganggapnya sebagai ketidakadilan terhadap Anda, apakah orang-orang sukses tidak mengalami persinggungan dan kesulitan dalam hidupnya? Mereka juga sering kali mengalami hal-hal sulit dan persinggungan dalam hidupnya, tetapi mereka berfokus dalam mencari solusi, bukan pada masalahnya.Mereka tidak terus-menerus terpaku pada masalah dan berlarut-larut dalam kesedihan. Apakah mereka orang-orang sukses menyalahkan Tuhan dengan mengatakan Tuhan Tidak Adil. Jangan pernah katakana  Tuhan Tidak Adil, mungkin kita yang tidak adil terhadap diri kita sendiri karena kenyataannya Tuhan Selalu Adil sesuai kehendak-Nya. Itulah kunci pertama dan utama sikap, jangan menyalahkan sesuatu pada lingkungan atau orang lain, dan jangan pernah berkata Tuhan Tidak Adil.

Attitude merupakan fondasi terpenting yang menentukan tingkat keberhasilan seseorang. William James menyatakan, penemuan terbesar dalam generasi saya adalah kesimpulan bahwa manusia dapat mengubah hidupnya dengan cara mengubah pikirannya. Dengan  attitude yang positif, Anda akan lebih mudah mencapai keberhasilan.

  1. Mereka dengan attitude negatif berpikir: Saya tidak bisa.
  2. Mereka dengan attitude positif berpikir: Saya pasti bisa.
  3. Mereka dengan attitude negatif berkata: Mungkin ada jalan keluar, tetapi terlalu sulit.
  4. Mereka dengan attitude positif berkata: Hal ini mungkin sulit, tetapi pasti ada jalan keluar.
  5. Mereka dengan attitude negatif selalu pasrah dengan keadaan, sementara mereka dengan attitude positif selalu mengambil tindakan.
  6. Mereka dengan attitude negatif selalu melihat keterbatasan-keterbatasan, sedangkan mereka dengan attitude positif selalu melihat kemungkinan-kemungkinan.

Saya yakin, setelah membaca beberapa kalimat tadi, Anda mendapatkan gambaran yang semakin jelas tentang definisi attitude sesungguhnya. Ada yang mendefinisikan attitude sebagai cara pandang seseorang dalam melihat suatu keadaan. Ada pula yang mendefinisikan attitude sebagai sikap hidup seseorang. Apa pun definisi Anda tentang attitude, sesungguhnya ia merupakan jendela Anda terhadap dunia luar.

Banyak orang yang mempunyai kemampuan untuk mewujudkan sesuatu, tetapi tidak mempunyai kemauan karena sikap yang negatif. Seorang anak muda yang baru lulus dari program S2-nya, ketika terjun di bidang sales diminta untuk melakukan prospecting door-to-door. Secara kemampuan, ia adalah seorang yang mampu dalam kapasitasnya meyakinkan pelanggan. Namun, karena sikapnya yang merendahkan pekerjaan tersebut, ia tidak mau melakukannya dan tidak berhasil mendapatkan penjualan. Sebaliknya, seorang sales yang tidak memiliki kemampuan, tetapi memiliki kemauan besar malah mampu melaksanakan tugas tersebut tanpa beban dan berhasil. Memang kemauan yang besar dapat mengalahkan kemampuan yang besar. Berhati-hatilah terhadap pilihan sikap Anda setiap hari!

Setiap kejadian dalam hidup ini dapat dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda: cara pandang positif dan cara pandang negatif. Dengan sikap dan cara pandang yang positif, kita akan mendapatkan hasil yang positif pula. Sikap dan cara pandang positif ini mengarahkan kita pada pola hidup optimis dan jauh dari sifat pesimis. Jika hati dan jiwa sudah penuh dengan sikap optimis, pikiran (thought) dan perasaan (feeling) kita akan selalu mengarah pada tindakan (action) yang positif pula. Demikian sebaliknya, jika pola hidup pesimis sudah mengakar dalam hidup, kita akan memandang segala sesuatu dengan pesimis. Kita akan merasa bahwa dunia ini memusuhi  dan menjebak kita akan percaya bahwa tidak ada pencapaian sukses kecuali karena faktor keberuntungan (luck) dan nasib.

Dengan demikian, hati kita akan menjadi sempit, pikiran semakin mandek, dan tindakan semakin tidak terarah. Bahkan, pada suatu titik, kita tidak berani mengambil tindakan apapun. Orang-orang optimis selalu mengambil tindakan, sementara orang-orang pesimis akan diam dan menunggu. Orang-orang optimis selalu memberikan kontribusi bagi orang lain dan lingkungannya, sementara orang-orang pesimis selalu mengambil kesempatan dan manfaat dari orang lain dan lingkungan sekitarnya. Orang-orang optimis selalu melihat kesempatan sementara orang-orang pesimis selalu melihat hambatan-hambatan.

            Dr. Martin Seligman dalam bukunya learned optimism ini disusun berdasarkan riset yang dilakukannya selama lebih dari 25 tahun mempelajari pola kecenderungan respons orang optimis dan orang pesimis. Kesimpulannya adalah bahwa orang optimis selalu terbiasa menginterpretasikan segala kejadian dalam hidupnya dengan sikap positif dan mampu mengendalikan emosi mereka. Mereka selalu mengembangkan kebiasaan untuk berbicara dengan diri mereka sendiri dengan cara yang konstruktif. Kapan pun mereka menghadapi kesulitan, mereka akan segera mengambil sikap terhadap diri mereka sendiri secara positif dan menghalangi berkembangnya sikap dan emosi negatif.

            Dr. Seligman menyimpulkan bahwa ada tiga hal mendasar yang membedakan reaksi antara orang-orang optimis dan orang-orang pesimis. Pertama, orang optimis melihat setiap kegagalan dan ketidakberuntungan sebagai suatu hal yang bersifat sementara, di sisi lain orang pesismis akan melihat ini sebagai hal yang bersifat permanen (selamanya), dan merupakan bagian dari takdir hidup yang harus dijalani. Contoh, seorang salesman yang optimis melakukan 15 kali presentasi kepada prospect client-nya dan semuanya gagal. Sebagai seorang optimis, maka ia akan melihat ini sebagai hal biasa dan sementara. Kegagalan yang bersifat sementara ini diyakinkan sebagai suatu proses untuk mencapai keberhasilan dan sebagai latihan untuk dapat lebih baik lagi di kemudian hari. Pada presentasi berikutnya, ia tetap bersemangat dan tetap yakin akan terjadinya transaksi.

            Di sisi lain, orang pesimis akan melihat kegagalan ini dari sisi berbeda. Orang-orang pesimis akan menyimpulkan bahwa 15 kali presentasi yang gagal menandakan eknomi sedang buruk, sehingga pasar sedang tidak bagus untuk produk yang dijualnya. Kemudian, mereka akan mulai menggeneralisasi semua persoalan dan menyimpulkan bahwa kariernya di bidang ini tidak ada harapan. Ketika orang optimis akan memulai presentasi berikutnya dengan tetap bersemangat, orang pesimis akan kehilangan semangat dan mulai malas untuk mencoba sekali lagi.

            Kedua, orang optimis selalu melihat kesulitan sebagai hal yang bersifat spesifik, di mana orang pesimis melihat hal ini sebagai hal bersifat umum. Ini berarti, ketika terjadi kegagalan pada satu aktivitasnya, maka optimis akan menganggap hal ini sebagai kejadian yang terpisah dengan hal lain. Di sisi lain, orang pesimis akan menganggap suatu kejadian berkaitan erat dengan hal lainnya. Dengan keyakinan ini, orang optimis dengan mudah akan melupakan kesulitan yang baru saja dialami dan bersiap umtuk pengalaman yang baru dan menyenangkan, sedangkan orang pesimis melihat kelanjutan dari kesulitan itu dalam seluruh aspek kehidupannya.

            Ketiga, optimis melihat rintangan itu sebagai sesuatu yang berasal dari luar (eksternal) sedangkan orang-orang pesimis akan melihat rintangan itu dari sisi persoalan (pribadi). Ketika terjadi suatu masalah, seorang optimis akan menganggap hal tersebut sebagai bagian eksternal di mana manusia hanya memiliki sedikit kontrol. Contoh, jika seorang optimis sedang mngendarai mobil dan tiba-tiba ia disalip dari samping oleh mobil lain, maka ia akan segera melihat hal tersebut sebagai hal yang tidak begitu penting dan kemungkinan ia akan berkata: yah, mungkin orang itu telah mengalami hal buruk hari ini.

Di sisi lain, orang pesimis melihat hal ini secara personal (pribadi). Jika ia disalip ketika sedang mengendarai mobil, ia akan menganggap hal ini secara personal, emosinya akan memuncak dan kata-kata makian akan keluar dari mulutnya. Ia akan marah dan bereaksi secara keras terhadap orang tersebut karena orang pesimis menganggap kejadian ini menyentuh masalah pribadinya, bukan masalah eksternal orang lain. Orang-orang optimis selalu mengambil tindakan dari setiap permasalahan secara responsif, sedangkan orang pesimis mengambil tindakan secara reaktif. Responsif adalah cara pandang yang positif dan konstruktif dalam melihat permasalahan, sedangkan reaktif adalah suatu reaksi emosional dan cenderung bersifat negatif. Orang optimis selalu mengembangkan sikap dan kebiasaan positif dalam melihat segala masalah dengan melihatnya secara spesifik, bersifat sementara, dan berlaku eksternal terhadap dirinya. Mereka memilih untuk bersikap responsif ketimbang reaktif dalam menghadapi setiap masalah. Orang optimis selalu mengontrol dialog internal dalam dirinya dan menghindari segala bisikan-bisikan negatif yang muncul ketika menghadapi sesuatu kejadian dalam aktivitas hidupnya.

8.10.  Sikap Positif dan Sikap Negatif

            Attitude kita sangat menentukan bagaimana cara pandang kita terhadap suatu persoalan. Bagi orang-orang positif, suatu masalah dapat menjadi titian tangga menuju keberhasilan. Orang-orang positif selalu menjadikan setiap masalah sebagai pelajaran berharga yang akan semakin mendekatkan mereka dengan kesuksesan. Sementara itu, bagi orang-orang negatif, suatu masalah bisa menjadi tembok penghalang dan batu sandungan. Orang-orang negatif melihat masalah sebagai bagian dari kejamnya dunia dan menyebabkan mereka takut untuk mencoba. Ketika melihat gelas yang terisi air setengahnya, orang-orang positif akan berkata: Gelas itu terisi setengah penuh. Sementara orang-orang negatif akan berkata: Gelas itu setengah kosong. Apa bedanya? Sebenarnya, apa pun pilihannya kedua-duanya adalah benar. Hal ini yang membedakan adalah cara pandang masing-masing terhadap suatu permasalahan. Orang-orang positif berfokus pada setengah gelas yang terisi, sementara orang-orang negatif berfokus terhadap setengah gelas yang kosong. Orang-orang positif selalu berfokus pada solusi, sementara orang-orang negatif selalu berfokus pada masalah.

            Kesimpulannya, jika Anda berfokus pada ketakutan, yang Anda dapatkan adalah ketakutan itu sendiri. Namun, tidak bisa Anda berfokus kepada kesuksesan, Anda telah berada di jalur yang tepat mencapai kesuksesan itu. Attitude adalah bagaimana Anda bereaksi terhadap segala kejadian dalam hidup. Setiap saat dalam hidup ini, Anda menghadapi berbagai tantangan, kesulitan, masalah, dan kekecewaan. Terkadang, Anda menghadapi berbagai macam ancaman dan ketakutan. Semua hal tersebut merupakan realitas yang tidak bisa dihindari dalam hidup, bahkan semua harus dihadapi. Ketika Anda melihat segala sesuatu dari sisi positif dan konstruktif, maka Anda akan melihat hal-hal baik dari setiap situasi yang Anda hadapi. Emosi Anda akan terbawa menjadi positif, cara berfikir Anda juga akan terbiasa positif, bahkan yang paling penting adalah Anda akan bertindak secara positif. Ini adalah bagian dari penjabaran kualitas hidup. Kualitas hidup seseorang manusia akan dilihat dari bagaimana ia merespons segala situasi dalam hidupnya, waktu-demi-waktu, dan bagaimana ia akan mengambil tindakan terhadap situasi tersebut.

Secara alamiah, jika Anda membiasakan bersikap positif, Anda akan memiliki pola hidup optimis. Jika Anda terbiasa menghadapi setiap masalah dalam hidup dengan mendahulukan sikap hidup positif, dalam diri Anda akan tumbuh suatu kepribadian positif. Segala masalah dalam hidup ini akan menjadi tantangan dan kesempatan bagi Anda untuk memperbaiki kualitas hidup. Pada saat tersebut, Anda akan menjadi orang yang lebih kuat dan lebih baik. Tentunya, tanpa semua masalah, kesulitan, ancaman dan tantangan, Anda tidak akan memiliki kesempatan untuk belajar dan terus belajar untuk memperbaiki kualitas hidup Anda (Darmadi, 2013).

Berikut ini adalah ungkapan yang dapat dengan jelas memberikan gambaran tentang bagaimana perbedaan antara orang yang memiliki pola fikir positif denggan orang yang selalu diliputi oleh pola pikir negatif, simaklah baik-baik. Ada dua orang tahanan melihat dari satu jendela penjara yang sama. Tahanan yang satu merasa sedih dan berduka melihat melihat lumpur becek di tanah, sementara yang lainnya merasa bahagia dan gembira melihat bintang gemerlapan di atas langit. Cukup memberikan perbedaan? Sekali lagi: Ada dua orang lagi melihat bunga mawar yang dikelilingi oleh semak belukar, Orang yang satu merasa sedih dan kecewa melihat bunga mawar dikelilingi oleh semak belukar, sementara yang lainnya merasa sangat bahagia karena ditengah semak belukar ada sekuntum bunga mawar.

Orang-orang yang memiliki pola pikir positif cara pandangnya akan sangat berbeda dengan orang yang selalu diliputi oleh pola pikir negatif. Dalam hidup ini, Anda pasti akan selalu berhadapan dengan berbagai macam masalah yang datang silih berganti. Bagaimana Anda menyikapi setiap masalah tersebut, akan sangat bergantung pada bagaimana Anda berpikir, dari sisi positifkah atau dari sisi negatif. Orang-oarang positif bukan berarti selalu sukses dan tidak pernah gagal, tetapi cara pandang mereka atas kegagalan sungguh sangat berbeda dengan orang-orang negatif. Attitude yang positif akan membawa hasil yang lebih baik jika dibandingkan dengan attitude yang negatif. Salah satu bentuk dari positive attitude adalah antusiasme. Menurut kamus Webster, salah satu makna antusiasme adalah perasaan senang luar biasa untuk menggapai sesuatu. Ketika kita memiliki sesuatu sebagai tujuan untuk digapai, kita akan bersedia untuk mengeluarkan segenap potensi diri untuk mencapainya. Dalam bahasa Inggris, kata ini memiliki ejaan enthusiasm yang berasal dari bahasa Yunani en theos dan berarti kekuatan dari Tuhan di dalam hati.

Zig Ziglar, melihat sisi lain dari kata ini. Menurutnya, empat huruf terakhir kata tersebut, iasm dapat diterjemahkan dengan I am sold, myself. Artinya, seseorang yang memiliki antusiasme adalah orang yang sudah benar-benar yakin pada dirinya sendiri, baik pada pengetahuan, kemampuan, serta keahliannya. Ia sangat yakin akan berhasil dalam setiap proses pekerjaannya. Bahkan, dengan keyakinannya yang sangat kuat ini, ia juga dapat meyakinkan orang lain untuk benar-benar percaya pada dirinya. Perbedaan mencolok antara seorang good salesperson dengan seorang great salesperson, good mother dengan great mother, good leader dengan great leader terkadang hanya dari segi antusiasme. Antusiasme membuat seorang semakin menarik, membuat orang lain memberikan banyak perhatian kepadanya, dan yang paling penting membuat hidup ini lebih hidup, berwarna, dan bermakna, bukan saja bagi diri kita sendiri tetapi juga untuk orang lain.

            Antusiasme, merupakan satu-satunya hal yang membuat Noah Webster menghabiskan 36 tahun masa hidupnya untuk menyusun sebuah kamus terlengkap. Kini, kamusnya Webster’s Dictionary menjadi kamus bahasa Inggris terlengkap standar dunia. Antusiasme juga yang membuat Thomas Alfa Edison tabah dan sabar melalui ribuan kegagalan untuk menemukan bola lampu. Antusiasme akan menyebabkan seseorang begitu mencintai pekerjaannya, bahkan ia akan berusaha untuk menghasilkan yang terbaik dalam setiap pekerjaannya. Orang-orang yang memiliki antusiasme tidak pernah dikontrol oleh lingkungannya, bahkan dialah yang mengontrol lingkungannya. Jika lingkungannya dalam kondisi baik, ia akan baik: jika lingkungannya dalam kondisi buruk, ia akan tetap baik. Antusiasme adalah energi hidup yang tertanam di dalam diri kita, energi yang membuat kita maju dan terus maju. Antusiasme membuat hidup kita lebih menarik (Donald Trump, 2010). Antusiasme membuat hidup kita berbeda. Antusiasme bersifat menular, maka setiap orang yang hidupnya penuh dengan antusiasme akan selalu berupaya menularkan semangat positifnya kepada orang lain. Oleh karena itu, be enthusiastic everyday, milikilah antusiasme dalam diri mulai hari ini pada seluruh aspek kehidupan Anda: keluarga, teman, sahabat, lingkungan kerja, hobi, kehidupan sosial, spiritual, dan lain-lain. Akan tetapi yang paling penting, milikilah antusiasme untuk mewujudkan setiap mimpi dan cita-cita Anda.

8.11. Komponen-Komponen Sikap (Attitude)

            Para peneliti telah berasumsi bahwa sikap mempunyai tiga komponen, yaitu kesadaran biasa disebut dengan kognitif, perasaan atau afektif, dan perilaku. Keyakinan bahwa diskriminasi itu salah merupakan sebuah pernyataan evaluatif. Opini semacam itu adalah komponen kognitif (cognitive component) dari sikap, yang menentukan tingkatan untuk bagian yang lebih penting dari sebuah sikap. Perasaan adalah segmen emosional atau perasaan dari sebuah sikap dan tercermin dalam pernyataan seperti saya tidak menyukai John karena ia mendiskriminasi kaum minoritas. Perasaan akan bisa menimbulkan hasil akhir perilaku. Komponen perilaku (behavior component) dari sebuah sikap merujuk pada suatu maksud untuk berperilaku dalam cara tertentu terhadap seseorang atau sesuatu. Secara lengkap akan dijelaskan sebagai berikut (Badeni, 2013):

  1. Cognitive component (komponen kognitif) yaitu keyakinan, kepercayaan, pemahaman, atau pengetahuan seseorang mengenai orang, objek, atau peristiwa tertentu, misalnya orang yakin bahwa kerja keras adalah awal dari kemajuan, atau suatu pekerjaan yang dilakukan adalah membuang-buang waktu, atau keyakinan seseorang misalnya bahwa orang Batak adalah orang yang kasar. Keyakinan atau pemahaman ini menjadi awal dari pembentukan perasaan terhadap sesuatu apakah terhadap manusia, benda atau peristiwa.
  2. Effective component (komponen afektif) yaitu perasaan seseorang terhadap sesuatu sebagai akibat dari keyakinannya atau pemahamannya, misalnya seseorang yakin bahwa orang Indonesia rajin, pintar, dan ramah sehingga dia akan merasakan atau berpandangan positif jika bertemu dengan orang Indonesia. Kemudian bila berhubungan dengan pekerjaan, keyakinan seseorang misalnya bahwa pekerjaan yang sedang dilakukan tidak akan menghasilkan apa-apa bagi dirinya, keyakinan tersebut akan membentuk perasaan negative terhadap pekerjaan tersebut.
  3. Behavior (perilaku) merupakan tindakan nyata yang ditampilkan seseorang akibat dari perasaannya terhadap objek, orang, atau peristiwa. Misalnya, ketidaksukaan terhadap pekerjaan ditunjukkan dengan perilaku malas atau kurang poduktif, tidak masuk kerja, atau pindah kerja.

8.12. Sikap Kerja

            Sikap kerja berisi evaluasi positif atau negative yang dimiliki oleh seorang karyawan mengenai aspek-aspek lingkungan kerja mereka. Sebagian besar riset dalam perilaku organisasional berhubungan dengan tiga sikap, yaitu: kepuasan kerja, keterlibatan pekerjaan, dan komitmen organisasi. Kepuasan kerja adalah suatu perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan hasil dari evaluasi karakteristiknya. Seseorang yang memiliki tingkat kepuasan kerja tinggi cenderung memiliki perasaan positif terhadap pekerjaannya, sebaliknya seseorang yang tidak puas cenderung memiliki perasaan negatif terhadap pekerjaan tersebut (Danang Sunyoto dan Burhanudin, 2011).

            Keterlibatan pekerjaan (job involement) juga berhubungan dengan sikap kerja. Keterlibatan pekerjaan mengukur sejauh mana seseorang memihak suatu pekerjaan, berpartisipasi secara aktif di dalamnya, dan menganggap penting tingkat kinerja yang dicapai sebagai bentuk pengharjaan diri. Seseorang yang memiliki tingkat keterlibatan pekerjaan yang tinggi cenderung sangat memihak dan benar-benar perhatian dengan bidang pekerjaannya. Keterlibatan pekerjaan yang tinggi juga berhubungan dengan ketidakhadiran yang lebih sedikit dan tingkat pengunduran diri yang rendah. Sikap kerja yang ketiga adalah komitmen organisasi (organizational commitment), menunjukkan sejauh mana seseorang memihak sebuah organisasi serta tujuan-tujuannya dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut. Komitmen organisasi terdiri dari tiga dimensi, yaitu (Danang Sunyoto dan Burhanudin, 2011):

  1. Komitmen afektif, yaitu perasaan emosional untuk organisasi dan keyakinan dalam nilai-nilainya.
  2. Komitmen berkelanjutan, yaitu nilai ekonomi yang dirasakan jika tetap bertahan di dalam organisasi dibandingkan jika meninggalkan organisasi tersebut.
  3. Komitmen normatif, yaitu kewajiban untuk tetap bertahan dalam organisasi karena alasan-alasan etis dan moral.

Komitmen terhadap organisasi terdiri dari tiga komponen, yaitu: (1) kepercayaan seseorang yang kuat dan menerima tujuan organisasi, (2) kesediaan seseorang mengupayakan sekuat tenaga untuk menjadi bagian dari organisasi, dan (3) keinginan seseorang untuk memelihara keanggotaannya. Mathias dan Jackson (2006) menyatakan bahwa perluasan komitmen organisasi yang logis lebih fokus pada komitmen berkelanjutan, yang menjelaskan bahwa keputusan untuk tetap tinggal bersama organisasi atau meninggalkan organisasi tercermin pada ketidakhadiran atau turnover. Individu yang tidak puas terhadap pekerjaannya atau tidak memiliki komitmen terhadap organisasi, lebih besar kemungkinan untuk meninggalkan organisasi melalui ketidakhadiran. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan agar perusahaan sebagai sumber kehidupan semua pegawai dapat bertahan. Dengan cara ini diharapkan para karyawan dapat memahami dan yakin bahwa cara yang dilakukan adalah sesuatu yang cukup penting dan kemudian akan membentuk perasaan yang positif dan akhirnya menjadi tindakan yang diharapkan.

8.13. Membangun Sikap

            Pertanyaan mendasar, apakah sikap dapat dibentuk? Jawabnya adalah bisa. John C. Maxwell menjelaskan beberapa prinsip mendasar dalam membentuk sikap, yaitu:

  1. Tahun-tahun awal kehidupan seorang anak adalah momen terpenting untuk menanamkan sikap yang benar.
  2. Sikap tidak pernah berhenti bertumbuh. Sikap kita dibentuk oleh pengalaman-pengalaman kita dan cara kita menanggapinya. Karena itu selama hidup kita akan terus membentuk, mengubah, atau memeprkuat sikap-sikap kita.
  3. Jika sikap kita terus bertumbuh di atas dasar yang sama, sikap itu akan semakin kokoh. Penguatan baik positif maupun negatif akan memperkokoh sikap-sikap mendasar kita. Salah satu latihan untuk mengembangkan sikap adalah menulis pemikiran positif di atas kertas berukuran 3 x 5 cm dan membacanya berulang kali sepanjang hari.
  4. Ada banyak pembangun kawakan yang membantu kita membangun sikap di waktu dan tempat tertentu. Dalam membangun rumah, dibutuhkan beberapa ahli untuk merampungkan strukturnya. Waktu dan kontribusi mereka mungkin kecil, namun mereka tetap menjadi bagian dari pembangunan rumah kita. Dengan cara yang sama, orang-orang tertentu masuk ke dalam hidup kita di waktu yang berlainan dan turut membangun atau menghancurkan perpektif kita.
  5. Tidak ada sikap sempurna tanpa cela. Dengan kata lain, kita semua memiliki sikap yang perlu dibentuk ulang. Arus kehidupan mengejutkan kita hingga kita terlempar keluar jalur dan mencegah kita sampai ke tujuan. Kita harus menyesuaikan sikap dengan setiap perubahan yang terjadi dalam hidup. Semua orang mengalami badai dan sumur kering dalam hidupnya, yang mengancam untuk merusak sikapnya. Rahasia sampai di tujuan dengan selamat adalah terus menyesuikan perspektif Anda.

Dan proses pembentukan sikap ini sangat bergantung pada faktor-faktor pengondisian diri seseorang. Faktor-faktor pengondisian ini memerlukan waktu yang cukup lama sebelum akhirnya menjadi suatu hal yang mendarah daging dalam hidup seseorang. Seorang manusia yang dari kecil hidup di lingkungan keluarga yang yang mengerdilkan sikapnya, dapat dipastikan di kemudian hari ia akan menjadi orang yang selalu memiliki cara pandang negatif terhadap segala hal, jika ia tidak berusaha mengubahnya. Masa pembentukan sikap, paling dominan terjadi selama masa formatif umur seorang manusia sampai masa remaja. Pada masa ini, peranan lingkungan keluarga, teman bermain, dan sekolah berpengaruh sangat besar. Tentu saja, pengalaman hidup Anda di kemudian hari akan sangat mempengaruhi pembentukan sikap Anda. Pertanyaan selanjutnya, jika selama masa tersebut kita telah dibentuk menjadi orang yang negatif, apakah kita masih bisa berubah? Jawabannya adalah Bisa! Jika  Anda  mendengar  pesan–pesan yang  negatif, Anda  harus  belajar  memberikan  perkataan kepada diri  sendiri. Cara terbaik untuk melatih kembali sikap Anda  adalah dengan mencegah pikiran Anda menuju jalan negatif.

 Bagaimana seseorang menghadapi kenyataan hidup ini dapat digambarkan secara lebih gamblang bagaikan termometer versus termostat. Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu, sedangkan termostat adalah alat yang digunakan untuk mengatur suhu, jika suhu berubah, panas atau dingin, termometer hanya akan memberikan informasi tentang perubahan suhu tersebut sedangkan termostat akan merespons kondisi eksternal dengan menyesuaikan diri mengatur suhu tersebut. Jika lingkungan panas, termostat akan mengatur agar suhu ruangan bisa lebih sejuk. Begitu pula sebaliknya, jika suhu dingin, termostat akan mengatur suhu ruangan agar lebih hangat.

            Permisalan lain adalah seperti seperangkat mesin AC. Semua perangkat mesin sangat mendukung hasil yang dingin dari mesin tersebut. Sikap adalah remote control-nya, walaupun mesin AC sangatlah bagus namun jika remote control dalam posisi off, tentu saja tidak akan memberikan hasil apapun, demikian juga kalau remote control tidak diatur optimal untuk menghasilkan yang terbaik. Remote control itulah sikap Anda, dan sangat bergantung pada bagaimana Anda mengoperasikan remote control tersebut. Keadaan luar tidak dapat dikontrol oleh mesin AC itu ialah perubahan cuaca yang bisa saja sejuk ataupun panas. Jika keadaan tidak menguntungkan seperti udara yang sangat panas, sebagai pemegang kontrol Anda dapat menyetel suhu berapa yang Anda inginkan untuk mengalahkan panas tersebut. Sikap Anda akan memberikan reaksi yang setimpal atas aksi yang terjadi di luar.

            John C. Maxwell menceritakan bagaimana seorang pilot pesawat terbang dapat mengontrol kondisi pesawat agar tetap stabil pada garis lurus horison. Anda tahu bahwa di atas sana, tidak ada patokan luar bagi sang pilot untuk menentukan apakah pesawat bergerak lurus, menukik, atau mendongak naik. Gerak pesawat yang lurus pada horizon menyebabkan para penumpang merasa nyaman dan tidak merasakan kemiringan pesawat. Jadi bagaimana caranya para pilot yakin bahwa pesawat sedang bergerak lurus pada garis horison?

            Di dalam setiap pesawat, ada parameter khusus yang menandakan pergerakan arah badan pesawat. Parameter ini akan menunjukkan kepada para pilot kondisi pesawat yang mengarah ke atas horizon (positif) atau ke bawah horizon (negatif). Parameter inilah bagian internal pesawat yang mengontrol bagaimana pesawat merespons kondisi eksternal. Parameter tersebut memegang peranan teramat sangat penting bagi tiap pesawat. Parameter tersebut dinamakan sikap. Jika pesawat mengarah pada sumbu negatif, parameter sikap akan bernilai negatif. Analogi ini mengajarkan kepada kepada kita bahwa, jika kita ingin berhasil dan menuju puncak kesuksesan maka bekal pertama kita adalah sikap positif. Jika kita selalu mengedepankan sikap negatif, kesuksesan akan jauh dari diri kita. Tentu saja, tidak ada jaminan jika Anda memiliki sikap positif, maka Anda pasti akan sukses, apalagi jika Anda memiliki sikap negatif.

8.14. Pedagang yang Berhasil  Dari Kota Kecil

Pendiri Walt Mart Sam Walton, memiliki banyak julukan termasuk musuh dari  kota  kecil  Amerika  serta  penghancur  pedagang  main street, cukup  banyak  toko  kecil  yang  gulung tikar ketika Walt Mart berkembang, kata Walton, ada  orang  yang  mencoba  untuk  menjadikannya kontroversi, semacam menyelamatkan para  pedagang kecil, seolah-olah  ada ikan  paus  atau  penjarah   besar  sebenarnya. Walton  sendiri  dulu  adalah  pedagang  main street.  Satu–satunya  hal  yang membedakan  adalah  bahwa  ia adalah  seorang  pemimpin sempurna, yang   dapat  memecahkan  banyak  masalah dan lebih  memilih  untuk  berubah  dari  pada  gulung tikar.

Sam Walton  dilahirkan  di Kingsfisher, Oklahoma dan dibesarkan di Columbia, Missouri, ia memperlihatkan  kemampuannya  memimpin  ketika  masih duduk di sekolah   menengah. Dengan  tinggi  badan  178 cm, ia terpilih menjadi  presiden  organisasi  siswa  sekolah, memimpin  tim  rugbinya  ke musim  bertanding  yang  tidak terkalahkan  dan  kejuaraan  Negara  bagian  sebagai  quarterback (penyerang), kemudian  mencapai  prestasi  yang  sama dalam basket  sebagai  pemimpin  lapangan. Setelah lulus universitas  dan bekerja selama beberapa tahun, Walton  bergabung  dengan militer selama perang dunia ke II.  Setelah keluar ia  memilih  untuk  berkarier  dalam  bidang  perdangan  eceran, bidang  yang  ia cintai, bersama istrinya ia memilih kota kecil Bentonville, Arkansas, di mana  mereka  tinggal. Disanalah  mereka  membuka  Walton Five serta  Dime Variety Store.

Bisnis  mereka  sukses, antara  lain  karena  upaya  Walton  yang  keras, namun  juga  karena  ia memiliki  impian  untuk  mengubah  tokonya  menjadi swalayan, yang  saat  itu  adalah suatu konsep baru. Ia bekerja keras dan terus mengembangkan usahanya. Pada  tahun 1960, ia sudah memiliki lima belas toko. Namun  pada  saat  itu  juga  pesaingnya  Herb Gibson, memulai  toko diskon di sebelah  Barat Laut Arkansas. Mereka bersaing langsung  dengan  toko  kelontong  Walton. Kami  benar–benar hanya memeliki dua pilihan, kata  Walton, tetap dalam bisnis klontong dan dilanda keras oleh gelombang diskon atau   membuka toko diskon, maka  saya  mulai  menjelajahi  seluruh  penjuru Negara, mempelajari  konsepnya, kami  buka Walt Mart  yang pertama  pada   tanggal  2 Juli  1962  di Rogers, Arkansas, persis  di seberang  Bentonville.

Walton segera  membuka  toko baru. Walt Mart miliknya  lebih  kecil dibandingkan  dengan toko–toko lain yang mengawali usaha  mereka  pada  waktu yang  bersamaan, namun  tokonya semakin kuat, dan  itu  membawanya  ke persoalan  berikutnya. Walton sadar bahwa  ia  harus  memperbaiki  perencanaan serta  pendistribusian toko-tokonya. Ia  dan orang–orangnya memecahkan persoalan tersebut dengan menciptakan pusat–pusat distribusi disertai  komputerisasi. Tindakan ini membuat mereka bisa  memesan dalam jumlah banyak, melacak  kebutuhan setiap tokonya, dan mendistribusikannya dengan cepat serta efisien. Ketika  pembelian  peralatan  serta gudang–gudang baru  untuk pusat  distribusi  baru  memciptakan   beban  utang  yang  besar , itu  hanyalah  persoalan  lain  yang  ia harus  atasi. Walton mengatasinya  dengan cara menjual  sahamnya  kepada publik  pada  tahun  1970.

Ketika ia  meninggal  pada  tahun  1992, perusahaannya mengoperasikan  lebih  dari  1.700 toko di empat  puluh dua  Negara  bagian  dan  Meksiko. Sam Walton, pemilik toko   kelontong kota kecil itu, telah  menjadi pengecer nomor satu di Amerika. Semenjak  kematiannya, perusahaanya terus berkembang, kepemimpinannya masih  mengatasi  berbagai  persoalan  yang  muncul  dan  terus  memajukan  Wal Mart serta  satu  lagi outlet mereka: Sam’s Club.

 

 

8.15. Kepemimpinan Sam Walton

Para  pemimpin  yang  efektif,  seperti Sam Walton, selalu bangkit menghadapi,  itulah salah satu  hal  yang  membedakan pemenang dengan  pecundang. Sementara  pengecer  yang lain  mengeluhkan persaingan, Walton bangkit mengatasi berbagai persoalannya  dengan  kreativitas serta  keuletan. Apapun  bidang  yang  ditekuni  seorang  pemimpin, ia pasti akan menghadapi banyak persoalan. Ada tiga alasan yang membuat persoalan–persoalan itu tidak  dapat  menghindari. Pertama  kita   hidup di dunia  yang  beragam. Kedua, kita berinteraksi  dengan  orang lain. Dan ketiga, kita  tidak mungkin mengendalikan  semua keadaan yang kita  hadapi.

Para  pemimpin  yang  bisa memecahkan  masalahnya  dengan baik memperlihatkan lima  kualitas: Mereka mengantisipasikan berbagai persoalan. Karena persoalan–persoalan itu  tidak terhindarkan, para pemimpin yang  baik  mengantisipasikannya. Siapapun yang berharap  untuk  menjalani  hidup  yang mudah  akan terus  mengalami   kesulitan.  Saya  pernah  mendengar  cerita  mengenai  David Livingstone, misionari dari Afrika,  yang  mengambarkan sikap  yang  dibutuhkan  oleh  para pemimpin. Sebuah  organisasi  misi  ingin mengutus  orang utuk  membantu Dr Livingstone.

Pemimpin organisasi ini pun menulis, sudahkah Anda menemukan jalan yang mudah menuju tempat di mana Anda berada saat   ini? Jika  sudah, kami  ingin  mengutus  orang untuk  menyusul Anda. Livingstone   menjawab, jika  Anda  ingin  mengutus  orang–orang  yang  hanya  mau datang  jika  ada  jalan yang mudah, lebih  baik tidak usah. Saya  ingin  orang–orang  yang  mau  datang  sekalipun tidak  ada  jalan  sama  sekali. Jika  Anda  tetap  memilihara  sikap positif  dan  mengantisipasikan  yang  terburuk Anda  akan  ada di posisi  yang baik  untuk  mengatasi  berbagai persoalan  yang  akan  Anda  hadapi.

Rangkuman

Nilai dapat diartikan sebagai keyakinan orang yang membimbing orang dalam bertindak dan menilai dalam berbagai situasi. Ada alasan yang mendasar mengapa kita perlu memahami nilai yang dipegang seseorang. Pertama, nilai merupakan atribut individu. Kedua, nilai meletakkan dasar untuk memahami sikap, persepsi, motivasi, dan perilaku seseorang. Nilai penting terhadap penelitian prilaku organisasional karena menjadi dasar pemahaman sikap dan motivasi individu, dan karena hal tersebut berpengaruh terhadap persepsi kita. Individu memasuki suatu organisasi dengan pendapat yang telah terbentuk sebelumnya tentang apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya terjadi. Tentu saja, pendapat-pendapat ini tidak bebas dari nilai. Sebaliknya, hal tersebut memuat interprestasi-interprestasi mengenai apa yang benar dan yang salah.

Persepsi adalah proses dimana seseorang mengorganisasikan dan menginterpretasikan kesan sensori untuk member arti pada lingkungannya. Oleh karena itu maka dapat terjadi interpretasi yang berbeda terhadap obyek yang sama. Dalam kajian perilaku organisasi yang menjadi obyeknya adalah manusia. Perilaku manusia sangat dinamis, mudah berubah dan perubahan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti situasi dan kondisi yang terjadi di sekitarnya. Persepsi adalah inti komunikasi, karena jika tidak akurat, kita tidak mungkin berkomunikasi dengan efektif. Persepsilah yang mementukan kita memilih suatu pesan dan mengabaikan pesan yang lain. Perilaku yang disebabkan secara internal adalah perilaku yang diyakini dipengaruhi oleh kendali pribadi seorang individu. Perilaku yang disebabkan secara eksternal dianggap sebagai akibat dari sebab-sebab luar, yaitu individu tersebut dianggap telah dipaksa berperilaku demikian oleh situasi. Sebagai contoh, apabila seorang karyawan Anda terlambat kerja, Anda mungkin menghubungkan keterlambatannya dengan pesta sampai larut malam dan kemudian bangun kesiangan.

Para peneliti telah berasumsi bahwa sikap mempunyai tiga komponen, yaitu kesadaran biasa disebut dengan kognitif, perasaan atau afektif, dan perilaku. Keyakinan bahwa diskriminasi itu salah merupakan sebuah pernyataan evaluatif. Opini semacam itu adalah komponen kognitif (cognitive component) dari sikap, yang menentukan tingkatan untuk bagian yang lebih penting dari sebuah sikap. Perasaan adalah segmen emosional atau perasaan dari sebuah sikap dan tercermin dalam pernyataan seperti saya tidak menyukai John karena ia mendiskriminasi kaum minoritas. Perasaan akan bisa menimbulkan hasil akhir perilaku. Komponen perilaku (behavior component) dari sebuah sikap merujuk pada suatu maksud untuk berperilaku dalam cara tertentu terhadap seseorang atau sesuatu.

Evaluasi Mandiri

  1. Jelaskan secara singkat pengertian nilai dan sistem nilai yang harus dimiliki oleh individu dalam suatu organisasi!
  2. Sebutkan peran penting nilai-nilai yang harus dikembangkan dalam mempengaruhi perilaku individu dalam organisasi!
  3. Jelaskan istilah-istilah berikut: power distance, individualism, masculinity, feminity, uncertainty avoidance, quantity and quality life!
  4. Jelaskan secara singkat peran dan implikasi nilai terhadap perilaku organisasi!
  5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan persepsi dan peran attribution theory dalam perilaku organisasional!
  6. Jelaskan apa yang dimaksud dengan konsep sikap dan berikan contoh pernyataan sikap positif dan sikap negatif!
  7. Jelaskan secara singkat apa yang dimaksud dengan komponen kognitif dan komponen afektif!
  8. Jelaskan secara singkat apa yang dimaksud dengan sikap kerja, kepuasan kerja, dan keterlibatan kerja!
  9. Jelaskan istilah-istilah berikut: selection perception, hallo effect, contras effect, projection, dan stereotyping!
  10. Komitmen organisasi terdiri dari tiga dimensi. Sebut dan Jelaskan masing-masing dimensi tersebut!

 

Ambillah langkah besar satu demi satu. Ahli strategi militer mengajari pasukannya untuk tidak bertempur di banyak medan perang sekaligus. Tetapkan satu sikap yang ingin Anda atasi saat ini.

John Maxwell

Satu-satunya hal yang dapat menghalangi terciptanya masa depan kita adalah keraguan kita akan hari ini. Oleh karena itu, majulah terus dengan keyakinan yang kuat dan penuh.

Franklin Delano Roosevelt

 

 

          

Leave A Reply