Back

Day 5: Menyelusuri Jejak budaya Kuala Lumpur 

Hari kelima diawali dengan semangat baru karena kondisi badan yang sudah membaik. Petualangan hari ini dimulai!

Pagi-pagi sekali, kami menaiki LRT menuju Pasar Seni (Central Market). Pasar Seni, atau yang dulunya dikenal sebagai Central Market, memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak tahun 1888. Awalnya, tempat ini hanya pasar basah sederhana, namun seiring berjalannya waktu, pasar ini berkembang menjadi pusat seni dan budaya yang penting di Kuala Lumpur. Bangunan Art Deco yang ikonik ini menjadi saksi bisu perkembangan seni lokal dan menjadi tempat berkumpulnya para seniman dan pengrajin dari berbagai penjuru Malaysia.

Di Pasar Seni, saya berburu oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman. Baju, gantungan kunci, dan kain batik menjadi pilihan yang menarik untuk dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Setelah puas berbelanja, kami berjalan kaki menuju Petaling Street, yang dikenal sebagai Chinatown-nya Kuala Lumpur. Petaling Street memiliki sejarah yang kaya sebagai pusat perdagangan dan permukiman Tionghoa sejak akhir abad ke-19. Para pedagang dan imigran Tionghoa datang ke wilayah ini untuk mencari peluang ekonomi baru, membawa serta budaya dan tradisi mereka. Jalan ini menjadi pusat kehidupan sosial dan ekonomi bagi komunitas Tionghoa di Kuala Lumpur, dengan toko-toko, restoran, dan pasar yang ramai.

Saat makan siang, kami mencoba mie tarik. Saya memesan mie dengan topping daging sapi dan pangsit. Ketika pesanan datang, porsinya ternyata sangat besar sehingga kami tidak sanggup menghabiskannya.

Setelah makan siang, kami pergi ke sebuah toko buku yang memiliki kedai kopi. Akhirnya, saya bisa menikmati kopi, karena sulit rasanya melewati hari tanpa secangkir kopi.

Malam harinya, tujuan kami adalah Batu Caves. Batu Caves adalah kuil gua Hindu yang terletak di distrik Gombak, Selangor, Malaysia. Tempat ini menjadi salah satu situs keagamaan Hindu paling populer di luar India, didedikasikan untuk Dewa Murugan. Gua ini pertama kali ditemukan oleh William Hornaday pada tahun 1878, dan sejak saat itu menjadi pusat ziarah penting bagi umat Hindu, terutama saat perayaan Thaipusam. Patung Dewa Murugan setinggi 42,7 meter yang berdiri megah di pintu masuk gua menjadi ikon yang tak terpisahkan dari Batu Caves. Untuk mencapai kuil utama di dalam gua, pengunjung harus menaiki 272 anak tangga yang curam.

Leave A Reply