Back

Mavib Mengikuti Screening Film “Leuit Sang Alang”

Pada hari Sabtu, 24 Agustus 2024, kami dari Komunitas Mavib Universitas Raharja  Tangerang,  mengadakan  kunjungan  ke  Hollywood  XXI  untuk  mengikuti acara screening film “Leuit Sang Alang”. Adapun tujuan dari kunjungan ini yaitu untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, serta kemampuan mahasiswa, sebagai sarana untuk mengetahui bagaimana pembuatan film yang profesional.

Kisah Perjalanan Kami
Pada hari Sabtu, 24 Agustus 2024, sebanyak 15 anggota Komunitas Mavib melakukan kunjungan ke Hollywood XXI yang berlokasi di Jl. Gatot Subroto No. Kav. 198, RT.8/RW.2, Karet Semanggi, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan. Kami berangkat pukul 10.30 WIB, menempuh perjalanan yang cukup panjang dan tiba di lokasi sekitar pukul 12.50 WIB.

Sebelum memasuki gedung, kami menyempatkan diri untuk makan siang bersama di salah satu restoran terdekat. Tepat pukul 14.00 WIB, kami masuk ke dalam gedung Hollywood XXI. Setelah menunggu sejenak, kami diarahkan untuk melakukan registrasi dan diminta duduk sesuai kursi yang telah ditentukan. Komunitas Mavib mendapatkan tempat duduk di baris A1 hingga A7 dan B1 hingga B8.

Sebelum film diputar, kami disuguhi tayangan proses shooting dan aktivitas di balik layar pembuatan film “Leuit Sang Alang”. Setelah itu, pembawa acara memperkenalkan para talent yang terlibat dalam film tersebut. Kami juga diperkenalkan dengan penulis sekaligus sutradara film “Leuit Sang Alang”, Darwin Mahesa, yang menceritakan alasan dan latar belakang ia menulis cerita film tersebut.

Pemutaran film dimulai pukul 15.00 WIB. Setelah film berdurasi sekitar 38 menit tersebut selesai, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama aktor, aktris utama, sutradara, dan DOP film “Leuit Sang Alang”. Acara resmi berakhir sekitar pukul 16.30 WIB, dan kami pun menyempatkan melakukan wawancara singkat dengan para pemeran utama.

Tentang Film “Leuit Sang Alang”

Leuit Sang Alang adalah film drama Indonesia tahun 2024 yang disutradarai sekaligus ditulis oleh Darwin Mahesa. Film ini diproduksi oleh Kremov Pictures bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek). Proses produksi dilakukan di wilayah Kasepuhan Banten Kidul serta beberapa daerah lainnya di Provinsi Banten.

Film ini dibintangi oleh Felicia Caroline sebagai Nadin dan Cipta Kesuma sebagai Alang. Selain keduanya, turut bermain Aris Kurniawan sebagai Kang Asep, Pipien Putri sebagai Ambu, Supri Boemi sebagai Abah, dan Vivian Triexy sebagai Ria.

Sinopsis

Nadin (22), seorang mahasiswi, mengikuti kunjungan budaya ke Kasepuhan Banten Kidul. Tanpa sengaja, ia melanggar aturan adat yang berlaku pada leuit (lumbung padi) sakral milik masyarakat setempat. Pelanggaran ini mempertemukannya dengan Alang (25), pemuda misterius dari desa yang membawa kebahagiaan dalam hidup Nadin dan membuatnya jatuh hati. Namun, kebersamaan mereka tidak berlangsung lama. Alang tiba-tiba menghilang tanpa jejak, hingga akhirnya Nadin menyadari kenyataan pahit di balik semuanya. Dalam kesedihannya, ia meratapi impian yang tak pernah terwujud, di bawah bayang-bayang leuit adat.

Nilai Budaya dan Pesan Moral

Film ini merupakan adaptasi budaya lokal Banten yang dikemas secara modern. Sang sutradara, Darwin Mahesa, mengungkapkan bahwa kisah Leuit Sang Alang bukanlah fiksi sepenuhnya. Cerita tersebut terinspirasi dari kisah nyata yang pernah dialami beberapa orang. Ia berharap film ini dapat menjadi media edukatif bagi generasi muda untuk lebih mengenal budaya Indonesia, khususnya budaya masyarakat Banten.

Beberapa elemen budaya yang diangkat dalam film ini antara lain Seren Taun (ritual panen padi) dan Leuit (lumbung padi adat) sebagai simbol utama. Selain melestarikan nilai budaya, film ini juga menyampaikan pesan moral penting: agar kita selalu menghormati adat istiadat dan tidak sembarangan melanggar aturan, terlebih di tempat-tempat yang dianggap sakral.

Proses Produksi dan Tantangan Aktor

Dalam sesi tanya jawab, Felicia Caroline berbagi pengalamannya selama syuting, termasuk tantangan saat harus berlatih Tari Jaipong berkali-kali serta menghafal naskah dalam Bahasa Sunda. Ia juga menjelaskan bahwa selama berada di Kasepuhan Banten Kidul, para wanita diwajibkan mengenakan kain, sementara pria mengenakan ikat kepala sebagai bagian dari adat setempat. Cipta Kesuma, yang memerankan Alang, turut membagikan kesulitannya dalam mendalami karakter, khususnya karena ia berdarah Batak dan belum terbiasa dengan Bahasa Sunda. Ia mengaku sempat beberapa kali ditegur oleh sutradara karena kesalahan pengucapan. Meski begitu, keduanya diberikan waktu dua minggu sebelum syuting untuk mempelajari Bahasa Sunda. Felicia mengaku tertarik dan terus mengulang dialognya agar lebih lancar, sedangkan Cipta merasa terbantu karena suasana lokasi yang mayoritas diisi kru dan tim dari latar belakang budaya Sunda. Keduanya juga menjelaskan bahwa chemistry yang kuat antara mereka dibangun melalui percakapan intens sebelum proses syuting dimulai. Cipta mengungkapkan bahwa salah satu adegan paling menantang adalah saat ia harus berenang di sungai, hingga sempat terluka karena terkena batu tajam di dasar sungai.

Manfaat yang Kami Dapatkan dari Screening Film Leuit Sang Alang

Komunitas Mavib merupakan komunitas yang bergerak di bidang Multimedia, Audio, Visual, dan Broadcasting bidang yang sangat berkaitan erat dengan dunia perfilman. Oleh karena itu, kesempatan menghadiri screening film Leuit Sang Alang menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami untuk memperluas wawasan tentang proses pembuatan film secara profesional.

Melalui acara ini, kami bisa mendengarkan langsung pengalaman dari sutradara, DOP (Director of Photography), serta para talent yang terlibat dalam produksi film. Dari mereka, kami memahami bahwa pembuatan film tidaklah semudah yang terlihat di layar. Banyak tantangan teknis dan non-teknis yang harus dihadapi, mulai dari pengambilan gambar, proses editing, penciptaan soundtrack yang memakan waktu lama, hingga pentingnya kerja sama yang solid antar tim produksi.

Film Leuit Sang Alang yang kental dengan nuansa budaya tradisional juga menginspirasi kami untuk terus berkarya, terutama dengan mengangkat budaya Indonesia yang sangat kaya dan beragam. Alur cerita yang tidak biasa menjadi catatan penting bagi kami: bahwa keberanian dalam menyuguhkan narasi yang berbeda dapat menciptakan kesan mendalam bagi penonton. Selain itu, pesan moral yang diangkat dalam film tentang pentingnya menghormati hal-hal yang dianggap sakral sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Akhir kata, kami seluruh anggota Komunitas Mavib yang turut serta dalam screening film Leuit Sang Alang mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kremov Pictures atas undangan dan kesempatan yang diberikan. Acara ini tidak hanya menambah pengetahuan kami, tetapi juga memperkuat semangat kami untuk terus belajar dan berkarya di dunia perfilman.

Leave A Reply