
Dari Kampus ke Dunia Ekspor: Universitas Raharja, Kemendag, dan APTMRI Satukan Kekuatan untuk UMKM
- Posted by maul
- Categories Acara, Berita Kampus, Economics, INFORMASI, Kerja Sama, Perguruan Tinggi, Perkuliahan, Program, umkm
- Date 03 Juli 2025
- Comments 0 comment
Jakarta – Sebuah pertemuan strategis berlangsung pada hari Rabu, 2 Juli 2025, di mana Asosiasi Perguruan Tinggi Manajemen Ritel Indonesia (APTMRI) berdialog langsung dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag RI). Audiensi ini menjadi sorotan utama dalam upaya memperkokoh sinergi antara dunia pendidikan, pembuat kebijakan, dan sektor bisnis. Kehadiran perwakilan dari Universitas Raharja dalam forum ini menegaskan komitmen perguruan tinggi dalam memajukan kewirausahaan nasional dan membuka lebih lebar pintu ekspor bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), sekaligus mencari solusi inovatif untuk beragam tantangan yang membayangi pelaku usaha.
Septo Soepriyatno, Direktur Bina Usaha Kemendag RI, dalam paparannya, menekankan betapa krusialnya kemitraan antara akademisi, seperti Universitas Raharja, dan para pengusaha. Di tengah gempuran era digital dan pergeseran cepat dalam preferensi konsumen, adaptasi adalah kunci. Salah satu agenda utama diskusi adalah upaya kolektif untuk mendongkrak indeks kewirausahaan Indonesia. Angka saat ini yang masih 3,7% menempatkan kita di bawah negara tetangga seperti Malaysia (4%) dan Singapura (8%). Angka yang relatif rendah ini, tegas Septo, merupakan pekerjaan rumah bersama yang memerlukan intensitas kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor UMKM. Peningkatan kapabilitas UMKM agar sanggup bersaing di gelanggang global juga menjadi fokus utama.
Mendorong UMKM Lokal ke Panggung Dunia
Kementerian Perdagangan telah merumuskan tiga strategi utama untuk memperkuat sektor UMKM. Pertama, penguatan pasar domestik melalui dorongan inovasi dan peningkatan standar kualitas produk UMKM. Kedua, perluasan jangkauan pasar ke kancah internasional, dengan memberikan dukungan penuh bagi UMKM yang berorientasi ekspor. Ketiga, fasilitasi proses ekspor itu sendiri, membuka akses pasar global yang lebih luas dan efisien.
Salah satu inisiatif yang digadang-gadang adalah program “Gasspoll” (Gerakan Kamis Pakai Lokal). Lebih dari sekadar ajakan konsumsi, gerakan ini bertujuan mengedukasi masyarakat tentang urgensi dukungan terhadap produk dalam negeri setiap hari Kamis, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan kualitas produk lokal yang tak kalah saing di pasar internasional.
Menggali Potensi Ekspor dan Menangani Tantangan Ritel Tradisional
UMKM Indonesia memiliki potensi masif untuk merambah pasar internasional. Namun, tantangan klasik seperti ketersediaan pasokan yang stabil dan pemenuhan standar kualitas global seringkali menjadi penghalang. Menjawab ini, Kemendag RI mengundang kolaborasi erat antara pelaku UMKM dan lembaga perbankan untuk investasi dalam peningkatan kualitas produk. Selain itu, program “business matching” yang digagas pemerintah berperan vital mempertemukan UMKM dengan calon pembeli dari mancanegara. Dengan kurasi produk yang telah memenuhi standar ekspor, diharapkan UMKM Tanah Air lebih mudah menemukan pangsa pasar di luar negeri. Tercatat, sepanjang tahun 2024, lebih dari 200 kegiatan pitching dan business matching telah berhasil diselenggarakan.
Diskusi juga menyentuh problematika yang dihadapi ritel tradisional. Kendala seperti harga produk yang kurang kompetitif, tata letak toko yang kurang menarik, serta minimnya sistem pelayanan dan pencatatan administrasi yang optimal, kerap menghambat pertumbuhan mereka. Solusi yang diusulkan Kemendag mencakup kemitraan dengan pemasok besar, seperti Indogrosir, serta pemanfaatan platform digital untuk menyederhanakan distribusi dan pemasaran produk UMKM ke jangkauan yang lebih luas. Peran aktif pemerintah daerah juga menjadi sorotan penting dalam mendukung ritel tradisional agar dapat bertumbuh seiring dengan ritel modern, melalui penyesuaian regulasi yang adaptif terhadap dinamika teknologi dan pasar.
Peran Akademisi dan Prospek Masa Depan: Kontribusi Universitas Raharja
Dalam audiensi ini, Kemendag RI secara khusus mengajak perguruan tinggi, termasuk Universitas Raharja, untuk lebih agresif dalam membekali mahasiswa dengan jiwa kewirausahaan dan keterampilan digital yang relevan. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa Universitas Raharja diharapkan dapat terjun langsung memberikan pendampingan kepada UMKM di berbagai wilayah. Ini termasuk membantu digitalisasi warung tradisional, agar mereka semakin kompetitif di pasar yang terus berubah.
Dengan solidnya kolaborasi antara akademisi seperti Universitas Raharja, pelaku usaha, dan pemerintah, keyakinan untuk menciptakan ekosistem kewirausahaan yang tangguh di Indonesia kian menguat. Kementerian juga berharap sinergi berkelanjutan dengan APTMRI dapat mempercepat pengembangan UMKM, baik untuk kebutuhan pasar domestik maupun ekspansi ke ranah internasional. Ketua Umum DPN APTMRI, Dr. Heru Riza Chakim, menyambut positif hasil audiensi ini, menegaskan posisi APTMRI sebagai garda terdepan dalam mendorong transformasi signifikan di sektor UMKM dan ritel Indonesia. Pertemuan lanjutan antara Kemendag RI dan APTMRI, termasuk dengan partisipasi aktif dari perguruan tinggi terkait, direncanakan dalam beberapa bulan ke depan. Fokus utamanya adalah merumuskan program kerja bersama yang menjadi prioritas guna memajukan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah, serta industri ritel di seluruh Nusantara.



