Back

Day 4 Student Exchange: Discovering Culture and History in Putrajaya & Melaka

Di hari kelima program student exchange ini, perjalanan kami terasa sangat istimewa karena berbeda dari sebelumnya. Pagi itu, tepat pukul 08.00, kami berangkat menggunakan bus menuju dua kota bersejarah di Malaysia, yaitu Putrajaya dan Melaka. Suasana dalam bus penuh antusiasme karena hari ini kami tidak hanya sekadar berkunjung, tetapi juga belajar lebih dalam tentang geografi, tata pemerintahan, dan budaya masyarakat Malaysia.

Sepanjang perjalanan, pemandu menjelaskan bahwa secara geografis, Malaysia terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu Semenanjung Malaysia dan Malaysia Timur yang terletak di Pulau Kalimantan (Sabah dan Sarawak). Malaysia memiliki posisi strategis di Asia Tenggara, berbatasan langsung dengan Thailand, Singapura, Brunei, dan Indonesia, serta memiliki garis pantai panjang di Laut Cina Selatan dan Selat Malaka. Letaknya yang strategis inilah yang membuat Malaysia sejak dulu menjadi pusat perdagangan dan persilangan budaya.

Selain itu, kami juga belajar tentang tata pemerintahan Malaysia. Negara ini menganut sistem monarki konstitusional dengan Yang di-Pertuan Agong sebagai kepala negara. Menariknya, Malaysia memiliki sistem unik di mana posisi raja dipilih secara bergiliran setiap lima tahun oleh sembilan Sultan dari negara bagian. Sedangkan kepala pemerintahan dijabat oleh seorang Perdana Menteri. Penjelasan ini membuatku semakin memahami betapa beragam namun teratur sistem politik di Malaysia.

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, kami tiba di Putrajaya, sebuah kota modern yang dikenal sebagai pusat administratif Malaysia. Putrajaya dirancang sebagai kota pintar dengan tata kota yang rapi, arsitektur yang futuristik, serta banyak ruang terbuka hijau. Kami berkesempatan mengunjungi Taman Hobbit, sebuah taman dengan suasana unik yang terinspirasi dari rumah-rumah kecil bergaya fantasi seperti di film “The Hobbit”. Namun, yang menarik bukan hanya bentuk bangunannya, melainkan bagaimana taman ini mencerminkan upaya masyarakat Malaysia untuk melestarikan budaya kreatif dan menghadirkan ruang publik yang ramah bagi semua generasi. Putrajaya benar-benar menggambarkan harmoni antara budaya, teknologi, dan alam.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Melaka, kota bersejarah yang pernah menjadi pusat perdagangan penting di Asia Tenggara. Dalam perjalanan yang memakan waktu sekitar dua jam, pemandu kembali menjelaskan mengenai rumah tradisional Malaysia yang bervariasi di setiap etnis, seperti rumah Melayu dengan panggung kayu dan ukiran indah, serta rumah masyarakat Tionghoa dan India yang memiliki ciri khas masing-masing. Semua itu menunjukkan betapa kaya dan beragamnya budaya Malaysia.

Setibanya di Melaka, suasana langsung terasa berbeda. Dari kejauhan sudah terlihat deretan penjual makanan khas India, kain sari, serta pakaian tradisional berwarna cerah yang mendominasi suasana jalanan. Destinasi pertama kami adalah The Stadthuys, atau lebih dikenal dengan sebutan Red House. Bangunan bersejarah berwarna merah bata ini dibangun oleh Belanda pada abad ke-17, menjadikannya salah satu peninggalan kolonial tertua di Asia. Red House dulu berfungsi sebagai pusat pemerintahan Belanda, dan kini menjadi museum yang menyimpan berbagai koleksi sejarah Melaka.

Di halaman Red House, suasana semakin meriah karena ada sekelompok public dancer yang menari bersama pengunjung. Tanpa ragu, aku ikut bergabung menari bersama mereka. Lagu yang kami bawakan cukup spesial, yaitu tarian Poco-Poco dari Indonesia dan satu lagu populer dari penyanyi Korea Selatan. Rasanya menyenangkan bisa melihat bagaimana musik dan tarian mampu menyatukan orang dari berbagai negara hanya dalam beberapa menit.

Setelah puas menikmati suasana Red House, perjalanan berlanjut dengan mendaki bukit menuju St. Paul’s Church. Tangga yang harus kami lalui cukup panjang, namun setiap langkah terasa menyenangkan karena pemandangan kota Melaka terlihat indah dari ketinggian. Sesampainya di puncak bukit, kami disambut dengan bangunan St. Paul’s Church, gereja tua peninggalan Portugis yang berdiri sejak abad ke-16. Meskipun kini berupa reruntuhan, tempat ini masih menyimpan banyak cerita. Di dalamnya terdapat nisan-nisan kuno dengan ukiran nama serta peti makam yang menjadi saksi sejarah masa lalu. Suasana di St. Paul’s Church terasa tenang sekaligus penuh makna, seakan mengingatkan kami pada perjalanan panjang Melaka sebagai pusat pertemuan berbagai bangsa dan agama.

Menjelang sore, setelah puas berkeliling dan menikmati keindahan Melaka, kami kembali menuju bus untuk perjalanan pulang ke IIUM. Malam itu, meskipun lelah, aku merasa sangat beruntung bisa merasakan langsung bagaimana Putrajaya menunjukkan sisi modern dan teratur Malaysia, sementara Melaka memperlihatkan kekayaan sejarah dan keberagaman budayanya. Hari ini benar-benar memberikan pengalaman berharga yang akan selalu kuingat sebagai bagian dari perjalanan student exchange ini.

Leave A Reply