Back

Kompetensi Era Revolusi Industri 4.0

Kompetensi (competence or competency) mempunyai makna dan cakupan yang cukup luas. Banyak orang seringkali menafsirkan secara sempit bahwa kompetensi bermakna sama dengan pekerjaan (occupation). Secara filosofis, kompetensi tidak sama dengan pekerjaan. Bahwa kompetensi dan pekerjaan memiliki keterkaitan yang sangat erat, memang demikian hakikatnya. Kompetensi dalam konteks ini lebih cenderung merupakan prasyarat tertentu yang harus dipenuhi oleh seseorang sebelum melakukan suatu pekerjaan. Jadi dalam hal ini, kompetensi merupakan sesuatu yang harus terpenuhi sebelum sesuatu yang lain terjadi (antecedent).

Konstelasi tersebut mendeskripsikan bahwa seseorang dapat dikatakan telah menjadi kompeten (competent) dalam pekerjaan tertentu apabila kompetensi yang terdapat dalam dirinya dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan konteks pekerjaan untuk meraih kinerja yang optimal (optimum performance). Atas dasar itu, orang tersebut berhasil memenuhi atau mencapai kepuasan dalam pekerjaannya. Kompetensi sebagai suatu konsep himpunan kecakapan atau kemampuan terdiri atas pengetahuan, keterampilan, dan sikap (knowledge, skill, and attitude). Bagaimana perguruan tinggi menyiapkan kompetensi mahasiswa dalam menghadapi revolusi industri keempat?

Revolusi industri keempat dicirikan oleh kompleksnya pesoalan yang akan dihadapi penduduk dunia. Semua jenis pekerjaan akan semakin kompleks. Hal ini disebabkan kombinasi globalisasi dengan teknologi informasi yang kecepatan perkembangannya sangat diluar dugaan. Untuk dapat berkiprah di era revolusi industri keempat diperlukan kompetensi dan kecakapan menangani persoalan yang kompleks. Revolusi industri keempat (4.0) karya Klaus Schwab yang dicuatkan dalam forum Ekonomi Dunia (Februari 2016), akhirnya menjadi bacaan yang menawan. Ceramah Jack Ma menjadi enak didengar dan disimak. Buku Clayton M Christensen dan buku Rhenald Kasali tentang inovasi disruptif jadi sedap dibaca lagi. Kemudian muncul kesadaran kolektif bahwa DNA Inovator, yang sebenarnya jenis-jenis kecakapan metakompetensi, yang dibeberkan Jeff Dyer dan kolega dipandang penting dalam kurikulum pendidikan nasional kita.

Di tengah hangatnya perbincangan menghadapi dahsyatnya teknologi dan inovasi disrupsi yang begitu terasa menerobos semua lini kehidupan kita saat ini, pendidikan tinggi paling banyak mendapat sorotan. Pendidikan tinggi kita dianggap terlambat mengantisipasi dan merespon era 4.0, rendah daya agilitasnya, dan terkesan kedodoran menghadapi dunia yang sedang lari tunggang langgang karena perguruan tinggi yang telat mikir dan bertindak mengantisipasi perubahan.

Waras Kamdi (Kompas, 3/3) menulis, kemajuan infrastruktur terutama gedung dan fasilitas kelas, memang berubah. Akan tetapi, kultur belajar dan pembelajaran tidak beranjak dari tradisi puluhan tahun bahkan abad silam. Sistem pendidikan tinggi tidak cukup memberi ruang terjadinya konvergensi ilmu pengetahuan dan teknologi. Sistem pembelajaran tidak cukup memberi lorong-lorong terjadinya pengalaman belajar transdisiplin. Pertumbuhan program-program studi serta bidang-bidang keilmuan terhambat oleh sekat-sekat antardisiplin ilmu itu.

Kebijakan Pendidikan Tinggi 4.0 harus dijadikan momen untuk melakukan perubahan mendasar dalam pendidikan tinggi kita. Tentu yang dimaksud bukan sekadar perubahan instrumental input dalam praksis pendidikan seperti perubahan dari face ke blended learning, dan membangun big data, karena perguruan tinggi di era revolusi industri 4.0 bukan sekadar digitalisasi pendidikan. Perubahan instrumental itu akan niscaya terjadi karena revolusi digital telah menerobos ke semua lini kehidupan. Lebih dari itu, perubahan yang diinginkan adalah inovasi aktivitas kurikuler yang hakiki, yakni yang menyentuh dataran proses belajar dan pengalaman belajar mahasiswa. 

Dalam buku The Fourth Industrial Revolution, Klaus Schwab menggambarkan adanya sejumlah jenis pekerjaan yang akan hilang dalam waktu dekat. Juga sejumlah jenis pekerjaan yang akan bertahan terus bahkan makin banyak dibutuhkan. Satryo Soemantri Brodjonegoro di harian kompas menulis, jenis pekerjaan yang akan segera hilang antara lain telemarketers (pemasaran jarak jauh), taxpreparers (penyiapan dokumen pajak), legal secretaries (sekretaris urusan peraturan), real estate brokers (perantara tanah-bangunan), farm labour contractors (kontraktor buruh tani), dan couries-messengers (kurir). Hilangnya jenis pekerjaan tersebut disebabkan adanya otomatisasi berbasis teknologi informasi.

Sebaliknya, jenis pekerjaan yang akan langgeng antara lain mental health and substance abuse social workers (pekerja sosial yang menangani mereka yang mengalami gangguan kejiwaan atau kekerasan), choreographers  (koreografer), physicians-psychologits (psikolog), human resources managers (manajer sumber daya manusia), computer system analysts (analis sistem komputer), anthropologists-archeologists (antropolog-arkeolog), marine engineers-naval architectures (ahli teknik perkapalan), sales managers (manajer penjualan), dan chief executives (direktur utama). Jenis pekerjaan ini tidak dapat digantikan fungsinya oleh komputer ataupun teknologi otomasi. Melihat fenomena tersebut, maka langkah-langkah apa yang harus dilakukan perguruan tinggi kita. 

Pertama adalah pimpinan kampus berpikir ulang tentang jenis capaian kecakapan apa yang dituju perguruan tinggi di era revolusi industri 4.0. Kebutuhan belajar kini berubah. Kompetensi sebagai basis capaian kurikulum pendidikan tinggi tidak memadai lagi. Kompleksitas kehidupan dan lapangan kerja menuntut multi-skills. Kompetensi untuk memenuhi cetak biru profesi manusia yang diturunkan dari definisi peran sosial atau profesi tertentu sudah harus bergeser ke arah pengembangan metakompetensi. Meminjam istilah Maret Staron (2006), perubahan orientasi pendidikan ini mengubah tujuan akhir tujuan kurikuler dari capaian berbasis kompetensi bergeser ke kapabilitas.

Mengapa kapabilitas? Dunia profesi mengalami dinamika kehidupan yang tidak mudah lagi diprediksi, mengakibatkan makin kaburnya definisi peran sosial. Banyak tempat kerja memberlakukan pekerja temporer atau pekerja kontrak, dan akan lebih banyak pengalaman berhenti dari pekerjaan yang satu dang anti pekerjaan yang lain sebagai bagian dari karir bekerja. Hal ini menggambarkan mobilitas pasar kerja yang makin tinggi sehingga desain kurikulum pendidikan tinggi yang didasarkan pada prediksi peran sosial semakin tidak memadai. 

Kompetensi memang unsur penting dari kapabilitas. Namun, orang-orang yang kapabel adalah mereka yang memiliki kemampuan metakompetensi dan multi-skills yang dapat berbuat secara efektif dalam mengatasi problematika kehidupan baru. Tren belajar generasi sekarang adalah memburu kapabilitas. Mereka belajar apa saja yang mereka inginkan untuk mengukir dirinya pencipta profesi dan karir mereka. Sistem pendidikan kampus tradisional mulai membosankan karena tidak melayani modalitas belajar. Sebaliknya, di luar kampus, sumber belajar yang lebih mutakhir, berkualitas, dan memenuhi selera mereka bertebaran. Banyak mahasiswa mulai menuntut proses dan pengalaman belajar yang diberikan berbasis kehidupan. Pengalaman menunjukkan, mulai banyak inovator muda yang kuliahnya molor atau bahkan DO karena sistem pendidikan kita tidak melayani modalitas belajar mereka.

Pergeseran orientasi perguruan tinggi dari capaian kompetensi ke kapabilitas memerlukan pemutakhiran platform kurikulum pendidikan tinggi. Panduan pengembangan kurikulum pendidikan tinggi yang berlaku sekarang, yang menggunakan model berpikir competency-base curricukulum harus dimutakhirkan. Perumusan capaian pembelajaran yang tertutup dan cenderung mengurai keterampilan diskrit perlu dikaji ulang. Tujuan capaian belajar yang lebih terbuka akan memberikan fleksibilitas belajar mahasiswa mengembangkan kapabilitasnya, dan terbuka terhadap pengembangan potensi individual. Personalisasi belajar mendapat ruang yang cukup bagi mereka yang memiliki passion belajar tertentu. 

Kedua, perguruan tinggi era revolusi industri 4.0 membutuhkan perubahan paradigma belajar. Secara kasat mata tampaknya kebanyakan perguruan tinggi di Indonesia belum masuk dalam pola pikir revolusi industri 4.0. Hal ini bisa dilihat dari sejumlah ciri konvensionalnya dalam keilmuan dan riset, kurikulum, metode dan teknologi pembelajaran, manajemen organisasi dan proses bisnisnya.  Menghadapi era teknologi dan inovasi disruptif, perguruan tinggi di era 4.0 harus melakukan lompatan paradigmatis. Cara ini juga relevan dengan karakteristik generasi sekarang yang tidak gampang menerima peran tertentu. Sebagian dari mereka ingin mengukir profesi dari identitas dirinya sendiri.

Ketiga, perubahan pola pikir atau orientasi perguruan tinggi dari konsumen ke produsen dalam bentuk karya ide, pemilikan, pengetahuan, teori atau barang. Perubahan ini akan tercermin dari neraca aktivitas keseharian kita yang menurut Arif Satria (Kompas, 19/4/2018), apakah akan lebih diwarnai aktivitas mengunggah atau mengunduh. Seringnya kita mengunggah akan jadi bukti bahwa kita adalah pemain pada era disrupsi ini. Selama ini kita hanya penonton perubahan dengan lebih banyak aktivitas mengunduh. Seharusnya perguruan tinggi memiliki orientasi mengunggah dengan memperbanyak karya riset dan inovasi untuk menginspirasi dan memberikan manfaat bagi publik, baik pada level lokal maupun global. 

Majalah The Economists edisi 14 Januari 2017 menampilkan laporan khusus yang menggambarkan pentingnya kecakapan sosial (social skills) dalam bekerja. Pola perekrutan tenaga kerja di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sejak tahun 1980 yang dibutuhkan adalah mereka dengan kecakapan sosial yang tinggi meskipun keterampilan matematikanya rendah. Mereka dengan keterampilan tinggi, tetapi kecakapan sosial rendah tidak dibutuhkan. Ada pergeseran kecakapan di negara maju sejak tahun 1960, di mana kebutuhan akan kecakapan non-rutin analitis dan kecakapan non-rutin interaktif meningkat terus. Sebaliknya, kecakapan rutin kognitif, non-rutin manual, dan rutin manual menurun terus kebutuhannya.

Dalam bidang teknik, negara anggota Washington Accord telah menyepakati profil lulusan pendidikan tinggi teknik sebanyak 12 atribut, yaitu: pengetahuan keteknisan, analis persoalan, perancang atau pengembangan untuk solusi, investigasi penggunaan perangkat mutakhir, insinyur dan masyarakat, lingkungan dan keberlanjutan, etika, kerja individu dan kerja bersama, komunikasi, manajemen proyek dan keuangan, dan pembelajaran sepanjang hayat. Dari 12 atribut tersebut, tujuh diantaranya termasuk kecapakan (soft skill), sedangkan lainnya termasuk kategori keterampilan (hard skills). Kecakapan disini termasuk kecakapan sosial dan kecakapan non-rutin.

Salah satu contoh jenis pekerjaan yang akan langgeng adalah dokter dan dokter bedah karena kemampuannya menangani pasien (sebutan pasien seyogianya diganti menjadi mitra karena sejajar dengan dokter) yang unik dan kompleks. Setiap orang memiliki keunikan sehingga dokter harus mampu menangani mitra sesuai dengan keunikannya. Terapi dan obat yang cocok untuk satu mitra belum tentu cocok untuk mitra lain dengan penyakit yang sama. Oleh karena itu, seperti halnya di bidang teknik, di bidang kedokteran perlu ditekankan pentingnya kecakapan (soft skills) sehingga peran dokter tidak tergantikan oleh teknologi informasi. Pada saat ini sudah sangat tersedia berbagai perangkat lunak untuk diagnosis penyakit dan alternatif penanggulangannya, seorang mitra dapat mendiagnosis dirinya kemudian mencari alternatif obat dan terapi yang tersedia.

Berdasarkan deskripsi tersebut, jelas bahwa kompetensi di era revolusi industri 4.0 adalah kemampuannya dalam menangani persoalan yang kompleks melalui kecakapan non-rutin dan kecakapan sosial. Program pengembangan kapasitas sumber daya manusia di era ini harus dilakukan melalui pendidikan yang memberikan kecakapan non-rutin dan kecakapan sosial, sedangkan untuk kapasitas lainnya, seperti keterampilan dan kecakapan rutin, diberikan melalui pelatihan. Dengan demikian terdapat pembagian peran yang jelas antara pendidikan (rutin), dan ini dapat menjadi rujukan dalam merancang sistem pembangunan sumber daya manusia di era revolusi industri 4.0. Oleh karena itu, supaya mahasiswa bisa berperan penting dalam abad 21 ini harus memiliki karakter moral dan karakter kinerja serta memiliki kompetensi yang sesuai dengan era 4.0 yaitu: kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif untuk bertahan di era revolusi industri 4.0.



Leave A Reply