Back

PENYUSUNAN INSTRUMEN NONTES

Saat saya siap untuk berdebat dengan orang lain, saya menggunakan sepertiga waktu 

saya untuk memikirkan tentang diri saya dan apa yang akan saya utarakan, dan 

dua pertiganya untuk memikirkan tentang orang itu dan apa yang akan mereka katakan. 

Abraham Lincoln

Pembahasan Materi

Bab ini membahas tentang pengertian instrumen nontes, penulisan butir soal instrumen non tes, penyusunan kisi-kisi instrumen non tes, langkah-langkah pengembangan instrumen non tes, kaidah penulisan soal, penulisan butir soal instrumen non-tes yang meliputi: tes skala sikap, tes minat belajar, tes motivasi berprestasi, tes kreativitas, dan tes stres belajar menghadapi ujian, sosiometri, dan penilaian berbasis portofolio.

  • Pendahuluan

Mutu pendidikan dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya siswa, pengelola sekolah, lingkungan, kualitas pengajaran, kurikulum dan sebagainya (Widoyoko, 2009). Usaha peningkatan pendidikan bisa ditempuh dengan peningkatan kualitas pembelajaran dan sistem evaluasi yang baik. Keduanya saling berkaitan sistem pembelajaran yang baik akan menghasilkan kualitas pendidikan yang baik, selanjutnya sistem penilaian yang baik akan mendorong guru untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi siswa untuk belajar yang lebih baik (Mardapi, 2003).

Sehubungan dengan itu, maka di dalam pembelajaran dibutuhkan guru yang tidak hanya mengajar dengan baik, namun mampu melakukan evaluasi dengan baik. Kegiatan evaluasi sebagai bagian dari program pembelajaran perlu lebih dioptimalkan. Evaluasi tidak hanya bertumpu pada penilaian hasil belajar, namun perlu penilaian terhadap input, output dan kualitas proses pembelajaran itu sendiri. Instrumen penelitian diartikan sebagai alat untuk mengumpulkan data penelitian. Pada dasarnya instrumen penelitian terdiri atas tes dan non tes. Contoh instrumen tes adalah  hasil belajar, tes inteligensi, dan/atau tes bakat. Sedangkan contoh instrumen non tes adalah pedoman wawancara, angket, pedoman obervasi, daftar cek (check list), skala penilaian (rating scale), dan sebagainya. Instrumen non tes yang sering digunakan dalam penelitian pendidikan antara lain adalah daftar cek, pedoman wawancara, panduan pengamatan dan skala penilaian. Penilaian non tes adalah penilaian yang mengukur kemampuan siswa-siswa secara langsung dengan tugas-tugas yang riil. Kelebihan non tes dari tes adalah sifatnya lebih komprehensif, artinya dapat digunakan untuk menilai berbagai aspek dari individu sehingga tidak hanya untuk menilai aspek kognitif, tetapi juga aspek efektif dan psikomotorik, yang dinilai saat proses pelajaran berlangsung.

Panduan untuk wawancara dan observasi yang sistematis memiliki kesamaan dengan instrumen angket. Perbedaan antara ketiganya terletak pada pihak yang mengisi instrumen. Instrumen bentuk angket yang mengisi adalah responden, pada panduan wawancara terstruktur yang mengisi instrumen adalah pewawancara (interviewer) berdasarkan jawaban yang diberikan oleh responden, sedangkan pada panduan observasi sistematis yang mengisi instrumen adalah observer berdasarkan pengalamannya pada objek penelitian (Widoyoko, 2012: 101). Pedoman onservasi baik digunakan untuk mengukur hasil belajar yang menutamakan penampilan atau keterampilan dalam pendidikan professional. Karena pada umumnya hasil belajar yang bersifat keterampilan sukar diukur dengan tes, maka digunakan teknik pengukuran lain yang dapat memberikan hasil yang lebih akurat. Instrumen non tes dapat disusun dalam bentuk check list (daftar cek) sehingga responden, interviewer maupun observer tinggal memberi tanda cek (√) pada kolom yang tersedia sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, baik keadaan responden maupun objek yang diamati. Pembahasan dalam bab ini difokuskan pada penulisan butir skala penilaian untuk instrumen non-tes.

  • Penyusunan Instrumen Non Tes

Instrumen non-tes adalah instrumen selain tes prestasi belajar. Alat penilaian yang dapat digunakan antara lain adalah: lembar pengamatan/observasi (seperti catatan harian, portofolio, life skill) dan instrumen tes sikap, minat, dan sebagainya. Pada prinsipnya, prosedur penulisan butir soal untuk instrumen non-tes adalah sama dengan prosedur penulisan tes pada tes prestasi belajar, yaitu menyusun kisi-kisi tes, menuliskan butir soal berdasarkan kisinya, telaah, validasi uji coba butir, perbaikan butir berdasarkan hasil uji coba. Namun, dalam proses awalnya, sebelum menyusun kisi-kisi tes terdapat perbedaan menentukan validitas isi/konstruknya. Dalam buku pelajaran, tetapi untuk non-tes validitas isi/konstruknya diperoleh melalui “teori”. Teori adalah pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa atau kejadian.

Pengamatan merupakan suatu alat penilaian yang pengisiannya dilakikan oleh pendidik atas dasar pengamatan terhadap perilaku peserta didik yang sesuai dengan kompetensi yang hendak diukur. Pengamatan dapat dilakukan dengan menggunakan antara lain lembar pengamatan penilaian portofolio dan penilaian kecakapan hidup. Pelaksanaan pengamatan sikap dapat dilakukan pendidik pada sebelum mengajar, saat mengajar, dan sesudah mengajar. Perilaku minimal yang dapat dinilai dengan pengamatan untuk perilaku/budi pekerti peserta didik, misalnya: ketaatan pada ajaran agama, toleransi, disiplin, tanggung jawab, kasih sayang, gotong royong, kesetiakawanan, hormat-menghormati, sopan santun, dan jujur (Wahidmurni, 2010).

Menurut Kumaidi (2008), dalam suatu penelitian tertentu, peneliti harus mengikuti langkah-langkah pengembangan instrumen, yaitu: 1) mendefinisikan variabel; 2) menjabarkan variabel ke dalam indikator yang lebih rinci; 3) menyusun butir-butir; 4) melakukan uji coba; dan 5) menganalisis kesahihan (validity) dan keterandalan (reliability). Suryabrata (2000: 184) berpendapat bahwa langkah-langkah pengembangan alat ukur khususnya atribut non-kognitif adalah: 1) pengembangan spesifikasi alat ukur; 2) penulisan pernyataan atau pertanyaan; 3) penelaahan pernyataan atau pertanyaan; 4) perakitan instrumen (untuk keperluan uji-coba); 5) uji-coba; 6) analisis hasil uji-coba; 7) seleksi dan perakitan instrumen; 8) administrasi instrumen; dan 9) penyusunan skala dan norma. 

Secara lebih rinci, Djaali dan Muljono (2004: 81) menjelaskan langkah-langkah penyusunan dan pengembangan instrumen yaitu: 1) sintesa teori-teori yang sesuai dengan konsep variabel yang akan diukur dan membuat konstruk variabel; 2) membangkan dimensi dan indikator variabel sesuai dengan rumusan konstruk variabel; 3) membuat kisi-kisi instrumen dalam bentuk tabel spesifikasi yang memuat dimensi, indikator, nomor butir dan jumlah butir untuk setiap dimensi dan indikator; 4) menetapkan besaran atau parameter yang bergerak dalam suatu rentangan kontinum dari suatu kutub ke kutub lain yang berlawanan; 5) menulis butir-butir instrumen baik dalam bentuk pertanyaan maupun pernyataan; 6) butir yang ditulis divalidasi secara teoritik dan empirik; 7) validasi pertama yaitu validasi teoritik ditempuh melalui pemeriksaan pakar atau panelis yang menilai seberapa jauh ketepatan dimensi sebagai jabaran dari konstruk, indikator sebagai jabaran dimensi dan butir sebagai jabaran indikator; 8) revisi instrumen berdasarkan saran pakar atau penilaian panelis; 9) setelah konsep instrumen dianggap valid secara teoritik dilanjutkan penggandaan instrumen secara terbatas untuk keperluan uji coba; 10) validasi kedua adalah uji coba instrumen di lapangan yang merupakan bagian dari proses validasi empirik. Instrumen diberikan kepada sejumlah responden sebagai sampel yang mempunyai karakteritik sama dengan populasi yang ingin diukur. Jawaban responden adalah data empiris yang kemudian dianalisis untuk menguji validitas empiris atau validitas kriteria dari instrumen yang dikembangkan; 11) pengujian validitas kriteria atau validitas empiris dapat dilakukan dengan menggunakan kriteria internal maupun kriteria eksternal; 12) berdasarakn kriteria tersebut dapat diperoleh butir mana yang valid dan butir yang tidak valid; 13) untuk validitas kriteria internal, berdasarkan hasil analisis butir yang tidak  valid dikeluarkan atau direvisi untuk diujicobakan kembali sehingga menghasilkan semua butir valid; dan 14) dihitung koefisien reliabilitas yang memiliki rentangan 0-1, makin tinggi koefisien reliabilitas instrumen berarti semakin baik kualitas instrument; dan 15) merakit semua butir yang telah dibuat menjadi instrumen yang final.

  • Penyusunan Kisi-kisi Instrumen Non Tes

Dalam kisi-kisi non-tes biasanya formatnya berisi dimensi indikator, jumlah butir soal per indikator, dan nomor butir soal. Formatnya seperti berikut ini.

Tabel 14.1. Format Penyusunan Kisi-kisi Instrumen Non Tes

No.

Dimensi

Indikator

Jumlah Soal Per Indikator

Nomor Soal

     

 

Jumlah Soal =

Untuk mengisi kolom dimensi dan indikator, penulis soal harus mengetahui terlebih dahulu validitas konstruknya yang disusun/dirumuskan melalui teori. Cara termudah untuk mendapatkan teori adalah membaca beberapa buku, hasil penelitian, atau mencari informasi lain yang berhubungan dengan variabel atau tujuan tes yang dikehendaki. Oleh karena itu, peserta didik atau responden yang hendak mengerjakan tes ini (instrumen non-tes) tidak perlu mempersiapkan/belajar materi yang hendak diteskan terlebih dahulu seperti pada tes prestasi belajar.

Setelah teori diperoleh dari berbagai buku, maka langkah selanjutnya adalah menyimpulkan teori itu dan merumuskan mendefinisikan (yaitu definisi konsep dan definisi operasional) dengan kata-kata sendiri berdasarkan pendapat para ahli yang diperoleh dari beberapa buku yang telah dibaca. Definisi tentang teori yang dirumuskan inilah yang dinamakan konstruk. Berdasarkan konstruk yang telah dirumuskan itu, langkah selanjutnya adalah menentukan dimensi (tema objek/hal-hal pokok yang menjadi pusat tinjauan teori), indikator (uraian/rincian dimensi yang akan diukur), dan penulisan butir soal berdasarkan indikatornya. 

  • Kaidah Penulisan Soal

Dalam penulisan soal pada instrument non-tes, penulis butir soal harus memperhatikan ketentuan/kaidah penulisannya. Kaidahnya adalah seperti berikut ini.

  1. Materi
    1. Peryataan harus sesuai dengan rumusan indicator dalam kisi-kisi.
    2. Aspek yang diukur pada setiap pernyataan sudah sesuai dengan tuntutan dalam kisi-kisi (misal untuk tes sikap: aspek kognisi afeksi atau konasinya dan pernyataan positif atau negatifnya).
  2. Konstruksi
    1. Peryataan dirumuskan dengan singkat (tidak melebihi 20 kata) dan jelas.
    2. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang tidak relevan objek yang dipersoalkan atau kalimatnya merupakan pernyataan yang diperlukan saja.
    3. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda.
    4. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mengacu pada masa lalu.
    5. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang dapat diinterprestasikan sebagai fakta.
    6. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang dapat diinterprestasikan lebih dari satu cara.
    7. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mungkin disetujui atau dikosongkan oleh hampir semua responden.
    8. Setiap pernyataan hanya berisi satu gagasan secara lengkap.
    9. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang tidak pasti seperti semua, selalu, kadang-kadang, tidak satupun, tidak pernah.
    10. Jangan banyak mempergunakan kata hanya, sekedar, semata-mata. Gunakanlah seperlunya.
  3. Bahasa budaya
    1. Bahasa soal harus komunikatif dan sesuai dengan jenjang pendidikan peserta didik atau responden.
    2. Soal harus menggunakan bahasa Indonesia baku.
    3. Soal tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu.

Kaidah-kaidah penulisan tersebut secara lengkap dijelaskan oleh Rahman (2011: 105-110) disertai contoh-contoh dalam pelajaran Matematika sebagai berikut:

  1. Hindari menulis pernyataan yang membicarakan kejadian yang lalu kecuali jika objek sikapnya berkaitan dengan masa lalu.

Contoh yang kurang baik: Dulu ketika disekolah dasar saya menghindari pelajaran Matematika. Jika dulu menghindari pelajaran Matematika tidak secara otomatis akan menggambarkan sikap sekarang. Interaksi dalam pembelajaran dan interaksi sosial antara manusia secara umum sangat berpotensi untuk mempengaruhi dan mengubah sikap seseorang. Sikap bukan merupakan aspek psikologi yang stabil dalam waktu yang lama. Karena itu, pengukuran sikap hampir selalu ditunjukan untuk mengungkapkan sikap terhadap objek psikologi masa sekarang. Pernyataan tersebut akan lebih baik jika ditulis menjadi “Saya menghindari pelajaran Matematika”.

  1. Hindari menulis pernyataan berupa fakta atau dapat ditafsirkan sebagai fakta.

Contoh kurang baik: 1) matematika merupakan pelajaran tentang angka; 2) matematika merupakan salah satu pelajaran di SMA; dan 3) matematika adalah salah satu mata pelajaran yang sulit bagi peserta didk pada umumnya. Ketiga pernyataan ini merupakan fakta atau kenyataan. Setiap orang akan mendukung pernyataan seperti ini. Apa yang terungkap bukanlah ikap terhadap Matematika melainkan pengetahuannya tentang objek tersebut. Pernyataan yang berisi fakta tidak akan dapat memberikan informasi kepada kita mengenai bagaimana sikap responden yang sebenarnya. Pernyataan-pernyataan tersebut akan lebih baik jika ditulis sebagai berikut: 1) pelajaran tentang angka menarik untuk dipelajari; 2) kendatipun Matematika merupakan pelajaran wajib, saya tetap menghindarinya; dan 3) matematika merupakan mata pelajaran yang sulit dipahami.

  1. Hindari menulis pernyataan yang bermakna ganda

Contoh kurang baik: Saya membeli buku Matematika hanya jika diwajibkan oleh guru. Pernyataan ini akan menimbulkan penafsiran yang berbeda bagi responden. Guru mungkin bermaksud menuliskan pernyataan negative terkait sikap terhadap Matematika. Bagi peserta didik yang berasal dari keluarga mampu, pernyataan tersebut benar akan berfungsi sebagai pernyataan negative sebab jika mereka memiliki sikap positif dan berbakat terhadap mata pelajaran Matematika maka mereka akan membeli buku Matematika kapan pun jika mereka mau. Sebaliknya,yang berasal dari keluarga yang ekonominya pas-pasan, pernyataan tersebut akan berfungsi sebagai pernyataan positif, sebab kendatipun mereka memiliki sikap positif dan berbakat, namun tetap akan kesulitan untuk membeli buku Matematika, kecuali jika diwajibkan oleh guru. Pernyataan tersebut akan lebih baik jika diperbaiki menjadi: Saya tidak ingin membeli buku Matematika.

  1. Hindari menulis pernyataan yang tidak relevan dengan objeknya

Contoh kurang baik: 1) Indonesia sangat ketinggalan dalam bidang Matematika; dan 2) setiap ke dekolah daya membawa buku Matematika. Pernyataan pertama tida mempunyai kaitan dengan sikap terhadap Matematika. Benar bahwa bangsa Indonesia sangat ketinggalan dalam bidang Matematika dibanding dengan Negara-negara lain, namun peserta didik yang setuju atau tidak setuju terhadap pernyataan ini tidak dapat menggambarkan sikapnya terhadap Matematika. Peserta didik yang setuju bahawa Indonesia ketinggalan dalam bidang Matematika sehingga perlu ada upaya perbaikan dalam pembelajaran Matematika, belum tentu akan bersikap positif terhadap pelajaran Matematika. Sama halnya dengan pernyataan kedua, juga tidak mempunyai kaitan dengan sikap terhadap Matematika. Jika seandainya peserta didik setuju bahwa setiap ke sekolah membawa buku Matematika maka mungkin saja setiap hari ada pelajaran tambahan tentang Matematika atau mungkin pula buku itu tidak pernah dikeluarkan dari tas sekolahnya sehingga setiap hari selalu ikut terbawa ke sekolah. Sedangkan peserta didik yang tidak setuju juga tidak otomatis langung dimaknai memiliki sikap negatif terhadap Matematika, sebab sangat mungkin bagi peserta didik untuk tidak membawa buku pelajaran tertentu jika dalam jadwalnya tidak ada pelajaran itu. Kedua pernyataan itu tidak akan lebih baik jika ditulis lebih spesifik. Contoh lebih baik: 1) saya merasa ketinggalan dalam pelajaran Matematika; dan 2) setiap ada pelajaran Matematika saya membawa buku-buku yang diperlukan.

  1. Hindari menulis pernyataan yang memungkinkan untuk disetujui oleh hampir semua peserta atau bahkan hampir tidak seseorang pun peserta didik yang akan menyetujuinya. 

Contoh kurang baik: 1) peserta didik yang nilai ulangan Matematikanya rendah harus diberi remedial; dan 2) peserta didik yang nilai ulangn Matematikanya baik harus diberi pengayaan. Jika pernyataan seperti ini dimaksudkan sebagai pengungkap sikap terhadap mata pelajaran Matematika maka sangat mungkin untuk disetujui oleh semua peserta didik. Sehingga pernyataan-pernyataan ini tidak akan banyak menolong dalam mengukur sikap. Kedua pernyataan tersebut harus dirumuskan kembali agar lebih relevan dalam mengungkap sikap peserta didik. Contoh lebih baik: 1) pengajaran remedial tidak dapat membuat saya untuk memahami pelajaran Matematika; 2) saya tertarik untuk mengikuti pengayaan mata pelajaran Matematika.

  1. Setiap pernyataan harus berisi hanya satu gagasan lengkap

Contoh kurang baik: Matematika adalah pelajaran yang sulit dan sekaligus membosankan. Pernyataan ini mengandung dua gagasan yaitu “Matamatika adalah mata pelajaran yang sulit” dan “Matamatika adalah mata pelajaran yamg membosankan”. Kendatipun kedua pernyataan ini relevan untuk mengungkap sikap peserta didik terhadap mata pelajaran Matematika, namun dua gagasan yang digabung dalam satu pernyataan mungkin mempunyai derajat afeksi yang berbeda tingkatannya. Seorang peserta didik mungkin akan menyatakan sangat setuju dengan pernyataan pertama, namun akan menyatakan sangat tidak setuju dengan pernyataan kedua. Perbaikan yang dapat dilakukan adalah memisahkan kedua gagasan tersebut masing-masing ke dalam pernyataan yang berbeda. Pernyataan tersebut harus dirumuskan kembali agar lebih relevan dalam mengungkap sikap peserta didik. Contoh lebih baik: 1) matematika merupakan mata pelajaran yang sulit; dan 2) matematika merupakan mata pelajaran yang membosankan.

  1. Hindari penggunaan kata atau istilah yang mungkin tidak dapat dimengerti oleh reponden

                 Contoh kurang baik: Kendatipun diberi umpan balik tetap tidak akan meninggalkan motivasi saya dalam belajar Matematika. Tampaknya tidak sukar untuk memahami kalimat dalam pernayataan seperti ini. Namun apakah responden dapat memahami kalimat tersebut sebagai mana yang diinginkan oleh penulis pernyataan. Hal ini akan sangat tergantung pada keadaan responden yang akan meresponnya. Sebagian peserta didik mungkin akan memahami maksud kata umpan balik dan motivasi akan tetapi bagi kebanyakan peserta didik  mungkin kata umpan balik dan motivasi akan tidak memberi gambaran apapun, juga mungkin mereka tidak mengenalnya dalam percakapan sehari-hari. Contoh lebih baik: Diberi hadiah pun tetap akan meningkatkan kemampuan saya dalam belajar Matematika.

  1. Hindari menulis pernyataan yang berisi kata negatif ganda.

Contoh kurang baik: Tidak membuat jadwal belajar Matematika di rumah bukan merupakan cara belajar yang baik. Kata “tidak” dan “bukan” merupakan kata negatif yang dalam banyak hal dapat membingungkan pembaca. Jika yang dimaksudkan hendak menulis pernyataan positif terhadap belajar Matematika, maka kata tidak dan bukan dalam pernyataan itu dapat dihilangkan sama sekali tanpa mengubah kata kalimatnya. Pernyataan tersebut akan lebih baik jika dituli sebagai berikut: Contoh lebih baik: Membuat jadwal belajar Matematika dirumah merupakan cara belajar baik.



  1. Hindari menulis pernyataan yang akan disetujui karena isinya menggambarkan sesuatu yang dianggap sudah semestinya.

 

Contoh kurang baik: Setiap peserta didik SMA harus belajar Matematika. Lepas dari apakah peserta didik setuju atau tidak setuju (bersikap positif atau negatif) peserta didik cenderung akan menyetujui pernyataan seperti ini karena pelajaran Matematika merupakan bagian dari kurikulum yang harus dipelajari  setiap peserta didik SMA . dengan demikian maka, pernyataan ini tidak dapat berfungi sebagaimana seharunya dan tidak ada gunanya pengukuran sikap. 

  1. Hindari pernyataan-pernyataan yang diperkirakan mencakup keseluruhan skala afektif yang diinginkan.

Masing-masing pernyataan mempunyai derajat afektif yang berbeda-beda. Ada pernyataan yang mempunyai derajat afektif yang dalam sehingga dapat mengungkap intensitas sikap yang dalam pula, ada pernyataan yang mempunyai derajat afektif  yang dangkal sehingga hanya mengungkap intensitas sikap dangkal pula. Untuk skala sikap secara keseluruhan hendaknya terdiri atas berbagai derajat afektif yang bertingkat sehingga ada pernyataan-nya yang dapat mengungkapintensitsa sikap yang dalam dan pernyataan yang dibuat hanya untuk mengungkap intensitas sikap yang sederhana. Dengan demikian, maka akan diperoleh cakupan afektif yang luas. Contoh pernyataan yang mempunyai derajat afektif yang dalam: Saya rajin belajar Matematika. Saya tidak enak makan jika PR Matematika belum tuntas. Saya bercita-cita menjadi ahli Matematika. Ketiga pernyataan ini mempunyai derajat afektif yang dalam. Jika seseorang peserta didik rajin belajar Matematika, tidak enak maka jika belum menyelesaikan PR Matematika, atau dia bercita-cita menjadi seorang ahli Matematika maka sudah dipastikan bahwa peserta didik tersebut bersikap positif dan berbakat terhadap pelajaran Matematika.

  1. Setiap pernyataan hendaknya ditulsi ringkas tidak lebih dari 0 kata dan hindari kata-kata yang tidak diperlukan serta tidak memperjelas isi pernyataan.

Contoh kurang baik: Bagaimanapun saya belajar Matematika tetap tidak akan meninggalkan hasil belajar saya karena menurut saya pelajaran Matematika sangat sulit dan juga terkadang dalam kondisi tertentu sangat membosankan. Pernyataan ini mengandung lebih dari 0 kata dan menggunakan sejumlah kata kata yang seharunya tidak perlu digunakan. Kalimat yang digunakan panjang dan berbelit-belit sehingga sulit untuk ditafsirkan. Butir ini akan lebih baik jika dipecah menjadi beberapa pernyataan. Contoh lebih baik: Kendatipun belajar sungguh-sungguh hasil belajar Matematika saya tetap tidak meningkat. Saya benci mata pelajaran Matematika. Belajar Matematika terasa membosankan.

  1. Pernyataan yang berisi unsur-unsur yang bersifat umum, misalnya: tidak pernah, semuanya, selalu, tidak seorangpun, dan semacamnya, sering kali menimbulkan penaf-siran yang berbeda-beda sehingga sedapat mungkin dihindari.

Contoh kurang baik: 1) saya “sama sekali” tidak pernah membayangkan untuk menjadi ahli Matematika; 2) “semua hal” yang berhubungan dengan Matematika terasa menarik; dan 3) setiap kali guru mengajar Matematika di kelas “selalu” terasa membosankan. Pernyataan-pernyataan ini menggunakan kata-kata yang bersifat universal sehingga berpeluang untuk menimbulkan penafsiran ganda. Pernyataan-pernyataan tersebut akan lebih baik jika ditulis sebagai berikut: Contoh lebih baik: 1) saya tidak ingin menjadi ahli Matematika; 2) hal-hal yang berhubungan dengan Matematika terasa menarik; dan 3) saya merasa bosan ketika guru mengajar Matematika.

  1. Kata-lata hanya, sekedar, sama sekali, dan/atau semata-mata, harus digunakan seperlunya dan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kesalahan penafsiran.

Contoh kurang baik: 1) saya belajar Matematika “hanya” untuk menyenangkan orang tua; 2) saya belajar Matematika “sekedar untuk” memenuhi tutuntan guru dari sekolah; 3) belajar Matematika “sama sekali” tidak ada manfaatnya; dan 4) tujuan saya belajar Matematika “semata-mata” untuk mendapatkan pengetahuan. Pengguanaa kata-kata “hanya”, ”sekedar”, “sama sekali”, “semata-mata” pada pernyataan-pernyataan diatas dapat menimbulkan kesalahan penafsiran. Pernyataan-pernyataan itu akan tetap bermakna kendatipun tanpa menggunakan kata-kata tersebut. Oleh sebab itu, pernyataan-pernyataan tersebut akan lebih baik jika ditulis sebagai berikut: 1) saya belajar Matematika untuk menyenangkan orang tua; 2) saya belajar Matematika untuk memenuhi tuntutan guru; 3) belajar Matematika tidak ada manfaatnya; dan 4) saya belajar Matematika untuk menambah pengetahuan.

Butir-butir skala yang telah dikembangkan perlu dievaluasi. Mereka yang memahami dasar-dasar  konstruki skala sikap dan telah banyak pengalaman dan penulisan pernyataannya akan lebih peka dalam mengevaluasi setiap pernyataan (Rahman, 2011). Umumnya mereka dapat langung mengetahui adanya kejanggalan bahasa yang dipergunakan. Para penulis instrumen penilaian biasanya membuat pernyataan sebanyak mungkin. Disarankan agar jumlah butir instrumen yang dikembangkan paling sedikit tiga kali lipat dari yang diharapkan akan digunakan pengukuran. 

Hal ini perlu karena, setelah melalui tahapan-tahapan pemeriksaan dan ujicoba baik secara teoritis yaitu melalui penilaian pakar, ataupun secara empiris yaitu diujicobakan langung kepada responden yang setara dengan tempat pemberlakuan instrumen final, biasanya sejumlah pernyataan yang tidak valid akan dibuang. Seandainya jumlah butir yang dikembangkan kurang dari tiga kali lipatnya, dikhawatirkan setelah melalui beberapa tahapan pemeriksaan, jumlah butir yang valid sudah tidak cukup untuk mengukur konstruk yang menjadi sasaran ukurnya. Apalagi jika sampai ada indikator yang hilang karena semua butir pendukungnya tidak valid, maka menjadi kurang resprensentatif dari variable yang diukur, dan hal ini tentunya akan menyulitkan penulis instrumen, karena harus membuat kembali sejumlah butir untuk mengukur indikator tersebut. Selanjutnya butir-butir tambahan ini harus diujicobakan kembali secara teoritis dan secara empiris.

  • Contoh Penulisan Kisi-kisi Non Tes dan Butir Soal

Dalam bagian ini disajikan beberapa contoh penulisan kisi-kisi tes dan penulisan butir soal yang sederhana. Tujuan utamanya adalah agar contoh-contoh ini mudah dipahami oleh para pendidik disekolah. Contoh yang akan disajikan adalah penulisan kisi-kisi dan butir soal untuk tes skala sikap, tes minat belajar, tes motivasi berprestasi, dan tes kreativitas. Untuk contoh instrumen non tes lainnya, para pendidik dapat menyusunnya sendiri yang proses penyusunannya adalah sama dengan contoh yang ada disini.

  • Tes Skala Sikap

Berbagai definisi tentang sikap yang telah dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah Mueller (1986) yang menyampaikan 5 definisi dari 5 ahli, adalah seperti berikut ini. Sikap adalah afeksi untuk atau melawan, penialaian tentang, suka atau tidak suka, tanggapan positif atau negatif terhadap suatu objek psikologis (Thurstone). Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak ke arah atau melawan suatu faktor lingkungan (Emory Bogardus). Sikap adalah kesiapsiagaan mental atau saraf (Goldon Allport). Sikap adalah konsistensi dalam tanggapan terhadap objek-objek sosial (Donald Cambell). Sikap merupakan tanggapan tersembunyi yang ditimbulkan oleh suatu nilai (Ralp Linton).

  • Tes Minat Belajar

Minat adalah kesadaran yang timbul bahwa objek tertentu sangat disenangi dan melahirtkan perhatian yang tinggi bagi individu terhadap objek tersebut. Di samping itu, minat juga merupakan kemampuan untuk memberikan stimulus yang mendorong seseorang untuk memperhatikan aktivitas yang dilakukan berdasarkan pengalaman yang sebenarnya. Peserta didik yang menaruh minat pada suatu mata pelajaran, perhatian akan tinggi dan minatnya berfungsi sebagai pendorong kuat untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar pada pelajaran tersebut (Wardiman, 1996). Oleh karena itu, definisi operasional minat belajar adalah pilihan kesenangan dalam melakukan kegiatan dan dapat membangkitkan gairah seseorang untuk memenuhi kesediaanya yang dapat diukur melalui kesukacitaan, ketertarikan, perhatian dan keterlibatan. Berikut contoh kisi-kisi dan  soal minat belajar sastra Indonesia.

Tabel 14.2. Contoh Kisi-Kisi Minat Belajar Sastra Indonesia

No.

Dimensi

Indikator

Nomor Soal

1.


2.


3.


4.

Kesukaan


Ketertarikan


Perhatian


Keterlibatan 

Gairah

Inisiatif

Responsif

Kesegeraan

Konsentrasi

Ketelitian

Kemauan

Keuletan

Kerja Keras

8, 13

16, 17

10, 15, 20

2, 6, 9

7, 19

3, 10

4, 5

1, 18

12, 14

 

Tabel 14.3. Contoh Butir-butir Soal Minat Belajar Sastra Indonesia

No.

Pernyataan

SS

S

KK

J

TP

1. 

2.


7.


16.

20.

….

Saya segera mengerjakan PR sastra sebelum datang pekerjaan yang lain.

Saya asyik  dengan pikiran sendiri ketika pendidik menerangkan sastra di kelas.

Saya suka membaca buku sastra.

….

     

 

Ket. : SS = sangat sering, S = sering, KK = kadang-kadang, J = jarang, TP = tidak pernah.

Perhatikan contoh tes minat lainnya berikut ini.

Tabel 14.4. Contoh Tes Minat Peserta Didik Terhadap Mata Pelajaran

No.

Pernyataan

SL

SR

JR

TP

1.

2.

3.

4.

5.

6.


7.

8.


9.

10.

Saya senang mengikuti pelajaran ini.

Saya rugi bila tidak mengikuti pelajaran ini.

Saya merasa pelajaran ini bermanfaat.

Saya berusaha menyerahkan tugas tepat waktu.

Saya berusaha memahami pelajaran ini.

Saya bertanya kepada pendidik bila ada yang tidak jelas.

Saya mengerjakan soal-soal latihan di rumah.

Saya mendiskusikan mater pelajaran dengan teman sekelas.

Saya berusaha memiliki buku pelajaran ini.

Saya berusaha mencari bahan pelajaran di perpustakaan.

    

 

Keterangan : SL = selalu, SR = sering, JR = jarang, TP = tidak pernah.

Keterangan : Dari 4 kategori: skor terendah 10, skor tertinggi 40.

33 – 40: Sangat berminat      25 – 32: Berminat

  1. – 24: Kurang berminat     10 – 26: Tidak berminat
  • Tes Motivasi Berprestasi

Definisi konsep motivasi berprestasi adalah motivasi yang mendorong peserta didik untuk berbuat lebih baik dari apa yang pernah dibuat atau diraih sebelumnya maupun yang dibuat atau diraih orang lain (Wahidmurni, 2010). Definisi operasional motivasi berprestasi adalah motivasi yang mendorong seseorang untuk berbuat lebih baik dari apa yang pernah dibuat atau diraih sebelumnya maupun yang dibuat atau diraih orang lain yang dapat diukur melalui: (a) berusaha untuk unggul dalam kelompoknya; (b) menyelesaikan tugas dengan baik; (c) rasional dalam meraih keberhasilan; (d) menyukai tantangan; (e) menerima tanggung jawab pribadi untuk sukses; dan (f) menyukai situasi pekerjaan dengan tanggung jawab pribadi, umpan balik, dan resiko tingkat menengah. 

Tabel 14.5. Contoh Kisi-kisi Penyusunan Instrumen Variabel Motivasi Berprestasi

No.

Indikator

Pernyataan Positif

Pernyataan Negatif

Jumlah

1

2

3

4

5

6

Berusaha unggul

Menyelesaikan tugas dengan baik

Rasional dalam meraih keberhasilan

Menyukai tantangan

Menerima tanggungjawab pribadi sukses

Menyukai situasi pekerjaan dengan tanggungjawab pribadi, umpan balik, dan resiko tingkat menengah

1,2,3

7,8,9

13,14,15

19,20,21

25,26,27,28


33,34,35,36 

4,5,6

10,11,12

16,17,18

22,23,24

29,30,31,32


37,38,39,40

6

6

6

6

8


8

 

Jumlah Pernyataan

20

20

40

 

Contoh Butir Soal

  1. Saya bekerja keras agar prestasi saya lebih baik daripada teman-teman.
  1. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Tidak pernah
  1. Saya  berusaha untuk memperbaiki kinerja saya pada masa lalu.
  1. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Tidak pernah
  1. Saya mengabaikan tugas-tugas sebelum ada yang mengatur.
  1. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Tidak pernah

Tabel 14.6. Skor Jawaban Butir Soal dari Responden

Skor Jawaban

a

b

c

d

e

Pernyataan Positif

5

4

3

2

1

Pernyataan Negatif

1

2

3

4

5


  • Tes Kreativitas

Kreativitas merupakan proses berpikir yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah atau menjawab pertanyaan secara benar dan bermanfaat (Dacey, 1989). Disamping itu, kreativitas juga merupakan kemampuan berpikir divergen yang mencerminkan kelancaran, keluwesan dan orisinal dalam proses berpikir (Amabile, 1989). Ciri-ciri kreativitas berkaitan dengan imaginas, orisinalitas, berpikir divergen, penemuan hal-hal yang bersifat baru, intuisi, hal-hal yang menyangkut perubahan dan eksplorasi (Munandar, 2002). Desain tes kreativitas terdiri dari dua subtes yaitu dalam bentuk gambar dan verbal yang masing-masing bentuk memiliki ciri kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility), keaslian (originality), dan elaborasi (elaboration).

Ada tiga penggunaan tes kreativitas, yaitu untuk mengidentifikasi siswa berbakat kreatif, untuk tujuan penelitian, dan untuk tujuan konseling (Csikszentmihalyi, 1996). Berdasarkan beberapa pendapat para ahli, definisi konsepsual kreativitas adalah kemampuan berpikir divergen. Adapun definisi operasionalnya adalah kemampuan berpikir divergen yang memiliki sifat (dapat diukur melalui) kelancaran, keluwesan, keaslian, elaborasi, dan hasilnya dapat berguna untuk keperluan tertentu. Dari hasil pendefinisian konstruk ini, kisi-kisinya dapat disusun seperti contoh berikut ini.

Tabel 14.7. Contoh Kisi-kisi Butir Soal Tes Kreativitas

No.

Tes

Indikator

Nomor Soal

1.





2.

Verbal





Gambar 

  1. Kelancaran
  2. Keluwesan
  3. Keaslian
  4. Keelaborasian
  1. Kelancaran
  2. Keluwesan
  3. Keaslian
  4. Keelaborasian

1,2,3,4,5,6,7,8,9,10

11,12,16,18,19,20

13,14,15,17,21

22,25,26,28,29


23,24,27,30, 31,32

34,36,37,39,40

33,35,38,41,42, 43

44,45,46,47,48,49,50

 

Penskoran untuk setiap indikator di atas mempergunakan skala 0 – 4. Misalnya untuk indikator “kelancaran”, skor : 4 = sangat lancar, 3 = cukup lancar, 2 = kurang lancar, 1 = tidak lancar, 0 = tidak menjawab. Untuk indikator “keluwesan”, skor : 4 = sangat luwes, 3 = cukup luwes, 2 = kurang luwes, 1 = tidak luwes, 0 = tidak menjawab, demikian pula seterusnya. Adapun contoh butir soal seperti berikut.

  1. Contoh Tes Verbal
  1. Misalnya diberikan tiga gambar ikan dalam akuarium yang masing-masing dibedakan jumlah ikan dan makanannya. 

Pertanyaan: pilih salah satu gambar yang anda sukai dan jelaskan mengapa anda menyukainya! (waktu 3 menit).

  1. Buatlah kalimat sebanyak-banyaknya dengan kata “pintar”! (waktu 3 menit).
  2. Tuliskan berbagai cara tikus masuk ke dalam rumah! (waktu 3 menit).
  1. Contoh Tes Gambar
  1. Disajikan sebuah gambar yang belum selesai.

Pertanyaan: selesaikan rancangan gambar berikut dan berikan judul sesuai dengan selera Anda! (waktu 3 menit).

  1. Disajikan sebuah sketsa gambar yang belum selesai.

Pertanyaan: selesaikan sketsa gambar berikut menurut kesukaan anda dan setelah selesai berikut judulnya! (waktu 3 menit).

  • Tes Stres Belajar Menghadapi Ujian

Definisi konsep stres belajar adalah suatu kondisi kekuatan dan tanggapan sebagai interaksi dalam diri seseorang akibat dikonfrontasikan dengan suatu peluang, kendala, atau tuntutan belajar yang dikaitkan dengan apa yang sangat diinginkan dan hasilnya dipersepsikan sebagai suatu yang tidak pasti atau penting (Wahidmurni, 2010). Definisi operasional stres belajar adalah suatu kondisi kekuatan dan tanggapan sebagai interaksi dalam diri seseorang akibat dikonfrontasikan dengan suatu peluang, kendala, atau tuntutan belajar yang dikaitkan dengan apa yang sangat diinginkan dan hasilnya dipersepsikan sebagai suatu yang tidak pasti atau penting yang dapat diukur melalui: (a) tanggapan psikologis seperti perasaan cemas, khawatir, takut, tidak senang, perasaan terganggu, dan lepas kendali; (b) tanggapan fisik seperti rasa lelah, jantung berdebar, rasa sakit, dan tekanan darah terganggu; dan (c) tanggapan perseptual seperti keyakinan. Berikut contoh kisi-kisi dan soal stres belajar.




Tabel 14.8. Contoh Kisi-kisi Instrumen Stres Belajar

No.

Dimensi

Indikator

Nomor Soal

1.




Tanggapan

Psikologis terhadap kendala dan tuntutan)

  1. Perasaan cemas
  2. Khawatir
  3. Takut
  4. Tidak senang
  5. Perasaan terganggu
  6. Lepas Kendali

1,2

3,4,5

6,7,8,9

10,11,12,13,14,15,16,

17,18,19,20,21,22,

23,24,25,26,27,28,29,30

2.

Tanggapan Fisik (akibat tuntutan)

  1. Rasa lelah
  2. Jantung berdebar
  3. Rasa sakit
  4. Tekanan darah terganggu

31,32,33,34,

35,36,37,

38,39,40,

41,42,43,

3.

Tanggapan Perseptual (terhadap pencapaian)

  1. Tanggapan dan keyakinan

44,45,46,47,48,49,50

 

Keterangan: nomor soal ganjil adalah pernyataan positif, nomor soal genap adalah pernyataan negatif.

Tabel 14.9. Contoh Butir-butir Soal Stres Belajar.

No.

Pernyataan

SS

S

KK

J

TP

1.


6.

20.


36.


50.

Saya cemas terhadap kemampuan saya di sekolah.

Saya takut ranking saya turun.

Saya kehilangan nafsu maka setiap menghadapi tuntutan tugas.

Jantung saya berdebar-debar ketika sedang menyelesaikan tugas

     

 

Keterangan : SS = sangat sering, S = sering, KK = kadang-kadang, J = jarang, TP = tidak pernah.

  • Teknik Penskoran

Salah satu kegiatan dari penulisan butir soal yaitu teknik penskoran. Pada hakekatnya pensekoran adalah suatu proses pengukuran jawaban instrumen menjadi angka-angka yang merupakan nilai kuantitatif dari suatu jawaban terhadap item dalam instrumen (Djaali dan Puji Mulyono, 2004: 120). Jadi pensekoran merupakan kuantifikasi terhadap jawaban instrumen. Dengan memberikan skor dapat diperoleh deskripsi tentang nilai atau harga suatu variabel untuk masing-masing unit analisis dalam penelitian. Ada cara sederhana untuk menskor hasil jawaban peserta didik dari instrumen non tes. Sebagai contoh, tes skala sikap di atas telah dikerjakan oleh salah satu peserta didik.

Tabel 14.10. Contoh Tes Skala Sikap yang Dikerjakan oleh Seorang Siswa

Nama peserta didik: Sri Rahayu

No.

Pernyataan

SS

S

TS

STS

1.


2.


3.

4.


5.



6.

Mau menerima pendapat orang lain merupakan ciri bertoleransi.

Untuk mewujudkan cita-cita harus memaksakan kehendak

Saya suka menerima pendapat orang lain 

Memilih teman di sekolah, saya utamakan mereka yang pandai saja

Kalau saya boleh memilih, saya akan selalu mendengarkan usul kedua orang tuaku.

Bekerja sama dengan orang yang berbeda suku lebih baik dihindarkan.

X







X





X






X



X







X

 

Penjelasan: Dalam kisi-kisi tes, soal nomor 1 – 6 hanya mewakili indikator “mau menerima pendapat orang lain” dari dimensi “toleransi” untuk topik “sikap belajar peserta didik di sekolah”. Sebagai contoh penskorannya adalah seperti berikut ini.

  1. Perilaku positif terdapat pada soal nomor 1, 3, 5 dengan pemberian skor : SS = 4, S = 3, TS = 2, STS = 1.
  2. Perilaku negatif terdapat pada soal nomor 2, 4, 6 dengan pemberian skor: SS = 1, S = 2, TS = 3, STS = 4.
  3. Skor yang harus diperoleh dalam perilaku positif minimal 3 x 4 = 12,

Maksimal 3 x 5 = 15, (3 berasal dari 3 butir soal yang positif; 3 adalah skor S; 4 adalah skor SS).

  1. Skor yang harus diperoleh dalam perilaku negatif minimal 3 x 2 = 6, 

Maksimal 3 x 1 = 3 (3 berasal dari 3 butir soal yang negatif, 2 adalah skor S; 1 adalah skor SS).

  1. Skor rata-rata: perilaku minimal adalah (12 + 6) : 2 = 9.

Perilaku maksimal adalah (15 + 3) : 2 = 9.

  1. Jadi skor Susiana di atas adalah seperti berikut ini.

Perilaku positif 5 + 4 + 1 = 10, perilaku negatif 4 + 2 + 3 = 9.

Skor akhir Susiana adalah (10 + 9) : 2 = 9,5 atau 10.

Skor Susiana 10, sedangkan ukuran perilaku positif minimal 12 dan maksimalnya adalah 15. Jadi sikap Susiana tentang “toleransi” khususnya mau menerima pendapat orang lain” dalam topik “sikap belajar peserta didik di sekolah” masih kurang. Artinya bahwa Susiana mempunyai sikap positif yang tidak begitu tinggi tentang “mau menerima pendapat orang lain”. Dia perlu pembinaan dan peningkatan khususnya mengenai perilaku ini. 

Menurut Sudjana (2001), alat-alat penilaian hasil dan proses belajar-mengajar, di samping berupa tes, bisa digunakan juga berupa teknik wawancara, kuesioner, observasi, skala, sosiometri, studi kasus, dan lain sebagainya. Berdasarkan pengamatan di sekolah dewasa ini, alat-alat penilaian non tes atau bukan tes masih jarang digunakan, baik dalam menilai hasil belajar maupun proses belajar mengajar, padahal data hasil penilaian melalui alat-alat tersebut, tidak kalah maknanya dibandingkan dengan data penilaian melalui tes hasil belajar. Kuesioner dan wawancara digunakan untuk memperoleh data mengenai pendapat, pandangan, saran dan kritik dari responden (siswa, guru, orang tua) terhadap proses dan hasil belajar di sekolah. Observasi terutama digunakan untuk memperoleh data mengenai perilaku atau proses kegiatan belajar-mengajar selama berlangsungnya pengajaran. Skala sikap dapat digunakan untuk memperoleh data tentang penilaian, sikap, dan minat seseorang terhadap objek tertentu.

  1. Skala Sosiometri

Skala ini dikembangkan oleh J.I. Moreno dan Helen H. Jenings. Menurut Usman dan Akbar (2003: 64), skala sosiometri lebih tepat untuk mengukur penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu dalam lingkungan atau kelompok tertentu. Sosiometri adalah suatu penilaian untuk menentukan pola pertalian dan kedudukan seseorang dalam suatu kelompok (Nazir, 2005). Sehingga sosiometri merupakan alat yag tepat untuk menilai hubungan sosial dan tingkah laku sosial dari murid-murid dalam suatu kelas, yang meliputi stuktur hubungan individu, susunan antar individu dan arah ubungan sosial. Sehingga dengan demikian seorang guru dapat mengetahui bagaimana keadaan hubungan sosial dari tiap-tiap anak dalam suatu kelompok atau kelas.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan guru dalam sosiometri adalah: 1. Langkah pemilihan teman. Disini guru menyuruh semua murid untuk memilih teman-temannya yang disenangi secara berurutan sebanyak satu atau dua anak. Dalam memilih anak perlu disebutkan alasan mengapa harus memilih teman itu. 2. Langkah Pembuatan Gambar (Sosiogram). Dari data yang telah kita buat dalam metrik sosiometri, dapat pula kita buat sebuah peta atau sosiogram. Dalam pembuatan sosiogram usahakan anak yang paling banyak dipilih diletakan ditengah-tengah, agar dapat mudah diketahui siapa yang paling banyak dipilih. 

Dengan melihat hasil sosiometri kita dapat mengetahui bagaimana kedudukan dan relasi sosial dari masing-masing anak dalam kelompok. Sehingga hasil dari sosiogram ini dapat dibuat pertimbangan untuk menilai sikap sosial anak dan kepribadiannya dalam kelompok. Sosiometri sebagai alat penilaian non-tes sangat berguna bagi guru dalam beberapa hal, antara lain: 1) untuk pembentukan kelompok dalam menentukan kelompok kerja (pembagian tugas); 2) untuk pengarahan dinamika kelompok; dan 3) untuk memperbaiki hubungan individu dalam kelompok dan memberi bimbingan kepada setiap anak.

  1. Penilaian Berbasis Portofolio

Portofolio merupakan suatu kumpulan pekerjaan peserta didik dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang telah ditetapkan. Panduan-panduan ini beragam bergantung pada mata pelajaran dan tujuan penilaian portofolio itu sendiri (Budimansyah, 2002). Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik, hasil tes (bukan nilai) atau bentuk informasi lain yang terkait dengan kompetensi tertentu dalam satu mata pelajaran (Surapranata, 2004).

Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya siswa secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran. Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan peserta didik sendiri. Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik dan terus melakukan perbaikan. Dengan demikian, portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik melalui karyanya, antara lain: karangan, puisi, surat, komposisi musik, gambar, foto, lukisan, resensi buku atau literature, laporan penilaian, sinopsis, dan sebagainya.

Secara umum, penilaian portofolio dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu portofolio proses dan portofolio produk. Sebagai instrumen penilaian portofolio difokuskan pada dokumen kerja siswa yang produktif, sebagai bukti tentang apa yang dapat dilakukan oleh siswa (Sondang, 2010).  Portofolio siswa untuk penilaian merupakan kumpulan produksi siswa, berisi berbagai jenis karya siswa, misalnya hasil praktek yang dilaporkan secara tertulis, gambar atau laporan hasil pengamatan siswa berkaitan dengan mata pelajaran, analisis situasi, deskripsi dan diagram pemecahan masalah, penyelesaian soal-soal, hasil tugas pekerjaan rumah, laporan kerja kelompok, hasil kerja yang diperoleh menggunakan alat rekam (video, audio, dan komputer), dan cerita tentang usaha sendiri dalam mengatasi hambatan psikologis atau usaha peningkatan diri dalam mempelajari mata pelajaran tertentu serta laporan tentang sikap siswa terhadap pelajaran.

Portofolio berisikan beragam tugas, antara lain: draft mentah, nilai, makalah, benda kerja, kritik dan ringkasan, lembaran refleksi diri, pekerjaan rumah, jurnal, respon kelompok, grafik, lembaran catatan dan catatan diskusi. Menurut Madya (2006) dalam pembelajaran, proses terpenting pada metode penilaian portofolio adalah seleksi, refleksi, dan kolaborasi. Proses penilaian ini sangat menunjang bila dilakukan bersamaan dengan pembelajaran training model, terutama dalam teknik pemantauan tugas latihan gambar desain fashion modifikasi  yang dilakukan berulang-ulang. Usaha memahami proses, masalah, persoalan dan kendala dengan diskusi antara dosen dan mahasiswa merupakan prinsip refleksi dan kolaborasi pada portofolio. Dari hasil kolaboratif antara dosen dan mahasiswa dilakukan umpan balik sehingga mengantarkan mahasiswa untuk penilaian diri.

Hal ini sesuai dengan pendapat Yuliarma (2010) bahwa portofolio melibatkan mahasiswa untuk merefleksi diri tentang dirinya sendiri. Dengan demikian, portofolio tidak hanya sebagai evaluasi melainkan juga sebagai medium instruksional, yaitu metode instruksional (pembelajaran), seperti: mengantarkan mahasiswa menilai portofolio gambar desain fashion illustration, desain ragam hias dan presentation drawing, menggambar refleksi, evaluasi diri, menguraikan jenis pekerjaan portofolio dan juga sebagai alat untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran menggambar desain modifikasi. Jadi portofolio merupakan hasil bundelan atau koleksi yang sistematis dari hasil pekerjaan mahasiswa yang dapat digunakan untuk bahan dasar penilaian tentang penguasaan atau mempraktikan teori. Hasil koleksi mahasiswa tersebut diberikan nilai dan umpan balik sehingga dapat meningkatkan kreativitas mahasiswa dalam membuat karya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam penggunaan penilaian portofolio di sekolah, antara lain:

  1. Karya siswa adalah benar-benar karya peserta didik itu sendiri. 

Guru melakukan penelitian atas hasil karya peserta didik yang dijadikan bahan penilaian portofolio agar karya tersebut merupakan hasil karya yang dibuat oleh peserta didik itu sendiri.

  1. Saling percaya antara guru dan peserta didik.

Dalam proses penilaian guru dan peserta didik harus memiliki rasa saling percaya, saling memerlukan dan saling membantu sehingga terjadi proses pendidikan berlangsung dengan baik.

  1. Kerahasiaan bersama antara guru dan peserta didik.

Kerahasiaan hasil pengumpulan informasi perkembangan peserta didik perlu dijaga dengan baik dan tidak disampaikan kepada pihak-pihak yang tidak berkepentingan sehingga memberi dampak negatif proses pendidikan.

  1. Milik bersama (joint ownership) antara peserta didik dan guru. 

Guru dan peserta didik perlu mempunyai rasa memiliki berkas portofolio sehingga peserta didik akan merasa memiliki karya yang dikumpulkan dan akhirnya akan berupaya terus meningkatkan kemampuannya.

  1. Kepuasan

Hasil kerja portofolio sebaiknya berisi keterangan dan atau bukti yang memberikan dorongan peserta didik untuk lebih meningkatkan diri.

  1. Kesesuaian

Hasil kerja yang dikumpulkan adalah hasil kerja yang sesuai dengan kompetensi yang tercantum dalam kurikulum.

  1. Penilaian proses dan hasil

Penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil. Proses belajar yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan guru tentang kinerja dan karya peserta didik.

  1. Penilaian dan pembelajaran

Penilaian portofolio merupakan hal yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Manfaat utama penilaian ini sebagai diagnostik yang sangat berarti bagi guru untuk melihat kelebihan dan kekurangan  peserta didik.

Manfaat dari penilaian portofolio antara lain: (a) dapat memberikan gambaran yang utuh tentang perkembangan kemampuan siswa; (b) merupakan penilaian autentik; (c) merupakan teknik penilaian yang dapat mendorong siswa mencapai hasil yang lebih baik dan lebih sempurna, dapat belajar optimal tanpa merasa tertekan; (d) menumbuhkan motivasi belajar siswa; dan (e) mendorong para orang tua siswa untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran siswa (Sanjaya, 2007). Selanjutnya dikatakan bahwa prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam penilaian portofolio adalah saling percaya, keterbukaan, kerahasiaan, milik bersama, kepuasan dan kesesuaian, budaya pembelajaran, refleksi serta berorientasi pada proses dan hasil. 

Menggunakan penilaian portofolio dalam proses pembelajaran melalui tahapan antara lain: menentukan tujuan portofolio, menentukan isi portofolio, menentukan kriteria dan format penilaian, pengamatan dan penentuan bahan portofolio serta menyusun dokumen portofolio. Penilaian  portofolio merupakan penilaian yang dilakukan oleh guru untuk mengetahui perkembangan kemampuan siswa secara komprehensif. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Nurbaity, et al (2010) yang mengungkapkan bahwa implementasi lesson study menggunakan penilaian portofolio menunjukkan bahwa siswa dengan gaya belajar visual, aktivitas belajarnya meningkat jika menggunakan portofolio jenis tulisan dan gambar. Siswa dengan gaya belajar auditori, aktivitas belajarnya meningkat jika menggunakan protofolio jenis lisan atau lagu, sehingga siswa kelas VIII SMP Sekolah Alam Al-Jannah Jakarta pada mata pelajaran Kimia dalam IPA Terpadu sebagai berikut: (a) gaya belajar siswa berpengaruh terhadap peningkatan aktivitas belajar; (b) metode pembelajaran yang bervariasi meningkatkan aktivitas belajar; dan (c) kecenderungan gaya belajar tertentu dalam diri siswa tidak menutup kemungkinan munculnya gaya belajar lain dalam proses pembelajaran.

Teknik penilaian portofolio di dalam kelas memerlukan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Menjelaskan kepada peserta didik bahwa penggunaan portofolio, tidak hanya merupakan kumpulan hasil kerja peserta didik yang digunakan oleh guru untuk penilaian, tetapi digunakan juga oleh peserta didik sendiri. Dengan melihat portofolionya peserta didik dapat mengetahui kemampuan, keterampilan, dan minatnya. Proses ini tidak akan terjadi secara spontan, tetapi membutuhkan waktu bagi peserta didik untuk belajar meyakini hasil penilaian mereka sendiri.
  2. Menentukan bersama peserta didik sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat. Portofolio antara peserta didik yang satu dan yang lain bisa sama bisa berbeda. Misalnya, untuk kemampuan menulis peserta didik mengumpulkan karangan-karangannya. Mengumpulkan dan menyimpan karya-karya tiap peserta didik dalam satu map atau folder di rumah masing-masing atau loker masing-masing sekolah.
  3. Memberi tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan peserta didik sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu.
  4. Sebaiknya tentukan kriteria penilaian sampel portofolio dan bobotnya dengan para peserta didik sebelum mereka membuat karyanya. Diskusikan cara penilaian kualitas karya para peserta didik. Contoh, kriteria penilaian kemampuan menulis karangan yaitu: penggunaan tata bahasa, pemilihan kata-kata, kelengkapan gagasan, dan sistematika penulisan.
  5. Meminta peserta didik menilai karyanya secara berkesinambungan. Guru dapat membimbing peserta didik, bagaimana cara menilai dengan memberi keterangan tentang keberhasilan dan kekurangan karya tersebut, serta bagaimana cara memperbaikinya. Hal ini dapat dilakukan pada saat membahas portofolio.
  6. Setelah suatu karya dinilai dan nilainya belum memuaskan, maka peserta didik diberi kesempatan untuk memperbaiki. 

Dari uraian tersebut diatas dapatlah dipahami, bahwa dalam rangka hasil evaluasi hasil belajar peserta didik, evaluasi tidak harus semata-mata dilakukan denan mengunakan alat berupa tes-tes hasil belajar. Teknik-teknik non-tes juga menempati kedudukan yang penting dalam rangka evaluasi hasil belajar, lebih-lebih evaluasi yang berhubungan dengan kondisi kejiwaan peserta didik, seperti persepsinya terhadap guru, minatnya, bakatnya, tingkah laku atau sikapnya, dan sebagainya, yang kesemuannya itu tidak mungkin dievaluasi dengan mengunakan tes sebagai alat pengukurnya.

Rangkuman

Instrumen non-tes adalah instrumen selain tes prestasi belajar. Alat penilaian yang dapat digunakan antara lain: lembar pengamatan/observasi (seperti catatan harian, portofolio, life skill), instrumen tes sikap, minat, teknik wawancara, kuesioner, sosiometri, studi kasus, dan lain sebagainya. Dalam pengembangan instrumen non tes yang perlu diperhatikan adalah langkah-langkah pengembangan instrumen, penyusunan kisi-kisi instrumen non tes, dan kaidah penulisan butir-butir instrumen. Contoh-contoh penulisan kisi-kisi non tes dan butir soal adalah tes skala sikap, tes minat belajar, tes motivasi berprestasi, tes kreativitas, tes stress belajar menghadapi ujian. 

Teknik penskoran suatu proses pengukuran jawaban instrumen menjadi angka-angka yang merupakan nilai kuantitatif dari suatu jawaban butir soal dalam instrumen. Jadi pensekoran merupakan kuantifikasi terhadap jawaban responden terhadap instrumen yang diberikan. Sosiometri adalah suatu penilaian untuk menentukan pola pertalian dan kedudukan seseorang dalam suatu kelompok (Nazir, 2005). Sehingga sosiometri merupakan alat yag tepat untuk menilai hubungan sosial dan tingkah laku sosial dari murid-murid dalam suatu kelas, yang meliputi stuktur hubungan individu, susunan antar individu dan arah ubungan sosial. Sehingga dengan demikian seorang guru dapat mengetahui bagaimana keadaan hubungan sosial dari tiap-tiap anak dalam suatu kelompok atau kelas.

Portofolio merupakan suatu kumpulan pekerjaan peserta didik dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang telah ditetapkan. Panduan-panduan ini beragam bergantung pada mata pelajaran dan tujuan penilaian portofolio itu sendiri. Secara umum, penilaian portofolio dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu portofolio proses dan portofolio produk. Sebagai instrumen penilaian portofolio difokuskan pada dokumen kerja siswa yang produktif, sebagai bukti tentang apa yang dapat dilakukan oleh siswa. Penilaian non tes masih jarang digunakan dalam menilai hasil belajar mengajar, padahal data hasil penilaian melalui alat-alat tersebut, tidak kalah maknanya dibandingkan dengan data penilaian melalui tes hasil belajar. 

Daftar Pustaka

Amabile, T.M, 1989. Growing Up Creative. New York: Basic Books.

Budimansyah, Dasim, 2002. Model Pembelajaran dan Penilaian Portofolio, Bandung: Genesindo.

Dacey, J.S, 1989. Fundamental of Creative Thinking. New York: Lexington Books.

Djojonegoro, Wardiman, 1996. “Giftedness: A Gift and A Challenge” dalam U. Munandar dan C. Semiawan (ed.), Optimizing Excellence in Human Resource Development. Proceedings of the 4th Asia-Pacific Conference on Giftedness, Jakarta.

Djaali, Pudji Mulyono, 2004. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan, Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta.

Kumaidi, 2008. Mata Kuliah Konstruksi Instrumen. Yogyakarta: Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.

Kusaeri, Suprananto. 2012. Pengukuran dan Penilaian Pendidikan, Yogyakarta: Graha Ilmu.

Linn, R.L., dan Gronlund, N.E, 1995. Measurement and Assessment in Teaching. New Jersey: Prentice Hall.

Mardapi, Djemari, 2003. Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi. Makalah disampaikan pada Seminar Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI) pada tanggal 26 dan 27 Maret 2003. Yogyakarta.  

Madya, Suwarsih, 2006. Teori dan Praktik Penelitian Tindakan: Action Research, Bandung: Alfabeta.

Mahmud. 2011. Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia.

Nazir, Muhammad. 2005. Metode Penelitian, Bogor: Ghalia Indonesia.

Popham, W James, 1991. Modern Educational Measurement, Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, Inc.

Rahman, Abdul A. Ghani, 2011. “Penulisan dan Pengembangan Instrumen Non Tes”. Jurnal Evaluasi Pendidikan, Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Pascasarjana UHAMKA, Vol. 2, No. 1, Juni 2011.

Retnowati, Tri Hartati, 2009. “Pengembangan Instrumen Penilaian Proses dan Produk Karya Seni Lukis Anak di Sekolah Dasar”, Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, Tahun 13, Nomor 1. 2009.

 

Surapranata, Sumarna, dan Muhammad Hatta, 2004. Penilaian Portofolio, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Surapranata, Sumarna, 2004. Panduan Penulisan Tes Tertulis, Bandung: Remaja Rosdakarya. 

Sudijono, Anas, 2003. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Rajawali Press: Jakarta.

Suryabrata, Sumardi, 2002. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Penerbit Andi: Yogyakarta.

Sudjana, Nana, 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Rosdakarya: Bandung.

Utami Munandar, S.C, 2002. Kreativitas dan Keberbakatan: Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Usman, H, Purnomo Setiady Akbar, 2003. Metodologi Penelitian Sosial, Jakarta: Bumi Aksara.

Wahidmurni, Alfin Mustikawan, dan Ali Ridho, 2010. Evaluasi Pembelajaran: Kompetensi dan Praktek. Yogyakarta: Nuha Litera.

Widoyoko, Eko Putro, S. 2012. Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian. Bandung: Pustaka Pelajar.

Winkel, W.S, 2004. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.

Kekuatan bukan sumber dari kemenangan. Perjuangan Andalah yang melahirkan 

kekuatan. Ketika menghadapi kesulitan dan tidak menyerah, itulah kekuatan Anda. 

 

Arnold Schwarzenegger

Leave A Reply