Back

Mahasiswa UR Ciptakan alat Deteksi Kebakaran di Raharja Career 2026

Rektor Universitas Raharja, Doctor PO Abas Sunarya[tenga], yang di dampingi oleh Ketua Panitia Pelaksana, Profesor Henderi [kiri] & juga Putri Raharja.

KOTA TANGERANG – Kualitas pendidikan Universitas Raharja memang sudah tidak bisa diragukan lagi dalam menciptakan generasi bangsa yang berkompeten di bidang ilmu teknologi. Hal itu tertuang jelas lewat acara Raharja Career 2026 pada Kamis (12/2/2026) di Aula Lantai 5 Universitas Raharja.

Sebanyak 75 generasi muda pun berlomba mempersembahkan karya ilmiah terbaiknya sebelum melangkah ke jenjang ujian sidang tingkat akhir.Bukan itu saja, kegiatan rutin tahunan ini pun sekaligus merupakan ajang pengenalan mahasiswa Raharja ke dunia usaha dan dunia industri akan kreativitas dan potensi yang dimiliki mahasiswa.

Rektor Universitas Raharja, Dr. Po Abas Sunarya, menyatakan bahwa meskipun format kegiatan ini serupa dengan tahun-tahun sebelumnya. Tapi fokus utama kali ini adalah pada peningkatan kualitas karya ilmiah yang lebih signifikan. Pihak kampus secara khusus mengundang berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perusahaan hingga institusi pendidikan, agar mereka dapat menyaksikan langsung potensi serta kualitas intelektual yang dihasilkan oleh para mahasiswa.

Universitas Raharja berperan sebagai penyedia jasa yang menghasilkan tenaga intelektual berkualitas. Melalui ajang ini, universitas berupaya memasarkan kemampuan mahasiswanya kepada dunia industri secara langsung.

Abas berharap, melalui interaksi di Raharja Career, para lulusan nantinya dapat langsung terserap dan bergabung dengan perusahaan-perusahaan yang tertarik pada hasil karya mereka setelah menyelesaikan studi.

“Oleh karena itu, persiapan matang telah dilakukan jauh-jauh hari melalui koordinasi intensif guna memastikan hasil yang bermutu dan dapat disinergikan dengan kebutuhan masyarakat maupun industri,” kata Abas yang didampingi oleh Ketua Pelaksana Prof Dr. Ir Henderi, M.Ikom saat diwawancarai awak media di lokasi.

Proses penilaian pun dilakukan secara ketat dan independen oleh tim juri internal yang terdiri dari para dosen pembimbing berkualitas dan juga penilaian secara profesional tanpa unsur KKN.

Di mana para dosen diwajibkan menilai hasil karya mahasiswa secara objektif sesuai standar yang telah ditetapkan.Hasil karya terbaik tidak hanya mendapatkan apresiasi, tetapi juga akan dipublikasikan sebagai pencapaian akademik. Pameran ini sekaligus menjadi ajang perbaikan bagi mahasiswa, karena terdapat jeda waktu sekitar satu minggu setelah Raharja Career bagi mereka untuk menyempurnakan karya berdasarkan masukan juri sebelum menghadapi ujian sidang komprehensif.

Sebagai pimpinan kampus, Abas Sunarya menaruh harapan besar agar kegiatan ini menjadi pondasi kuat bagi mahasiswa dalam melakukan penelitian. Beliau menekankan pentingnya unsur kebaruan atau novelty dalam setiap riset yang dilakukan oleh mahasiswa.

“Makna terdalam dari sebuah penelitian adalah adanya inovasi yang dapat diteruskan dan diperbaiki oleh generasi peneliti berikutnya. Dengan adanya kebaruan tersebut, diharapkan akan tercipta perubahan nyata dan solusi baru yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan perbaikan di masa depan” ujar Abas.

Hal senada diungkapkan Fajar Gio Saputra, Institut Sains dan Teknologi, Program Studi Sistem Komputer yang memamerkan karya ilmiahnya membuat sistem deteksi kebakaran untuk pasar.

“Saya memakai tiga sensor, yaitu sensor DHT22 untuk suhu, sensor flame untuk mendeteksi api, dan sensor MQ-2 untuk mendeteksi asap,” katanya.

Menurut Gio menuturkan bahwa penggunaan tiga sensor bertujuan untuk mengurangi alarm palsu. “Karena kondisi pasar banyak orang lalu-lalang, termasuk yang merokok, saya menggunakan minimal dua sensor yang harus aktif agar alarm menyala. Kalau hanya satu sensor yang mendeteksi, kemungkinan itu false alarm,” jelasnya.

Ia mencontohkan, jika hanya terdeteksi asap tanpa adanya peningkatan suhu, maka alarm tidak akan berbunyi. “Kalau terdeteksi asap tetapi tidak ada kenaikan suhu, alarm tidak akan menyala,” ungkapnya.

Pada momen hangat ini, Gio juga menerapkan ambang batas pada sensor. “Untuk sensor asap, saya pasang ambang batas di angka 600 dari skala 0 sampai 3.000. Kalau ketebalan asap sudah mencapai 600 dan terdeteksi api, maka alarm akan aktif,” katanya.

Selain alarm, sistem tersebut juga mengirim notifikasi ke ponsel. “Notifikasi dikirim ke Telegram. Di situ ada informasi suhu, tingkat asap, dan kondisi kebakaran. Ambang batas suhu juga bisa diatur, misalnya saya set di 35 derajat Celsius. Kalau baru 30 derajat, alarm tidak akan menyala,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa minimal dua dari tiga sensor harus aktif agar sistem memberi peringatan. “Jadi, dua dari tiga sensor harus mendeteksi terlebih dahulu supaya alarm dan notifikasi peringatan dini menyala,” ujarnya.

Terkait motivasi pembuatan alat, Gio mengaku terinspirasi dari banyaknya peristiwa kebakaran di pasar tradisional. “Setelah observasi, saya melihat kebakaran di pasar masih sering terjadi dan sistem keamanannya masih minim. Dari situ saya terpikir membuat alat ini agar bisa dikembangkan lebih lanjut secara digital,” katanya.

Ia menambahkan, alat tersebut masih dapat berfungsi meski tanpa koneksi internet. “Kalau tidak ada WiFi atau paket data, alarm tetap menyala selama ada listrik. Hanya notifikasi ke HP yang tidak masuk karena tidak ada jaringan,” jelasnya.

Menurutnya, sistem tetap bisa diandalkan dalam kondisi darurat. “Walaupun internet mati atau jaringan sedang bermasalah, alat ini tetap bisa beroperasi. Alarm tetap berfungsi sebagai peringatan dini,” pungkas Gio. (Sam)

Leave A Reply