Back

PEMBIMBINGAN TUGAS AKHIR

Adalah suatu tragedi dalam hidup manusia yang selama hidupnya mencari sesuatu tetapi 

tidak mendapatkannya. Namun, ada tragedi manusia yang lebih pahit lagi, yaitu ketika 

ia mendapatkan apa yang ia inginkan dan mendapatkan kekosongan di dalamnya.

 

Henry Kissinger

Pembahasan Materi 

Bab ini membahas peranan dosen dalam melakukan pebimbingan tugas akhir baik skripsi maupun thesis, dosen sebagai fasilitator memulai tugas akhir, dosen sebagai pembimbing tugas akhir, dosen sebagai pembimbing persiapan ujian tugas akhir, stress dalam menyusun tugas akhir, komunikasi mahasiswa dengan dosen pembimbing, memilih pembimbing, teknik konsultasi dengan pembimbing, hambatan selama pembimbingan penyusunan laporan tugas akhir.  

  • Pendahuluan

Berdasarkan UU No. 20/2003 Bagian ke empat pasal 19, pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan sistem terbuka. Pasal 20 menyebutkan bahwa perguruan tinggi dapat berbentuk akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas. Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan/atau vokasi (Depdiknas, 2002).

Peranan seorang dosen terhadap mahasiswa tidaklah hanya sebagai pengajar di kelas, melainkan juga sebagai seorang pembimbing tugas akhir apabila sudah memenuhi kualifikasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pembimbing tugas akhir, dosen tidak ubahnya sebagai seorang guru yang memiliki beberapa peranan sebagai ahli instruksional, motivator, manajer, konselor dan model (Djiwandono, 2006). Sebagai seorang konselor dan motivator, seorang pembimbing TA tidaklah sekedar mengarahkan mahasiswa dalam pengajaran TA, namun pembimbing adakalanya juga menjadi teman berbagi mahasiswa ketika mendapatkan permasalahan tertentu yang secara tidak langsung akan mempengaruhi proses penyelesaian TA, pembimbing harus siap menjadi pendengar yang baik, mendengarkan keluh-kesah mahasiswa. Memberikan alternatif solusi untuk masalah yang sedang dihadapi, dan bersedia memotivasi manakala mahasiswa dalam kondisi yang kurang baik.

Sebagai seorang manajer, seorang pembimbing harus mampu mengelola waktu yang baik untuk dirinya sendiri maupun bagi mahasiswanya, dosen pembimbing tugas akhir masih memiliki kewajiban lain di bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan karya ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dijelaskan pada UU No.14/2005 tentang guru dan Dosen. Di samping tugas-tugas tersebut. Dosen juga masih dianjurkan untuk melakukan kegiatan penunjang yang lainnya, seperti keterlibatan dalam suatu tim atau kepanitiaan, pada buku Pedoman  Beban Kerja Dosen dan Evaluasi Pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi telah dijelaskan bahwa tugas utama dosen adalah melaksanakan tridharma perguruan tinggi dengan beban kerja paling sedikit sepadan dengan 12 SKS pada setiap semester sesuai dengan kualifikasi akademik (Ditjen Dikti, 2010).

Seorang dosen harus mengupayakan sebaik mungkin akan waktu yang dimiliki dapat dioptimakan untuk menunaikan ketiga tugas utama ini dengan waktu seideal mungkin sebagaimana yang dipersyaratkan. Kadang seorang dosen disibukkan dengan pembimbingan kepada mahasiswa dan mengabaikan tugasnya untuk melaksanakan penelitian dan melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Peranan dosen sebagai seorang pembimbing juga harus mampu mengelola emosinya dengan baik. Perkerjaan padat, menyita waktu, pikiran dan tenaga umumnya akan mempengaruhi proses pembimbingan. Dosen harus menyadari bahwa dirinya berperan sebagai model, perbuatan dan cara berfikirnya akan menjadi contoh bagi mahasiswa. Dosen yang baik harus mampu menginspirasi mahasiswa untuk berfikir kreatif dan cerdas dalam menyelesaikan masalah. Untuk memberikan jaminan bahwa dosen mampu mendidik mahasiswa dengan baik, seorang dosen harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sesuai dengan yang ditetapkan. Ada empat kompetensi utama dosen, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Kompetensi kepribadian adalah kepribadian pendidik yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didi, dan berakhlak mulia. Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dengan peserta didi, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat. Sedangkan yang dimaksud kompetensi profesional adalah kemampuan pendidik dalam penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memperoleh kompetensi yang ditetapkan (Ade Cahyana, 2010).

  • Dosen Sebagai Fasilitator Memulai Tugas Akhir

Pelaksanaan tugas akhir umumnya akan didahului dengan penyusunan usulan tugas akhir. Hampir di semua perguruan tinggi, usulan tugas akhir disusun sendiri oleh mahasiswa dengan cara mengajukan usulan tugas akhir atau usulan penelitian atau usulan skripsi maupun thesis. Dalam menyusun tugas akhir. Tentunya beragam kendala akan dihadapi oleh mahasiswa baik yang bersifat teknis maupun non teknis. Berikut beberapa kendala mahasiswa dalam memulai tugas akhir (Sri Kusumadewi, 2012).

  1. Mahasiswa belum memahami sepenuhnya terhadap minat dan kemampuannya

Ketika seorang melakukan sesuatu, pada hakekatnya ada tiga hal yang melandasi (Antonio, 2008) yaitu: (a) suka dan senang melakukannya: (b) terpaksa atau takut dengan ancaman: (c) sudah menjadi kewajiban namun tidak ada semangat untuk melakukannya. Dari ketiga alasan ini, alasan pertama tentunya memiliki propabilitas untuk mendapatkan hasil yang paling efektif. Seorang mahasiswa mengerjakan tugas akhir sudah tentu bahwa alasan utamanya karena tugas akhir  merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Tanpa mengerjakan tugas akhir maka dia tidak akan bisa mendapatkan gelar sarjana maupun magister. Namun alangkah baiknya jika pengerjaan tugas akhir ini juga didasari dengan rasa suka akan tema yang dipilih. Rasa suka akan muncul ketika apa yang dia kerjakan sesuai dengan bidang minat yang diinginkan meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa rasa suka akan terwujud seiring dengan perjalanan pengerjaan tugas.

Masalah akan muncul manakala, pada saat menjelang waktu yang diharuskan untuk mengusulkan tugas akhir, si mahasiswa masih kebingungan dengan bidang apa yang dia inginkan. Hal ini muncul karena banyak hal, seperti terpaksa ketika masuk ke salah satu jurusan misalnya, dan keterpaksaan itu masih terbawa hingga semester akhir akhir. Pada umumnya, mahasiswa yang mengalami masalah seperti ini akan diikuti dengan masalah kesulitan yang mendapatkan tema tugas akhir. Berdasarkan pengalaman penulis, mahasiswa yang belum sepenuhnya memahami minatnya, akan pasrah dengan menanti masukan tema dari seorang dosen. Untuk selanjutnya, dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari referensi untuk melengkapi informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan terkait dengan tema yang diusulkan dosen. Tentunya dosen juga harus mempertimbangkan faktor lain sebelum kemudian melontarkan ide tugas akhir, seperti kompetensi mahasiswa. 

  1. Kesulitan menemukan ide. 

Kesulitan dalam menggali ide ternyata juga merupakan kendala utama mahasiswa ketika akan mulai mengusulkan tugas akhir. Terkadang dosen menjumpai seorang mahasiswa yang sudah menyelesaikan semua teori (matakuliah). Namun mahasiswa tersebut tidak segera mengusulkan tugas akhir. Belum ada ide, itulah jawaban yang paling sering dilontarkan. Dosen sebagai pembimbing dan fasilitator mahasiswa, harus mampu memberikan setitik cahaya terang tatkala mahasiswa meminta pendapat dan masukan terkait dengan tema yang dapat diangkat sebagai judul tugas akhir. Ide yang dilontarkan oleh dosen adakalanya sebagai pemicu kemunculan ide-ide brilian mahasiswa yang pada awalnya belum memiliki gambaran apapun tentang apa yang harus dikerjakan. Selama ini yang sering kali terjadi, seorang mahasiswa terpaku pada metode ketika akan memulai menemukan judul tugas akhir. Meskipun ketika mengikuti mata kuliah metodologi penelitian mereka sangat paham bahwa untuk memulai penelitian harus diawali dengan menelaah masalah.

  1. Tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan meneliti

Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua mahasiswa mahir dalam meneliti. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Bahkan ada juga yang masih memiliki pengetahuan yang sangat minim ketika sudah mengambil tugas akhir. Kurangnya kemampuan awal yang dimiliki mahasiswa dan lemahnya strategi pembelajaran yang diterapkan merupakan salah satu faktor yang disinyalir mempengaruhi minimnya kemampuan meneliti bagi mahasiswa. Meskipun pada prinsipnya dalam penyelesaian masalah ini harus melibatkan pengelola pendidikan dan segenap dewan dosen dalam penyusunan strategi pembelajaran. 

Namun seorang pembimbing juga dituntut untuk memiliki strategi khusus apabila mahasiswa yang dibimbingnya memiliki pengetahuan dan keterampilan meneliti yang sangat minimal. Bagi mahasiswa yang memiliki motivasi dan komitmen tinggi, akan berusaha mengejar ketinggalan dengan berbagai cara, seperti berkonsultasi secara intensif ke dosen pembimbing belajar dengan kawan-kawannya atau mengikuti kursus atau workshop penelitian. Apabila mahasiswa memilih untuk meminta pembimbingan secara langsung dengan dosen, maka mau tidak mau dosen harus memiliki waktu ekstra untuk melakukan proses seperti ini. 

  • Kurangnya rasa percaya diri. 

Percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu tindakan (Thantaway, 2005). Oleh karena itu mahasiswa yang kurang percaya diri umumnya akan memiliki konsep diri negatif dan kurang percaya diri pada kemampuannya. Rasa kurang percaya diri ini akan mengakibatkan mahasiswa selalu menunda untuk mengajukan proposal tugas akhir padahal mereka jelas memiliki kemampuan lebih dan telah memenuhi persyaratan untuk pengajuan proposal tugas akhir. Ketika mahasiswa sudah siap denga usulan tugas akhir, maka kegundahan berikutnya adalah rasa was-was untuk menerima keputusan apakah judul tugas akhir yang disusulkan diterima atau tidak. Dosen harus memberikan semangat dan meyakinkan bahwa mahasiswa memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya.

  • Dosen Sebagai Pembimbing Proses Tugas Akhir

Kerika usulan tugas akhir telah disetujui, maka langkah selanjutnya adalah pengerjaan tugas akhir dengan jangka waktu yang telah ditetapkan kurikulum. Dalam menyusun tugas akhir, pasti akan ada beragam kendala akan dihadapi oleh mahasiswa baik yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan tugas akhir. Kendala-kendala ini akhirnya akan menjadi beban tersendiri bagi mahasiswa sehingga mengakibatkan proses penyelesaian tugas akhir tidak sesuai dengan waktu yang telah dianjurkan atau menghasilkan kualitas tugas akhir yang kurang sesuai dengan harapan. Berikut adalah beberapa masalah yang sering muncul selama proses pengerjaan tugas akhir mahasiswa (Sri Kusumadewi, 2012): 

Masalah akademik yang pasti muncul adalah dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk mendalami materi tugas akhir. Masalah ini bisa jadi akan semakin rumit jika disertai dengan masalah pribadi seperti (Hidayat, 2011): (1) daya juang rendah (2) kurang serius (3) ceroboh (4) kurang percaya diri dan pemalu (5) kurang terbuka pada orang lain, seorang mahasiswa dengan daya juang yang rendah akan cenderung pasif dan menunggu aba-aba dari dosen pembimbing untuk bergerak, mereka tidak memiliki inisiatif untuk belajar mandiri. Andalan utamanya adalah bertanya langsung kepada pembimbing. Sifat kurang serius dalam mengerjakan tugas akhir  juga akan mengakibatkan banyak hal yang menuntut kesabaran pembimbing. Laporan tugas akhir dengan tataletak yang kacau balau, kesabaran pembimbing. Susunan kalimat yang tidak bermakna, atau susunan laporan yang tidak sistematis menjadi akibat dari ketidakseriusan dan kecerobohan mahasiswa.

Masalah teknis yang sering dihadapi adalah peralatan komputer sedang bermasalah atau data hilang, meskipun seharusnya setiap orang paham betul bahwa resiko menggunakan peralatan elektronik sebagai media penyimpanan data adalah kerusakan alat yang menyebabkan rusak atau hilangnya data, namun sebagian mahasiswa sepertinya belum sadar betul bahwa mereka harus mewaspadai hal tersebut dan harus senantiasa melakukan backup data. Dosen sebagai pembimbing juga diharapkan tidak segan untuk senantiasa mengingatkan hal tersebut, meskipun hal ini kelihatan sangat sepele.

Masalah keluarga juga sering kali menyertai perjalanan mahasiswa selama menyelesaikan tugas akhir seperti: (1) konflik orang tua dan anak (2) komunikasi kurang harmonis (3) dijodohkan orang tua (4) dendam terhadap orang tua (5) orang tua mengalami gangguan mental, dan (6) orang tua meninggal dunia. Dari sinilah dosen harus membantu setidaknya bersedia untuk mendengarkan keluh kesah dari mahasiswa. Bahkan lebih dari itu, untuk menjamin bahwa sang anak akan dapat menyelesaikan studinya dengan baik, orang tua atau wali mahasiswa biasanya akan memohon bertemu langsung dengan pembimbing. Sehingga dosen pembimbing juga diharapkan dapat menjadi media komunikasi yang baik antara orang tua atau wali dan anaknya. Mangkuprawira (2010) mengungkapkan bahwa keberhasilan mahasiswa bimbingan tampaknya sangat berkait dengan mutu proses bimbingan, oleh karena itu proses interaksi dalam bimbingan tidak saja sebatas aspek akademik tetapi juga non-akademik atau kekeluargaan.

        Terbatasnya fasilitas adalah masalah selanjutnya. Hampir semua mahasiswa informatika menggunakan komputer sebagai peralatan utama untuk penyelesaian tugas akhir. Komputer tidak saja sebagai peralatan untuk menyusun laporan, namun komputer merupakan peralatan utama dalam menyelesaikan tugas (penelitian). Pada saat ini, hampir semua mahasiswa informatika memiliki notebook, sehingga mereka dapat membawa kemana saja untuk mengerjakan skripsi maupun thesis, untuk konsultasi maupun diskusi kepada pihak yang berkontribusi terhadap penelitiannya. Namun demikian, masih ada beberapa mahasiswa yang belum memiliki notebook, sehingga mereka perlu meminjam temannya agar dapat menunjukan hasil kerjanya ke dosen pembimbing atau pihak lain. Sarana lain untuk menyelesaikan tugas akhir adalah internet.  Meskipun saat ini akses internet tidaklah sulit, namun kecepatan akses dan kebutuhannya sewaktu-waktu menjadi hal yang perlu dipikirkan, apabila dosen pembimbing mengkhendaki untuk konsultasi laporan tugas akhir melalui email, maka mahasiswa harus selalu mengecek inbox setiap saat untuk memastikan dosen pembimbing telah mengevaluasi laporan tugas akhir.

   Terakhir permasalahan klise yang dialami mahasiswa selama proses pengerjaan tugas akhir adalah kesibukan dosen pembimbing, sehingga sulit untuk ditemui. Tugas akhir umumnya memiliki bobot enam SKS yang berarti setiap mahasiswa harus menyediakan waktu 18 jam per minggu untuk mengerjakan tugas akhir. Oleh karena tugas akhir merupakan bagian dari tugas mandiri, maka minimal mahasiswa harus berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya selama dua jam per minggu. Hal ini berimplikasi pada perlunya seorang dosen menyiapkan idealnya dua jam per minggu untuk membimbing mahasiswa. 

     Seorang dosen pembimbing harus menyadari bahwa tugasnya untuk membimbing mahasiswa adalah sama penting dengan tugas akademik lainnya. Dosen pembimbing tentunya harus memiliki jiwa sebagai seorang pemimpin sejati. Pemimpin sejati adalah orang yang dicintai karena selalu mencintai orang lain,  dipercaya karena memiliki integritas kuat, selalu mengajari pengikutnya, serta konsisten dalam memiliki kepribadian yang kuat (Agustian, 2001). Dosen harus memiliki waktu khusus untuk melaksanakan pembimbingan. Umumnya dosen menyediakan jadwal khusus di hari dan jam tertentu atau mensyaratkan untuk membuat janji (kesepakatan waktu) untuk proses pembimbingan. Dosen diharuskan untuk menepati jadwal yang telah disepakati bersama. Apabila berhalangan maka diharapkan dosen harus memberitahukan dan mengganti dengan waktu yang lain. Proses pembimbingan tidak selamanya dilakukan secara offline dengan tatap muka, namun pembimbingan juga dilakukan secara online baik melalui email maupun chatting. Proses pembimbingan ini dirasa juga sangat efisien, katena mahasiswa dan dosen dapat berkomunikasi tanpa kendala oleh jarak dan waktu. 

    E-mail juga dapat merupakan media yang baik untuk konsultasi terutama konsultasi laporan tugas akhir. Tiga keuntungan utama ketika laporan tugas akhir dikirim melalui e-mail adalah: (1) dosen dapat mengorganisasikan laporan tugas akhir dengan baik, (2) dosen memiliki arsip laporan tugas akhir mahasiswa serta histori perbaikannya, dan (3) mahasiswa dapat memperbaiki laporan tugas akhir secara intensif. Bagi mahasiswa dan dosen yang rajin sedang dalam keadaan good mood, proses perbaikan sederhana dapat segera dikirim e-mail bahkan sehari bisa lebih dari dua kali berkirim e-mail.

          Apabila dosen menggunakan e-mail, maka suatu hal terpenting yang harus dilakukan adalah komitmen untuk membalas e-mail. Jangan sampai karena kesibukan dan kelupaan, e-mail tidak segera dibalas, sehingga mahasiswa menunggu terlalu lama. Sekali lagi mahasiswa membutuhkan motivasi dari dosen terutama dosen pembimbing untuk dapat menyelesaikan tugas akhir dengan baik. Setiap dosen pasti memiliki pengalaman bahwa ada beberapa mahasiswa yang sudah sangat lama tidak melakukan proses pembimbingan. Bahkan dosen tidak pernah tahu sebenarnya kendala apa saja yang sedang dialami mahasiswa. Dia menghilang begitu saja. Apabila hal ini terjadi, alangkah baiknya jika dosen berinisiatif untuk menyapa si mahasiswa. Dosen menghubungi mahasiswa melalui media yang dirasa paling efektif. Mahasiswa akan lebih bersemangat jika dosen rajin menyapa dan mengingatkan. 

  • Dosen Sebagai Pembimbing Persiapan Ujian Tugas Akhir

 Setelah proses pembimbingan berakhir dan dosen menyetujui tugas akhir siap untuk diujikan, masalah yang muncul pada mahasiswa adalah persiapan ujian tugas akhir. Seperti layaknya ujian, rasa was-was menjelang ujian selalu muncul.    Penulis yakin bahwa semua pembimbing akan sepakat bahwa salah satu kebahagiaannya adalah ketika melihat mahasiswa yang dibimbingnya lulus dengan nilai yang memuaskan. Sebaliknya, kesedihan akan muncul tatkala mahasiswa yang dibimbingnya gagal ujian tugas akhir.

      Dosen diharapkan mampu memberikan arahan dan bimbingan kepada mahasiswa selama mempersiapkan ujian tugas akhir. Peranan dosen tersebut dapat berupa bimbingan untuk membuat slide presentasi yang baik, arahan-arahan untuk dapat bersikap baik ketika presentasi, dan memberikan motivasi agar mahasiswa tidak mengalami demam panggung secara berlebihan. Dosen harus memberikan pengertian bahwa presentasi dan penampilan selama presentasi merupakan bagian penting yang mampu menarik minat penguji terhadap penelitian atau tugas akhir yang dilakukan.

  • Stres dalam Menyusun Tugas Akhir

Stres pada dasarnya tidak selalu berdampak negatif, karena stres kadang dapat bersifat membantu dan menstimulasi individu untuk bertingkah laku positif. Stres yang berdampak positif biasa disebut dengan eustress dan stres yang berdampak negatif biasa disebut dengan distress. Stres bukan hanya sebagai stimulus atau respon, karena setiap individu dapat memberikan respon yang berbeda pada stimulus yang sama. Adanya perbedaan karakteristik individu menyebabkan adanya perbedaan respon yang diberikan kepada stimulus yang datang. Slamet (2003) menyatakan bahwa stres adalah suatu proses yang menempatkan seseorang sebagai perantara (agent) yang aktif dan dapat mempengaruhi sumber stres melalui strategi-strategi perilaku, kognitif dan emosional. Pernyataan ini semakin memperjelas bahwa stres tidak hanya dapat disebut sebagai stimulus atau respon saja, karena ada aspek perilaku, kognitif dan emosional dalam diri manusia, yang masing-masing orang mempunyai karakteristik yang berbeda. Perbedaan karakteristik inilah yang membentuk adanya individual differences.

Sarafino (1994) menyatakan bahwa stres adalah kondisi yang disebabkan oleh interaksi antara individu dengan lingkungan, menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan, berasal dari situasi yang bersumber pada sistem biologis, psikologis dan sosial dari seseorang. Stres muncul sebagai akibat dari adanya tuntutan yang melebihi kemampuan individu untuk memenuhinya. Seseorang yang tidak bisa memenuhi tuntutan kebutuhan, akan merasakan suatu kondisi ketegangan dalam diri. Ketegangan yang berlangsung lama dan tidak ada penyelesaian, akan berkembang menjadi stres. Senada dengan pengertian di atas Bishop (1994) menyatakan bahwa stres adalah interaksi antara individu dengan lingkungan, menimbulkan suatu tekanan dalam diri individu akibat adanya suatu tuntutan yang melebihi batas kemampuan individu untuk menghadapinya dan memberikan respon fisik maupun psikis terhadap tuntutan yang dipersepsi. Pengertian ini menekankan adanya tuntutan pada diri seseorang yang melebihi kemampuannya, dan adanya proses persepsi yang dilakukan oleh individu terhadap kejadian atau hal di lingkungan yang menjadi sumber stres.

Stres adalah suatu kondisi adanya tekanan fisik dan psikis akibat adanya tuntutan dalam diri dan lingkungan (Rathus & Nevid, 2002). Pernyataan tersebut berarti bahwa seseorang dapat dikatakan mengalami stres, ketika seseorang tersebut mengalami suatu kondisi adanya tekanan dalam diri akibat tuntutan-tuntutan yang berasal dari dalam diri dan lingkungan. Berdasarkan uraian pengertian stres di atas maka, stres adalah kondisi individu yang merupakan hasil interaksi antara individu dengan lingkungan, menyebabkan adanya suatu tekanan dan mempengaruhi aspek fisik, perilaku, kognitif, dan emosional.

Tugas akhir adalah karya ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis di Perguruan Tinggi. Semua mahasiswa wajib mengambil mata kuliah tersebut, karena tugas akhir digunakan sebagai salah satu prasyarat bagi mahasiswa untuk memperoleh gelar akademisnya sebagai sarjana. Mahasiswa yang menyusun tugas akhir dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan proses belajar yang ada dalam penyusunan tugas akhir. Proses belajar yang ada dalam penyusunan tugas akhir berlangsung secara individual, sehingga tuntutan akan belajar mandiri sangat besar. Mahasiswa yang menyusun tugas akhir dituntut untuk dapat membuat suatu karya tulis dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat secara umum.

Peran dosen dalam pembimbingan tugas akhir hanya bersifat membantu mahasiswa mengatasi kesulitan yang ditemui oleh mahasiswa dalam menyusun tugas akhir. Masalah-masalah yang umum dihadapi oleh mahasiswa dalam menyusun tugas akhir adalah, banyaknya mahasiswa yang tidak mempunyai kemampuan dalam tulis-menulis, adanya kemampuan akademis yang kurang memadai, serta kurang adanya ketertarikan mahasiswa pada penelitian (Slamet, 2003). Kegagalan dalam penyusunan tugas akhir juga disebabkan oleh adanya kesulitan mahasiswa dalam mencari judul tugas akhir, kesulitan mencari literatur dan bahan bacaan, dana yang terbatas, serta adanya kecemasan dalam menghadapi dosen pembimbing (Riewanto, 2003). Apabila masalah-masalah tersebut menyebabkan adanya tekanan dalam diri mahasiswa maka dapat menyebabkan adanya stres dalam menyusun tugas akhir pada mahasiswa.

  • Komunikasi Mahasiswa dan Pembimbing Tugas Akhir

Manusia pada hakekatnya adalah makhluk monodualis, yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia mempunyai kebutuhan dasar untuk berafiliasi, yaitu menjalin hubungan dengan orang lain. Dalam menjalin hubungan dengan orang lain manusia melakukan komunikasi. Lunandi (1992) menyatakan bahwa komunikasi adalah kegiatan menyatakan suatu gagasan dan menerima umpan balik dengan cara menafsirkan pernyataan tentang gagasan dan pernyataan orang lain. Komunikasi tidak hanya sekedar menyampaikan pesan dari komunikator ke komunikan, tetapi ada umpan balik dari pesan yang disampaikan.

Komunikasi adalah pertukaran pesan secara verbal dan non verbal dari pengirim ke penerima pesan yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku (Muhammad, 2001). Umpan balik dalam komunikasi tidak hanya berupa pernyataan tetapi dapat juga berupa tingkah laku, karena salah satu efek dari proses komunikasi adalah mempengaruhi orang lain untuk bertingkah laku sesuai dengan tujuan komunikasi. Hardjana (2003) menyatakan bahwa pengertian komunikasi dapat ditinjau dari dua sudut pandang. Sudut pandang pertama adalah dari proses terjadinya komunikasi yang menyatakan bahwa, komunikasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh komunikator berupa penyampaian pesan melalui media tertentu kepada komunikan, komunikan menerima pesan dan memahami pesan sesuai dengan kemampuan serta menyampaikan tanggapan melalui media tertentu kepada komunikator. 

Ditinjau dari sudut pandang pertukaran makna, komunikasi diartikan sebagai proses penyampaian makna dalam bentuk gagasan atau informasi dari komunikator ke komunikan melalui media tertentu. Media komunikasi merupakan alat yang digunakan oleh komunikator untuk menyampaikan pesan kepada komunikan, dan alat yang digunakan oleh komunikan untuk menyampaikan umpan balik atas pesan yang telah diterima dan dipahami oleh komunikan.

Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan oleh dua orang yang saling menjalin hubungan interpersonal (De Vito, 1995). Komunikasi interpersonal biasanya melibatkan dua orang atau lebih, yaitu sebagai komunikator dan sebagai komunikan. Komunikasi interpersonal tidak hanya dapat berlangsung satu arah, akan tetapi dapat juga berlangsung dua arah (Walgito, 2001). Komunikasi ua arah adalah komunikasi yang melibatkan pihak komunikator dan komunikan yang terlibat secara aktif dalam proses komunikasi. 

Komunikasi dua arah memungkinkan pihak komunikan untuk memberikan respon, berupa umpan balik dari pesan yang telah diterima kepada komunikator. Komunikasi interpersonal (Mulyana, 2001) adalah komunikasi antara komunikan dan komunikator yang memungkinkan orang untuk menunjukkan reaksi secara langsung baik verbal maupun nonverbal. Reaksi verbal maupun nonverbal dalam komunikasi interpersonal merupakan respon umpan balik dari pesan yang disampaikan. Respon tersebut dapat menunjukkan adanya kedekatan antara pihak-pihak yang berkomunikasi dalam komunikasi interpersonal yang terbentuk.

Berdasarkan uraian pengertian komunikasi interpersonal dan situasi komunikasi yang efektif maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas komunikasi interpersonal adalah proses penyampaian pesan verbal dan non verbal secara timbal- balik dari komunikator ke komunikan, pesan diinterpretasi sesuai dengan maksud pesan, dan ada umpan balik dari pesan yang disampaikan. Mahasiswa semua program studi yang sedang menyusun skripsi atau tugas akhir dibimbing oleh dua dosen pembimbing, yaitu pembimbing utama dan pembimbing pendamping. Pembimbing utama mempunyai tugas dan tanggung jawab utama untuk membimbing mahasiswa dalam menyusun skripsi, sedangkan dosen pembimbing pendamping mempunyai tugas untuk membantu dosen pembimbing utama dalam proses bimbingan.

Sukmadinata (2003) menyatakan bahwa bimbingan adalah upaya atau tindakan pendidikan yang lebih terfokus pada membantu pengembangan domain afektif, tetapi domain kognitif dan domain psikomotor tetap diperhatikan. Bimbingan skripsi atau tugas akhir dimaksudkan untuk membantu mahasiswa dalam penyusunan tugas akhir atau skripsi yang meliputi penambahan pengetahuan, pengorganisasian pengetahuan dan pengalaman yang telah didapat mahasiswa sewaktu mengikuti proses belajar mengajar terdahulu. Tujuan dari peran pembimbingan adalah membantu mahasiswa untuk mengembangkan diri dan mengatasi kesulitan yang dialami (Djamarah, 2004). Pendampingan dan pembimbingan akan efektif jika dilakukan secara dialogis (Suparno et. al., 2002). Pembimbingan dialogis menempatkan mahasiswa dan dosen sama-sama sebagai subjek dan juga objek, sehingga akan tercipta rasa saling menghormati, saling terbuka dan saling percaya.

Senada dengan pernyataan Suparno, Sukmadinata (2003) menyatakan bahwa proses bimbingan skripsi atau tugas akhir, tesis dan disertasi menggunakan pendekatan atau metode yang bersifat konsultatif, individual, percontohan, dan pendekatan lain yang mengandung hubungan yang akrab, dekat, bersahabat. Pendekatan tersebut hanya dapat dilakukan melalui proses komunikasi interpersonal yang efektif antara mahasiswa dengan dosen pembimbing tugas akhir. Komunikasi antara mahasiswa dengan dosen pembimbing tugas akhir merupakan komunikasi interpersonal yang berbentuk dua arah, karena komunikasi yang dilakukan oleh mahasiswa dengan dosen pembimbing tugas akhir, memungkinkan masing-masing pihak baik mahasiswa atau dosen pembimbing tugas akhir saling memberikan respon sebagai umpan balik dari pesan yang disampaikan. 

Respon umpan balik dapat berupa bahasa verbal maupun non verbal. Pesan yang dikomunikasikan pada saat bimbingan berisi ajaran atau didikan, khususnya yang menyangkut permasalahan yang akan diteliti oleh mahasiswa. Sumber pesan bisa dari dosen, mahasiswa, buku dan juga orang lain. Berdasarkan uraian komunikasi mahasiswa-dosen pembimbing utama tugas akhir tersebut di atas dan berdasar pada pengertian efektivitas komunikasi interpersonal yang telah dirumuskan, maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas komunikasi mahasiswa-dosen pembimbing utama tugas akhir adalah suatu keadaan yang menunjukkan adanya kesamaan interpretasi antara mahasiswa dengan dosen pembimbing utama tugas akhir terhadap pesan verbal dan non verbal yang disampaikan pada saat komunikasi, dan ada umpan balik yang diberikan terhadap pesan tersebut. De Vito (1995) menyatakan bahwa aspek-aspek efektivitas komunikasi interpersonal antara lain:

  1. Keterbukaan. Keterbukaan adalah adanya kesediaan untuk membuka diri. Keterbukaan seseorang dalam komunikasi ditunjukkan oleh adanya pengungkapan informasi mengenai diri pribadi, kesediaan untuk bereaksi secara jujur atas pesan yang disampaikan orang lain, adanya “kepemilikan” dari perasaan dan pikiran, adanya kebebasan mengungkapkan perasaan dan pikiran, serta adanya tanggung jawab terhadap pengungkapan tersebut.
  2. Empati. Berempati adalah merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain tanpa kehilangan identitas diri sendiri. Empati memungkinkan seseorang untuk mengerti baik secara emosional maupun intelektual atas apa yang dirasakan orang lain.
  3. Dukungan. Dukungan dipahami sebagai lingkungan yang tidak mengevaluasi (descriptivenes). Dukungan dalam komunikasi ditunjukkan oleh kebebasan individu dalam mengungkapkan perasaannya, tidak malu, tidak merasa dirinya menjadi bahan kritikan. Individu dapat berfikir secara terbuka, mau menerima pandangan yang berasal dari orang lain, serta bersedia untuk mengubah diri jika perubahan dipandang perlu.
  4. Kepositifan. Sikap positif dalam komunikasi adalah sikap saling menghormati satu sama lain dalam situasi komunikasi secara umum. Sikap positif dalam komunikasi ditunjukkan oleh adanya kejelasan dan kepuasan dalam proses komunikasi.
  5. Kesederajatan. Kesederajatan adalah adanya kedudukan yang sama dalam suatu hal atau kondisi (status). Kesederajatan dalam komunikasi interpersonal, ditunjukkan oleh adanya rasa saling menghormati antara pelaku komunikasi.
  6. Keyakinan. Komunikasi yang efektif memerlukan adanya keyakinan dalam diri komunikan maupun komunikator. Keyakinan dalam komunikasi ditunjukkan oleh adanya perasaan senang satu sama lain, dan tidak ada rasa segan satu sama lain.
  7. Kesiapan. Kesiapan dalam komunikasi dibutuhkan agar tujuan komunikasi tercapai. Kesiapan dalam komunikasi dapat ditunjukkan oleh adanya hubungan antara pesan-pesan yang akan disampaikan oleh komunikator dengan pesan yang diharapkan diterima oleh komunikan dalam komunikasi, adanya kesenangan dan ketertarikan antara komunikan dan komunikator, adanya kesenangan dan ketertarikan komunikan dan komunikator pada pesan yang dikomunikasikan.
  8. Manajemen Interaksi. Komunikasi interpersonal yang efektif dapat dilihat dari manajemen interaksi yang ada dalam situasi komunikasi. Manajemen interaksi dalam komunikasi ditunjukkan oleh tidak adanya pelaku komunikasi yang merasa diabaikan. Kemampuan dalam manajemen interaksi dapat dilihat dari tingkah laku komunikasi yang berupa gerakan mata, ekspresi suara, mimik muka dan bahasa tubuh.
  9. Sikap ekspresif. Dalam komunikasi interpersonal yang efektif memerlukan sikap ekspresif. Sikap ekspresif dapat dilihat dari adanya kesungguhan dalam berbicara atau mendengarkan, yang dapat dilihat dari bahasa verbal maupun nonverbal.
  10. Orientasi pada orang lain. Orientasi pada orang lain adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan orang lain dan menganggap lawan bicara sebagai pusat perhatian. Adanya orientasi pada orang lain saat berkomunikasi dapat ditunjukkan melalui bahasa verbal maupun nonverbal. Bahasa nonverbal melalui kontak mata, senyuman, anggukan, dan mimik wajah. Adapun bahasa verbal dapat ditunjukkan melalui pertanyaan atau pernyataan berkenaan dengan pernyataan lawan bicara yang terlibat dalam komunikasi interpersonal.
  • Memilih Pembimbing

Apabila di jurusan Anda diperbolehkan mengusulkan atau memilih pembimbing tanyakan kepada ketua jurusan atau dosen wali tentang syarat Pembimbing I dan II yang boleh diajukan atau dipilih (biasanya berhubungan dengan syarat formal yang diatur pemerintah). Ada beberapa kriteria yang bisa diperhatikan ketika Anda mengusulkan pembimbing (Agnes Maria & Jong Jek Siang, 2005).

  1. Pembimbing harus menguasai bidang yang sesuai dengan tugas akhir Anda. Bidang minat pembimbing tidak harus selalu sama dengan mata kuliah yang diajar. Anda bisa mengetahui bidang minat dosen dengan cara menanyakannya langsung, dari teman atau dari topik-topik tugas akhir yang ia bimbing sebelumnya. Jika tidak ada dosen ditempat Anda yang sesuai dengan topik tugas akhir Anda, carilah dosen yang paling mendekati. Jika dosen pembimbing  Anda, maka kritik, saran, koreksi dan ide-ide selama bimbingan akan sangat kurang.
  2. Mencari pembimbing yang punya cukup waktu dan perhatian untuk membimbing  Anda. Ada kalanya dosen menerima apa saja pekerjaan yang ditawarkan kepadanya sehingga ia terlalu sibuk.  Akibatnya mahasiswa bimbingannya tidak pernah diperhatikan. Dosen yang punya cukup waktu dan perhatian pada Anda tidak diukur dari mudah atau sulitnya ia temui tetapi juga dari bagaimana ia menghadapi Anda selama konsultasi. Dosen semacam ini dapat dengan musah diketahui dari apa yang ditanyakan, disarankan dan diminta untuk dilakukan mahasiswa selama bimbingan. Dosen yang hanya selalu mengiyakan dan terlalu mudah menyetujui apa saja uang dilakukan mahasiswa justru dapat menjadi bumerang bagi mahasiswa sewaktu padadaran. Dosen Pembimbing yang baik selalu akan memberi komentar pada apa yang Anda lakukan, menyalahkan dan memberi kritik jika apa yang Anda lakukan tidak benar dan memberi saran atau jalan keluar bagi permasalahan Anda. Lebih baik Anda mendapatkan banyak koreksi dan kritik selama bimbingan tugas akhir dari pada tanpa ada koreksi selama bimbingan tetapi memperoleh semua kritik justru sewaktu sidang berlangsung. Dosen yang tidak punya waktu juga dapat diketahui dari bagaimana ia merespon laporan tugas akhir yang Anda serahkan apabila setelah sekian lama ditunggu tetapi laporan tidak kunjung dikoreksi dan kemudian dikembalikan tanpa ada komentar menunjukan bahwa dosen tersebut tidak memiliki waktu dan perhatian yang cukup pada mahasiwa pada bimbingannya. Lebih parah lagi kalau ia kemudian menyalakan laporan Anda pada waktu pendadaran.
  3. Mencari pembimbing yang kooperatif dan komunikatif. Sebaiknya jangan mencari pembimbing yang tidak dapat diajak berdiskusi, tidak dapat memberi semangat (malah cenderung terus menekan) ketika Anda patah semangat. Dosen yang kooperatif selau menghargai pendapat mahasiswa, selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar materi tugas akhir. Dosen yang yang komunikatif akan mampu memberitahu kesalahan yang Anda buat secara gamblang.
  1. Teknik Konsultasi Dengan Pembimbing 

Membimbing mahasiswa tugas akhir baik skripsi maupun thesis relatif lebih berat dan membutuhkan pengetahuan yang lebih banyak dibandingkan mengajar dikelas karena biasanya seorang dosen membimbing banyak mahasiswa yang topik tugas akhir baik skripsi maupun thesis berbeda-beda. Oleh karena itu akan sangat baik dan menguntungkan jika mahasiswa membantu pembimbing demi kelancaran tugas akhirnya. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan mahasiswa untuk hal itu (Agnes Maria & Jong Jek Siang, 2005).

  1. Berkonsultasi dengan pembimbing secara kontinyu (kecuali jika pembimbing memang menghendaki mahasiswa untuk menemuinya setelah menyelesaikan seluruh tugas akhir). Jangan hanya menemui pembimbing jika sudah membatasi batas akhir pengumpulan naskah tugas akhir untuk pendadaran atau keadaan sudah ruwet. Dengan konsultasi secara kontinu dari awal, pembimbing akan dapat mengontrol jalannya tugas akhir secara terus menerus sehingga kemungkinan salah arah menjadi kecil. Jika seorang mahasiswa hanya menemui pembimbing didekat batas akhir pengumpulan tugas akhir, hal itu menunjukan, manajemen waktu buruk Di awal waktu mengerjakan tugas akhir mahasiswa tidak segera mengerjakan, tetapi kalau waktu sudah mepet, ia “menodong” pembimbing untuk segera menyetujui. Kualitas tugas akhir mahasiswa yang demikian ini biasanya juga jelek.
  2. Pembimbing juga membutuhkan waktu untuk melihat dan mengoreksi naskah Anda, di samping itu, mungkin sekali ada banyak mahasiswa lain juga mengumpulkan tugas akhir pada saat-saat tersebut (dan mungkin mereka sudah berkonsultasi lebih kontinu, sehingga otomatis harus didahulukan). Ditambah lagi jika pembimbing Anda termasuk orang yang sibuk sehingga tidak lagi sempat mengoreksi tugas akhir Anda secara teliti karena kedatangan Anda yang mepet waktu tersebut. Bisa dibayangkan betapa runyamnya Anda waktu sidang ujian akhir. Dari pengamatan penulis, biasanya mahasiswa yang lama menghilang dan baru menemui pembimbingnya setelah mendekati waktu pengumpulan (dengan membawa program dan laporan yang tiba-tiba sudah jadi). Programnya juga tidak dikerjakan sendiri. Mahasiswa yang mengerjakan programnya sendiri biasanya akan rutin menemui pembimbingnya karena ia pasti menemui hambatan dan membutuhkan nasehat atau pendapat pembimbing selama membuat programnya.
  3. Pada waktu konsultasi, tanyakan hal-hal yang inti saja. Konsultasikan bukan waktu untuk mengobrol dengan pembimbing tentang hal-hal yang tidak penting. Sebelum menemui pembimbing catatlah apa saja yang akan ditanyakan. Mintalah pendapat pembimbing tentang hal-hal yang akan sedang Anda kerjakan. Jangan menanyakan pertanyaan yang bodoh, seperti cara mengetik atau format teks laporan, atau pertanyaan: “setelah menghitung ini, apa yang harus saya kerjakan?” Pertanyaan ini menunjukan bahwa Anda tidak punya pendapat dan tidak tahu secara jelas tentang apa yang Anda harus lakukan. Sebaiknya Anda tanyakan “judul saya adalah…..dan saya sudah mengerjakan hal ini. Berikutnya saya akan melakukan……Bagaimana pendapat Bapak/Ibu?”.Pertanyaan bodoh lainya adalah menanyakan hal-hal yang sifatnya terlalu detail, seperti:”mengapa program saya kok selalu eror jika dijalankan”. Siapaun juga kecuali pembuatnya tentu saja akan sulit menjawab pertanyaan ini karena sangat banyak kemungkinan. Pertanyaan itu mirip dengan pertanyaan kepada “dok”, mengapa saya sakit”, Tanpa penjelasan yang rinci tentang bagian mana yang teras sakit, bagaimana rasa sakitnya, berapa lama sakit berlangsung, dan lain-lain, dokter pasti tidak mampu menjawab pertanyaan pasiennya tersebut dengan benar.
  4. Selama konsultasi, ingat dan kalau perlu catatlah komentar, saran, atau penjelasan pembimbing. Ini bertujuan agar Anda tidak lupa setelah Anda sampai di rumah. Usahakan untuk tidak menanyakan pertanyaan yang sama berkali-kali karena hal itu hanya menunjukan kebodohaan Anda yang tidak kunjung mengerti penjelasan  pembimbing atau tidak memperhatikan sewaktu konsultasi. Tujuan Anda konsultasi dengan pembimbing untuk mengetahui pendapat tentang hal-hal yang Anda lakukan. Oleh karena itu jangan mengajak pembimbing untuk berdebat, apalagi dalam hal sepele. Jika Anda memang tidak menyetujui pendapat pembimbing, katakanlah dengan sopan (dengan disertai alasan yang konkrit dan logis) dan tidak mengajak berdebat. Jika setiap kali Anda konsultasi, Anda hanya mengajak berdebat, lama kelamaan pembimbing akan bosan dan tidak akan menolong Anda sama sekali.
  5. Memberikan kesan pada pembimbing bahwa Anda sanggup mengerjakan tugas akhir Anda. Pembimbing umumnya bertemu dengan Anda tidak lebih dari10 kali selama Anda mengerjakan tugas. Ia memberikan nilai dari kesannya terhadap pertemuan-pertemuan itu. Jika Anda bisa membuat kesan baik, tentulah akan terbawa dalam penilaian yang diberikannya. Ini bisa dilakukan misalnya dengan mempersiapkan baik-baik apa yang akan dtanyakan waktu konsultasi, membuat laporan sebaik-baiknya, dan lain-lain.
  6. Memiliki inisiatif dalam mengerjakan tugas akhir. Jangan hanya menunggu “perintah” dari pembimbing, karena pada hakekatnya Andalah yang membuatnya, bukan pembimbing, Akan tetapi jika pembimbing meminta Anda melakukan sesuatu (misalnya menambah percobaan, analisis, dan lain-lain) sebagai kelengkapan tugas akhir, usahakanlah untuk menemuinya sejauh hal itu tidak memberatkan Anda. Akan tetapi jika yang diminta pembimbing terasa memberatkan atau bahkan tidak mampu Anda lakukan, katakanlah terus terang.
  7. Jangan terlalu sering atau terlalu jarang berkonsultasi dengan pembimbing. Jangan sampai perubahaan kecil dalam rancangan, program, atau lapooran harus dikonsultasikan berkali-kali dengan pembimbing. Demikian pula jangan meminta pembimbing melihat program (demo program) berkali-kali. Tunjukan program setelah Anda merasa proram tersebut sudah”sempurna”. Ingatlah bahwa pembimbing juga memilki keterbatasan waktu dalam menemui mahasiswanya. Konsultasi yang selalu sering untuk hal-hal yang kurang penting atau membicarakan pertanyaan yang sama berkali-kali akan diterjemahkan pembimbing sebagai ketidak mampuan mahasiswa. Sebaliknya konsultasi yang hanya terjadi 1-2 kali. Selama pembuatan skripsi juga membahayakan karena pembimbing pasti tidak dapat menggoreksi tugas akhir dengan sempurna.
  8. Mengusahakan dalam setiap konsultasi, pembimbing dapat melihat adanya kemajuan yang nyata dalam tugas akhir Anda. Jika dalam setiap konsultasi Anda hanya menanyakan hal-hal mendasar atau hal yang sama terus menerus (misalnya cara kerja algoritma), pembimbing akan menilai bahwa Anda tidak mampu mengerjakan topik tugas akhir yang Anda ambil sehingga jika tiba-tiba Anda sudah menyelesaikan programnya, pembimbing akan curiga bahwa program tersebut bukan buatan program Anda sendiri.
  • Hambatan Selama Pembimbingan Penyusunan Laporan Tugas Akhir

Dosen juga bertanggunga jawsb atas pembimbingan penyususnan laporan tugas akhir. Terdapat beberapa kendala fisik yang seringkali menjadi masalah dalam penyusunan laporan tugas akhir. Pertama, mahasiswa tidak dapat mengungkapkan pendapatnya ke dalam bentuk tulisan (apalagi tulisan ilmiah) sebenarnya bukanlah masalah yang dialami oleh mahasiswa saja. Butuh keterbiasaan untuk dapat melakukan hal tersebut dengan baik. Sering dijumpai mahasiswa begitu gamblang ketika menjelaskan masalah dan menyampaikan pendapat seara lisan, namun tatkala mereka diminta untuk menuangkan dalam bentuk tulisan, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melaksanakan hal tersebut.

 Kedua, mahasiswa belum dapat membuat kalimat sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tulisan ilmiah tentunya harus dibuat dengan kaidah bahasa yang benar. Meskipun pelajaran bahasa Indonesia telah dipelajari secara mendalam selama dua belas tahun di bangku sekolah, namun pada kenyataannya mahasiswa masih bingung mengimplementasikannya dalam penulisan laporan tugas akhir. Pengaruh penggunaan bahasa gaul mungkin menjadi salah satu penyebab kacau balaunya mahasiswa dalam menulis laporan tugas akhir. Dosen sebagai pembimbing dalam penyususnan tugas akhir harus secara serius mencermati isi laporan secara redaksional dan mengajarkan sekilas tentang pemakaian bahasa Indonesia untuk penulisan ilmiah. Dosen harus membaca ulang laporan itu 2-3 kali dan meminta bantuan kepada orang lain untuk membaca tulisan tersebut. Hal ini sebagai upaya agar laporan yang dibuat sudah terbebas dari salah kata dan salah ketik. Di samping itu, dengan meminta bantuan orang lain untuk membaca laporan, setidaknya akan mendapatkan jaminan bahwa apa yang ditulis dapat dipahami oleh orang lain.

Ketiga, mahasiswa belum memahami sepenuhnya tentang plagiarisme. Mengutip isi referensi tugas menyebutkan sumbernya menjadi pemandangan yang kerap muncul ketika mahasiswa menulis laporan, terutama pada bagian dasar teori. Sebagian mahasiswa belum memahami betul bahwa apa yang telah dilakukannya adalah bagian dari plagiasi. Untuk itu, dosen sebagai pembimbing harus mengarahkan mahasiswa agar tidak terjadi hal seperti ini. Meskipun pada mata kuliah metodologi penelitian ini telah disinggung, sekali lagi umumnya mahasiswa akan meluoakan begitu saja materi ini ketika mereka sudah mengambil TA. Dosen harus memeberitahukan dan meluruskan bahwa apa yang telah dilakukan oleh mahasiswa dengan mengambil hasil karya orang lain tanpa mencantumkan sumbernya sebagai miliknya adalah tidah baik dan melanggar etika akademik.

Rangkuman

Peranan seorang dosen terhadap mahasiswa tidaklah hanya sebagai pengajar di kelas, melainkan juga sebagai seorang pembimbing tugas akhir apabila sudah memenuhi kualifikasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pembimbing tugas akhir, dosen tidak ubahnya sebagai seorang guru yang memiliki beberapa peranan sebagai ahli instruksional, motivator, manajer, konselor dan model. Beberapa kendala mahasiswa dalam memulai tugas akhir adalah mahasiswa belum memahami sepenuhnya terhadap minat dan kemampuannya, kesulitan menemukan ide, tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan pemrograman, kurangnya rasa percaya diri. 

Sedangkan masalah yang muncul selama proses pengerjaan tugas akhir adalah: (1) masalah akademis yang pasti muncul adalah dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk mendalami materi tugas akhir. (2) masalah teknis yang sering dihadapi adalah peralatan komputer bermasalah atau data hilang. (3) masalah keluarga juga sering muncul selama penyelesaian tugas akhir. Untuk menjamin kelancaran proses bimbingan adalah memilih dosen pembimbing. Yang harus diperhatikan adalah pembimbing harus menguasai bidang yang sesuai dengan tugas akhir Anda, mencari pembimbing yang mempunyai cukup waktu untuk membimbing Anda, dan pembimbing yang kooperatif dan komunikatif.

Daftar Pustaka

Ade Cahyana. 2010. Pengembangan Kompetensi Profesional Guru Dalam Menghadapi Sertifikasi. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol. 16, No. 1, Jakarta.

Agustian, A.G. 2001. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, ESQ: Emotional Spiritual Quotient. Jakarta: Arga Publishing.

Antonio, M.S. 2008. Teladan Sukses dalam Hidup dan Bisnis, Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager. Jakarta: Tazkia Publishing.

Berndtsson, M. Jorgen, H. Bjorn, O. 2008. Thesis Projects: A Guide for Student in Computer Science and Information Systems. London: Springer.

Djiwandono, S.E.W. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 2010. Pedoman Beban Kerja Dosen dan Evaluasi Pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Jakarta: Dirjen Dikti.

Howard, K. and Sharp, J.A. 2003. The Management of a Student Research Project. Aldershot: Gower.

Maria Polina, A. & Jong Jek Siang. 2005. Kiat Jitu Menyusun Skripsi Jurusan Informatika atau Komputer. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Pemerintah Republik Indonesia. 2005. Undang-undang Tentang Guru dan Dosen. Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005.

Wahid, F & Dirgahayu, T. 2012. Pembelajaran Teknologi Informasi di Perguruan Tinggi: Perspektif dan Pengalaman. Yogyakarta: Graha Ilmu.

 

Saya berfikir bahwa ada suatu hal yang lebih penting daripada sekadar percaya: Tindakan! 

Dunia ini penuh dengan pemimpi, tidaklah banyak orang yang berani maju ke depan dan mulai mengambil langkah pasti untuk mewujudkan visi mereka.

 

  1. Clement Stone



Leave A Reply