KONSEP DASAR ENTREPRENEURSHIP
- Posted by sudaryono
- Categories Karya Tulis
- Date 08 Agustus 2025
- Comments 0 comment
BAB I
KONSEP DASAR ENTREPRENEURSHIP
Pembahasan Materi
Dalam bab ini Anda akan mempelajari tentang pengertian entrepreneurship, manfaat entrepreneurship, peran dan fungsi wirausaha, motivasi menjadi entrepreneur, keuntungan dan kelemahan menjadi entrepreneur, profil entrepreneur, semangat berkewirausahaan, karakteristik sukses entrepreneur, karakteristik kegagalan seorang entrepreneur, konsep cash flow quadrant oleh Robert T. Kiyosaki, prinsip-prinsip entrepreneurship, dan mengambil inspirasi dari pengusaha sukses.
- Pengertian Entrepreneurship
Entrepreneurship yang diterjemahkan menjadi kewirausahaan sampai saat ini belum ada difinisi yang telah disepakati bersama di antara para ahli. Hal ini dapat disimak dari adanya perbedaan beberapa definisi antara satu ahli dengan ahli lainnya, namun setiap definisi memiliki benang merah yang sama. Kata entrepreneur berasal dari bahasa Perancis, entre berarti antara dan prendre berarti mengambil. Kata ini pada dasarnya digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang berani mengambil risiko dan memulai sesuatu yang baru (Syahrial Yusuf, 2010). Kewirausahaan berasal dari kata wira-usaha yang secara sederhana berarti orang yang berani mengambil risiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan.
John J. Kao (1998) mendefinisikan entrepreneurship adalah usaha untuk menciptakan nilai melalui pengenalan kesempatan bisnis, manajemen pengambilan risiko yang tepat, dan melalui keterampilan komunikasi dan manajemen untuk mobilisasi manusia, uang, dan bahan-bahan baku atau sumber daya lain yang diperlukan untuk menghasilkan proyek supaya terlaksana dengan baik. Pengertian entrepreneurship menurut Robert D. Hisrich (2005) adalah proses dinamis atas penciptaan tambahan kekayaan. Kekayaan diciptakan oleh individu yang berani mengambil risiko utama dengan syara-syarat kewajaran, waktu, dan atau komitmen karier atau penyediaan nilai untuk berbagai barang dan jasa. Produk dan jasa tersebut tidak atau mungkin baru atau unik, tetapi nilai tersebut bagaimanapun juga harus dipompa oleh usahawan dengan penerimaan dan penempatan kebutuhan keterampilan dan sumber-sumber daya.
Istilah wirausaha sebagai padanan kata entrepreneur dapat dipahami dengan menguraikan peristilahan tersebut sebagai berikut (Leonardus Saiman, 2009):
Wira = utama, gagah, luhur, berani, teladan dan pejuang
Usaha = penciptaan kegiatan, dan atau berbagai aktivitas bisnis.
Identik dengan wiraswasta, yang berarti:
Wira = utama, gagah, luhur, berani, teladan dan pejuang
Swa = sendiri
Sta = berdiri
Swasta = berdiri di atas kaki sendiri, atau dengan kata lain berdiri di atas
kemauan dan atau kemampuan sendiri.
Dapat penulis simpulkan bahwa berkewirausahaan adalah hal-hal atau upaya-upaya yang berkaitan dengan penciptaan kegiatan atau usaha atau aktivitas bisnis atas dasar kemauan sendiri dan atau mendirikan usaha atau bisnis dengan kemauan dan atau kemampuan sendiri. Wirausaha/wiraswasta adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat kewiraswastaan/kewirausahaan dan umumnya memiliki keberanian dalam mengambil risiko terutama dalam menangani usaha atau perusahaannya dengan berpijak pada kemampuan dan atau kemauan sendiri.
- Manfaat Entrepreneurship
Dari beberapa penelitian mengindikasikan bahwa pemilik bisnis mikro, kecil, dan atau menengah percaya bahwa mereka cenderung bekerja lebih keras, menghasilkan lebih banyak uang, dan lebih membanggakan daripada bekerja di suatu perusahaan besar. Sebelum mendirikan usaha, setiap calon wirausahawan sebaiknya mempertimbangkan manfaat kepemilikan bisnis mikro, kecil, dan atau menengah. Thomas W. Zimmerer et al. (2005) merumuskan manfaat berkewirausahaan adalah sebagai berikut:
- Memberi peluang dan kebebasan untuk mengendalikan nasib sendiri.
- Memberi peluang melakukan perubahan.
- Memberi peluang untuk mencapai potensi diri sepenuhnya.
- Memiliki peluang untuk meraih keuntungan seoptimal mungkin.
- Memiliki peluang untuk berperan aktif dalam masyarakat dan mendapatkan pengakuan atas usahanya.
- Memiliki peluang untuk melakukan sesuatu yang disukai dan menumbuhkan rasa senang dalam mengerjakannya.
Dengan beberapa manfaat berkewirausahaan di atas jelas bahwa menjadi usahawan lebih memiliki berbagai kebebasan yang tidak mungkin diperoleh jika seseorang menjadi karyawan atau menjadi orang gajian atau menjadi buruh bagi juragan/orang lain, atau menjadi pesuruh bagi pengusaha lain atau menjadi pekerja bagi para pemilik perusahaan.
- Peran dan Fungsi Wirausaha
Setiap wirausaha memiliki fungsi pokok dan fungsi tambahan sebagai berikut:
- Fungsi pokok wirausaha, yaitu:
- Membuat keputusan-keputusan penting dan mengambil risiko tentang tujuan dan sasaran perusahaan.
- Memutuskan tujuan dan sasaran perusahaan.
- Menetapkan bidang usaha dan pasar yang akan dilayani.
- Menghitung skala usaha yang diinginkannya.
- Menentukan permodalan yang diinginkannya (modal sendiri dan modal dari luar) dengan komposisi yang menguntungkan.
- Memilih dan menetapkan kriteria pegawai atau karyawan dan memotivasinya.
- Mengendalikan secara efektif dan efisien.
- Mencari dan menciptakan berbagai cara baru.
- Mencari terobosan baru dalam mendapatkan masukan atau input, serta mengolahnya menjadi barang dan atau jasa yang menarik.
- Fungsi tambahan wirausaha, yaitu:
- Mengenali lingkungan perusahaan dalam rangka mencari dan menciptakan peluang usaha.
- Mengendalikan lingkungan ke arah yang menguntungkan bagi perusahaan.
- Menjaga lingkungan usaha agar tidak merugikan masyarakat maupun merusak lingkungan akibat dari limbah usaha yang mungkin dihasilkannya.
- Meluangkan dan peduli atas CSR. Setiap pengusaha harus peduli dan turut serta bertanggung jawab terhadap lingkungan social di sekitarnya.
- Pemimpin industri, yang mulai sebagai teknisi atau tukang dalam satu bidang keahlian, kemudian berhasil menemukan sesuatu yang baru, bukan dengan disengaja melainkan karena hasil temuan dan kehebatan daya cipta.
- Usahawan, yaitu orang yang menganalisis berbagai kebutuhan masyarakat, merangsang kebutuhan untuk mendapatkan langganan baru. Perhatiannya yang paling utama adalah penjualan.
- Pemimpin keuangan, yaitu orang yang sejak muda menekuni keuangan, mengumpulkan uang, dan menggabungkan sumber-sumber keuangan.
- Menemukan cara-cara yang berbeda untuk menyediakan barang dan jasa dengan jumlah lebih banyak dengan menggunakan sumber daya yang lebih sedikit.
- Motivasi Menjadi Entrepreneur
Keberanian seseorang untuk mendirikan usaha sendiri (berwirausaha) sering kali terdorong oleh motivasi dari guru atau dosennya, atau koperasi yang memberikan mata kuliah entrepreneurship yang praktis dan menarik, sehingga dapat membangkitkan minat mahasiswa untuk mulai mencoba berwirausaha. Tidak jarang juga setelah seseorang memperoleh kursus atau pendidikan non-gelar melalui koperasi atau koperasi kredit, bahkan setelah mendengarkan cerita sukses pengalaman bisnis yang dimiliki oleh orang-orang di sekitar kita, meskipun bisnis kecil-kecilan, dapat menjadi pemicu, potensi dan motivasi utama untuk menjadi wirausahawan yang berhasil. Motivasi untuk menjadi seorang wirausaha biasanya muncul dengan sendirinya, setelah memiliki bekal cukup untuk mengelola usaha dan siap mental secara total. Secara umum motivasi seseorang untuk menjadi wirausahawan antara lain (Purdi E. Chandra, 2008):
- Laba: Dapat menentukan berapa laba yang dikehendaki, keuntungan yang diterima, dan berapa yang akan dibayar kepada pihak lain atau pegawainya.
- Kebebasan: Bebas mengatur waktu, bebas dari supervisi, bebas aturan main yang menekan atau intervensi dari orang lain, bebas dari aturan budaya organisasi atau perusahaan.
- Impian personal: Bebas mencapai standar hidup yang diharapkan, lepas dari rutinitas kerja yang membosankan, karena harus mengikuti visi, misi, impian orang lain. Imbalan untuk menentukan nasib/visi, misi dan impiannya sendiri.
- Kemandirian: Memiliki rasa bangga, karena dapat mandiri dalam segala hal, seperti permodalan, mandiri dalam pengelolaan/manajemen, mandiri dalam pengawasan, serta menjadi manajer terhadap dirinya sendiri.
Maka dapat disimpulkan bahwa dengan berwirausaha seseorang akan termotivasi untuk memperoleh imbalan minimal dalam bentuk laba, kebebasan, impian personal yang mungkin menjadi kenyataan, kemandirian, di samping memiliki peluang-peluang pengembangan usaha, memiliki peluang untuk mengendalikan nasibnya sendiri. Seorang wirausaha tidak menunggu hari gajian atau tanggal gajian, tetapi setiap hari diharapkan memperoleh pendapatan rutin. Seorang wirausaha akan berusaha sistem bisnisnya dapat dijalankan orang lain, dirinya sendiri dapat berjalan-jalan. Tabel berikut adalah perbedaan esensial antara entrepreneur dengan karyawan atau orang gajian.
Tabel 1.1 Perbedaan Antara Entrepreneur dengan Karyawan atau Pegawai
Entrepreneur | Karyawan atau Pegawai |
1. Penghasilan bervariasi atau tidak teratur, sehingga pada tahap awal sulit mengatur (tidak merasa aman) karena penghasilan tidak pasti. | 1. Memiliki penghasilan pasti atau teratur, sehingga mudah diatur (rasa aman) meskipun gaji kecil. |
2. Memiliki peluang yang lebih besar untuk menjadi orang kaya, penghasilan sebulan dapat menutupi pengeluaran atau biaya hidup untuk satu tahun. | 2. Peluang kaya relatif (sangat tergantung kemujuan dan karier). |
3. Pekerjaan bersifat tidak rutin. | 3. Pekerjaan bersifat rutin |
4. Kebebasan waktu yang tinggi (tidak terikat oleh jam kerja) | 4. Waktu tidak bebas (terikat) pada jadwal/jam kerja perusahaan |
5. Tidak ada kepastian (ketidakpastian tinggi) dalam banyak hal termasuk meramalkan kekayaan | 5. Ada kepastian (dapat diprediksi) dalam banyak hal, kekayaan dapat diramalkan/dihitung |
6. Kreativitas dan inovasi dituntut setiap saat | 6. Bersifat menunggu instruksi atau perintah dari atasan |
7. Ketergantungan rendah | 7. Ketergantungan tinggi |
8. Berbagai risiko tinggi (asset dapat dihitung bila dijadikan sebagai agunan dalam pinjaman) dan usahanya bangkrut | 8. Risiko relatif rendah bahkan dapat diramalkan |
9. Terbuka peluang untuk menjadi bos | 9. Menjadi bos relatif sulit apalagi bekerja pada perusahaan keluarga |
10. Tanggung jawab besar | 10. Tanggung jawab relatif |
Perlu digarisbawahi bahwa dikaitkan dengan perbedaan tersebut dalam Tabel 1.1, hampir 75 persen yang termasuk dalam daftar orang terkaya di dunia (majalah Forbes) merupakan wirausahawan generasi pertama. Menurut hasil penelitian Thomas Stanley dan William Danko, pemilik perusahaan sendiri mencapai dua pertiga dari jutawan di Amerika Serikat. “Orang-orang yang bekerja memiliki perusahan sendiri empat kali lebih besar peluangnya untuk menjadi miliader daripada orang-orang yang bekerja untuk orang lain atau menjadi karyawan perusahaan lain”. Dengan demikian kata sukses itu sendiri dapat diartikan secara beragam, bergantung dari sudut pandang masing-masing individu. Setiap orang boleh saja mengkategorikan dirinya sukses. Namun terkadang, bila mereka mau jujur terhadap dirinya sendiri apakah benar itu yang mereka rasakan.
- Keuntungan Dan Kelemahan Menjadi Entrepreneur
Berbagai keuntungan menjadi entrepreneur menurut Buchari Alma (2005), yaitu:
- Tercapai peluang-peluang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki sendiri.
- Terbuka peluang untuk mendemonstrasikan potensi seseorang secara penuh.
- Terbuka peluang untuk memperoleh manfaat dan keuntungan secara maksimal.
- Terbuka peluang untuk membantu masyarakat dengan usaha-usaha konkret.
- Terbuka peluang untuk menjadi bos minimal bagi dirinya sendiri.
Selain keuntungan, ada pula kelemahan menjadi entrepreneur , antara lain:
- Memperoleh pendapatan yang tidak pasti dan memikul berbagai risiko. Jika risiko ini telah diantisipasi secara baik, entrepreneur telah mampu menggeser risiko tersebut.
- Bekerja keras dan atau jam kerja yang mungkin lebih panjang.
- Kualitas hidup mungkin masih rendah sampai usahanya berhasil, sebab pada tahap-tahap awal seorang entrepreneur harus bersedia untuk berhemat.
- Memiliki tanggung jawab sangat besar, banyak keputusan yang harus dibuat walaupun mungkin kurang menguasai permasalahan yang dihadapinya.
- Profil Entrepreneur
Seorang entrepreneur adalah seorang yang mampu mengorganisasikan dan mengarahkan usaha baru. Untuk itu, sebaliknya (bahkan pada saat tertentu harus) berani mengambil risiko yang terkait dengan proses pemulaian. Beberapa entrepreneur dapat terlahir dalam suatu seni mulai dengan membuka usaha kecil seperti warung kelontong ketika masih usia sekolah atau di bangku kuliah dan dari sini Anda dapat mengambil pelajaran dan berkembang karena sejak dini mulai mengasah kemampuan manajemen, mengelola waktu, dan melatih keuletan Anda. Anda dapat belajar dari entrepreneur yang telah sukses yang menjadi idola Anda atau mengikuti model atau pola keberhasilan yang mereka kerjakan sebelumnya. Mulailah belajar dari seseorang yang telah Anda kenal, seperti kawan, orangtua, handai taulan, dan sebagainya. Beberapa kualitas profil wirausaha agar berhasil menurut David E. Rye (1996), adalah:
- Seorang yang berprestasi tinggi
- Pengambil risiko
- Pemecahan masalah
- Pencari status
- Memiliki tingkat cadangan energi yang tinggi
- Memiliki rasa percaya diri yang tinggi
- Menghindari ikatan emosi
- Memerlukan kepuasan pribadi
Dari profil wirausahawan yang telah dijabarkan tersebut dapat penulis simpulkan bahwa wirausahawan adalah seseorang yang mementingkan prestasi dan perlu yakin bahwa mereka harus dapat menguasai nasib mereka sendiri. Waktu dalam sehari hanyalah 24 jam untuk setiap orang, untuk itu Anda harus dapat mengaturnya sendiri sesuai dengan formatnya. Misalnya, format 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk rekreasi dan untuk keluarga dan 8 jam sisanya untuk istirahat. Namun, format pengaturan waktu dapat diubah sesuai dengan kepentingan prestasi dan penguasaan nasib mereka sendiri, sehingga format waktu dapat fleksibel, misalnya 10 jam untuk bekerja, 8 jam untuk rekreasi dan untuk keluarga, dan 6 jam sisanya untuk tidak/istirahat. Hal yang paling penting adalah keseimbangan antara jam kerja, rekreasi, dan istirahat diaturnya sendiri sedemikian rupa sesuai dengan kekuatan dan kesehatan fisik Anda. Jangan sampai hanya terfokus bekerja, tetapi kesehatan diri terabaikan, sehingga biaya pemeliharaan kesehatan justru lebih besar daripada manfaat yang dirasakan.
Tabel 1.2. Profil Seorang Wirausahawan
Karakteristik Profil | Ciri Wirausahawan yang Menonjol |
Berprestasi tinggi | Mereka lebih suka bekerja keras dengan para ahli untuk memperoleh prestasi |
Pengambilan risiko | Mereka tidak takut mengambil risiko, tetapi akan menghindari risiko tinggi bilamana dimungkinkan |
Pemecahan masalah | Mereka cepat mengenali dan memecahkan masalah yang dapat menghalangi kemampuannya mencapai tujuan. |
Pencari status | Mereka tidak akan memperoleh kebutuhan akan status mengganggu misi bisnisnya. |
Tingkat energi tinggi | Mereka berdedikasi dan bersedia bekerja dengan jam kerja yang panjang untuk membangun bisnisnya. |
Percaya diri | Mereka mengandalkan tingkat percaya dirinya yang tinggi dalam mencapai sukses |
Ikatan emosi | Mereka tidak akan memperoleh hubungan emosional mereka mengganggu sukses bisnisnya |
Kepuasan pribadi | Mereka menganggap struktur organisasi sebagai suatu halangan bagi sasaran yang tinggi dicapainya. |
- Semangat Berkewirausahaan
Semangat kewirausahaan yang perlu dimasyarakatkan dan dibudayakan oleh para pemimpin pada umumnya dan para pengusaha (Indonesia) pada khususnya antara lain:
- Kemauan kuat untuk berkarya (utamanya bidang ekonomi) dengan semangat mandiri.
- Mampu membuat keputusan yang tepat dan berani mengambil risiko.
- Kreatif dan inovatif.
- Tekun, teliti, dan produktif.
- Berkarya dengan semangat kebersamaan dan etika bisnis yang sehat.
Berdasarkan kelima semangat kewirausahaan tersebut, jelas bahwa yang dibutuhkan oleh seorang pengusaha atau wirausaha (Indonesia) adalah berkarya dengan semangat mandiri, namun perlu berkarya dengan semangat kebersamaan dan kekeluargaan yang sejati. Hal ini dituntut bahwa seorang wirausahawan tidak hanya memikirkan bisnisnya sendiri (individualis), melainkan juga dituntut untuk dapat berkarya dengan penuh kebersamaan. Dengan kata lain, tidak boleh saling menjatuhkan satu sama lain, terutama yang bisnisnya sejenis, melainkan harus bersaing secara sehat, sehingga pada akhirnya akan mendorong munculnya wirausahawan-wirausahawan baru yang tangguh, kreatif, inovatif, produktif, namun tetap menjaga karakter bangsa Indonesia yang ramah, gotong-royong, persaudaraan sejati, dan tidak melanggar etika bisnis, lebih-lebih dalam menjual produk dan atau jasanya tidak boleh melanggar Undang-Undang Perlindungan Konsumen Indonesia.
Menurut Salim Siagian dan Asfahani (1996) bahwa untuk berwirausaha harus memiliki semangat 17-8-45, artinya harus berpegang pada: 17 ciri dan cara berwirausaha. Tujuh belas (17) ciri dan cara berwirausaha tersebut adalah:
- Delapan (8) macam sebagai syarat pokok wirausaha handal.
- Empat (4) macam ciri dan cara sebagai kualifikasi wirausaha tangguh.
- Lima (5) macam ciri dan cara sebagai kualifikasi wirausaha unggul.
Rincian ciri dan cara berwirausaha tersebut sebagai berikut:
- Delapan macam sebagai syarat pokok wirausaha handal.
Delapan butir (administrative entrepreneur) itu adalah kualifikasi dasar pengusaha yang baik atau wirausaha handal, yaitu:
- Memiliki rasa percaya diri dan sikap mandiri yang tinggi untuk berusaha mencari penghasilan dan keuntungan melalui perusahaan.
- Mau dan mampu mencari dan mengangkap peluang usaha dan menguntukan serta melakukan apa saja yang perlu untuk memanfaatkannya.
- Mau dan mampu bekerja keras dan tekun dalam menghasilkan barang dan atau jasa serta mencoba cara kerja yang lebih tepat dan efisien.
- Mau dan mampu berkomunikasi, tawar-menawar, dan musyawarah dengan berbagai pihak yang besar pengaruhnya pada kemajuan usaha terutama para pembeli / pelanggan (memiliki jiwa salesmanship).
- Menghadapi hidup dan menangani usaha dengan rencana, jujur, hemat, dan disiplin.
- Mencari kegiatan usaha dan perusahaannya serta lugas dan tangguh, tetapi cukup luwes dalam melindunginya.
- Mau dan mampu meningkatkan kapasitas diri sendiri dan kapasitas perusahaan dengan memanfaatkan dan memotivasi orang lain (leadership/managemenship) serta melakukan perluasan dan pengembangan usaha dengan risiko yang moderat.
- Berusaha mengenal dan mengendalikan lingkungan serta menggalang kerjasama yang saling menguntungkan dengan berbagai pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan.
- Empat macam ciri dan cara sebagai kualifikasi wirausaha tangguh.
Berikut ini empat kualifikasi wirausaha tangguh (innovative entrepreneurs), yaitu:
- Berpikir dan bertindak strategis serta adaptif terhadap perubahan termasuk yang mengandung risiko yang agak besar dan dalam mengatasi berbagai masalah.
- Selalu berusaha untuk mendapat keuntungan melalui berbagai keunggulan dalam memuaskan pelanggan (penerapan falsafah dan teknik Total Quality Control (TQC)).
- Berusaha mengenal dan mengendalikan kekuatan dan kelemahan perusahaan (dan pengusahanya), serta meningkatkan kemampuan dengan sistem pengendalian intern.
- Selalu berusaha meningkatkan kemampuan dan ketangguhan perusahaan terutama dengan pembinaan motivasi dan semangat kerja, serta pemupukan permodalan.
- Lima macam ciri sebagai kualifikasi wirausaha unggul.
Kualifikasi wirausaha yang unggul ada 5 macam, yaitu:
- Berani mengambil risiko serta mampu memperhitungkan dan berusaha menghindarinya.
- Selalu berusaha mencapai dan menghasilkan karya bakti yang lebih baik untuk pelanggan, pemilik, pemasok, tenaga kerja, masyarakat, bangsa dan Negara.
- Antisipasi terhadap perubahan dan akomodatif terhadap lingkungan.
- Kreatif mencari dan menciptakan peluang pasar dan meningkatkan produktifitas dan efisiensi.
- Selalu berusaha untuk mencari ide dan peluang baru dalam berwirausaha.
Berdasarkan paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bila semua calon dan atau wirausahawan Indonesia dalam menjalankan bisnisnya senantiasa mempertimbangkan 17 ciri dan cara berwirausaha dengan semangat 17-8-45 seperti tersebut di atas yang meliputi 17 ciri dan cara berwirausaha, 8 macam syarat pokok wirausaha andal, dan 4 macam ciri dan cara sebagai kualifikasi wirausaha tangguh, serta 5 macam ciri dan cara sebagai kualifikasi wirausaha unggul, maka akan bermunculan pebisnis-pebisnis Andal, Tangguh, dan Unggul (ATU) yang akan mampu bersaing dengan pebisnis asing di kancah globalisasi perdagangan global.
- Karakteristik Sukses Entrepreneur
Sukses tidaknya seorang berwirausaha dalam mengelola bisnis atau usahanya tidak hanya dipengaruhi oleh faktor banyaknya modal yang dimiliki, dan fasilitas atau koneksi/kedekatan dengan sumber kekuasaan yang dapat dinikmati. Akan tetapi yang lebih menonjol adalah karena adanya fakta bahwa bisnis atau usahanya dapat dikelola oleh orang yang berjiwa entrepreneur dan tahu persis tentang apa, mengapa, dan bagaimana bisnis itu harus berjalan dan dikelolanya. Kelebihan modal dan kedekatan dengan sumberkekuasaan ataupun fasilitas yang dimiliki oleh seorang pebisnis, karena faktor kedekatan dengan sumber kekuasaan (pucuk pemerintahan), dalam bisnis umumnya belum dapat menjamin bahwa bisnis atau usahanya akan sukses dalam jangka panjang. Terbukti di Negara-negara berkembang banyak bisnis yang maju karena faktor koneksi dan fasilitas yang diberikan oleh pucuk pimpinan suatu Negara (karena faktor kedekatan dengan sumbu kekuasaan), atau anak-anak atau kolega pejabat ternyata bisnisnya tidak dapat bertahan dalam jangka panjang. David E. Rye (1996) merumuskan karakteristik sukses bagi seorang wirausahawan sebagaimana Tabel 1.3 berikut.
Tabel 1.3. Karakterisktik Sukses Seorang Wirausahawan
Karakteristik Sukses | Ciri Sukses yang Menonjol |
Pengendalian diri | Mereka ingin dapat mengendalikan semua usaha yang mereka lakukan |
Mengusahakan terselesaikannya urusan | Mereka menyukai aktivitas yang menunjukkan kemajuan yang berorientasi pada tujuan |
Mengarahkan diri sendiri | Mereka memotivasi diri sendiri dengan suatu hasrat yang tinggi untuk berhasil |
Mengelola dengan sasaran | Mereka cepat memahami rincian tugas yang harus diselesaikan untuk mencapai sasaran |
Penganalisis kesempatan | Mereka akan menganalisis semua pilihan untuk memastikan kesuksesannya dan meminimalkan risiko |
Pengendalian pribadi | Mereka mengenali pentingnya kehidupan pribadi terhadap hidup bisnisnya |
Pemecah masalah | Mereka akan selalu melihat pilihan-pilihan untuk memecahkan setiap masalah yang menghadang |
Pemikiran objektif | Mereka tidak takut untuk mengakui jika melakukan kekeliruan |
Hal yang harus digarisbawahi pada karakteristik sukses bagi seorang wirausahawan dan perlu dilekatkan pada benak pikiran usahawan adalah bagaimana berpikir objektif dan kreatif, sehingga mampu menganalisis setiap kesempatan bisnis yang mungkin muncul dan pengendalian diri secara matang, sehingga mampu merencanakan dan mengendalikan bisnis secara objektif dan tidak mengandalkan diri pada pertolongan ataupun fasilitas yang ada di luar kemampuannya atau mengandalkan fasilitas atau kemudahan dari pihak lain.
Pada akhirnya orang harus berpikir realistis dan praktis. Realistis artinya melihat sesuatu berdasarkan kenyataan yang ada, sedangkan berpikir praktis artinya dapat mengerjakan sesuatu yang pada saat ini dilakukan. Setiap manusia harus tetap bertahan hidup dan berusaha menolong dirinya sendiri serta melakukan ikhtiar apa saja asalkan dalam koridor norma sosial yang berlaku. Dengan kata lain tidak menempuh cara-cara yang bertentangan dengan ketentuan hukum dan atau norma sosial. Abraham Maslow, dengan teori hirarki kebutuhan manusia yang terkenal menyatakan tentang kebutuhan dasar manusia. Setiap orang membutuhkan makan, minum, tempat tinggal, kepuasan dan kebutuhan fisik lainnya.
- Karakteristik Kegagalan Seorang Entrepreneur
Kegagalan yang sering dialami oleh seorang wirausahawan dapat disebabkan karena faktor ketidakmampuannya dalam mengelola bisnisnya, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Kegagalan yang lebih sering dialami atau terjadi adalah karena mereka tidak dapat mengantisipasi terhadap faktor-faktor ketidakpastian dalam bisnis dan usahanya di kemudian hari. Hal yang menjadi sorotan orang pada umumnya berfokus pada pertanyaan mengapa mereka dapat sukses? Akan tetapi jarang sekali yang bertanya mengapa para usahawan gagal? Menurut David E. Rye (1996), ada beberapa alasan mengapa wirausahawan gagal? Karakteristik dan ciri kegagalan yang menonjol bagi seorang wirausahawan dapat disimak pada Tabel 1.4 berikut.
Tabel 1.4. Karakteristik Kegagalan Seorang Entrepreneur
Karakteristik Kegagalan | Ciri Kegagalan yang Menonjol |
Pengalaman manajemen | Pemahaman umum mereka terhadap disiplin-disiplin manajemen yang utama rata-rata kurang |
Perencanaan keuangan | Mereka meremehkan kebutuhan modal bisnis |
Lokasi usaha | Mereka memilih lokasi awal yang buruk untuk perusahaannya |
Pengendalian bisnis | Mereka gagal mengendalikan aspek-aspek utama dalam bisnisnya |
Pembelanjaan besar | Mereka menghabiskan pengeluaran awal yang tinggi yang sebenarnya dapat ditunda/tidak perlu |
Manajemen piutang | Mereka menimbulkan masalah arus kas yang buruk karena kurangnya perhatian akan piutang |
Dedikasi | Mereka meremehkan waktu dan dedikasi pribadi yang diperlukan untuk memulai bisnis |
Memperluas berlebihan | Mereka memulai program perluasan sebelum mereka siap |
Dari karakteristik kegagalan tersebut dapat disimpulkan bahwa kegagalan utama dalam berwirausaha atau bisnis, di antaranya:
- Karena pengetahuan dan pengalaman manajemen yang minim;
- Perencanaan dan penggunaan uang perusahaan buruk (sering kali tidak ada pemisahan antara uang untuk operasional dan biaya perusahaan dengan pengeluaran pribadi/keluarga) tidak memisahkan antara kebutuhan pribadi dengan kebutuhan bisnisnya;
- Pengendalian bisnis yang kurang memadai dengan kata lain pengendalian bisnis yang longgar dan mungkin dipaksakan;
- Pemilihan lokasi tempat usaha awal yang buruk berfokus pada lokasi pusat pemerintahan agar memperoleh berbagai kemudahan atau fasilitas dan atau menentukan lokasi sesuai dengan selera pribadi pemilik atau feng shui;
- Perencanaan ekspansi usaha baru yang buruk, misalnya membuka usaha baru di luar usaha kompetensinya atau di luar inti bisnisnya (core business);
- Tidak memiliki kemampuan menyusun rencana usaha (business plan);
- Lemahnya pengelolaan usaha;
- Keterbatasan akses kepada perbankan;
- Keterbatasan dalam akses pasar dan minimnya penguasaan TI.
- Konsep Cash Flow Quadrant Oleh Robert T. Kiyosaki
Gambar 1.1 berikut diambil dari Cash Flow Quadrant yang ditulis oleh Robert T. Kiyosaki dalam bukunya yang berjudul Panduan Ayah Kaya Menuju Kebebasan Finansial akan diuraikan secara ringkas. Kiyosaki menawarkan konsep cemerlang bahwa dalam memperoleh pendapatan, seseorang dikelompokkan dalam empat kuadran, yaitu:
Gambar 1.1. Cash Flow Quadrant
“E” (pegawai). Kalau mendengar kata “aman” atau “tunjangan,” saya bisa menduga inti mereka. Kata “aman” adalah sebuah kata yang sering digunakan sebagai reaksi terhadap emosi takut. Jika seseorang merasa takut, maka kebutuhan akan rasa aman adalah frasa yang lumrah dipergunakan oleh mereka yang terutama berasal dari kuadran “E”. Kalau menyangkut uang atau pekerjaan, ada banyak orang yang sangat membenci perasaan takut yang mengiringi ketidakpastian ekonomi … itu sebabnya muncul hasrat akan rasa aman.
Mereka ingin rasa takut mereka dipuaskan dengan beberapa derajat kepastian, itu sebabnya mereka mencari keamanan dan perjanjian yang mengikat dalam hal pekerjaan. Memang tepat kalau mereka mengatakan, “Aku tak terlalu tertarik kepada uang.” Bagi mereka, rasa aman bahkan lebih penting daripada uang. Seorang pegawai bisa merupakan presiden perusahaan atau tukang sapu perusahaan. Yang terpenting bukanlah apa yang mereka lakukan, tetapi perjanjian mengikat yang mereka miliki dengan orang atau organisasi yang mempekerjakan mereka.
“S” (pekerja lepas). Mereka adalah orang-orang yang ingin: “Menjadi bos mereka sendiri.” Atau mereka ingin: “Melakukan apa yang mereka mau.”Saya menamakan mereka “kelompok-melakukan-sendiri.” Sering, jika menyangkut topik uang, seorang “S” sejati tidak suka jika penghasilannya tergantung pada orang lain. Dengan kata lain, jika mereka bekerja keras, mereka berharap dibayar untuk pekerjaan mereka. Mereka yang termasuk kelompok “S” tidak suka jika jumlah uang yang mereka hasilkan ditentukan oleh orang lain atau oleh sekelompok orang yang mungkin tidak bekerja sekeras mereka. Jika mereka bekerja keras, bayarlah mereka dengan tinggi. Mereka juga mengerti bahwa jika tidak bekerja keras, maka mereka tidak layak dibayar tinggi. Kalau menyangkut masalah uang, mereka memiliki jiwa yang sangat independen atau sangat pribadi.
Jadi, sementara orang-orang “E”, atau pegawai, sering beraksi terhadap ketakutan tidak mempunyai uang dengan mencari “rasa aman”, orang-orang “S” sering beraksi dengan cara yang berbeda. Orang-orang dalam kuadran ini beraksi terhadap rasa takut tidak dengan mencari rasa aman, tapi dengan mengambil alih kendali keadaan dan melakukannya sendiri. Ini sebabnya saya menyebut kelompok “S” sebagai “kelompok-melakukan-sendiri”. Kalau menyangkut rasa takut dan risiko finansial, mereka ingin “menaklukan benteng dengan memegang tanduknya”. Dalam kelompok ini kita menemukan “professional” berpendidikan tinggi yang menghabiskan waktu bertahun-tahun di bangku kuliah, seperti misalnya dokter, pengacara, dan dokter gigi.
“B” (pemilik usaha). Kelompok ini nyaris bisa dikatakan sebagai lawan “S”. Seorang “B” sejati senang mengitari diri mereka sendiri dengan orang-orang pandai dari keempat kategori, “E, S, B, dan I.” Tidak seperti “S”, yang tak suka mendelegasikan pekerjaan (karena tidak ada yang bisa melakukannya dengan lebih baik), “B” sejati suka mendelegasikan pekerjaan. Moto sejati “B” adalah, “Mengapa melakukannya sendiri kalau kau bisa menyewa orang lain untuk melakukannya bagimu, dan mereka bisa melakukannya dengan lebih baik?”
Henry Ford cocok dengan kerangka ini. Seperti yang dikisahkan sebuah cerita terkenal, sekelompok orang yang menyebut diri mereka cerdik-pandai datang untuk menghakimi Ford karena ia “bodoh”. Mereka menyatakan ia sebenarnya tidak tahu banyak. Karena itu Ford mengundang mereka ke dalam kantornya dan menantang mereka untuk mengajukan pertanyaan apa saja dan ia akan menjawabnya. Jadi, panel itu berkumpul di sekeliling sang industrialis Amerika paling berkuasa, dan mulai mengajukan pertanyaan kepadanya. Ford mendengarkan pertanyaan mereka, dan begitu mereka selesai, ia hanya meraih beberapa pesawat telepon di mejanya dan memanggil beberapa asistennya yang cerdas, serta meminta mereka memberikan jawaban yang diinginkan panel itu. Ia mengakhiri pertemuan itu dengan memberitahu panel bahwa ia lebih suka menyewa orang-orang pandai berpendidikan untuk memberikan jawaban yang dibutuhkan supaya ia bisa mengosongkan pikirannya untuk melakukan tugas-tugas yang lebih penting. Tugas-tugas seperti “berpikir”. Inilah salah satu kutipan yang berasal dari ucapan Ford: “Berpikir adalah pekerjaan tersulit di dunia. Itu sebabnya hanya sedikit orang yang melakukannya”.
“I” (penanam modal). Investor membuat uang dengan uang. Mereka tidak perlu bekerja karena uang mereka bekerja untuk mereka. Kuadran “I” adalah arena bermain golongan kaya. Di kuadran mana pun orang menghasilkan uang, jika berharap suatu hari akan kaya, mereka pada akhirnya harus memasuki kuadran “I”. di dalam kuadran “I” lah uang diubah menjadi kekayaan.
- Prinsip-Prinsip Entrepreneurship
Prinsip-prinsip entrepreneurship menurut Heri Erlangga (2011), yaitu:
- Harus optimis dan ambisius
- Dapat membaca peluang pasar
- Sabar
- Jangan putus asa
- Jangan takut gagal
- Kegagalan pertama dan kedua itu biasa, anggaplah kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
Ada pula prinsip entrepreneurship yang diungkapkan oleh Suryana (2008). Ada tujuh prinsip yang diberikan, di antaranya:
- Passion (semangat)
- Independent (mandiri)
- Marketing sensitivity (peka terhadap pasar)
- Creative and innovative (kreatif dan inovatif)
- Calculated risk taker (mengambil risiko dengan penuh perhitungan)
- Persistent (pantang menyerah)
- High ethical standard (berdasar standar etika)
Jadi, apabila kedua pendapat tersebut digabungkan, ada 12 prinsip dalam berwirausa, yaitu:
- Jangan takut gagal.
- Penuh semangat.
- Kreatif dan inovatif.
- Bertindak dengan penuh perhitungan dalam mengambil risiko.
- Sabar, ulet, dan tekun.
- Harus optimis dan ambisius.
- Pantang menyerah/jangan putus asa.
- Peka terhadap pasar/dapat baca peluang pasar.
- Berbisnis dengan standar etika.
- Mandiri dan
- Peduli lingkungan.
Seseorang yang telah memutuskan untuk menjadi pelaku usaha meskipun dalam skala kecil dapat disebut sebagai wirausahawan. Sebagai seorang pelaku usaha atau wirausahawan maka ia perlu mengembangkan jiwa kewirausahaan. Dalam praktek sering kita menyaksikan seorang wirausahawan terjadi dengan sendirinya dan kemudian sukses, untuk yang demikian itu kita sebut mereka memiliki bakat.
- Inspirasi Entrepreneur Sukses
- Earl Silas Tupper: Mengenalkan Tupperware Melalui Pesta
Nama Tupperware pasti tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia, terutama bagi ibu-ibu rumah tangga. Hebatnya, merek dagang peralatan plastik yang mulai terkenal di Indonesia pada ’90-an itu kini bahkan kerap menjadi kata ganti bagi peralatan serupa, khususnya wadah plastik lain, meski bukan diproduksi produsen barang-barang plastik asal Amerika Serikat (AS) tersebut. Di bisnisnya, Tupperware memang cukup fenomenal sehingga terkenal keseanterio dunia. Namun, mungkin tidak banyak yang tahu jika awalnya Tupperware memiliki cara unik dalam memperkenalkan produknya, yaitu melalui pesta. Keberadaan Tupperware adalah berkat ide bisnis dari Earl Silas Tupper, sang pendiri. Bisnis ini berkembang berkat pikiran cemerlang Earl yang berupaya mencari jalan di tengah himpitan ekonomi pasca-perang Dunia II.
Saat itu, Earl menjumpai begitu banyak ibu rumah tangga yang menganggur. Padahal, dibenaknya, mereka bisa memberdayakan diri. Pria kelahiran New Hampshire ini pun memperkenalkan Tupperware, yakni wadah penyimpan makanan yang ciri khasnya sampai saat ini belum tergantikan, kedap udara. Ciri khas ini menjadi daya saing utama bagi Tupperware untuk bersaing dengan kompetitornya dibisnis tersebut. Sebelumnya Earl mendapat pengetahuan tentang plastik ketika bekerja di DuPont Chemical Company, produsen barang-barang berbahan plastik yang telah ada sebelum PD II. Di tempat itu, Earl menemukan metode pembuatan plastik elastis dan tahan banting. Dia mematenkan karya ciptaannya ini pada 1947. Di bawah bendera Tupperware Brands Corporation, Earl melanjutkan sendiri komersialisasi penemuannya itu.
Salah satu yang membuat Tupperware juga berbeda dari kompetitor adalah sistem penjualan langsung. Untuk sistem ini, perusahaan Earl termasuk yang pertama menerapkannya. Ide unik untuk memperkenalkan produk itu pun diciptakan, yaitu melalui pesta yang disebut “Tupperware Party”. Melalui cara itu, produk-produk Earl pun cepat popuker di antero AS. Pesta itu cukup sederhana. Mereka mengumpulkan ibu-ibu rumah tangga untuk sekedar bergosip bersama, lalu memperkenalkan produk-produknya. Pada waktu itu, apa yang diprakarsai Earl turut mementahkan adagium bahwa perempuan di AS, pasca PDII hanya pantas berkutat di dapur. Makanya, dalam sejarah perjuangan gender di Amerika Serikat, Tupperware tercatat sebagai salah satu lokomotif penguatan peran perempuan. Sampai dekade ’50-an, Tupperware Party menjadi fenomena nasional di AS.
Bahkan kendati banyak produk tiruan yang muncul yang juga menggunakan pesta serupa tetap saja tidak mampu meredam fenomena Tupperware Party. Sebabnya, kualitas produk yang tahan banting dan kedap udara ciptaannya rupanya tidak bisa ditiru. Prestasi Tupperware ini sekaligus melambungkan industri perkakas rumah tangga di AS kala itu. Lalu, Tupperware pun seketika menjadi merek internasional. Salah satu faktor dibalik kesuseksan ini adalah mitra kerja Earl dari Stanley Home Products, Brownie Wise (1913-1992), yang diminta menangani strategi penjualan. Pada waktunya Wise si penemu ide Tupperware Party membuat penjualan Tupperware meningkat tajam. Dia bisa begitu mahir menularkan virus pesta ke ibu-ibu rumah tangga sehingga layaklah julukan sebagai si ratu pesta. Lambat laun Wise juga bisa mengangkat status Tupperware Party menjadi salah satu pesta berkelas di berbagai tempat di negeri Paman Sam itu. Wise adalah janda kharismatik yang merupakan salah satu pelaku penjualan langsung paling tenar saat itu.
Di tangannya, konsep Tupperware Party menjadi salah satu system penjualan paling efektif kala itu. Hingga saat ini, tradisi Tupperware party bahkan masih di lestarikan di semua belahan bumi dan mampu menopang penjualan rata-rata setiap tahunnya mencapai US$1.2 miliar. Namun, suasana Tupperware party tak selalu meriah dan hubungan Earl dan Wise tak selamanya harmonis. Dalam sebuah rapat penentuan strategi operasional perusahaan pada 1958, terjadi perbedaan pendapat hebat antara kedua pentolan perusahaan ini. Buntutnya, Wise pun dipecat dan Earl menjual Tupperware senilai US$16 juta. Berakhir sudah cerita manis Earl dan Wise yang sempat menjadi fenomena bisnis saat itu. Namun, kata Tupper tidak pernah tenggelam hingga saat ini. Di beberapa Negara, sistem penjualan ala pesta ini dikenali dengan multilevel marketing (MLM), yakni memiliki struktur atasan-bawahan langsung, seperti yang kita kenal downline dan upline pada sistem MLM.
Distribuasi barang juga dikuasai distributor atau agen penjualan di wilayah tertentu. Suasana Tupperware Party tidak berbeda dengan istilah “memprospek” yang digunakan perusahaan MLM dalam menjajakan dagangannya. Namun, ada beberapa hal yang membuat Tupperware memiliki ciri khas dibanding MLM lainnya, diantaranya seorang yang ingin menjadi distributor harus mendapat undangan langsung dari Tupperware. Kebanyakan distributor adalah pasangan suami-istri. Produk Tupperware masuk ke Eropa pada 1960, dibawa seorang wanita yang sebelumnya rajin mendatangi Tupperware Party, bernama Mila Pound. Ketika itu, sekitar tahun 1960-an, Mila menggelar pesta pada sebuah tempat di Weybridge, Inggris, sejak itu, langkahnya diikuti “Mila-Mila” yang lain sehingga virus Tupperware Party dengan cepat menginfeksi seluruh belahan dunia dan kini lebih dari 100 negara terjangkiti.
Fakta yang menakjubkan saat ini adalah setiap 2.5 detik, terdapat satu Tupperware Party. Tercatat, urutan pertama Negara yang penduduknya menggemari Tupperware saat ini adalah Jerman, disusul Amerika Serikat, Meksiko, Perancis, dan Australia. Namun, tidak semua sistem penjualan menggunakan pesta. Pada beberapa tempat di AS dan Kanada, produk Tupperware dapat dijumpai di kios kecil, mal, atau online shopping. Tidak hanya di Indonesia, di beberapa Negara lain Tupperware pun menawarkan garansi seumur hidup. Ini tidak berlebihan karena hingga saat ini mereka adalah produsen terbaik untuk produk perkakas berbahan plastik.
- Howard Schultz Starbucks: Perusahaan Terus Tumbuh Jangan Tertinggal
Howard Schultz tumbuh besar di sebuah proyek perumahan publik di Brooklyn, New York, pada akhir 1950-an. Dia selalu ingin melepaskan diri dari kehidupan seperti yang dijalani kedua orangtuanya pekerjaan tanpa masa depan, upah murah, tidak ada asuransi kesehatan, tanpa kepastian kerja, apa lagi kepuasan kerja. Schultz muda mengedarkan surat kabar, bekerja di kantin-kantin dan pabrik-pabrik pemintalan, dan bahkan menyamak kulit hewan untuk sebuah perusahaan kulit di Manhattan. “Saya selalu ingin melepaskan diri. Saya selalu ingin memperkuat jati diri saya,” katanya, berbicara terus terang tentang pengaruh perasaan frustrasi ayahnya dalam bekerja terhadap kehidupan dan kariernya sendiri dan perusahaan bernilai 23,4 miliar dolar AS yang dibangunnya sejak masa-masa awal. Berkat beasiswa olahraga satu-satunya jalan baginya untuk keluar dari lingkungan tempat tinggalnya dia kuliah di Universitas Northern Michigan. Dia bukanlah seorang pemain rugby ala Amerika yang baik seperti yang diharapkannya, sehingga setelah lulus dia pun mulai bekerja di Xerox, yang terkenal dengan program pelatihan manajemennya yang hebat.
Schultz terbukti cakap dalam menjual dan pada usia awal 20-an dia telah mendapat cukup banyak uang saat bekerja untuk perusahaan peralatan rumah tangga asal Swedia, Hammarplast, di New York City. Di hammarplas, Schultz memerhatikan salah seorang kliennya, sebuah perusahaaqn ritel biji kopi kecil di Seattle bernama Starbucks, membeli banyak termos penyeduh kopi. Dia memutuskan untuk menyelidiki toko kopi kecil ini dan pada 1981 dia terbang ke Seattle. Toko Starbucks Coffee, Tea dan Spice Store pertama dibuka pada 1971 dengan menjual biji kopi segar yang baru dipanggang, baik dalam bentuk untuh maupun bubuk gilingan. Pada awalnya, Starbucks merupakan sebuah toko penjual kopi dan bukannya sebuah kafe, didirikan beberapa petualang bisnis Gerald Baldwin, Zev Siegal, dan Gordon Bowker. Bagi Schultz, pertemuan itu bagai cinta pada pandangan pertama, walaupun dia sama sekali tidak terlibat dalam bisnis itu sampai 1982, setelah dia menghabiskan waktu 12 bulan untuk meyakinkan para pemilik Starbucks bahwa dia dapat membuat mukjizat pada sisi penjualan dan pemasaran. Schultz begitu jatuh cinta pada bisnis ini sampai-sampai dia meninggalkan kehidupan mapannya di Manhattan dan pindah ke Seattle yang berangin. Dia bersedia menerima pemotongan gaji dan ditawari sebagai ganti sebagian kecil saham dan perusahaan.
Schultz menelurkan konsep kafe bagi Starbucks setelah sebuah kunjungannya ke Italia pada 1983. Dia menyukai aspek romantik, nyaman dan komunal di kafe-kafe Italia, di mana para pelayan bercakap-cakap dengan para pelanggan tetap, sambil menyajikan minuman kopi dengan cekatan, sebuah sentiment yang terus diresapinya sejak saat itu. Schultz dengan cepat memahami pentingnya ritual tersebut: minum kopi bukanlah hanya sekadar secangkir kopi. “Segalanya penting” menjadi motonya dan tetap seperti itu sampai sekarang. Dia mengakui bahwa para pelanggan kafe-kafe di Eropa memiliki banyak alasan untuk kembali ke sebuah kafe, dari si pria tampan di sudut ruangan, ritual-ritual kafe tersebut. Jadi bukan sekadar mengonsumsi kafein. Dia menyadari Starbucks telah mengabaikan esensi utamanya.
Schultz berpendapat bahwa Amerika telah siap untuk konsep kafe seperti ini dan tidak sabar untuk segera menyusun ulang gerai-gerai Starbucks. Schultz begitu frustasi sampai-sampai dia memutuskan berhenti dari Starbucks. Dia mengumpulkan 3,8 juta dolar AS melalui sekelompok investor dan meluncurkan sebuah rantai kafe baru. Schultz melihat peluang untuk bersatu kembali dengan Starbucks yang dicintainya, dan dia maju dengan mengumpulkan 4 juta dolar AS dan mengambil alih perusahaan itu pada tahun berikutnya. Dengan latar belakangnya sebagai sales. Schultz berhasil meyakinkan para calon investor. Bahkan dengan bakat yang dimilikinya, dia memperkirakan bahwa dari ratusan proposal yang diajukannya, hanya sebagian kecil yang berakhir dengan keluarnya uang. Mereka yang berinvestasi kelak akan menjadi bagian dari salah satu bisnis paling menguntungkan di dunia selama era 1990-an.
Karena kini telah menjadi kapten kapal Starbucks, Schultz siap mengubah ulang bisnis tersebut. Dia mempertahankan para pencari kopi yang andal, para pemanggang kopi, mereka-mereka yang idealis dan berorientasi pada tim, namun dia menambahkan para eksekutif kaliber tinggi dari bisnis yang lebih mapan seperti Dell, Kodak, dan Pepsi. Dia ingin melibatkan orang-orang yang tepat sebelum bisnis membutuhkan mereka. “Dengan sebuah perusahaan yang terus berkembang, Anda tidak boleh tertinggal di belakang,“ katanya. Tim eksekutif barunya akan membantu Schultz dalam mewujudkan rencana ambisiusnya bagi Starbucks. Dalam empat tahun, nilai bisnis berkembang dari 4 juta dolar AS menjadi 273 juta dolar AS ketika pertama kali masuk pasar saham pada 1992.
Nilai saham meningkat lebih dari 3.000 persen sejak debutnya. Dari 1987 sampai 1997, Starbucks berkembang dari 17 gerai menjadi 1.412 dan kini ada lebih dari 12.000 gerai di 37 negara. Saat ini perusahaan memiliki surplus tunai dari bebas utang dengan penjualan pada 2006 mencapai 7,7 miliar dolar AS. Ini salah satu ritel tersibuk di dunia, dengan kira-kira 30 juta pelanggan setiap minggu dan 145.000 karyawan. Banyak pelanggan tetap mengunjungi Starbucks lebih dari 200 kali per tahun. Schultz menjadi seorang CEO panutan dengan kebijakan SDM dan lingkungan yang progresif, dia membayar para pemasok kopinya dengan pantas, menawarkan fasilitas-fasilitas kesehatan, opsi kepemilikian dan pelatihan berkualitas tinggi bagi para karyawan.
Gerai-gerai berwarna merah, para pelayan yang bersemangat dan ramah, musik Kenny G dan rasa kopi yang tidak terlalu keras memikat hati pelanggan Amerika. Sementara Starbucks pada awalnya bersikap idealis terhadap jenis kopi yang mereka sajikan, Schultz akhirnya menyadari bahwa penyediaan susu tanpa lemak, frappe dan minuman kopi jenis lainnya bagi para peminum yang bukan peminum kopi murni akan memberikan laba yang lebih besar. Walaupun Schultz suka mendendangkan puji-pujian dari pengalaman minum kopi di Starbucks, tetapi itu bukanlah alasan mengapa begitu banyak orang mengunjungi Starbucks setiap hari. Mereka melakukannya karena divisi real estate Starbucks telah memburu dan tanpa belas kasihan dalam mencari tempat-tempat ritel terbaik dan menyingkirkan para pesaingnya. Schultz juga membina kesetiaan pelanggan mulai program-program kartu loyalitas, CD-CD kompilasi dan suvenir-suvenir. Setelah bertahun-tahun menikmati pertumbuhan dua digit, Starbucks melirik ke luar negeri untuk mempertahankan tingkat pertumbuhannya. Untuk meminimalkan risikko dan menjaga tingkat biaya.
Starbucks melakukan beberapa kesepakatan kemitraan untuk menjamin percepatan ekspansinya. Waralaba merupakan suatu hal yang dihindari Starbucks secara serius. Saat ini, sekitar sepertiga gerai Starbucks di luar AS dimiliki perusahaan dan mereka melisensikan 20 persen dari gerai-gerainya di AS. Salah satu tantangan besar yang dihadapi perusahaan adalah persepsi tentang kopinya. Ketika Starbucks dibuka di Amerika pada 1970-an, persaingannya hanyalah kopi yang disedu secara serampangan, bukan dari mesin-mesin espresso. Dan Starbucks, yang mulai sebagai sebuah perusahaan yang aneh dan canggung, kini merupakan salah satu merek yang paling mudah dikenali di dunia. Dan waktu Starbucks di Amerika dibangun tanpa persaingan, masa di mana orang tengah mencari gaya hidup yang lebih canggih, di Eropa telah ada tradisi minum kopi dan kuliner yang kuat, sehingga memberi persaingan yang lebih ketat bagi Starbucks.
Schultz sekarang ini menjabat sebagai chairman dan ahli strategi global perusahaan. Dia mengendarai sebuah Porsche berpenggerak empat roda, mengoleksi seni kontemporer, salah seorang pemegang saham terbesar pada sebuah klub basket NBA dan memiliki kekayaan sekitar 1,1 miliar solar AS. Dia masih tetap optimis tentang masa depat Starbucks, berargumen bahwa perusahaannya baru meraih sepotong kecil dari pangsa pasar minuman di AS, apalagi di luar AS, sehingga yang dilihatnya adalah hanya potensi di mana-mana. Dia berambisi mewujudkan 25.000 gerai Starbucks di seluruh dunia, sambil berujar, “Kami membangun sebuah merek, bukan sebuah kecanduan.”
Evaluasi Mandiri
- Jelaskan secara singkat pengertian entrepreneurship menurut pendapat para ahli!
- Sebutkan secara singkat beberapa manfaat entrepreneurship dalam pembangunan bangsa!
- Apa yang melatarbelakangi mahasiswa untuk menjadi entrepreneur yang tangguh!
- Sebutkan secara singkat perbedaan antara entrepreneur dengan karyawan atau pegawai!
- Sebutkan keuntungan dan kelemahan menjadi entrepreneur dalam membangun bangsa!
- Sebutkan beberapa kualitas profil entrepreneur agar berhasil dalam berwirausaha!
- Sebutkan kualifikasi-kualifikasi yang harus dimiliki untuk menjadi wirausaha tangguh!
- Jelaskan karakteristik-karakteristik yang harus dimiliki untuk menjadi entrepreneur yang sukses!
- Jelaskan karakteristik-karakteristik kegagalan menjadi entrepreneur!
- Jelaskan secara singkat konsep Cash Flow Quadrant dari Robert T. Kiyosaki!
Daftar Pustaka
Buchori Alma. 2005. Kewirausahaan: Untuk Mahasiswa dan Umum. Alfabeta: Bandung.
David E. Rye. 1996. Entrepreneur: Tools for Executives (Wirausahawan). Prehallindo: Jakarta.
Heri Erlangga. 2011. Semangat Kewirausahaan di Perguruan Tinggi (The Spirit of Entrepreneurship). Dinas Pendidikan Provinsi Banten.
John J. Kao. 1998. The Entrepreneurial Organization. Prentice Hall International Inc: New Jersey.
Leonardus Saiman. 2009. Kewirausahaan: Teori, Praktik, dan Kasus-Kasus. Salemba Empat: Jakarta.
Purdi E. Chandra. 2008. Cara Gila Jadi Pengusaha. Elex Media Komputindo: Jakarta.
Robert D. Hisrich, Michael P. Peter. 2005. Entrepreneurship. Irwin International Inc: Boston.
Robert T. Kiyosaki. 2008. The Cashflow Quadrant. Terjemahan Rina Bundaran. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
___________. 2008. Rich Dad Poor Dad. Terjemahan Dwi Helly Purnama. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Salim Siagian, dan Asfahani. 1996. Kewirausahaan Indonesia: Dengan Semangat 17-8-45. Puslatkop dan Pengusaha Kecil, Departemen Koperasi dan Pembinaan Usaha Kecil. Jakarta.
Suryana. 2008. Kewirausahaan Pedoman Praktis: Kiat dan Proses Menuju Sukses. Salemba Empat: Jakarta.
Syahrial Yusuf. 2010. Entrepreneurship: Teori dan Praktik Kewirausahaan yang Telah Terbukti. Lentera Ilmu Cendekia: Jakarta.
Valentino Dinsi. 2011. Bisnis Rumahan Bermodal Cekak, Omzet Miliaran. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
You may also like
ETIKA BISNIS BERWIRAUSAHA
BAB XI ETIKA BISNIS BERWIRAUSAHA Pembahasan Materi Dalam bab ini Anda akan mempelajari tentang pengertian etika berwirausaha, hak dan kewajiban konsumen, hak dan kewajiban produsen, perbuatan yang dilarang bagi produsen, fundamental etika yang berlaku pada semua bisnis, prinsip dan …
INOVASI PENDIDIKAN ENTREPRENEURSHIP
BAB X INOVASI PENDIDIKAN ENTREPRENEURSHIP Pembahasan Materi Dalam bab ini Anda akan mempelajari tentang konsep inovasi, inovasi merupakan kebutuhan mendesak, kreativitas dan inovasi entrepreneurship, karakteristik organisasi kreatif, ciri utama inovatif entrepreneur, tujuan pembelajaran entrepreneurship, proses pembelajaran pada laboratorium entrepreneurship, …
MENGELOLA KEUANGAN USAHA
BAB IX MENGELOLA KEUANGAN USAHA Pembahasan Materi Dalam bab ini Anda akan mempelajari tentang memahami uang, memahami lembaga keuangan, memahami modal usaha, sumber modal usaha, memahami akuntansi, memahami manajemen keuangan, sasaran dan fungsi keuangan, laporan keuangan, menganalisis laporan …
