PENGUMPULAN DATA PENELITIAN
Silahkan Anda mencari pengetahuan sebanyak mungkin, tetapi kalau tidak didukung imajinasi
maka yang akan Anda miliki hanyalah pengetahuan, bukan kemampuan menundukkan realitas
Albert Einstein
Pembahasan Materi
Bab ini membahas tentang metode pengumpulan data, instrumen pengumpulan data: angket terbuka dan tertutup, wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur, observasi, tes, dokumentasi, kedudukan instrumen pengumpulan data, dan menikmati pengumpulan data.
- Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan suatu hal yang penting dalam penelitian, karena metode ini merupakan strategi atau cara yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitiannya. Pengumpulan data dalam penelitian dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan, keterangan, kenyataan-kenyataan, dan informasi yang dapat dipercaya. Metode pengumpulan data ialah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Metode (cara atau teknik) menunjuk suatu kata yang abstrak dan tidak diwujudkan dalam benda, tetapi hanya dapat diperlihatkan penggunaannya. Untuk memperoleh data seperti yang dimaksudkan tersebut, dalam penelitian dapat digunakan berbagai macam metode, di antaranya dengan angket, observasi, wawancara, tes, analisis dokumen, dan lainnya. Peneliti dapat menggunakan salah satu atau gabungan tergantung dari masalah yang dihadapi.
Metode ilmiah hakekatnya adalah penggabungan antara berpikir secara deduktif dengan induktif. Jika pengajuan rumusan hipotesis tersebut dengan susah payah diturunkan dari kerangka teoretis dan kerangka berpikir secara deduktif, maka untuk menguji hipotesis tadi diterima atau ditolak perlu dibuktikan kebenarannya dengan data-data yang ada di lapangan. Data-data tersebut dikumpulkan dengan teknik tertentu yang disebut teknik pengumpulan data. Selanjutnya data-data itu dianalisis dan disimpulkan secara induktif. Dan akhirnya dapatlah kita memutuskan bahwa hipotesis ditolak atau diterima.
- Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya (Suharsimi, 2004). Selanjutnya instrumen yang diartikan sebagai alat bantu merupakan saran yang dapat diwujudkan dalam benda, Contohnya: angket, daftar cocok, skala, pedoman wawancara, lembar pengamatan atau panduan pengamatan, soal ujian, dan sebagainya. Kaitan antara metode dan instrumen pengumpulan data dapat dilihat pada tabel 11.1.
Tabel 11.1 Metode Dan Instrumen Pengumpulan Data (Suharsimi, 2005)
No. | Jenis Metode | Jenis Instrumen |
1. | Angket (questionnaire) |
|
2. | Wawancara (interview) |
|
3. | Pengamatan/ Observasi (observation) |
|
4. | Ujian atau tes [test] |
|
5. | Dokumentasi. |
|
Data yang dikumpulkan dalam penelitian digunakan untuk menguji hipotesis atau jawaban pertanyaan yang telah dirumuskan. Karena data yang diperoleh akan dijadikan landasan dalam mengambil kesimpulan, data yang dikumpulkan haruslah data yang benar. Agar data yang dikumpulkan baik dan benar, instrumen pengumpulan datanya pun harus baik. Ada beberapa instrumen pengumpulan data yang akan dibahas berikut ini sesuai dengan teknik pengumpulan data.
- Angket (Questionnaire)
Angket atau kuesioner merupakan suatu teknik atau cara pengumpulan data secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya-jawab dengan responden). Instrumen atau alat pengumpulan datanya juga disebut angket berisi sejumlah pertanyaan atau pernyataan yang harus dijawab atau direspon oleh responden. Sama dengan pedoman wawancara, bentuk pertanyaan bisa bermacam-macam, yaitu pertanyaan terbuka, pertanyaan berstruktur dan pertanyaan tertutup (Cresswell, 2007). Dengan kata lain, angket (questionnaire) adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain bersedia memberikan respons (responden) sesuai dengan permintaan pengguna. Dengan kata lain, angket merupakan daftar pertanyaan lengkap mengenai banyak hal yang diperlukan oleh peneliti untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan penelitian. Angket merupakan instrumen penelitian utama dalam survei. Angket berbeda dengan kuesioner.
Angket digunakan apabila responden dianggap mampu menjawab pertanyaan secara mandiri, sehingga tidak memerlukan bantuan peneliti. Kuesioner digunakan bila peneliti masih memegang peran dalam memandu responden saat memberikan jawaban. Dalam hal ini kuesioner berfungsi sebagai pedoman wawancara. Tujuan penyebaran angket ialah mencari informasi yang lengkap mengenai suatu masalah dari responden tanpa merasa khawatir bila responden memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan dalam pengisian daftar pertanyaan. Disamping itu, responden mengetahui informasi tertentu yang diminta. Angket dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: angket terbuka dan angket tertutup.
- Angket Terbuka
Pada angket dengan pertanyaan terbuka, angket berisi pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan pokok yang bisa dijawab atau direspon oleh responden secara bebas. Tidak ada anak pertanyaan ataupun rincian yang memberikan arah dalam pemberian jawaban atau respon. Responden mempunyai kebebasan untuk memberikan jawaban atau respon sesuai dengan persepsinya. Dengan kata lain yang dimaksud dengan angket terbuka atau angket tidak berstruktur ialah angket yang disajikan dalam bentuk sederhana sehingga responden dapat memberikan isian sesuai dengan kehendak dan keadaannya. Contoh (1) pertanyaan angket terbuka: Pendidikan apa saja yang pernah sadara ikuti? Tuliskan dengan sebenarnya, di mana dan tahun berapa lulusnya.
No. | Tingkat Pendidikan | Tempat | Tahun keluar |
1. 2. 3. 4. 5. | ……………………… ……………………… ……………………… ……………………… ……………………… | ……………………… ……………………… ……………………… ……………………… ……………………… | …………………… …………………… …………………… …………………… …………………… |
Contoh (2). Bagaimanakah pendapat saudara tentang dibentuknya Dewan Sekolah?. Apakah saudara pernah mengikuti penataran Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)? jika pernah, bagaimana komentar saudara?
Keuntungan angket terbuka:
- Bagai responden: Mereka dapat mengisi sesuai dengan keinginan yang sesuai dengan keadaan yang dialaminya.
- Bagi peneliti: Akan mendapat data yang bervariasi, bukan hanya yang sudah disajikan karena sudah diasumsikan oleh peneliti.
- Angket Tertutup
Pada angket tertutup pertanyaan atau pernyataan sudah disusun secara berstruktur di samping ada pertanyaan pokok atau pertanyaan utama, juga ada anak pertanyaan atau sub pertanyaan. Dalam angket tertutup, pertanyaan atau pernyataan-pernyataan telah memiliki alternatif jawaban (option) yang tinggal dipilih oleh responden. Dengan kata lain angket berstruktur adalah angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya dengan cara memberikan tanda silang (X) atau tanda checklist (✔). Responden tidak bisa memberikan jawaban atau respon lain kecuali yang telah tersedia sebagai alternatif jawaban (Djaali, 2004).
Contoh: Cara memberikan tanda silang (X)
- Apakah saudara pernah mempraktekkan materi Diklat Teknologi Informasi yang menunjang tugas di kantor saudara?
- Pernah
- Tidak Pernah
Jika pernah, materi apa saja yang saudara praktekkan terutama dalam menunjang pekerjaan saudara?
- Kertas Kerja Perorangan (KKP)
- Manajemen Sumber-daya Manusia.
- System Informasi Manajemen.
- Simulasi dan Kertas Kerja tema (KKT).
- Apakah saudara termasuk dosen yang aktif menulis?
- Ya
- Tidak
Jika ya, sudah berapa buku yang saudara tulis dan terbitkan?
- 2 – 5 buku
- 6 – 10 buku
- 11 – 15 buku
- 16 – 20 buku
- Apakah bapak atau ibu tergolong sebagai dosen senior?
- Ya
- Tidak
Jika ya, sudah berapa lama bapak atau ibu menjabat sebagai dosen?
- 1 tahun
- 2 tahun
- 5 tahun
- 10 tahun
Karena angket dijawab atau diisi sendiri oleh responden dan peneliti tidak selalu bertemu langsung dengan responden, maka dalam penyusunan angket perlu diperhatikan beberapa hal.
- Sebelum butir-butir pertanyaan atau pernyataan ada pengantar dan petunjuk pengisian. Dalam pengantar dijelaskan maksud pengedaran angket, jaminan kerahasiaan jawaban serta ucapan terima kasih kepada responden. Petunjuk pengisian menjelaskan bagaimana cara menjawab pertanyaan atau merespon pernyataan yang tersedia.
- Butir-butir pertanyaan dirumuskan secara jelas, menggunakan kata-kata yang lazim digunakan (populer), kalimat tidak terlalu panjang dan tidak beranak pinak. Dalam butir-butir pertanyaan atau pernyataan tertutup sebaiknya hanya berisi satu pesan (message) sederhana, sedang dalam pertanyaan atau pernyataan terbuka bisa berisi satu pesan kompleks atau lebih dari satu pesan yang tidak terlalu kompleks. Dalam pertanyaan atau pernyataan berstruktur, untuk anak pertanyaan berstruktur, untuk anak pertanyaan atau sub pertanyaan sebaiknya hanya berisi satu pesan yang tidak terlalu kompleks.
- Untuk setiap pertanyaan atau pernyataan terbuka dan terstruktur disediakan kolom untuk menuliskan jawaban atau respon dari responden secukupnya. Untuk pertanyaan atau pernyataan tertutup telah disediakan alternatif jawaban dan tiap alternatif hanya berisi satu pesan sederhana. Jawaban atau respon dari responden dapat langsung diberikan pada alternatif jawaban, atau menggunakan lembar jawaban khusus bersatu atau terpisah dari lembar pertanyaan atau pernyataan.
- Kelebihan dan Kelemahan Angket
Teknik pengumpulan data dengan menggunakan angket mempunyai beberapa keuntungan sebagai berikut (Usman & Akbar, 2003:72):
- Keuntungan angket tertutup adalah: 1) mudah diolah, 2) responden tidak perlu menuliskan buah pikirannya, 3) pengisian menggunakan waktu yang singkat, dan 4) dapat menjaring responden yang relative banyak, karena responden lebih mendalam.
- Keuntungan angket terbuka adalah: 1) responden dapat mengungkapkan buah pikirannya, dan 2) berguna bila peneliti ingin mengetahui keadaan responden lebih mendalam.
Teknik pengumpulan data dengan menggunakan angket mempunyai beberapa kelemahan sebagai berikut:
- Kelemahan-kelemahan angket tertutup adalah: 1) responden tidak mempunyai kesempatan untuk menjawab lebih bebas, dan 2) ada kemungkinan responden asal mengisi saja.
- Kelemahan-kelemahan angket terbuka adalah: 1) sukar mengolahnya, 2) perlu waktu yang relative panjang untuk mengisinya, dan 3) nilai jawaban yang tidak sama.
- Checklist
Checklist atau daftar cek adalah suatu daftar yang berisi subjek dan aspek-aspek yang akan diamati. Checklist dapat menjamin bahwa peneliti mencatat tiap-tiap kejadian sekecil apapun yang dianggap penting (Sukmadinata, 2006). Bermacam-macam aspek perbuatan yang biasanya dicantumkan dalam daftar cek sehingga pengamat tinggal memberikan cek (✔) pada tiap-tiap aspek tersebut sesuai dengan hasil pengamatannya.
Tabel 11.2. Cara memberikan checklist tentang Kesiapan Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Dinas Pendidikan Nasional.
No | Pernyataan | ||||
4 | 3 | 2 | 1 | ||
S | CS | KS | BS | ||
Organisasi | |||||
1. | Pedoman pembuatan struktur organisasi Dewan Sekolah telah disosialisasikan. | ✔ | |||
2. | Dinas Pendidikan telah memiliki data sejumlah sekolah yang telah memiliki struktur organisasi Dewan Sekolah. | ✔ | |||
Kurikulum | |||||
3. | Materi kurikulum memenuhi standar minimal Kurikulum Nasional | ✔ | |||
4. | Kurikulum lokal merupakan kurikulum tambahan yang sesuai dengan tuntutan zaman dan lingkungan aspirasi masyarakat. | ✔ | |||
Sumber Daya Manusia | |||||
5. | Sekolah telah memiliki kepala sekolah yang berkualitas minimal D-2 bagi SD; D-3 dan S1 bagi SLTP, SMU dan SMK. | ✔ | |||
6. | Sekolah telah memiliki kepala sekolah yang memiliki kemampuan teknis tugas pokok guru yaitu mengejar | ✔ | |||
Kesiswaan | |||||
7. | Sekolah telah memfungsikan wadah organisasi siswa untuk mengembangkan kreativitas siswa. | ✔ | |||
8. | Sekolah melakukan identifikasi siswa berbakat. | ✔ | |||
Sarana Dan Prasarana | |||||
9. | Sekolah merencanakan, mengidentifikasi kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan. | ✔ | |||
10. | Perencanaan sekolah menetapkan prioritas kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan. | ✔ | |||
Pembiayaan & Anggaran | |||||
11. | Dinas Pendidikan bersama Dewan Sekolah berupaya menggali sumber dana internal maupun eksternal. | ✔ | |||
Partisipasi Masyarakat | |||||
12. | Pelibatan masyarakat bukan hanya memotivasi, tetapi aktif dalam menghimpun dana, tenaga, dan materi guna menunjang mutu pendidikan. | ✔ | |||
13. | Masyarakat melakukan fungsi control dalam pelaksanaan pendidikan. | ✔ | |||
14. | Masyarakat bersikap proaktif dalam pengembangan pendidikan. | ✔ | |||
Keterangan:
4 = siap (S) 3 = Cukup Siap (CS)
- = Kurang Siap (KS) 1 = Belum Siap (BS)
- Wawancara
Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Wawancara ini digunakan bila ingin mengetahui hal-hal dari responden secara lebih mendalam serta jumlah responden sedikit. Ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi arus informasi dalam wawancara, yaitu: pewawancara, responden, pedoman wawancara, dan situasi wawancara (Hadeli, 2006). Menurut Nasution (2003: 113), wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal, jadi semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi. Bila guru menanyakan siswa tentang keadaan rumah atau petani menyakan seluk beluk pertanian, itu namanya wawancara.
Wawancara atau interview merupakan salah satu bentuk teknik pengumpulan data yang banyak digunakan dalam penelitian deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Wawancara dilaksanakan secara lisan dalam pertemuan tatap muka secara individual. Adakalanya juga wawancara dilakukan secara kelompok, kalau memang tujuannya untuk menghimpun data dari kelompok seperti wawancara sengan suatu keluarga, pengurus yayasan, pembina pramuka, dan lain sebagainya (Riduwan, 2005). Wawancara yang ditujukan untuk memperoleh data dari individu dilaksanakan secara individual. Pewawancara adalah petugas pengumpul informasi yang diharapkan dapat menyampaikan pertanyaan dengan jelas dan merangsang responden untuk menjawab semua pertanyaan dan mencatat semua informasi yang dibutuhkan dengan benar. Responden adalah pemberi informasi yang diharapkan dapat menjawab semua pertanyaan dengan jelas dan lengkap. Dalam pelaksanaan wawancara, diperlukan kesediaan dari responden untuk menjawab pertanyaan dan keselarasan antara responden dan pewawancara.
Pedoman wawancara berisi tentang uraian penelitian yang biasanya dituangkan dalam bentuk daftar pertanyaan agar proses wawancara dapat berjalan dengan baik. Isi pertanyaan atau pernyataan bisa mencakup fakta, data, pengetahuan, konsep, pendapat, persepsi atau evaluasi responden berkenaan dengan fokus masalah atau variabel-variabel yang dikaji dalam penelitian (Cresswell, 2008). Bentuk pertanyaan atau pernyataan bisa sangat terbuka, sehingga responden mempunyai keleluasaan untuk memberikan jawaban ataau penjelasan. Pertanyaan atau pernyataan dalam pedoman wawancara juga bisa berstruktur, suatu pertanyaan atau pernyataan umum diikuti dengan pertanyaan atau pernyataan yang lebih khusus atau lebih terurai.
Situasi wawancara ini berhubungan dengan waktu dan tempat wawancara. Waktu dan tempat wawancara yang tidak tepat dapat menjadikan pewawancara merasa canggung untuk mewawancarai dan responden pun merasa enggan untuk menjawab pertanyaan. Berdasarkan sifat pertanyaan, wawancara dapat dibedakan menjadi (Donald Ary, 2004):
- Wawancara Terpimpin. Dalam wawancara ini, pertanyaan diajukan menurut daftar pertanyaan yang telah disusun.
- Wawancara Bebas. Pada wawancara ini, terjadi tanya jawab bebas antara pewawancara dan responden, tetapi pewawancara menggunakan tujuan penelitian sebagai pedoman. Kebaikan wawancara ini adalah responden tidak menyadari sepenuhnya bahwa ia sedang diwawancarai.
- Wawancara Bebas Terpimpin. Wawancara ini merupakan perpaduan antara wawancara bebas dan wawancara terpimpin. Dalam pelaksanaannya, pewawancara membawa pedoman yang hanya merupakan garis besar tentang hal-hal yang akan ditanyakan.
Wawancara banyak digunakan dalam penelitian kualitatif, malahan boleh dikatakan sebagai teknik pengumpulan data utama. Dalam penelitian kualitatif tidak disusun dan digunakan pedoman wawancara yang sangat rinci. Bagi peneliti yang sudah berpengalaman pedoman wawancara ini hanya berupa pertanyaan pokok atau pertanyaan inti saja dan jumlahnya pun tidak lebih dari 7 atau 8 pertanyaan. Dalam pelaksanaan wawancara, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan kondisinya.
Pengembangan pertanyaan pokok menjadi pertanyaan lanjutan atau pertanyaan lebih terurai disebut “probing” atau perluasan dan pendalaman. Bagi peneliti pemula atau para mahasiswa dalam pedoman wawancara, di samping pertanyaan pokok perlu disusun pertanyaan yang lebih terurai atau rincian pertanyaan, walaaupun dalam pelaksanaannya bisa saja tidak digunakan atau diganti dengan pertanyaan lain yang lebih terkait langsung dengan kenyataan yang dihadapi. Kegagalan wawancara dalam arti pewawancara tidak mendapatkan data seperti yang diharapkan, baik objektivitas maupun kelengkapannya.
Hal penting lain yang perlu mendapatkan perhatian serius dari pewawancara adalah perekaman atau pencatatan data. Kalau situasi memungkinkan dalam arti ada kesediaan responden untuk direkam, tersedia alat perekam yang baik, situasi dan kondisi lingkungan yang mendukung, jawaban-jawaban responden dapat direkam dengan menggunakan perekam elektronik (kaset audio). Bila akan menggunakan perekam elektronik, supaya digunakan alat perekam yang baik, dan proses perekaman tidak mengganggu situasi wawancara. Bila perekaman tidak memungkinkan pencatatan tertulis perlu dilakukan dengan seksama.
Dalam pembuatan catatan hasil wawancara, selain dicatat jawaban atau respon-respon dari responden yang langsung berhubungan dengan pertanyaan, juga dicatat reaksi-reaksi lainnya baik yang dinyatakan secara verbal maupun non verbal. Juga perlu dibuat catatan-catatan khusus atau interpretasi langsung sesaat dari pewawancara terhadap jawaban, respon ataupun reaksi tertentu yang penting atau perlu mendapat perhatian dari peneliti. Pencatatan hal-hal tersebut dapat dibuat di samping catatan utama, kalau mungkin dengan warna tinta yang berbeda.
Pada umumnya dapat dibedakan dua macam wawancara yaitu yang berstruktur dan tak berstruktur. Wawancara berstruktur dilakukan berdasarkan daftar pertanyaan dengan maksud dapat mengontrol dan mengatur berbagai dimensi wawancara tersebut, antara lain pertanyaan yang dilakukan telah ditentukan bahkan kadang-kadang juga jawabannya, demikian pula lingkup masalah sehingga benar-benar dibatasi.
Wawancara dibagi menjadi dua, yaitu wawancara berstruktur dan wawancara tidak berstruktur. Dalam wawancara berstruktur semua pertanyaan telah dirumuskan sebelumnya dengan cermat, biasanya secara tertulis. Pewawancara dapat menggunakan daftar pertanyaan itu sewaktu melakukan interviu itu atau juga meungkin menghafalnya di luar kepala agar percakapan menjadi lancar dan wajar (Nasution, 2003). Jawaban pertanyaan dan alternatif jawaban yang diberikan subjek dalam wawancara berstruktur telah ditetapkan terlebih dahulu oleh pewawancara. Keuntungannya jawabannya dapat dengan mudah dikelompokkan dan dianalisis serta proses interview lebih terarah dan sistematis. Kelemahannya suasana kaku dan terlalu formal serta tidak memberi kesempatan kepada responden untuk mengemukakan pendapatnya sehubungan dengan persoalan yang sedang dihadapi.
Wawancara berstruktur tidak membuka kebebasan bagi responden untuk berbicara sesuka hatinya. Jawaban responden terikat pada pertanyaan yang telah disusun lebih dahulu. Namun demikian wawancara berstruktur mempunyai sejumlah keuntungan antara lain (Nasution, 2003: 119): 1) tujuan wawancara lebih jelas dan terpusat pada hal-hal yang telah ditentukan lebih dahulu sehingga tidak ada bahaya bahwa percakapan menyeleweng dan menyimpang dari tujuan, 2) jawaban-jawaban mudah dicatat dan diberi kode, dan 3) data tersebut lebih mudah diolah dan saling dibandingkan.
Dalam wawancara tak berstruktur lebih bersifat informal. Pertanyaan tentang pandangan, sikap, keyakinan subjek atau tentang keterangan lainnya dapat diajukan secara bebas kepada subyek (Riyanto, 2001: 83). Wawancara jenis ini memang tampak luas dan biasanya direncanakan agar sesuai dengan subyek dan suasana pada waktu wawancara dilakukan. Dan subyek diberi kebebasan menguraikan jawabannya serta mengungkapkan pandangannya sesuka hati, tetapi sering tidak terarah dalam mengolah dan menganalisa datanya. Sehubungan dengan instrumen yang digunakan dalam interview, Arikunto (2010) membedakan dua jenis pedoman wawancara, yaitu:
- Pedoman wawancara tidak berstruktur, yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan. Dalam hal ini kreativitas pewawancara sangat diperlukan. Pewawancara sebagai pengemudi jawaban responden, jenis ini cocok untuk penelitian kasus.
- Pedoman wawancara terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang disusun secara rinci sehingga menyerupai checklist. Pewawancara tinggal membubuhkan tanda V pada nomor yang sesuai.
- Keuntungan Wawancara
Sebagai keuntungan wawancara dikemukakan antara lain hal-hal yang berikut (Nasution, 2003: 125):
- Dengan wawancara kita dapat memperoleh keterangan yang sedalam-dalamnya tentang suatu masalah, khususnya yang berkenaan dengan pribadi seseorang.
- Dengan wawancara peneliti dapat dengan cepat memperoleh informasi yang diinginkannya.
- Dengan wawancara peneliti dapat memastikan bahwa respondenlah yang memberi jawaban. Dalam angket kepastian ini tidak ada.
- Dalam wawancara peneliti dapat berusaha agar pertanyaan yang diajukan benar-benar dapat dipahami oleh responden.
- Wawancara memungkinkan fleksibilitas dalam cara-cara bertanya. Bila jawaban tidak memuaskan, tidak tepat atau tidak lengkap, pewawancara dapat mengajukan pertanyaan lain.
- Pewawancara yang sensitif dapat menilai validitas jawaban berdasarkan gerak-gerik, nada, dan ekspresi tubuh responden.
- Informasi yang diperoleh melalui wawancara akan lebih dipercaya kebenarannya salah tafsiran dapat diperbaiki sewaktu wawancara dilakukan. Jika perlu pewawancara dapat lagi mengunjungi responden bila masih perlu penjelasan.
- Dalam wawancara responden lebih bersedia mengungkapkan keterangan-keterangan yang tidak sudi diberikannya dalam angket tertulis.
- Kelemahan Wawancara
Wawancara juga mempunyai sejumlah kelemahan yang perlu diperhatikan agar peneliti sedapat mungkin menghindarinya, yaitu (Riyanto, 2001: 86):
- Kurang efisien, dilihat dari waktu, tenaga dan biaya.
- Faktor bahasa, baik dari segi pewawancara maupun responden sangat mempengaruhi hasil atau data yang diperoleh.
- Dapat menyulitkan dalam pengolahan dan analisis data yang diperoleh.
- Menekan responden untuk segera memberikan jawaban dari pertanyaan yang dilakukan oleh interviewer.
- Diperlukan adanya keahlian atau penguasaan bahasa dari interviewer.
- Memberi kemungkinan interviewer dengan sengaja memutarbalikan jawaban. Bahkan memberikan kemungkinan interviewer untuk memalsu jawaban yang dicatat di dalam catatan wawancara atau tidak jujur.
- Apabila interviewer dan responden mempunyai perbedaan yang sangat menyolok sulit untuk mengadakan komunikasi interpersonal sehingga data yang diperoleh kurang akurat.
- Jalannya interviewer sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sekitar yang akan menghambat dan mempengaruhi jawaban dan data yang diperoleh.
- Pengamatan (Observation)
Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. Apabila objek penelitian bersifat perilaku, tindakan manusia, dan fenomena alam (kejadian-kejadian yang ada di alam sekitar), proses kerja, dan penggunaan responden kecil. Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Observasi dapat dilakukan dengan partisipasi ataupun nonpartisipasi. Dalam observasi partisipasi (participatory observation) pengamat ikut serta dalam kegiatan yang sedang berlangsung, pengamat ikut sebagai peserta rapat atau peserta pelatihan. Dalam observasi non partisipatif (nonparticipatory observation) pengamat tidak ikut serta dalam kegiatan, dia hanya berperan mengamati kegiatan, tidak ikut dalam kegiatan.
Kedua jenis observasi ini ada kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan observasi partisipatif adalah individu-individu yang diamati tidak tahu bahwa mereka sedang diobservasi sehingga situasi dan kegiatan akan berjalan lebih wajar. Adapun kelemahan dari observasi partisipatif, pengamat harus melakukan dua kegiatan sekaligus, ikut serta dalam kegiatan di samping melakukan pengamatan. Dalam kegiatan-kegiatan yang tidak menuntut peran aktif seluruh peserta kedua kegiatan dapat dilakukan secara baik, tetapi kegiatan yang menuntut peran aktif semua anggota atau peserta, hal itu bukan sesuatu yang mudah.
Karena terlalu terfokus terhadap kegiatan kelompok maka bisa lupa terhadap tugas pengamatan. Sebaliknya pada observasi nonpartisipatif, pengamat dapat lebih terfokus dan seksamaa melakukan pengamatan, tetapi karena peserta tahu kehadiran pengamat sedang melakukan pengamatan, maka perilaku atau kegiatan individu-individu yang diamati bisa menjadi kurang wajar atau dibuat-buat. Seperti halnya dalam wawancara, sebelum melakukan pengamatan sebaiknya peneliti atau pengamat menyiapkan pedoman observasi. Dalam penelitian kualitatif, pedoman observasi ini hanya berupa garis-garis besar atau butir-butir umum kegiatan yang akan diobservasi. Rincian dari aspek-aspek yang diobservasi dikembangkan di lapangan dalam proses pelaksanaan observasi. Dalam penelitian kuantitatif pedoman observasi dibuat lebih rinci, malahan dalam penelitian-penelitian tertentu dapat berbentuk cheklist.
Terkait dengan hal itu, minimal ada dua macam bentuk atau format pedoman observasi untuk penelitian kuantitatif. Pertama berisi butir-butir pokok kegiatan yang akan diobservasi. Dalam pelaksanaan pencatatan observasi, pengamat membuat deskripsi singkat berkenaan dengan perilaku yang diamati. Kedua berisi butir-butir kegiatan yang mungkin diperlihatkan oleh individu-individu yang diamati (Hadeli, 2006). Dalam pencatatan observasi pengamat hanya tinggal membubuhkan tanda cek terhadap perilaku atau kegiatan yang diperlihatkan oleh individu-individu yang diamati.
Pedoman observasi dapat juga disusun dalam bentuk skala. Untuk tiap butir kegiatan atau perilaku yang diamati telah disiapkan tentang skala. Skala ini dapat berbentuk skala deskriptif seperti : baik sekali – baik – cukup – kurang – kurang sekali atau sering sekali – sering – kadang-kadang – jarang – jarang sekali. Pedoman observasi dapat juga disusun dalam bentuk skala garis, rentang-rentang di atas diletakkan di atas garis. Catatan anekdot (daftar catatan anekdot) adalah catatan peneliti mengenai segala sesuatu yang terjadi pada saat pengamatan berlangsung. Peristiwa atau sesuatu yang dianggap penting dicatat dengan singkat tanpa harus menuruti aturan tertentu.
Butir-butir kegiatan atau perilaku dalam pedoman observasi yang menggunakan bentuk ceklis atau skala dapat diberi angka sehingga hasilnya dapat dianalisis secara kuantitatif menggunakan analisis statistik. Lincoln dan Cuba dalam Sanapiah Faisal, mengemukakan ada tujuh langkah dalam penggunaan wawancara untuk mengumpulkan data dalam penelitian bidang pendidikan, yaitu:
- Menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan.
- Menyiapkan pokok-pokok masalah yang menjadi bahan pembicaraan.
- Mengawali atau membuka alur wawancara.
- Melangsungkan alur wawancara.
- Mengkonfirmasikan ikhtiar hasil wawancara dan mengakhirinya.
- Menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan.
- Mengidentifikasikan tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh.
Informasi atau data yang diperoleh dari wawancara sering bias. Bias adalah menyimpang dari yang seharusnya, sehingga dapat dinyatakan data tersebut subyektif dan tidak akurat. Kebiasan data ini akan bergantung pewawancara, yang diwawancarai (responden) dan situasi dan kondisi pada saat wawancara. Pewawancara yang tidak dalam posisi netral, misalnya ada maksud tertentu, diberi sponsor akan memberikan interpretasi data yang berbeda dengan apa yang disampaikan oleh responden. Responden akan memberikan data yang bias, bila responden tidak dapat menangkap dengan jelas apa yang ditanyakan peneliti atau pewawancara.
- Tes (Test)
Tes sebagai instrumen pengumpul data adalah serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, inteligensi, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Secara umum tes diartikan sebagai alat yang dipergunakan untuk mengukur pengetahuan atau pengusaaan objek ukur terhadap seperangkat konten atau materi tertentu. Menurut Sudijono (2003), tes adalah alat ukur atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian. Tes dapat juga diartikan sebagai alat pengukur yang mempunyai standar obyektif, sehingga dapat dipergunakan secara meluas, serta betul-betul dapat digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu. Dengan kata lain, tes merupakan suatu prosedur yang sistematiuntuk mengamati atau mendeskripsikan satu atau lebih karakteristik seseorang dengan menggunakan standar numerik atau sistem kategori.
Tes dapat digunakan untuk mengukur banyaknya pengetahuan yang diperoleh individu dari satu bahan pelajaran yang terbatas pada tingkat tertentu. Ada beberapa macam tes instrumen pengumpul data, antara lain:
- Tes Kepribadian. Tes kepribadian adalah tes yang digunakan untuk mengungkapkan kepribadian seseorang.
- Tes Bakat. Tes bakat (talent test) adalah tes yang digunakan untuk mengukur atau mengetahui bakat seseorang.
- Tes Prestasi. Tes prestasi (achievement test) adalah tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu.
- Tes Inteligensi. Tes intelegensi adalah tes yang digunakan untuk membuat penaksiran atau perkiraan terhadap tingkat intelektual seseorang dengan cara memberikan berbagai tugas kepada orang yang diukur intelegensinya.
- Tes Sikap. Tes sikap (attitude test) adalah tes yang digunakan untuk mengadakan pengukuran terhadap berbagai sikap seseorang.
- Dokumentasi
Dokumentasi adalah ditujukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan, peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, film dokumenter, data yang relevan penelitian. Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film, dan lain-lain.
Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Dalam hal dokumen Bogdan menyatakan “In most tradition of qualitative research, the phrase personal document is used broadly to refer to any first person narrative produced by an individual which describes his or her own actions, experience and belief”. Hasil observasi atau wawancara, akan lebih kredibel atau dapat dipercaya kalau didukung oleh sejarah pribadi kehidupan di masa kecil, di sekolah, di tempat kerja, di masyarakat, dan autobiografi. Publish autobiographies provide a readly available source of data the discerning qualitative research.
Hasil penelitian juga akan semakin kredibel apabila didukung oleh foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada. Photographs provide strikingly descriptive data, are often used to understand the subjective and is product are frequently analyzed inductive. Tetapi perlu dicermati bahwa tidak semua dokumen memiliki kredibilitas yang tinggi. Sebagai contoh banyak foto yang tidak mencerminkan keadaan aslinya, karena foto dibuat untuk kepentingan tertentu. Demikian juga autobiografi yang ditulis untuk dirinya sendiri, sering subyektif.
Kesalahan-Kesalahan Umum Penggunaan Angket, Wawancara, dan Observasi dalam Penelitian
Kesalahan-kesalahan yang sering dijumpai dalam menggunakan angket, wawancara, dan observasi dalam penelitian adalah sebagai berikut (Usman & Akbar, 2003: 73):
- Peneliti menggunakan angket untuk masalah-masalah yang sebenarnya lebih efektif dengan teknik pengumpulan data lainnya.
- Peneliti menyusun angket secara tergesa-gesa sehingga tidak sempat mengadakan pilot-study atau try-out.
- Peneliti menanyakan banyak hal, sehingga banyak menyita waktu responden untuk mengisinya.
- Peneliti mengabaikan format, bahasa, mutu cetakan, dan lain-lain, sehingga dapat mengurangi minat responden untuk berpartisipasi.
- Peneliti mengabaikan proporsi sampel yang tidak menjawab atau mengembalikan angket.
- Interviewer tidak membuat rencana wawancaranya dengan matang serta tidak menggunakan kerangka wawancara yang sistematis.
- Interviewer tidak berusaha mengurangi bias yang ada pada dirinya dan kurang terlatih dalam melakukan wawancara.
- Observer kurang terlatih mendapatkan data yang sahih dan andal.
- Observer bertingkah sedemikian rupa, sehingga mengganggu suasana pihak yang diobservasi.
- Format observasi yang memerlukan kerja keras di pihak observer.
- Penelitian yang dikompromikan dengan merubah desain agar mendapatkan kemudahan administrasi.
- Peneliti menggunakan instrumen penelitian yang kurang dikuasai sepenuhnya.
- Kedudukan Instrumen Pengumpulan Data
Di dalam kerangka penelitian telah diuraikan bahwa pokok utama yang menentukan segalanya di dalam penelitian adalah permasalahan atau problematika penelitian. Permasalahan tersebut merupakan pancingan bagi dirumuskannya tujuan penelitian dan hipotesis jika ada. Untuk menjawab problematika, mencapai tujuan, dan membuktikan hipotesis, diperlukan data. Agar peneliti dipermudah pekerjaannya, digunakanlah instrumen pengumpulan data tersebut di atas.
Gambar 11.1. Kaitan Antara Tujuan Penelitian, Data, dan Instrumen Pengumpulan data
Melihat bagan di atas, data merupakan sesuatu yang sangat penting kedudukannya, karena dengan data peneliti dapat: 1. Menjawab problematika. 2. Mencapai tujuan penelitian. 3. Membuktikan hipotesis. Suharsimi (2010: 112) menjelaskan, tampaknya memang merupakan tiga hasil, tetapi tiga wujud dari hasil tersebut hanyalah satu, berupa tesa atau kebenaran yang akan ditambahkan ke dalam tumpukan ilmu pengetahuan. Disebutnya tiga hal yang diperoleh peneliti dari data penelitian hanya menunjuk bahwa betapa pentingnya data tersebut dalam kegiatan penelitian, dan ditebak atau didekati dari tiga rumusan proses: mengajukan pertanyaan, menyebutkan dalam wujud hasil yang ingin dicapai dan akan diuji kebenarannya.
Data yang diperoleh merupakan sesuatu yang menentukan. Sumber data di mana data dapat diperoleh berbentuk alternative. Pemilihan peneliti terhadap alternative sumber data akan mempengaruhi pemilihan alternatif metode pengumpulan data. Namun baik sumber data maupun metode pengumpulan data yang telah dipilih serta data yang diperlukan, secara bersama-sama merupakan faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam menentukan instrumen penelitian. Faktor lain yang juga harus dipertimbangkan dalam memilih instrumen pengumpul data adalah hal-hal yang berhubungan dengan keinginan peneliti serta kendala-kendala yang ada pada diri peneliti sendiri.
- Menikmati Pengumpulan Data
Sebagaimana diuraikan di atas bahwa kualitas data sangat ditentukan atau bergantung pada kualitas alat pengambil data atau alat pengukurnya. Apabila alatnya reliable dan valid, maka data yang dimbil atau dikumpulkan juga akan reliabel dan valid. Walaupun demikian, ada hal yang masih perlu kita kaji dan kita pertimbangkan, yaitu prosedur pengambilan data. Pengambil data dalam penelitian juga sangat besar peranannya (Purwanto, 2010). Tes psikologis misalnya, tidak bisa dipercayakan begitu saja kepada orang yang kurang kompeten di bidang itu, penggunaan peralatan laboratorium tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki landasan atau dasar-dasar praktik laboratorium.
Pewawancara tidak akan bisa dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki keterampilan dan kemahiran berwawancara dan sebagainya. Prosedur dalam pengumpulan data ini menuturkan bagaimana data penelitian itu diperoleh. Apabila data diperoleh dengan tes, bagaimana caranya, kapan waktunya, berapa lama tes itu diberikan, siapa saja yang terlibat, dan sebagainya. Apabila data itu dikumpulkan dengan kuesioner, bagaimana caranya kuesioner itu diberikan, siapa yang melakukan, disertai teknik apa saja, dan lain sebagainya.
Proses pengumpulan data memiliki atraksinya sendiri sekaligus juga kekurangannya. Dengan demikian, bagaimana Anda dapat membuat diri lebih menikmati proses pengumpulan data ini? Satu strategi yang nyata adalah dengan memfokuskan diri pada satu topic, satu metodologi atau satu kelompok subjek riset yang menarik Anda. Namun demikian ada saat ketika daya tarik proyek Anda dan khususnya yang melibatkan pengumpulan data, mulai memudar sedikit, entah betapapun menariknya atau betapa baiknya motivasi Anda. Rasakan kesenangan melihat perkembangan dan pencapaian Anda dan cobalah untuk tidak sedih hati bila Anda mengalami kemunduran. Biarkan diri Anda mendapat sedikit penghargaan dalam prosesnya (Loraine Blaxter, 2006: 284).
Anda mungkin menemukan kesenangan yang besar dalam mengumpulkan data, terutama bila proses ini membawa Anda jauh dari dunia keseharian Anda ke dalam arena yang menarik atau atraktif bagi Anda. Meskipun demikian ada hal lain juga. Dalam riset skala kecil, Anda tidak dapat mengharapkan dapat mengumpulkan data yang Anda perlukan. Tidak ada proyek sosial, dalam pengertian yang umum, yang akan memberi kata definitif yang terakhir atas topik apapun. Tujuan riset kecil adalah untuk menjadi gabungan dari aplikasi praktis, pencerahan, pembelajaran diri dan atau latihan riset. Dengan demikian, Anda seharusnya menempatkan diri di bawah tekanan besar untuk menghasilkan karya yang sempurna. Oleh karena itu: 1. Ikutin jadwal Anda setepat mungkin. 2. Kumpulkan data yang memadahi, sehingga Anda masih memiliki waktu dan fasilitas yang cukup untuk menganalisis. 3. Lanjutkan dengan analisis data segera setelah Anda mengumpulkan data yang mencukupi.
Rangkuman
Metode pengumpulan data ialah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Contohnya: angket, daftar cocok, skala, pedoman wawancara, lembar pengamatan atau panduan pengamatan, soal ujian, dan sebagainya. Ada beberapa instrumen pengumpulan data yang sesuai dengan teknik pengumpulan data penelitian, yaitu: angket, wawancara, observasi, tes, dan dokumentasi. Angket atau kuesioner merupakan suatu teknik atau cara pengumpulan data secara tidak langsung.
Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Tes sebagai instrumen pengumpul data adalah serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, inteligensi, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Dokumentasi adalah ditujukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan, peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, film dokumenter, data yang relevan penelitian.
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 2011. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Manajemen Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta.
Cresswell, John W. 2008. Educational Research, New York: Pearson Merril Prentice-Hall.
Cresswell, John W. 2007. Designing and Conducting Mixed Methods Research, Toronto: Sage Publication.
Djaali, Mulyono, Puji. 2004. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan, Jakarta: Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta.
Nasution, S. 2003. Metode Research: Penelitian Ilmiah, Jakarta: Bumi Aksara.
Loraine Blaxter, Christina Hughes, Malcolm Thight. 2006. How to Research: Seluk Beluk Melakukan Riset. Terjemahan: Agustina R.E. Sitepoe. Jakarta: Penerbit INDEKS Kelompok Gramedia.
Purwanto. 2010. Metodologi Penelitian Kuantitatif Untuk Psikologi dan Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Riyanto, Y. 2001. Metodologi Penelitian Pendidikan, Surabaya: Penerbit SIC.
Riduwan. 2005. Belajar Mudah Penelitian, Bandung: Alfabeta.
Sukmadinata, N,S. 2006. Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Rosdakarya.
Sekaran. Uma. 2006. Research Methods for Business: Metodologi Penelitian untuk Bisnis. Terj. Kwan Men Yon, Jakarta: Salemba Empat.
Suryabrata, S. 2002. Metodologi Penelitian, Jakarta: Rajawali Press.
Usman, H, Purnomo Setiady Akbar, 2003. Metodologi Penelitian Sosial, Jakarta: Bumi Aksara.
Keyakinan menjadi pikiran Anda, pikiran menjadi kata-kata Anda, kata-kata
menjadi tindakan Anda, tindakan menjadi kebiasaan Anda, kebiasaan
menjadi nilai-nilai Anda, dan nilai-nilai menjadi takdir Anda.
Mahatma Gandi



