MENYUSUN KARYA TULIS ILMIAH
Realitas diciptakan oleh pikiran. Kita dapat mengubah realitas
mengenai diri kita dengan mengubah pikiran kita.
Plato
Pembahasan Materi
Bab ini membahas tentang konsep menulis, konsep menulis karya ilmiah, manfaat karya tulis ilmiah, ragam karya tulis ilmiah: skripsi, tesis, disertasi, makalah, artikel ilmiah, artikel ilmiah popular, kertas kerja, resensi, laporan penelitian lapangan, resensi, texsbook dan handbook, dan laporan. Karakteristik karya tulis ilmiah dan sikap penulis ilmiah.
- Pendahuluan
Kegiatan menulis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pembelajaran. Menulis berarti mengorganisasikan gagasan secara sistematis dan mengungkapkannya secara tersurat. Menulis dapat berarti menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang. Pada prinsipnya fungsi utama dari tulisan menurut Tarigan (2009: 21) adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung. Menulis sangat penting bagi pendidikan karena memudahkan para pelajar dan mahasiswa berpikir secara kritis.
Kegiatan berkomunikasi dengan tulisan dapat menembus ruang dan waktu. Berkomunikasi melalui tulisan tidak dibatasi oleh kehadiran pembaca dalam suatu ruangan. Berkomunikasi melalui tulisan tidak harus dalam waktu tulisan itu dibuat, tetapi dapat dilakukan pembaca pada waktu yang berbeda. Kegiatan berkomunikasi melalui tulisan akan terjalin interaksi antara penulis dengan pembaca hanya melalui tulisan. Salah satu media komunikasi tertulis adalah karangan ilmiah yang biasa disebut karya tulis ilmiah.
Menulis dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan atau komunikasi dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Dalam komunikasi tulis, terdapat empat unsur yang terlibat yaitu: (1) penulis sebagai penyampai pesan; (2) pesan atau isi tulisan; (3) saluran atau media, berupa tulisan; (4) pembaca sebagai penerima pesan. Menulis memiliki banyak manfaat yang dapat dipetik dalam kehidupan ini, di antaranya adalah: (1) peningkatan kecerdasan, (2) pengembangan daya inisiatif dan kreatif, (3) penumbuhan keberanian, dan (4) pendorongan kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.
Karya ilmiah merupakan tulisan yang didasarkan atas penelitian ilmiah. Namun akhir-akhir ini mulai berkembang paradigma baru bahwa suatu karya ilmiah tidak harus didasarkan pada penelitian ilmiah saja, melainkan juga suatu kajian terhadap suatu masalah yang dianalisis oleh ahlinya secara professional. Tradisi keilmuan bukan hanya menjadi penerima ilmu. Namun sekaligus pemberi atau penyumbang ilmu. Dengan demikian, tugas kaum intelektual dan cendekiawan tidak hanya dapat membaca, tetapi juga harus dapat menulis tentang tulisan-tulisan ilmiah. Apalagi seorang mahasiswa sebagai calon ilmuwan wajib menguasai tata cara penyusunan karya ilmiah.
- Pengertian Karya Tulis Ilmiah
Karya ilmiah merupakan tulisan yang memiliki bobot akademis tertentu ditinjau dari aspek organisasi tulisan, substansi masalah, akurasi data, dan penyajian. Karya ilmiah juga merupakan karya tulis yang menyajikan gagasan, deskripsi, atau pemecahan masalah secara sistematis, disajikan secara objektif dan jujur, dengan menggunakan bahasa baku, serta didukung oleh fakta, teori dan/atau bukti-bukti empirik, tidak banyak berguna jika tidak disebarluaskan. Karya tulis ilmiah dapat disingkat karya ilmiah atau dalam bahasa Inggrisnya scientific paper. Karya ilmiah juga sering disebut dengan istilah tulisan akademik atau academic writing (Barnawi & M Arifin, 2015: 18). Istilah tersebut muncul karena karya ilmiah lebih sering ditulis dalam masyarakat kampus. Dosen dan mahasiswa mempunyai kewajiban untuk dapat mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan secara tertulis.
Ada sementara orang yang masih membedakan pengertian tulisan dengan karangan. Mereka memiliki persepsi bahwa tulisan berhubungan dengan hal-hal yang bersifat ilmiah, sedangkan karangan mengacu pada hal-hal yang bersifat fiktif atau rekaan. Padahal kedua kata tersebut sebenarnya sama, orang yang melakukan kegiatan menulis berarti melakukan kegiatan mengarang. Hasil kegiatan menulis atau mengarang ini, bagaimana pun bentuknya, disebut tulisan ataupun karangan tanpa merendahkan nilai keilmiahan. Tulisan atau karangan pada hakikatnya merupakan organisasi ide atau pesan secara tertulis. Jika kata itu dikaitkan dengan kata ilmiah maka hasil organisasi ide atau pesan itu disebut tulisan ilmiah.
Tulisan ilmiah adalah tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya (keilmiahannya). Karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta umum dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Karangan ilmiah selalu ditulis dengan bahasa konkrit (nyata atau benar-benar ada), bergaya bahasa formal, menggunakan istilah teknis didukung oleh fakta umum yang dapat dibuktikan kebenerannya.
Adapun karangan pengetahuan popular biasanya ditujukan untuk masyarakat umum. Karangan nonilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta pribadi dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Fakta pribadi adalah fakta yang ada pada diri sesorang misalnya fakta yang disimpulkan dari data hasil kuesioner atau data hasil wawancara dan sebagainya. Fakta-fakta itu bersifat subyektif karena berupa sesuatu yang dipikirkan respon atau penyimpul data.
Oleh karena itu, karangan ilmu pengetahuan yang ditulis berdasarkan kuesioner atau tes-tes lainnya menurut pandangan penulis adalah karangan yang bersifat nonilmiah, walaupun subyeknya berupa ilmu pengetahuan dan metode pengumpulan data direncanakan secara ilmiah serta diproses menurut metode statistika. Karangan tidak ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta umum, tetapi datanya diperoleh tanpa melalui prosedur ilmiah dan penulisannya tidak memenuhi ciri-ciri karangan ilmiah. Fakta yang disajikan berdasarkan data yang diperoleh tidak melalui prosedur ilmiah sehingga validitas data (tingkat kebenaran atau kesahihan data) sangat diragukan.
Karya tulis ilmiah adalah semua bentuk karangan berupa buku artikel dalam buku atau jurnal, skripsi, tesis, disertasi dan laporan yang disajikan secara sistematis, cermat, tidak emotif (tidak membangkitkan emosi) tidak persuatif (tidak bersifat membujuk secara halus atau supaya orang yakin) kata-katanya mudah di identifikasi, tidak argumentatif, tulus, tidak mengejar kepentingan pribadi dan semata-mata memberi informasi. Naskah ilmiah ialah karangan yang ditulis berdasarkan kenyataan ilmiah atau karangan yang ditulis dengan memperhatikan syarat-syarat ilmiah yang diperoleh berdasarkan penelitian.
Karangan ilmiah ditulis setelah mendapatkan suatu masalah kemudian diikuti oleh penelitian, pengumpulan data, pengolahan data, analisis dan kesimpulan, kemudian dilaporkan menjadi naskah atau laporan tersendiri. Oleh karena itu, tulisan dapat dikatakan ilmiah apabila tulisan tersebut berdasarkan fakta dan data, baik secara teoritis maupun empirik yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ini berarti tulisan ilmiah itu harus disajikan dalam bentuk tulisan yang objektif, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan.
- Manfaat Karya Tulis Ilmiah
Kedudukan karya tulis ilmiah di perguruan tinggi sangat penting dan merupakan bagian dari tuntutan formal akademik. Karya tulis ilmiah menjadi suatu ciri dari suasana ilmiah akademisi. Dilihat dari jenisnya karya tulis ilmiah terdiri atas makalah, laporan, skripsi, tesis dan disertasi. Dilihat dari tujuan penulisannya, karya ilmiah dibedakan kedalam dua jenis yaitu (Wirartha, 2006: 40):
- Tugas–tugas perkuliahan, yaitu makalah dan laporan. Sebagai bagian dari tugas-tugas perkuliahan, karya tulis ilmiah dalam bentuk makalah dan laporan merupakan bagian dari system SKS (Satuan Kredit Semester), yaitu komponen tugas-tugas berstruktur yang harus dipenuhi oleh para mahasiswa di luar kegiatan perkuliahan dalam kelas. Jadi, makalah dan laporan merupakan konsekuensi logis system SKS.
- Syarat mahasiswa untuk menyelesaikan program studi, yaitu skripsi (untuk S1), tesis (untuk S2) dan disertasi (untuk S3).
Skripsi dapat ditempuh oleh mahasiswa S1 jika Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) memenuhi syarat yang ditetapkan fakultas. Bagi mereka yang memenuhi persyaratan, atau juga yang tidak berminat, maka aternatif lainnya adalah jalur SKS. Sementara itu, tesis wajib disusun oleh setiap mahasiswa pascasarjana atau program magister (S2) dan disertasi wajib disusun oleh setiap mahasiswa program doktoral (S3) dalam rangka menyelesaikan studinya.
Melalui karya tulis ilmiah tersebut, mahasiswa mengungkapkan pikirannya secara sistematis, seseuai kaidah-kaidah keilmuan. Dengan mengacu pada kepustakaan dan dokumen yang relevan, mahasiswa melakukan pengamatan lapangan, melakukan penelitian historis atau kajian kepustakaan. Dalam kaitan ini, karya tulis ilmiah merupakan wahana komunikasi hasil-hasil penelitian ilmiah dengan masyarakat akademiknya untuk diuji secra terbuka dan objektif serta mendapatkan koreksi dan kritik.
Di samping itu, karya tulis ilmiah juga merupakan wahana untuk menyajikan nilai-nilai praktis maupun nilai-nilai teoretis hasil-hasil pengkajian dan penelitian ilmiah yang dilakukan oleh mahasiswa. Dengan sifat dan kedudukan ini, maka karya tulis ilmiah dalam lingkungan masyarakat akademik bisa turut memperkaya khasanah keilmuan dan memperkokoh pradigma keilmuan pada bidang keilmuan atau pada bidang keilmuan yang relevan. Proses akumulasi, validasi dan bahkan falsifikasi dalam kegiatan ilmiah melalui penelitian-penelitian dan pengkajian–pengkajian ilmiah ini, merupakan prasyarat bagi perkembangan suatu disiplin keilmuan, termasuk ilmu pendidikan dan keguruan.
Singkat kata, karya tulis ilmiah di lingkungan perguruan tinggi mengemban dua misi, yaitu: 1. Wahana untuk melatih para mahasiswa mengungkapkan pikiran-pikirannya secara sistematis, tertib dan dapat diprtanggungjawabkan secara ilmiah. 2. Memberikan sumbangan pada pihak ilmu pengetahuan. Jika yang pertama menunjuk pada sasaran dari segi prosesnya maka yang kedua lebih mengacu kepada produknya. Penyusunan tulisan ilmiah memberikan manfaat yang besar sekali baik bagi penulis sendiri maupun bagi masyarakat. Sekurang-kurangnya enam manfaat yang diperoleh dari kegiatan tersebut intinya adalah sebagai berikut:
- Penulis akan terlatih mengembangkan keterampilan membaca yang efektif karena sebelum menulis karangan ilmiah, ia mesti membaca dahulu kepustakaan yang ada relevansinya dengan topic yang akan dibahas.
- Penulis akan terlatih menggabungkan hasil bacaan dari berbagai buku sumber, mengambil sarinya dan mengembangkannya ketingkat pemikiran yang lebih matang.
- Penulis akan berkenalan dengan kegiatan perpustakaan, seperti mencari bahan bacaan dalam catalog pengarang atau catalog judul buku.
- Penulis akan dapat meningkatkan keterampilan dalam mengorganisasikan dan menyajikan fakta secara jelas dan sistematis.
- Penulis akan memperoleh kepuasan intelektual.
- Penulis turut memperluas cakrawala ilmu pengetahuan masyarakat.
- Ragam Karya Tulis Ilmiah
Ada anggapan di sebagian kalangan mahasiswa bahwa menyusun karangan ilmiah dengan bahasa yang benar adalah rumit dan menyusahkan sehingga mereka mengeluh saat mendapat tugas menyusun makalah atau skripsi. Di sini, mereka seakan-akan menyerah sebelum bertempur. Padahal, anggapan dan perasaan tersebut terlalu berlebihan. Menyusun karangan ilmiah pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan menyusun karangan yang lain, seperti karangan jurnalistik atau laporan perjalanan. Perbedaannya adalah bahwa penyusunan karangan ilmiah mengikuti metode ilmiah yang terdiri atas langkah-langkah untuk mengorganisasi dan mengatur gagasan melalui garis pemikiran yang konseptual dan prosedural yang sudah disepakati oleh para ilmuan.
Jadi, siapapun seperti mahasiswa atau calon sarjana, masyarakat, bahkan pelajar SMTA akan mampu menyusun karangan ilmiah, asalkan mau mempelajari cara-caranya atau diberi arahan oleh dosen pembimbing yang berpengalaman. Ada beberapa jenis karangan ilmiah yang biasa ditulis orang. Di samping makalah dan skripsi, kertas kerja, laporan penelitian, tesis dan disertasi. Semua jenis karangan ilmiah tersebut selalu menyajiakan suatu hasil kegiatan penelitian tentang suatu pokok masalah berdasarkan data dan fakta di lapangan. Penyusunannya sudah pasti berdasarkan metode ilmiah yang menyajikan suatu topik secara sistematis dan dilengkapi dengan fakta dan data yang sahih menggunakan bahasa yang khas. Dengan demikian, setiap pembaca karangan ilmiah tidak dapat menyalahkan atau menentang isi karangan ilmiah berdasarkan fakta dan data yang akurat. Jenis-jenis tulisan atau karangan ilmiah adalah sebagai berikut.
- Skripsi
Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan pendapat orang lain. Pendapat yang diajukan harus didukung oleh data dan fakta, empiris-objektif, baik berdasarkan penelitian langsung (studi kepustakaan). Penulisan skripsi biasanya ditujukkan untuk melengkapi syarat guna memperoeh gelar sarjana muda atau diploma atau sarjana dan penyusunannya di bimbing oleh seorang dosen atau oleh suatu tim yang ditunjuk oleh suatu lembaga pendidikan tinggi.
Skripsi adalah sebuah karya ilmiah yang disusun oleh mahasiswa program sarjana (program stara satu) dari hasil-hasil penelitian atas dasar analisis data sekunder. Skripsi yang disusun mahasiswa program strata satu tersebut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (Made Wirartha, 2006: 46): 1. Harus ada permasalahan. 2. Judul skripsi ditulis sendiri oleh mahasiswa atau ditentukan oleh pembimbing. 3. Didasarkan pada pengamatan lapangan (data primer) dan atau analisis data sekunder. 4. Harus ada ketertiban metodologi. 5. Mengungkapkan adanya kenyataan baru atau kenyataan khusus. 6. Di bawah bimbingan berkala dan teratur oleh dosen pembimbing. 7. Diperiksa dan dikembalikan berulang-ulang oleh dosen pembimbing untuk direvisi. 8. Harus cermat dalam tata tulis ilmiah. 9. Harus ada abstraksinya (kurang lebih 200 kata). 10. Diuji di depan panitia. 11. Dapat dipublikasikan. 12. Merupakan syarat untuk menyelesaikan studi sarjana atau program strata satu.
Skripsi merupakan karya tulis ilmiah yang ditulis berdasarkan hasil penelitian ataupun telaah pustaka sebagai prasyarat untuk memperoleh gelar sarjana di jenjang perguruan tinggi dan dipertahankan di depan sidang ujian. Dahulu skripsi digunakan untuk memperoleh gelar sarjana muda (B.A, B.Sc. dan sejenisnya). Sekarang, skripsi merupakan karya ilmiah untuk memenuhi salah satu persyaratan mencapai gelar sarjana strata satu (S1).
- Tesis
Tesis mempunyai tingkat pembahasan lebih dalam daripada skripsi. Tesis adalah karya tulis ilmiah yang sifatnya lebih mendalam daripada skripsi. Tesis akan mengungkapkan pengetahuan baru yang diperoleh dari penelitian sendiri. Karya tulis ilmiah ini akan memperbincangkan pengujian terhadap satu hipotesis atau lebih dan ditulis oleh mahasiswa fakultas pascasarjana. Tesis (thesis atau proefschrift dalam bahasa Belanda) disebut juga risalah ujian dalam arti untuk memenuhi sebagian syarat menempuh ujian mencapai gelar strata dua (Master of Art, Master of Science atau gelar S2 lainnya yang sederajat).
Tesis berasal dari kata thesis berarti pernyataan atau kesimpulan teoritis yang diajukan serat ditunjang oleh argumentasi ilmiah dan referensi-referensi yang diakui secara ilmiah, yang dibuat oleh seorang kandidat Magister. Tesis disusun oleh kandidat Magister secara mandiri pada akhir masa studi dan merupakan salah satu syarat mencapai gelar Magister (Dalman, 2015: 40). Tesis ditulis bersandar pada metodologi penelitian dan metodologi penulisan. Standarnya digantungkan pada institusi, terutama pembimbing. Dengan bantuan pembimbing mahasiswa mulai merencanakan penelitian, melaksanakan, menggunakan instrumen penelitian, mengumpulkan dan menyajikan data, menganalisis, sampai mengambil kesimpulan dan rekomendasi. Penulis tesis dituntut memiliki kemampuan menggunakan istilah teknis: dari istilah sampai tabel, dan dari abstrak sampai bibliografi.
- Disertasi
Disertasi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasarkan data dan fakta yang sahih dengan analisis rinci. Dalil yang dikemukakan biasanya dipertahankan oleh penulisnya dari sanggahan-sanggahan senat guru besar atau penguji suatu pendidikan tinggi. Disertasi ini berisi suatu temuan penulis sendiri, yang berupa temuan orisinal. Jika temuan orisinal ini dapat dipertahankan oleh penulisnya dari sanggahan penguji, ia berhak menjadi penyandang gelar doktor. Disertasi adalah naskah promosi, dalam arti naskah untuk mencapai gelar Doktor (S3).
Dari disertasi terlahirlah sebuah teori, temuan atau model baru dalam bidang ilmu yang ditekuni. Dan sebuah disertasi ditemukanlah hal-hal baru, serta pengembangan teori yang berbeda dengan teori atau konsep yang selama ini dianut. Argumen keimuan dalam disertasi dapat menggunakan pola penalaran deduktif maupun induktif (Suherli Kusmana, 2010: 98). Kedalaman dan keluasan argument sangat diperlukan berdasarkan temuan atau hasil penelitian yang bersifat global, sehingga selain memerlukan referensi tertulis yang lengkap, memerlukan pula referensi dari media elektronik atau internet. Pemilihan dan penggunaan metode penelitian dalam menyusun disertasi harus dapat dijelaskan alasannya dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mulai dari memilih sumber data, menyusun dan ujicoba instrument, pengolahan dan pembahasan hasil sampai kesimpulan.
Disertasi harus lebih intensif dan ekstensif daripada tesis. Disertasi merupakan kerja 100 % dari mahasiswa yang bersangkutan. Penulisan disertasi pada prinsipnya sama dengan penulisan tesis. Pada disertasi pokok persoalannya lebih luas, konklusi atau kesimpulannya harus mempunyai generalisasi yang lebih luas daripada tesis. Penulis disertasi disebut Promovendus dan dibimbing oleh seorang atau beberapa orang guru besar (profesor) yang disebut promotor atau copromotor. Promovendus harus mempertahankan disertasinya dihadapan Rapat Senat Universitas (Dewan Guru Besar Universitas) atas sanggahan-sanggahan para penguji (Guru Besar). Ahmad (2015: 6) memberikan perbedaan secara umum antara skripsi, tesis dan disertasi sebagai berikut:
Tabel 2.1. Perbedaan Umum Antara Skripsi, Tesis dan Disertasi
No | Aspek | Skripsi | Tesis | Disertasi |
1 | Jenjang | S1 | S2 | S3 |
2 | Permasalahan | Dapat diangkat dari pengalaman empirik, tidak mendalam | Diangkat dari pengalaman empirik dan teoritik, bersifat mendalam | Diangkat dari kajian teoritik yang didukung fakta empirik, bersifat sangat mendalam |
3 | Kemandirian penulis | 60 % peran penulis 40 % pembimbing | 80% peran penulis 20% pembimbing | 90% peran penulis 10% pembimbing |
4 | Bobot Ilmiah | Rendah – sedang | Sedang – tinggi. Pendalaman atau pengembangan terhadap teori dan penelitian yang ada | Tinggi – tertinggi di bidang akademik. Diwajibkan mencari terobosan dan teori baru dalam bidang ilmu pengetahuan. |
5 | Pemaparan | Dominan deskriptif | Deskriptif dan analitis | Dominan analitis |
6 | Model analisis | Rendah -sedang | Sedang – tinggi | Tinggi |
7 | Jumlah rumusan masalah | Sekitar 1-3 | Minimal 3 | Lebih dari 3 |
8 | Metode atau uji statistik | Biasanya memakai uji kualitatif/uji deskriptif. Uji statistik parametrik (uji 1 pihak, 2 pihak) atau statistik non parametrik (test binomial, chi kuadrat, run test). Uji hipotesis komparatif, uji hipotesis komparatif, uji hipotesis asosiatif, korelasi, regresi, uji beda, uji chi square, dan lain-lain | Biasanya memakai uji kualitatif lanjut atau regresi ganda, multivariate, multivariate lanjutan (regresi dummy, data panel, persamaan simultan, regresi logistik, log linier analisis, ekonometrika static & dinamik, time series ekonometrik) Path analysis, SEM | Seperti tesis dengan metode lebih kompleks, berbobot yang bertujuan mencari terobosan dan teori baru dalam bidang ilmu pengetahuan. |
9 | Jenjang pembimbing atau penguji | Minimal Magister | Minimal Doktor dan Magister yang berpengalaman | Minimal Profesor dan Doktor yang berpengalaman |
10 | Orisinalitas penelitian | Bisa replika penelitian orang lain, tempat kasus berbeda. | Mengutamakan orisinalitas | Harus orisinil |
11 | Penemuan hal-hal yang baru | Tidak harus | Diutamakan | Diharuskan |
12 | Publikasi hasil penelitian | Kampus Internal dan disarankan nasional | Minimal nasional | Nasional dan Internasional |
13 | Jumlah rujukan atau daftar pustaka | Minimal 20 | Minimal 40 | Minimal 60 |
14 | Metode atau program statistik yang digunakan | Kualitatif / manual, Excel, SPSS dan lain-lain | Kualitatif lanjut / SPSS, Eview, Lisrel, Amos dan lain-lain | Kualitatif lanjut / SPSS, Eview, Lisrel, Amos dan lain-lain. |
Pada dasarnya aspek-aspek kualitatif yang membedakan skripsi, tesis, dan disertasi dapat dikemukakan secara konseptual, namun sulit untuk dikemukakan secara operasional.
- Makalah
Makalah adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif. Makalah menyajikan masalah melalui proses berpikir deduktif (suatu proses berpikir dari umum ke khusus) atau induktif (suatu proses berpikir dari khusus ke umum). Makalah disusun biasanya untuk melengkapi tugas-tugas ujian mata kuliah tertentu atau untuk memberikan saran pemecahan tentang suatu masalah secara ilmiah. Makalah menggunakan bahasa yang lugas dan tegas. Jika dilihat bentuknya makalah adalah bentuk paling sederhana diantara karya tulis ilmiah yang lain.
Isi makalah pada dasarnya adalah saran dan opini mengenai suatu pokok persoalan yang akan dibacakan dalam rapat kerja, simposium seminar dan sejenisnya. Istilah makalah itu sendiri terkadang dikaitkan dengan karya tulis di kalangan siswa atau mahasiswa, yakni segala jenis tugas tertulis yang berhubungan dengan bidang studi, hasil pembahasan buku atau tulisan tentang suatu persoalan. Hanya saja, penamaan tugas siswa atau mahasiswa ini sering dikatakan paper dibanding makalah meski sebetulnya mengandung makna yang sama.
Makalah adalah karya tulis ilmiah mengenai suatu topik tertentu yang tercakup dalam ruang lingkup suatu perkuliahan. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan suatu perkuliahan, menurut Made Wirartha (2006: 44) makalah memiliki karakterisik sebagai berikut:
- Merupakan hasil kajian literatur dan atau laporan pelaksana suatu kegiatan lapangan yang sesuai dengan cakupan permasalahan suatu perkuliahan.
- Mendemonstrasikan pemahaman mahasiswa tentang permasalahan teoretik yang dikaji atau keterampilan mahasiswa dalam menerapkan suatu prosedur, prinsip, atau teori yang berhubungan dengan perkuliahan.
- Menunjukkan kemampuan terhadap isi berbagai sumber yang digunakan.
- Mendemonstrasikan kemampuan meramu berbagai sumber informasi dalam satu kesatuan sintesis yang utuh.
Secara umum, terhadap dua jenis makalah yang berlaku di lingkungan perguruan tinggi, makalah biasa (common paper) dan makalah posisi (position paper). Makalah biasa, dibuat mahasiswa untuk menunjukkan pemahamannya terhadap permasalahan yang dibahas. Dalam makalah ini, secara deskriptif mahasiswa diperkenankan mengemukakan berbagai aliran atau pandangan yang ada tentang masalah yang dikaji. Ia juga boleh memberikan pendapat baik berupa kritik atau saran mengenai aliran atau pendapat yang dikemukakan. Namun , ia tidak perlu memihak salah satu aliran atau pendapat tersebut. Dengan demikian, ia tidak perlu berargumentasi mempertahankan pendapat tersebut.
Mahasiswa dapat pula diminta membuat untuk menunjukkan posisi teoritiknya dalam suatu makalah. Makalah jenis ini mahasiswa diminta tidak saja menunjukkan penguasaan atas pengetahuan tertentu, tetapi juga dipersyaratkan untuk menunjukkan keberpihakannya. Jenis makalah ini dinamakan makalah posisi. Untuk dapat membuat makalah posisi, mahasiswa harus membaca berbagai sumber dari berbagai aliran tentang topik bahasan. Dari bahasan tersebut mungkin saja mahasiswa tadi memihak salah satu aliran yang ada, tetapi mungkin pula ia membuat suatu sintesis dari berbagai pendapat yang ada. Jadi, kemampuan analisis, sinstesis dan evaluasi merupakan kemampuan mutlak yang harus dikuasai mahasiswa. Dengan kemampuan-kemampuan ini, suatu makalah posisi dapat dihasilkan.
Mengingat karakteristik dan terutama tingkat kompleksitasnya makalah biasa dipersyaratkan sebagai tugas setiap jenjang pendidikan. Artinya, baik mahasiswa diploma, S1, S2 dan S3 dapat dikenakan tugas membuat makalah. Untuk setiap dua SKS, mahasiswa diharapkan dapat membuat satu makalah. Jadi, mahasiswa yang mengambil beban semester sebesar 20-22 SKS diharapkan telah membuat 10-11 makalah.
Makalah posisi diwajibkan untuk tingkat pascasarjana. Pada tingkat di bawahnya diberikan secara terbatas, yaitu pada tahun keempat program S1. Mahasiswa S1 cukup membuat satu makalah posisi untuk setiap semester. Dengan demikian, selama menjadi mahasiswa S1 mereka diharpakan membuat dua dan paling banyak empat makalah posisi. Makalah posisi tersebut berhubungan dengan mata kuliah pokok bidang studi. Adapun untuk tingkat pascasarjana, makalah posisi ini diberikan lebih sering dibandingkan jenjang pendidikan di bawahnya. Untuk mahasiswa S2, makalah posisi diharuskan bagi setiap mata kuliah Bidang Studi (BS) setiap semester.
Untuk jenjang S3, makalah posisi sudah merupakan tugas dari setiap mata kuliah Bdang Studi mahasiswa S3. Mahasiswa S3 harus mampu mendemontrasikan posisinya dalam setiap mata kuliah yang ditempuhnya dan harus pula mempertanggung jawabkan posisi tersebut. Dengan demikian, untuk mahasiswa S3 minimal satu makalah posisi untuk setiap mata kuliah.
- Artikel Ilmiah
Artikel ilmiah adalah suatu karya ilmiah yang ditulis untuk dimuat dalam jurnal atau majalah ilmiah dengan tata cara penulisan yang mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan. Artikel ilmiah dapat diangkat dari hasil penelitian lapangan atau laboratorium, hasil pemikiran dan kajian pustaka, atau hasil pengembangan proyek. Sumber bahan untuk menulis artikel ilmiah dapat berupa laporan hasil penelitian, kumpulan makalah, buku dan diktat atau bahan ajar, serta laporan kegiatan pengembangan proyek. Publikasi artikel ilmiah dalam bentuk jurnal ilmiah dimaksudkan untuk mengkomunikasikan gagasan atau temuan yang penting untuk diketahui oleh pembaca. Umumnya gagasan yang ditulis dalam bentuk artikel adalah gagasan atau temuan baru yang memiliki orisinalitas dan memiliki sumbangan tinggi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dari penemunya. Jika gagasan yang ditulis sudah umum, biasanya penulis menuangkannya dalam bentuk buku atau diktat.
Bentuk artikel ilmiah dibedakan dalam tiga segi, yaitu bahan, sistematika, dan teknik penulisan. Bahan yang ditulis untuk artikel ilmiah adalah hal-hal yang sangat penting saja, misalnya dalam artikel hasil penelitian, yang ditulis berisi pendahuluan, metode, temuan, dan pembahasan. Sistematika penulisan artikel ilmiah ditulis dengan mengikuti format esei dalam bentuk bagian dan subbagian, dan tidak ditulis dalam bentuk bab dan subbab atau enumeratif. Teknik penulisan artikel ilmiah mengikuti pola dan norma universal yang menandai suatu karya tulis ilmiah, dan mengikuti gaya selingkung yang ditentukan oleh penerbit jurnal.
- Artikel Ilmiah Populer
Ada beberapa pengertian dari karya ilmiah populer, yakni: karya ilmiah populer merupakan karya ilmiah yang bentuk, isi, dan bahasanya menggunakan kaidah-kaidah keilmuan, serta disajikan dalam bahasa yang santai dan mudah dipahami oleh masyarakat awam. Dalman, 2015: 156) mengemukakan bahwa karya ilmiah populer lebih banyak diciptakan dengan jalan menyadur tulisan orang lain daripada dengan jalan menulis gagasan, pendapat, dan pernyataannya sendiri. Karya ilmiah populer adalah karangan ilmiah yang berisi pembicaraan tentang ilmu pengetahuan dengan teknik penyajian yang sederhana mengenai hal-hal kehidupan sehari-hari. Karya ilmiah memiliki ciri-ciri yang dapat dikaji minimal dari empat aspek, yaitu:
- Struktur. Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri dari bagian awal, bagian inti dan bagian penutup. Bagian awal merupakan pengantar ke bagian inti, sedangkan inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan.
- Komponen dan Substansi. Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya abstrak.
- Sikap Penulis. Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan kata atau gaya bahasa impersonal.
- Penggunaan Bahasa. Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata atau istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.
Bentuk karya ilmiah populer antara lain artikel, esai, dan feature. Dilihat dari bahasanya, biasanya artikel menggunakan bahasa jurnalistik, esai menggunakan bahasa sastra, dan feature menggunakan keduanya, bergantung kepada jenis featurenya. Feature pengetahuan banyak menggunakan ragam jurnalistik, namun feature human interest lebih banyak menggunakan ragam sastra.
- Kertas Kerja (Working Paper)
Working paper, biasa juga disebut report reading atau book-report, adalah naskah semester. Adapun kertas kerja, seperti halnya makalah, adalah karya tulis ilmiah yang juga menyajikan sesuatu berdasarkan data di lapangan yag bersifat empiris-objektif. Analisis dalam kertas kerja lebih serius daripada analisis dalam makalah. Kertas kerja ditulis untuk disajikan dalam suatu seminar atau lokakarya. Kerja kerja dibuat dengan analisis lebih dalam dan tajam. Kertas kerja ditulis untuk dapat dipresentasikan pada seminar atau lokakarya, yang biasanya dihadiri oleh limuwan. Pada perhelatan ilmiah tersebut, kertas kerja dijadikan acuan untuk tujuan tertentu. Bisa jadi, kertas kerja dimentahkan karena lemah, baik dari sudut analisis rasional, empiris, ketepatan masalah, analisis, kesimpulan, atau kemanfaatannya.
- Laporan Penelitian Lapangan
Laporan penelitian lapanagan (field study) atau laporan praktik (laboratorium), adalah penulisan dengan prosedur formal dan material. Secara formal, harus melaui penelitian lapangan. Penelitian ini dituntut sesuai dengan metode penelitian. Penelitian merupakan urat nadi bagi seorang sarjana, calon sarjana, atau siapa saja yanag berkecimpung di bidang ilmiah.
Secara material, penelitian ini harus mendapatkan data dan dituntut unuk melaporkan datanya secara logis. Dalam field study ini qua-materialnya belum dituntut secara mendalam. Diharapkan agar mahasiswa calon sarjana mempunyai keterampilan melakukan pendekatan maslah secara konkrit dan berdisiplin melaporkannya secara rasional. Laporan ini adalah karangan ilmiah dan hanya mencakup pada bidang tertentu saja yang sangat terbatas, sesuai spesialisasi bidang ilmu yang diikuti.
Hasil atau kesimpulan yang ditarik harus dapat memperkaya perbendaharaan ilmiah di bidangnya. Dengan demikian, diperlukan sumber kepustakaan untuk mencegah terjadinya penelitian atau percobaan dengan obyek yang sama. Sumber kepustakaan tersebut juga berfungsi mendapatkan metode yang tepat serta mempertajam tinjauan atas data yang didapat dalam penelitian tersebut. Paper dan field study biasanya hanya terbaca oleh beberapa orang saja, yaitu penulisnya sendiri, dosen dan teman-temannya. Jadi, dapat dikatakan bahwa paper dan field study itu hanya milik mahasiswa dan dosen. Oleh karenanya, naskah dapat segera dilupakan setelah selesai.
- Resensi
Resensi adalah karya tulis yang berisi hasil penimbangan, pengulangan, atau penilaian sebuah buku. Resensi yang disebut juga timbangan buku atau book review sering disampaikan kepada sidang pembaca melalui surat kabar atau majalah. Tujuan resensi menurut Dalman (2015: 43) adalah memberi pertimbangan dan penilaian secara objektif, sehingga masyarakat mengetahui apakah buku yang diulas tersebut patut dibaca ataukah tidak.
- Textbook dan Handbook
Textbook ialah karangan ilmiah yang mempunyai sumber bahan pustaka. Textbook memuat prinsip-prinsip atau hukum-hukum ilmiah yang secara umum sudah diterima. Biasanya merupakan buku tebal yang digunakan untuk mengajar atau untuk keperluan pendidikan dan pengajaran. Jadi, berfugsi menanamkan pengertian-pengertian ilmiah. Dengan demikian, textbook dapat dikatakan sebagai kompilasi (penyusunan) dari prinsip-prinsip ilmiah yang secara umum sudah diterima ditambah dengan penemuan-penemuan hasil penelitian yang diakui dalam bidangnya (Made Wirartha, 2006: 50).
Di samping textbook, ada pula yang disebut handbook, yang digunakan untuk memberi petunjuk cara mempraktikkan sesuatu berdasarkan hasil penelitian ilmiah. Dengan kata lain, sebagi petunjuk praktis untuk bekerja atau melakukan kegiatan. Termasuk dalam kelompok ini misalnya manual (buku penuntun) yang biasa disertakan dalam produk-produk baru, seperti mesin-mobil komputer dan sebagainya.
- Laporan
Laporan adalah suatu tulisan yang dibuat oleh seseorang setelah malakukan pencobaan, peninjauan, observasi, pembacaan buku (referensi) dan sebagainya. Dengan kata lain, laporan adalah bentuk karangan yang berisi rekaman kegiatan tentang suatu yang sedang dikerjakan, digarap, diteliti, atau diamati, dan mengandung saran-saran untuk dilaksanakan. Laporan disusun berdasarkan data yang ada dengan disertai penilaian baik buruknya secara obyektif serta saran-saran seperlunya. Hal lain yang harus diperhatikan oleh penulis laporan adalah hendaknya laporan itu dapat mengemukakan permasalahan secara benar jelas, detail dan ringkas. Khusus untuk laporan hasil penelitian harus disusun berdasarkan sistematika penulisan karya ilmiah yang tunduk terhadap aturan dalam penulisan hasil penelitian ilmiah.
- Karakteristik Karya Tulis Ilmiah
Menurut Made Wirartha (2006) ada empat macam tulisan ilmiah, yaitu karangan ilmiah nonteknis kongkrit, karangan ilmiah teknis umum, karangan ilmiah abstract formal dan karangan ilmiah spesifik historis yang akan dijelaskan sebagai berikut:
- Ciri-ciri karangan nonteknis kongkrit adalah sebagai berikut: informatif, bernada populer tanpa istilah teknis yang spesifik, topik spesifik dan kongkrit, tanpa ajakan emosional atau imajinatif, bahasa figuratif hanya dipakai untuk menghangatkan masalah, tersusun sistematis dan ditujukan kepada pembaca dengan pengetahuan ilmiah dasar.
- Ciri-ciri karangan ilmiah teknis umum adalah seluruhnya informatif kata-kata istilah teknis tanpa definisi, tidak mengejar keuntungan pribadi tulus ikhlas, tidak memuat penilaian, tetapi meletakan masalah secara umum bersifat kongkret, susunan dan nada normal, tidak ada ajakan emosional ditujukan kepada pembaca berpengetahuan teknis.
- Ciri-ciri karangan ilmiah abstrak formal ialah sebagai berikut: rangkuman umum, informatif, nonteknis, tidak mengejar keuntungan pribadi, tulus, menyertakan informasi tentang pendapat-pendapat orang lain, tetapi tanpa dukunga bukti, nada dan bahasanya formal tidak ada ajakan emosional, isinya popular dan istilah-istilah yang dipakai juga popular.
- Ciri-ciri karangan ilmiah spesifik historis ialah sebagai berikut: seluruhnya informatif, berdasarkan sumber sejarah, tanpa ajakan, emosional tidak mengejar keuntungan pribadi, tulus, tidak memuat penilaian kongkret dan spesifik, semiteknis, bahasa dan susunannya diatur secara formal. Oleh karena ciri-ciri itulah, maka karangan sejarah ynag ilmiah itu tidak termasuk karangan kesastraan.
Perbedaan antara karangan ilmu pengetahuan yang ilmiah dari yang nonilmiah itu dapat disimak melalui ciri-cirinya. Secara ringkas, ciri-ciri karangan ilmu pengetahuan yang ilmiah menurut Nurudin (2010: 124) adalah: 1. Menyajikan fakta obyektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik. 2. Penulisannya cermat, tepat dan benar, serta tulus. 3. Tidak mengejar keuntungan pribadi, yaitu tidak berambisi agar pembaca berpihak padanya. 4. Tiap langkah direncanakan secara sistematis terkendali, secara konseptual dan prosedural. 5. Karangan ilmiah itu tidak emotif, tidak menonjolkan perasaan. Karangan ilmiah menyajikan sebab-musabab dan pengertian. 6. Tidak memuat pandangan-pandangan tanpa pendukung, kecuali dalam hipotesis kerja. 7. Ditulis secara tulus dan memuat hanya kebenaran. Tidak memancing pertanyaan-pertanyaan yang bernada keraguan. 8. Karangan yang ilmiah itu tidak argumentatif. Karangan yang ilmiah itu mungkin mencapai kesimpulan, tetapi penulisannya membiarkan fakta berbicara sendiri. 9. Karangan yang ilmiah itu tidak persuatif, yang dikemukakan fakta dan aplikasi hukum alam kepada problem spesifik mengemukakan keyakinan itu sukar, tetapi keyakinan sendiri tidak ilmiah.
Secara lebih terperinci, Andrews dalam Made Wirartha (2006: 56) menulis lima prinsip dasar sebagai patokan tulisan yang baik, yakni akurat, jelas, tingkat konvensional, padu atau utuh. Pertama adalah tulisan yang baik bersifat akurat (good writing is accurate). Yang dimaksud akurat disini adalah tulisan itu memberikan gambaran apa adanya tanpa memutarbalikkan fakta. Untuk mendapatkan data yang akurat, tidak hanya percaya kepada sekelompok orang yang tinggal di sana untuk kemudian dirangkum menjadi suatu tulisan, melainkan harus menggali data dengan berbagai cara.
Prinsip kedua adalah tulisan yang baik bersifat jelas (good writing is clear). Tulisan dapat dikatakan jelas apabila isinya dapat dengan mudah dimengerti atau dipahami oleh pembaca. Untuk mencapai kejelasan suatu tulisan maka penulis harus mampu mengungkapkan idenya dengan bahasa yang baik tanpa menyulitkan pembaca untuk memahaminya agar tidak menimbulkan salah tafsir terhadap apa yang ditulisnya.
Prinsip ketiga adalah tulisan yang baik bersifat ringkas (good writing is concise). Yang dimaksud dengan ringkas adalah tulisan itu langsung mengena ke permasalahan, tanpa perlu berpanjang lebar sehingga semakin mengaburkan ide pokoknya. Hal ini, dapat ditempuh dengan penggunaan kata-kata, kalimat-kalimat, atau alinea-alinea yang efektif dan kepiawaian penulis dalam merumuskan ide-idenya dalam suatu kalimat yang efektif dan tersaji dalam alinea yang utuh. Dengan demikian, pembaca akan mudah memahami setiap ide yang tertuang dalam setiap alinea dan pada akhirnya dengan mudah dan cepat bisa memahami tulisan itu secara keseluruhan.
Prinsip keempat adalah tulisan yang baik bersifat konvensional (good writing is conventional). Konvensional disini artinya konvensional dalam penggunaan bahasa (ejaan, kata, frase, kalimat) dan juga konvensional dalam hal kepenulisan dalam penggunaan bahsa misalnya bagaimana menuliskan unsure serapan, huruf besar, kata ulang dan sejenisnya, sedangkan konvensional dalam hal kepenulisan dapat berupa bagaimana menyusun sistematika tulisan, bibliografi catatan kaki (footnote) dan sebagainya.
Prinsip yang kelima adalah tulisan yang baik bersifat padu atau utuh (good writing is appropriate). Yang dimaksud padu atau utuh disini adalah ketiga hal (materi, tujuan dan pembaca) dapat terjalin dengan baik. Maksudnya, penulis sebagai perantara harus bisa merengkuh materi, bentuk dan cara mengekspresikan yang menyatu dalam suatu wacana informasi yang tepat dan serasi tentang materi yang ditulisnya dan kepada siapa tulisan itu ditujukan.
- Sikap Penulis Karya Ilmiah
Para penulis karangan ilmiah sudah sepatutnya memiliki sikap-sikap ilmiah agar karyanya dapat dipertanggungjawabkan, baik kepada masyarakat maupun kepada dirinya sendiri. Menurut Brotowidjoyo, orang yang berjiwa ilmiah adalah orang yang memiliki tujuh macam sikap ilmiah. Ketujuh macam sikap tersebut adalah (1) sikap ingin tahu, (2) sikap kritis, (3) sikap terbuka, (4) sikap objektif, (5) sikap rela menghargai karya orang lain (6) sikap berani mempertahankan kebenaran dan (7) sikap menjangkau kedepan. Pengejawantahan ketujuh sikap itu adalah sebagai berikut (Barnawi & Arifin, 2015).
- Sikap ingin tahu diwujudkan selalu bertanya-tanya tentang berbagai hal. Mengapa demikian? Apa saja unsur-unsurnya? Bagaimana kalau diganti dengan komponen yang lain dan seterusnya.
- Sikap kritis direalisasikan dengan mencari informasi sebanyak mungkin baik dengan jalan bertanya kepada siapa saja yang diperkirakan mengetahui masalah maupun dengan membaca sebelum menentukan pendapat untuk ditulis.
- Sikap terbuka dinyatakan dengan selalu bersedia mendengarkan keterangan dan argumentasi orang lain.
- Sikap objektif diperhatikan dengan cara menyatakan apa adanya tanpa disertai perasaan pribadi.
- Sikap rela menghargai karya orang lain diwujudkan dengan mengutip dan menyatakan terima kasih atas karangan orang lain dan menganggapnya sebagai karya yang orisinal milik pengarangnya.
- Sikap berani mempertahankan kebenaran diwujudkan dengan membela fakta atas hasil penelitiannya.
- Sikap menjangkau ke depan dibuktikan dengan sikap futuristik, yaitu berpandangan jauh, mampu menyusun suatu teori baru.
Untuk menjadi seorang penulis naskah ilmiah yang baik, seseorang harus: 1. Menguasai cara-cara ilmiah dan mengikutinya dengan jujur. Cara ilmiah yang berupa formal dan material. Formal dalam arti menggunakan tata cara teknik penulisan atau penyajian laporan dan material dalam arti isi yang dilaporkan berdasarkan atas kenyataan penelitian sesuai metode penelitian yang berlaku. 2. Bersifat terbuka (open mind) dan bebas menyampaikan pendapatnya tidak tertekan oleh suatu ikatan atau faham tertentu. 3. Menghargai pendapat rekan-rekan lain dalam bidangnya. 4. Menguasai bahasa secara benar dan baik. Baik dalam hal tata bahasa kosakata dan istilah-istilah ilmiah dalam bidangnya dan bidang pengetahuan yang lain. Dapat mengutarakan gagasannya secara jelas singkat, jelas dan sederhana.
Ernest Hemingway, pemenang hadiah Nobel di bidang sastra dan juga pemenang hadiah Pulitzer, yang juga mantan wartawan “Kansas City Star” mengajarkan bagaimana prinsip-prinsip penulisan yang baik sebagai berikut:
- Gunakanlah kalimat-kalimat pendek. Bahasa merupakan alat untuk menciptakan karya dan alat komunikasi yang bukan saja penting bagi wartawan, tetapi juga bagi siapa saja termasuk para sarjana. Jangan lupa bahwa apa yang disampaikan itu harus dimengerti pembaca. Jauhi kata-kata teknis ilmiah (dalam konteks penulisan populer). Kalau terpaksa menggunakannya, jelaskan maksudnya secara tegas. Oleh karena itu, sebaiknya hindarilah kata-kata asing. Misalnya untuk kata partisipasi, gunakan saja kata penggantinya dalam bahasa Indonesia, yaitu keikutsertaan atau keperansertaan.
- Gunakan bahasa biasa yang mudah dipahami orang. Oleh karena khalayak pembaca sangat heterogen, termasuk latar belakang pendidikannya, penulis harus tahu kepada siapa tulisan tersebut ditujukan.
- Gunakan bahasa yang sederhana dan jernih pengutaraannya. Penulis harus ingat kalimat bahasa Indonesia, yang terdiri atas pokok sebutan dan keterangan (subjek, predikat, objek). Hal itu harus jelas, jangan sampai bertele-tele.
- Gunakan bahasa tanpa kalimat majemuk.
- Gunakan bahasa yang padat dan kuat.
- Gunakan kalimat yang positif, bukan kalimat negatif.
- Agar tulisan hidup dan bergaya, gunakan bahasa dengan kalimat aktif, bukan kalimat pasif.
Rangkuman
Menulis dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan atau komunikasi dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya baik secara ilmiah maupun non ilmiah. Tulisan ilmiah adalah tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya (keilmiahannya). Karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta umum dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar.
Skripsi adalah sebuah karya ilmiah yang disusun oleh mahasiswa program sarjana (program stara satu) dari hasil-hasil penelitian atas dasar analisis data sekunder. Tesis mempunyai tingkat pembahasan lebih dalam daripada skripsi. Tesis adalah karya tulis ilmiah yang sifatnya lebih mendalam daripada skripsi. Tesis akan mengungkapkan pengetahuan baru yang diperoleh dari penelitian sendiri. Disertasi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasarkan data dan fakta yang sahih dengan analisis rinci. Makalah adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif. Makalah menyajikan masalah melalui proses berpikir deduktif atau induktif.
Daftar Pustaka
Ahmad, Jamaluddin. 2015. Metode Penelitian Administrasi Publik: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Penerbit Gava Media.
Barnawi, M. Arifin. 2015. Teknik Penulisan Karya Ilmiah. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Dalman. 2015. Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Kusmana, Suherli. 2010. Merancang Karya Tulis Ilmiah. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nurudin. 2010. Dasar-Dasar Penulisan. Malang: UMM Press.
Tarigan, Hendry Guntur. 2009. Menulis sebagai Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Wirartha, I Made. 2006. Metodologi Penelitian Sosial Ekonomi. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Pikiranlah yang membuat kebaikan dan keburukan, menyebabkan
kebahagiaan dan kehancuran serta kaya atau miskin.
Edmund Spencer



