SKALA PENGUKURAN
Anda bisa menjadi apa pun yang Anda inginkan, jika saja keinginan Anda
cukup besar dan tindakan Anda sesuai dengan keyakinan Anda, karena apa pun
yang bisa diciptakan dan diyakini pikiran, hal itu bisa dicapai.
Napoleon Hill
Pembahasan Materi
Bab ini membahas tentang pengertian skala dalam pengukuran, macam-macam skala pengukuran, pengertian skala nominal, ordinal, interval, dan skala rasio beserta contoh-contohnya, tipe-tipe skala pengukuran: skala Likert, skala Guttman, skala differensial semantic, rating scale, skala Thurstone, skala Borgadus, dan berbagai skala pengukuran yang lain.
- Pengertian Skala
Skala biasanya digunakan untuk mengecek dan menetapkan nilai suatu faktor kualitatif dalam ukuran-ukuran kuantitatif. Skala adalah alat yang disusun dan digunakan oleh peneliti untuk mengubah respons tentang suatu variabel yang bersifat kualitatif menjadi data kuantitatif (Mahmud, 2011: 181). Dalam pengukuran, variabel yang bersifat kaulitatif berskala nominal, sedangkan variabel kuantitatif berskala ordinal, interval atau rasio. Melalui pengubahan ini, variabel yang berskala nominal diubah ke dalam variabel yang berskala interval. Jadi dalam konteks penelitian, penggunaan instrumen skala dimaksudkan untuk menjaring data yang berskala interval (Muhammad Ali, 2009).
Hasil dari skala harus diinterpretasikan secara hati-hati karena selain menghasilkan gambaran yang kasar, jawaban responden tidak begitu saja langsung mudah dipercaya. Bergman dan Siegel dalam Arikunto (2010) memerinci hal-hal yang mempengaruhi ketidakjujuran responden, yaitu persahabatan, kecepatan menerka, kecepatan dalam memutuskan, jawaban kesan pertama, penampilan instrument, prasangka, hallo effects, kesalahan pengambilan rata-rata dan kemurahan hati. Penggunakan instrumen skala ditujukan pada pengumpulan data yang berhubungan dengan aspek emosional objek penelitian.
Muhammad Ali dalam Mahmud (2011: 182) mengemukakan bahwa data yang dapat dikumpulkan melalui instrumen skala ini, di antaranya data tentang sikap, motivasi, minat, dan penilaian. Sikap adalah kecenderungan tentang perilaku seseorang terhadap suatu objek, orang, atau perilaku orang lain. Kecenderungan ini ditunjukkan dengan derajat kesetujuan atau ketidaksetujuannya terhadap sesuatu yang menjadi sasaran kecenderungan tersebut. Motivasi adalah derajat dorongan yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan suatu kegiatan. Keberadaan dorongan tersebut dapat dikenali dari frekuensi atau keseringan, kesungguhan atau ketekunan, dan lamanya seseorang bertahan melakukan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu. Minat adalah derajat preferensi pilihan suka atau tidak suka terhadap suatu objek atau kegiatan ditimbulkan ketertarikan orang tersebut pada objek atau kegiatan tersebut. Penilaian adalah derajat kualitas yang dinilai berdasarkan pandangan seseorang terhadap suatu objek, kegiatan, atau orang lain.
- Macam-Macam Skala Pengukuran
Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. Sebagai contoh, misalnya timbangan emas sebagai instrumen untuk mengukur berat emas, dibuat dengan skala mg dan akan menghasilkan data kuantitatif berat emas dalam satuan mg bila digunakan untuk mengukur, meteran sebagai instrumen untuk mengukur panjang dibuat dengan skala mm, dan akan menghasilkan data kuantitatif panjang dengan satuan mm.
Data statistik berkaitan erat dengan hasil skala pengukuran yang digunakan. Berdasarkan jenjang pengukurannya, data statistik dapat diurutkan ke dalam empat macam, yaitu data berskala nominal, data berskala ordinal, data berskala interval, dan data berskala rasio (Partino & Idrus, 2009:7). Bentuk pengukuran yang paling sederhana melibatkan pengkategorian kasus-kasus berdasarkan ada atau tidaknya beberapa atribut atau sifat (Diekhoff, 2005).
Dengan skala pengukuran ini, maka nilai variabel yang diukur dengan instrumen tertentu dapat dinyatakan dalam bentuk angka, sehingga akan lebih akurat, efisien dan komunikatif. Misalnya berat emas 19 gram, berat besi 100 kg, suhu badan orang yang sehat 37 0 Celsius. Maksud dari skala pengukuran ini untuk mengklasifikasikan variabel yang akan diukur supaya tidak terjadi kesalahan dalam menentukan analisis data dan langkah penelitian berikutnya. Selanjutnya dalam pengukuran sikap, sikap sekelompok orang akan diketahui termasuk gradasi mana dari suatu skala sikap. Jenis-jenis skala pengukuran ada empat, yaitu: Skala Nominal, Skala Ordinal; Skala Interval; dan Skala Ratio. Dari skala pengukuran itu akan diperoleh data nominal, data ordinal, data interval, dan data rasio. Uraian selanjutnya adalah sebagai berikut (Riduwan, 2005):
- Skala Nominal
Skala nominal yaitu skala yang paling sederhana disusun menurut jenis (kategorinya) atau fungsi bilangan hanya sebagai simbol untuk membedakan sebuah karakteristik dengan karakteristik lainnya. Adapun ciri-ciri skala nominal antara lain (Sunyoto, 2011: 48): posisi data setara, dan tidak dapat dilakukan operasi matematika seperti penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan perkalian.
Analisis statistik yang cocok adalah: Uji Binomium (Binomium Test); Uji Chi Kuadrat Satu Sampel (2 One Sample Test); Uji Perubahan Tanda Nemar (Mc. Nemar For The Sigficant of Change); Uji Chi Kuadrat Dua Sampel (2 Test for Two Independent Samples); Uji Peluang Fisher (Fisher Exact Proba-bility Test); Uji Chochran Q (Chochran Q-Test); Uji Chi Kuadrat Lebih Dari Dua Sampel (2 Test for Computer Independent Samples); dan Uji Koefisien Kontigensi (Contigency Coefficient [C]). Sedangkan tes statistik yang digunakan ialah statistik non parametrik (Riduwan, 2009).
Contoh data nominal sebenarnya:
- Jenis Kulit: Hitam ❶, Kuning ❷, Putih ❸. Angka ❶, ❷, ❸, hanya sebagai label saja.
- Suku Daerah: Jawa ❶, Madura ❷, Bugis ❸, Sunda ❹, Batak ❺.
- Agama yang dianut: Islam ❶, Kristen ❷, Hindu ❸, Budha ❹, lainnya.
- Skala Ordinal
Skala ordinal ialah skala yang didasarkan pada ranking, diurutkan dari jenjang yang lebih tinggi sampai jenjang terendah atau sebaliknya. Jadi skala ordinal memungkinkan untuk mengurutkan seseorang atau objek sesuai dengan banyak atau kuantitas dari karakteristik yang dimilikinya (Kusaeri & Suprananto, 2012). Pada skala ordinal, dimungkinkan untuk melakukan penghitungan atau kuantifikasi variabel-variabel yang diuji sehingga dapat memberikan informasi yang lebih substansial dibandingkan dengan skala nominal.
Analisis statistik yang cocok adalah : Uji Kolmogorov-Smirnov Satu Sampel (Kolmogorov-Smirnov One Sample Test); Uji Tanda (Sign Test); Uji Pasangan Tanda Wilcoxon (Wilcoxon Matched Pairs Sign Rank Test); Uji Median (Median Test); Uji Mann-Whitney U (Mann-Whitney U Test); Uji Kolmogorov-Smirnov Dua Sampel (S\Kolmogorov-Smirnov Two Sample Test); Uji Analisis Varians Dua Arah Friedman (Friedman Two-Way Analysis of Variance); Perluasan Uji Median (Extension of the Median Test); Uji Varians Kalsifikasi Satu Arah (Kruskal-Wallis One Way Analysis of Variance); Uji Koefisien Korelasi Rank Spearman (Spearman Rank Correlation Foefficient [rs]); Uji Koefisien Korelasi Rank Kendall (Kendall Rank Correlation Coefficient [T] ); dan Uji Koefisien Konkordans Kendall (Kendall Coefficient of Concordance [W]). Analisis statistik yang digunakan ialah statistik non parametrik (Riduwan, 2003).
Contoh.
- Mengukur ranking kelas: I, II, III
- Mengukur kejuaraan misalnya Juara Liga Indonesia Tahun 1995: Persib ❶, Petrokimia Gresik ❷, dan Pupuk Kaltim ❸.
- Keteladanan: tingkat ❶, tingkat ❷, tingkat ❸, dan tingkat ❹.
- Kepangkatan militer. Misalnya: Jenderal ❹, Letnan Jenderal ❸, Mayor Jenderal ❷, dan Brigadir Jenderal ❶.
- Skala Interval
Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa interval yang tetap. Dengan demikian peneliti dapat melihat besarnya perbedaan karakteristik antara satu individu atau objek dan lainnya (Juliansyah, 2011: 127). Skala interval adalah skala yang menunjukkan jarak antara satu data dengan data yang lain dan mempunyai bobot yang sama. Skala pengukuran interval benar-benar merupakan angka untuk operasi aritmatika.
Analisis statistik yang cocok adalah: Uji t (t-test); Uji t (t-test) dua sampel; Uji Anova Satu Jalur (One Way-Anova); Uji Anova Dua Jalur (Two Ways-Anova); Uji Pearson Product Moment; Uji Korelasi Parsial (Partial Correlation); Uji Korelasi Ganda (Multiple Correlation); Uji Regresi (Regresion Test); dan Uji Regresi Ganda (Multiple Regresion). Tes statistik yang digunakan ialah tes statistik parametrik.
Contoh:
- Skor ujian Perguruan tinggi: A, B, C, D, dan E.
- Skor IQ, skor EQ, dan skor SQ
- Waktu: menit, jam, hari, minggu, bula, tahun.
- Mengurutkan: Kualitas Pelayanan, Keadaan persepsi pegawai, dan Sikap Pimpinan.
Sangat Puas ❺ Puas ❹
Cukup Puas ❸ Kurang Puas ❷
Tidak Puas ❶
- Skala Ratio
Skala rasio memiliki mempunyai semua karakteristik yang dipunyai oleh skala nominal, ordinal, dan interval dengan kelebihan skala ini mempunyai nilai 0 (nol) empiris absolut. Nilai absolut nol ini terjadi pada saat suatu karakteristik yang sedang diukur tidak ada (Sharp, 1989). Skala ratio adalah skala pengukuran yang mempunyai nilai nol mutlak dan mempunyai jarak yang sama. Dengan demikian data berskala rasio adalah data yang diperoleh dengan cara pengukuran di mana jarak dua titik pada skala sudah diketahui.
Misalnya umur manusia dan ukuran timbangan keduanya tidak memiliki angka nol negatif. Artinya seseorang tidak dapat berumur di bawah nol tahun dan seseorang harus memiliki pertimbangan di atas nol pula. Kalau data interval kita dapat mengatakan bahwa orang yang berumur 50 tahun adalah umurnya dua kali dari pemuda yang berumur 25 tahun, demikian pula seseorang yang berumur 20 tahun adalah setengah dari umur 40 tahun. Contoh yang lain adalah berat badan, tinggi pohon, tinggi badan manusia, jarak, panjang dan sebagainya.
- Tipe-Tipe Skala Pengukuran
Selain keempat jenis skala pengukuran tersebut, ternyata skala interval yang sering digunakan untuk mengukur gejala dalam penelitian sosial. Para ahli sosiologi membedakan dua tipe skala pengukuruan menurut gejala sosial yang diukur, yaitu (Riduwan, 2003):
- Skala pengukuran untuk mengukur perilaku susila dan kepribadian. Termasuk tipe ini adalah: skala sikap, skala moral, tes karakter, skala partisipasi sosial.
- Skala pengukuran untuk mengukur berbagai aspek budaya lain dan lingkungan sosial. Termasuk tipe ini adalah: skala mengukur status sosial ekonomi, lembaga-lembaga swadaya masyarakat (sosial), kemasyarakatan, kondisi rumah tangga, dan lain sebagainya.
Dari tipe-tipe skala pengukuran tersebut, maka dalam pembahasan ini hanya dikemukakan skala untuk mengukur sikap. Perkembangan ilmu komputer dan teknologi informasi, maka instrumen penelitian akan lebih menekankan pada pengukuran sikap, yang menggunakan skala sikap. Bentuk-bentuk skala sikap yang perlu diketahui dalam melakukan penelitian. Berbagai skala sikap yang sering digunakan ada 7 macam, yaitu: skala Likert, skala Guttman, skala perbedaan semantik (semantic differential), skala penilaian (rating scale), skala Borgadus, skala sosiometrik, dan skala Thurstone. Ketujuh jenis skala tersebut bila digunakan dalam pengukuran, akan mendapatkan data interval atau rasio. Hal ini akan bergantung pada bidang yang akan diukur, misalnya dalam bidang pendidikan.
- Skala Likert
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial. Dalam penelitian gejala sosial telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian. Dengan menggunakan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi dimensi, dimensi dijabarkan menjadi sub-variabel kemudian sub variabel dijabarkan lagi menjadi indikator-indikator yang dapat diukur. Akhirnya indikator-indikator yang terukur ini dapat dijadikan titik tolak untuk membuat item instrumen yang berupa pertanyaan atau pernyataan yang perlu dijawab oleh responden. Setiap jawaban dihubungkan dengan bentuk pernyataan atau dukungan sikap yang diungkapkan dengan kata-kata sebagai berikut:
- Sangat Tinggi/Sangat Penting/Sangat Benar ❺
- Tinggi/Penting/Benar ❹
- Cukup Tinggi/Cukup Penting/Cukup Benar ❸
- Rendah/Kurang Penting/Salah ❷
- Rendah Sekali/Tidak Penting/Sangat Salah ❶
Tabel 10.1. Contoh praktis: pernyataan bentuk checklist
NO | Pernyataan | Alternatif Jawaban | ||||
❺ | ❹ | ❸ | ❷ | ❶ | ||
SS | S | N | TS | STS | ||
1. | Pedoman pembuatan struktur organisasi Dewan Sekolah telah disosialisasikan. | ✔ | ||||
2. | Dina Pendidikan telah memiliki data sejumlah sekolah yang telah memiliki struktur organisasi Dewan Sekolah. | ✔ | ||||
Keterangan:
Sangat Setuju (SS) = ❺
Setuju (S) = ❹
Netral (N) = ❸
Tidak Setuju (TS) = ❷
Sangat Tidak Setuju (STS) = ❶
Dalam hubungan teknik pengumpulan data angket, instrument tersebut disebarkan kepada 70 responden, kemudian direkapitukasi. Dari data 70 responden.
Misalnya: Menjawab ❺ = 2 orang
Menjawab ❹ = 8 orang
Menjawab ❸ = 15 orang
Menjawab ❷ = 25 orang
Menjawab ❶ = 20 orang.
- Menghitung skor dengan cara:
Jumlah skor untuk 2 orang menjawab ❺ : 2 x 5 = 10
Jumlah skor untuk 8 orang menjawab ❹ : 8 x 4 = 32
Jumlah skor untuk 15 orang menjawab ❸ : 15 x 3 = 45
Jumlah skor untuk 25 orang menjawab ❷ : 25 x 2 = 50
Jumlah skor untuk 20 orang menjawab ❶ : 20 x 1 = 20
Jumlah = 157
Jumlah skor ideal untuk item No.1 (skor tertinggi) = 5 x 70 = 350 (SS)
Jumlah skor rendah = 1 x 70 = 70 (STS)
Berdasarkan data (item no. 1) yang diperoleh dari 70 responden, maka sosialisasi pedoman pembuatan struktur organisasi Sekolah terletak pada daerah Netral. Jadi, berdasarkan data (item No. 1) yang diperoleh dari 70 responden, maka sosialisasi pedoman pembuatan struktur organisasi Dewan Sekolah, yaitu: 157/350 x 100% = 44,86% tergolong cukup.
Skala Likert dianggap lebih baik dibandingkan dengan skala Thurstone, karena: 1, Dalam menyusun skala, item-item yang tidak jelas menunjukkan hubungan dengan sikap yang sedang diteliti masih dapat dimasukkan dalam skala. Dalam menyusun skala Thurstone, yang dimasukkan hanya item-item yang telah disetujui bersama dan jelas berhubungan dengan sikap yang ingin diteliti saja yang dapat dimasukkan. 2. Skala Likert lebih mudah membuatnya dibandingkan dengan skala Thurstone. 3. Skala Likert mempunyai reliabilitas yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan skala Thurstone untuk jumlah item yang sama. M Skala Likert dapat memperlihatkan item yang dinyatakan dalam beberapa respons alternatif tentang senang tidak senang terhadap sebuah item, sedangkan skala Thurstone hanya membuka dua alternatif saja.
Skala Likert juga mempunyai beberapa kelemahan, antara lain (Nazir, 2005: 340): 1) karena ukuran yang digunakan adalah ukuran ordinal, skala Likert hanya dapat mengurutkan individu dalam skala, tetapi tidak dapat membandingkan berapa kali satu individu lebih baik dari individu yang lain; dan 2) kadangkala total skor dari individu tidak memberikan arti yang jelas, karena banyak pola respons terhadap beberapa item akan memberikan skor yang sama. Validitas dari skala Likert merupakan pertanyaan yang masih memerlukan penelitian empiris. Masalahnya apakah kombinasi yang berbeda dari respons masih mempunyai arti karena diberikan pada skor yang sama, masih menghendaki penelitian empiris?
- Skala Guttman
Skala Guttman merupakan skala kumulatif. Skala Guttman mengukur suatu dimensi saja dari suatu variabel yang multidimensi. Skala Guttman disebut juga skala scalogram yang sangat baik untuk meyakinkan peneliti tentang kesatuan dimensi dari sikap atau sifat yang diteliti, yang sering disebut dengan attribut universal. Pada skala Guttman terdapat beberapa pertanyaan yang diurutkan secara hierarkis untuk melihat sikap tertentu seseorang. Jika seseorang menyatakan tidak terhadap pertanyaan sikap tertentu dari sederetan pernyataan itu, ia akan menyatakan lebih dari tidak terhadap pernyataan berikutnya (Sekaran, 2006).
Ada dua kelemahan pokok dari skala Guttman, yaitu: 1) skala Guttman bisa tidak mungkin menjadi dasar yang efektif baik untuk mengukur sikap terhadap objek yang kompleks ataupun untuk membuat prediksi tentang perilaku objek tersebut; dan 2) satu skala bisa saja mempunyai dimensi tunggal untuk satu kelompok tetapi ganda untuk kelompok lain, ataupun berdimensi satu untuk satu waktu dan mempunyai dimensi ganda untuk waktu yang lain dengan responden yang sama.
Jadi, Skala Guttman ialah skala yang digunakan untuk menjawab yang bersifat jelas (tegas) dan konsisten. Misalnya: yakin – tidak yakin; ya – tidak; benar – salah; positif – negatif; pernah – belum pernah; setuju – tidak setuju. Dan lain sebagainya. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau ratio dikotomi (dua alternatif yang berbeda). Penelitian menggunakan skala Guttman apabila ingin mendapatkan jawaban jelas (tegas) dan konsisten terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan.
Contoh:
- Yakin atau tidakkah Anda, pergantian presiden akan dapat mengatasi persoalan bangsa :
- Yakin
- Tidak
- Apakah komentar saudara, jika Gusdur turun dari kepresidenan?
- Setuju
- Tidak Setuju
Skala Guttman disamping dapat dibuat bentuk pilihan ganda dan bisa juga dibuat dalam bentuk checklist. Jawaban responden dapat berupa skor tertinggi bernilai (1) dan skor terendah (0). Misalnya: untuk jawaban Benar (1) dan Salah (0). Analisis dilakukan seperti pada skala Likert.
- Skala Diferensial Semantik (Semantic Defferensial Scale)
Skala ini dikembangkan oleh Charles Osgood dan Tannenbaum pada tahun 1957. Responden diminta untuk memberikan penilaiannya terhadap suatu konsep atau objek tertentu (Usman & Akbar, 2003: 71). Misalnya: kepemimpinan, sikap wirausahawan, keadaan iklim organisasi, prosedur kerja, dan sebagainya. Skala ini terdiri atas tujuh kolom dengan bipolar yang saling bertentangan. Untuk menghindari bias, maka polar positif dan negatif disusun secara acak. Sifat bipolar dapat ditentukan melalui pengalaman pribadi atau meminta pendapat pakarnya.
Skala diferensial semantik atau skala perbedaan semantik berisikan serangkaian karakteristik bipolar (dua kutup), seperti: panas – dingin; popular – tidak popular; baik – tidak baik dan sebagainya. Karakteristik bipolar tersebut mempunyai tiga dimensi dasar sikap seseorang terhadap objek, yaitu (Iskandar dan Karolina N, 2003): 1) potensi, yaitu kekuatan atau atraksi fisik suatu objek; 2) evaluasi, yaitu hal-hal yang menguntungkan atau tidak menguntungkan suatu objek; dan 3) aktivitas, yaitu tingkat gerakan suatu objek.
Contoh:
Dari contoh di atas, responden memberikan tanda (X) terhadap nilai yang sesuai dengan persepsinya. Para peneliti sosial dapat menggunakan skala perbedaan semantik dalam berbagai cara. Misalnya: menentukan kekuatan kandidat politisi di antara kelompok pemilih, memberikan penilaian kepribadian seseorang, menilai sifat hubungan interpersonal dalam organisasi, serta untuk menilai persepsi seseorang terhadap objek sosial atau pribadi yang menarik dari berbagai dimensi. Selain itu pada skala perbedaan semantik, responden diminta untuk menjawab atau memberikan penilaian terhadap suatu konsep atau objek tertentu.
Misalnya kinerja pegawai, peran pimpinan, gaya kepemimpinan, prosedur kerja, produktivitas kerja, aktivitas guru di kelas, control dan dukungan orang tua terhadap anaknya, dan sebagainya. Skala ini menunjukkan suatu keadaan yang saling bertentangan, misalnya ketat – longgar, sering dilakukan – tidak pernah dilakukan, lemah – kuat, positif – negatif, buruk – baik, buruk – baik, aktif – pasif, besar – kecil dan sebagainya.
Contoh: berilah tanda (✔) pada skala yang paling cocok dengan Anda:
- Control orang tua terhadap hubungan seksual di luar nikah.
1. | Ketat | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | Longgar |
2. | Sering dilakukan | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | Tidak pernah dilakukan |
3. | Lemah | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | Kuat |
4. | Positif | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | Negatif |
5. | Buruk | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | Baik |
6. | Mendidik | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | Menekan |
7. | Aktif | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | Pasif |
- Berikan tanda silang (X). hubungan antara sesame peserta Diklat Admin dalam satu kelas, sebagai berikut:
Intim | 3 | 2 | 1 | 0 | -1 | -2 | -3 | Renggang |
- Rating Scale (Skala Penilaian)
Pada skala penilaian, si penilai memberi angka pada suatu kontinum di mana individu atau objek akan ditempatkan. Penilai terdiri dari beberapa orang dan penilai ini adalah orang-orang yang mengetahui bidang yang dinilai. Berdasarkan ke-3 skala pengukuran, yaitu: Skala Likert, Skala Guttman, dan Skala Perbedaan Semantik, data yang diperoleh adalah data kualitatif yang dikuantitatifkan. Sedangkan rating scale yaitu data mentah yang didapat berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Responden menjawab, misalnya: ketat – longgar, sering dilakukan – tidak pernah dilakukan, lemah – kuat, buruk – baik, akif – pasif, besar – kecil, ini semua adalah merupakan contoh data kualitatif.
Dalam model rating scale responden tidak akan menjawab dari data kualitatif yang sudah tersedia tersebut, tetapi menjawab salah satu dari jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Dengan demikian, bentuk rating scale lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja, tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap gejala atau fenomena lainnya. Misalnya skala untuk mengukur status sosial ekonomi, Iptek, instansi dan lembaga, kinerja dosen, kegiatan PBM, kepuasan pelanggan, produktivitas kerja, motivasi pegawai, dan lainnya (Djaali, 2004). Pembuatan dan penyusunan instrumen dengan menggunakan rating scale yang penting harus mengartikan atau mentafsirkan setiap angka yang diberikan dalam alternatif jawaban pada setiap item instrumen.
Contoh:
Peneliti ingin mengetahui seberapa harmoniskah hubungan suami istri untuk menciptakan keluarga sejahtera. Berilah tanda lingkaran (🔿) pada angka yang sudah disediakan:
Tabel 10.2. Skala Penilaian Pernyataan Tentang Menciptakan Keluarga Sejahtera
No. Item | Pernyataan Tentang Menciptakan Keluarga Sejahtera | Interval Jawaban | ||||
SB | B | CB | KB | STB | ||
❺ | ❹ | ❸ | ❷ | ❶ | ||
1. | Masalah Agama | ❺ | 4 | 3 | 2 | 1 |
2. | Manajemen pendidikan anak | 5 | ❹ | 3 | 2 | 1 |
3. | Pengaturan keuangan keluarga | 5 | 4 | ❸ | 2 | 1 |
4. | Perwujudan kasih saying | 5 | 4 | 3 | ❷ | 1 |
5. | Masalah rekreasi | 5 | 4 | 3 | 2 | ❶ |
6. | Memilih sahabat-sahabat | ❺ | 4 | 3 | 2 | 1 |
7. | Aturan rumah tangga | 5 | 4 | 3 | ❷ | 1 |
8. | Adat kebiasaan | ❺ | 4 | 3 | 2 | 1 |
9. | Pandangan hipup | 5 | 4 | 3 | ❷ | 1 |
10. | Cara bergaul dengan keluarga saudara | 5 | ❹ | 3 | 2 | 1 |
11. | Pekerjaan istri | 5 | 4 | ❸ | 2 | 1 |
12. | Keintiman hubungan suami istri | ❺ | 4 | 3 | 2 | 1 |
13. | Pemeliharaan anak | 5 | ❹ | 3 | 2 | 1 |
14. | Pembagian tugas rumah tangga | 5 | 4 | 3 | ❷ | 1 |
Instrumen tersebut apabila dijadikan angket kemudian disebarkan kepada 25 responden, sebelum dianalisis, rekapnya seperti berikut: Jumlah skor kriterium (apabila setiap item mendapat skor tertinggi) yaitu: = (skor tertinggi tiap item = 5) x (jumlah item = 14) x (jumlah responden = 25) adalah 1750.
Tabel 9.3. Jawaban 25 responden tentang Menciptakan Keluarga Sakinah
No. Responden | Jawaban responden untuk item nomor ke- …… | Jumlah | |||||||||||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | ||
1. | 5 | 5 | 2 | 5 | 3 | 3 | 5 | 2 | 5 | 2 | 5 | 5 | 5 | 3 | 55 |
2. | 5 | 4 | 4 | 4 | 4 | 4 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 4 | 4 | 4 | 62 |
3. | 5 | 3 | 3 | 3 | 3 | 4 | 4 | 4 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 69 |
dst…. | dst….. | ||||||||||||||
23. | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 4 | 4 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 68 |
24. | 5 | 3 | 3 | 3 | 3 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 62 |
25. | 4 | 4 | 4 | 4 | 4 | 4 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 3 | 3 | 5 | 60 |
Jumlah Skor Hasil Pengumpulan Data | 1400 | ||||||||||||||
Jika jumlah skor hasil pengumpulan data = 1400. Dengan demikian keharmonisan hubungan suami istri untuk menciptakan keluarga sejahtera, menurut persepsi 25 responden, yaitu : 1400 : 1750 x 100% = 80 % dari kriterium yang ditetapkan. Apabila di interpretasi nilai 80% terletak pada daerah Kuat, sedangkan nilai 1400, termasuk dalam kategori interval baik. Secara kontinum dapat dibuat kategori sebagai berikut:
- Skala Thurstone
Skala Thurstone meminta responden untuk memilih pertanyaan yang ia setujui dari beberapa pertanyaan yang menyajikan pandangan yang berbeda-beda. Pada umumnya setiap item mempunyai asosiasi nilai antara 1 sampai dengan 10, tetapi nilai-nilainya tidak diketahui oleh responden. Pemberian nilai ini berdasarkan jumlah tertentu pertanyaan yang dipilih oleh responden mengenai angket tersebut (Subana, 2004). Perbedaan antara skala thurstone dan skala likert ialah pada skala thurstone interval yang panjangnya sama memiliki intensitas kekuatan yang sama, sedangkan pada skala likert tidak perlu sama.
Contoh:
Merekrut Calon Dosen pendidikan Matematika. Tolong pilihlah 5 dari 10 pernyataan yang sesuai dengan persepsi saudara:
- Saya memilih pekerjaan sebagai dosen karena pekerjaan yang mulia dan terhormat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
- Bila saya seorang mahasiswa Sistem Komputer, saya akan mengusulkan agar mahasiswa Sistem Komputer memakai simbol-simbol tertentu yang dapat dibanggakan.
- Saya merasa tersanjung bila saya lebih memiliki kemampuan dalam mengajarkan sesuatu daripada menguasai bidang studi saja.
- Apa yang bisa dibanggakan oleh seorang dosen; bila gaji hanya pas-pasan, berangkan mengajar jalan kaki, di kampus sering berhadapan tugas kerjaan dengan masalah yang rumit dan mahasiswa yang bandel, dll.
- Senangnya menjadi dosen apabila berhasil mendemontrasikan pelajaran kepada mahasiswa yang menghadapi kesulitan di laboratorium.
- Sebagai dosen, saya bangga karena dosenlah sebagai pewaris ilmuwan yang mengajarkan para mahasiswa untuk dipersiapkan menjadi manusia yang tangguh, berkualitas, kreatif, dan professional untuk mengisi pembangunan bangsa.
- Semestinya gaji dosen lebih besar daripada gaji pegawai lain.
Berdasarkan pernyataan item di atas, dapat dianalisis dengan cara sebagai berikut:
- Peneliti memberikan kunci jawaban dan penilaian yang akurat.
No. item pernyataan | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |
Nilai | 10 | 7 | 6 | 2 | 8 | 9 | 4 | 3 | 5 | 1 |
Nilai tertinggi : 6 + 7 + 8 + 9 + 10 = 14 40 : 5 = 8 Nilai terendah : 1 + 2 + 3 + 4 + 5 = 15 15 : 5 = 3 | ||||||||||
- Memberikan nilai sesuai dengan jawaban responden dan menghitung hasil rekapitulasi data responden.
Misalnya: Fathimathus Sholihah (nama responden) menjawab:
No. item pernyataan | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | |
Jawaban Responden | ❶ | ❷ | ❸ | – | ❹ | ❺ | – | – | – | – | |
Nilai | 10 | 7 | 6 | – | 8 | 9 | – | – | – | – | ∑ = 40 |
Perhitungan: 10 + 7 + 6 + 8 + 9 = 40 Nilai : 40 : 5 = 8 | |||||||||||
Kesimpulan: Niali 8 dari Fathimathus Sholihah adalah mempunyai respon yang tinggi untuk menjadi dosen. | |||||||||||
- Skala Borgadus
Skala Bogardus adalah skala untuk mengukur jarak sosial yang dikembangkan oleh Emory S. Bogardus. Yang dimaksud dengan jarak sosial adalah derajat pengertian atau keintiman dan kekariban sebagai ciri hubungan sosial secara umum yang kontinumnya terdiri dari “sangat dekat”, “dekat”, “indifferent”, “benci”, sampai kepada “menolak sama sekali” (Nazir, 2005: 329). Dalam membuat skala jarak sosial ini, skor yang tinggi diberikan kepada kualitas yang tinggi.
Skala Bogardus mula-mula dibuat untuk melihat derajat kesediaan menerima orang negro. Aplikasinya dapat saja dibuat untuk ukuran-ukuran yang lain. Misalnya kita ingin melihat bagaimana penerimaan beberapa suku terhadap orang Jawa. Dalam daftar pertanyaan dibuat sebuah pertanyaan sebagai berikut:
Apakah Anda?
- Mau menerima orang Jawa kawin dengan sanak famili Anda? —-
- Mau menerima orang Jawa sebagai sahabat kental Anda? —-
- Mau menerima orang Jawa bekerja sekantor dengan Anda? —-
- Mau menerima orang Jawa dalam satu organisasi dengan Anda? —-
- Mau menerima orang Jawa sebagai warga desa Anda? —-
- Mau menerima orang Jawa pimpinan Anda? —-
Perlu diingatkan bahwa dalam menyusun pertanyaan di atas, urutan-urutan kualitas harus jelas, di mana gradasinya menurun secara nyata, dari “penerimaan yang tinggi’ sampai dengan “penerimaan yang rendah”. Pertanyaan di atas diberi skor 1 untuk jawaban f sampai dengan 6 untuk jawaban a. Yang menjawab b diberi skor 5 dan yang menjawab e diberi skor 2. Juga dapat dirasakan bahwa mereka yang menjawab a akan menerima semua jawaban lainnya (menerima b, c, d, dan f). Yang menerima pertanyaan d, akan menerima pertanyaan e dan f, tetapi tidak menerima a, b, c. Dengan kata lain, pertanyaan dalam skala Bogardus disusun menurut ranking, dari tinggi ke rendah.
Misalnya pertanyaan di atas ditanyakan kepada sejumlah responden yang terdiri dari tiga suku, yaitu Aceh, Batak, dan Bugis. Kemudian dihitung presentasi dari responden yang menjawab “ya” untuk masing-masing tingkat jarak sosial di atas. Jawaban responden ditabulasikan seperti tertera pada tabel 10.4.
Tabel 10.4. Responsi dari Responden Terhadap Penerimaan Orang Asing.
Skor | Jarak Penerimaan | Suku Aceh (%) | Suku Batak (%) | Suku Bugis (%) |
6 5 4 3 2 1 | Kawin dengan sanak famili Sebagai sahabat kental Bekerja sekantor Kawan seorganisasi Sebagai warga desa Sebagai pimpinan | 90 92 95 94 95 5 | 45 60 75 77 86 7 | 12 21 35 50 55 20 |
Cara membuat skala Bogardus adalah: 1) mengalikan skor dengan presentasi dalam sel matriks; 2) menjumlah hasil perkalian tersebut untuk masing-masing suku; dan 3) hasil penjumlahan ini adalah skor untuk kelompok suku tersebut, dan total skor ini pula yang menjadi skala. Untuk membuat skala dapat digunakan work sheet sebagai berikut.
Tabel 10.5. Work Sheet untuk Membuat Skala Jarak Sosial Bogardus
Skor | Aceh | Batak | Bugis | |||
% | % x skor | % | % x skor | % | % x skor | |
5 4 3 2 1 | 90 92 95 94 95 | 450 368 285 188 95 | 45 60 75 77 86 | 225 240 225 154 86 | 12 21 35 50 55 | 60 84 105 100 55 |
1.386 | 930 | 404 | ||||
Tabel 10.5 memperlihatkan bahwa skor untuk orang Aceh adalah 1.386 dan untuk orang Batak adalah 930. Total skor untuk suku Bugis berjumlah 404. Dengan perkataan lain, jarak sosial pada kasus tersebut ditempatkan pada skala dengan interval dari 404 sampai dengan 1.386. Dalam mengartikan skala Bogardus, ada dua asumsi yang harus diterima , yaitu:
- Jarak sosial mempunyai suatu kontinum tertentu.
- Tiap titik dalam skala mempunyai jarak yang sama dengan titik-titik lainnya, tetapi titik nolnya tidak ada.
Dari asumsi kedua, maka yang ditafsirkan oleh skala Bogardus hanyalah rangking dari jarak sosial. Misalnya pada contoh di atas, suku Aceh mempunyai skala lebih tinggi dari suku Bugis dalam penerimaan terhadap orang Jawa. Dengan kata lain, orang Aceh lebih menerima orang Jawa dibandingkan dengan orang Bugis. Namun demikian walaupun skala untuk suku Aceh memperlihatkan angka 1.386 dan suku Bugis 404, tidak berarti bahwa orang Aceh mempunyai derajat penerimaan terhadap orang Jawa lebih dari tiga kali lipat dari orang Bugis. Hal ini tidak dapat disimpulkan karena skala Bogardus menggunakan ukuran interval, yang tidak mempunyai titik nol.
Menurut Nazir (2005: 332), reliabilitas dari skala Bogardus hanya dapat diuji dengan teknik test-retest, sedangkan validitasnya memerlukan pengujian dengan kelompok lain yang sudah diketahui jarak sosialnya dalam berhubungan dengan orang-orang Jawa. Jika hasil pengujian cocok untuk kelompok yang telah diketahui jarak sosialnya, maka skala Borgadus yang dibuat mempunyai validitas yang tinggi. Asumsi yang mengiringi pembuatan skala Borgadus ini, merupakan kelemahan dari penggunaan skala Borgadus. Oleh karena itu penggunaan skala ini untuk menghitung jarak sosial atau aplikasi lainnya hanya digunakan untuk penelitian-penelitian yang disiapkan dalam waktu yang tidak lama dan tidak memerlukan presisi yang terlalu tinggi.
- Berbagai Skala Pengukuran Lainnya
Ada sejumlah ukuran objektif yang kurang cocok bila dikelompokkan dalam satu di antara kategori-kategori di atas meskipun erat berkait dengannya. Ada skala-skala tertentu yang penting karena nilai teoritisnya serta frekuensi penggunaannya. Skala F yang masyur itu merupakan salah satu dari skala-skala demikian. Dirancang untuk mengukur otoritarianisme, skala ini kemudian disebut sebagai ukuran untuk kepribadian maupun sikap. Pengukuran minat relatif mudah. Ukuran-ukuran yang terpenting untuknya adalah inventaris Strong-Campbell dan Kuder. Keandalan kedua skala ini tinggi, petunjuk validitasnya juga baik.
Tentu masih banyak skala dan tes penting yang berguna – ukuran penilaian moral, tanggung jawab sosial, lingkungan kerja, kebutuhan, dominasi, dan seterusnya. Kesemuanya tidak dapat dibicarakan di sini. Satu diantara pekerjaan-pekerjaan paling sulit bagia peneliti teknologi informasi yang dihadapkan pada keharusan untuk mengukur variabel adalah: menemukan arah di tengah-tengah sekian banyak ukuran yang telah ada. Jika sudah ada ukuran yang baik untuk sesuatu variabel tertentu, tampaknya tidak banyak alasan untuk menyusun sendiri sesuatu ukuran baru. Sumber-sumber informasi berharga tentang skala pengukuran adalah jurnal-jurnal berikut: Psychological Bulletin; Educational and Psychological Measurement; Journal of Educational measurement; dan Applied Psychological Measurement.
Rangkuman
Skala adalah alat yang disusun dan digunakan oleh peneliti untuk mengubah respons tentang suatu variabel yang bersifat kualitatif menjadi data kuantitatif (Mahmud, 2011: 181). Dalam pengukuran, variabel yang bersifat kaulitatif berskala nominal, sedangkan variabel kuantitatif berskala ordinal, interval atau rasio. Melalui pengubahan ini, variabel yang berskala nominal diubah ke dalam variabel yang berskala interval. Jadi dalam konteks penelitian, penggunaan instrumen skala dimaksudkan untuk menjaring data yang berskala interval. Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.
Skala nominal yaitu skala yang paling sederhana disusun menurut jenis (kategorinya) atau fungsi bilangan hanya sebagai simbol untuk membedakan sebuah karakteristik dengan karakteristik lainnya. Skala ordinal ialah skala yang didasarkan pada ranking, diurutkan dari jenjang yang lebih tinggi sampai jenjang terendah atau sebaliknya. Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa interval yang tetap. Skala rasio memiliki mempunyai semua karakteristik yang dipunyai oleh skala nominal, ordinal, dan interval dengan kelebihan skala ini mempunyai nilai 0 (nol) empiris absolut.
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial. Skala Guttman merupakan skala kumulatif. Jika seseorang menyisakan pertanyaan yang berbobot lebih berat, ia akan mengiyakan pertanyaan yang kurang berbobot lainnya. Skala Guttman mengukur suatu dimensi saja dari suatu variabel yang multidimensi. Skala diferensial semantik atau skala perbedaan semantik berisikan serangkaian karakteristik bipolar. Skala Thurstone meminta responden untuk memilih pertanyaan yang ia setujui dari beberapa pertanyaan yang menyajikan pandangan yang berbeda-beda. Pada umumnya setiap item mempunyai asosiasi nilai antara 1 sampai dengan 10, tetapi nilai-nilainya tidak diketahui oleh responden. Skala Bogardus adalah skala untuk mengukur jarak sosial yang dikembangkan oleh Emory S. Bogardus. Yang dimaksud dengan jarak sosial adalah derajat pengertian atau keintiman dan kekariban sebagai ciri hubungan sosial secara umum.
Daftar Pustaka
Ali, Muhammad. 2009. Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Angkasa.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta.
Diekhoff, G. 2005. Statistics for the Social and Behavioral Sciences: Univariate, Bivariate, Multivariate. Dubuque: Wim C. Browns Publisher.
Donald R. Cooper dan C. William Emory. 1996. Metode Penelitian Bisnis, Jakarta: Erlangga.
Juliansyah Noor. 2011. Metodologi Penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi, dan Karya Ilmiah, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Kusaeri, Suprananto. 2012. Pengukuran dan Penilaian Pendidikan, Yogyakarta: Graha Ilmu.
Mahmud. 2011. Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia.
Nazir, Muhammad. 2005. Metode Penelitian, Bogor: Ghalia Indonesia.
Partino, H.R, Idrus. 2009. Statistik Deskriptif, Yogyakarta: Safiria Insania Press.
Riduwan, Sunarto. 2009. Pengantar Statistika untuk Penelitian: Pendidikan, Sosial, Ekonomi, Komunikasi dan Bisnis, Bandung: Alfabeta.
Riduwan. 2005. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula, Bandung: Alfabeta.
Riduwan. 2003. Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian, Bandung: Alfabeta.
Sunyoto, D. 2011. Metodologi Penelitian Ekonomi,
Sharp, V. 1989. Statistics for Social Science, Boston: Little Brown and Company.
Sekaran, U. 2006. Research Methods for Business: Metodologi Penelitian untuk Bisnis. Buku 2 Edisi 4. Terj. Kwan Men Yon, Jakara: Salemba Empat.
Usman, H, Purnomo Setiady Akbar, 2003. Metodologi Penelitian Sosial, Jakarta: Bumi Aksara.
Anda dapat mengerjakan pekerjaan yang tak pernah terpikir mampu Anda lakukan.
Tidak ada batas dari apa yang mampu Anda lakukan kecuali batasan yang dibuat
oleh pikiran kita sendiri, mengenai apa yang tidak mampu kita kerjakan.
Charles F. Kettering



