Back

Teori Responsi Butir dan SBMPTN

Penilaian hasil ujian tulis seleksi masuk perguruan tinggi negeri tahun 2018 diubah. Tujuannya agar lebih mampu menyeleksi calon mahasiswa dengan potensi akademik lebih baik. Permenristekdikti Nomor 90 Tahun 2017 tentang Penerimaan Mahasiswa Baru Program Sarjana pada Perguruan Tinggi Negeri ditetapkan tiga jalur Penerimaan Mahasiswa Baru di PTN tahun 2018 menurut Sholeh Hidayat dalam Kabar Banten (4/5/2018), yaitu: 1. Jalur SNMPTN, seleksi berdasarkan hasil penelusuran prestasi dan portofolio akademik siswa yang bersumber dari Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS). 2. SBMPTN, seleksi berdasarkan hasil ujian tertulis dengan metode ujian tulis dengan metode Ujian Tulis Berbasis Cetak (UTBC) atau Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) atau kombinasi hasil ujian tulis dan ujian keterampilan calon mahasiswa. 3. Seleksi Mandiri, seleksi yang diatur dan ditetapkan oleh masing-masing PTN dan dapat memanfaatkan nilai hasil SBMPTN. 

Penilaian SBMPTN tahun 2018 menggunakan penilaian berdasarkan Teori Responsi Butir atau Item Response Theory. Calon mahasiswa kini dapat diukur melalui mutu soal yang dijawabnya secara benar: akan tampak bahwa apakah jawabannya benar karena memang mampu mengerjakan soal atau karena kebetulan menebak dengan benar. Penilaian skor SBMPTN tidak lagi dengan cara konvensional atau dengan sistem hadiah dan hukuman. Pada pola sebelumnya, jawaban benar diberi skor +4 dan jawaban salah diberi skor -1. Peluang untuk menebak jawaban pilihan ganda selama ini jadi lebih besar. Peserta cenderung menyiasatinya untuk mendapat skor tinggi, seperti yang umumnya diajarkan di tempat bimbingan belajar. 

Teori Pengukuran Klasik 

Karakteristik butir dalam teori responsi butir terdiri dari daya beda butir, taraf sukar butir dan faktor kebetulan menjawab betul pada butir soal. Kemampuan siswa merupakan suatu kontinum dari rendah ke tinggi. Biasanya skor siswa tinggi menunjukkan kemampuan tinggi dan skor siswa rendah menunjukkan kemampuan siswa rendah. Biasanya, pada skor siswa tinggi atau kemampuan tinggi, proporsi jawaban betul  juga tinggi. Taraf sukar butir adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks. Indeks tingkat kesukaran ini pada umumnya dinyatakan dalam bentuk proporsi yang besarnya berkisar 0,00 – 1,00. 

Semakin besar indeks tingkat kesukaran yang diperoleh dari hasil hitungan, berarti semakin mudah soal itu. Perhitungan indeks tingkat kesukaran ini dilakukan untuk setiap nomor soal. Pada prinsipnya, skor rata-rata yang diperoleh peserta didik pada butir soal yang bersangkutan dinamakan tingkat kesukaran butir soal itu. Fungsi tingkat kesukaran butir soal biasanya dikaitkan dengan tujuan tes. Misalnya untuk keperluan ujian semester digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran sedang, untuk keperluan seleksi digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran tinggi, dan untuk keperluan diagnostik biasanya digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran rendah atau mudah.

Ada butir yang memiliki ciri: dapat dijawab dengan betul oleh kebanyakan responden yang berkemampuan tinggi, tidak dapat dijawab dengan betul oleh kebanyakan responden yang berkemampuan rendah. Butir demikian memiliki daya untuk membedakan responden berdasarkan kemampuan mereka. Butir memiliki parameter berupa daya beda butir. Daya beda butir adalah kemampuan suatu butir soal yang dapat membedakan antara siswa yang telah menguasai materi yang ditanyakan dan siswa yang belum menguasai materi yang ditanyakan. Jika tes atau soal mengukur hal yang sama, dapat diharapkan bahwa setiap peserta tes mampu menjawab soal dengan benar dan yang tidak mampu akan menjawab salah. Tingkat kesukaran berpengaruh langsung pada daya pembeda soal. Selain itu, ada kalanya butir itu berbentuk pilihan ganda sehingga responden yang tidak memiliki kemampuan pun masih mungkin menjawab benar melalui terkaan atau tebakan.

Pada teori klasik, taraf sukar butir bergantung (dependent) kepada kemampuan siswa. Bagi siswa berkemampuan tinggi, butir menjadi tidak sukar (mudah). Bagi siswa berkemampuan rendah, butir menjadi sukar. Pada butir tidak sukar (mudah), tampak kemampuan siswa menjadi tinggi. Pada butir sukar, tampak kemampuan siswa menjadi rendah. Taraf sukar butir bergantung kepada kemampuan siswa. Butir yang sama akan terasa berat bagi mereka yang berkemampuan rendah dan terasa ringan bagi mereka yang berkemampuan tinggi.

Kemampuan siswa bergantung kepada taraf sukar butir. Mereka yang mengerjakan butir sukar akan tampak berkemampuan rendah sedangkan mereka yang mengerjakan butir mudah akan tampak berkemampuan tinggi. Teori pengukuran klasik (teori ujian klasik) tidak dapat digunakan untuk pencocokan kemampuan responden dengan taraf sukar butir (karena mereka dependen). Pada teori klasik, terdapat interdependensi di antara kemampuan responden dan taraf sukar butir. Sebaiknya cara penyebutan hasil pengukuran disandingi dengan nama alat ukur. Misalnya, 450 TOEFL. Hasil ukur dapat dipahami melalui kaitannya dengan alat ukur yang digunakan (TOEFL). Sebaiknya nama alat ukur dikenal secara luas oleh banyak orang.

Teori Responsi Butir

Pada ujian, teori pengukuran modern dikenal  sebagai teori ujian modern (modern test theory). Pada pengukuran modern, taraf sukar butir tidak dikaitkan langsung dengan kemampuan siswa. Pada pengukuran modern, taraf sukar butir dikaitkan langsung dengan karakteristik butir. Karakteristik butir ditentukan oleh responsi para siswa (baik kemampuan tinggi maupun kemampuan rendah) sehingga dikenal sebagai teori responsi butir (Item Response Theory). Teori responsi butir dikenal juga dengan berbagai nama: Item Response Theory (IRT), Latent Trait Theory (LTT), Item Characteristic Curve (ICC), Item Characteristic Function (ICF). Nama yang paling banyak digunakan adalah Item Response Theory atau Teori Responsi Butir. Pada dasarnya, karakteristik butir adalah regresi di antara kemampuan dan probabilitas menjawab betul.

Teori responsi butir membebaskan siswa dan butir dari interdependensi, sehingga taraf sukar butir tidak lagi bergantung (invarian) kepada kemampuan siswa. Kemampuan siswa tidak lagi bergantung (invarian) kepada taraf sukar butir. Melalui independensi di antara taraf sukar butir dan kemampuan siswa, pada pengukuran, kita dapat memilih butir yang cocok dengan siswa. Dalam hal terjadi kecocokan di antara taraf sukar butir dan kemampuan siswa, maka: kalau taraf sukar butir diketahui, kemampuan siswa dapat ditentukan. Kalau kemampuan siswa diketahui, taraf sukar butir dapat ditentukan.

Proporsi jawaban benar di dalam sebuah kelompok peserta tes tidak secara nyata mengukur kesulitas tes tersebut. Proporsi tersebut tidak hanya menjelaskan butir tes tetapi juga kelompok peserta yang dites. Ini merupakan suatu tujuan dasar untuk kesepakatan analisis statistik butir tes, yang dikenal dengan istilah invariansi. Yang menjadi dasar invariansi adalah taraf sukar butir tidak langsung dikaitkan dengan kemampuan responden melainkan dikaitkan dengan lengkungan karakteristik butir. 

Seleksi masuk ke perguruan tinggi negeri perlu lebih adil dalam memilih calon mahasiswa baru. Tidak cukup hanya mendapatkan skor tinggi. Harus dilihat pola responsnya terhadap soal, dari tingkat mudah hingga sulit, yang sesuai dan konsisten. Dengan Teori Responsi Butir (TRB) menurut Bambang Sumintono dalam Kompas (29/4/2018), makna skor peserta menjadi lebih berkualitas. Deteksi kemampuan calon mahasiswa secara kognitif yang konsisten bisa dilakukan untuk mengetahui apakah dia cocok dengan program studi yang dipilih atau tidak. Hal ini dapat menurunkan angka putus kuliah karena salah memilih jurusan. 

Peserta yang banyak menjawab benar bisa diketahui menjawab soal dengan konsisten atau tidak. Jika mampu menjawab benar pada soal sulit, tetapi soal biasa salah, bisa jadi karena ceroboh. Sebaliknya jika bisa menjawab soal sulit, tetapi skor rendah, bisa jadi karena tebak-tebakan. Kemampuan dia bisa diartikan di bawah tingkat kesukaran soal. Calon peserta seperti ini jika dipaksakan masuk ke kedokteran misalnya, kerjanya bisa sembrono sehingga diagnosis pada pasien bisa salah. Karena jumlah penduduk yang besar, Propinsi Banten memiliki potensi orang pintar yang banyak. Namun pemetaan kemampuan peserta tes tertinggal karena alat analisis yang digunakan masih menggunakan pengukuran klasik. 

Analisis soal dengan TRB belum banyak dipahami, termasuk oleh bimbingan belajar yang diserbu siswa untuk bisa menembus PTN. Selama ini siswa lebih diajarkan untuk mencari jawaban benar sebanyak mungkin. Namun yang menjadi pertimbangan bukan hanya skor yang tinggi, melainkan kesesuaian jurusan dan konsistensi kemampuan kognitif. Jadi, pola seleksinya akan lebih tepat dan adil dalam memotret kemampuan tes. 

Tes SBMPTN meliputi kemampuan dan potensi akademik, terdiri dari mata uji Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, TPA Verbal, TPA Numerikal, dan TPA Figural. Juga ada tes kemampuan dasar sains dan teknologi, terdiri dari mata uji Matematika IPA, Biologi, Kimia, dan Fisika. Ada pula tes kemampuan dasar sosial dan humaniora, terdiri dari mata uji Sosiologi, Sejarah, Geografi, dan Ekonomi. Penulis berharap pemerintah dan panitia dapat memebrikan akses terhadap data dan proses tes serta penilaian TRB. Hal ini untuk memberikan masukan akuntabilitas dan transparansi publik. 





Leave A Reply