Back

BISNIS DAN LINGKUNGAN BISNIS

BAB I

BISNIS DAN LINGKUNGAN BISNIS

 

Apakah Anda merasa dunia memperlakukan Anda dengan baik?
Jika Anda menyikapi dunia dengan sangat baik, Anda pun akan menerima
hasil yang sangat baik. Jika perlakuan Anda biasa saja, tanggapannya pun akan biasa saja.
Cobalah berpikir buruk tentangnya, maka balasan negatiflah yang akan Anda terima.

 

John C. Maxwell

 

Arus kehidupan mengejutkan kita hingga kita terlempar ke luar jalur
dan mencegah kita sampai ke tujuan. Cuaca yang tidak terduga dapat
mengubah arah dan strategi kita. Teruslah menyesuaikan pemikiran kita,
agar kita bisa hidup dengan benar.

 

John C. Maxwell

Pembahasan Materi

            Dalam bab ini Anda akan mempelajari tentang perkembangan bisnis, pengertian bisnis, klasifikasi bisnis, dan tujuan bisnis. Lingkungan bisnis: lingkungan ekonomi, lingkungan teknologi, lingkungan hukum dan politik, lingkungan sosial budaya, investasi, tabungan dan lingkungan pemerintah.

  • Perkembangan Bisnis

            Secara terminologi, bisnis merupakan suatu kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh perorangan maupun kelompok. Karenanya, kegiatan bisnis sebenarnya telah muncul sejak dulu, hanya kegiatan bisnis ini sangat tertutup karena dilakukan dalam lingkungan yang terbatas, seperti lingkungan keluarga, kelompok masyarakat maupun kelompok tertentu. Masyarakat kita zaman dulu yang kehidupannya masih bersifat agraris untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka masih mengandalkan sektor agraris dengan peralatan yang masih sangat sederhana dan bersifat tradisional. Pada saat itu mereka juga belum memikirkan suatu usaha yang lain yang bersifat komersial misalnya: pengembangan produksi dengan alat modern dalam mengolah lahan, kredit modal, dan sebagainya.

Setelah munculnya revolusi industri pada abad-18, terjadilah perubahan pada beberapa hal. Revolusi Industri pertama diawali dengan penemuan mesin uap oleh James Watt tahun 1769, menghasilkan industri manufaktur yang menggeser sektor pertanian sebagai penggerak ekonomi. Kekuatan ekonomi berada pada pemilik produksi. Ditemukannya mesin uap sebagai peralatan baru dalam bidang pertanian dapat digunakan untuk mengganti peralatan yang tradisional. Pertanian yang tadinya masih menggunakan bajak dengan menggunakan tenaga sapi dan kerbau dapat diganti dengan traktor ataupun buldoser dengan tenaga luar biasa. Revolusi Industri kedua ditandai dengan pembentukan konsep korporasi dan scientific management (Taylor) di akhir 1800-an, menjadikan korporasi dan pekerja manual (manual wolker) sebagai andalan ekonomi utama (Budiarta, 2010).

Kekuatan ekonomi berada pada pemilik modal. Perubahan mendasar akibat revolusi industri ini juga terjadi pada sektor produksi, dimana buruh dan tenaga kerja mulai menerima upah sebagai imbalan atas tenaganya. Dan ini merupakan pendapatan bagi keluarga. Hal ini membantu mereka dalam  memenuhi kebutuhan-kebutujan hidup dengan membeli barang-barang yang diproduksi oleh orang lain. Inilah awal pertumbuhan ekonomi yang akhirnya juga semakin memberikan peluang kepada berkembangnya dunia usaha yang lain seperti pabrik-pabrik, perdagangan besar dan pedagang eceran juga sistem pemisahannya. Pertumbuhan ekonomi ternyata diikuti dengan pertumbuhan berbagai kelompok kerja, kelompok jabatan baik yang bersifat formal maupun informal, kelompok-kelompok informal didalam masyarakat sulit diidentifikasikan, minat para anggota masing-masing kelompok lebih bersifat homogen, sedangkan hubungan-hubungan mereka lebih bersifat pribadi dan kekeluargaan, mereka ini pun mempunyai andil dan peranan penting dalam memajukan kehidupan ekonomi masyarakat.

Sejak saat itu, kehidupan manusia dirasakan semakin kompleks. Manusia selalu berusaha untuk menciptakan hal-hal baru sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan dan keinginan yang berkembang pula, sehingga usaha-usaha untuk menerapkan hukum ekonomi didalam subyek badan usaha semakin nyata. Oleh karenanya manusia berusaha menentukan norma-norma tertentu sehingga dalam bertindak manusia dapat mencapai perbandingan yang sebaik-baiknya antara jumlah pengorbanan dan manfaat atau utility dalam kegiatan produksi. Dengan demikian akhirnya makin nyata kedudukan bisnis sebagai cabang ilmu yang berdiri sendiri. Semakin banyak kita mengetahui seluk beluk dunia bisnis ini, maka semakin banyak peluang bagi kita untuk berhasil dan menggali keuntungan dari pengalaman tersebut.

Belakangan ini revolusi teknologi informasi, yang ditandai dengan komputer dan internet, menggeser kekuatan ekonomi kepada pemilik pengetahuan dan pekerja pengetahuan Masyarakat bergeser dari masyarakat industri ke masyarakat informasi dan pengetahuan, yang disebut the Next Society tersebut. Adalah realita, bahwa kekuatan ekonomi berada pada orang-orangnya dan pada kelompok-kelompok komunitas. Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, persaingan dalam bidang perekonomian baik yang bersifat nasional, regional maupun multinasional semakin hebat. Perang ekonomi melalui perdagangan antar bangsa yang berusaha untuk mendapatkan pasar dunia dalam barang dan jasa.

Dalam perkembangan zaman seperti saat ini, dunia bisnis semakin kompleks. Terlebih dengan munculnya revolusi informasi dan komunikasi dibutuhkan kombinasi berbagai sumber daya khususnya untuk mendalami dan mengembangkannya. Mengingat juga bahwa pada dekade berikutnya, perkembangan bisnis tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan masyarakatnya. Dewasa ini bisnis berjalan sangat cepat, lebih kompleks dan lebih dituntut akan tanggung jawabnya. Siklus barang dan jasa memiliki daur hidup yang pendek, tidak lagi bicara tahun bahkan diukur dengan hitungan bulan, hari bahkan jam. Konsumen menginginkan barang bermutu, murah, gampang didapat, cepat pengirimannya dan purna jualnya baik. Karyawan perusahaan ingin memperoleh gaji yang sepadan dengan tenaga yang dikeluarkan, suasana kerja yang kondusif, tata kerja yang terstruktur, media kerja yang mendukung (Eddy Suryanto, 2010).

Pengusaha menginginkan produknya disukai pasar, laku terjual, biaya produksi rendah, bahan baku mudah didapat, karyawan profesional, peraturan pemerintah yang menunjang bisnis dan distribusi lancar. Bisnis adalah aktivitas yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang atau perusahaan dalam bentuk jasa atau barang untuk memperoleh laba. Bisnis menciptakan banyak peluang berdasarkan kreativitas dan inovasi yang ditampilkan dengan melibatkan beberapa, puluhan, ratusan bahkan ribuan orang guna menghasilkan jasa atau produk yang dibutuhkan konsumen. Bisnis bisa dilakukan dengan cara manual maupun memanfaatkan teknologi canggih sebagai sarana produksi dengan melibatkan aspek-aspek manajemen, keuangan, pemasaran, dan sumberdaya manusia.

            Bisnis yang berhasil dan baik akan berkontribusi positif bagi peningkatan kualitas dan standar hidup masyarakat, terlibat dalam kegiatan amal, menghasilkan pemimpin bagi masyarakat dan menjadi contoh bagi bisnis-bisnis lainnya. Contoh: Mooryati Sudibyo dengan perusahaan kecantikannya. Laba adalah selisih antara penerimaan dan biaya-biaya operasional dalam proses bisnis. Laba merupakan hasil yang diperoleh pengusaha atas investasi dana, waktu dan risiko yang mungkin timbul dalam membangun, mengembangkan dan memajukan perusahaannya. Pendapatan atas laba memungkinkan perusahaan meningkatkan taraf hidup karyawannya, membangun bisnis baru, membayar pajak sehingga membantu pemerintah dalam pembangunan.

Para pengusaha telah menjalankan bisnis atau usahanya sesuai perkembangan zaman, mulai dengan pola tradisional hingga memasuki era Internet saat ini. Pola tradisional yang masih serba manual berangsur–angsur berubah ke sistem otomatisasi yang menggunakan teknologi canggih dalam proses bisnisnya.  Proses perubahan ini disebut evolusi bisnis, yakni proses terjadinya aktivitas bisnis dari masa ke masa sesuai kondisi dan perkembangan teknologi, ekonomi, sosial dan budaya saat itu. Tahapan evolusi bisnis dapat dijelaskan sesuai perkembangan berikut (Eddy Soeryanto, 2010):

  1. Era kolonial, abad ke-17 dan sebelumnya, usahanya terkait dengan produksi pertanian dan perkebunan di pedesaan di mana aspek ekonominya ditentukan oleh sukses tidaknya pertanian dan perkebunan tersebut.
  2. Revolusi industri, tahun 1760-1850, mengubah proses manufaktur yang memakai banyak pekerja manual dengan sistem pabrik untuk produksi masal menggunakan mesin-mesin dan alat–alat khusus.
  3. Era kewirausahaan, akhir 1800-an, munculnya banyak entrepreneur baru sebagai reaksi atas ditolaknya sistem monopoii oleh pengusaha-pengusaha besar dan adanya undang-undang antitrust.
  4. Era produksi, sebelum 1920-an, ahli organisasi bisnis dengan konsep scientific management mengarahkan manajemen perusahaan untuk fokus pada proses produksi melalui spesialisasi tugas dan peningkatan produktivitas.
  5. Era pemasaran, sejak 1950-an, berkembang filosofi bisnis baru berupa konsep pemasaran yang membentuk kesadaran, preferensi serta selera konsumen dan didasarkan atas keinginan pelanggan dan kemudian perusahaan menyediakannya.
  6. Era global, tahun 1980-an, dunia usaha merambah keberbagai belahan dunia akibat kemudahan transportasi dan kemajuan teknologi komputer, sistem informasi, sistem produksi serta semakin efisiennya sistem distribusi dan pembiayaan internasional.
  7. Era informasi, tahun 1990-an, akibat tingginya pengguna internet yang memudahkan perdagangan di semua sektor perekonomian maupun sektor jasa serta menjadi sarana yang mudah dan cepat dalam proses business to business. Teknologi informasi telah mengubah wajah dunia dan aktivitas bisnis demikian dinamisnya tanpa terhalang ruang dan jarak. Aplikasi e-commerce, e-government, e-banking, e-education, dan berbagai aplikasi lainnya merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem bisnis di era informasi. Komunikasi bisnis berlangsung secara on-line melalui iInternet dengan biaya relatif murah dibandingkan dengan pola konvensional, seperti e-mail (surat elektronik), mailing list (sarana diskusi) dan pembuatan homepage atau situs perusahaan untuk memperkenalkan perusahaan tersebut ke Publik.
    • Pengertian Bisnis

Kata bisnis berasal dari bahasa Inggris business. Bisnis dapat didefinisikan sebagai segala aktivitas dari berbagai institusi yang menghasilkan barang dan jasa yag perlu untuk kehidupan masyarakat sehari-hari (Manullang, 2013). Bisnis adalah pertukaran barang dan jasa, atau uang untuk saling menguntungkaan. Pada zaman modern ini bisnis yang dilakukan di Negara maju maupu Negara berkembang semakin kompleks dibandingkan dengan menukar jangung dengan sepatu.

Ketika mengajar seorang mahasiswa bertanya, apa yang harus dikerjakan jika seseorang akan memulai bisnis. Mencari peluang, memilih target pasar, atau memproduksi sesuai dengan selera pasar lalu menjualnya? Wirausaha adalah seseorang yang mencari dan memanfaatkan peluang, serta tantangan untuk memproduksi barang atau jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Jawab saya. Jadi, wirausahawan atau pebisnis mempunyai ciri-ciri: (1) mengubah tantangan menjadi peluang, (2) berani mengambil resiko, (3) percaya diri dan (4) keberanian untuk berhasil dalam usaha memenuhi kebutuhan orang lain. Memulai bisnis adalah kesiapan untuk melayani sebagian dari kebutuhan dan keinginan masyarakat sesuai dengan kemampuannya. Mendeskripsikan kemampuan diri untuk memproduksi adalah tindakan pertama, yang dilanjutkan dengan mengidentifikasi kebutuhan pelanggan melalui kegiatan segmentasi pasar, memproduksi dan mengomunikasikan produk tersebut kepada khalayak sasaran. Bisnis adalah bagaimana berkomunikasi dengan masyarakat, khususnya khalayak sasarannya.

Di era dunia tanpa batas bisnis telah menjadi salah satu institusi yang memiliki kekuatan dan memberi inspirasi kepada masyarakat dalam upaya mengembangkan serta meningkatkan kualitas kehidupan. Istilah bisnis menunjuk pada semua organisasi yang membuat produk atau jasa untuk memperoleh keuntungan. Dalam istilah bisnis, masyarakat adalah sekumpulan orang yang  berada atau sebagai anggota dari komunitas tertentu, atau bangsa, atau kelompok kepentingan. Sebagai sebuah organisasi yang dibentuk manusia, bisnis adalah bagian dari tata kehidupan masyarakat. Kegiatan bisnis meliputi pertukaran antar orang-orang atau organisasi yang mempunyai kebutuhan yang secara terus-menerus dan dinamis. Kegiatan bisnis melibatkan tenaga kerja, tenaga jual-beli, peredaran uang, mengatur waktu, dan membayar pajak. Bisnis adalah proses kehidupan dalam masyarakat yang antara satu kelompok dengan kelompok lainnya mempunyai ketergantungan, baik pada tingkat lokal, regional maupun global, melalui komunikasi yang intens-bisnis dan komunikasi adalah fenomena sosial.

Bisnis menurut Lawrence, Weber, dan Post dalam bukunya Business and Society (2005) menunjuk pada berbagai organisasi yang berusaha untuk membuat produk atau menyediakan jasa untuk memperoleh keuntungan. Bisnis merupakan sistem sosial yang terbuka yang menciptakan kolektivitas antara masyarakat sebagai pelanggan dengan produsen atau perusahaan yang menyediakan berupa produk atau jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kolektivitas menurut Lawrence, Weber dan Post selaras dengan teori sistem yang menggambarkan bahwa bisnis dan masyarakat berjalan bersama dan membentuk interactive social system-bisnis dan masyarakat berjalan bersama. Ditinjau dari perspektif sistem, bisnis adalah bagian dari masyarakat, dan masyarakat menembus jauh ke dalam mempengaruhi pengambilan keputusan bisnis. Dalam perkembangannya di mana komunikasi menjadi lebih dekat.

Bisnis adalah kegiatan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan manusia dengan mengelola sumber-sumber yang tersedia dan dimiliki, yaitu sumber daya alam, sumber daya insani (keahlian, ide-ide, kreativitas), ilmu, pengetahuan, teknologi, peraturan-peraturan pemerintah. Sumber-sumber tersebut merupakan bahan masukan bagi pengelolaan bisnis, dan merupakan sebuah lingkungan yang saling mempengaruhi dan keterganntungan. Pada perkembangannya bisnis tidak lagi bergerak dalam skala lokal atau nasional saja tetapi telah menjadi global yang disebabkan oleh kemajuan teknologi komusikasi secara radikal. Kehidupan global merupakan sebuah proses yang tidak berhenti dan terus berkembang menjamah ke semua aspek kehidupan. Globalisasi mampu mengubah tata kehidupan. Di bawah ini diuraikan pengertian bisnis yang disampaikan oleh para ahli, yaitu:

  1. Bisnis merupakan suatu yang diciptakan untuk menghasilkan produk barang dan jasa kepada pelanggan (Jeff Madura, 2001).
  2. Bisnis sebagai suatu sistem yang memproduksi barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan masyarakat kita (Huat T Chwee, 1990).
  3. Suatu aktivitas yang memenuhi kebutuhan dan keinginan ekonomis masyarakat, perusahaan diorganisasikan untu terlibat dalam aktvitas tersebut (Musselmen & Jackson, 1992).
  4. Business is an organization that provides goods or services in order to earn profil. Bisnis itu merupakan suatu organisasi yang menyediakan barang dan jasa yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan (Griffin & Ebert, 1996).
  5. Bisnis merupakan sekumpulan aktivitas yang dilakukan untuk menciptakan uang dengan cara mengembangkan dan mentransformasikan berbagai sumber daya menjadi barang dan jasa yang diinginkan konsumen (Allan Afuah, 2004).
  6. Hugnes dan Kapoor dalam Kustono (2010): business is the organized effort of individuals to produce and all a profit, the goods services that satisfy society needs. The general term business refers to all such effort within a industry. Bisnis merupakan suatu kegiatan usaha individu yang diorganisasi untuk menghasilkan atau menjual barang dan jasa guna mendapat keuntungan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
  7. Bisnis adalah kegiatan-kegiatan yang terorganisir untuk menghasilkan barang dan jasa dengan tujuan untuk mendapatkan laba (Syamsurizal, 2009).
  8. Steinhoff dalam Kustoro (2010): business is all those activities involved in providing the goods and services needed or desired by people. Artinya, bisnis merupakan seluruh aktifitas yang mencakup pengadaan barang dan jasa yang diperlukan atau diinginkan oleh konsumen.
  9. Brown dan Protello dalam Kustono (2010): business is institution which produce good and services demanded by people. Artinya bisnis adalah suatu lembaga yang menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat apabila kebutuhan masyarakat meningkat maka lembaga bisnis ini pun akan menngkat pula perkembangannya dalam melayani masya

Bisnis merupakan suatu aktifitas yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk meyediakan barang dan jasa dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan. Orang yang berusaha menggunakan waktunya dengan menanggung resiko, dalam menjalankan kegiatan bisnis biasa disebut entrepreneur. Sementara untuk menjalankan kegiatan bisnis ini maka entrepreneur harus mengkombinasikan empat macam sumber yaitu: material, human, financial dan information. Ada pandangan yang menyatakan bahwa bisnis adalah sejumlah total usaha meliputi pertanian, produksi, konstruksi, distribusi, transportasi, komunikasi, usaha jasa dan pemerintahan yang bergerak dalam bidang pembuatan dan pemasaran barang dan jasa untuk memberikan kepuasan pada konsumen. Istilah bisnis ini pada umumnya ditekankan pada tiga hal yaitu: usaha perseorangan kecil-kecilan dalam bidang barang dan jasa, usaha perusahaan besar seperti (pabrik, transportasi, perusahaan surat kabar, hotel dan sebagainya) dan usaha dalam bidang struktur ekonomi bangsa.

Berdasarkan beberapa pengertian bisnis tersebut diatas, ada sejumlah unsur penting dalam definisi tersebut, yaitu:

  1. Segala aktivitas, berarti beraneka warna aktivitas, seperti: produksi, distribusi, konsumsi, dan berbagai aktivitas lainnya yang ada kaitannya pada ketiga aktivitas tersebut, seperti transportasi, pembelian, dan lain-lain.
  2. Institusi atau badan atau lembaga atau suatu organisasi merupakan sekumpulan faktor-faktor produksi terdiri dari: tanah, tenaga kerja, modal dan pemimpin (manajer) yang menghasilkan baraang atau jasa misalnya perusahaan-perusahaan, rumah sakit, sekolah dan berbagai macam organisasi yang ada dalam masyarakat.
  3. Menghasilkan barang dan jasa, artinya ada output dari institusi tersebut baik berupa barang berwujud maupun tidak brwujud. Barang berwujud dihasilkan oleh perusahaan, sedangkan barang yang tidak berwujud misalnya: saran, nasihat, pendapat, atau buah pikiran, dihasilkan oleh institusi, seperti pendidikan, rumah sakit, kantor konsultan, kantor pengacara dan sebagainya..
  4. Perlu untuk kehidupan masyarakat berarti ada manfaatnya kepada kehidupan masyarakat, seperti dihasilkan berbagai jenis barang, peningkatan kesehatan atau peningkatan pendidikan anggota masyarakat dan sebagainya. Dengan demikian, organisasi pencurian, dan berbagai kelompok pengrusak terhadap sumber daya, bukan perlu untuk kehidupan masyarakat tidak termasuk pengertian bisnis.
    • Klasifikasi Bisnis

Kebutuhan hidup manusia semakin hari dirasakan semakin meningkat sejalan dengan perubahan dan perkembangan pola hidup masyarakatnya. Kehidupan manusia yang pada mulanya masih sangat sederhana hanya menggantungkan pada hasil-hasil alami yang tersedia di dalam dirinya sendiri maupun dengan memanfaatkan apa yang telah ada di alam sekitarnya. Pada saat ini pun kebutuhan hidup manusia masih sangat sederhana. Manusia dalam masyarakat primitif baru memiliki kebutuhan ekonomi yang sederhana terutama berupa kebutuhan dasar yang bersifat jasmaniah, yaitu: a. Makan, minum dan pakaian. b. Kebutuhan akan tempat tinggal. c. Kebutuhan akan istirahat. Semua kebutuhan tersebut dapat di penuhi secara alami.

Dengan demikian semakin hari semakin meningkat pengenalan manusia tentang alam sekitarya, bertambah jumlah penghuni alam juga menipisnya persediaan bahan kebutuhan manusia serta timbulnya berbagai gangguan dan hambatan dalam hidup, maka masyarakat itu mulai menyadari pentingnya mencari upaya untuk mengatasi rasa tidak aman tersebut, mereka menjadi saling memerlukan untuk bekerja sama mengatasi kesulitan hidup mereka. Dengan perkembangan pola kehidupan ini, maka kebutuhan manusia makin meningkat, yaitu meliputi: 1. Kebutuhan jasmaniah: makan, minum, pakaian, rumah dan istirahat. 2. Kebutuhan rohaniah: rasa aman, harga diri dan penghiburan. 3. Kebutuhan sosial: kasih sayang dari sesama manusia, persahabatan dan pengakuan orang lain.

Industri kreatif diproyeksikan menjadi sektor ekonomi dominan setelah perbankan dan industri pengolahan. Di beberapa negara maju yang kekurangan sumber daya alam, industri kreatif diutamakan bahkan melampaui aktivitas perbankan. Industri kreatif adalah industri yang didasarkan atas daya kreatifitas yang tinggi dengan sentuhan inovasi guna menghasilkan produk baru yang berbeda dan berkualitas. Di era industri, biasanya memerlukan investasi, biaya besar, dan SDM yang banyak, hal ini berbeda dengan industri kreatif. Beberapa kelompok kecil yang memiliki keahlian dan gagasan inovatif, menjadi pelopor dari industri kreatif. Industri kreatif menciptakan karya–karya melalui ide, gagasan-gagasan dengan menghasilkan suatu nilai lebih melalui karya yang dihasilkan, dengan tingkat efektivitas dan efisiensi yang tinggi (Eddy Soeryanto, 2010).

Melalui produk-produk bermutu, unik, dan pendekatan pendekatan yang lebih dapat diterima konsumen, hal ini mendorong peningkatan pendapatan, dan perputaran ekonomi nasional. Sebagai contoh, industri kreatif berbasis web. Usaha ini berskala mikro yang dijalankan oleh beberapa orang dan biaya yang kecil. Industri berbasis Web mengandalkan orang-orang yang kompeten di bidang web desain, web programming, database analyst, project management dan marketing, sebuah bisnis mini, atau bahkan individu yang berjalan dan dapat menghasilkan profit yang tinggi, melalui era teknologi informasi ini.

            Industri kreatif di Indonesia merupakan industri baru yang berlandaskan inovasi dan kreativitas sehingga memaksa produsen dalam industri ini untuk terus berinovasi dalam mengembangkan produknya. Krisis keuangan global yang terjadi, merupakan salah satu penyebab perlu dikembangkannya industri kreatif secara serius. Industri kreatif merupakan cerminan industri dari usaha kecil dan menengah. Kota Bandung dan Yogyakarta merupakan kota yang mengawali industri kreatif, melalui inovasi yang dilakukan anak-anak muda yang memiliki bakat seni yang kemudian disalurkan menjadi industri-industri dalam negeri hingga bisa mencapai pasaran baik dalam maupun luar negeri. Contohnya usaha distro (distribution outlet) dan clothing yang berkembang di Kota Bandung, usaha ini dirintis oleh pengusaha-pengusaha muda.

            Kota Bandung merupakan salah satu kota yang sarat dengan industri kreatif dan memiliki jejaring industri kreatif  yang sangat kuat. Ini antara lain terwadahi dalam Bandung Creative City Forum (BCCF) dan menjadi dasar dijadikannya indutri kreatif Kota Bandung menjadi percontohan di Asia pasifik. Di Bandung, industri kreatif sangat prospektif dan mampu menyerap tenaga kerja tidak kurang dari 400.000 orang. Uang yang  dihasilkan juga luar biasa. Dalam dua hari pameran industri kreatif di awal tahun 2010, terjadi transaksi hingga Rp15 miliar. Jumlah ini mengalahkan transaksi pada pameran-pameran lainnya (Eddy Soeryanto Soegoto, 2010).

            Keterbatasan yang dihadapi oleh industri kreatif, yang sebagian besar berbentuk usaha kecil dalam berwirausaha, yaitu: 1. Kurangnya akses teknologi informasi. 2. Keterbatasan akses keuangan (investor, pasar modal). 3. Risiko persaingan dan ketidakadilan (fairness) dalam bisnis. 4. Kebijakan pembangunan yang kurang kondusif. 5. Isu-isu modernisasi dan kualitas hasil produksi usaha kecil. Industri kreatif menawarkan alternatif terhadap penerapan teknologi, penggunaan informasi, dan komunikasi secara murah dengan peluang memperoleh kesuksesan yang tinggi. Kontribusi nyata industri kreatif bagi perekonomian daerah yakni ketika lapangan kerja tercipta, pengangguran berkurang, dan perekonomian warga tumbuh.

            Secara umum ada sembilan macam kegiatan bisnis sebagaimana tercantum dalam Klasifikasi Lapangan Usaha Indonesia (KLUI) 1997. Kesembilan lapangan usaha tersebut yaitu: 1. Usaha pertanian. 2. Usaha produksi bahan mentah. 3. Industri atau manufaktur. 3. Kontruksi. 4. Usaha perdagangan besar, eceran, rumah makan dan akomodasi. 5. Usaha angkutan, pergudangan dan komunikasi. 6. Usaha financial, asuransi dan real estate. 6. Usaha jasa. 7. Usaha yang dilakukan oleh pemerintah. Uraian dan penjelasan masing-masing kegiatan tersebut adalah:

  1. Usaha pertanian merupakan suatu usaha dalam melakukan kegiatan menghasilkan produksi pertanian (tanaman pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan, perburuan dan perikanan) dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual/ditukar atau menunjang kehidupan.
  2. Usaha produksi bahan mentah merupakan usaha dengan melakukan kegiatan persiapan dan pengambilan unsur-unsur kimia mineral, biji-bijian dan segala macam batuan termasuk batu-batu mulia yang merupakan endapan alam baik berupa padat, cair maupun gas untuk tujuan komersial.
  3. Industri atau manufaktur adalah usaha dengan melakukan kegiatan mengubah barang dasar (bahan mentah) menjadi barang jadi atau barang setengah jadi atau dari barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya sehingga lebih dekat kepada pemakai akhir.
  4. Usaha kontruksi merupakan usaha yang mempunyai kegiatan dengan hasil akhir berupa bangunan/kontruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, baik digunakan sebagai tempat tinggal atau sarana kegiatan lainnya dengan tujuan komersial. Kegiatan kontruksi bergerak dalam usaha pembangunan seperti pembangunan jalan, bangunan dan sebagainya. Kegiatan ini sangat membantu kemajuan kegiatan perekonomian. Usaha ini mempekerjakan banyak tenaga manusia dan penggunaan barang dan jasa dari berbagai macam seperti: batu, kayu, semen, besi, cat dan sebagainya.
  5. Usaha perdagangan besar, eceran, rumah makan dan akomodasi. Lapangan usaha ini meliputi: Perdagangan eceran (grosir/whoseller) adalah perdangan barang baru maupun bekas yang pada umumnya dalam partai besar kepada para pemakai selain konsumen rumah tangga seperti: pedagang eceran dan jasa akomodasi. b. Perdagangan eceran (retailer) adalah perdagangan yang melakukan penjualan kembali (tanpa perubahan teknis) barang-barang baru maupun bekas kepada konsumen rumah tangga.c. Restoran, rumah makan bar dan jasa boga. d. Jasa akomodasi, meliputi hotel, penginapan, pondok wisata, perkemahan dan jasa akomodasi lainnya.
  6. Usaha angkutan, perdagangan dan komunikasi. Usaha angkutan adalah suatu usaha dalam melakukan kegiatan untuk mengangkut penumpang dan barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan bermotor dan mendapat balas jasa. Perusahaan perdagangan adalah suatu usaha yang melakukan kegiatan untuk menyimpan sementara barang-barang milik orang lain sebelum barang tersebut dikirim ke tujuan akhir dengan menerima balas jasa. Komunikasi adalah transformasi informasi dari seseorang ke orang lain dengan menggunakan bahasa, suara, gambar, kode atau tanda komunikasi lainnya. Usaha dalam bidang komunikasi terbagi menjadi: Usaha telekomunikasi adalah usaha jasa pelayanan komunikasi di dalam negeri atau luar negeri melalui media elektronik/satelit dengan mendapatkan balas jasa. Usaha telekomunikasi antara lain: jasa operator telekom (satelindo), wartel, dan warnet. b. Usaha pos dan giro adalah suatu usaha jasa pelayanan, pengiriman barang dan/atau uang dalam negeri atau ke luar negeri dengan mendapatkan balas jasa. Usaha ini antara lain usaha jasa titipan, cetakan, uang, bingkisan kecil, wesel pos dan giro pos. Usaha ini sangat membantu kelancaran kegiatan bisnis. Kegiatan transportasi membantu mengangkut bahan baku dan barang perdagangan besar (Koestoro, 2010).
  7. Usaha finansial, asuransi dan real estate ini sangat membantu aktivitas bisnis. Termasuk dalam usaha ini adalah lembaga perbankan dan lembaga keuangan bukan bank. Kegiatan bisnis modern sangat tidak mungkin dapat dikembangkan bila tidak didukung oleh lembaga perbankan. Karena lembaga perbankan merupakan lembaga yang memberi kredit dan memberikan layanan serta fasilitas memudahkan terjadinya transaksi. Demikian pula usaha asuransi membantu mengatasi resiko yang mungkin dihadapi oleh bisnis. Selain itu, real estate membantu membangun perumahan dengan perencanaan pengaturan lingkungan yang sehat dilengkapi berbagai fasilitas umum (public utilities) kemudian dijual secara cicilan kepada konsumen.
  8. Usaha jasa, meliputi: usaha yang dilakukan oleh masyarakat baik perorangan maupun kelompok untuk memberikan jasa pelayanan yang dibutuhkan agar sesuai dengan kebut Usaha jasa ini mencakup usaha yang umumnya job order (pesanan) seperti: taylor, pendidikan seperti lembaga kursus, guru privat, konsultan hukum dan pengacara dan lain-lain. Pada kondisi masyarakat sekarang ini, usaha jasa sangat penting artinya bagi kegiatan ekonomi.
  9. Usaha yang dilakukan oleh pemerintah umumnya merupakan usaha dengan tujuan untuk mengatasi hajat hidup orang banyak atau masyarakat secara umum. Beberapa contoh usaha yang dilakukan oleh pemerintah antara lain: Perusahaan Air Minum yang dikendalikan oleh pemerintah daerah (PDAM), PTPN juga perusahaan transportasi seperti perusahaan penerbangan (PT Garuda Indonesia Airways), PT Kereta Api Indonesia, dan sebagainya. Selain sebagai pemilik perusahaan, pemerintah juga berfungsi sebagai konsumen atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor bisnis lain. Usaha yang dilakukan oleh pemerintah juga merupakan bisnis yang banyak menyerap tenaga kerja.

            Dalam aktifitas bisnis, pemerintah juga mempunyai fungsi untuk mengatur kegiatan bisnis dan menjaga stabilitas ekonomi. Fungsi ini ditunjukkan dengan peran pemerintah dalam mengeluarkan berbagai peraturan perundangan dan berbagai kebijakan di bidang fiskal dan moneter. Beberapa peran pemerintah berhubungan dengan hal ini antara lain meliputi: pengaturan tentang kawasan industri atau lokasi usaha, pengaturan tentang izin usaha dan tempat berusaha, pengaturan tentang hak intelektual (hak paten, hak cipta, royalty) dan sebagainya.

  • Konsep Globalisasi

Poerwaanto (2006) mengatakan bahwa globalisasi adalah fenomena integrasi dari berbagai aspek kehidupan di mana kepentingan individu, kelompok, bangsa dan Negara berada di bawah kepentingan dunia secara menyeluruh. Ohmae, dalam bukunya The Borderless World (1991) menggambarkan tentang peta warga global, bahwa pada peta politik, batas-batas antarnegara sama jelas dengan sebelumnya. Akan tetapi pada peta kompentitif, peta yang memperlihatkan arus riil kegiatan keuangan dan  industri, batas-batas itu sebagian besar sudah hilang. Dari semua kekuatan yang menghapuskan batas-batas tersebut, barangkali yang paling gigih adalah arus informasi-informasi yang sebelumnya dimonopoli oleh pemerintah, yang disiapkan sesuai kehendak pemerintah dan didistribusikan sesuai dengan rencana mereka. Monopoli pemerintah atas pengetahuan yang terjadi di seluruh dunia memungkinkan membodohi, menyesatkan, atau mengendalikan rakyat, karena hanya pemerintah yang memiliki fakta riil dalam segalanya.

Globalisasi itu sendiri diawali pada sekitar 600 tahun yang lalu, tahun1400-an di mana armada dari Dinasti Ming dipimpin oleh seorang yanag terlahir bernama Ma He yang kemudin dikenal dengan Cheng Ho meninggalkan ibukota Nanjing berlayar ke laut selatan singgah di pesisir beberapa pulau di Nusantara termasuk Pulau Jawa, Cirebon, Pekalongan, Tuban, Surabaya, Pulau Sumatra, dan seterusnya mencapai Afrika, hampir satu abad sebelum Christopher Columbus menjejakan kakinya di daratan Amerika, dan Vasco da Gama di India. Tujuan armada Cheng Ho adalah mencari wilayah baru guna menyebarkan pengaruh Cina serta menjelajahi kemungkinan adanya sumber daya-sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan mereka.

Pada saat di mana armada Cheng mendarat, mereka berkomunikasi dengan masyarakat setempat guna memperoleh informasi tentang hal hal yang diperlukan dalam misi mereka yaitu menyebarkan pengaruh dan bekerja sama dalam perdagangan.  Pada awalnya, jika mereka mengumpulkan bahan-bahan yang dianggap penting bagi kepentingan bangsa China untuk mengembangkan industrinya, seperti belerang, gading, rempah-rempah yang dapat digunakan untuk membuat ramuan obat, bubuk mesiu, dan logam, baik dengan model perampasan maupun tukar-menukar barang kebutuhan, merupakan awal kegitan komoditas, beralih ke kerjasama sosial seperti pertukaran pengetahuan dan budaya dan bahkan perkawinan di antara mereka. Keadaan tersebut terus berkembang hingga ke berbagai daerah baru ditemukan, yang sumber-sumbernya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan industri. Termasuk pertukaran keterampilan untuk memproduksi barang-barang kebutuhan seperti pakaian, peralatan rumah tangga, maupun industri.

Dalam upaya memenuhi kebutuhan pakaian pada waktu itu, warga pendatang dari Cina bekerjasama dengan masyarakat setempat dengan berbagai cara seperti berdagang, tukar pengalaman dan atau bahkan melakukan perkawinan campuran dengan masyarakat setempat. Para anak buah laksamana Cheng Ho menularkan cara membuat pakaian dengan berbagai motif dan warna dengan melukiskan pada kain yang akan dijadikan pakaian kepada masyarakat, yang kemudian keterampilan warga Cina perantauan tersebut bergabung dengan keterampilan penduduk setempat yang pada akhirnya melahirkan teknik dan seni membuat hiasan dan pewarnaan bahan pakaian.

Ekspansi ke daerah lain juga dilakukan oleh berbagai bangsa seperti Spanyol, Perancis, Belanda, Gujarat, dan Arab yang semua bangsa tersebut mampu mendarat di kepulauan nusantara. Semua bangsa asing yang mendarat dikepulauan nusantara memiliki tujuan yang sama, yaitu mencari kesempatan untuk menemukan sumber-sumber kehidupan yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan mereka. Proses pencarian sumber daya kehidupan pada akhirnya menjadi salah satu jalan dalam proses asimilasi sosial – ekonomi – budaya dan pertukaran pengetahuan di antara bangsa-bangsa dunia yang mendarat di Nusantara.

Pada perkembangannya ekspansi sosial – ekonomi – budaya sudah menjadi sebuah pola bisnis yang melebar di mana Negara-Negara industri mengalihkan kegiatannya ke Negara-Negara sumber daya yang digunakan bahan baku  melimpah atau sumber daya insani nya masih murah. Konsep globalisasi menciptakan produk bisa dibuat di mana saja, kapan saja, dipasarkan oleh siapa saja. Ditinjau dari aspek pembangunan sosial, kondisi tersebut merupakan peluang bagi Negara-Negara yang belum memiliki modal dan penguasaan pengetahuan dan teknologi. Tetapi ditinjau dari aspek komersial, globalisasi proses produksi menjadi kekuatan sebagai penekan untuk menghasilkan keuntungan yang besar dengan pengorbanan yang minim. Atau memindahkan resiko ke Negara lain baik itu masalah sosial, budaya maupun lingkungan, dan mengirim keuntungannya ke negara asalnya.

Hill (2006) dalam bukunya Global Business Today mengatakan bahwa globalisasi meningkatkan kesempatan bagi perusahhan untuk meningkatkan pendapatannya dengan menjual ke seluruh penjuru dunia dan mengurangi biaya produksi di negara di mana inputnya diperoleh dengan harga murah. Hill mencontohkan Coca-cola, Starbucks, McDonald’s, maupun KFC sebagai perusahaan-perusahaan yang telah mendunia dan diperkirakan sebagian besar keuntungannya diperoleh dari hasil operasinya di luar Negaranya.

Bisnis adalah pertukaran antara penjual dan pembeli. Pertukaran yang dimaksud meliputi informasi, produk, harga dan tempat. Boone dan Kurtz (2000) dalam bukunya Contemporary Business (2000) menulis, citra apakah yang muncul dalam pikiran Anda ketika Anda mendengar kata bisinis? Sebagian orang berfikir tentang pekerjaannya, sementara yang lainnya berfikir tentang barang-barang yang mereka anggap sebagai barang konsumsi, dan sebagian lagi berfikir tentang jutaan perusahaan yang membentuk perekonomian dunia. Istilah dengan pengertian yang luas ini dapat diterapkan pada banyak perusahaan. Dunia bisnis menyediakan banyak kesempatan kerja maupun produk yang diminati masyarakat. Lebih lanjut Boone dan Kurtz menambahkan bahwa bisnis terdiri dari semua aktifitas yang bertujuan mencari keuntungan dan perusahaan yang menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh sebuah sistem ekonomi. Sebagian bisnis menghasilkan barang-barang berwujud, seperti mobil, sereal untuk sarapan, chip-chip komputer. Sebagian lainnya memproduksi jasa, seperti asuransi, konser musik, penyewaan mobil dan penginapan. Bisnis dapat mendorong roda perekonomian suatu Negara dan menyediakan beragam sarana yang dapat memperbaiki standar hidup. Sebagai contoh, Amerika adalah pemimpin dunia dalam hal keluaran barang dan jasa per kapita secara nasional.

Pelanggan mempunyai keinginan dan kebutuhan terhadap barang atau jasa tertentu dan bersedia menukarnya kepada produsen atau penjual untuk mendapakan produk atau jasa yang dibutuhkan. Di pihak lain,  produsen  dan penjual sebagai penyedia produk berperan dalam proses pertukaran dengan harapan memperoleh keuntungan yaitu salah satu komponen penting yang harus dicapai untuk menjaga kelangsungan usaha dan memperbaiki standar kehidupan. Keuntungan, menurut Boone dan Kurtz (2000) adalah imbalan bagi para pelaku bisnis yang mengambil resiko dalam memadukan manusia, teknologi dan informasi untuk menciptakan serta memasarkan barang yang dapat memuaskan pembeli.

Poerwanto dalam buku New Business Administration (2006) menggambarkan bahwa pada dasarnya bisnis merupakan kegiatan untuk memproduksi barang atau jasa yang diperlukan masyarakat secara komersial. Maksudnya, bahwa kegitan memproduksi tersebut untuk mendapatkan keuntungan dalam arti luas, yaitu menjaga kelangsungan hidup perusahaan. Dalam konteks pemenuhan kebutuhan masyarakat serta kelangsungan usaha, bisnis didefinisikan sebagai: usaha yang dijalankan oleh individu-individu atau organisasi secara teratur dan kontiniu untuk memproduksi barang atau jasa sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan dengan memberikan kepuasan dan keuntungan kepada pihak-pihak berkepentingan: produsen, pelanggan, dan masyarakat.

Yang dimaksud dengan teratur adalah bahwa bisnis dilakukan dalam sebuah sistem dan organisasi, sedangkan yang dimaksud dengan kontinu adalah bahwa pekerjaan tersebut dilakukan secara terus-menerus, dan yang dimaksud dengan menciptakan kepuasan adalah produk yang dihasilkan mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan pihak-pihak berkepentingan yaitu: produsen, pelanggan, serta masyarakat luas. Kepuasan bagi pelanggan adalah kesesuaian antara harapan dan pengorbanan yang telah dikeluarkan, sedangkan kepuasan bagi produsen adalah mendapatkan keuntungan guna melangsungkan kehidupan usaha, termasuk pengembangan lebih lanjut. Kepentingan masyarakat berpartisipasi dalam proses produksi dengan member pekerjaan dan atau kesempatan berusaha sebagai mitra baik menjadi pemasok atau distributor.

Ditinjau dari aspek produsen atau pengusaha, dan pemakai sebagai pelanggan, maka bisnis adalah interaksi yang menciptakan komunikasi, pertukaran, dan proses sosialisasi yang saling menguntungkan. Sedangkan ditinjau dari aspek-ekonomi-budaya, bisnis adalah sebuah sistem terbuka dari sebuah sistem sosial yang bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah pokok perekonomian yaitu produksi-distribusi-konsumsi. Setiap sistem perekonomian terdiri dari pelaku-pelaku yang dapat berbentuk pemerintah, swasta, dan atau koperasi, yang masing-masing merupakan bagian integral dari sebuah sistem perekonomian.

Dalam konteks pembangunan sebuah Negara, bisnis merupakan salah satu pilihan dari berbagai alternatif yang muncul dalam upaya mensejahterakan bangsa, baik dalam konteks nasional, regional, maupun internasional yang memberi peluang bagi setiap warganya untuk berperan sebagai pelaku ekonomi.Untuk memilih berbagai alternatif dari peluang tersebut menjadi sebuah kegiatan yang menguntungkan, bisnis dapat dilakukan oleh individu-individu maupun organisasi selaras dengan kapasitasnya untuk memproduksi barang atau jasa yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat tertentu. Jadi, kegiatan bisnis merupakan bagian dari upaya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia secara komersial, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta memberi kesempatan kerja bagi masyarakat luas (Poerwanto & Zakaria Lantang Sukirno, 2014).

Bisnis merupakan ruang yang bisa menumbuhkan kemandirian bagi setiap orang. Bisnis mendorong kreativitas, pendidikan dan tanggung jawab bagi pihak-pihak yang berkepentingan atau pemangku kepentingan dalam upaya meningkatkan kemampuannya secara terus-menerus dan meningkatkan kesejahteraan. Dalam kaitan dengan kegiatan bisnis, istilah pihak-pihak berkepentingan atau yang sekarang disebut pemangku kepentingan berawal dari kata stakeholder.

Poerwanto & Zakaria Lantang Sukirno (2014) mendefinisikan stakeholder sebagai orang-orang dan kelompok-kelompok yang mempengaruhi, atau dipengaruhi oleh keputusan, kebijakan dan operasi organisasi. Kata stake dalam konteks tersebut, berarti kepentingan dalam-atau hak atas-usaha bisnis. Jadi stake dalam kegiatan usaha termasuk kelompok-kelompok yang berbeda seperti pelanggan, karyawan, pemegang saham, media, pemerintah, professional dan asosiasi, aktivis sosial dan lingkungan, serta lembaga swadaya masyarakat. Mereka menambahkan, bahwa kata stakeholder berbeda dengan kata stockholder. Stockholder adalah individu-individu atau organisasi-organisasi yang memiliki bagian dari saham perusahaan, merupakan satu dari beberapa jenis stakeholder. Dalam konteks bisnis sebagai fenomena sosial, stakeholder diartikan sebagai pihak-pihak atau pemangku kepentingan, sedangkan stockholder adalah para pemilik dan pengelola bisnis merupakan pemegang saham dan karyawan di semua tingkatan.

  • Tujuan Bisnis

Aktivitas bisnis dilakukan oleh masyarakat sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam aktivitas ini, manusia akan berusaha memenuhi kebutuhan dengan memperoleh kepuasan atas kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Namun berdasarkan  preferensi yang ada, manusia juga berusaha untuk mendapatkan tantangan serta harapan yang lebih baik bagi kemudian hari. Karenanya manusia akan berusaha memanfaatkan kekuatan-kekuatan yang dimiliki dan menganalisis peluang-peluang yang disediakan oleh dunia bisnis secara tidak terbatas. Bisnis memang menyediakan lapangan kerja dari berbagai tingkatan dan lapangan. Sekarang ini lapangan kerja tidak lagi semata-mata diarahkan ke sektor pemerintahan, tetapi mulai bergeser pada dunia bisnis karena lapangan ini ternyata dirasa sesuai dengan semangat yang selalu ingin mendapat tantangan guna mencoba kemampuannya.

Setiap manusia melakukan suatu aktivitas pasti mempunyai tujuan. Demikian pula para pelaku bisnis, mereka melakukan aktivitas bisnis untuk atau sasaran akhir yang ingin dicapai oleh para pelaku bisnis atau bisnis yang mereka lakukan. Goals atau sasaran ini merupakan cerminan dari berbagai hasil yang diharapkan dapat dilakukan oleh organisasi beserta bagian-bagian fungsional perusahaan (seperti produksi, marketing, keuangan, personalia, dan lain-lain) yang akan menentukan kinerja organisasi dalam jangka panjang (key result area). Tujuan yang ingin dicapai oleh para pelaku bisnis akan sangat bervariasi antara kegiatan bisnis yang satu dengan kegiatan bisnis lainnya, dan tujuan bisnis tersebut menjadi orientasi para pelaku bisnis. Tujuan dari organisasi bisnis pada dasarnya dapat meliputi (Koestoro, 2010): 1. Menghasilkan barang dan jasa secara efisien berbasis pemenuhan kepuasan konsumen (customer satisfaction). 2. Menciptakan kinerja yang mengutungkan bagi perusahaan melalui aktivitas yang dapat menciptakan nilai bagi perusahaan (value creation). 3. Melindungi kesehatan dan kesejahteraan karyawan. 4. Melatih menjadi warga masyarakat yang baik dalam kaitannya dengan masyarakat dalam bertetangga. 5. Mendukung pelaksanaan hukum dan pemerintah. 6. Menyediakan pertumbuhan yang sehat bagi perusahaan dan memperoleh keuntungan yang sehat pula. 7. Menjaga kualitas lingkungan melalui operasi perusahaan dan program kemasyarakatan.

Beberapa tujuan tersebut hendaknya tercermin dalam aktivitas perusahaan sebagai satu kesatuan. Maksudnya beberapa aktivitas fungsional yang ada dalam perusahaan, merupakan satu kesatuan dari organisasi perusahaan sehingga tujuan perusahaan juga merupakan cerminan dari berbagai hasil yang diharapkan oleh aktivitas fungsional perusahaan. Hasil ini akan menentukan kinerja perusahaan dalam jangka panjang (key result area). Key result area suatu perusahaan mencakup market standing, innovation, physical and finansial resources, profitability, manager performance and development, worker performance and attitude, public responsibility.

Market Standing

            Penguasaan pasar atau market standing merupakan salah satu tujuan utama perusahaan. Penguasaan pasar akan memberi jaminan bagi perusahaan untuk memperoleh pendapatan penjualan dan profit dalam jangka panjang. Penguasaan pasar tidak hanya diukur dari besarnya tingkat penjualan yang dapat dilakukan perusahaan melainkan perusahaan harus membaca potensi pasar dan arah persaingan di masa akan datang melalui penelaahan aktivitas pesaing yang tercemin dari teknologi yang dipasok para supplier kepada perusahaan pesaing sehingga produk perusahaan tidak akan tersisih dari pasar oleh produk pesaingnya.

 

Innovation

Menurut Drukker (1999) terdapat dua jenis inovasi pada setiap bisnis. Pertama, inovasi produk atau jasa dan kedua inovasi berbagai keahlian dan aktivitas- aktivitas yang diperlukan untuk menghasilkan inovasi jenis pertama tersebut. Innovation dalam hal ini meliputi inovasi dalam produk dan jasa serta inovasi keahlian. Lebih lanjut inovasi berkaitan dengan penciptaan nilai (value ceation) yang akan memberi konsumen kepuasan lebih besar untuk setiap rupiah yang dia belanjakan. Oleh sebab itu tujuan bisnis yang ingin dicapai melalui inovasi adalah menciptakan nilai pada suatu produk. Inovasi dapat diartikan dari berbagai sudut pandang. Dari sisi pemakai, inovasi didefinisikan sebagai sesuatu ide, latihan, atau cara yang dipersepsikan sebagai sesuatu yang baru, sebagai sesuatu yang dapat diterima. Dari sisi lain inovasi diartikan sebagai suatu rentang yang kontinu memberikaan pengaruh baru pada produk dan dapat diterima. Inovasi adalah ide baru yang diaplikasikan untuk menghasilkan atau memperbaiki sebuah produk, proses, atau servis.

Inovasi adalah menerjemahkan ide-ide menjadi produk baru, jasa barang, atau metoda baru. Seseorang yang menyatakan dirinya berorientasi ke masa depan atau seseorang yang berani bersaing di masa depan harus mempunyai keinovatifan yang tinggi karena tanpa itu maka ia akan kalah dan (mungkin) akan mati. Selanjutnya, inovasi juga diartikan sebagai suatu usaha mencari peluang melalui perancangan ide-ide sehingga dapat digunakan untuk berbagai tujuan (Ade Febriansyah, 2010). Senada dengan itu, Levesque mengemukakan bahwa inovasi adalah suatu usaha individu dalam mencari kemungkinan baru untuk menghadapi tantangan, kontribusi ide, membantu pemecahan permasalahan, mencari dan mengembangkan penekanan pembiayaan, serta mengembangkan prosedur, metoda, atau produk yang baru.

Physical and Financial Resources

            Bagi perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur, kemampuan perusahaan untuk memperoleh suplai bahan baku yang berkelanjutan dengan harga yang bersaing akan sangat menentukan daya saing perusahaan. Selain penguasaan terhadap sumber daya fisik, perusahaan harus memiliki penguasaan sumber daya keuangan yang memadai untuk mengembangkan perusahaan menjadi semakin besar dan semakin menguntungkan.

Manager Performance and Development

            Manager merupakan orang yang secara operasional bertangggung jawab terhadap pencapaian tujuan organisasi. Untuk dapat mengelola perusahaan dengan baik, manajer perlu memliliki kemampuan (skill) dan keahlian (expertise) yang sesuai dengan profesinya. Maka diperlukan peningkatan kinerja dan pengembangan kemampuan manajer melalui serangkaian kegiatan kompensasi yang menarik dan program training dan development yang berkelanjutan. Peningkatan kinerja dan pengembangan kemampuan manajer melalui serangkaian kegiatan kompensasi yang menarik serta program training and development secara berkelanjutan harus menjadi tujuan dari setiap perusahaan.

Worker Performance and Attitude

            Selain manajer, sumber daya manusia yang harus memperoleh perhatian besar dari perusahaan adalah para karyawan. Khususnya menyangkut sikap para karyawan  terhadap pekerjaan dan juga sikap karyawan terhadap perusahaan. Sikap karyawan terkait dengan kondisi kerja dan kompetensi yang diterima oleh para karyawan. attitude adalah pilihan dalam menentukan cara pandang terhadap kondisi eksternal yang kita hadapi dengan cara mengubah dan menyesuaikan kondisi internal. Attitude adalah suatu mekanisme yang dapat dipengaruhi dari dalam diri sendiri dan setiap manusia memegang kontrol 100% atas tindakan yang dilakukannya. Sebagai orang yang positif, kita harus melihat bahwa 10% bagian hidup kita adalah fakta, sementara 90% sisanya adalah bagaimana kita bersikap terhadap fakta-fakta tersebut.

Public Responsibility

            Bisnis harus memiliki tanggung jawab sosial, seperti memajukan kesejahteraan masyarakat, mencegah terjadi polusi, menciptakan lapangan kerja dan lain-lain. Saat ini perusahaan yang melakukan kegiatan produksi barang dan jasa semakin didorong untuk mengadopsi suatu kebijakan environmental sustainability, yaitu pengembangan strategi usaha yang dapat memelihara lingkungan hidup secara berkelanjutan di mana pada saat yang sama perusahaan dapat menghasilkan laba. Selain memperhatikan dampak perusahaan terhadap lingkungan hidup, di dalam menjalankan kegiatan usaha, perusahaan hendaknya tidak hanya memperhatikan kepentingan para pemegang saham (stakeholder) tetapi juga harus memperhatikan kepentingan stakeholder.

Organisasi bisnis hidup di tengah-tengah masyarakat, kehidupannya tidak dapat lepas dari kehidupan masyarakat. Hal ini mengindikasikan bahwa organisasi bisnis tidak akan berdiri kokoh dan tegak jika tidak mendapat respons positif dari masyarakat. Respon positif masyarakat tersebut dapat berupa kesediaan masyarakat untuk membeli produk dan memanfaatkan jasa yang disediakan oleh organisasi bisnis dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Oleh sebab itu ada suatu tanggung jawab yang dipikul oleh organisasi bisnis. Ada yang mengatakan bahwa tanggung jawab bisnis hanya terbatas sampai menghasilkan barang dan jasa buat konsumen dengan harga yang murah.

Ada yang mengatakan bahwa tanggung jawab bisnis adalah jangan mengambil keuntungan besar, tetapi yang wajar sajalah. Ada pendapat bahwa bisnis harus turut mengatasi masalah yang terjadi di masyarakat tanpa memperhatikan apakah bisnis secara langsung ataupun tidak langsung menimbulkan masalah di dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Laba yang diperoleh tidak harus seluruhnya dikembalikan kepada masyarakat akan tetapi sebagian harus ada yang dikembalikan kepada masyarakat melalui berbagai program sosial. Sebagai konsekuensinya, manajemen selaku pengelola organisasi bisnis harus menyadari berbagai variable dan tekanan dalam lingkungan tugas perusahaan dan lingkungan masyarakat yang lebih luas.

            Dari sudut pandang kebijakan, organisasi bisnis perlu mempertimbangkan tanggung jawab perusahaan kepada masyarakat sebagai bagian dari kewajiban utamanya. Sebab, jika perusahaan mengabaikan tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat maka masyarakat akan mengambil tindakan yang dapat memaksa perusahaan untuk mematuhinya. Banyak contoh yang dapat diambil dari kasus ini seperti: pembuangan limbah yang tidak disiapkan dengan baik, polusi udara bagi perusahaan kimia dan aluminium dan sebagainya. Organisasi bisnis harus menyadari sepenuhnya bahwa semua tanggung jawabnya jika masih ingin mempunyai otonomi yang kuat di tengah-tengah masyarakat. Menurut AB Carrol (dalam Kusnadi, 2004) ada 4 macam tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat. Keempat tanggung jawab tersebut adalah:

  1. Tanggung jawab ekonomi. Tanggung jawab ekonomi manajemen perusahaan adalah memproduksi barang dan jasa yang bernilai bagi masyarakat sehingga perusahaan dapat menyelesaikan kewajibannya dengan baik kepada tenaga kerja, kreditur, dan pemilik
  2. Tanggung jawab hukum. Tanggung jawab hukum didefinisikan sebagai kepatuhan terhadap perundang-undangan dan peraturan yang berlaku.
  3. Tanggung jawab etika. Tanggung jawab etika dari manajemen adalah pertanggungjawaban yang ditunjukkan untuk mengakui dan mengikuti berbagai system nilai dan kepercayaan yang berada di masyarakat. sistem nilai dan kepercayaan disini termasuk system nilai agama dan berbagai system kepercayaan yang berakar dari system nilai agama.
  4. Tanggung jawab kebijakan. Tanggung jawab ini merupaka konsekuensi dari kebijakan yang diambil oleh perusahaan. Pertanggungjawaban di atas harus mendapat skala prioritas perhatian sbab jika diabaikan maka akar otonomi perusahaan dalam dunia bisnis akan menghadapi berbagai masalah yang tidak ringan.

Pertanggung jawaban ekonomi dan pertanggung jawaban hukum bukan merupakan pertanggungjawaban sosial. Mereka semata-mata hanya merupakan komitmen agar tetap dapat melakukan aktivitas bisnis. Sedangkan pertanggungjawaban sosial meliputi pertanggungjawaban etika dan pertanggungjawaban kebijakan. Proses kebijakan bisnis didasarkan atas kepercayaan bahwa organisasi sebaiknya memonitor secara terus-menerus semua kejadian dan berbagai kecenderungan internal dan eksternal sehingga secara berkala setiap perubahan dapat dibuat sebagaimana yang diperlukan.

Didasarkan pada tujuan, tantangan, dan tuntutan untuk meningkatkan kualitas hidup dan mensejahterakan masyarakat, serta kompleksitas yang dihadapi, maka bisnis mempunyai beberapa fungsi. Poerwanto (2006) mengemukakan fungsi bisnis dapat dibagi ke dalam tiga aspek, yaitu: (1) pemenuhan kebutuhan dan kepuasan masyarakat, (2) memperoleh keuntungan, serta (3)  tanggung jawab sosial. Ketiganya merupakan fungsi pokok dari organisasi bisnis. Fungsi pertama bisnis adalah pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam berbagai hal. Organisasi-organisasi bisnis bebas memilih produk atau jasa yang diproduksi untuk memenuhi sebagian atau salah satu kebutuhan masyarakat sesuai dengan kemampuan, dan dapat memberikan kepuasan. Masyarakat sebagai pelanggan dari berbagai produk atau jasa mempunyai tuntutan sesuai dengan harapan dan pengorbanannya yang pada umumnya akan memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya.

Hughes dan Kappor (1985) mengemukakan, bahwa tujuan pokok dari setiap perusahaan adalah harus dapat memuaskan kebutuhan para pelanggan. Masyarakat pada umumnya tidak akan membeli barang-barang dan jasa-jasa yang telah mereka miliki, mereka akan membeli produk utamanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Ketika para pengusaha memproduksi dan menjual barang atau jasa selaras dengan keinginan dan kebutuhan pelanggan, mereka adalah pengusaha yang sukses. Tetapi jika perusahaan meninggalkan keinginan dan kebutuhan pelanggan, mungkin mereka akan merugi. Pernyataan Hughes dan Kappor tersebut menunjukkan bahwa bisnis mempunyai sasaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat baik terhadap barang-barang kebutuhan primer maupun sekunder serta memeberikan kepuasan terhadap pengorbanan yang telah dikeluarkan.

Fungsi kedua bisnis adalah untuk memperoleh dan memberikan keuntungan. Keuntungan dalam era bisnis modern mempunyai pengertian luas, maksudnya bahwa keuntungan tidak dapat ditinjau hanya dari aspek finansial saja, tetapi juga dapat ditinjau dari aspek sosial, citra perusahaan, penguasaan pasar, penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi, serta pemanfaatan waktu. Contoh, pada waktu terjadi krisis ekonomi di Indonesia, beberapa perusahaan bangkrut, tetapi banyak juga perusahaan yang tetap eksis sekalipun dalam tinjauan finansial mereka berada pada titik impas yang berarti tidak untung dan tidak rugi. Tetapi jika ditinjau dari aspek eksistensi organisasi, perusahaan masih untung karena tidak bangkrut, masih bisa memenuhi kewajiban-kewajibannya misalnya: membayar gaji karyawan, tidak melakukan pemutusan hubungan kerja, membayar pajak, masih mampu membayar utang di bank kalau punya pinjaman, masih dapat berproduksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat serta membantu stabilitas atau mendorong pertumbuhan perekonomian.

Fungsi bisnis ketiga adalah tanggung jawab sosial artinya bahwa kegiatan bisnis harus dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan perusahaan dengan kebutuhan pihak-pihak berkepentingan. Sekalipun bisnis pada umumnya berusaha untuk memaksiamalkan keuntungan finansialnya, namun pada kenyataannya tidak selalu harus demikian, karena kegiatan bisnis harus mempertimbangkan kondisi lingkungannya. Pelaku-pelaku bisnis hidup dalam masyarakat yang mana kedua belah pihak merupakan sebuah kesatuan karena saling membutuhkan. Fenomena tersebut dikatakan sebagai social responsibility in business, oleh Hughes dan Kapoor (1985) diartikan sebagai pengakuan bahwa kegiatan bisnis mempunyai pengaruh pada kehidupan masyarakat, dan mempengaruhi pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Jelasnya, tanggung jawab sosial memerlukan uang. Itulah barangkali tidak terkecuali di dalam kasus tertentu tanggung jawab sosial merupakan keuntungan dalam bisnis. Pelanggan pada akhirnya akan mengenali perusahaan-perusahaan mana yang memperhatikan tanggung jawab sosial dan yang mengabaikan tugas tersebut.

Tanggung jawab sosial merupakan bagian integral dari kinerja perusahaan dalam berinteraksi dengan lingkungannya dan mempunyai kaitan dengan citra perusahaan. Sukses tidaknya program tanggung jawab sosial perusahaan bergantung dari pihak-pihak yang berkepentingan, karena kegiatan tersebut saling mengait, dan bentuknya beragam bergantung dari berbagai tujuan, kebutuhan atau kondisi baik internal maupun eksternal.

Kegiatan bisnis berlangsung secara terus menerus, karena kebutuhan hidup manusia terus berlanjut dan bahkan berkembang dengan cepat. Dalam konteks sosial, bisnis merupakan salah satu aktivitas untuk memperkecil kesenjangan dengan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk ikut berpartisipasi sebagai produsen, mitra kerja, pemasar, pemikir/ide-ide. Bisnis juga bermanfaat bagi upaya menjaga keseimbangan tata lingkungan   baik fisik/alam, sosial-budaya maupun politik. Maksudnya, untuk memproduk suatu barang dan jasa diperlukan sumber-sumber yang kemungkinan besar akan menjadi langka. Oleh karenanya, perlu dibangun pemikiran-pemikiran dari pihak pengelola untuk memanfaatkan sumber-sumber yang digunakan secara efisien dan bertanggung jawab terhadap kehidupan sosial, budaya dan politik. Konsekuensinya adalah bahwa kebijakan bisnis harus berpijak pada aspek keseimbangan sebagai bagian integral prinsip human right dan sustainable development.

Ditinjau dari aspek tujuan bisnis dapat dipahami bahwa kegiatan bisnis untuk memenuhi kebutuhan melibatkan berbagai pihak dan mendorong terciptanya lapangan kerja baru. Bisnis merupakan ruang bagi semua orang untuk terlibat dalam usaha pemenuhan kebutuhan manusia. Bentuknya bisa mendirikan usaha, atau bekerja pada badan usaha, tergantung dari kesempatan dan kemampuan yang dimiliki masing-masing individu. Bisnis adalah pilihan bagi masyarakat.

  • Lingkungan Bisnis

            Kegiatan bisnis merupakan sistem yang sangat terkait dengan lingkungan sekitarnya. Dalam konsep ini bisnis sebagai suatu sistem organisasi yang menjadi satu kesatuan dengan sistem lain yaitu lingkungan yang melingkupinya. Organisasi berada dalam sebuah lingkungan. Lingkungan dapat menjadi faktor pendukung maupun penghambat organisasi, kegiatan organisasi akan merubah lingkungan, dan juga sebaliknya, lingkungan akan mendorong perubahan pada organisasi. Pada dasarnya, ada dua lingkaran yang berpengaruh terhadap aktivitas bisnis, yaitu lingkungan kerja dan lingkungan sosial. Organisasi bisnis berada dalam suatu lingkungan bisnis yang mempengaruhi aktivitas bisnisnya, yang terdiri atas lingkungan ekonomi, teknologi, hukum, sosial-budaya, politik seperti yang ditunjukkan oleh gambar 1.1 berikut (Soeryanto, 2010):

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.1. Lingkungan Bisnis

Lingkungan kerja memasukkan semua elemen yang relevan dan mempengaruhi organisasi secara langsung. Elemen-elemen tersebut dapat berupa pemerintah, kreditur, pemasok, karyawan, konsumen, pesaing, dan lainnya. Sementara itu, lingkungan sosial meliputi tekanan-tekanan umum yang mempengaruhi secara luas, misalnya tekanan di bidang ekonomi, teknologi, politik, hukum, dan sosial budaya. tekanan ini terutama sering berpengaruh pada keputusan jangka panjang organisasi (Shane, 2003).                                            

            Lingkungan eksternal meliputi variabel-variabel di luar organisasi yang dapat berupa tekanan umum dan trend di dalam lingkungan sosial ataupun faktor-faktor spesifik yang beroperasi di dalam lingkungan sosial ataupun organisasi. Variabel-variabel eksternal ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu ancaman dan peluang, yang mana memerlukan pengendalian jangka panjang dari manajemen puncak organisasi. Mengingat bahwa lingkungan tersebut berpengaruh terhadap aktivitas bisnis maka manajemen sebagai pengelola organisasi bisnis harus mampu mengadaptasikan dengan lingkungan yang ada.

  • Lingkungan Ekonomi

Perekonomian suatu masyarakat dapat digolongkan ke dalam salah satu sistem perekonomian, yaitu kapitalisme, sosialisme, dan komunisme. Baik pada sistem ekonomi sosialisme, pada sistem komunisme, atau sistem kapitalisme atau pasar bebas, sedikit banyak terkait atau dipengaruhi oleh lingkungan perekonomiannya. Lingkungan ekonomi adalah situasi ekonomi di saat aktivitas bisnis berlangsung. Situasi ini terkait pertumbuhan ekonomi dan stabilitas ekonomi. Faktor-faktor berikut perlu dipahami terkait lingkungan ekonomi, yakni: produk domestik bruto, srandar hidup, produktivitas, jumlah output, inflasi dan pengangguran (Eddy Soeryanto, 2010).

            Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product = GDP) adalah nilai total barang dan jasa yang diproduksi pada satu periode tertentu oleh perekonomian nasional melalui faktor produksi domestik. GDP menunjukkan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Bila GDP naik berarti negara tersebut mengalami pertumbuhan ekonomi karena jumlah outputnya naik. GDP per kapita berarti GDP per orang, menunjukkan kesejahteraan rata-rata per orang. GDP Riil berarti GDP yang telah disesuaikan.    Neraca perdagangan adalah selisih antara nilai ekonomis produk ekspor dengan produk impor. Neraca perdagangan positif apabila nilai ekspor lebih besar daripada nilai import dan negatif (defisit perdagangan) apabila sebaliknya.

            Utang nasional adalah jumlah dana yang belum dibayar pemerintah kepada negara pemberi pinjaman (kreditor). Untuk mengatasi masalah ini pemerintah dapat menggalakkan Pajak dan menjual Surat Utang (bonds) kepada masyarakat. Inflasi adalah peristiwa di mana terjadinya kenaikan harga yang meluas diseluruh sistem ekonomi suatu negara. Inflasi merugikan karena mengurangi daya beli uang Anda. Angka inflasi dapat dihitung dari perubahan indeks harga dibagi indeks harga konsumen (Consumer Price Index = CPI) awal dikali 100%. Misal CPI tahun 2013 = 365,5 dan CPI tahun 2014 = 370,8 maka Angka inflasi ={(370,8 – 365,5) / (365,5)} x 100% = 1,45%. Inflasi akan menguntungkan para pengusaha maupun pedagang, tetapi merugikan karyawan yang berpenghasilan tetap. Deflasi akan menguntungkan karyawan yang berpenghasilan tetap, tetapi merugikan perusahaan. Pada umumnya inflasi kurang dari 5% setahun (dianggap lunak) merupakan tingkatan yang cukup baik untuk perkembangan ekonomi. Jika inflasi tinggi maka dapat memberikan pengaruh buruk pada masyarakat seperti pengangguran (Manullang, 2013).

            Resesi adalah periode menurunnya jumlah output yang diukur oleh GDP riil. Pada saat resesi, produsen membutuhkan lebih sedikit karyawan atau tenaga kerja sehingga pengangguran meningkat. Resesi yang parah dan berlarut-larut disebut depresi. Kebijakan fiskal adalah kebijakan ekonomi pemerintah dalam mengumpulkan dan mengeluarkan pendapatannya. Usaha yang dilakukan pemerintah Indonesia guna meningkatkan pendapatan negara melalui pajak merupakan contoh kebijakan fiskal.

            Kebijakan moneter adalah kebijakan ekonomi pemerintah dalam pengendalian uang negara melalui Bank Sentral, seperti menaikkan atau menurunkan suku bunga. Untuk merangsang perekonomian maka kebijakan moneter pemerintah adalah dengan menurunkan suku bunga. Untuk menstabilkan harga, mengurangi tingkat pengangguran dan fluktuasi produksi, pemerintah dapat menerapkan kebijakan fiskal dan moneter secara bersamaan. Kebijakan ini disebut kebijakan stabilisasi. Salah satu faktor yang menyebabkan sebuah perusahaan dapat bersaing adalah karena mempunyai produktivitas yang tinggi. Produktivitas banyak bergantung pada teknologi.

  • Lingkungan Teknologi

Pemanfaatan informatioan technology (IT) oleh banyak perusahaan dalam melaksanakan business process-nya telah menginspirasi para pemimpin perguruan tinggi menerapkan IT untuk meningkatkan kemampuan kompetitif dan mentransformasi pelayanan, proses kerja, dan hubungan antar komunitas civitas akademik, peneliti, dan berbagai level kepentingan dan stakeholder. Karena itu  penerapan IT perlu disusun secara hati-hati dan bersinergi antara teknologi dan spesialis bisnis perguruan tinggi. Pada banyak kasus, tata cara penerapan IT organisasi dan pengaruhnya, serta penyelenggaraan IT organisasi telah dipadu dengan terencana dan hati-hati melalui penerapan kebijakan tata kelola IT (IT governance). Hal ini dilakukan untuk meningkatkan peran IT dalam capaian kinerja, peningkatan asset organisasi, mentransformasi pelayanan, pasar, proses kerja, hubungan-hubungan bisnis, dan meningkatkan keunggulan kompetitif  perguruan tinggi.

Sementara itu, keberhasilan beberapa perusahaan dalam meningkatkan capaian tujuan dan sasaran, kemampuan kompetitif, dan keuntungan bisnisnya melalui penerapan IT governance telah banyak menginspirasi para pemimpin perguruan tinggi untuk meningkatkan IT governance isntitusinya. Pada sisi yang lain, cukup banyak perguruan tinggi yang telah menerapkan IT menyatakan belum puas dengan kinerja dan peranan IT terhadap peningkatan kinerja, pelayanan dan pencapaian tujuan organisasi. Peranan IT terhadap peningkatan kinerja dirasakan belum cukup signifikan seperti yang diharapkan. Karenanya para pemimpin perguruan tinggi telah membuat berbagai usaha untuk meningkatkan pemahaman tentang bagaimana IT dioperasikan, dan yang lebih penting adalah bagaimana IT dapat digunakan untuk mempengaruhi corporate governance, meningkatkan kinerja, mencapai tujuan dan sasaran, dan meningkatkan keunggulan kompetitif organisasi.

Lingkungan teknologi, meliputi teknologi produk (manufaktur) dan jasa serta teknologi bisnis, adalah pengetahuan manusia, peralatan, metode kerja, sistem pengolahan, peralatan etektronika, peralatan komunikasi, perangkat keras maupun perangkat lunak yang digunakan. Persaingan Intel dan AMD (Advanced Micro Devices) di bidang mikroprosesor (komponen pengolahan mikrokomputer) menunjukkan contoh pengaruh lingkungan teknologi atas produk yang dibuat. Baik Intel maupun AMD terus berlomba melakukan inovasi teknologi untuk menjadi yang terbaik di bidang mikroprosesor. Teknologi proses bisnis seperti penerapan Perencanaan Sumber Daya Perusahaan atau ERP (Enterprise Resource Planning) merupakan inovasi teknologi bisnis terbaru untuk mengelola dan mengorganisasi proses perusahaan di tingkat lini produk, departemen dan lokasi geografis (manajemen bahan baku, perencanaan produksi, manajemen pesanan. laporan keuangan).

  • Lingkungan Hukum-Politik

Kekuatan perusahaan berada dalam suatu kerangka hukum, sehingga faktor hukum mempengaruhi keputusan-keputusan serta transaksi-transaksi dalam perusahaan. Lingkungan hukum dan politik berperan dalam membuat aturan bisnis tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam bisnis. Undang-undang tentang perlindungan konsumen, hukum bisnis, regulasi bisnis, antitrust dan pengaruh pemerintah atas suatu aktivitas bisnis menjadi bagian dari proses bisnis. Sebagai contoh, pembelian saham Telkom oleh singtel dari Singapura menuai kecaman publik berkepanjangan di Indonesia. Perusahaan asing tidak mau berinvestasi di negara seperti Irak dan Afganistan yang tidak stabil ataupun di negara yang tinggi tingkat korupsinya.

Pemerintahan yang sering berganti sudah barang tentu dapat sering berubah kebijakan ekonominya yang tentu sangat tidak member kenyamanan bagi para manajer perusahaan. Kebijakan-kebijakan pemerintah sudah tentu akan mendorong atau bahkan mungkin merongrong inisiatif para pengusaha berinvestasi, misalnya diberikannya tax-holiday bagi investasi-investasi tertentu akan menggairahkan investasi di bidang tersebut. Demikian pula penetapan besarnya pajak perseroan dan lain sebagainya akan mengurangi keuntungan bagi perusahaan.

  • Lingkungan Sosial – Budaya

Lingkungan sosial-budaya terkait dengan adat-istiadat, kebiasaan, nilai dan karakteristik demografis masyarakat di lokasi tempat usaha berada. Pilihan dan selera konsumen dapat berbeda-beda, bervariasi atau berubah untuk masa waktu tertentu untuk tiap daerah yang berbeda. Sebagai contoh, masyarakat Padang senang dengan makanan pedas dan berlemak sementara masyarakat Sunda lebih suka makanan tidak pedas dan sayuran mentah. Di Indonesia gelar sarjana masih dipersyaratkan dalam bekerja sementara di negara lain perusahaan lebih melihat skill yang dimiliki calon karyawannya.

Tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) telah menjadi topik hangat dan menarik dalam beberapa tahun terakhir, dengan ratusan perusahaan baru mengumumkan inisiatif atau penerbitan laporan menjelaskan usaha dan kemajuan mereka. Bahkan, menilai dari jumlah publikasi, konferensi, dan konsultasi di lapangan. CSR mungkin telah menjadi mini-industri sendiri. Asumsi yang terbesar luas saat ini bahwa CSR adalah suatu moral yang baik dan sangat penting bagi dunia usaha serta baik bagi masyarakat. Tanggung jawab sosial perusahaan merupakan komitmen bisnis perusahaan terhadap kelompok dan individu dalam lingkungannya yang meliputi konsumen, karyawan, investor, pemasok, dan komunitas lokal.

            Meskipun lingkungan sekitar tidak dapat dikendalikan namun manajemen senantiasa harus mengupayakan agar aktivitas yang dilakukan tidak bertentangan dengan lingkungan dan bahkan harus bisa memberdayakan kondisi lingkungan untuk dapat melayani semua pihak yang berkepentingan terhadap perekonomian dari organisasi bisnis (atau yang biasa disebut stakeholder) sesuai dengan kepentingan masing-masing. Beberapa kepentingan dari setiap stakeholder tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Pemilik (Owners) adalah mereka yang secara historis maupun hukum dinyatakan sebagai pemilik akibat adanya penyertaan modal, atau berdasarkan ketentuan lainnya dinyatakan sebagai pemilik organisasi. Kepentingan pemilik terhadap organisasi diakibatkan oleh penyertaan modal, karena umumnya mereka menginginkan tingkat pengembalian (return) atas investasi modal yang ditanamkan.
  2. Pekerja (Employee) adalah sumber daya manusia dari organisasi atau perusahaan yang bergelut dalam aktivitas operasional perusahaan dan menjalankan tugas-tugas keseharian organisasi berdasarkan apa yang telah ditetapkan oleh manajemen. Karenanya dalam menjalankan tugas, para pekerja telah mngorbankan sumber daya yang dimilikinya baik berupa tenaga maupun pikiran untuk pencapaian tujuan organisasi. Sebagai bagian dari organisasi bisnis, para pekerja mempunyai kepentingan sehubungan dengan pengorbanan yang telah diberikan. Kepentingan tersebut diapresiasikan oleh organisasi bisnis berupa imbalan seperti gaji dan upah, komisi, tunjangan kesehatan dan kesejahteraaan dan penghargaan yang sifatnya non material.
  3. Pengelola (Management) adalah oarang-orang yang menurut para pemilik organisasi atau perusahaan dinyatakan atau ditunjuk sebagai pengelola organisasi untuk suatu periode tertentu. Beberapa kepentingan pihak manajemen utamanya berhubungan dengan pengembangan usaha organisasi bisnis, seperti menyangkut modal, kebijakan sistem penggajian dan imbalan, investasi, pengadaan peralataan dan sebagainya.
  4. Kreditur (Creditor) adalah pihak ketiga yang mempunyai dana lebih dan karena kepercayaannya terhadap suatu organisasi bisnis, mereka mau meminjamkan dana yang dimilikinya atau menginvestasikan dananya untuk kepentingan organisasi bisnis yang bersangkutan. Termasuk dalam pihak ketiga ini adalah: perbankan, pemberi pinjaman atau pemegang obligasi juga investor.
  5. Pelanggan (Customer) adalah masyarakat yang secara langsung memanfaatkan, menggunakan, dan mengajukan permintaan atas barang atau jasa yang ditawarkan oleh organisasi. Sebagai pelanggan mereka mempunyai kepentingan dengan perusahaan terutama berhubungan dengan kualitas produk dan jasa yang ditawarkan.
  6. Pemasok (Suppliers) adalah pihak yang terkait langsung dalam kegiatan bisnis dari sebuah organisasi, khususnya organisasi bisnis yang melakukan kegiatan produksi barang jadi dari berbagai jenis bahan baku.
  7. Pemerintah (Government) adalah pihak yang atas legitimasi politik tertentu di suatu negara, diangkat dan bertugas untuk mewujudkan masyarakat kearah yang lebih baik dalam pembangunan di segala bidang. Selain itu pemerintah juga berfungsi sebagai pembuat keputusan dalam perundang-undangan dan pembuat kebijakan di bidang moneter dan fiskal sekaligus menjamin agar stabilitas ekonomi yang melingkupi aktivitas bisnis tetap kondusif dan stabil.
  8. Pesaing (Competitor) adalah organisasi bisnis lain yang menjalankan bisnis yang sama dengan organisasi yang kita jalankan. Karena bisnis yang dijalankan sama, maka pesaing merupakan tantangan (sekaligus ancaman) yang dihadapi organisasi dalam meraih pelanggan. Kepentingan yang terjadi di pasar adalah persaingan yang sehat dan tetap menjaga etika, norma dan peraturan serta tetap menjunjung tinggi hak-hak konsumen.

            Selain memperhatikan lingkungan bisnis, manajemen selaku pengelola bisnis ataupun para pelaku bisnis harus memperhatikan faktor iklim bisnis yang ada di sekitarnya. Iklim bisnis dalam hal ini menurut Stern dalam dalam Kuncoro, (2006) adalah semua kebijakan, kelembagaan, dan lingkungan, baik yang sedang berlangsung maupun yang diharapkan terjadi di masa depan, yang dapat mempengaruhi kegiatan bisnis. Iklim bisnis dipengaruhi banyak faktor. Berdasarkan survei, faktor utama yang mempengaruhi iklim bisnis adalah tenaga kerja dan produktivitas tenaga kerja, perekonomian daerah, infrastruktur fisik, kondisi sosial politik, dan institusi. Faktor institusi yang dimaksud, terutama ialah institusi birokrasi (pemerintah). Untuk Kasus Indonesia, birokrasi banyak disorot karena justru melahirkan iklim bisnis yang tidak kondusif. Studi bank dunia (2004) menunjukkan, alasan utama investor khawatir berbisnis di Indonesia adalah ketidakstabilan ekonomi makro, ketidakpastian kebijakan, korupsi (oleh pemerintah daerah maupun pusat), perizinan usaha, dan regulasi pasar tenaga kerja (Kuncoro, 2006).

            Ketidakstabilan ekonomi makro itu misalnya diindasikan dengan berbagai kebijakan makro yang justru melumpuhkan dunia bisnis, besar maupun kecil. Seperti kenaikan harga BBM  yang rata-rata lebih dari 120%, kenaikan suku bunga, kenaikan upah minimum, dan segera menyusul kenaikan tarif dasar listrik dan gas. Ketidakpastian kebijakan contohnya adalah pemberlakuan PP No. 63/2003 yang diberlakukan surut sejak 1995 di Batam. PP mengenai pajak penjualan barang mewah (PPnBM) dan pajak pertambahan nilai (PPN) tersebut mengakibatkan 25 perusahaan penanaman modal asing (PMA) dikabarkan akan hengkang dari Batam. Mengenai pungli, reputasi birokrasi Indonesia tak usah diragukan lagi. Pungli telah ada sejak mencari bahan baku, memproses input menjadi output, hingga tahapan ekspor. Rata-rata persentase pungli terhadap biaya ekspor setahun adalah 7,5% yang diperkirakan sebesar Rp 3 triliun atau sekitar 153 juta US$ (Kuncoro, 2006). Perizinan usaha juga sering dikeluhkan. Kegiatan bisnis sering tertunda karena untuk melakukan bisnis di Indonesia butuh waktu 168 hari untuk mengurus perizinan berbelit-belit dengan biaya yang dapat mencapai rata-rata 14,5% dari rata-rata pendapatan pengusaha.

            Inilah gambaran sekilas fakta iklim bisnis, sekaligus fakta iklim bisnis yang tidak kondusif. Iklim bisnis Indonesia yang tidak kondusif tersebut, tak dapat dilepaskan dari sistem kapitalisme yang ada. Karakter-karakter dasar sistem kapitalisme yang destruktif telah menjadi faktor determinan (menentukan) terhadap penciptaan iklim bisnis. Adam Smith dalam bukunya The Wealth of Nations (1776) menegaskan bahwa selfinterest merupakan kekuatan pembimbing bagi individu untuk melakukan aktivitas ekonomi. Kata Adam Smith, bukan karena kemurahan hati tukang daging, pembuat bir, atau tukang roti kita berharap dapat makan malam, melainkan karena mereka mengejar kepentingan pribadi masing-masing (Jalaluddin, 1991).

            Ketidakjelasan kebijakan seringkali membuat akses terhadap informasi dan pasar, permodalan, dan teknologi hanya dinikmati para pengusaha besar yang berkolusi dengan birokrat yang korup. Pengusaha kecil harus rela mati akibat kompetisi tidak fair ini. Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya juga dapat dikembalikan pada salah satu karakter dasar kapitalisme, yaitu penerapan prinsip Darwinisme Sosial yang kejam ala Thomas R. Malthus (w. 1834). Esensi prinsip itu, yang berhak bertahan hidup hanyalah yang terkuat (survival for the fittest) (Chapra, 2000). Walhasil, iklim bisnis yang tidak kondusif itu sebenarnya hanya gejala (symptom) luar dari sebuah masalah inheren yang lebih mendasar, yakni eksistensi sistem ekonomi kapitalistik yang pada dasarnya destruktif. Maka solusi tidak cukup kita hanya melakukan reformasi pelayanan publik (seperti perizinan) atau perbaikan moral birokrat. Diantara faktor-faktor yang ikut menentukan iklim bisnis adalah:

  • Investasi

            Investasi adalah penggunaan sumber-sumber untuk menciptakan modal baru. Uang yang dikeluarkan untuk investasi baru tersebut akan memberikan pengaruh yang besar terhadap perekonomian. Dalam kenyataannya pengaruh tersebut lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah yang dikeluarkan langsung pada investasi. Ini berarti pengaruh investasi itu berlipat ganda. Adapun multiplier (pengganda) yang menyebabkan terjadinya pelipatgandaan itu dapat terjadi seperti berikut: Jika sebuah pabrik didirikan dalam masyarakat, para penyedia (supplier) dan para pekerja bangunan setempat dapat meningkatkan penghasilannya. Mereka menghemat sebagian dari penghasilannya dan sebagian dibelanjakan barang-barang lain. Orang-orang darimana mereka membeli barang dan jasa juga meningkat penghasilannya: Mereka membelanjakan sebagian dari penghasilannya yang meningkat itu. Dan para penyedia barang serta jasa yang mereka beli juga memiliki uang lebih banyak, dan sejenisnya. Multiplier tersebut menjelaskan mengapa investasi itu menjadi alat yang mempunyai daya untuk perkembangan bisnis.

 

 

  • Tabungan

            Jumlah yang diputuskan oleh para pekerja untuk ditabung akan menentukan kuat-lemahnya multiplier tersebut. Semakin banyak tabungan berarti semakin sedikit pengeluaran dan semakn lemah multiplier tersebut. Tetapi tabungan ini juga menjadi sumber untuk investasi modal di masa mendatang. Apa yang penting di sini adalah adanya keteraturan dan kepercayaaan terhadap tabungan sehingga iklim bisni itu diramalkan.

  • Pemerintah

            Pemerintah dapat berperan sebagai pengelola sistem bisnis. Pemerintah dapat meminjam uang untuk membelanjai kegiatannya. Dapat terjadi bahwa apa yang dipinjam lebih besar dari apa yang diterimanya. Jika hal ini terjadi berarti pemerintah mengakui adanya defisit. Pembelanjaan yang defisit ini dapat menjadi masalah dan dapat juga tidak menjadi masalah, hal tersebut sangat tergantung pada situasinya apakah dapat medukung terjadinya inflasi atau tidak. Pemerintah melalui kebijakan fiskal maupun kebijakan moneter dapat mempengaruhi kegiatan bisnis. Fiskal dapat digunakan untuk mempengaruhi permintaan dengan meningkatkan pajak (mengurangi permintaan) atau meningkatkan pengeluaran pemerintah (meningkatkan permintaan).

            Masa resesi yang mulai dirasakan tahun 1929 tidak hanya menyangkut perekonomian nasional tetapi juga perekonomian dunia, merupakan kondisi perekonomian yangcukup berat dan salah satu tugas pemerintah adalah mengatasi keadaan tersebut dengan meningkatkan ekspor non migas. Tiga persoalan yang selalu mendapat perhatian dari pemerintah maupun masyarakat karena dapat mempengaruhi setiap konsumen dalam sistem bisnis kita adalah:

  1. Inflasi. Pada masa pemerintahan Orde lama tingkat inflasi di Indonesia cukup tinggi yang mencapai beberapa ratus persen. Inflasi adalah suatu kenaikkan harga-harga barang dan jasa secara umum dalam perekonomian.
  2. Produktifitas. Produktifitas adalah keluaran barang dan jasa per unit kerja. Untuk meningkatkan produktifitas orang tidak cukup hanya dengan bekerja keras, tetapi memerlukan peralatan dan metode kerja yang lebih baik. Di samping itu juga diperlukan peningkatan investasi riset dan pengembangan dan teknik-teknik manajemen yang lebih maju.
  3. Pengangguran. Tingkat pengangguran di Indonesia tidak dapat ditentukan secara tepat karena sulitnya mendapatkan data yang akurat. Bersamaan dengan resesi yang terjadi akhir-akhir ini, banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan. Pada umumnya pemutusan hubungan kerja ini terjadi karena perusahaan tidak mampu lagi membayar mereka sebagai akibat turunnya penghasilan (dari penjualan) secara drastis. Namun tidak mustahil bila kondisi perekonomian membaik yang berpengaruh juga pada kondisi perusahaan, maka pemutusan hubungan kerja ini dapat dibatalkan, dengan kata lainmereka ditarik kembali untuk bekerja.

Investasi yang dilakukan pemerintah melalui ABP Negara biasanya ditenderkan kepada perusahaan-perusahaan swasta untuk mengerjakan dan hal ini membuka kemungkinan perusahaan-perusahaan besar dapat berkarya, mengerjakan proyek-proyek besar tersebut. Selain itu pemerintah sering memberi subsidi kepada lembaga-lembaga masyarakat, bahkan mereka yang tidak mempunyai pekerjaan (pengangguran karena PHK) kepada kaum wanita atau kepada kaum miskin di masyarakat. Adanya pemberian subsidi-subsidi tersebut sudah tentu akan menimbulkan daya beli dan selanjutnya akan mengakibatkan daya hidup perusahaan-perusahaan, karena uang yang diterima oleh anggota masyarakat dari subsidi pemerintah itu, akhirnya akan dibelanjakan untuk membeli barang-barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.

Rangkuman

            Kata bisnis berasal dari bahasa Inggris business. Bisnis dapat didefinisikan sebagai segala aktivitas dari berbagai institusi yang menghasilkan barang dan jasa yag perlu untuk kehidupan masyarakat sehari-hari. Secara umum ada sembilan macam kegiatan bisnis, yaitu: 1. Usaha pertanian. 2. Usaha produksi bahan mentah. 3. Industri atau manufaktur. 3. Kontruksi. 4. Usaha perdagangan besar, eceran, rumah makan dan akomodasi. 5. Usaha angkutan, pergudangan dan komunikasi. 6. Usaha financial, asuransi dan real estate. 6. Usaha jasa. 7. Usaha yang dilakukan oleh pemerintah.

            Tujuan dari organisasi bisnis pada dasarnya dapat meliputi: 1. Menghasilkan barang dan jasa secara efisien berbasis pemenuhan kepuasan konsumen (customer satisfaction). 2. Menciptakan kinerja yang mengutungkan bagi perusahaan melalui aktivitas yang dapat menciptakan nilai bagi perusahaan (value creation). 3. Melindungi kesehatan dan kesejahteraan karyawan. 4. Melatih menjadi warga masyarakat yang baik dalam kaitannya dengan masyarakat dalam bertetangga. 5. Mendukung pelaksanaan hukum dan pemerintah. 6. Menyediakan pertumbuhan yang sehat bagi perusahaan dan memperoleh keuntungan yang sehat pula. 7. Menjaga kualitas lingkungan melalui operasi perusahaan dan program kemasyarakatan.

            Kegiatan bisnis merupakan sistem yang sangat terkait dengan lingkungan sekitarnya. Dalam konsep ini bisnis sebagai suatu sistem organisasi yang menjadi satu kesatuan dengan sistem lain yaitu lingkungan yang melingkupinya. Organisasi berada dalam sebuah lingkungan. Lingkungan dapat menjadi faktor pendukung maupun penghambat organisasi, kegiatan organisasi akan merubah lingkungan, dan juga sebaliknya, lingkungan akan mendorong perubahan pada organisasi. Pada dasarnya, ada dua lingkaran yang berpengaruh terhadap aktivitas bisnis, yaitu lingkungan kerja dan lingkungan sosial. Organisasi bisnis berada dalam suatu lingkungan bisnis yang mempengaruhi aktivitas bisnisnya, yang terdiri atas lingkungan ekonomi, teknologi, hukum, sosial-budaya, dan politik.

Evaluasi Mandiri

  1. Jelaskan definisi ringkas mengenai pengertian bisnis!
  2. Untuk menjalankan usahanya, perusahaan memerlukan apa yang dinamakan faktor-faktor produksi. Uraikan secara ringkas mengenai faktor-faktor produksi yang dimaksud tersebut!
  3. Terdapat beberapa faktor yang ikut menentukan iklim bisnis, sebutkan faktor-faktor tersebut beserta penjelasannya!
  4. Key result area meiputi apa saja dan jelaskan!
  5. Sistem bisnis dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, sebutkan faktor tersebut dan jelaskan!
  6. Sebutkan beberapa klasifikasi bisnis yang dikembangkan di Indonesia beserta contoh-contoh kasus!
  7. Jelaskan istilah-istilah berikut: inflasi, deflasi, pengangguran, investasi, produktivitas, dan Corporate Social Responsibility!
  8. Kegiatan bisnis merupakan sistem yang sangat terkait dengan lingkungan sekitarnya. Sebutkan dan jelaskan pengaruh lingkungan bisnis tersebut!
  9. Jelaskan secara diagramatis konsep Enterprise Resource Planning dalam menjalankan bisnis yang kompetitif!
  10. Jelaskan istilah-istilah berikut: pemilik (owners), pekerja (employee), pengelola (management), kreditur (creditor), pelanggan (customer), pemasok (suppliers), pemerintah (government), dan pesaing (competitor)!
Sikap kita mengontrol hidup kita. Sikap merupakan senjata rahasia yang bekerja
 selama 24 jam per hari, untuk sesuatu yang baik maupun yang buruk. Merupakan hal
yang sangat penting jika kita mengetahui bagaimana mengendalikan
dan mengontrol kekuatan yang dahsyat ini.

Tom Blandi

Ada sedikit perbedaan dalam diri setiap orang namun perbedaan yang kecil itu
dapat membuat perbedaan yang besar. Perbedaan kecil itu adalh sikap.
Perbedaan besarnya adalah apakah sikap itu positif atau negatif.

Clement Stone

Leave A Reply