Discovering the Heart of Kuala Lumpur, Exploring Culture and Food Day 5
Hari kelima dimulai dengan sarapan di asrama sebelum kami berangkat menggunakan MRT menuju Pasar Seni (Central Market). Tempat ini sudah berdiri sejak 1888, awalnya sebagai pasar basah, kini menjadi pusat seni dan oleh-oleh khas Malaysia. Suasananya penuh warna dengan kios batik, songket, kerajinan tangan, dan kuliner khas. Aku memanfaatkan free time untuk berbelanja: membeli gantungan kunci lucu dan mencicipi strawberry segar yang disajikan dengan lelehan cokelat serta taburan pistachio—rasanya manis segar sekaligus crunchy.
Di pasar Seni kami mencoba beberapa makanan unik, seperti yang saya beli adalah strawberry dengan saus coklat dan pistachio, saya dan teman saya membeli tahu khas Malaysia dan membeli minuman rasa matcha yang sangat terkenal di daerah pasar seni. kami juga membeli beberapa gantungan kunci untuk dijadikan oleh-oleh.
Dari Pasar Seni, kami berjalan kaki ke Petaling Street, kawasan Chinatown yang terkenal dengan suasana riuh penuh kios-kios rapat menjual baju, tas, jam tangan, hingga street food. Di sela-sela itu ada pula kedai makanan Tionghoa yang aromanya menggoda. Tak jauh dari sana, aku mampir ke bookstore dan membeli satu buku baru, lalu melihat-lihat toko barang antik yang memajang kamera klasik, koin tua, hingga dekorasi vintage. Rasanya seperti masuk ke lorong waktu yang membawa suasana nostalgia.
Tak jauh dari Petaling Street, kami sempat mampir ke sebuah bookstore, tempat aku membeli satu buku yang menarik perhatianku. Ada juga toko barang antik di sekitar situ, memamerkan koin lama, kamera klasik, dan dekorasi vintage yang membuat suasana terasa nostalgia. Rasanya menyenangkan bisa melihat sisi lain dari Kuala Lumpur yang lebih “lokal” dan penuh sejarah.
Setelah puas berkeliling Petaling Street, kami singgah ke Kwai Chai Hong, sebuah lorong ikonik di Chinatown yang penuh dengan mural warna-warni. Tempat ini menghadirkan suasana klasik Tiongkok era 1960-an, lengkap dengan lukisan dinding yang menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat pada masa itu. Selain indah untuk dinikmati, area ini juga menjadi spot foto favorit karena nuansanya yang unik, nostalgic, dan penuh cerita. Rasanya seperti sejenak kembali ke masa lalu di tengah hiruk-pikuk modern Kuala Lumpur.
Menjelang siang, kami berhenti makan ramen khas Tionghoa. Kuahnya gurih hangat, porsinya cukup sederhana tapi mengenyangkan.
Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Pavilion Kuala Lumpur, salah satu pusat perbelanjaan paling mewah dan modern di Malaysia. Mall ini terkenal dengan desain interiornya yang elegan, penuh brand internasional, serta area oleh-oleh di bagian Food Republic yang menjual berbagai camilan khas Malaysia, mulai dari cokelat hingga kue tradisional. Aku menyempatkan membeli beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang. Setelah istirahat sejenak, perjalanan kami lanjutkan dengan MRT menuju destinasi yang sangat ikonik, yaitu Batu Caves.
Baru setelah kami sampai di Batu Caves, salah satu destinasi paling ikonik di Malaysia. Begitu tiba, langsung terasa aura megahnya dengan patung emas raksasa Dewa Murugan setinggi 42,7 meter berdiri gagah di depan bukit batu kapur. Untuk masuk ke kuil utama, ada lebih dari 270 anak tangga warna-warni yang menanjak ke atas. Di sekitar tangga banyak monyet yang berkeliaran, menambah suasana unik. Batu Caves sendiri sudah berusia lebih dari 400 juta tahun dan menjadi pusat spiritual Hindu, terutama saat festival Thaipusam.
Batu Caves adalah kompleks gua batu kapur yang berusia lebih dari 400 juta tahun, sekaligus menjadi salah satu pusat peribadatan Hindu terbesar di luar India. Ikon utamanya adalah patung raksasa Dewa Murugan yang berlapis emas setinggi 42,7 meter—patung dewa Hindu tertinggi di dunia. Dari bawah, pemandangan patung ini sungguh megah, menjulang tinggi dengan latar bukit batu kapur. Untuk masuk ke kuil utama, pengunjung harus menaiki lebih dari 270 anak tangga yang curam namun penuh warna-warni. Di sekitar tangga banyak monyet yang berkeliaran, menambah suasana khas tempat ini. Batu Caves bukan hanya tempat wisata, tapi juga situs spiritual penting, terutama saat festival Thaipusam.
Setelah puas menikmati keindahan patung di Batu Caves, kami melanjutkan perjalanan ke sebuah kedai makanan khas Bangladesh. Suasana kedainya sederhana namun hangat, penuh dengan aroma rempah-rempah khas Asia Selatan. Menu yang tersedia cukup beragam mulai dari nasi briyani, kari, hingga aneka roti. Meski begitu, aku akhirnya memilih mi goreng yang rasanya gurih dan pedas pas di lidah. Menyantapnya sambil bercengkerama dengan teman-teman membuat pengalaman kuliner ini terasa semakin seru, apalagi bisa merasakan suasana yang berbeda dari biasanya.
