Back

STUDI KELAYAKAN BISNIS

BAB V

STUDI KELAYAKAN BISNIS

Pembahasan Materi

Dalam bab ini Anda akan mempelajari tentang pengertian studi kelayakan bisnis, manfaat bisnis, tujuan studi kelayakan bisnis, pentingnya studi kelayakan bisnis, proses dan tahap studi kelayakan bisnis, analisis kelayakan usaha: aspek pemasaran, aspek produksi dan operasi, aspek keuangan, dan aspek manajemen, evaluasi dan persiapan bisnis baru, sumber-sumber data dan informasi.

5.1. Pengertian Studi Kelayakan Bisnis

Studi kelayakan bisnis adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam artinya meneliti secara sungguh-sungguh data dan informasi yang ada, kemudian diukur, dihitung dan dianalisis hasil penelitian yang dilakukan terhadap usaha yang akan dijalankan dengan ukuran tertentu, sehingga diperoleh hasil maksimal dari penelitian tersebut (Jumingan, 2009). Kelayakan artinya penelitian yang dilakukan secara mendalam tersebut dilakukan untuk menentukan apakah usaha yang akan dijalankan akan memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan. Dengan kata lain, kelayakan dapat diartikan bahwa usaha yang dijalankan akan memberikan keuntungan finansial dan non finansial sesuai dengan tujuan yang mereka inginkan. Layak disini diartikan juga akan memberikan keuntungan tidak hanya bagi perusahaan yang menjalankan, tetapi juga bagi investor, kreditor, pemerintah dan masyarakat luas.

Sedangkan pengertian bisnis adalah usaha yang dijalankan yang tujuan utamanya untuk memperoleh keuntungan, keuntungan yang dimaksud dalam perusahaan bisnis adalah keuntungan finansial (Hermawan Kertajaya, 2004). Namun dalam praktiknya perusahaan nonprofit pun perlu dilakukan studi kelayakan bisnis karena keuntungan yang diperoleh tidak hanya dalam bentuk finansial akan tetapi juga nonfinansial. Jadi dengan dilakukannya studi kelayakan bisnis akan dapat memberikan gambaran apakah usaha atau bisnis yang diteliti layak atau tidak dijalankan. Untuk menentukan layak atau tidaknya suatu usaha dapat dilihat dari berbagai aspek. Setiap aspek untuk bisa dikatakan layak harus memiliki suatu standar nilai tertentu, namun keputusan penilaian tak hanya dilakukan pada salah satu aspek saja. Penilaian untuk menentukan kelayakan harus didasarkan kepada seluruh aspek yang akan dinilai nantinya.

Ukuran kelayakan masing masing jenis usaha sangat berbeda, misalnya antara usaha jasa dan usaha nonjasa, seperti pendirian hotel dengan usaha pembukaan perkebunan kelapa sawit atau usaha peternakan dengan pendidikan. Akan tetapi, aspek-aspek yang digunakan untuk menyatakan layak atau tidaknya adalah sama sekalipun bidang usahanya berbeda.

Penilaian masing- masing aspek nantinya harus dinilai secara keseluruhan bukan berdiri sendiri-sendiri. Jika ada aspek yang kurang layak akan diberikan beberapa saran perbaikan, sehingga memenuhi kriteria layak dan jika tidak dapat memenuhi kriteria tersebut sebaiknya jangan dijalankan. Aspek hukum digunakan untuk meneliti kelengkapan, kesempurnaan dan keaslian dari dokumen yang dimiliki mulai dari badan usaha, izin-izin sampai dokumen lainnya. Kemudian aspek pasar dan pemasaran adalah meneliti seberapa besar pasar yang akan dimasuki dan seberapa besar kemampuan perusahaan untuk menguasai pasar serta bagaimana strategi yang akan dijalankan nantinya (Ibnu Sofyan, 2004).

Aspek keuangan adalah untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memperoleh pendapatan serta besarnya biaya yang dikeluarkan. Dari sini akan terlihat pengembalian uang yang ditanamkan seberapa lama akan kembali. Sedangkan aspek manajemen dan organisasi adalah untuk mengukur kesiapan dan kemampuan sumber daya manusia yang akan menjalankan usaha tersebut dan mencari bentuk organsasi yang sesuai dengan usaha yang akan dijalankan. Aspek teknis atau produksi adalah untuk menentukan lokasi, layout gedung dan ruangan, serta teknologi yang akan dipakai. Lokasi yang menjadi perhatian adalah lokasi yang akan dijadikan sebagai kantor pusat, lokasi pabrik dan lokasi gedung. Demikian pula dengan penentuan layout gedung dan layout ruangan juga akan dinilai.

5.2.  Manfaat Bisnis

Sudah pasti bahwa pendirian suatu bisnis atau proye akan memberikan berbagai manfaat atau keuntungan terutama bagi pemilik usaha. Disamping itu, keuntungan dan manfaat lain dapat pula dipetik oleh berbagai pihak dengan kehadiran suatu usaha. Misalnya bagi masyarakat luas, baik yang terlibat langsung dalam proyek maupun yang tinggal disekitar usaha, termasuk bagi pemerintah. Berikut keuntungan dengan adanya kegiatan bisnis baik bagi perusahaan, pemerintah, maupun masyarakat antara lain (Kustoro Budiarta, 2010):

  1. Memperoleh keuntungan

Apabila suatu usaha dikatakan layak untuk dijalankan akan memberikan keuntungan, terutama keuntungan keuangan bagi pemilik bisnis. Keuntungan ini biasanya diukur dari nilai uang yang akan diperoleh dari hasil usaha yang dijalankan.

  1. Membuka peluang pekerjaan

Dengan adanya usaha jelas akan membuka peluang pekerjaan kepada masyarakat, baik bagi masyarakat yang terlibat langsung dengan usaha atau masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi usaha. Adanya peluang pekerjaan ini akan memberikan pendapatan bagi masyarakat yang bekerja pada usaha tersebut. Begitu pula bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi usaha dapat membuka berbagai macam usaha, sehingga masyarakat yang tadinya pengangguran dapat meningkatkan kesejahteraannya.

  1. Manfaat ekonomi

Secara umum manfaat secara ekonomi antara lain:

  1. Menambah jumlah barang dan jasa. Untuk usaha tertentu misalnya pendirian pabrik terentu pada akhirnya akan memproduksi barang atau jasa. Dengan tersedia jumlah barang dan hasa yang lebih banyak, masyarakat punya banyak pilihan, sehingga pada akhirnya yang akan berdampak kepada harga yang cenderung turun dan kualitas barang sejenis akan lebih meningkat
  2. Meningkatkan mutu produk. Hal ini disebabkan dengan adanya barang dari usaha sejenis dapat memacu produsen untuk meningkatkan kualitas produknya.
  3. Meningkatkan devisa. Khusus untuk barang yang tujuan ekspor akan dapat menambah devisa atau akan dapat memberikan pemasukan devisa bagi Negara dari barang yang kita ekspor.
  4. Menghemat devisa, artinya apabila semula barang tersebut kita impor dan sekarang bisa diproduksi didalam negeri, maka jelas tindakan ini dapat menghemat devisa Negara.
  5. Tersedia sarana dan prasarana

Bisnis yang akan dijalankan disamping memberikan manfaat diatas juga memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas terutama bagi masyarakat sekitar bisnis yang akan dijalankan. Manfaat yang dirasakan seperti tersedianya sarana dan prasarana yang dibutuhkan, seperti jalan, telepon, air, penerangan, pendidikan, rumah sakit, rumah ibadah, sarana olahraga, serta sarana dan prasarana lainnya.

  1. Membuka isolasi wilayah

Untuk wilayah tertentu pembukaan suatu usaha misalnya perkebunan, jalan atau pelabuhan akan membuka isolasi wilayah. Wilayah yang tadinya tertutup menjadi terbuka, sehingga akses masyarakat akan menjadi lebih baik.

  1. Meningkatkan persatuan dan membantu pemerataan pembangunan

Dengan adanya proyek atau usaha biasanya pekerja yang bekerja didalam proyek datang dari berbagai suku bangsa. Pertemuan dari berbagai suku akan dapat meningkatkan persatuan. Kemudian dengan adanya proyek diberbagai daerah akan memberikan pemerataan pembangunan diseluruh wilayah.

5.3.  Tujuan Studi Kelayakan Bisnis

            Sebelumnya telah dibahas dimuka mengapa perlu adanya studi kelayakan sebelum suatu usaha atau proyek dijalankan. Intinya agar apabila usaha atau proyek tersebut dijalankan tidak akn sia sia atau dengan kata lain tidak membuang uang, tenaga, atau pikiran secara percuma serta tidak akan menimbulkan masalah yang tidak perlu dimasa yang akan datang. Bahkan dengan adanya usaha atau proyek akan dapat memberikan berbagai keuntungan serta manfaat kepada berbagai pihak. Paling tidak ada lima tujuan mengapa sebelum suatu usaha atau proyek dijalankan perlu dilakukan studi kelayakan, yaitu (Kasmir, 2010):

  1. Menghindari risiko kerugian

Untuk mengatasi risiko kerugian dimasa yang akan datang, karena dimasa yang akan datang ada semacam kondisi ketidakpastian. Kondisi ini ada yang dapat diramalkan akan terjadi atau memang dengan sendirinya terjadi tanpa dapat diramalkan. Dalam hal ini fungsi studi kelayakan adalah untuk meminimalkan risiko yang tidak kita inginkan, baik resiko yang dapat kita kendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan.

  1. Memudahkan perencanaan

Jika kita sudah dapat meramalkan apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang, maka akan mempermudah kita dalam melakukan perencanaan dan hal-hal apa saja yang perlu direncanakan. Perencanaan meliputi berapa jumlah dana yang diperlukan, kapan usaha atau proyek akan dijalankan, dimana lokasi proyek akan dibangun, siapa-siapa yang akan melaksanakannya, bagaimana cara menjalankannya, berapa besar keuntungan yang akan diperoleh serta bagaimana mengawasinya jika terjadi penyimpangan. Yang jelas dalam perencanaan sudah terdapat jadwal pelaksanaan usaha, mulai dari usaha dijalankan sampai waktu tertentu.

  1. Memudahkan pelaksanaan pekerjaan

Dengan adanya berbagai rencana yang sudah disusun akan memudahkan pelaksanaan bisnis tersebut telah memiliki pedoman yang harus dikerjakan. Kemudian pengerjaan usaha dapat dilakukan secara sistematik, sehingga tepat sasaran dan sesuai dengan rencana yang sudah disusun. Rencana yang sudah disusun dijadikan acuan dalam mengerjakan setiap tahap yang sudah direncanakan

  1. Memudahkan pengawasan

Dengan telah dilaksanakannya suatu usaha atau proyek sesuai dengan rencana yang sudah disusun, maka akan memudahkan perusahaan untuk melakukan pengawasan terhadap jalannya usaha. Pengawasan ini perlu dilakukan agar pelaksanaan usaha tidak melenceng dari rencana yang telah disusun. Pelaksana pekerjaan bisa sungguh-sungguh melakukan pekerjaanya karena merasa ada yang mengawasi, sehingga pelaksanaan pekerjaan tidak terhambat oleh hal-hal yang tidak perlu.

  1. Memudahkan pengendalian

Jika dalam pelaksanaan pekerjaan telah dilakukan pengawasan, maka apabila terjadi suatu penyimpangan akan mudah terdeteksi, sehingga akan bisa dilakukan pengendalian atas penyimpangan tersebut. Tujuan pengendalian adalah untuk mengembalikan pelaksanaan pekerjaan yang melenceng ke rel yang sesungguhnya, sehingga pada akhirnya tujuan perusahaan akan tercapai.

5.4.  Pentingnya Studi Kelayakan Bisnis

Sebelum bisnis baru dimulai atau dikembangkan, harus diadakan penelitian tentang apakah bisnis yang akan dirintis atau dikembangkan menguntungkan atau tidak. Bila menguntungkan, apakah keuntungan tersebut memadai dan dapat diperoleh secara terus-menerus dalam waktu yang lama? Secara teknis, mungkin saja usaha tersebut layak dilakukan, tetapi secara ekonomis dan sosial, kemungkinan kurang memberikan manfaat. Untuk itu, ada dua studi atau analisis yang dapat digunakan untuk mengetahui layak atau tidaknya suatu bisnis untuk dimulai dan dikembangkan, yaitu: studi kelayakan usaha dan analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (strength, weakness, opportunity,  threatment : SWOT)

Dalam studi ini, pertimbangan ekonomis dan teknis sangat penting karena akan dijadikan dasar implementasi kegiatan usaha. Hasil studi kelayakan usaha pada prinsipnya bisa digunakan antara lain untuk (Siswanto, 2007):

  1. Merintis usaha baru, misalnya membuka toko, membangun pabrik, mendirikan perusahaan jasa, membuka usaha dagang, dan lain sebagainya.
  2. Mengembangkan usaha yang sudah ada, misalnya untuk menambah kapasitas pabrik, memperluas skala usaha, mengganti peralatan atau mesin, menambah mesin baru, memperluas cakupan usaha, dan sebagainya.
  3. Memilih jenis usaha atau investasi/proyek yang paling penting menguntungkan, misalnya pilihan usaha dagang, pilihan usaha barang atau jasa, pabrikasi atau perakitan, proyek A atau proyek B, dan lain sebagainya.

Adapun pihak yang memerlukan dan berkepentingan dengan studi kelayakan usaha di antaranya:

  1. Pihak Wirausaha (Pemilik Perusahaan)

Memulai bisnis atau mengembangkan bisnis yang sudah ada sudah barang tentu memerlukan pengorbanan yang cukup besar dan selalu dihadapkan pada ketidakpastian. Dalam kewirausahaan, studi kelayakan usaha sangat penting dilakukan agar kegiatan usaha tidak mengalami kegagalan dan memberi keuntungan sepanjang waktu. Demikian juga bagi penyandang dana yang mengajukan persyaratan tertentu seperti banker, investor, dan pemerintah. Studi kelayakan berfungsi sebagai laporan, pedoman, dan bahan pertimbangan untuk merintis dan mengembangkan usaha atau melakukan investasi baru, sehingga bisnis yang akan dilakukan meyakinkan wirausaha itu sendiri maupun pihak lain yang berkepentingan.

  1. Investor dan Penyandang Dana

Bagi investor dan penyandang dana, studi kelayakan usaha penting untuk memilih jenis investasi yang paling menguntungkan dan sebagai jaminan atas modal yang ditanampakan atau dipinjamkan, apakah investasi yang dilakukannya memberikan jaminan pengembalian investasi yang memadai atau tidak. Oleh investor, studi kelayakan sering digunakan sebagai bahan pertimbangan layak atau tidaknya investasi dilakukan.

  1. Masyarakat dan Pemerintah

Bagi masyarakat, studi kelayakan sangat diperlukan terutama sebagai bahan kajian apakah usaha yang didirikan atau dikembangkan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya atau sebaliknya justru merugikan, seperti bagaimana dampak lingkungan, apakah positif atau negatif. Bagi pemerintah, studi kelayakan sangat penting untuk mempertimbangkan izin usaha atau penyediaan fasilitas lainnya.

  1. Manajemen

Hasil studi kelayakan bisnis merupakan ukuran kinerja bagi pihak manajemen perusahaan unyuk menjalankan apa-apa yang sudah ditugaskan. Kinerja tersebut dapat dilihat dari hasil yang telah dicapai, sehingga terlihat prestasi kerja pihak manajemen yang menjalankan usaha

5.5.  Proses dan Tahap Studi Kelayakan Bisnis

Agar tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai, maka, sebelum suatu studi dijalankan perlu dilakukan beberapa persiapan. Kemudian hendaknya suatu studi dilakukan mengikuti prosedur yang berlaku, yaitu mulai dari tahap-tahap yang  telah ditentukan. Tahap-tahap dalam studi ini hendaknya dilakukan secara benar agar jangan sampai terjadi penyimpangan dan untuk kesempurnaan hasil studi itu sendiri. Tahapan dalam studi kelayakan dilakukan untuk mempermudah pelaksanaan studi kelayakan dan  keakuratan dalam penilaian. Adapun tahap-tahap dalam melakukan studi kelayakan yang umum dilakukan adalah sebagai berikut (Yacob Ibrahim, 2008):

 

  1. Pengumpulan data dan informasi

Mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan selengkap mungkin, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Pengumpulan data dan informasi dapat diperoleh dari berbagai sumber-sumber yang dapat dipercaya, misalnya dari lembaga-lembaga yang memang berwenang untuk mengeluarkannya, seperti Biro Pusat Statistik atau BPS, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Badan pengelola pasar modal (Bapepam), Bank Indonesia (BI), Departemen Teknis atau lembaga-lembaga penelitian baik milik pemerintah maupun swasta. Pengumpulan data ini dapat dari data primer maupun data sekunder dengan berbagai metode.

  1. Melakukan pengolahan data

Setelah data dan informasi yang dibutuhkan terkumpul maka langkah selanjutnya adalah melakukan pengolahan data dan informasi tersebut. Pengolahan data dilakukan secara benar dan akurat dengan metode-metode dan ukuran-ukuran yang telah lazim digunakan untuk bisnis. Pengolahan ini dilakukan hendaknya secara teliti untuk masing-masing aspek yang ada. Kemudian dalam hal perhitungan ini hendaknya diperiksa ulang untuk memastikan kebenaran hitungan yang telah dibuat sebelumnya.

  1. Analisis data

Langkah selanjutnya adalah melakukan analisis data dalam rangka menentukan kriteria kelayakan dari seluruh aspek. Kelayakan bisnis ditentukan dari kriteria-kriteria yang telah memenuhi syarat sesuai kriteria-kriteria yang digunakan. Setiap jenis usaha memiliki kriteria tersendiri untuk dikatakan layak atau tidak layak untuk dilakukan. Kriteria  kelayakan diukur dari setiap aspek untuk seluruh aspek yang telah dilakukan.

  1. Mengambil keputusan

Apabila telah diukur dengan kriteria tertentu dan telah diperoleh hasil dari pengukuran, maka langkah selanjutnya adalah mengambil keputusan terhadap hasil tersebut. Mengambil keputusan sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah ditetepkan apakah layak atau tidak dengan ukuran yang telah ditentukan berdasarkan hasil perhitungan sebelumnya. Jika tidak layak sebaiknya dibatalkan dengan menyebutkan alasannya.

  1. Memberikan rekomendasi

Langkah terakhir adalah memberikan rekomendasi kepada pihak-pihak tertentu terhadap laporan studi yang telah disusun. Dalam memberikan rekomendasi diberikan juga saran-saran serta perbaikan yang perlu, jika memang masih dibutuhkan, baik kelengkapan dokumen-dokumen maupun persyaratan-persyaratan lainnya. Apabila suatu hasil studi kelayakan dinyatakan layak untuk dijalankan.

 

  • Analisis Kelayakan Usaha

            Di atas telah dikemukakan bahwa untuk mengetahui layak atau tidaknya suatu bisnis untuk dilakukan, harus dianalisis berbagai aspeknya. Bagaimana cara mengetahui bahwa aspek-aspek tersebut layak atau tidak? Berikut ini akan dibahas beberapa kriteria yang dapat dijadikan aspek penilaian.

 

5.6.1. Aspek Pemasaran

            Untuk menganalisis aspek pemasaran, seorang wirausaha terlebih dahulu harus melakukan penelitian pemasaran dengan menggunakan sistem informasi pemasaran yang memadai berdasarkan analisis dan prediksi apakah bisnis yang akan dirintis atau dikembangkan memiliki peluang pasar yang memadai atau tidak. Dalam analisis pasar, biasanya terdapat beberapa komponen yang harus dianalisis dan dicermati, di antaranya (Thamrin Abdullah dan Francis Tantri, 2012):

  1. Kebutuhan dan keinginan konsumen. Barang dan jasa apa yang banyak dibutuhkan dan diinginkan konsumen? Berapa banyak yang mereka butuhkan? Bagaimana daya beli mereka? Kapan mereka membutuhkan? Jika kebutuhan dan keinginan mereka teridentifikasi dan memungkinkan terpenuhi, berarti peluang pasar bisnis kita terbuka dan layak bila dilihat dari kebutuhan/keinginan konsumen.
  2. Segementasi pasar. Pelanggan dikelompokkan dan diidentifikasi, misalnya berdasarkan geografi, demografi, dan sosial budaya. Jika segmentasi pasar teridentifikasi, maka pasar sasaran akan dapat terwujud dan tercapai.
  3. Target pasar menyangkut banyaknya konsumen yang dapat diraih. Berapa target yang ingin dicapai? Apakah konsumen loyal terhadap bisnis? Apakah produk yang ditawarkan dapat memberi kepuasan atau tidak? Jika konsumen loyal, maka potensi pasar tinggi.
  4. Nilai tambah. Wirausaha harus mengetahui nilai tambah produk dan jasa pada setiap rantai pemasaran, mulai dari pemasok, agen, hingga konsumen akhir. Nilai tambah barang dan jasa biasanya diukur dengan harga, misalnya berapa harga dari pabrik pemasok, harga setelah di agen, dan harga setelah ke konsumen dengan mengetahui nilai tambah setiap rantai pemasaran, maka nilai tambah bisnis akan dapat diketahui ting atau rendah.
  5. Masa hidup produk. Harus dianalisis apakah masa hidup produk dan jasa bertahan lama atau tidak. Apakah ukuran lama masa produk lebih dari waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan laba sampai modal kembali atau tidak. Jika masa produk lebih lama, berarti potensi pasar tinggi. Harus dianalisis juga apakah produk industri baru atau industri lama sudah mapan atau produk industri justru sedang menurun. Jika produk industri harus sedang bertumbuh, maka potensi pasar tinggi.
  6. Struktur pasar. Harus dianalisis apakah barang dan jasa akan dipasarkan termasuk pasar persaingan tidak sempurna (seperti pasar monopoli, oligopoli, dan monopolistik), atau pasar persaingan sempurna. Jika barang dan jasa termasuk jenis pasar persaingan tidak sempurna, berarti potensi pasar tinggi dibandingkan bila produk termasuk pasar persaingan sempurna.
  7. Persaingan dan strategi pesaing. Harus dianalisis apakah tingkat persaingan tinggi atau rendah. Jika persaingan tinggi, berarti peluang pasar rendah. Wirausaha harus membandingkan keunggulan pesaing dilihat dari strategi produk, harga, jaringan distribusi, promosi, dan tingkat penggunaan teknologinya. Jika pesaing lebih unggul, berarti bisnis yang akan dirintis atau dikembangkan akan lemah dalam persaingan. Untuk memenangkan persaingan, tentu saja bisnis tersebut harus lebih unggul daripada pesaing.
  8. Ukuran pasar. Ukuran pasar dapat dianalisis dari volume penjualan. Jika volume penjualan tinggi, berarti pasar potensial. Misalnya, dengan volume penjualan usaha skala kecil sebesar Rp 5 miliar per tahun atau sebesar Rp10 juta per hari, berarti ukuran pasar cukup besar.
  9. Pertumbuhan pasar. Pertumbuhan pasar dapat dianalisis dari pertumbuhan volume penjualan. Jika pertumbuhan pasar tinggi (misalnya lebih dari 20 persen), berarti potensi pasar tinggi.
  10. Laba kotor. Apakah perkiraan margin laba kotor tinggi atau rendah? Jika profit margin kotor lebih dari 20 persen, berarti pasar potensial.
  11. Pangsa pasar. Pangsa pasar bisa dianalisis dari selisih jumlah barang dan jasa yang diminta dengan jumlah barang dan jasa yang ditawarkan. Jika pangsa pasar menurut proyeksi meningkat, bahkan setelah lima tahun mencapai 40 persen, berarti bisnis yang akan dilakukan atau dikembangkan memiliki pangsa pasar yang tinggi.

Bila aspek pemasaran global layak, maka analisis berikutnya adalah aspek produksi atau operasi.

  • Aspek Produksi atau Operasi

Beberapa unsur dari aspek produksi atau operasi yang harus dianalisis adalah (Jumingan, 2009):

  1. Lokasi operasi. Untuk bisnis hendaknya dipilih lokasi yang paling strategis dan efisien, baik bagi perusahaan itu sendiri maupun bagi pelanggannya. Misalnya dekat ke pemasok, ke konsumen, ke alat transportasi, atau di antara ketiganya. Di samping itu, lokasi bisnis harus menarik agar konsumen tetap loyal.
  2. Volume operasi. Volume operasi harus relevan dengan potensi pasar dan prediksi permintaan, sehingga tidak terjadi kelebihan dan kekurangan kapasitas. Volume operasi yang berlebihan dan kekurangan kapasitas. Volume operasi yang berlebihan akan menimbulkan masalah baru dalam penyimpanan/penggudangan yang pada akhirnya memengaruhi harga pokok penjualan.
  3. Mesin dan peralatan. Mesin dan peralatan harus sesuai dengan perkembangan teknologi masa kini dan yang akan datang serta harus disesuaikan dengan luas produksi agar tidak terjadi kelebihan kapasitas.
  4. Bahan baku dan bahan penolong. Bahan baku dan bahan penolong serta sumber daya yang diperlukan harus cukup tersedia. Persediaan tersebut harus sesuai dengan kebutuhan sehingga biaya bahan baku menjadi efisien.
  5. Tenaga kerja. Berapa jumlah tenaga kerja yang diperlukan dan bagaimana kualifikasinya. Jumlah dan kualifikasi karyawan harus disesuaikan dengan keperluan jam kerja dan kualifikasi pekerjaan untuk menyelesaikannya.

Bila aspek pemasaran dan operasi layak, maka selanjutnya kita menganalisis aspek manajemen.

  • Aspek Manajemen

Dalam menganalisis aspek-aspek manajemen, terdapat beberapa unsur yang harus dianalisis, seperti (Kasmir, 2012):

  1. Apakah unit bisnis yang akan didirikan milik pribadi (perseorangan) atau milik bersama (persekutuan seperti CV, PT, dan bentuk badan usaha lainnya). Apa saja keuntungan dan kerugian dari unit bisnis yang dipilih tersebut? Hendaknya dipilih yang tidak berisiko terlalu tinggi dan menguntungkan.
  2. Jenis organisasi apa yang diperlukan? Apakah organisasi lini, staf, lini dan staf, atau bentuk lainnya. Tentukan jenis yang paling tepat dan efisien.
  3. Tim manajemen. Apakah bisnis akan dikelola sendiri atau melibatkan orang lain secara professional, hal ini bergantung pada skala usaha dan kemampuan yang dimiliki wirausaha. Bial bisnis merupakan skala besar, maka sebaiknya dibentuk tim manajemen yang solid.
  4. Karyawan harus disesuaikan dengan jumlah dan kualifikasi yang diperlukan.

Bila analisis ketiga aspek di atas tidak menimbulkan permasalahan, maka analisis bisnis dapat diteruskan pada analisis aspek keuangan.

  • Analisis Aspek Keuangan

Analisis aspek keuangan meliputi komponen-komponen sebagai berikut (Eddy Soeryanto Soegoto, 2010):

  1. Kebutuhan dana. Yaitu kebutuhan dana untuk operasional perusahaan, misalnya besarnya dana untuk aktiva tetap, modal kerja, dan pembiayaan awal.
  2. Sumber dana. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, ada beberapa sumber dana yang layak digali, yaitu sumber dana internal (misalnya modal disetor dan laba ditahan) dan modal eksternal (misalnya penerbitan obligasi dan pinjaman).
  3. Proyeksi neraca. Sangat penting untuk mengetahui kekayaan perusahaan, serta kondisi keuangan lainnya, misalnya saldo lancar, aktiva tetap, kewajiban jangka pendek, kewajiban jangka panjang, dan kekayaan bersih.
  4. Proyeksi laba rugi. Proyeksi laba rugi dari tahun ke tahun menggambarkan perkiraan laba atau rugi di masa yang akan datang. Komponennya meliputi proyeksi penjualan, biaya, dan laba rugi bersih.
  5. Proyeksi arus kas. Dari arus kas dapat dilihat kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban-kewajiban keuangannya. Ada tiga jenis arus kas, yaitu:
  • Arus kas masuk, merupakan penerimaan berupa hasil penjualan atau pendapatan.
  • Arus kas keluar, merupakan biaya-biaya termasuk pembayaran bunga dan pajak.
  • Arus kas masuk bersih, merupakan selisih dari arus kas masuk dan arus kas keluar ditambah penyusutan dan perhitungan bunga setelah pajak.
    • Evaluasi dan Persiapan Bisnis Baru

            Seperti telah dikemukakan, sebelum suatu usaha baru dimulai, terlebih dahulu harus disiapkan suatu rencana usaha yang baik dan evaluasi. Suatu rencana usaha yang baik biasanya berisi komponen-komponen sebagai berikut (Ignas G.Sidik, 2013):

  1. Ringkasan pelaksanaan usaha, berisi pernyataan singkat tentang:
  2. Kegiatan pokok perusahaan dan sistem pengelolaan
  3. Ciri-ciri dari produk atau jasa dan pelayanan
  4. Ukuran pasar dan prospek atau potensi pasar
  5. Ringkasan proyeksi keuangan
  6. Jumlah dana yang diperlukan dan penggunaannya

 

  1. Deskripsi usaha, harus memuat tentang:
  2. Visi dan misi perusahaan
  3. Tujuan jangka pendek dan jangka panjang
  4. Struktur usaha
  5. Bentuk perusahaan
  6. Produk dan pelayanan-pelayanan yang akan disajikan, yaitu memuat tentang:
  7. Produk barang dan jasa yang akan disajikan
  8. Keunggulan dari barang dan jasa serta pelayanan yang ditawarkan
  9. Peluang pengembangan barang dan jasa
  10. Keunggulan dalam pengembangan barang dan jasa
  11. Analisis industri, harus memuat:
  12. Kecenderungan industri yang disenangi
  13. Lingkungan industri yang berpengaruh
  14. Izin dan peraturan untuk membangun industri
  15. Ukuran industri yang akan didirikan
  16. Keunggulan dan kelemahan industri baru
  17. Analisis pasar, memuat tentang:
  18. Target atau sasaran pasar
  19. Kebutuhan pelanggan
  20. Potensi atau prospek dan perkiraan penjualan untuk setiap target penjualan
  21. Perkiraan perolehan pangsa pasar dari suatu usaha yang akan dicapai.
  22. Strategi pemasaran, memuat tentang:
  23. Lokasi pemasaran
  24. Saluran distribusi dan jaringan usaha yang dipilih
  25. Personal yang akan melakukan penjualan
  26. Kebijaksanaan harga yang sesuai
  27. Tujuan dan sasaran promosi serta rancangan untuk mencapai tujuan tersebut
  28. Pengelolaan, memuat tentang:
  29. Penentuan tugas dan tanggung jawab masing-masing
  30. Keahlian khusus masing-masing yang diperlukan
  31. Bentuk dan struktur organisasi pengelolaan
  32. Pimpinan atau direktur pengelola
  33. Operasi usaha, memuat tentang:
  34. Pemasok utama
  35. Kebutuhan-kebutuhan karyawan
  36. Sistem dan prosedur operasi
  37. Data ruang dan denah rencana
  38. Keperluan peralatan dan biaya
  39. Peralatan tetap dan perabot kantor
  40. Keperluan persediaan bahan baku
  41. Semua biaya operasi yang diperlukan
  42. Proyeksi keuangan, biasanya memuat:
  43. Jumlah ekuitas (modal milik sendiri) yang dimiliki
  44. Jumlah dan jenis serta sumber keuangan
  45. Rencana penggunaan dana
  46. Proyeksi arus kas atau pendapatan

Jadi, ada tiga proyeksi keuangan yang harus disiapkan, yaitu :

  1. Proyeksi uang kas
  2. Proyeksi pendapatan
  3. Proyeksi saldo

            Bagi sebagian besar pelaku usaha menjalankan usaha merupakan dan menjadi bagian dari kehidupan pribadi. Apa yang sedang terjadi pada perusahaan akan berdampak kepada kehidupan. Sebaliknya apa yang sedang terjadi pada kehidupan pribadi juga berpengaruh terhadap jalannya usaha. Kehidupan pribadi hampir tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan usaha. Contoh nyata pada keputusan-keputusan yang akan dibuat, sangat dipengaruhi oleh kehidupan pribadi. Keinginan untuk dipandang terhormat dikalangan masyarakat juga tercermin pada keputusan yang menyangkut perusahaan.

  1. Sebagian besar pelaku usaha sering mengalami kesulitan likuiditas dan modal kerja. Dengan demikian maka kesulitan jangka pendek harus menjadi prioritas untuk diatasi. Jika hal itu selalu terjadi, maka perencanaan anggaran untuk investasi jangka panjang menjadi terabaikan.
  2. Ketidak pastian cash flow dalam usaha seringkali menjadi kendala dan membuat pelaku usaha merasa ragu-ragu untuk mengambil keputusan investasi jangka panjang. Investasi jangka panjang seringkali dipandang sebagai usaha yang sangat sulit untuk dilakukan.
  3. Ketertutupan sebagai perusahaan kecil menjadikan perusahaan kurang dikenal. Berbeda halnya dengan perusahaan yang telah go publik.
  4. Proposal proyek untuk perusahaan yang berskala kecil sering dianggap kurang signifikan. Sementara bagi pelaku usaha kecil biaya untuk proyek proposal untuk usaha kecil dan usaha besar sama saja.
  5. Bakat kepemimpinan usaha kecil sangat langka. Demikian juga orientasi perusahaan kecil sangat langka. Demikian juga orientasi perusahaan kecil terhadap pelatihan dalam bidang teknik pengelolaan usaha atau studi kelayakan bisnis dan cara-cara mengatasi kendala kurang mendapat perhatian.

            Meskipun pelaku usaha memiliki peluang untuk melakukan investasi, yang akan digunakan untuk, mengembangkan produk baru, meremajakan armada kendaraan (truk, bus, kapal) atau mesin-mesin untuk garmen, memperluas daerah pemasaran untuk produksi baru, membangun gedung baru dan lain sebagainya kiranya perlu diperhatikan dengan sebaik-baiknya.

  • Sumber- Sumber Data dan Informasi

Data dan informasi merupakan sangat penting dalam menganalisi suatu usaha, karena tanpa adanya data dan informasi yang jelas, maka hasil studi kelayakan yang kita lakukan tidak akan berhasil dengan baik. Oleh karena itu, perlu dicari sumber-sumber data dan informasi yang benar-benar dapat dipercaya keabsahannya. Adapun sumber sumber data dan informasi yang dapat kita peroleh serta dapat dipercaya adalah antara lain:

  1. Data dan informasi yang bersumber dari publikasi ekonomi dan bisnis baik dari koran ataupun majalah.
  2. Data dan informasi yang bersumber dari publikasi Bank Indonesia, Perbanas, maupun oleh lembaga keuangan lainnya.
  3. Data dan informasi yang bersumber dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Badan Pengelola Pasar Modal(Bapepam)
  4. Data dan informasi yang bersumber dari Biro Pusat Stastitik(BPS)
  5. Data dan informasi yang bersumber dari asosiasi industry dan dagang yang membawahi jenis usaha yang sejenis.
  6. Data dan informasi yang bersumber dari lembaga-lembaga penelitian baik yang dilakukan oleh pemerintahan seperti LIPI maupun swasta
  7. Departemen teknis, dimana biasaya data-data dan informasi yang dikeluarkan terkumpul dari tahun ketahun, misalnya jika usaha pertanian, maka perlu dicari dari departemen pertanian
  8. Data dan informasinya yang bersumber dari universitas atau perguruan tinggi lainnya.

 

  • Inspirasi Dari Entrepreneur Sukses
    • Mark Zuckerberg – Facebook

Kaya raya dan sukses di usia muda tentu menjadi impian hampir semua orang. Mark Elliot Zuckerberg, 29 tahun, telah membuktikannya. Pria kelahiran New York, 14 Mei 1984, dikenal sebagai CEO dan pendiri situs jejaring sosial Facebook. Facebook didirikan Zuckerberg saat ia kuliah di Universitas Harvard pada tahun 2004, saat ini Facebook telah memiliki lebih dari 1 miliar pengguna di seluruh dunia. Pria ini pernah dinobatkan sebagai anak muda terkaya di dunia atas usahanya sendiri dan bukan karena warisan saat usianya belum genap 25 tahun, mampu mengubah kebenarannya membuat website menjadi mesin uang.

Awal Mula Facebook

Saat ini, siapa yang tidak kenal Facebook, hampir semua orang di seluruh dunia menggunakan situs ini sebagai barang wajib. Namun, siapa sangka ternyata Facebook diciptakan Zuckerberg karena terinspirasi dari sebuah buku yang berisi tentang biodata siswa setiap angkatan seperti yang ada di sekolah swasta Phillips Exeter Academy, tempat Zuckerberg menuntut ilmu dan lulus tahun 2002. Karena Universitas Harvard tidak memiliki buku angkatan maka terlintas ide di kepala Zuckerberg untuk membuat situs direktori berisi biodata mahasiswa Harvard. Sayang, ide brilian Zuckerberg tersebut tidak disambut oleh pihak kampus.

Tidak mau berhenti disitu saja karena penolakan dari kampus, Zuckerberg tetap ngotot membuat situs yang berisi biodata dan foto mahasiswa Harvard. Demi merealisasikan ide gilanya itu, ia melakukan hack ke direktori mahasiswa kampus untuk mendapatkan banyak foto. Zuckerberg kemudian menamai situs itu Facemash, situs inilah yang merupakan cikal bakal Facebook kelak. Bagaikan bensin yang disambar api, Facemash yang baru saja diluncurkan langsung menyebar dengan cepatnya di kalangan mahasiswa. Dalam waktu beberapa jam situs Facemash telah mendapat 22.000 pengunjung (Sony Eko Yanuar, 2013).

Yang menjadi daya tarik Facemash terletak pada banyaknya biodata mahasiswa sehingga banyak mahasiswa yang tertarik melihat teman mereka sendiri di internet. Namun, kepopuleran Facemash tidak berlangsung lama. Pada pukul empat pagi, aktivitas situs Facemash membuat macet traffic internet. Rupanya perbuatan Zuckerberg itu diketahui oleh pihak Harvard dan sambungan internet pun diputus. Zuckerberg kemudian disidang karena mencuri data, melakukan hacking dan melanggar privasi. Peristiwa Zuckerberg dengan situs Facemash-nya spontan menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa Harvard. Kejadian Facemash rupanya tidak membuat Zuckerberg kapok, menyadari orang-orang berbondong-berbondong mengunjungi situsnya bukan karena ingin melihat perempuan hot tetapi karena ingin melihat teman yang mereka kenal di internet. Muncul ide dikepalanya untuk membuat situs jejaring sosial yang berisi profil dan foto orang yang mereka kenal dan memungkinkan orang bersosialisasi lewat internet.

Bermodal Uang Orang Lain

Sadar secara finansial tidak sanggup untuk membiayai sendiri modal awal proyek yang besar itu, ia pun menemui temannya yang bernama Eduardo Saverin agar mau berinvestasi disitus yang akan dibuatnya. Zuckerberg menawarkan saham 30 persen kepada Saverin karena memberi modal awal 1.000 dolar dan menunjuk  Saverin sebagai Chief Financial Officer (CFO). Saverin menganggap ide Zuckerberg brilian dan setuju untuk membiayai proyek tersebut. Tidak lama bagi Zuckerberg untuk merampungkan website impiannya yang diberi nama “The Facebook”. The Facebook yang kala itu menggunakan domain www.thefacebook.com, memiliki perbedaan dengan Facemash. Pada situs The Facebook, orang menyediakan sendiri informasi dan foto mereka. Selain itu, pengguna memiliki keleluasaan mengajak maupun tidak mengajak orang lain untuk bergabung menjadi teman di akun mereka. Berbeda dengan Facemash yang datanya berasal dari hasil hacking.

Booming Facebook

Zuckerberg tidak hanya paham bagaimana membut website, ia juga piawai memodifikasi situs jejaring sosialnya agar lebih baik dan tampil beda dengan situs jejaring sosial lain seperti friendster dan multiply. Hal tersebut terlihat pada Februari 2004, ketika The Facebook resmi diluncurkan dan langsung mendapat respon positif. Kepopuleran thefacebook.com meledak dengan cepat. Dalam waktu dua minggu hampir seluruh mahasiswa di Harvard memiliki akun The Facebook. Melihat kesuksesan The Facebook di kandang, banyak mahasiswa dari luar Harvard yang ikut tertarik untuk mendaftar. Merasa mulai kewalahan dengan banyak orang yang mendaftar, Zuckerberg kemudian mengajak teman sekamarnya Dustin Moskovits yang juga ahli pemrograman untuk bergabung ke dalam The Facebook. Dustin Moskovits mendapatkan imbalan sekitar lima persen saham yang dipotong dari saham Zuckerberg.

Drop Out dari Harvard

Kesibukan Zuckerberg di situs jejaring sosialnya yang semakin hari semakin popular, mengharuskan pria yang pernah dinobatkan sebagai Person of The Year tahun 2010 oleh majalah Time ini meluangkan banyak waktu mengurusi The Facebook. Sebagai seorang mahasiswa ia harus pintar-pintar membagi waktu antara kuliah dan The Facebook. Karena tidak ingin setengah-setengah dalam berbisnis dan ingin focus mengembangkan The Facebook, ia pun memilih untuk drop out dari Universitas Harvard. Menurutnya kuliah bukan penentu sukses tidaknya seseorang.

Bergabungnya Sean Parker

Ketenaran Zuckerberg dengan demam facebook-nya terdengar sampai ke telinga Sean Parker, pendiri situs musik online Napster. Suatu hari, mereka bertemu untuk membicarakan situs besutan Zuckerberg itu. Dari perbincangan mereka, Parker memberikan saran kepada Zuckerberg untuk menghilangkan “The” pada nama The Facebook dan mengharuskannya pindah ke California untuk mengembangkan situsnya. Zuckerberg yang terkesan dengan pertemuan pertamanya dengan Sean Parker, setuju untuk memakai nama Facebook dan pindah ke California. Di California, Zuckerberg mengajak Sean Parker bergabung ke Facebook dan merekrut beberapa pegawai baru. Sebagai imbalan, Parker mendapat 6 persen saham facebook.

Bersama Sean Parker, Facebook mulai mendapat akses ke Venture Capital (VC). Parker memperkenalkan Zuckerberg kepada Peter Thiel, salah satu pendiri Paypal dan juga pimpinan Clarium Capital. Hanya butuh 15 menit, Zuckerberg mampu meyakinkan Thiel untuk berinvestasi di Facebook dengan nominal $500.000. Dengan suntikan dana dari investor baru, Zuckerberg mulai membenahi situs jejaring sosialnya dengan merekrut sejumlah teknisi dan pegawai baru. Kekuatan Facebook menjadi bertambah besar sehingga mampu diperluas sampai keluar Benua Amerika sekaligus berhasil mencapai pengguna kesejuta pertamanya.

Booming Facebook yang melanda dunia, menarik banyak pengiklan memanfaatkan situs jejaring sosial ini untuk mempromosikan produknya. Hal itu semakin menambah pundi-pundi uang yang masuk ke dalam Facebook. Satu hal yang luar biasa, Zuckerberg hanya perlu waktu beberapa tahun saja untuk sukses. Kala itu usianya belum genap 25 tahun, Zuckerberg dinobatkan sebagai salah satu orang terkaya di dunia oleh Forbes. Ia bahkan berhasil menepis anggapan banyak orang bahwa sukses dalam berbisnis sulit diraih di usia muda. Kini ia telah menuai hasilnya. Muda, sukses dan kaya raya. Zuckerberg bisa menikmati semua itu di usia muda. Kisahnya juga diangkat ke layar lebar lewat film yang berjudul The Social Network. Perjalanan Zuckerberg membangun bisnis telah menginspirasi banyak kaum muda sehingga mereka terpacu mengikuti jejak langkahnya menjadi pengusaha muda yang sukses.

  • Inspirasi Menjadi Wirausaha Sukses di Era Informasi

Menurut Albert Einstein: dunia seperti yang telah kita ciptakan ini adalah proses pemikiran kita. Hal ini tidak dapat diubah tanpa mengubah pikiran kita. Zaman sudah berubah dari era industri ke era informasi, begitu juga halnya dengan cara menjadi kaya. Di era industri, seseorang memerlukan waktu puluhan tahun dan pendidikan tinggi untuk menjadi kaya. Sedangkan di era informasi, siapa pun tanpa terkecuali bisa menjadi kaya dengan waktu singkat dan tidak perlu pendidikan tinggi apalagi status sosial.

Salah satunya Mark Zuckerberg, pria yang drop out dari kampusnya itu, mampu menjadi orang terkaya dan termuda dalam sejarah dunia atas kerja kerasnya sendiri. Lebih hebatnya lagi, ia hanya memerlukan waktu kurang dari 5 tahun untuk menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Coba kita bandingkan dengan warren Buffett, Walt Disney, atau Ray Kroc yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk menjadi kaya.

Peristiwa Zuckerberg dengan situs jejaring sosialnya sempat menggemparkan dunia karena ia telah berhasil menjadi salah satu orang terkaya dunia di usia yang masih sangat muda. Zuckerberg tidak hanya mampu melihat peluang di era informasi, tetapi ia juga piawai dalam memanfaatkan teknologi untuk membantu banyak orang berhubungan sosial ke dalam internet. Meskipun zaman sudah berubah tetapi masih banyak orang yang tidak mengubah cara mereka mencari uang. Sehingga sering kali banyak orang yang mengeluh tentang susahnya mencari uang di zaman sekarang. Padahal bila kita bandingkan, lebih susah mencari uang zaman dulu dari pada di zaman sekarang.

Coba perhatikan, zaman dulu untuk mengabari seseorang yang meninggal kepada kerabat jauh butuh waktu berhari-hari. Sedangkan zaman sekarang, dalam hitungan detik berita bisa disebarkan dengan menggunakan sms, email, messenger dan peralatan canggih lainnya. Begitu juga dengan membuka suatu bisnis, Anda tidak perlu lagi mengumpulkan uang untuk membeli ruko atau tempat berjualan. Anda bisa memulai menggunakan BBM, Facebook, Twitter maupun Website untuk memasarkan produk. Di era informasi, kesempatan sangat terbuka lebar. Semua orang dalam hitungan detik dapat mengetahui kejadian yang terjadi di belahan bumi manapun. Dunia menjadi semakin datar sehingga memungkinkan siapa pun memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi kaya.

Informasi apa pun yang dibutuhkan seperti pesaing, pasar, produk, pemasok dan pendukung lainnya sudah tersedia. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan semaksimal mungkin segala bentuk informasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Hal inilah yang dilihat oleh kaum muda di Silicon Valley, Amerika. Kawasan yang terkenal dengan pusat teknologi dan bisnis penghasil berbagai perusahaan teknologi yang mampu menguasai dunia seperti Intel, HP, Apple, Microsoft, Facebook, dan beberapa perusahaan lainnya. Mereka antara lain Steve Jobs, Bill Gates dan Mark Zuckerberg yang merupakan sedikit contoh entrepreneur sukses dari Silicon Valley yang berhasil menguasai dunia di usia muda mereka. Dengan mindset yang sudah berorientasi dengan perubahan zaman. Para entrepreneur Silicon Valley dengan cepat melihat era informasi sebagai peluang untuk menggenggam dunia. Mereka melihat bisnis bukan lagi dalam lingkup daerah, kota atau suatu Negara, melainkan secara global.

Dengan teknologi tanpa batas, tidak hanya anak muda dari Silicon Valley yang mampu memanfaatkan peluang di era informasi. Di Indonesia pun terdapat pemuda hebat yang berhasil dengan internet marketing, dialah Habibie Afsyah, seorang penyandang disabilitas yang meraih kesuksesan dengan kemampuan yang hebat. Pria yang lahir di Jakarta 6 januari 1988 ini, berhasil meraup ratusan juta rupiah dari kejeliannya melihat peluang dari teknologi informasi. Ia berhasil menaklukkan dunia online walaupun dari kursi roda. Bisnis apa pun yang berhubungan dengan informasi menjadi sangat powerful di era ini. Kita dapat menjangkau banyak orang dalam waktu singkat tanpa terhalang batas Negara maupun benua. Saat ini informasi bisa dikatakan sebagai massive weapon yang sangat powerful. Carilah peluang-peluang itu karena masih banyak entrepreneur yang belum memanfaatkan era informasi dan masih terperangkap di era industri.

Era informasi sendiri memiliki kata kunci. Siapa yang mampu menguasai informasi dapat menggenggam dunia. Para entrepreneur dari ‘lembah silikon’ telah membuktikannya. Banyak dari mereka menjadi kaya dengan cepat di era informasi ini. Seperti kisah Mark Zuckerberg dengan Facebook yang menjadi role model entrepreneur di era informasi yang berhasil membuktikan kedahsyatan dari era informasi dengan menggenggam dunia.

Sudah saatnya kita mulai mengubah cara kita dalam menghasilkan uang. Ingat zaman sudah berubah. Kalau di era informasi Anda bisa menjadi kaya dalam waktu singkat, kenapa harus tunggu puluhan tahun? Jika berubah itu berisiko maka lebih berisiko lagi jika tidak merubah. Jangan sampai kita mengalami nasip yang sama dengan dinosaurus yang punah karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Mulai sekarang, ubahlah pola pikir kita di era industri yang sudah tidak relevan lagi ke era informasi yang lebih terbuka dan memungkinkan siapa saja memiliki kesempatan yang sama untuk sukses.

  • Prinsip Wirausaha: Bangunlah Kekuatan “Bisa!”

           Bisa itu bukan sekedar impian. Dream is not just a dream. Tapi Dream yang paling penting adalah Dream and Action. Jadi kumpulan dari bisa-bisa itu karena kita Action, Akhirnya pintunya terbuka semua. Ada beberapa tip yang dapat dipelajari dari karya anak muda brilian yang melihat kotoran sebagai berlian ini, yaitu (Rhenald Kasali, 2012):

  1. Berhentilah memikirkan kemungkinan-kemungkinan negatif, seperti “Tidak Bisa”, “Tidak Diakui”, “Gagal” dan seterusnya. Anda boleh saja tidak berfikir positif tetapi buanglah pikiran-fikiran jelek yang bermuara pada hal-hal negatif.
  2. Menjauhlah dari ahli-ahli tradisional yang berpegang pada mitos. Peliharalah hubungan pada “Expert” Yang terbuka terhadap hal-hal baru. Seperti para pekerja di kantor, Para ahli juga terbagi dua, Yaitu ahli “Pendalaman” Yang cenderung berfikir masa lalu, rutin terikat pekerjaan dan malas berfikir baru, Serta ahli “Pesisir” yang terbuka, mau mendengarkan dan berfikir baru.
  3. Rangkailah mata rantai nilai (Value Chain). Sesuatu yang baru, biasanya belum lengkap rantai pasoknya, dari hulu ke hilir, dari bahan baku ke proses. Dari produk ke pasar. Konsumen mungkin belum mengenal produk itu, merasa aneh namun bukan berarti pasarnya tidak ada.
  4. Temukan inspirasi hanya dari penggagas-penggagas besar. Mereka itulah sumber inspirasi anda. Mereka juga diuji oleh zaman dan lingkungan yang tidak bisa berfikir baru.
  5. Selalu berfikir satu langkah di depan. Banyak yang difikirkan tetapi tetap realistis, jangan buat diri anda gila karena kelebihan gagasan dan berfikir melompat-lompat. Berfikirlah sedepa demi sedepa dan fokuslah padanya.

Evaluasi Mandiri

  1. Apa yang dimaksud dengan bisnis dan studi kelayakan bisnis menurut Anda!
  2. Sebutkan manfaat adanya kegiatan bisnis baik bagi pemerintah, perusahaan maupun masyarakat!
  3. Sebutkan tujuan-tujuan dari adanya studi kelayakan bisnis sebelum melakukan usaha!
  4. Jelaskan manfaat dilakukannya analisis SWOT (Strength Weakness Opportunity Threatment) dalam melakukan studi kelayakan bisnis!
  5. Pada prinsipnya hasil studi kelayakan bisnis bisa digunakan untuk berbagai macam hal. Sebutkan!
  6. Sebut dan jelaskan proses dan tahapan dalam melakukan studi kelayakan bisnis!
  7. Salah satu aspek yang harus dianalisis dalam melakukan studi kelayakan usaha adalah aspek pemasaran. Sebutkan komponen-komponen yang harus dianalisis!
  8. Untuk aspek produksi atau operasi dalam melakukan studi kelayakan bisnis ada beberapa unsur yang harus dianalisis. Sebutkan!
  9. Dalam menganalisa aspek keuangan, komponen yang dianalisis adalah kebutuhan dan sumber dana, proyeksi neraca, dan proyeksi arus kas. Jelaskan komponen-komponen tersebut!
  10. Sebutkan sumber-sumber data dan informasi dalam melakukan analisis kelayakan usaha!

Daftar Pustaka

Eddy Soeryanto Soegoto. 2010. Entrepreneurship Menjadi Pebisnis Ulung: Panduan Bagi Pengusaha, Calon Pengusaha, Mahasiswa, dan Kalangan Dunia Usaha. Elex Media Komputindo: Jakarta.

Hermawan Kertajaya. 2004. Siasat Bisnis: Menang dan Bertahan di Abad Asia Pasifik. Gramedia Pustaka Utama dan Gatra: Jakarta.

Iban Sofyan. 2004. Studi Kelayakan Bisnis. Graha Ilmu: Yogyakarta.

Ignas G. Sidik. 2013. Bisnis Sukses: Menyusun Rencana Bisnis Lengkap Terpadu. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Jumingan. 2009. Studi Kelayakan Bisnis: Teori dan Pembuatan Proposal Kelayakan. Bumi Aksara: Jakarta.

Kasmir, Jakfar. 2009. Studi Kelayakan Bisnis. Prenada Media: Jakarta.

Kustoro Budiarta. 2010. Pengantar Bisnis. Mitra Wacana Media: Jakarta.

Rhenald Kasali. 2012. Wirausaha Muda Mandiri: Kisah Inspiratif Anak Muda Mengalahkan Rasa Takut dan Bersahabat Dengan Ketidakpastian. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Siswanto Sutoyo. 2007. Studi Kelayakan Proyek: Konsep dan Teknik dari Manajemen. LPPM: Jakarta.

Yacob Ibrahim. 2008. Studi Kelayakan Bisnis. Rineka Cipta: Jakarta.

Thamrin Abdullah dan Francis Tantri. 2012. Manajemen Pemasaran. Rajawali Press: Jakarta.

Leave A Reply