Back

STATISTIKA NON PARAMETRIK

BAB XXVI

STATISTIKA NON PARAMETRIK

Perhatikanlah lebih saksama pada karakter Anda dibandingkan reputasi Anda, karena karakter Andalah yang menyatakan siapa diri Anda yang semestinya, sedangkan reputasi Anda hanyalah apa yang orang lain pikirkan mengenai Anda.

 

John Wooden

Pembahasan Materi

               Bab ini membahas tentang   analisis contoh aplikasi analisis berbasis statistik nonparametrik dimulai dari analisis korelasional nonparametrik seperti: Korelasi Rank Spearman, Korelasi Kendal Tau (  dan Korelasi Phi (  Selanjutnya dibahas tentang berbagai contoh aplikasi Analisis Komparasi nonparametrik seperti: Sign Test (Uji Tanda) dua sampel berpasangan, uji beda Kontingensi, Uji Mc.Nemar dua sampel berpasangan, Rangking bertanda Wilcoxon uji beda dua sampel berpasangan, dan Mann-Whitney U Test Uji Beda Mean Dua Sampel Independen.  

  • Pengantar Statistik Nonparametrik

               Uji statistika non parametrik adalah suatu pengujian yang modelnya tidak menerapkan adanya syarat-syarat tertentu mengenai parameter-parameter populasi yang merupakan induk sampel penelitiannya. Statistik non parametrik sering disebut juga dengan uji statistik bebas distribusi. Artinya jika suatu variabel tidak memenuhi persyaratan analisis statistik parametrik seperti asumsi normalitas dan homogenitas, maka pengujian selanjutnya dapat menggunakan statistik non parametrik.

               Namun perlu disadari bahwa sifat pengujian statistik non parametrik sebenarnya secara spesifik diperuntukan untuk data berskala ordinal sebagian kecil dapat juga digunakan untuk data berskala nominal, sehingga ketika diterapkan untuk data berskala interval atau rasio, konsekuensinya adalah data yang awalnya berskala interval atau rasio tadi, akan berubah menjadi skala ordinal atau bahkan menjadi data berskala nominal yang derajatnya lebih lemah dari pada interval atau rasio. Perubahan skala tersebut dan ditambah longgarnya persyaratan analisis akan berimplikasi terhadap melemahnya hasil analisis dalam membuat suatu keputusan. Oleh karena itu peneliti perlu mempertimbangkan dalam memilih suatu tes statistik yang akan digunakan dalam membuat keputusan tentang suatu hipotesis penelitian. Pengujian hipotesis dalam kelompok statistika non-parametrik memerlukan ukuran sampel yang lebih besar. Hal ini disebabkan klasifikasi atau pembentukan kelompok (sel) harus berisi jumlah data dengan frekuensi yang tidak boleh kosong.

Untuk menentukan teknik statistik nonparametrik mana yang akan digunakan untuk menguji hipotesis, maka perlu diketahui terlebih dahulu bentuk data yang akan dianalisis (nominal, ordinal) dan bentuk hipotesis (deskriptif, komparatif, asosiatif). Untuk memperjelas bagaimana pengujian statistik non parametrik, berikut ini akan diuraikan beberapa pengujian dan contoh aplikasinya (Kadir, 2015; Riadi, 2015;2016; Sugiyono, 2016).

  • Korelasi Rank Spearman

Korelasi Rank Spearman digunakan untuk mencari hubungan atau untuk menguji signifikansi hipotesis asosiatif jika data variabel bebas dan variabel terikat tidak berdistribusi normal, tidak memiliki varians yang sama (tidak homogen), dan sumber data antar variabel tidak harus sama dan  menggunakan skala pengukuran berbentuk ordinal. Berikut rumus korelasi rank Spearman

Keterangan:

 = Koefisien Korelasi Rank Separman

Contoh

Misalnya suatu penelitian ingin mengetahui seberapa kuat hubungan antara Efikasi Diri (X) dengan Motivasi Berprestasi (Y) karyawan. Data sampel variabel bebas X dan variabel terikat Y berdistribusi tidak normal, sebagai berikut:

Tabel 26.1. Contoh Data Uji Korelasi Rank Spearman

Rerponden

Efikasi Diri

(X)

Motivasi Berprestasi

(Y)

1

66

99

2

76

97

3

79

104

4

86

95

5

89

62

6

92

83

7

97

89

8

97

99

9

125

143

10

110

143

11

105

84

12

111

105

13

106

104

14

81

82

15

111

94

16

102

94

17

101

100

18

121

96

19

117

143

20

112

86

21

103

106

22

122

111

23

129

105

24

101

120

25

115

108

26

100

109

27

107

119

28

106

105

29

115

111

30

95

115

31

112

126

32

139

123

33

144

121

34

133

142

35

133

122

36

137

122

37

128

135

38

138

124

39

136

148

40

136

137

 

Penyelesaian:

  1. Hipotesis Statistik

   (Tidak terdapat hubungan antara efikasi diri dengan motivasi berprestasi)

   (Terdapat hubungan antara efikasi diri dengan motivasi berprestasi)

  1. Membuat Rangking

Mengurutkan terlebih dahulu masing-masing data variabel X dan variabel Y, kemudian mengubah data tersebut menjadi data berskala ordinal dengn cara merangking masing-masing variabel. Bila terdapat data yang sama, maka cara membuat rangkingnya dapat dijelaskan dengan contoh sebagai berikut.  

     Tabel 26.2. Contoh Cara Membuat Rangking

Variabel X Diurutkan

Rangking Variabel X

Variabel Y Diurutkan

Rangking Variabel Y

133

1,5

124

1

133

1,5

126

2

136

3,5

135

3

136

3,5

137

4

137

5

142

5

138

6

143

6,5

139

7

143

6,5

144

8

148

8

 

Rangking 1 dimulai dari data terkecil. Misalnya pada variabel X, data 133 ada dua seharusnya kedua data ini berpringkat 1 dan 2. Tetapi karena nilainya sama , maka peringkatnya dibagi dua yaitu: (1 + 2) : 2  = 1,5. Demikian juga untuk data 136 sebanyak 2 sehingga peringkatnya (3+4) : 2 = 3,5 selanjutnya data 137, 138, 139, dan 144 berturut-turut diberi peringkat masing-masing 5, 6, 7, dan 8. Selanjutnya dengan cara yang sama, pada variabel Y terdapat dua data yang sama yaitu 143, seharusnya kedua data ini berperingkat 6 dan 7, tetapi karena nilainya sama, maka peringkatnya dibagi dua yaitu: (6+7) :2 = 6,5.

Dengan cara yang sama, buatlah rangking untuk contoh Data variabel X dan Y data pada tabel 26.1 di atas. Setelah pemberian peringkat selesai, selanjutnya konversikan kembali rangking tersebut pada data awal sebelum diurut sebagai berikut:

Tabel 26.3. Tabel Bantu Analisis Rank-Spearman

Resp.

X

Y

Ranking X

Ranking Y

D

 

1

66

99

1

12,5

-11,5

132,25

2

76

97

2

11

-9

81

3

79

104

3

16,5

-13,5

182,25

4

86

95

5

9

-4

16

5

89

62

6

1

5

25

6

92

83

7

3

4

16

7

97

89

9,5

6

3,5

12,25

8

97

99

9,5

12,5

-3

9

9

125

102

31

15

16

256

10

110

143

20

38,5

-18,5

342,25

11

105

84

16

4

12

144

12

111

105

21,5

19

2,5

6,25

13

106

104

17,5

16,5

1

1

14

81

82

4

2

2

4

15

111

94

21,5

7,5

14

196

16

102

94

14

7,5

6,5

42,26

17

101

100

12,5

14

-1,5

2,25

18

121

96

28

10

18

324

19

117

143

26

38,5

-12,5

156,25

20

112

86

23

5

18

324

21

103

106

15

21

-6

36

22

122

111

29,5

24,5

5

25

23

120

105

27

19

8

64

24

101

120

12,5

28

-15,5

240,25

25

115

108

24,5

22

2,5

6,25

26

100

109

11

23

-12

144

27

107

119

19

27

-8

64

28

106

105

17,5

19

-1,5

2,25

29

115

111

24,5

24,5

0

0

30

95

115

8

26

-18

324

31

122

126

29,5

34

-4,5

20,25

32

139

123

39

32

7

49

33

144

121

40

29

11

121

34

133

142

33,5

37

-3,5

12,25

35

133

122

33,5

30,5

3

9

36

137

122

37

30,5

6,5

42,25

37

128

135

32

35

-3

9

38

138

124

38

33

5

25

39

136

148

35,5

40

-4,5

20,25

40

136

137

35,5

36

-0,5

0,25

 

 

 

 

 

 

3486

 

d  = ranking  – ranking

Contoh untuk data pertama, d1  = ranking  – ranking  = 40 – 28,5 = 11,5 demikian      seterusnya. Setelah tabel diisi lengkap hitung total kuadrat d nya ( ) diperoleh 3486. Kemudian memasukkan  ke dalam rumus Rank-Spearman sebagai berikut.

  1. Menentukan koefisien r

r = 1 –  = 1 –  = 1 –  = 1 – 0,327 = 0,673

  1. Menentukan nilai r tabel

Gunakan tabel r  Spearman pada lampiran, nilai r tabel dengan derajat kepercayaan (a) sebesar 5% dan jumlah sampel (n) sebesar 40 maka diperoleh r tabel sebesar 0,264.

  1. Kriteria Pengujian

Jika r empirik > r tabel, maka tolak  terima  demikian juga sebaliknya jika r empirik < r tabel, maka tolak  terima

  1. Kesimpulan:

Karena nilai r empirik = 0,673 > nilai r tabel = 0,264 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan antara erifikasi diri dengan motivasi berprestasi pada a 5%.

  • Korelasi Kendal ( )

Korelasi Kendal ( ) digunakan untuk mengukur “seberapa kuat” atau “derajat kedekatan” suatu relasi (hubungan) yang terjadi antar variabel jika data variabel bebas dan variabel terikat tidak berdistribusi normal. Data yang digunakan adalah data berskala ordinal. Korelasi Kendal merupakan rasio antara probabilitas data dua variabel dalam urutan yang sama dengan probabilitas dua variabel dalam urutan yang berbeda. Berikut rumus korelasi Kendal

  1. Untuk peringkat (ranking) yang tidak sama

 =

            = Koefisien korelasi Kendal

         S = Jumlah total statistik untuk jumlah konkordansi dan diskordansi

         N = Jumlah Sampel

  1. Jika terdapat peringkat (ranking) yang sama

                                  

      Di mana

       dan

      t  = banyaknya ranking yang sama

  1. Uji signifikansi korelasi Kendal untuk sampel besar N > 10

                                                       =        z  =  dengan

Contoh

  • Untuk sampel kecil (N) 10

Diketahui skor hasil oservasi variabel X dan Y seperti pada tabel, dengan  tentukan seberapa kuat hubungan antara variabel X dan Y

Variabel

Skor

X

54

46

52

49

47

Y

58

52

53

57

55

 

Penyelesaian

  1. Hipotesis Statistik

 (Tidak terdapat hubungan antara efikasi diri dengan motivasi berprestasi karyawan)

            (Terdapat hubungan antara efikasi diri dengan motivasi berprestasi karyawan)

  1. Menbuat ranking

Mengurutkan terlebih dahulu masing-masing data variabel X dan variabel  kemudian mengubah data tersebut menjadi data berskala ordinal dengan cara meranking masing-masing variabel seperti pada contoh korelasi Rank Spearman di atas, maka diperoleh:

Sampel

X

Ranking X

Y

Ranking Y

1

54

5

58

5

2

46

1

52

1

3

52

4

53

2

4

49

3

57

4

5

47

2

55

3

 

  1. Menentukan nilai S

Mengurutkan kolom Ranking X dari kecil ke besar sementara kolom  Ranking Y tidak diurutkan tetapi mengikuri Ranking X secara berpasangan sebagai berikut:

Variabel

Skor

X

1

2

3

4

5

Y

1

3

4

2

5

 

Untuk menghitung S gunakan rumus:

                              

Untuk menghitung  gunakan rumus:

                              

         Contoh perhitungan S perhatikan Ranking Y

Untuk Ranking 1, lihat ranking di sebelah kanan terdapat ranking 3,4,2, dan 5. Kemudian hitung ada berapa ranking yang > 1 ternyata ada empat tahni 3,4,2, dan 5. Sedangkan ranking < 1 tidak ada atau 0. Sehingga

Untuk ranking 3, lihat ranking di sebelah kanan terdapat ranking 4,2, dan 5. Kemudian hitung ada berapa ranking >3 ternyata ada dua yakni 4 dan 5. Sedangkan ranking < 3 ada satu yakni 2. Sehingga

Untuk ranking 4, lihat ranking di sebelah kanan terdapat ranking 2 dan 5. Kemudian hitung ada berapa ranking > 4 ternyata ada satu yakni 5. Sedangkan ranking < 4 ada satu yakni 2. Sehingga Untuk ranking 2, lihat eanking di sebelah kanan terdapat ranking 5. Kemudian hitung ada berapa ranking > 2 ternyata satu yakni 5. Sedangkan ranking < 2 tidak ada atau 0. Sehingga

Untuk ranking 5, lihat ranking di sebelah kanan ternyata tidak ada sehingga

        Jadi jumlah total untuk  dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

S = = (4-0) + (2-1) + (1-1) + (1-0) + (0) = 4 + 1 + 0 + 1 + 0 = 6

  1. Menentukan nilai koefisien korelasi kendal ( )

                  =  =  = 0,6

Koefisien  merepresentasikan tingkat keeratan hubungan antara variabel X dengan variabel Y yang diperlihatkan oleh kelima sampel.

  1. Uji signifikansi korelasi kendal ( )

Untuk menguji signifikansi koefisien korelasi kendal ( ) gunakan lampiran untuk S = 6, dan N = 5 diperoleh nilai p = 0,117

  1. Kesimpulan

Karena nilai p = 0,117 lebih besar dari  maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara variabel X dan Y tidak signifikan.

  • Untuk sampel besar (N) > 10

Gunakan contoh data pada Tabel 26.1 Contoh korelasi Rank Spearman diatas. Misalkan setelah diranking kemudian diurutkan kembali berdasarkan Ranking X diperoleh gambaran data seperti tabel dibawah. Dengan , ujilah seberapa kuat hubungan antara Variabel X dengan Y berdasarkan uji Korelasi Kendal?

 

 

 

Tabel 26.4. Contoh Uji Korelasi Kendal

Resp.

X

Y

Ranking X

Ranking Y

1

66

99

1

12,5

2

76

97

2

11

3

79

104

3

16,5

14

81

82

4

2

4

86

95

5

9

5

89

62

6

1

6

92

83

7

3

30

95

115

8

26

7

97

89

9,5

6

8

97

99

9,5

12,5

26

100

109

11

23

17

101

100

12,5

14

24

101

120

12,5

28

16

102

94

14

7,5

21

103

106

15

21

11

105

84

16

4

13

106

104

17,5

16,5

28

106

105

17,5

21,5

27

107

119

19

27

10

110

143

20

38,5

12

111

105

21,5

19

15

111

94

21,5

7,5

20

112

86

23

5

25

115

108

24,5

22

29

115

111

24,5

24,5

19

117

143

26

38,5

23

120

105

27

21,5

18

121

96

28

10

22

122

111

29,5

24,5

31

122

126

29,5

34

9

125

102

31

15

37

128

135

32

35

34

133

142

33,5

37

35

133

122

33,5

30,5

39

136

148

35,5

40

40

136

137

35,5

36

36

137

122

37

30,5

38

138

124

38

33

32

139

123

39

32

33

144

121

40

29

 

 

 

Penyelesaian

  1. Hipotesis Statistik

=  (Tidak terdapat hubungan antara X dengan Y)

 >  (Terdapat hubungan antara X dengan Y)

  1. Menentukan nilai S

Menurutkan kolom Ranking X dari kecil ke besar sementara kolom Ranking Y tidak diurutkan tetapi mengikuti Ranking X secara berpasangan sebagai berikut:

Untuk menghitung S gunakan rumus:

 

                        N(N-1) =

Untuk menghitung  gunakan rumus:

 

                        

Dengan menggunakan Contoh perhitungan S seperti diatas diperoleh:

Jumlah total untuk  dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

S =  = (26 – 13) + (28 – 10) + (22 – 15) + (35 – 1) +  (34 – 0) +  (33 – 0) +  (14 – 18) +  (29 – 2) +  (23 – 7) +  (15 – 14) +  (22 – 6) +  (12 – 15) +  (23 – 3) +  (19 – 6) +  (24 – 0) +  (19 – 4) +  (16 – 6) +  (12 – 9) +  (1 – 19) +  (15 – 4) +  (17 – 1) +  (17 – 0) +  (13 – 3) +  (13 – 2) +  (1 – 13) +  (11 – 2) +  (12 – 0) +  (10 – 1) +  (4 – 6) +  (9 – 0) +  (3 – 5) +  (1 – 6) +  (4 – 2) +  (0 – 5) +  (1 – 3) +  (2 – 1) +  (0 – 2) +  (0 – 1) +  (0 – 0)

S = 13 + 18 + 7 + 34 + 23 + 34 + 33 – 4 + 27 + 16 + 1 + 16 + 1 + 16 – 3 + 20 + 13 + 24 + 15 + 10 + 3 + 18 + 11 + 13 + 16 + 17 + 32 + 11 – 12 + 9 + 12 + 9 – 2 24 – 2 + 24 – 2 – 5 + 2 – 5 – 2 – 1 + 0

S = 395

Keterangan:

(26+13) diperoleh dari  Ranking Y  baris pertama 12,5 lihat baris ranking 12,5 ke bawah. Terdapat ranking lebih besar dari 12,5 sebanyak 26 dan ranking lebih kecil dari 12,5 sebanyak 13. Sehingga diperoleh  = (26-13) dan seterusnya.

  1. Menentukan nilai koefisien korelasi kendal (

Menggunakan rumus koreksi kendal karena terdapat beberapa ranking kembar atau sama sebagai berikut:

                                     =

 

Perhatikan kembali pada Tabel 26.4, pada kolom Ranking X  rerdapat 8 himpunan ranking berangka sama dan t masing-masing = 2, sedangkan pada kolom Ranking Y  terdapat 6 himpunan ranking berangka sama dan t masing-masing = 2 dan 1 himpunan ranking berangka sama dengan t = 3.

Dengan demikian  dan  dapat dihitung:

 =  =   = 0,512

Koefisien  merepresentasikan tingkat keeratan hubungan antara variabel X dengan variabel Y yang diperlihatkan oleh keempatpuluh, sampel.

  1. Uji signifikansi korelasi kendal (

Untuk menguji signifikasi koefisien korelasi kendal (  N > 10 gunakan rumus sebagai berikut:

                         =  =  =  0,11

z =  =  = 4,6545

  1. Kriteria Pengujian

Pada taraf kepercayaan  uji dua pihak nilai tabel Z dapat ditentikan dengan cara /2 = 0,05/2 = 0,025. Luas di bawah kurva = 0,5 – 0,025 = 0,475. Gunakan lampiran Tabel A1 nilai 0,475 bertepatan dengan koordinat baris 1,9 kolom 0,06. Sehungga nilai Z Tabel kritisnya = 1,96

  1. Kesimpulan

Karena Z = 4,6545 lebih besar dari Z tabel kritis = 1,96, maka kita dapat menerima H1 bahwa terdapat hubungan antara variabel X dan Y yang signifikan.

  • Uji Korelasi Phi (

            Korelasi Phi adalah ukuran keeratan hubungan antara dua tabel dengan skala nominal yang bersifat dikotomi. Koefisien korelasi Phi  digunakan untuk menganalisa hubungan antara dua variabel dikhotomi atau dibuat dikhotomi atau data dalam skala nominal yang didikhotomikan. Data yang dianalisis di buat dalam bentuk tabel 2×2. Koefisien korelasi Phi (  ini dapat ditentukan dengan bentuk tabel dan rumus sebagai berikut.

                                        

 

Tabel 26.5. Kontingensi Korelasi Phi (

 

 

Variabel X

 

 

 

0

1

Variabel Y

1

A

B

a + b

0

C

D

c + d

 

a + b

b + d

N

 

Dengan melihat desain tabel di atas, maka koefisien korelasi Phi dapat dihitung dengan rumus :

                                          =

Contoh 1

Seorang peneliti bermaksud ingin mengetahui seberapa besar hubungan antara program tryout (ujicoba) Ujian Nasional Berbasis kompetensi (UNBK) dengan kelulusan siswa

Tabel Menyusun Kontingensi Korelasi Phi ( )

 

 

Tryout UN

 

 

 

Mengikuti

Tidak Mengikuti

Kelulusan

Lulus

30

40

70

Tidak Lulus

4

2

6

 

34

42

76

 

Penyelesaian

  1. Hipotesis Statistik

  (Tidak terdapat hubungan antara program tryout dengan kelulusan)

  (Terdapat hubungan antara program tryout dengan kelulusan)

  1. Menentukan koefisien empirik

     =

  1. Menentukan nilai r tabel

Menggunakan tabel r teoritik product moment atau r tabel dengan kriteria  (n-2 ; a) atau  (76-2 ; 5%) sehingga   (74 ; 5%) karena N = 74 tidak tertera dalam badan tabel lakukan interpolasi sebagai berikut:

Untuk uji dua pihak  (0,05 ; 70) = 0,232 dan  (0,05 ; 80) = 0,217

           I =  – ( ) x

          I = 0,232 – (0,232 – 0,217) x  = 0,226

Jadi (0,05 ; 74) adalah 0,226

  1. Kriteria Pengujian

Jika  empirik > r tabel, maka tolak  terima demikian juga sebaliknya

Jika  empirik < r tabel, maka tolak  terima

  1. Kesimpulan

Karena nilai  empirik = 0,84 > nilai r  tabel = 0,226 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan antara program tryout dengan kelulusan siswa pada a 5%.

Contoh 2

Misalkan variabel X adalah variabel gender dan Y adalah kelulusan pada ujian skripsi. Kategori Gender (Wanita = 0 dan Pria = 1), sedangkan kategori kelulusan (Tidak lulus = 0 dan Lulus = 1)

Tabel 26.6. Gender dan Kelulusan Ujian Skripsi

Nama

Gender  (X)

Kelulusan  (Y)

Dorce

Ahmad

Khadijah

Usman

Aisyiah

Mariam

Dian

Fahmi

Adin

Badriah

Burhan

Amir

0

1

0

1

0

0

0

1

1

0

1

1

1

1

1

0

1

0

0

1

1

0

0

1

 

Keterangan

Wanita = 0, Pria = 1; Tidak Lulus = 0, Lulus =1

 

 

Gender

Jumlah

X = 0

Wanita

X =1

Pria

 

Kelulusan

Tdk lulus

Y = 0

a=3

b=2

a+b=5

Lulus

Y = 1

c=3

d=4

c+d=7

Jumlah

a+c=6

b+d=6

n=12

 

Korelasi Phi dihitung dengan rumus berikut.

  =   =

  =    = 0, 169

Uji signifikasi koefisien korelasi

H0:  = 0 versus Hl:  0

= n  Untuk db = (2 – 1)(2 -1) = 1, dan ɑ = 0.05, diperole X2tab = 3,84,sehingga < tab atau H0 diterima. Dengan demikian, tidak ada hubungan antara gender dengan kelulusan dalam ujian skirpsi.

  • Sign Test (Uji Tanda) Dua Sampel Berpasangan

Dimanakan uji tanda karena pada kenyataannya tes ini menggunakan tanda + (positif) dan – (negatif) bukan menggunakan ukuran-ukuran kuantitatif. Tes ini bermanfaat untuk membandingkan dua sampel yang saling berpasangan. Pasangan-pasangan boleh berasal dari populasi yang berbeda-beda dalam hal usia, jenis kelamin, inteligensi, pre-post dan lain-lain. Satu-satunya persyaratan yang harus dipenuhi adalah bahwa dalam pasangan-pasangan harus sudah berhasil dibuat hubungan yang relevan. Kekuatan pengukuran adalah bahwa tiap subjek sebagai pengontrol dirinya sendiri (Riadi, 2015). Untuk menguji signifikansi perbedaan pada uji tanda menggunakan rumus sebagai berikut:

  1. Rumus untuk sampel kecil ≤ 25

                        P( ) = P(  =

Keterangan

Jika arah p ( ) diberi tanda +

Jika arah p ( ) diberi tanda –

Jika arah  =  data harus dibuang

  1. Rumus untuk Sampel Besar > 25

                        Z =

Keterangan

x + 0,5 digunakan bila x <

x – 0,5 digunakan bila x >

N = digunakan pasangan yang berbeda (tidak sama)

X = banyaknya tanda (+ atau -) yang paling sedikit

Contoh Sampel Kecil ≤ 25

Suatu eksperimen terhadap 15 peserta diklat dlaam jabatan. Sebelum diberikan materi, peserta diberi pretest untuk mengetahui penguasaan awak meteri diklat. Setelah itu, peserta diberi pelatihan dengan metode pelatihan kolaboratif kemudia dilakukan postes kemudian diperoleh data seperti pada tabel di bawah. Dengan a = 5% apakah terdapat perbedaan skor penguasaan materi diklat peserta sebelum dan sesudah diberi pelatihan?

Tabel 26.7. Contoh Sign Test (Uji Tanda) Dua Sampel Berpasangan

Nomor

Skor Pretes

Skor Postes

1

59

63

2

62

65

3

74

72

4

81

81

5

72

76

6

66

75

7

78

77

8

74

80

9

67

75

10

82

82

11

73

81

12

64

70

13

74

77

14

79

81

15

68

70

 

Penyelesaian :

  1. Hipotesis Statistik

     (Tidak terdapat perbedaan pemahaman materi diklat sebelum dan sesudah peserta diberi metode pelatihan kolaboratif)

     (Terdapat perbedaan pemahaman materi diklat sebelum dan sesudah peserta diberi metode pelatihan kolaboratif)

            Tabel Arah Perbedaan

Peserta Diklat

Skor Pretes

Skor Postes

Arah Perbedaan

Tanda

1

59

63

+

2

62

65

+

3

74

72

4

81

81

=

0

5

72

76

+

6

66

75

+

7

78

77

8

74

80

+

9

67

75

+

10

82

82

=

0

11

73

81

+

12

64

70

+

13

74

77

+

14

79

81

+

15

68

70

+

 

Tanda yang

Paling sedikit (x)

Berdasarkan tabel diatas diperoleh:

       Tanda “+” sebanyak 11

       Tanda “-“ sebanyak 2

       Data yang diabaikan (bernilai 0) sebanyak 2

       Dengan demikian

       N = 11 + 2 = 13 (banyaknya data yang berbeda)

       x = 2 (tanda paling sedikit)

 

 

  1. Menentukan nilai peluang

Menggunakan tabel distribusi uji tanda  tentang kemungkinan harga x observasi dalam tes binominal dengan N = 13 dan x = 2 diperoleh nilai p = 0,0112

  1. Kriteria Pengujian

Karena nilai p = 0,0112 lebih kecil dari α = 0,05 maka tolak  terima

  1. Kesimpulan

Terdapat perbedaan pemahaman materi diklat sebelum dan sesudah peserta diberi metode pelatihan kolaboratif.

Contoh Sampel Besar > 25

Sebuah eksperimen untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inquiry terhadap hasil belajar statistika, untuk itu dipilih kelas kontrol dan kelas eksperimen. Sebelum diberi perlakuan, peneliti ingin memastikan apakah kelas kontrol dan kelas eksperimen yang terpilih memiliki perbedaan atau tidak? Untuk itu dilakukan pretes diperoleh hasil belajar seperti pada tabel di bawah. Dengan α = 5% apakah terdapat perbedaan hasil belajar statistika antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen?

Mahasiswa

Pretes

Kelas Kontrol

Kelas Eksperimen

1

50

50

2

49

48

3

48

52

4

45

48

5

48

31

6

42

42

7

33

45

8

33

50

9

42

40

10

37

38

11

35

30

12

37

53

13

36

52

14

46

41

15

37

47

16

34

47

17

34

30

18

41

48

19

39

40

20

38

43

21

35

53

22

41

56

23

40

53

24

34

30

25

39

54

26

34

55

27

36

60

28

36

53

29

39

35

30

32

31

 

Penyelesaian

  1. Hipotesis Statistik

     (Tidak terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen)

     (Terdapat perbedaan hasil belajar statistika antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen)

  1. Tabel Arah Perbedaan

Mahasiswa

Kelas Kontrol

Kelas Eksperimen

Arah Perbedaan

Tanda

1

50

50

+

0

2

49

48

3

48

52

+

4

45

48

+

5

48

31

6

42

42

=

0

7

33

45

+

8

33

50

+

9

42

40

10

37

38

+

11

35

30

12

37

53

+

13

36

32

14

46

41

15

37

47

+

16

34

47

+

17

34

30

18

41

40

19

39

40

+

20

38

30

+

21

35

32

22

41

56

+

23

40

53

+

24

34

30

25

39

54

+

26

34

33

27

36

30

28

36

53

+

29

39

35

30

32

31

+

 

Tanda yang

Paling sedikit (x)

Berdasarkan tabel diatas diperoleh:

             Tanda “+” sebanyak 15

             Tanda “-“ sebanyak 13

             Data yang diabaikan (bernilai 0) sebanyak 2

             Dengan demikian

             N = 15 + 13 = 28 (banyaknya data yang berbeda)

             x = 13 (tanda paling sedikit)

  1. Menentukan nilai Z

                 Z =

  1. Karena x = 13 < N = 14 maka gunakan x + 0,5

                 Z =

                 Z =  = -0,189

  1. Menentukan nilai Z tabel

Menggunakan tabel nilai Z untuk menentukan Z tabel dengan uji dua pihak  =  Luas kurva F(z) = 0,5 – 0,025 = 0,4750. Dengan demikian koordinat Z tabelnya = 1,96.

  1. Kesimpulan

Karena nilai Z = -0,189, berada di daerah penerimaan  maka terima Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol pada saat pretes.

Setelah terbukti pada saat pretes tidak ada perbedaan, selanjutnya peneliti memberikan perlakuan dengan memberikan model pembelajaran inquiry pada kelas eksperimen sedangkan untuk kelas kontrol hanya diberikan model pembelajaran konvensional. Langkah selanjutnya setelah memberikan perlakuan,, peneliti melakukan postes dan diperoleh hasil belajar seperti tabel di bawah. Dengan α = 5% apakah terdapat perbedaan hasil belajar statistika antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen.

 

Mahasiswa

Postes

Kelas Kontrol

Kelas Eksperimen

1

50

60

2

68

59

3

48

62

4

45

58

5

48

41

6

42

52

7

43

55

8

43

60

9

42

61

10

47

48

11

55

52

12

47

63

13

46

62

14

56

51

15

47

57

16

54

67

17

44

60

18

61

58

19

59

50

20

58

53

21

55

63

22

51

66

23

50

63

24

54

70

25

59

64

26

44

65

27

46

60

28

46

63

29

49

66

30

42

68

 

 

 

Penyelesaian :

  1. Hipotesis Statistik Postes

Ho: µ1= µ2 (Tidak terdapat perbedaan hasil belajar Statistika antara kelas kontrol                                        dengan  kelas eksperimen)

Ho: µ1≠µ2 (Terdapat perbedaan hasil belajar Statistika antara kelas kontrol                                      dengan  kelas eksperimen)

  1. Tabel Arah Perbedaan

Mahasiswa

Kelas Kontrol

Kelas Eksperimen

Arah Perbedaan

Tanda

1

50

60

+

2

68

59

_

3

48

62

+

4

45

58

+

5

48

41

_

6

42

52

+

7

43

55

+

8

43

60

+

9

42

61

+

10

47

48

+

11

55

52

_

12

47

63

+

13

46

62

+

14

56

51

_

15

47

57

+

16

54

67

+

17

44

60

+

18

61

58

_

19

49

50

+

20

58

53

_

21

55

63

+

22

51

66

+

23

50

63

+

24

54

70

+

25

59

64

+

26

44

65

+

27

46

60

+

28

46

63

+

29

49

66

+

30

42

68

+

 

Tanda paling sedikit

Berdasarkan tabel diatas diperoleh:

Tanda “ + ” sebanyak 24

Tanda “ – ” sebanyak 6

Data yang diabaikan (bernilai 0) : tidak ada

Dengan demikian

N = 24 + 6 = 30 (banyak data yang berbeda)

ᵡ = 6 (tanda paling sedikit)

  1. Menentukan nilai Z

Karena x= 6 <   N= 14 maka gunakan x + 0,5

                      = -3.10

  1. Menentukan nilai Z tabel

Menggunakan tabel Z dalam lapiran  untuk menentukan  Z tabel dengan uji dua pihak α/2 = 0,05/2 = 0,025. Luas kurva F(z) =0,5 – 0.025 =0,4750. Dengan demikian koordinat Z tabelnya = 1,96.

  1. Simpulan

Karena nilai Z = -3.10 berada di daerah penolakan Ho maka terima Ha.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah diberi perlakuan.

  • Uji Beda Kontingensi

Koefisien kontingensi C digunakan untuk menentukan perbedaan antara dua variabel berbentuk nominal dan ordinal yang disusun dalam tabel kontingensi berukuran (b x k). Uji beda kontingensi berkaitan erat dengan nilai chi-square . Jika nilai  hitung >  tabel maka hubungannya signifikan. Sedangkan pengujian terhadap koefisien kontingensi C juga sering dilakungan sebagai uji kebebasan (uji independensi) antara dua tabel. Jadi apabila hipotensis nol dinyatakan sebagai C=0 diterima, berarti kedua variabel tersebut bersifat bebas. Untuk menentukan nilai  empirik atau  hitung dan nilai kontingensi (C) digunakan rumus-rumus sebagai berikut :

Nilai  hitung           

Koefisien Kontingensi           
Keterangan :                Chi Kuadrat empirik atau Chi Kuadrat hitung

C   = Koefesiensi Kontingensi

  = Frekuensi Observasi

  = Frekuensi Estimasi

N   = Jumlah Sampel

Contoh:

Seorang peneliti ingin mengetahui seberapa kuat perbedaan antara pelayanan akademik universitas negeri dengan universitas swasta setelah dilakukan survei maka diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 26.8. Contoh Uji Beda Kontingensi

Universitas Pelayanan

Negeri

Swasta

Jumlah

Sangat Memuaskan

68

88

158

Memuaskan

62

65

127

Biasa Saja

68

35

103

Mengecewakan

34

30

64

Sangat mengecewakan

45

20

65

Jumlah

277

238

515

 

  1. Hipotesis Statistik

Ho: ρ1 = ρ2     (Tidak terdapat perbedaan antara pelayanan akademik universitas negeri dengan universitas swasta)

Ho: ρ1 > ρ2     (Terdapat perbedaan antara pelayanan akademik universitas negeri dengan universitas swasta)

  1. Menentukan tabel frekuensi estimasi tabel kontingensi

Sebelum dihitung nilai Chi Kuadrat empirik atau Chi Kuadrat hitung, tentukan terlebih dahulu frekuensi estimasi  dengan perhitungan sebagai berikut.

  • Jawaban “Sangat Memuaskan”

 Universitas Negeri =

 Universitas Swasta=

  • Jawaban “Memuaskan”

 Universitas Negeri =

 Universitas Swasta =

  • Jawaban “Biasa Saja”

 Universitas Negeri =

 Universitas Swasta =

  • Jawaban “Mengecewakan”

 Universitas Negeri =

 Universitas Swasta =

  • Jawaban “Sangat Mengecewakan”

 Universitas Negeri =

 Universitas Swasta =

Selanjutnya nilai  dan  masukan ke dalam tabel sebagai berikut:

Pelayanan

Universitas Negeri

Universitas Swasta

Jumlah

    

Sangat memuaskan

68

83,9

88

72,09

156

Memuaskan

62

68,31

65

58,69

127

Biasa Saja

68

55,4

35

47,6

103

Mengecewakan

34

34,42

30

29,58

64

Sangat mengecewakan

45

34,96

20

30,4

65

 

227

 

238

 

515

 

  1. Menentukan Koefisien   empirik

Untuk menghitung koefisien kontingensi C substitusikan nilai   pada rumus:

  1. Menentukan nilai tabel

Menggunakan tabel  dalam lampiran untuk menentukan nilai  tabel perhatikan jumlah kolom dan baris tabel kontingensinya dengan ketentuan derajat kebebasan              (dk) = (k – 1)(b – 1), berdasarkan tabel kontingensi diatas diketahui jumlah kolom (k = 2) yaitu kolom universitas negeri dan universitas swasta sementara jumlah baris (b = 5) yaitu Sangat memuaskan, Memuaskan, Biasa Saja, mengecewakan, Sangat mengecewakan dengan demikian dk = (2 – 1) (5 – 1) = 4 pada taraf kesalahan 5% = 0,05 diperoleh = 9,488.

  1. Kriteria Pengujian

Jika empirik > tabel, maka tolak  dan

  1. Kesimpulan

Karena  hitung (20,23) >  tabel (9,488) maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pelayanan akademik universitas negeri dengan universitas swasta sebesar 0,19 atau 19%.

  • Uji Mc. Nemar Dua Sampel Berpasangan

            Uji Mc. Nemar digunakan untuk menguji keefektifan perbedaan sebelum dan sesudah perlakuan diterapkan, dimana setiap orang digunakan sebagai pengonrol dirinya sendiri, serta ketekunan pengukurnya adalah skala nominal dan ordinal. Untuk menguji signifikan perbedaan  pada uji Mc. Nemar gunakan rancangan dan rumus sebagai berikut:

 

 

Tabel kontingensi (2×2)

 

 

Sesudah

 

 

_

+

Sebelum

+

A

B

_

C

D

 

Untuk mengetahui koefisien Mc. Nemar gunakan rumus sebagai berikut:

Contoh:

Sebuah penelitian eksperimen untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan motivasi belajar mahasiswa sebelum dan sesudah diberi program beasiswa berprestasi. Peneliti mengambil sampel sebanyak 20 mahasiswa. Sebelum dan sesudah program beasiswa berprestasi tersebut diberlakukan diperoleh data pada tabel di bawah. Dengan α = 5% dilakukan pengujian apakah terdapat perbedaan motivasi belajar amtara sebelum program beasiswa berprestasi dengan sesudah program beasiswa berprestasi tersebut diberlakukan?

Tabel 26.9. Contoh Uji Mc. Nemar Dua Sampel Berpasangan

Mahasiswa

Motivasi Sebelum

diberlakukan Program
Beasiswa Berpretasi

Motivasi Sesudah

diberlakukan Program
Beasiswa Berpretasi

1

50

70

2

40

60

3

70

50

4

50

60

5

50

50

6

80

80

7

50

70

8

70

70

9

50

75

10

65

70

11

75

50

12

75

75

13

50

70

14

70

60

15

75

50

16

50

75

17

40

70

18

70

70

19

40

60

20

60

45

 

Keterangan:

Batas acuan untuk skor motivasi ≤ 50 diberi “ – ”

Batas acuan untuk skor motivasi > 50 diberi “ + ”

 

Langkah berikutnya buatlah tanda masing-masing skor motivasi pada tabel diatas dengan memberi tanda “ – “ dan tanda “ + “ Sesuai dengan acuan diatas, sebagai berikut:

Mahasiswa

Motivasi Sebelum

diberlakukan Program
Beasiswa Berpretasi

Motivasi Sesudah

diberlakukan Program
Beasiswa Berpretasi

1

_

+

2

_

+

3

+

_

4

_

+

5

_

_

6

+

+

7

_

+

8

+

+

9

_

+

10

_

+

11

+

_

12

+

+

13

_

+

14

+

_

15

+

_

16

_

+

17

_

+

18

+

+

19

_

+

20

+

_

 

Penyelesaian:

  1. Hipotesis Statistik Postes

Ho: µ1= µ2       (Tidak terdapat perbedaan motivasi berprestasi mahasiswa sebelum dan   sesudah diberlakukan program beasiswa berprestasi)

Ha: µ1 ≠ µ2 (Terdapat perbedaan motivasi berprestasi mahasiswa sebelum dan        sesudah diberlakukan program beasiswa berprestasi)

 

 

  1. Menentukan Tabel Kontingensi

 

 

Motivasi Sesudah di berlakukan program beasiswa berprestasi

 

 

_

+

Motivasi Sebelum diberlakukan program beasiswa berprestasi

+

5

4

_

1

10

 

 

 

 

 

 

  1. Menentukan koefisien Mc. Nemar
  1. Menentukan Nilai tabel

Menggunakan tabel dalam lampiran untuk menentukan  tabel perhatikan banyak kolom (k) dan banyak baris (b) pada tabel kontingensi yang digunakan, dalam hal ini jumlah kolom (k) = 2 dan jumlah baris (r) = 2, sehingga derajat kebebasan dapat ditentukan sebagai berikut :

Dk = (k-1) (b-1) = (2-1) (2-1) = 1 x 1= 1 dengan demikian nilai  dengan = 0,05 dapat ditentukan sebagai berikut:

  1. Kesimpulan

Karena nilai  berada pada daerah penerimaan Ho maka dapat disimpulkan tidak terdapat perbedaan motivasi berprestasi mahasiswa sebelum dan sesudah diberlakukan program beasiswa berprestasi.

  • Rangking Bertanda Wilcoxon Uji Beda Dua Sampel Berpasangan

Uji Wilcoxon digunakan untuk menguji hipotesis bahwa dua variabel yang merupakan dua sampel berkaitan mempunyai distribusi yang saa bila datanya berbentuk ordinal. Dengan kata lain, rangking bertanda Wilcoxon banyak digunakan untuk menguji perbedaan perlakuan yang diberikan kepada objek penelitian dengan mempertimbangkan arah dan magnitude relatif perbedaan dari dua sampel berpasangan. Berbeda dengan uji tanda (sign tes) yang hanya mengandalkan arah perbedaan juga mempertimbangkan besar perbedaan dengan cara mencari selisih perbedaannya (Wahid Sulaiman, 2005). Kekuatan pengukuran pada Rangking bertanda Wilcoxon adalah bahwa tiap subjek sebagai pengontrol dirinya sendiri (Riadi, 2016). Untuk menguji signifikansi perbedaan pada uji Ranking bertanda Wilcoxon gunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

T   =  Jumlah rangking positif atau jumlah rangking negatif terkecil

N  =  Banyaknya pasangan ynag tidak sama nilainya

Contoh:

Sebuah eksperimen untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inquiry terhadap hasil belajar statistika. Untuk itu dipilih kelas kontrol dan kelas eksperimen. Sebelum diberi perlakuan, peneliti ingin memasukkan apakah kelas kontrol dan kelas eksperimen yang terpilih memiliki perbedaan atau tidak? Untuk itu dilakukan pretes diperoleh hasil belajar seperti tabel di bawah. Dengan α = 5% apakah terdapat perubahan hasil belajar statistika antara kelas kontrol dan kelas eksperimen?

Tabel 26.10. Contoh Uji Wilcoxon Uji Beda Dua Sampel Berpasangan

Sampel

Pretes

Kelas Kontrol

Kelas Eksperimen

1

99

98

2

97

93

3

104

110

4

95

106

5

68

78

6

83

78

7

89

91

8

99

124

9

102

75

10

143

81

11

84

92

12

105

96

13

104

40

14

82

106

15

94

74

16

94

103

17

100

98

18

96

70

19

143

76

20

86

106

21

106

118

22

111

124

23

105

129

24

120

127

25

108

124

26

109

117

27

119

90

28

105

125

29

111

110

30

115

122

31

126

136

32

123

147

33

121

141

34

142

142

35

122

149

36

122

131

37

135

162

38

124

157

39

148

142

40

137

131

 

Penyelesaian:

  1. Hipotesis Statistik Postes

Ho: µ1= µ2 (Tidak terdapat perbedaan hasil belajar Statistika antara kelas kontrol                                                     dengan  kelas eksperimen)

Ho: µ1≠µ2 (Terdapat perbedaan hasil belajar Statistika antara kelas kontrol                                        dengan  kelas eksperimen)

  1. Tabel bertanda Wilcoxon untuk pretes

Mahasiswa

Kontrol

Eksperimen

Selisih (d)

Rangking (D)

+

1

99

98

1

1,5

 

2

97

93

4

5

 

3

104

110

-6

 

8

4

95

106

-11

 

19

5

68

78

-10

 

17,5

6

83

78

5

6

 

7

89

91

-2

 

3,5

8

99

124

-25

 

30

9

102

75

27

33

 

10

143

81

62

37

 

11

84

92

-8

 

12,5

12

105

96

9

15

 

13

104

40

64

38

 

14

82

106

-24

 

28

15

94

74

20

24,5

 

16

94

103

-9

 

15

17

100

98

-2

3,5

 

18

96

70

26

31

 

19

143

76

67

29

 

20

86

106

-20

 

24,5

21

106

118

-12

 

20

22

111

124

-13

 

21

23

105

129

-24

 

28

24

120

127

-7

 

10,5

25

108

124

-16

 

22

26

109

117

-8

 

12,5

27

119

90

29

35

 

28

105

125

-20

 

24,5

29

111

110

1

1,5

 

30

115

122

-7

 

10,5

31

126

136

-10

 

17,5

32

123

147

-24

 

28

33

121

141

-20

 

24,5

34

142

142

0

 

0

35

122

149

-27

 

33

36

122

131

-9

 

15

37

135

162

-27

 

33

38

124

157

-33

 

36

39

148

142

6

8

 

40

137

131

6

8

 

Jumlah Rangking

286

494

 

Jumlah Ranking paling Sedikit (T)

Berdasarkan tabel diatas diperoleh:

Tanda  “+” sebanyak 15 dengan jumlah ranking 286

Tanda  “ – ” sebanyak 25 dengan jumlah ranking 494

Data yang diabaikan (bernilai 0): 1

Dengan demikian

N = 40 – 1 = 39 (banyaknya data yang berbeda)

T = 286 ( Jumlah ranking paling sedikit)

  1. Menentukan nilai Z
  2. Menentukan Nilai Z tabel

Menggunakan tabel Z dalam lampiran untuk  menentukan nilai Z tabel dengan uji dua  pihak α/2 = 0,05/2 = 0.025. Luas kurva F(z) = 0,5 – 0,025 = 0,4750. Dengan demikian koordinat Z tabelnya = 1,96.

  1. Kesimpulan

Karena nilai Z = -1,44 berada di daerah penerimaan  maka tolak . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Setelah terbukti pada saat pretes tidak ada perbedaan, selanjutnya peneliti memberikan perlakuan dengan memberikan model pembelajaran inquiry pada kelas eksperimen, kelas kontrol hanya diberikan model pembelajaran konvensional. Langkah selanjutnya setelah memberikan perlakuan, peneliti melakukan postes dan diperoleh hasil belajar seperti pada tabel dibawah. Dengan α = 5% apakah terdapat perbedaan hasil belajar statistika antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen?

Sampel

Postes

Kelas Kontrol

Kelas Eksperimen

1

76

66

2

74

76

3

72

79

4

86

86

5

40

89

6

56

92

7

92

97

8

43

97

9

87

125

10

99

110

11

72

105

12

57

111

13

96

106

14

82

81

15

98

111

16

94

102

17

106

101

18

90

121

19

98

117

20

99

112

21

92

103

22

85

122

23

75

120

24

100

101

25

58

115

26

65

100

27

142

107

28

45

106

29

101

115

30

95

95

31

78

122

32

111

139

33

125

144

34

125

133

35

121

133

36

122

137

37

111

128

38

138

138

39

114

136

40

108

136

 

Penyelesaian

  1. Hipotesis Statistik Postes

Ho: µ1= µ2  (Tidak terdapat perbedaan hasil belajar statistika antara siswa yang diberi metode pembelajaran inquiry dengan siswa yang diberi metode pembelajaran konvensional)

Ho: µ1≠µ2    (Terdapat perbedaan hasil belajar statistika antara siswa yang diberi metode pembelajaran inquiry dengan siswa yang diberi metode pembelajaran konvensional)

 

 

 

  1. Tabel bertanda Wilcoxon untuk postes

Mahasiswa

Kontrol

Eksperimen

Selisih (d)

Rangking (D)

+

1

76

66

10

9,5

 

2

74

76

-2

 

3

3

72

79

-7

 

6

4

86

86

0

 

0

5

40

89

-49

 

33

6

56

92

-36

 

28

7

92

97

-5

 

4,5

8

43

97

-54

 

34,5

9

87

125

-38

 

30

10

99

110

-11

 

11,5

11

72

105

-33

 

25

12

57

111

-54

 

34,5

13

96

106

-10

 

9,5

14

82

81

1

1,5

 

15

98

111

-13

 

14,5

16

94

102

-8

 

75

17

106

101

5

4,5

 

18

90

121

-31

 

24

19

98

117

-19

 

19,5

20

99

112

-13

 

14,5

21

92

103

-11

 

11,5

22

85

122

-37

 

29

23

75

120

-45

 

32

24

100

101

-1

 

1,5

25

58

115

-57

 

36

26

65

100

-35

 

27

27

142

107

35

26,5

 

28

45

106

-61

 

37

29

101

115

-14

 

16

30

95

95

0

 

0

31

78

122

-44

 

31

32

111

139

-28

 

22,5

33

125

144

-19

 

19,5

34

125

133

-8

 

7,5

35

121

133

-12

 

13

36

122

137

-18

 

17

37

111

128

-17

 

18

38

138

138

0

 

0

39

114

136

-22

 

21

40

108

136

-28

 

22,5

Jumlah Rangking

42

661,5

 

Jumlah Ranking paling Sedikit (T)

Berdasarkan tabel diatas diperoleh:

Tanda  “+” sebanyak 4 dengan jumlah ranking 42

Tanda  “ – ” sebanyak 33 dengan jumlah ranking 661,5

Data yang diabaikan (bernilai 0) = 3

Dengan demikian

N = 40 – 3 = 37 (banyaknya data yang berbeda)

T = 42 ( Jumlah ranking paling sedikit)

  1. Menentukan nilai Z
  2. Menentukan Nilai Z tabel

Menggunakan tabel Z dalam lampiran untuk  menentukan nilai Z tabel dengan uji dua  pihak α/2 = 0,05/2 = 0.025. Luas kurva F(z) = 0,5 – 0,025 = 0,4750. Dengan demikian koordinat Z tabelnya = 1,96.

  1. Kesimpulan

Karena nilai Z = -4,70 berada di daerah penolakan  maka terima . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang diberi metode pembelajaran inquiry dengan siswa yang diberi metode pembelajaran konvensional.

Rangkuman

            Uji statistika non parametrik adalah suatu pengujian yang modelnya tidak menerapkan adanya syarat-syarat tertentu mengenai parameter-parameter populasi yang merupakan induk sampel penelitiannya. Statistik non parametrik sering disebut juga dengan uji statistik bebas distribusi. Artinya jika suatu variabel tidak memenuhi persyaratan analisis statistik parametrik seperti asumsi normalitas dan homogenitas, maka pengujian selanjutnya dapat menggunakan statistik non parametrik. Untuk menguji hipotesis deskriptif satu sampel bila datanya berbentuk nominal digunakan teknik statistik: Binomial dan Chi Kuadrat satu sampel, bila data ordinal digunakan teknik statistik Run Test. Untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel berpasangan bila datanya berbentuk nominal digunakan teknik statistk Mc Nemar. Untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel berpasangan bila datanya ordinal digunakan teknik statistik Sign Test dan Wilcoxon Matched Pairs.

            Pengujian hipotesis komparatif dua sampel independen bila datanya nominal digunakan teknik statistik Fisher exact probability dan Chi Kuadrat dua sampel. Sedangkan bila datanya berbentuk ordinal digunakan teknik statistik: median test, Mann-Whitney U Test, Kolmogorof Smirnov dan Wald-Wolfowitz. Pengujian hipotesis komparatif k sampel berpasangan, bila datanya berbentuk nominal menggunakan statistik Chocran Q, tetapi apabila datanya berbentuk ordinal menggunakan statistik Friedman Two-way Anova.

            Untuk menguji hipotesis komparatif k sampel independen, bila datanya berbentuk ordinal digunakan statistik Chi Kuadrat k sampel, tetapi jika data berbentuk ordinal maka digunakan statistik Median Extention dan Kruskal-Wallis One Way Anova. Pengujian hipotesis asosiatif atau hubungan bila datanya berbentuk nominal menggunakan statistik koefisien kontingensi, tetapi jika datanya berbentuk ordinal menggunakan statistik Korelasi Spearman Rank dan Korelasi Kendal Tau.

Evaluasi Mandiri

  1. Skor hasil penilaian oleh dua juri terhadap 10 finalis lomba Karya Tulis Ilmiah disajikan pada tabel berikut:

Inisial

A

B

C

D

E

F

G

H

I

J

Juri I

78

65

75

80

79

80

90

68

90

72

Juri II

79

74

82

84

80

82

93

73

88

71

 

Hitung koefisien korelasi untuk melihat tingkat kesesuaian penilaian antara juri I dan juri II, kemudian uji signifikansinya pada α = 5%.

  1. Suatu survei terhadap dampak pelaksanaan PILKADA Langsung terhadap peningkatan kesadaran masyarakat berdemokrasi. Hasil analisis dan penilaian dua pakar menetapkan sepuluh provinsi terbaik sebagai berikut:

Provinsi

A

B

C

D

E

F

G

H

I

J

Pakar A

5

9

1

2,5

10

2,5

7,5

4

6

7

Pakar B

6,5

8

2

1

10

3

4

5

9

6,5

 

Hitung koefisien korelasi untuk melihat tingkat kesesuaian penilaian antara kedua pakar, kemudian uji signifikansinya pada α = 5%.

  1. Suatu survei terhadap tingkat ekonomi di beberapa negara. Hasil analisis dan penilaian epat pakar ekonomi dunia menetapkan lima negara dengan peringkat ekonomi terbaik di dunia sebagai berikut:

Negara

A

B

C

D

E

Pakar A

2

4

5

3

1

Pakar B

3

5

4

1

2

Pakar C

3

1

4

2

5

Pakar D

2

3

5

1

4

 

Hitung koefisien korelasi untuk melihat tingkat kesesuaian penilaian antara keempat pakar tersebut, kemudian uji signifikansinya pada α = 5%.

  1. Dalam suatu kantin diperusahaan garmen, terdapat sekelompok karyawan wanita yang sedang makan siang. Dari sekelompok karyawan tersebut ada 24 orang diambil secara acak, selanjutnya diwawancara, kapan akan mengambil gaji bulanan. Dalam pertanyaan itu disediakan dua alternatif jawaban yaitu akan mengambil gaji tanggal muda M (sebelum tanggal 5) dan tanggal tua T (setelah tanggal 25). Wawancara dilakukan secara berurutan, yaitu mulai dari nomor 1 dan berakhir nomor 24 datanya adalah sebagai berikut: M M T M T T M M T T T M M T M T M M T T M M M T

Buktikan hipotesis:

Karyawan akan cenderung mengambil gaji pada tanggal muda (M).

  1. Penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah antrian pria dan wanita dalam memberi suara dalam pemilu itu bersifat random atau tidak random, di sini berarti setiap partai mempunyai peluang yang sama untuk dipilih pria dan wanita atau antrian itu tidak direkayasa. Berdasarkan pengamatan terhadap yang antri yang paling depan sampai yang paling belakang ditemukan urutan sebagai berikut: P WW PP W P WW PP WW P W P WW PP PPP WPP WW WWW P W P W P W PPP W PP W P WWW P WWPP W P

Buktikan hipotesis:

Terdapat perbedaan kecenderungan antara pria dan wanita dalam memilih partai politik.

  1. Nilai praktik mengajar dari 10 mahasiswa (inisial) disajikan sebagai berikut.

Inisial

Ati

Ani

Amir

Ira

Amin

Ria

Wati

Umar

Nia

Budi

Skor

70

75

79

71

82

80

75

65

85

83

 

Hitung koefisien korelasi antara gender dan nilai praktik mengajar, kemudian uji signifikansinya pada α = 5%.

  1. Suatu perusahaan ingin mengetahui pengaruh sponsor yang diberikan dalam suatu pertandingan olah raga terhadap nilai penjualan barangnya. Dalam penelitian ini digunakan sampel yang diambil secara rando yang jumlah anggotanya 300. Sebelum sponsor diberikan, terdapat 100 orang yang membeli barang tersebut, dan 200 orang tidak membeli. Setelah sponsor diberikan dalam pertandingan olah raga, ternyata dari 300 orang tersebut terdapat 200 orang yang membeli dan 100 orang tidak membeli. Dari 200 orang tersebut terdiri dari pembeli tetap 80, dan yang berubah dari tidak membeli menjadi membeli ada 120. Selanjutnya dari 100 orang yang tidak membeli itu terdiri atas yang berubah dari membeli menjadi tidak membeli ada 30 orang dan yang tetap tidak membeli ada 70 orang.

Buktikan hipotesis bahwa:

Pemberian sponsor dalam pertandingan olah raga mempunyai pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan penjualan produk tersebut.

  1. Persyaratan agar calon mahasiswa dapat diterima pada program doktor suatu Perguruan Tinggi Negeri adalah harus lulus tes Tes Potensi Akademik (TPA) dan lulus tes Bahasa Inggris (BI). Adapun skor TPA dan Bahasa Inggris disajikan sebagai berikut:

Nama

A

B

C

D

E

F

G

H

I

J

TPA

552

600

510

480

650

450

570

670

580

508

BI

500

513

450

490

508

509

515

560

482

505

 

Keterangan

Jika batas lulus untuk tes TPA adalah ≥ 550 dan untuk Bahasa Inggris adalah ≥ 500. Pada α = 5%. Lakukan uji signifikansi untuk hipotesis : Terdapat hubungan antara kelulusan TPA dan Bahasa Inggris.

  1. Suatu perusahaan ingin mengetahui pengaruh adanya kenaikan uang insentif terhadap kesejahteraan karyawan. Dalam penelitian itu dipilih 22 pegawai beserta istrinya secara random. Jadi terdapat 22 pasangan suami istri. Data kesejahteraan istri sebelum diberi insentif (X1) dan sesudah diberi (X2). Selanjutnya data suami sebelum diberi insentif (Y1) dan sesudah diberi insentif (Y2) disajikan dalam tabel berikut:

 

 

 

No

X1

X2

Y1

Y2

1

89

56

56

23

2

45

89

56

67

3

56

65

78

89

4

34

78

98

90

5

67

89

67

89

6

89

57

80

80

7

90

78

89

80

8

76

90

56

67

9

56

87

78

45

10

70

78

34

67

11

67

80

56

78

12

68

65

78

89

13

59

78

89

78

14

50

90

90

98

15

45

56

87

78

16

90

78

89

89

17

67

34

78

89

18

89

45

69

89

19

98

68

90

89

20

76

79

87

90

21

45

67

78

78

22

78

56

89

89

 

Buktikan hipotesis yang menyatakan :

Insentif berpengaruh secara signifikan terhadap kesejahteraan karyawan.

  1. Dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh diet terhadap kebugaran jasmani. Pengukuran kebugaran dilakukan sebelum diet dan sesudah 6 bulan melakukan riset. Terdapat 15 orang yang digunakan sebagai sampel. Data kebugaran sebelum diet (X1) dan sesudah diet (X2) adalah sebagai berikut:

X1 : 76  35  76  56  78  67  89  56  76  54  67  76  56  67  45

X2 : 78  57  89  65  80  78  90  65  78  54  56  78  67  78  69

Buktikan hipotesis yang menyatakan bahwa :

Diet dengan mengurangi jenis makanan tertentu dapat meningkatkan kebugaran jasmani seseorang.

  1. Untuk mempelajari sikap dosen tentang kesiapan universitas tempat mereka bekerja menjadi Research University, telah diambil 12 responden untuk diberi skala sikap, yaitu masing-masing sebanyak 12 orang dosen yunior dan dosen senior. Makin besar rata-rata skor sikap makin positif sikap dosen terhadap kesiapan Research University. Data disajikan dalam tabel sebagai berikut:

Senior

18

23

35

40

46

50

55

59

66

68

76

82

Yunior

20

28

45

48

52

58

67

68

45

68

78

88

 

Uji hipotesis perbedaan median sikap dosen senior dan yunior terhadap kesiapan universitas mereka menjadi Research University pada α = 5%.

  1. Suatu survei tentang minat meneliti dosen suatu Perguruan Tinggi (PT) pasca dikeluarkannya regulasi bagi dosen untuk melakukan publikasi ilmiah pada jurnal nasional dan internasional. Untuk menganalisis apakah ada pengaruh regulasi publikasi ilmiah terhadap minat meneliti dilakukan observasi mengenai jumlah penelitian dosen sebelum dan sesudah adanya regulasi di 10 Perguruan Tinggi. Data jumlah penelitian dosen disajikan sebagai berikut:

PT

A

B

C

D

E

F

G

H

I

J

Sebelum

30

25

40

20

15

42

10

22

38

35

Sesudah

32

30

45

36

35

55

25

28

58

62

 

Pada α = 5%  lakukan uji Wilcoson untuk hipotesis yang berbunyi: Terdapat pengaruh regulasi publikasi ilmiah terhadap minat meneliti dosen Perguruan Tinggi.

  1. Dilakukan penelitian untuk mengetahui adakah perbedaan kualitas manajemen antara perguruan tinggi yang dianggap favorit oleh masyarakat dan perguruan tinggi yang dianggap tidak favorit (A) dan 12 perguruan tinggi yang dianggap favorit (B). Selanjutnya kedua kelompok perguruan tinggi tersebut diukur kualitas manajemennya dengan menggunakan sebuah instrument yang terdiri dari beberapa butir pertanyaan. Skor penilaian tertinggi 40 dan terendah 0. Data hasil penelitian adalah sebagai berikut:

A :  67  87  90  87  54  67  45  67  87  67

B :  78  90  98  79  67  89  90  89  79  98  78  89

Buktikan hipotesis yang menyatakan bahwa :

Perguruan tinggi yang favorit dikelola dengan manajemen yang baik

  1. Untuk mempelajari apakah nilai mata kuliah statistika pada angkatan sama dan diajar dengan dosen yang sama untuk Jurusan Maatematika, Fisika, Kimia, dan Biologi pada Fakultas Mateatika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) sama atau berbeda. Untuk tujuan tersebut, telah diambil sampel acak mahasiswa yang memprogramkan Mata Kuliah Statistika dari keempat jurusan tersebut. Nilai mata kuliah statistika dari keempat jurusan tersebut adalah sebagai berikut:

Matematika :  75  82  82  75  78  76  58  86  90

Fisika            :  80  81  75  65  60  61  48  56

Kimia           :  75  81  62  75  72  80

Biologi         :  76  85  80  81  70  75  82  66  65

Untuk taraf signifikansi 5 persen ujilah apakah rata-rata nilai mata kuliah statistika mahasiswa keempat jurusan tersebut sama atau berbeda.

  1. Dilakukan penelitian untuk mengetahui adakah hubungan antara profesi pekerjaan dengan jenis olah raga yang sering dilakukan. Profesi dikelompokkan menjadi empat yaitu: Dokter, Pengacara, Dosen, Bisnismen (Dr, P, Do, Bi). Jenis olah raga juga dikelompokkan menjadi empat yaitu: Golf, Tenis, Bulutangkis dan Sepakbola (Go, Te, Bt, Sb). Jumlah dokter yang digunakan sebagai sampel = 79, Pengacara = 43, Dosen = 101, Bisnismen = 62. Jumlah seluruhnya = 285.

Olahraga

Dr

P

Do

Bi

Jumlah

Go

26

14

20

30

90

Te

35

15

45

21

116

Bt

10

9

21

7

47

Sb

8

5

15

4

32

Jumlah

79

43

101

62

285

 

Buktikan hipotesis yang menyatakan bahwa :
Tidak ada hubungan yang positif dan signifikan antara jenis profesi dengan jenis olahraga yang disenangi.
 
Saya belajar dari alam bahwa keabadian alam merupakan sesuatu yang mustahil. Cita-cita akan selalu ada seiring terbitnya matahari di pagi hari. Dari semut yang tak pernah berhenti bekerja, saya belajar tentang perjuangan, kesabaran, dan keuletan.

 

Ibrahim Elfiky

Leave A Reply