PENYEBARAN KUESIONER DAN PEDOMAN WAWANCARA
Arus kehidupan mengejutkan kita hingga kita terlempar keluar jalur dan mencegah kita
sampai ke tujuan. Cuaca yang tidak terduga dapat mengubah arah dan strategi kita.
Teruslah menyesuaikan pemikiran kita, agar kita bisa hidup dengan benar.
John C. Maxwell
Pembahasan Materi
Bab ini membahas tentang pengertian kuesioner, bentuk pertanyaan, perumusan kata-kata pertanyaan: ambiguitas dan ketidaktepatan, asumsi-asumsi, kenangan, pengetahuan, pertanyaan ganda, pertanyaan yang mengarahkan, pertanyaan pra asumsi, pertanyaan yang menyakitkan dan menutupi masalah peka. Penampilan dan tata letak kuesioner, pembuatan sampel, penuntunan kuesioner, pendistribusian dan pengembalian kuesioner, kuesioner yang tidak dijawab. Perencanaan dan pelaksanaan wawancara: etika melakukan wawancara, keuntungan dan kerugian wawancara, perumusan kata-kata pertanyaan wawamcara, jadwal wawancara, wawancara kelompok dan kelompok fokus, wawancara menggunakan alat perekam, dan bias wawancara.
- Pendahuluan
Anda akan sampai pada tahap pembuatan kuesioner setelah Anda melakukan semua pekerjaan pendahuluan, yaitu pekerjaan yang berkaitan dengan perencanaan dan konsultasi, serta memutuskan secara tepat apa yang perlu Anda temukan. Hanya pada saat itulah Anda tahu apakah kuesioner cocok untuk tujuan itu dan merupakan cara terbaik untuk pengumpulan informasi dibandingkan misalnya, wawancara atau observasi. Jika demikian, Anda perlu menjamin bahwa diri Anda telah membuat kuesioner yang dirancang dengan sangat baik dengan memberikan kepada Anda informasi yang Anda perlukan, sesuai dengan masalah Anda dan semuanya itu tidak menimbulkan masalah pada tahap analisis dan interpretasi.
Memang lebih sulit membuat kuesioner yang benar-benar bagus ketimbang yang Anda bayangkan sebelumnya. Tidak dapat Anda pungkiri bahwa merancang kuesioner itu benar-benar sulit dan seharusnya tidak dirancang oleh siapa saja yang yakin bahwa ‘siapa saja yang dapat menulis bahasa dengan jelas dan dengan sedikit akal sehat dapat menghasilkan kuesioner yang bagus (Oppenheim 1992). Tentu seperti dikatakan Oppenheim, akal sehat dan kemampuan menulis bahasa dengan jelas selalu menjadi bantuan dalam berbagai latar belakang manusia, tetapi perencanaan kuesioner mempersyaratkan lebih daripada itu. Ia mempersyaratkan adanya disiplin dalam memilih pertanyaan, dalam penulisan pertanyaan, dalam pembuatan rancangan, tuntunan, pembagian dan pengembalian kuesioner. Lebih jauh lagi, pemikiran harus dicurahkan terhadap bagaimana jawaban-jawaban itu dianalisis pada tahap rancangan, buku sesudah kuesioner dikembalikan. Jika Anda menyebarkan kuesioner dan hanya mengharpkan yang terbaik, maka Anda mungkin menemukan jawaban yang dikembalikan tidak mungkin diolah.
Bacaan pendahuluan dan rancangan penelitian Anda mengidentifikasikan bidang-bidang penting penyelidikan. Kembalilah kepada hipotesis atau tujuan Anda, kemudian putuskan pertanyaan mana yang perlu Anda ajukan guna mencapai tujuan yang Anda maksud. Kemudian Anda tuliskan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul pada kartu-kartu atau pada lembaran kertas terpisah, untuk memudahkan pengaturan pada tahap berikutnya. Anda memerlukan beberapa upaya perumusan kata-kata guna menghindari ambiguitas, untuk memperoleh tingkat ketepatan yang menjamin bahwa subjek penelitian memahami dengan tepat apa yang Anda tanyakan, untuk memeriksa bahwa bahasa Anda bebas dari jargon-jargon, untuk memutuskan bentuk pertanyaan mana yang digunakan, dan untuk menjamin bahwa Anda mampu mengklasifikasikan dan menganalisis jawaban. Petunjuk analisis diberikan dalam bab sebelumnya. Sebelum Anda menyelesaikan rancangan kuesioner, Anda seharusnya membaca bab ini dengan teliti. Waktu yang dicurahkan untuk persiapan kuesioner menghemat banyak waktu kerja di kemudian hari.
- Bentuk Pertanyaan
Semakin terstrukturnya sebuah pertanyaan, semakin mudah untuk dianalisis. Youngman (1994) membuat daftar tujuh bentuk pertanyaan sebagai berikut:
Verbal atau terbuka | Jawaban yang diharapkan adalah satu kata, frasa atau komentar yang diperluas. Jawaban atas pertanyaan lisan dapat menghasilkan informasi bermanfaat, tetapi analisinya bisa menimbulkan persoalan. Beberapa bentuk analisis isi mungkin dipersyaratkan untuk bahan-bahan verbal kecuali informasi yang diperoleh untuk tujuan khusus. Sebagai contoh, Anda mungkin merasa perlu memberikan kepada responden kesempatan mengungkapkan pandangan mereka sendiri atas topik yang tengah diselidiki, atau untuk mengungkapkan keluhan mereka. Anda mungkin ingin menggunakan pertanyaan sebagai pengantar pada wawancara selanjutnya atau dalam menentukan wawancara penting untuk mengetahui aspek mana dari topik yang benar-benar penting bagi para responden. | |
Pertanyaan yang disusun dengan baik tidak memunculkan banyak persoalan pada tahap analisis. | ||
Daftar | Mengakukan sebuah dafat butir pertanyaan, namun ada pertanyaan dalam daftar mungkin perlu diselidiki. Misalnya, pertanyaan, tentang kualifikasi dan responden mungkin memiliki beberapa kualifikasi yang dibutuhkan dalam daftar. | |
Kategori | Jawabannya hanya satu atas perangkat kategori yang diberikan. Sebagai contoh, jika kategori usia diberikan (20 – 29, 30 – 39, dan seterusnya) maka responden hanya dapat cocok dengan satu kategori. | |
Peringkat (Ranking) | dalam pertanyaan pemeringkatan, responden diminta menempatkan sesuatu dalam peringkat yang teratur. Sebagai contoh, responden mungkin diminta menempatkan kualitas atau karakteristik secara teratur. | |
Kuantitas | Jawaban berupa sebuah angka (tepat atau perkiraan), memberikan jumlah dari beberapa karakteristik. | |
Kisi-kisi | Daftar atau kisi-kisi diberikan guna mendokumentasikan jawaban pada dua atau lebih jawaban pada waktu yang sama. | |
Skala | Ada berbagai tahap kiat (devices) penskalaan yang mungkin dapat digunakan dalam kuesioner, tetapi menuntut penanganan yang teliti | |
Para mahasiswa memperhatikan bahwa sekali mereka menguji cobakan dan semakin akrab dengan berbagai cara menganalisis dan menyajikan jawaban-jawaban kuesioner berdasarkan daftar, kategori, peringkat, skala, kuantitas atau skala pertanyaan, maka mereka mampu memiliki format yang paling tepat ketika tiba pada tahap mendesain data mereka serta menganalisis data dalam proyek mereka.
- Perumusan Kata-kata Pertanyaan
- Ambiguitas dan Ketidaktepatan
Kata-kata yang memiliki pengertian yang sama bagi Anda bisa berbagai orang lain, karena itu Anda perlu memperhitungkan apa arti yang mungkin dimaksudkan pertanyaan Anda bagi responden yang berada. Sebagai contoh, andakian ingin menemukan berapa banyak waktu yang dihabiskan oleh para mahasiswa dewasa, Anda menanyakan: Berapa banyak waktu, secara rata-rata, Anda habiskan untuk belajar? Anda meminta responden Anda memberikan tanda centang pada kotak pertanyaan untuk ‘sejumlah besar’, ‘jumlah tertentu’, atau ‘tidak banyak.’ Apakah yang Anda lakukan dengan jawaban-jawaban itu? Apakah yang mereka maksudkan? ‘Sejumlah besar’ mungkin berarti sesuatu yang berbeda pada mahasiswa A ketimbang mahasiswa B. dalam kasus apapun, mahasiswa mungkin menghabiskan 20 jam per minggu, beberapa kali setiap tahu, tetapi bisa saja tidak lebih dari empat kali pada kesempatan lain. Apakah itu ‘rata-rata’?
Jika Anda benar-benar ingin mengetahui berapa banyak waktu yang mahasiswa gunakan untuk belajar, maka Anda perlu menemukan cara lain dalam mengajukan pertanyaan. Ketika memikirkan topik ini, Anda mungkin memutuskan bahwa Anda harus meminta mahasiswa menyimpan agenda untuk periode waktu tertentu. Anda mungkin perlu menspesifikan waktu yang mereka habiskan untuk mempelajari mata pelajaran lain. Semua itu tergantung seberapa tepat keingintahuan Anda. Sekali Anda sungguh-sungguh memahami masalah itu, maka Anda mampu menyusun kata-kata pertanyaan secara cukup tepat. Hal ini dapat menjamin bahwa pertanyaan Anda memiliki arti yang sama bagi semua responden.
Ketepatan penyusunan kata-kata pertanyaan memang penting. Ingat, bahwa konsep seperti ‘puas’ dan ‘kelas’ tidak sepenuhnya diperhatikan. Ada banyak ‘pertanyaan tentang kepuasan’ dalam kuesioner yang secara teratur muncul ke pintu saya, dari bank, perusahaan kartu kredit, hotel, toko, rumah saskit, penasihat keuangan dan banyak lainnya. ‘Seberapa puaskan Anda dengan …..?’ atau bahwa ‘Apakah Anda puas dengan…’, dengan permintaan untuk memberikan tanda centang pada kotak Ya/Tidak. Kepuasan merupakan konsep dank arena kita tidak dapat memahaminya secara keseluruhan, maka kita harus menemukan cara-cara lain sehingga kepuasan dapat diamati karena hal itu dapat diukur.
Rose dan Sullivan (1996) memberikan contoh yang berguna tentang cara di mana konsep ‘kelas’ mungkin dapat diukur. Mereka menuliskan, bahwa: Jika ingin memahami sesuatu tentang kelas (sebuah konsep dan karena itu…tidak dapat diamati) maka, apakah yang dapat kita amati dalam dunia yang memanifestasikan kelas? Yaitu, indikator apa yang dapat digunakan untuk kelas sehingga kita dapat memperoleh data tentang kelas? Inilah esensi pengukuran persoalan dan kapan kita menghubungkan sebuah konsep yang tidak bisa diamati dengan indikator yang dapat diamati, maka kita sebetulnya sudah membuat operasionalisasi (operationalizations).
Mereka menjelaskan bahwa ‘dapat dioperasionalisasikan’ merujuk pada’ peraturan yang kita gunakan untuk menghubungkan bahasa teori (konsep) dengan bahasa penelitian (indikator).’ Dengan demikian, apakah indikator ‘kelas’ atau ‘kepuasan’ yang mungkin ada? Pikirkan hal itu. Anda tanyakan pada rekan-rekan, kolega, anggota keluarga untuk alternatif yang dapat diukur dan sebagaimana selalu terjadi, kembali kepada awal dan ajukanlah pertanyaan pada diri sendiri, apakah yang benar-benar perlu diketahui?
- Asumsi-asumsi
Bila responden bingung, jengkel atau bahkan merasa terluka perasaannya, mereka mungkin membiarkan butir pertanyaan itu kosong atau bahkan meninggalkannya. Anda menginginkan jawaban untuk semua pertanyaan jika memungkinkan, sehingga coba menghindari kebingungan dan memerhatikan asumsi yang ditimbulkan. Coba pertimbangkan pertanyaan ini, ‘Tipe sekolah apa yang dimasuki anak Anda?’ Berdasarkan pertanyaan ini, responden diminta memberikan tanda centang pada kotak yang tepat dari daftar panjang tipe sekolah.
Peneliti mengandaikan responden mempunyai satu anak, tetapi bagaimana jika dia tidak mempunyai anak? Apakah responden mengabaikan pertanyaan ini? Bagaimanakah jika dia memiliki lebih dari satu anak, satu anaknya bersekolah di Taman kanak-kanak, dan satu laginya di sekolah menengah dan seterusnya maka apakah yang dia lakukan kini? Apakah dia memasukkan jumlah anak dalam kotak yang tepat? Apakah Anda siap dengan pertanyaan kategori atau apakah Anda maksudkannya sebagai daftar? Mungkin hal ini tidak menjadi masalah. Tetapi jika analisis Anda direncanakan berdasarkan jawaban kategori, maka Anda menimbulkan kesulitan ekstra pada diri sendiri ketika membuat daftar dari jawaban yang diberikan responden. Kerapkali, responden mungkin mengajukan pertanyaan, mengapa Anda menginginkan informasi ini? Apakah informasi itu sangat esensial untuk penyelidikan Anda? Jika tidak, hapuskan saja!
- Kenangan-kenangan
Kenangan itu menipu. Jika Anda diminta mengatakan program televisi manakah yang Anda saksikan pekan lalu, dapatkah Anda mengingat semuanya? Bisakah Anda yakin bahwa satu program khusus disiarkan pekan lalu ataukah sepekan sebelumnya? Anda perhatikan pertanyaan berikut, yang nampak dalam kuesioner berkaitan dengan pendidikan orangtua. Bidang studi apakah yang Anda pelajari di sekolah? Jika responden baru mengingat sekolah, maka mereka mampu mengingatnya dengan cukup jelas. Tetapi bilamana mereka meninggalkan sekolah 20 tahun yang silam, mereka mungkin sulit mengingatnya. Jika mereka tidak memasukkan bahasa Inggris dalam daftar mata pelajaran, apakah itu berarti tidak ada pelajaran bahasa Inggris atau mereka hanya lupa memasukkannya?
Jadi, perhatikan informasi apa yang benar-benar Anda butuhkan. Jika ingin mengetahui manakah daftar pelajaran yang dipelajari responden, Anda mungkin memutuskan lebih baik memberikan daftar pelajaran yang dapat diberikan tanda centang. Dengan cara ini, Anda mampu menjamin bahwa pelajaran-pelajaran itu tercakup tetapi bentuk pertanyaan tergantung pada bentuk informasi yang diperlukan.
- Pengetahuan
Anda perhatikanlah pertanyaan yang menanyakan informasi di mana mahasiswa mungkin tidak tahu atau tidak siap menjawabnya. Sebagai contoh, mungkin nampak masuk akal bagi Anda untuk mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa dewasa, ‘apakah kriteria pengelompokkan mahasiswa pada kelompok bimbingan?’ Tetapi kemungkinan mereka tidak tahu: dan jika responden harus mencari informasi itu, maka mereka mungkin menyisihkan kuesioner hingga mereka punya waktu untuk melakukannya atau sama sekali melupakannya.
- Pertanyaan Ganda
Hal ini tampaknya cukup jelas untuk mengingatkan Anda bahwa pertanyaan ganda sebaiknya tidak diajukan, tetapi seringkali kita mudah mengabaikan bentuk pertanyaan berikut ini: Apakah Anda mengikuti kursus metode riset dan statistik? Apakah jawaban ‘Ya’ berarti Anda mengikuti keduanya atau satu? Jika Anda perlu mengetahuinya, pertanyaan sebaiknya dibagi dalam: Apakah Anda mengikuti kurusus metode penelitian? dan Apakah Anda mengikuti kursus statistik?
Seringkali kita menemukan kuesioner dengan pertanyaan-pertanyaan ganda, khususnya dalam formulir (permintaan) untuk memberi masukan terhadap pelayanan sebuah hotel, seperti:
Pihak manajemen selalu mencari cara untuk meningkatkan pelayanan kepada para tamu. Kami akan sangat berterima kasih jika Anda akan melingkari nomor yang tepat di bawah ini dan mengembalikan formulir lengkap kepada bagian penerimaan tamu.
Bagaimana Anda dapat memberikan angka atas pelayanan dan kebersihan hotel?
Sangat memuaskan | Sangat baik | Baik | Memuaskan | Kurang memuaskan |
5 | 4 | 3 | 2 | 1 |
Saya menemukan kenyataan ini di tempat tidur hotel yang mempunyai jaringan luas, dan semua pertanyaan berikut diikuti format yang sama. Andaikan ada tamu hotel yang merassa terganggu menyelesaikan kuesioner ini, saya dapat membayangkan bahwa jabawan 2 – 5 akan disatukan bersama, dan karena itu membuktikan bahwa 95 persen tamu puas dengan jasa pelayanan dan kebersihan hotel. Pertanyaan ganda ini jelas, tetapi ada masalah lain dalam butir pertanyaan ini.
Petugas resepsionis memang sangat membantu, menyenangkan, dan efisien, petugas kamarnya pun melakukan pekerjaan mengagumkan, tetapi porter suka memberengut dan pelayanan restorannya mengerikan. Sejauh berkaitan dengan kebersihan.. baiklah, saya tidak akan membahasnya lagi. Skala Likert (awalnya dibuat oleh R. Likert pada 1932), jenis skala yang digunakan dalam kuesioner di hotel-hotel merupakan alat untuk menemukan kekuatan rasa atau perilaku atas pernyataan atau rangkaian pernyataan yang diberikan. Dan implikasinya di sini adalah semakin tinggi kategori itu dipilih, semakin besar pula kekuatan sikap setuju.
Tetapi seharusnya diperhatikan, untuk tidak terlampau banyak membaca skala pemeringkatan ini. Kuesioner ini biasanya, walaupun tidak selalu, berdasarkan tiga, lima kisaran poin dan meminta responden mengindikasikan tata peringkat persetujuan dan ketidaksetujuan dengan melingkari nomor yang tepat. Kuesioner ini mengatur individu atau obyek dari tingkat tertinggi hingga yang paling rendah, tetapi interval antara masing-masing mungkin tidak sama. Kini tidak bisa mengatakan bahwa angka tertinggi (5 dalam contoh kuesioner hotel) adalah lima kali lebih tinggi daripada peringkat paling rendah (yaitu peringkat 1). Yang dapat dikatakan adalah semua peringkat mengindikasikan aturan. Meskipun ada keterbatasan, skala Likert dapat bermanfaat sejauh perumusan kata-katanya jelas, tidak ada pertanyaan ganda dan tidak ada klaim yang tidak bisa dibenarkan yang dibuat berkaitan dengan temuan.
- Pertanyaan yang Mengarahkan
Memang tidak selalu mudah memeriksa pertanyaan yang mengrahkan responden. Tetapi penggunaan bahasa penuh emosi atau arah pertanyaan ditempatkan dapat mengarahkan responden pada jawaban pertanyaan dengan cara tertentu. Sebagai contoh: Apakah Anda setuju mahasiswa dewasa seharusnya berhak mengungkapkan pandangan mereka dalam bimbingan?
Baiklah, mungkin sulit bagi mahasiswa menjawab ‘Tidak’ dalam jawaban terhadap pertanyaan itu.
- Pertanyaan Pra-asumsi
Pertanyaan pengandaian kerap merupakan sumber kesalahan dalam kuesioner. Ketika pertanyaan-pertanyaan jenis itu dimasukkan dalam kuesioner, kerapkali peneliti memiliki pandangan yang kuat tentang pokok masalah dan mengabaikan fakta bahwa setiap orang mungkin tidak merasakan hal yang sama. Sebagai contoh: Apakah universitas/perguruan tinggi/rumah sakit membuat persyaratan memadai untuk konseling?
Apakah pertanyaan itu dimaksudkan bagi para mahasiswa, pasien, staf, siapa lagi? Anda mungkin berpikir semua institusi sebaiknya memberi jasa konseling. Tetapi bagaimana jika responden Anda tidak menyediakan sarana itu? Bagaimana jika institusi itu tidak benar-benar mengetahui apa yang dilakukan oleh jasa konseling? Dalam bentuknya yang sekarang, ‘memadai’ tidak berarti apa-apa. Dalam pertanyaan ini, ada pra-asumsi bahwa jasa konseling itu perlu, dan ini menyebabkan pertanyaan itu tidak valid.
- Pertanyaan Hipotesis
Anda perhatikan pertanyaan yang akan memberi jawaban-jawaban yang sama sekali tidak berguna. Hampir semua pertanyaan hipotesis masuk dalam kategori ini. Sebagai contoh: Jika Anda tidak bertanggung jawab terhadap keluarga dan memiliki banyak uang, akankah Anda melakukan perjalanan ke seluruh dunia dan tinggal di hotel berbintang lima?. Namun, responden mungkin menjawab, ‘Saya bertanggung jawab terhadap keluarga. Saya tidak mempunyai uang dan sejauh ini saya tidak pernah mempunyai uang sebanyak itu, maka apakah saya perlu memikirkan masalah ini?.
- Pertanyaan yang Menyakiti dan Menutupi Masalah Sensitivitas
Tidak perlu dikatakan lagi, pertanyaan yang mungkin menyakiti hati sebaiknya dibuang. Jika Anda benar-benar membutuhkan informasi berkaitan dengan apa yang dipandang sejumlah responden sebagai masalah peka, maka Anda perlu lebih berhati-hati dalam menyusun kata-kata dan menentukan tempat pertanyaan. Sejumlah peneliti berpikir lebih baik menempatkan pertanyaan ini menjelang di akhir kuesioner, dengan teori bahwa jika responden mengabaikan kuesioner pada titik itu, maka sedikitnya Anda mendapatkan jawaban pada semua pertanyaan sebelumnya. Usai acapkali termasuk dalam kategori masalah peka sehingga ketimbang meminta kepada responden untuk memberitahukan usia mereka yang tepat, mungkin lebih baik Anda meminta mereka memberikan tanda centang dalam kotak-kotak yang mengindikasikan kategori usia (barangkali 21 tahun atau lebih muda, 22 – 25, 26 – 30 dan seterusnya.
- Penampilan dan Tataletak Kuesioner
Kuesioner yang dirancang secara sangat mengagumkan akan kehilangan keunggulannya jika terlihat tidak rapih. Lihatlah sejumlah survei yang telah dipublikasikan, mana yang menggunakan kuesioner sebagai metode pengumpulan data dan mereka akan memberi pemikiran kepada Anda tentang tata letak kuesioner. Para penerima kuesioner perlu didorong untuk membaca dan menjawab pertanyaan. Mereka mungkin menolak dokumen yang tidak rapih dan dipersiapkan dengan tergesa-gesa. Tidak ada aturan kaku dan cepat berkaitan dengan tata letak, tetapi ada sejumlah petunjuk yang membantu penampilan kuesioner (Judith Bell, 2006):
- Kuesioner sebaiknya diketik, diproses dengan komputer (atau diketik jika Anda melakukan survei besar).
- Instruksi seharusnya dibuat dengan jelas (dengan huruf tegak atau dengan besaran huruf berbeda).
- Ruang di antara pertanyaan bakal membantu pembaca dan Anda sendiri ketika Anda menganalisis jawaban.
- Jika ingin membuat kuesioner dengan jumlah lembaran terbatas, maka mungkin lebih baik Anda memfotokopinya dengan ukuran lebih kecil.
- Buatlah kotak pilihan jawaban yang sejajar, mendekati bagian kanan lembar jawaban. Cara ini memudahkan responden, juga Anda sendiri dalam mendokumentasikan jawabannya.
- Jika Anda berniat menggunakan program komputer, biarkanlah tempat pada ujung kanan lembar jawaban untuk pengkodea, jika diperlukan. Anda dapat baca lebih banyak tentang pengkodean.
- Lihat secara kritis kuesioner Anda dan tanyakanlah pada diri sendiri apakah kesan yang muncul, jika Anda penerima kuesioner itu.
- Anda perhatikan keteraturan pertanyaan. Sebaiknya Anda tempatkan masalah peka pada bagian akhir kuesioner. Mulailah dengan pertanyaan langsung yang mudah untuk diisi dan lanjutkanlah pada topik yang lebih kompleks (penulisan pertanyaan pada kartu atau lembaran kertas terpisah memudahkan pemilihan dan pemilihan kembali pertanyaan).
- Pembuatan Sampel
Jumlah subjek dalam penyelidikan Anda tergantung pada jumlah waktu yang Anda miliki. Jika Anda tengah menangani proyek penelitian 100 jam, Anda tidak mampu memasukkan semua mahasiswa dewasa di seantero negeri. Jika Anda memutuskan membatasi penelitian Anda pada sebuah institusi, maka Anda perlu mengetahui berapa banyak mahasiswa dewasa yang ada. Jika ada 100 mahasiswa, maka tidak mungkin Anda mempunyai waktu atau sarana untuk memasukkan mereka semua dalam penelitian. Anda perlu menyeleksi sampel.
Dalam survei yang sangat luas, seperti sensus, teknik sampling digunakan supaya menghasilkan sampel, sejauh memungkinkan, merupakan representatif dari populasi keseluruhan. Generalisasi dapat dibuat dari temuan-temuan. Dalam penyelidikan kecil, kita harus melakukan sejuah kemampuan kita. Semua peneliti bergantung pada niat baik dan ketersediaan responden, sehingga mungkin sulit bagi peneliti individual yang menangani proyek berskala kecil untuk mendapatkan sampel acak yang benar. Jika demikian kasusnya, Anda mungkin terpaksa mewawancarai siapa saja dari seluruh populasi yang ada dan bersedia diwawancarai saat itu. Peluang sampel jenis ini umumnya dapat diterima sejauh pembuatan sampel diungkapkan dengan jelas dan batasan data diwujudkan.
Bagaimanapun, bahkan dalam penyelidikan kecil sekalipun, sebaiknya Anda lakukan upaya untuk menyeleksi representatif sampel. Katakanlah, Anda putuskan memasukkan 50 persen dari populasi Anda. Sampel acak memberikan masing-masing individu yang dimaksudkan kesempatan yang sama untuk diseleksi. Anda mungkin memutuskan menyeleksi nama para pengganti berdasarkan daftar alfabetis. Karena itu, pada nama orang pertama yang diseleksi ditempatkan pin pada daftar dalam kertas. Orang yang dipilih mungkin tidak bersedia untuk berpartisipasi, dan dengan demikian memang bijak bila Anda mencadangkan nama-nama orang yang ada. Sebagai contoh, jika orang kedua puluh menolak atau tidak ada, Anda mungkin telah memutuskan sebelumnya, sebagai bagian dari desain penelitian Anda, untuk mendekati orang yang kedua puluh satu.
Ada banyak kesempatan bila Anda ingin memasukkan sub-kelompok representatif. Anda barangkali ingin menyeleksi proporsi pria dan wanita yang tepat dari individu dalam kategori usia yang berbeda, atau sejumlah sub-kelompok lain dari populasi yang dimaksudkan. Jika demikian, Anda mungkin mempunyai bentuk stratifikasi berikut : Jumlah seluruh populasi yang ditargetkan: 100 orang.
Jumlah pria: 60 orang. Jumlah wanitanya: 40 orang.
Daripada Anda menyeleksi nama pengganti, populasi sampel dapat diseleksi berdasarkan setiap orang kedua pria dan wanita (dalam urutan). Dengan demikian, 30 pria dan 20 wanita terseleksi.
Jika Anda ingin menemukan berapa banyak pria dan wanita menderita cacar air sebelum berusia 10 tahun, maka Anda dapat menempuh proses satu tahap lebih jauh seperti berikut ini:
Pria | Wanita | total | |
Alami cacar air sebelum berusia 10 tahun Tidak menderita cacar air sebelum berusia 10 tahun Total | 10 20 30 | 6 14 20 | 16 34 50 |
Bilamana jenis kelamin dan penyakit cacar itu begitu penting maka sub-kelompok harus dikhususkan sebagai bagian desain penelitian. Dan sampelnya ditarik dengan proporsi yang tepat dari masing-masing sub kelompok atau sel. Sampel ini agak kasar, tetapi, untuk latihan berskala kecil, umumnya cara ini dapat diterima dalam penyeleksian sampel. Jika sebuah pendekatan yang lebih ilmiah dipersyaratkan untuk proyek penelitian Anda, maka Anda perlu membaca lebih banyak lagi dan mendapatkan sejumlah keahlian tertentu dalam bidang statistik.
- Penuntunan Kuesioner
Semua instrumen pengumpulan data sebaiknya diarahkan untuk menguji betapa waktu yang diperlukan oleh penerima kuesioner untuk menyelesaikan pengisian kuesioner. Hal ini diperlukan untuk memeriksa bahwa semua pertanyaan dan instruksinya jelas, juga agar Anda bisa membuang butir pertanyaan apa saja yang tidak menghasilkan data yang berguna. Ada godaan dalam penyelidikan kecil, yaitu kecenderungan langsung pada tahap pendistribusian kuesioner. Tetapi bagaimanapun terbatasnya waktu Anda, sebaiknya Anda melakukan ujicoba kuesioner, walaupun Anda harus memaksa para anggota keluarga dan rekan untuk mengisinya. Idealnya, kuesioner seharusnya diujicobakan pada kelompok yang sama dengan yang akan membentuk populasi penyelidikan Anda. Andaikata hal itu tidak memungkinkan, lakukan pada siapa saja yang dapat Anda temukan.
Para responden akan memberitahukan kepada Anda berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengisi kuesioner. Jika ada pertanyaan yang dibiarkan tidak terjawab, maka Anda mampu menemukan mengapa hal itu terjadi. Tujuan latihan penuntun ini adalah untuk menemukan cacat dari instrumen penelitian sehingga responden dalam penyelidikan utama Anda tidak mengalami kesulitan menyelesaikannya. Cara ini membuat Anda mampu menjalankan analisis pendahuluan untuk melihat apakah perumusan kata-kata dan format pertanyaan menimbulkan kesulitan ketika data utama dianalisis.
Tanyakanlah kepada para relawan Anda pertanyaan-pertanyaan berikut:
- Berapa waktu yang Anda perlukan untuk menyelesaikan kuesioner?
- Apakah perintah-perintahnya sudah jelas?
- Adakah pertanyaan yang tidak jelas atau ambigu? Jika demikian, akankah Anda katakana pertanyaan mana dan mengapa?
- Apakah Anda terhambat menjawab pertanyaan yang ada?
- Menurut pendapat Anda, adakah topik utama yang terhapus?
- Apakah tataletak kuesioner itu jelas/menarik?
- Apakan saran Anda?
Jawaban mereka membantu Anda memeriksa (review) kuesioner hingga siap untuk distribusi utamanya.langkah itu menghabiskan sejumlah waktu Anda, namun berguna mendapatkan standar desain dan prestasi kuesioner yang bagus. Jika persiapannya bagus, maka ia akan dapat menyisakan berjam-jam, bahkan berpekan-pekan kerja pada tahap analisis nanti.
- Pendistribusian dan Pengembalian Kuesioner
Ingat, dalam situasi apapun, Anda tidak dapat mendistribusikan kuesioner hingga mendapat kejelasan untuk maju dari pengawas penelitian, komisi etika institusi Anda, komisi etika, dan komisi-komisi lain yang bertanggung jawab meneliti topik penelitian mahasiswa, rencana proyek dan metode pengumpulan data yang diusulkan. Dalam pandangan saya, sebaiknya Anda selalu mendapatkan persetujuan komisi, dan karena itu Anda jangan pernah mengasumsikan bahwa ‘semuanya beres’ dan bahwa ‘persetujuan lisan diberi sesudah minum secangkir kopi bersama itu cukup. Mungkin bisa demikian, tetapi mungkin juga tidak. Anda perlu memastikan dengan posisi Anda. Sesudah Anda mendapatkan persetujuan yang diperlukan, maka Anda perlu memutuskan bagaimana mendistribusikan kuesioner Anda dan apa yang dilakukan jika tidak ada jawaban.
Jelas ada untungnya bila Anda bisa menyerahkan kuesioner kepada responden secara pribadi. Anda bisa menjelaskan tujuan penyelidikan, dan dalam sejumlah kasus, kuesioner dapat diselesaikan di tempat itu juga. Anda bakal mendapatkan kerja sama lebih baik jika mampu membangun kontak pribadi. Jika tidak memungkinkan lagi Anda untuk memberikan langsung kepada mereka, maka Anda perlu menyelidiki cara lain pendistribusiannya. Izin kadangkala dapat diperoleh untuk mendistribusikan kuesioner lewat sistem surat internal. Para kolega dan rekan bisa dibujuk untuk membantu. Jika semuanya gagal, Anda mungkin seharusnya mengirim kuesioner lewat pos, tetapi survei menggunakan pos itu mahal dan angka jawabannya umumnya rendah. Anda hanya ingin memilih distribusi lewat pos jika melihat tidak mungkin menghubungi para subjek penelitian dengan cara lain.
Seperti saya jelaskan dalam bab sebelumnya, jika Anda menemui responden dari muka-kemuka, maka saya berpandangan mereka seharunya diberi pertanyaan tertulis tentang hak mereka dan tanggung jawab Anda. Harus jelas bahwa persetujuan resmi dari responden telah diperoleh dan katakan apa yang akan Anda lakukan dengan kuesioner yang telah diisi. Siapa yang akan membacanya? Apakah kuesioner akan dihancurkan ketika Anda menyelesaikannya dan kapan laporan penelitian diujikan? Atau akankah kuesioner disimpan dalam filing cabinet Anda selama bertahun-tahun, jika ada kemungkinan kuesioner tersebut dibutuhkan lagi? Jika kerahasiaan dan anonimitas dijamin, harus jelas apa yang Anda maksudkan dengan keduanya. Janjikanlah apa yang Anda tahu bisa Anda penuhi, tidak lebih.
Jika Anda tidak mampu mendistribusikan kuesioner secara langsung, surat pengantar diperlukan untuk tujuan itu, sebagai tambahan pernyataan Anda. Perhatikan bahasa surat Anda. Surat yang terlampau kasar atau sebaliknya memuji-muji bisa mendapatkan tanggapan yang sebaliknya, karena itu Anda coba tunjukkan rancangan surat Anda kepada beberapa rekan dan mintalah pendapat mereka. Ingatlah untuk meminta tanggal pengembalian yang dicantumkan dalam surat maupun dalam posisi penting kuesioner. Pengalaman menunjukkan bahwa tidak bijaksana bila Anda memberikan waktu terlalu lama.
Jika tidak ada tanggal yang ditentukan atau jika kuesioner terlampau lama diberikan, maka terlampau mudah bagi subjek penelitian untuk menyisihkannya, yang kerapkali kuesioner itu tidak dibaca lagi. Dua pekan adalah waktu wajar untuk penyelesaian sebuah kuesioner. Berikanlah hari dan tanggal yang tepat, ketimbang Anda mengandalkan permintaan yang sopan agar kuesioner dikembalikan dalam masa dua pekan. Karena sejumlah alasan, Anda akan lebih membantu membangkitkan ingatan responden untuk mengembalikan kuesioner jika hari dan tanggal pengembalian dinyatakan. Anda sertakan amplop bertuliskan alamat Anda (dicap, jika responden harus mengembalikan kuesioner lewat pos).
- Kuesioner yang Tidak Dijawab
Buatlah catatan tanggal pendistribusian kuesioner dan pengembaliannya. Umumnya, jawabannya bagus pada awalnya dan kemudian mulai menurun secara perlahan. Tidak terelakkan lagi, sebagian kuesioner tidak akan dikembalikan sesuai tanggal yang ditentukan. Tetapi jika Anda tidak memasukkan metode identifikasi pada kuesioner itu, maka Anda tidak mempunyai cara untuk mengetahui siapa yang telah menjawab dan siapa yang tidak, sehingga tidak ada cara menindaklanjutinya. Ketika subyek tidak memberi jawaban memang merupakan masalah, ‘karena kemungkinan kerap dibuktikan dalam praktik orang yang tidak mengembalikan kuesioner itu berbeda daripada orang mau mengembalikannya’ (Moser dan Kalton, 1991). Dengan demikian, jika mungkin beberapa upaya sebaiknya Anda lakukan untuk mendorong semakin banyak orang untuk mengembalikan kuesioner yang telah diisi.
Pendapat beragam tentang waktu terbaik untuk mengirimkan permintaan tindak lanjut atas kuesioner yang tidak dikembalikan oleh responden. Dengan asumsi, jaminan anonimitas dan kerahasiaan memungkinkan tidak lanjut. Dalam proyek dengan waktu terbatas, Anda perlu menuliskannya kira-kira sepekan setelah tanggal awal pendistribusian, jika Anda berniat menyelesaikan pengumpulan data sesuai waktu yang dialokasikan. Dalam sejumlah proyek besar, peringatan ketiga dan bahkan keempat dikirimkan kepada responden, tetapi jumlah pengembalian kuesioner yang diperoleh lewat proses ini mungkin membutuhkan waktu dan kesulitan.
- Analisis data
Dalam dunia ideal, akan sangat bagus untuk menunggu semua kuesioner dikembalikan dan untuk melihat sekilas semua jawaban sebelum memulai memberikan kode dan mendokumentasikannya. Namun, dalam proyek yang terbatas waktunya, mungkin Anda perlu mulai dengan mendokumentasikan jawaban segera setelah kuesioner pertama dikembalikan. Oleh karena itu, sebelum Anda akhirnya memutuskan isi dan formatnya, bacalah bab ini dengan teliti dan pastikan bahwa Anda membaca daftar pada bab ini sehingga yakin telah mencakupi semua tugas yang mendasar.
Daftar pemeriksaan untuk pembuatan dan penyebaran kuesioner | |
| Periksa persyaratan etika Anda, etika komisi penelitian dan komisi lain yang bertanggung jawab mengesahkan penelitian dalam institusi Anda. Ingat, persetujuan membutuhkan waktu lama sehingga jika memungkinkan Anda dapat mengajukan proposal penelitian Anda pada waktu yang tepat. |
| Jangan memadati kuesioner Anda dengan butir pertanyaan yang tidak relevan hanya untuk berjaga-jaga jika mungkin pertanyaan itu akan berguna. Kenyataanya tidak akan terjadi. |
| Pertimbangkanlah informasi yang Anda perlukan. Jika metode pengumpulan data lain lebih baik, pertimbangkan alternatif. |
| Ingat bahwa konsep tidak bisa diukur sehingga bila Anda benar-benar perlu mengetahui keputusan responden dengan x atau y, pikirkanlah indikator kepuasan. |
| Buatlah pertanyaan dengan bahasa sederhana. Jangan menggunakan kata-kata yang mungkin tidak dipahami responden (termasuk bahasa teknis), kecuali bila berurusan dengan kelompok professional, yang memahami bahasa ringkas Anda. |
| Verbal, daftar, kategori, peringkat, skala, kuantitas, kisi-kisi. Setiap bentuk menuntut analisis yang berbeda (lihat bab 12 untuk informasi lebih jauh tentang analisis). |
| Kerapkali lebih baik Anda menempatkan pertanyaan sensitif pada bagian akhri kuesioenr. |
| Responden harus mempunyai pemahaman yang jelas tentang bagaimana seharusnya menjawab pertanyaan (memberikan tanda centang, melingkari kotak-kotak Ya/Tidak). |
| Bacalah bab tentang pengkodean dan cara-cara yang mungkin dalam menganalisis jawaban sebelum Anda kahirnya memutuskan perumusan, isi dan struktur kuesioner Anda. |
| Bila cukup bernasib mujur mendapatkan seorang juru ketik Anda melakukan word-processing bagi Anda, berterima kasihlah, tetapi adalah tugas Anda untuk memberikan instruksi yang tepat berkaitan dengan tata letak kuesioner. |
| Cobalah memilih sampel yang sejauh memungkinkan mendekati populasi akhir Anda. Jika terpaksa melakukannya dengan sebuah sampel peluang, katakanlah mengapa hal itu dilakukan dalam laporan Anda. |
| Idealnya, kuesioner untuk uji coba dikirimkan kepada orang yang sama dengan sampel yang dipilih. Bagaimanapun, jika tidak memungkinkan, mintalah rekan-rekan keluarga atau para kolega untuk membantu. |
| Walau ada 5 atau 6 kuesioner tuntutan diisi, Anda mampu melihat apakah ada masalah yang muncul ketika menganalisis kuesioner yang dikembalikan. |
| Pertimbangkanlah waktu. Jika terlampau memakan banyak waktu para relawan Anda untuk mengisi kuesioner, putuskanlah apa ada butir pertanyaan yang seharusnya dihapuskan atau ditulis ulang. Buanglah butir-butir pertanyaan yang tidak langsung berkaitan dengan topik Anda. Periksa lagi sehingga tidak ada yang dimasukkan hanya karena mungkin muncul pada beberapa tahap pada masa mendatang. |
| Pengiriman lewat pos? pengiriman pos internal? Secara pribadi mendistribusikan kuesioner dari muka ke muka dengan para responden? Jika memutuskan penyelidikan dilakukan lewat pos, maka sertakan amplop alamat Anda sendiri yang berperangko. Jika responden menyelesaikan kuesioner, maka itu berarti mereka berbuat baik kepada Anda, sehingga jangan minta mereka membayar untuk keistimewaan itu. Juga masukkan surat dan pernyataan tentang syarat dan jaminan yang menjelaskan hak responden dan tanggung jawab Anda. |
| Buatlah catatan tentang kapan kuesioner didistribusikan dan dikembalikan. |
| Ingat bahwa Anda tidak mampu kirim peringatan jika semua jawaban dijamin anonym. |
| Anda tidak punya waktu untuk menunggu. |
| Sangatlah mungkin membuat laporan yang bagus tanpa pengetahuan statistik yang luas, sejuah struktur kuesioner dipertimbangkan matang. |
- Perencanaan dan Pelaksanaan Wawancara
- Etika Melakukan Wawancara
Akan sangat membantu, jika Anda merujuk pada bagian petunjuk etika dan protokol dalam bab itu sebelum bergerak terlampau jauh merencanakan wawancara, karena Anda tidak boleh maju tanpa persetujuan untuk berpartisipasi dari responden. Jika Anda melakukan penelitian dalam sebuah rumah sakit, atau nyatanya dalam bidan yang berkaitan dengan kesehatan, maka saya akan sangat heran jika Anda tidak dipersyaratkan membuatkan protokol tertulis. Kondisinya memang beragam dan karena itu menjadi suatu yang sangat mendasar bagi Anda untuk mencari persyaratan apa saja pada tahap awal.
Memperoleh ‘Persetujuan yang diberitahukan’ mungkin tidak semudah yang kita dengar dan jika melakukan proyek penelitian 100 jam, maka Anda memiliki sedikit waktu untuk mempersiapkan dan mencoba memilah protocol yang dipersyaratkan dalam peneylidikan yang lebih besar (Cohen & Morrison, 2000). Bagaimanapun, dalam proyek ukuran apapun, Anda bertanggung jawab menjelaskan kepada responden selengkap-lengkapnya kemungkinan tentang apa yang dilibatkan dan apa yang Anda lakukan dengan informasi yang Anda dapatkan. Saya secara pribadi merasa seharusnya tidak dibicarakan secara lisan pada awal wawancara, tetapi dikirimkan lebih dulu sehingga responden mempunyai kesempatan untuk memahami pengertian dan implikasi pernyataan bahkan untuk mundur pada tahap itu.
Lebih baik para peserta penelitian mundur pada awal penelitian daripada sesudah setengah jalan atau sesudah wawancara. Dalam kasus Anda tiba pada kesimpulan bahwa itu satu-satunya prosedur birokratis yang tidak perlu, maka saya akan meminta Anda supaya ingat bahwa langkah ini tidak saja menjamin responden Anda mengetahui hak-hak mereka serta tanggung jawab Anda, tetapi juga melindungi posisi Anda sendiri.
- Keuntungan dan Kerugian Wawancara
Satu keuntungan utama wawancara adalah kemampuan adaptasinya. Pewawancara yang terampil dapat menindaklanjuti pemikiran, membuktikan jawaban dan menginvestigasi motif serta perasaan, yang tidak dapat dilakukan oleh kuesioner. Cara ketiga jawaban diberikan (nada suara, ekspresi wajah, keraguan, dan lain-lain) dapat mengungkapkan informasi yang disembunyikan oleh jawaban tertulis. Jawaban kuesioner harus dipertimbangkan saat dibaca tetapi jawaban langsung dalam wawancara dapat dikembangkan dan diklarifikasikan. Tentu saja ada masalah. Wawancara memang memakan waktu dan dengan demikian, dalam proyek penelitian 100 jam, Anda hanya mampu melakukan wawancara dengan jumlah yang relatif sedikit.
Wawancara pun benar-benar bergantung pada teknik dan karena itu selalu terdapat bahaya adanya bias. Analisis jawaban dapat memunculkan persoalan dan karena itu perumusan kata-kata pertanyaannya pun sama tuntutannya pada wawancara seperti juga pada kuesioner. Meskipun demikian, wawancara seharusnya menghasilkan bahan yang kaya dan kerapkali memberikan daging pada tulang jawaban kuesioner. Moser dan Kalton (1991) melukiskan wawancara survei sebagai ‘percakapan antara pewawancara dengan responden dengan tujuan memperoleh informasi tertentu dari responden’. Ini, lanjut mereka, mungkin nampakanya cukup jelas, tetapi memperoleh wawancara yang berhasil jauh lebih kompleks daripada yang dapat diungkapkan statemen ini.
Wiseman dan Aron (1992) menyamakan wawancara dengan ekspedisi pencarian ikan dan sesuai analogi ini. Cohen (1996) menambahkan bahwa ’seperti ikan, wawancara merupakan aktivitas yang menuntut persiapan yang hati-hati, banyak sabar dan praktif yang cukup jika ingin mendapatkan hasil akhir yang bermanfaat.’ Persiapan wawancara mengikuti prosedur hampir sama dengan kuesioner. Topik-topiknya perlu diseleksi, pertanyaan dirumuskan, metode analisisnya dipertimbangkan dan jadwalnya disiapkan dan dituntun.
- Perumusan Kata-kata Pertanyaan Wawancara
Perumusan kata-kata pertanyaan memang penting, namun Anda tidak perlu terlampau tepat menggunakan istilah tertentu seperti pada kuesioner, walaupun arah bahasa yang Anda gunakan harus dapat dipahami para responden. Dalam bab tentang rancangan kuesioner, saya memberikan contoh tentang mahasiswa yang ditanya berapa banyak waktu yang mereka habiskan untuk belajar. Saya menegaskan bahwa ‘sejumlah besar’, ‘sejumlah tertentu’ dan ‘tidak banyak waktu’ memiliki arti berbeda bagi orang lain. Dalam wawancara, memang memungkinkan bagi Anda untuk mengajukan pertanyaan, ‘Berapa banyak waktu yang Anda curahkan untuk belajar’?, kemudian diikuti dengan baris berikutnya.
Anda ikuti aturan yang disiapkan untuk desain kuesioner (tidak ada pertanyaan yang mengarahkan responden, yang bersifat dugaan atau menyakitkan dan seterusnya). Siapkanlah topik dan pertanyaan pada kartu-kartu atau lembaran kertas yang terpisah sehingga Anda dapat memutuskan tata letak pertanyaan ketika semua topik tercukupi. Pertimbangkan, aturan manakah yang mungkin menjadi aturan terbaik untuk mengajukan pertanyaan. Aturan mungkin penting dalam menyusun relasi yang mudah dengan orang yang diwawancarai. Perilaku Anda ketika mengajukan pertanyaan hampir pasti berpengaruh. Praktik wawancara dan pengelolaan jadwal untuk memastikan bahwa bentuk pembuatan pertanyaan Anda sudah jelas, tidak menyakiti responden serta memungkinkan Anda mendokumentasikan jawaban sedemikian rupa supaya Anda paham ketika wawancara usai.
- Jadwal wawancara
- Wawancara Terstruktur dan Semi-terstruktur
Bila Anda menggunakan format wawancara terstruktur atau setengah terstruktur, yang memungkinkan Anda memberi tanda centang atau melingkari jawaban pada jadwal yang Anda siapkan sebelumnya, maka Anda seharusnya dapat membuat wawancara untuk menghasilkan seperangkat jawaban yang dapat dengan mudah didokumentasikan, dirangkum dan dianalisis. Upaya itu tidak terlampau mudah jika Anda memutuskan untuk menggunakan format tidak terstruktur, tetapi Anda tetap perlu mempersiapkan daftar butir pertanyaan yang ingin Anda diskusikan dan sejumlah anjuran atau bukti yang mengingatkan Anda tentang masalah-masalah khusus yang ingin Anda liput. Katakan saja, misalnya, Anda ingin melakukan surveI tentang partisipasi staf dalam program bahasa Inggris perusahaan. Kantor pusat perusahaan berada di Jakarta dan perusahaan merasa program pelajaran bahasa merupakan ide yang bagus.
- Wawancara Tidak Terstruktur
Wawancara tidak terstruktur bisa berpusat pada sebuah topik. Di tangan orang yang terampil melakukannya hal ini dapat menghasilkan sejumlah besar data yang bermanfaat. Tetapi wawancara seperti itu mempersyaratkan banyak keahlian untuk mengontrol dan banyak waktu untuk menganalisisnya. Percakapan tentang sebuah topik mungkin menarik dan menghasilkan wawasan yang bermanfaat pada sebuah masalah, tetapi harus diingat bahwa wawancara itu lebih daripada sekadar percakapan menarik. Anda membutuhkan informasi terntentu dan metode harus dirumuskan untuk mendapatkan informasi itu, jika memungkinkan.
Wawancara pendahuluan mungkin ditempatkan pada ‘akhir wawancara yang benar-benar tidak terstruktur’ untuk kelanjutan formalitasnya. Itulah tahap ketika Anda mencoba menemukan bidang atau topik yang diperlukan dan saat orang yang langsung terkait dengan topik itu didorong untuk membahas apa yang merupakan inti penting wawancara. Anda mencari petunjuk juga bidang mana yang seharusnya diamati serta mana yang dibuang. Wawancara jenis ini mempersyaratkan sedikit pencatata. Namun selama catatan Anda cukup jelas, Anda mampu mengambil intisari dari pemikiran-pemikiran penting beserta topik yang dimasukkan ke dalam penyelidikan, itu sudah cukup.
Hampir semua wawancara yang dilaksanakan pada tahap pengumpulan data primer penelitian akan terpisah diantara kelanjutan titik struktur yang sepenuhnya dirancang dan sepenuh tidak terancang. Pentingnya kebebasan yang memberikan kesempatan kepada para responden untuk berbicara tentang inti yang penting bagi mereka, ketimbang yang penting bagi pewawancara. Tetapi beberapa pewawancara melonggarkan struktur wawancaranya guna menjamin semua topik yang dianggap krusial tercukupi serta mengeliminasi sejumlah masalah dari wawancara yang sepenuhnya tidak terstruktur. Wawancara terpimpin atau wawancara terfokus memenuhi persyaratan ini.
Tidak ada kuesioner atau checklist yang digunakan tetapi kerangka kerja dibuat berdasarkan pilihan topik yang mengarahkan wawancara. Para responden diberikan kebebasan yang wajar dalam kerangka kerja itu. Pertanyaan tertentu diajukan, tetapi responden diberikan kebebasan membahas topik dan mengungkapkan pemikiran mereka sesuai waktu mereka. Pewawancara perlu memiliki keterampilan mengajukan pertanyaan dan bila perlu, mengajukannya pada waktu yang tepat. Tetapi jika pihak yang diwawancara bergerak terlalu bebas dari satu topik ke topik yang lain maka pembicaraan bisa mengalir tanpa interupsi. Keuntungan wawancara terfokus adalah karena kerangka kerja telah dibuat sebelumnya, dengan demikian, pendokumentasian dan analisis benar-benar disederhanakan. Ini penting bagi peneliti maupun, khususnya bagi penyelidikan dengan waktu terbatas.
- Wawancara Kelompok dan Kelompok Fokus
Wawancara satu persatu bukanlah satu-satunya cara untuk menemui responden sehingga dalam sejumlah kasus Anda mungkin merasa lebih bermanfaat bila melakukan wawancara kelompok. Tidak ada yang baru dengan wawancara kelompok, walaupun kelompok fokus, khususnya akhir-akhir ini jauh lebih popular, khususnya dalam penelitian komputer dan sistem informasi. Seperti diindikasikan lewat nama mereka, tujuan kelompok fokus adalah untuk memfokuskan diskusi pada masalah khusus. Wawancara pola ini dapat dirancang, sehingga pertanyaan-pertanyaan dan checklist-nya disiapkan lebih dulu atau sebaliknya. Pertanyaan dibuat sepenuhnya tidak terstruktur, sehingga intervensi peneliti sangat minimal. Semuanya tergantung tujuan wawancara.
Kadangkala kelompok fokus merupakan pertemuan-pertemuan informal kelompok orang yang sangat beragam yang mungkin tidak mengenal satu sama lain, tetapi mungkin dianggap memiliki minat atau keprihatian yang sama terhadap suatu masalah, seperti kebijaksanaan komunitas atau dewan perpajakan. Tujuannya (dan harapan) adalah bahwa partisipan berinteraksi satu sama lain, bersedia mendengarkan semua pandangan, barangkali untuk mencapai konsensus tentang sejumlah aspek topik, atau untuk tidak menyetujui hal lainnya dan mengajukan pemikiran yang bagus atas masalah yang menarik atau penting bagi mereka. Peneliti bertindak tidak lagi sebagai pewawancara, tetapi lebih sebagai moderator atau fasilitator.
Dalam pengalaman saya, yang mungkin sangat berbeda dari pengalaman Anda, kelompok fokus lebih sering memasukkan anggota yang memiliki karakteristik atau pengalaman yang sama (sebagai contoh mereka mungkin mempunyai tipe sakit yang sama), atau diketahui memiliki keprihatinan professional serta pengetahuan tentang masalah yang ada di dalamnya. Tidak perlu Anda meragukan lagi, kelompok fokus sangat bermanfaat ketika informasi mendalam diperlukan ‘bagaimana orang berpikir tentang sebuah masalah, penalaran mereka tentang mengapa masalah seperti itu, mengapa mereka mempertahankan pemikiran seperti yang mereka lakukan’ (Laws, 2003). Bagaimanapun, kadangkala muncul juga persoalan.
Hayes (2000) memperingatkan kita, bahwa: Kelompok harus hati-hati diseimbangkan berkenaan dengan usia, jenis kelamin dan status etnis para respondennya: sebagai contoh jika orang muda, wanita atau orang dari kelompok etnis minoritas secara tidak proporsional lebih kurang jumlahnya dalam kelompok maka mereka mungkin secara sosial terganggu dan tidak memberikan kontribusi secara bebas pada diskusi. Mungkin perlu mendapat kelompok-kelompok sejenis yang sama kisaran usianya supaya atmosfirnya memungkinkan dan bisa santai.
Beberapa orang yang berkepribadian kuat dapat saja memengaruhi kelompok. Dalam sejumlah kasus mereka mengambil alih kelompok dan menyulitkan para anggota yang kurang asersif untuk bicara. Denscombe (1998) mengingatkan bahwa, ‘mereka adalah orang yang cenderung mencari perhatian panggung pusat diskusi kelompok,’ membiarkan kaum wanita (atau sedikitnya beberapa dari mereka berdiam diri, walaupun mungkin tidak Anda alami). Dia menarik perhatian kita pada masalah lain, yaitu jika ‘anggota kelompok menilai pendapat mereka bertentangan dengan pendapat di dalam kelompok maka meraka mungkin cenderung tetap berdiam diri, atau agak memperhalus pandangan mereka.’ Dia pun menambahkan bahwa ‘privasi wawancara satu per satu tidak memunculkan kesulitan ini.’ Tentu saja dia benar, walaupun wawancara satu persatu dapat memunculkan kesulitannya sendiri.
Berdasarkan pengalaman, para peneliti menyusun teknik wawancara sendiri guna menjaga orang-orang berkepribadian kuat hingga dapat bertindak sesuai tujuan dan menarik anggota kelompok yang pendiam untuk berpartisipasi dalam kelompok. Laws (2003) menyarankan bahwa ada satu cara yang mungkin perlu dibuat untuk pemeriksaan periodik. Cara itu diperlukan guna mencari apakah semua anggota kelompok menyetujui pertanyaan yang mereka ungkapkan sesuai dengan ‘Apakah itu yang dipikirkan setiap orang?’ atau ‘Apakah setiap orang sepakat dengan xyz?’ Nampaknya hal itu merupakan pendekatan yang masuk akal.
Kita akan menemukan ada banyak pandangan tentang cara ‘yang benar’ dan ‘yang salah’ untuk mengelola wawancara kelompok, khususnya wawancara kelompok fokus. Beberapa orang beranggapan checklist, penuntun topik dan pertanyaan yang disiapkan merupakan hal yang mendasar; yang lain tidak setuju dan merasa struktur seperti itu terlampau mengarahkan untuk mencapai eksplorasi yang dituntut atas keyakinan-keyakinan, interpretasi dan pemahaman masalah oleh responden. Yang dapat saya katakan, sebagaimana selalu saya lakukan, bahwa kita semua memiliki cara sendiri dalam melakukan sesuatu. Karena itu sesuaikanlah dengan diri Anda sendiri, pilihlah pendekatan yang tepat untuk tujuan Anda, dan putuskan apa yang Anda inginkan. Seingat saya, etika penelitian selalu dihormati, sehingga persetujuan harus diberikan, informasi lengkap diberikan seputar tujuan penelitian dan jaminan diberikan berkaitan dengan kerahasiaan, maka semuanya akan baik-baik saja.
- Wawancara Menggunakan Alat Perekam
Memang sulit melacak siapa mengatakan apa dalam wawancara kelompok. Dalam wawancara perorangan, alat perekam (tipe-recording) berguna untuk mengecek kata-kata pernyataan yang ingin Anda kutip, memungkinkan Anda melakukan kontak mata dengan orang yang diwawancarai, membantu Anda kelihatan tertarik, dan agar yakin bahwa apa yang Anda tulis itu benar. Alat perekam sungguh-sungguh membantu jika Anda mencoba bentuk analisis isi apapun dan memerlukannya untuk mendengarkan beberapa kali pernyataan guna mengidentifikasi kategori. Barangkali sangat berguna karena memungkinkan Anda membuat kode, meringkaskan dan mencatat komentar-komentar khusus yang benar-benar diperhatikan, tanpa mencoba menuliskan selama wawancara.. Bagaimanapun, Anda tidak dapat mengasumsikan bahwa semua responden bersedia berkomentar, termasuk direkam komentarnya. Bila alat perekamnya ikut berjalan ketika wawancara berlangsung, bukan tidak mungkin kadangkala justru dapat menghambat memperoleh jawaban yang jujur.
Orang-orang yang diwawancarai akan, secara tepat ingin tahu apa yang Anda usulkan untuk dilakukan dengan alat perekam, siapakah yang mempunyai akses pada alat perekam itu dan berapa lama rekaman akan disimpan. Anda harus siap-siap ditolak. Bahkan jika responden sudah menyetujui ada sebuah alat rekaman sebelumnya, mereka mungkin menolak ketika waktunya tiba. Dengan demikian, Anda perlu melakukan semua persiapan awal yang berkaitan denga pertanyaan, saran, an bukti yang menjamin atau mencoba menjamin bahwa semua masalah utama yang ignin Anda selidiki tercukupi, dan Anda juga memerlukan checklist atau jadwal dan lembaran rangkuman wawancara.
Daftar pemeriksaan untuk pembuatan dan pedoman wawancara | |
| Daftarkan semua butir pertanyaan tentang informasi yang dibutuhkan. |
| Telitilah daftar Anda dan hapus butir soal yang tidak berkaitan dengan tugas. |
| Pertimbangkan metode alternatif. |
| Bentuk akhir pertanyaan tergantung pada bentuk wawancara. |
| Wawancara terstruktur bakal menghasilkan jawaban terstruktur pula. Itukah cara yang Anda inginkan ataukah pendekatan lebih terbuka yang dibutuhkan? |
| Periksa juga bahasa yang digunakan. |
| Memutuskan bentuk dan bahasa pertanyaan. |
| Perhatikan aturan pertanyaan. Persiapkanlah saran-saran dalam kasus dimana responden tidak memberikan informasi mendasar secara bebas. |
| Kedua pekerjaan itu perlu diuji dan Anda perlu berpraktik mengajukan pertanyaan dan mendokumentasikan pertanyaan. |
| Buatlah catatan dari komentar-komentar responden yang dituntun wawancaranya. |
| Jika mempunyai pandangan kuat tentang sejumlah aspek topik, Anda harus waspada. Bila orang mengajukan pertanyaan yang sama, apakah mereka mendapat jawaban yang sama? |
| Wawancara itu memakan waktu. Cobalah memilih sampel yang representatif. Putuskan apa yang dilakukan jika orang-orang yang dipilih tidak bersedia atau tidak mampu diwawancarai. Bersikaplah realistis tentang jumlah orang yang diwawancarai, yang dapat dilakukan selama waktu yang tersedia. |
| – |
| Surat dari pengawas penelitian, pimpinan atau kapada yang menjelaskan tujuan penelitian mungkin membantu. |
| Katakan apa yang terjadi dengan informasi yang diberikan para responden yang diwawancarai. Lakukan klarifikasi terhadap pengertian anonimitas dalam konteks penelitian Anda. |
| Lakukanlah sebaik-baiknya dan jangan melebihi batas waktu yang ditentukan. |
| Tetapi Anda jangan berjanji mengecek pernyataan dengan responden sesudah wawancara jika mungkin terbukti sulit. |
| Ingatlah bahwa diperlukan waktu yang sangat lama untuk mengalihkan wawancara yang direkam dengan alat perekam, jika itulah yang ingin Anda lakukan. Tulislah selama mengadakan wawancara. Jangan menanti hingga hingga semua wawancara selesai. |
| Jangan memberi janji yang tidak bisa dipenuhi. Hormatilah pandangan responden tentang anonimitas. Kalau tahu seorang responden secara tak bijak mengungkap informasi rahasia, jangan ambil keuntungan dari itu. |
| Orang yang setuju diwawancarai sebetulnya melakukan sesuatu yang baik bagimu. Mereka pantas dihargai. |
| Banyak cara membuat partisipan penelitian kecewa. Janji yang tidak dipenuhi atau pewawancara terlambat datang, melakukan wawancara lebih lama daripada waktu yang dijanjikan, janji mengecek akurasi pernyataan, janji memberi rangkuman temuan tetapi tidak memberikannya; melakukan wawancara dengan sikap bermusuhan dan tidak tahu berterima kasih kepada orang yang diwawancarai. |
Bila Anda memutuskan untuk melakukan sejumlah wawancara untuk proyek riset Anda, salah satu keputusan mendasar yang harus Anda buat adalah apakah Anda merekam wawancara tersebut atau menulisnya. Dalam praktiknya, tentu saja, Anda mungkin tidak memiliki banyak pilihan, misalnya Anda tidak mampu atau tidak mendapat akses terhadap sebuah mesin perekam. Bahkan meskipun bila Anda memutuskan untuk merekamnya, Anda akan menemukan bahwa beberapa orang yang Anda wawancarai menolak menginzinkan Anda merekam wawancara, maka Anda harus membiasakan mencatat. Setiap strategi ini memiliki kelebihan dan kekurangan yang berkaitan (Loraine B. Chtristina H & Malcom T, 2006):
- Menggunakan mesin perekam berarti Anda hanya perlu berkosentrasi pada proses wawancara. Anda dapat memfokuskan perhatian Anda pada orang yang diwawancara, memberinya kontak mata serta komunikasi nonverbal yang memadai. Anda akan mendapatkan rekaman dari keseluruhan wawancara.
- Penggunaan mesin perekam dapat membuat beberapa responden merasa gelisah dan kurang dapat memberikan informasi yang rahasia sifatnya. Hasil rekaman pun perlu waktu lama untuk ditranskripsikan serta dianalisis.
- Membuat catatan akan memberi Anda rekaman instan dari pokok-pokok pembicaraan dalam sebuah wawancara. Anda tidak memerlukan sebuah mesin perekam dan tidak perlu khawatir tentang pemilahan awal, pengkategorisasian, dan analisis dari data yang terkumpul.
- Meskipun demikian, membuat catatan dapat pula membingungan. Bila Anda memegang pena, Anda dapat membuat orang yang diwawancarai merasa bahwa mereka telah mengatakan sesuatu yang signifikan. Sebaliknya, saat Anda tidak mencatat apapun, mereka mengira Anda menganggap komentar mereka tidak penting. Berkonsentrasi pada mengajukan pertanyaan, mendengarkan tanggapan, dan membuat catatan adalah sebuah proses yang kompleks, dan Anda akan mendapatkan rekaman seluruh wawancara.
Rangkuman
Kata-kata yang memiliki pengertian yang sama bagi Anda bisa berbagai orang lain, karena itu Anda perlu memperhitungkan apa arti yang mungkin dimaksudkan pertanyaan Anda bagi responden yang berada. Bila responden bingung, jengkel atau bahkan merasa terluka perasaannya, mereka mungkin membiarkan butir pertanyaan itu kosong atau bahkan meninggalkannya. Anda menginginkan jawaban untuk semua pertanyaan jika memungkinkan, sehingga coba menghindari kebingungan dan memerhatikan asumsi yang ditimbulkan. Memang tidak selalu mudah memeriksa pertanyaan yang mengrahkan responden. Tetapi penggunaan bahasa penuh emosi atau arah pertanyaan ditempatkan dapat mengarahkan responden pada jawaban pertanyaan dengan cara tertentu.
Ingat, dalam situasi apapun, Anda tidak dapat mendistribusikan kuesioner hingga mendapat kejelasan untuk maju dari pengawas penelitian, komisi etika institusi Anda, komisi etika, dan komisi-komisi lain yang bertanggung jawab meneliti topik penelitian mahasiswa, rencana proyek dan metode pengumpulan data yang diusulkan. Semua instrumen pengumpulan data sebaiknya diarahkan untuk menguji betapa waktu yang diperlukan oleh penerima kuesioner untuk menyelesaikan pengisian kuesioner. Hal ini diperlukan untuk memeriksa bahwa semua pertanyaan dan instruksinya jelas, juga agar Anda bisa membuang butir pertanyaan apa saja yang tidak menghasilkan data yang berguna. Ada godaan dalam penyelidikan kecil, yaitu kecenderungan langsung pada tahap pendistribusian kuesioner. Tetapi bagaimanapun terbatasnya waktu Anda, sebaiknya Anda melakukan ujicoba kuesioner, walaupun Anda harus memaksa para anggota keluarga dan rekan untuk mengisinya.
Satu keuntungan utama wawancara adalah kemampuan adaptasinya. Pewawancara yang terampil dapat menindaklanjuti pemikiran, membuktikan jawaban dan menginvestigasi motif serta perasaan, yang tidak dapat dilakukan oleh kuesioner. Wawancara pun benar-benar bergantung pada teknik dan karena itu selalu terdapat bahaya adanya bias. Analisis jawaban dapat memunculkan persoalan dan karena itu perumusan kata-kata pertanyaannya pun sama tuntutannya pada wawancara seperti juga pada kuesioner. Meskipun demikian, wawancara seharusnya menghasilkan bahan yang kaya dan kerapkali memberikan daging pada tulang jawaban kuesioner. Wawancara satu persatu bukanlah satu-satunya cara untuk menemui responden sehingga dalam sejumlah kasus Anda mungkin merasa lebih bermanfaat bila melakukan wawancara kelompok. Tidak ada yang baru dengan wawancara kelompok, walaupun kelompok fokus, khususnya akhir-akhir ini jauh lebih popular, khususnya dalam penelitian komputer dan sistem informasi.
Daftar Pustaka
Bell, Judith. 2006. Melakukan Proyek Penelitian Secara Mandiri: Penuntun bagi Para Peneliti Pemula dalam Bidang Pendidikan, Kesehatan, dan Ilmu Sosial. Terjemahan: Jacobus Embu Lato, Jakarta: Indeks.
Cohen, L. Mannion, and Morrison, K. 2000. Research Methods in Education, 5th Ed. London and New York: Routlege Falmer.
Laws, S. Harper, C. Marcus, S. 2003. Research for Development A Practical Guide. London: Sage Publishing.
Loraine B, Christina H, Malcom T. 2006. How to Research: Seluk Beluk Melakukan Riset. 2th Ed. Terj. Agustina R.E. Sitepoe. Jakarta: Indeks.
Moser, C.A. and Kalton, G. 1991. Survey Methods in Social Investigation. 2th ed. London: Heinemann.
Oppenheim, A.N. 1992. Questionnaire Design, Interviewing and Attitude Measurement. New Edition. London: Cassel.
Rose, D. and Sullivan, D. 1996. Introducing Data Analysis for Social Scientist. 2th ed. Buckingham: Open University Press.
Sugiyono, 2011. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta.
Trianto, 2010. Pengantar Penelitian Pendidikan bagi Pengembangan Profesi Pendidikan dan Tenaga Kependidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media.
Zigmund, W. G. 2000. Business Research Method. 6rd Ed. Forth Worth: Harcourt Inc.
Youngman, M.B. 1994. Designing and Using Questionnaire, dalam N. Bennett, R. Glatter and R. Levavic (editor). 1994. Improving Educational Management Through Research and Consultancy. London: Paul Chapman Publishing.
Hati yang ikhlas bersemayam di tempat kediamannya yang hening di zero point field.
Namun Titik Nol itu bukanlah ruang kosong yang melompong melainkan wilayah kasih
sayang-Nya yang penuh daya serta potensi gaib yang belum mengambil wujud.
Erbe Sentanu



