Putrajaya & Malaka Historical Trip Day 4
Hari keempat dimulai dengan sarapan bersama di asrama. Suasana pagi terasa hangat, teman-teman saling bercanda sambil menyiapkan energi untuk perjalanan panjang hari ini. Setelah itu, kami berangkat menuju Putrajaya dengan bus.
Dalam perjalanan, lecturer memberikan penjelasan mengenai sistem kerajaan dan pemerintahan Malaysia. Malaysia adalah negara monarki konstitusional dengan sistem federal, terdiri dari 13 negara bagian dan 3 wilayah federal. Yang unik, Malaysia dipimpin oleh seorang Yang di-Pertuan Agong, yaitu raja yang dipilih dari sembilan Sultan di Malaysia secara bergilir setiap 5 tahun. Konsep ini disebut monarki elektif, dan sangat jarang ada di dunia. Putrajaya sendiri adalah pusat pemerintahan Malaysia,
dengan gedung-gedung administrasi modern, boulevard luas, serta Masjid Putra berwarna merah muda yang ikonik. Melihat langsung pusat administrasi negara ini membuat kami lebih paham bagaimana sistem pemerintahan dijalankan.
Bandar Putrajaya adalah kota modern yang menjadi pusat pemerintahan Malaysia, terletak sekitar 25 km dari Kuala Lumpur. Kota ini dibangun khusus untuk menampung hampir semua kantor kementerian dan lembaga pemerintahan agar lebih teratur dan tidak terlalu padat di Kuala Lumpur. Putrajaya dikenal dengan arsitektur bergaya Islam modern, ikon utamanya yaitu Masjid Putra (sering disebut Masjid Pink), gedung Perdana Putra sebagai kantor Perdana Menteri, serta jembatan-jembatan futuristik seperti Jambatan Seri Wawasan. Selain itu, tata kotanya didesain dengan danau buatan, ruang hijau yang luas, dan suasana tenang, menjadikannya seperti “Washington D.C.” versi Malaysia sebuah pusat administrasi negara yang sekaligus memadukan kemegahan, sejarah, dan keindahan alam.
Dari Putrajaya, perjalanan dilanjutkan ke Melaka, sebuah kota yang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia sejak 2008. Sesampainya di sana, udara panas langsung terobati dengan cendol khas Melaka, es serut dengan santan, gula merah, dan kacang hijau. Rasanya segar dan khas, benar-benar cocok untuk mengawali eksplorasi kota tua.
Kami lalu menuju Bukit St. Paul, salah satu lokasi bersejarah di Melaka. Di puncaknya terdapat Gereja St. Paul yang dibangun oleh bangsa Portugis pada tahun 1521. Setelah Belanda menguasai Melaka, gereja ini dijadikan tempat pemakaman sementara para bangsawan Eropa. Sisa-sisa batu nisan dengan ukiran kuno masih bisa dilihat sampai sekarang, menghadirkan suasana sakral sekaligus historis. Dari atas bukit, pemandangan kota Melaka dan Selat Malaka terlihat jelas – mengingatkan kami bahwa wilayah ini dahulu adalah jalur perdagangan internasional yang sangat penting.
Bukit St. Paul adalah salah satu situs sejarah paling terkenal di Malaka, Malaysia. Dahulu bukit ini digunakan sebagai benteng pertahanan Portugis ketika mereka menjajah Malaka pada abad ke-16. Di atas bukit terdapat reruntuhan Gereja St. Paul yang dibangun oleh seorang kapten Portugis bernama Duarte Coelho pada tahun 1521, awalnya sebagai kapel kecil bernama “Our Lady of the Hill”. Gereja ini kemudian diperluas dan dijadikan tempat ibadah penting oleh Portugis. Setelah Belanda menguasai Malaka, mereka menggunakan gereja ini sebagai gudang penyimpanan mesiu, sehingga bangunannya semakin rusak.
Selain sebagai tempat ibadah, bukit ini juga memiliki fungsi unik yaitu sebagai tempat peristirahatan sementara jenazah para pejabat dan bangsawan sebelum dipindahkan ke lokasi pemakaman lain. Hingga kini, kita masih bisa melihat makam-makam tua dengan batu nisan berukir di sekitar gereja. Dari atas Bukit St. Paul, pengunjung juga bisa menikmati pemandangan Kota Malaka dan Selat Malaka yang dulu menjadi jalur perdagangan internasional. Karena itu, bukit ini tidak hanya bernilai sejarah keagamaan, tetapi juga simbol kejayaan dan perebutan Malaka oleh bangsa-bangsa Eropa.
Setelah menikmati suasana bersejarah itu, kami makan siang bersama, melaksanakan salat, lalu sebelum pulang kami mencicipi menu khas lainnya yaitu ayam asam pedas. Rasanya memang enak, pedas segar dengan bumbu yang kaya, meski harganya cukup mahal. Malam harinya kami kembali ke asrama dengan rasa lelah, tapi penuh kesan mendalam akan perjalanan sejarah hari ini.
