TEORI DAN VARIABEL PENELITIAN
Kebenaran dapat menguap, popularitas adalah suatu ketidakseimbangan,
kekayaan dapat terbang, mereka yang hari ini bergembira akan
bersedih besok, hanya satu yang bertahan yaitu karakter.
Horace Greeley
Pembahasan Materi
Bab ini membahas tentang landasan teori, komponen dan deskripsi teori, konsep dan konstruk, pengertian variabel, macam-macam variabel: variabel independen dan dependen, variabel intervening, variabel moderator, dan variabel kontrol, definisi operasional, kerangka teori dan kerangka berpikir dalam penelitian.
- Landasan Teori
Landasan teori perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan coba-coba (trial and error). Adanya landasan teori ini merupakan ciri bahwa penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data. Kerlinger mengatakan bahwa teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antar variabel sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. Dengan kata lain teori adalah generalisasi atau kumpulan generalisasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secara sistematik.
Cooper dan Schindler (2003), mengemukakan a theory is a set of systematically interrelated concepts, definition, and proposition that are advanced to explain and predict phenomena. Teori adalah seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang tersusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. Landasan teori merupakan teori yang relevan yang digunakan untuk menjelaskan variabel yang akan diteliti dan sebagai dasar untuk member jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang diajukan dan penyusunan instrumen penelitian. Teori yang digunakan bukan hanya pendapat dari pengarang atau pendapat lain, tetapi teori yang benar-benar telah teruji kebenarannya.
Sedangkan Sugiyono (2006), membedakan tiga macam teori. Ketiga macam teori yang dimaksud ini berhubungan dengan data empiris. Dengan demikian dapat dibedakan antara lain:
- Teori yang deduktif: memberi keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu kea rah data akan diterangkan.
- Teori yang induktif: cara menerangkan adalah dari data ke arah teori. Dalam bentuk ekstrim titik pandang yang positivistik ini dijumpai pada kaum behaviorist.
- Teori yang fungsional: di sini naampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data.
Berdasarkan tiga pandangan ini dapatkah disimpulkan bahwa teori dapat dipandang sebagai berikut: 1) Teori menunjuk pada sekelompok hukum yang tersusun secara logis. Hukum-hukum ini biasanya sifat hubungan yang deduktif. Suatu hukum menunjukkan suatu hubungan antara variabel-variabel empiris yang bersifat ajeg dan dapat diramal sebelumnya; 2) Suatu teori juga dapat merupakan suatu rangkuman tertulis mengenai suatu kelompok hokum yang diperoleh secara empiris dalam suatu bidang tertentu. Di sini orang mulai dari data yang diperoleh dan dari data yang diperoleh itu datang suatu konsep yang teoritis (induktif); dan 3) Suatu teori juga dapat menunjuk pada suatu cara menerangkan yang menggeneral. Di sini terdapat hubungan yang fungsional antara data dan pendapat yang teoritis.
Berdasarkan data tersebut di atas secara umum dapat ditarik kesimpulan behwa, suatu teori adalah suatu konseptualisasi yang umum. Konseptualisasi atau sistem pengertian ini diperoleh melalui jalan yang sistematis. Suatu teori harus dapat diuji kebenarannya, bila tidak dia bukan suatu teori. Teori semacam ini mempunyai dasar empiris. Suatu teori dapat memandang gejala yang dihadapi dari sudut pandang yang berbeda-beda, misalnya dapat dengan menerangkan, tetapi dapat pula dengan menganalisa dan menginterpretasi secara kritis.
Menurut Nanang Martono (2015: 318) teori dapat didefinisikan seperangkat pernyataan atau proposisi umum yang menggambarkan aspek yang berbeda dari beberapa fenomena. Teori adalah alur logika atau penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang disusun secara sistematis. Secara umum teori mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction), dan pengendalian (control) suatu gejala. Hoy dan Miskel (2001) mengemukakan bahwa komponen teori itu meliputi konsep dan asumsi. A concept is a term that has been given an abstract, generalized meaning. Konsep merupakan istilah yang bersifat abstrak dan bermakna generalisasi. Dalam proses penelitian, teori dapat dihasilkan dengan cara membaca literatur yang berhubungan dengan topik penelitian.
- Komponen dan Deskripsi Teori
Teori dapat dibedakan menurut beberapa diensi (Bordens & Abbott, 2008; Newman, 2003): menurut jenis, tingkat dan ruang lingkup. Menurut jenisnya, teori dibedakan menjadi teori kuantitatif dan teori kualitatif. Sebuah teori kuantitatif mendefinisikan hubungan antara variabel dan konstanta dalam seperangkat rumus matematika. Dalam teori kuantitatif sejumlah input numeric tertentu akan menghasilkan output numeric tertentu. Sebuah teori kualitatif adalah teori yang cenderung dinyatakan dalam istilah lisan (tidak menggunakan pernyataan matematis). Teori-teori ini menyatakan variabel yang penting dan menjelaskan bagaimana berbagai variabel saling berinteraksi.
Menurut tingkatnya, teori dibedakan menjadi teori deskriptif, teori analogis dan teori dasar (fundamental). Teori deskriptif menggambarkan bagaimana variabel-variabel tertentu saling terkait tanpa memberikan penjelasan bagaimana bentuk hubungan tersebut. Teori analogis merupakan teori yang menjelaskan hubungan melalui analogi. Teori tersebut meminjam dari model yang telah dikenal sebelumnya dengan menyatakan bahwa system yang akan dijelaskan berperilaku dengan cara yang sama dengan yang dijelaskan oleh model yang dipahami dengan baik. Teori dasar merupakan teori tertinggi yang dibuat untuk menjelaskan fenomena dalam wilayah penelitian tertentu. Teori ini tidak bergantung pada analogi sebagai struktur dasar mereka. Teori ini berusaha mencari model realitas yang mendasar yang menghasilkan hubungan antar variabel yang diamati.
Berdasarkan ruang lingkup, menyangkut berbagai situasi teori yang dapat diterapkan secara sah. Sebuah teori dengan lingkup yang luas dapat diterapkan untuk menjangkau situasi yang lebih luas daripada teori dengan lingkup yang lebih terbatas. Dalam riset, teori berguna untuk berbagai hal.
- Sebagai suatu orientasi, teori membatasi jumlah fakta yang perlu dipelajari. Setiap masalah dapat dikaji dalam berbagai cara yang berbeda, dan teori memberi pedoman cara-cara mana yang dapat memberi hasil terbaik.
- Teori juga menyediakan sistem mana yang hendaknya dipakai periset untuk mengartikan data agar dapat dikelompokkan dalam cara yang paling bermakna.
- Teori juga meringkas apa yang perlu diketahui mengenai objek yang dikaji. Dalam hal ini, teori juga dapat digunakan untuk memprediksi fakta-fakta lebih lanjut yang harus dicari.
Berapa jumlah kelompok teori yang perlu dikemukakan atau dideskripsikan, akan bergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis bergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Bila dalam suatu penelitian terdapat tiga variabel independen dan satu dependen, maka kelompok teori yang perlu dideskripsikan ada empat kelompok teori, yaitu kelompok teori yang berkenaan dengan tiga variabel independen dan satu dependen. Oleh karena itu, semakin banyak variabel yang diteliti, maka akan semakin banyak teori yang perlu dikemukakan.
Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variabel-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variabel yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah. Teori-teori yang dideskripsikan dalam proposal maupun laporan penelitiaan dapat digunakan sebagai indikator apakah peneliti menguasai teori dan konteks yang diteliti atau tidak. Variabel-veriabel penelitian yang tidak dapat dijelaskan dengan baik, baik dari segi pengertian maupun kedudukan dan hubungan antar variabel yang diteliti, menunjukkan bahwa peneliti tidak menguasai teori dan konteks penelitian.
Untuk menguasai teori, maupun generalisasi-generalisasi dari hasil penelitian, maka peneliti harus rajin membaca. Orang harus dan menelaah yang dibaca itu setuntas mungkin agar dapat menegakkan landasan yang kokoh bagi langkah berikutnya. Langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut (Donald Ary, 2004; Jamaluddin Ahmad, 2015: 84):
- Menetapkan nama variabel yang diteliti dan jumlah variabelnya.
- Mencari sumber-sumber bacaan (buku, kamus, ensiklopedia, journal ilmiah, laporan penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi) yang sebanyak-banyaknya dan yang relevan dengan setiap variabel yang diteliti.
- Melihat daftar isi setiap buku, dan memilih topik yang relevan dengan setiap variabel yang akan diteliti. (Untuk referensi yang berbentuk laporan penelitian, melihat judul penelitian, permasalahan, teori yang digunakan, tempat penelitian, sampel sumber data, teknik pengumpulan data, analisis, kesimpulan dan saran yang diberikan).
- Mencari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, membandingkan antara satu sumber dengan sumber yang lain, dan memilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
- Membaca seluruh isi topik buku yang sesuai dengan variabel yang akan diteliti, melakukan analisa, merenungkan, dan membuat rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca.
- Mendeskripsikan teori-teori yang telah dibaca dari berbagai sumber ke dalam bentuk tulisan dengan bahasa sendiri. Sumber-sumber bacaan yang dikutip atau yang digunakan sebagai landasan untuk mendeskripsikan teori harus dicantumkan atau dilampirkan.
Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori. Dalam sebuah penelitian, teori yang digunakan harus sudah jelas karena fungsi teori dalam sebuah penelitian menurut Jamaluddin Ahmad (2015: 85) adalah: a. Teori digunakan untuk memperluas dan mempertajam ruang lingkup atau konstruk variabel yang akan diteliti; b. Untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian; dan c. Memprediksi dan membantu menemukan fakta tentang sesuatu hal yang akan diteliti.
- Konsep dan Konstruk
Jika kita menginformasikan sesuatu mengenai objek tertentu, maka diperlukan suatu standar yang umum atas objek tersebut. Untuk hal ini digunakan konsep. Konsep merupakan sejumlah ciri yang berkaitan dengan sesuatu obyek. Konsep diciptakan dengan menggolongkan dan mengelompokkan obyek-obyek tertentu yang mempunyai ciri yang sama. Beberapa contoh konsep dicontohkan berikut ini.
- Kepuasan karyawan dan kepuasan konsumen digeneralisasikan menjadi kepuasan.
- Liter, kubik, galon digeneralisasikan menjadi volume.
- Merah, kuning, jingga digeneralisasikan menjadi warna.
- Membaca buku, mendengarkan kuliah, mengerjakan makalah digeneralisasikan menjadi belajar.
Keempat contoh di atas menjadikan kepuasan, volume, warna dan belajar menjadi konsep.
Pengertian konsep yang membingungkan dapat merusak nilai suatu riset. Kebingungan itu dapat terjadi karena misalnya penggunaan istilah yang mempunyai pengertian berbeda mengenai makna suatu konsep. Oleh karena itu, suatu konsep perlu didefinisikan terlebih dahulu. Untuk keperluan riset, definisi suatu konsep haruslah ketat. Mengingat kerangka teoritik atau kerangka konseptual merupakan landasan dalam melakukan penelitian yang pada dasarnya mengidentifikasi hubungan antar variabel utama untuk menjawab masalah penelitian tertentu, maka perlu dipahami apa yang dimaksud dengan variabel. Sebelum menjelaskan variabel terlebih dahulu perlu dijelaskan apa yang dimaksud dengan teori. Menurut Kerlinger, teori adalah: Sejumlah “constructs” (konsep), definisi, dan proposisi yang menggambarkan suatu fenomena secara sistematik dengan menentukan hubungan antar variabel dengan tujuan menjelaskan dan memprediksi fenomena.
Konsep dan construct memiliki pengertian yang mirip. Sebenarnya ada perbedaan penting dari kedua istilah tersebut. Konsep mengekspresikan suatu abstraksi yang dibentuk melalui generalisasi dari pengamatan terhadap fenomena-fenomena (fakta). Bobot misalnya merupakan suatu konsep yang menyatakan suatu abstraksi dari benda yang mempunyai karakteristik berat atau ringan. Prestasi merupakan konsep yang merupakan abstraksi dari kemampuan seseorang dalam menguasai pelajaran, misalnya berhitung, membaca, menggambar, dan lain-lain. Suatu construct adalah konsep yang memiliki makna tambahan yang sengaja diadopsi untuk kepentingan ilmiah (Kerlinger, 2002).
Kecerdasan adalah suatu konsep, yaitu suatu abstraksi dari pengamatan terhadap perilaku cerdas dan tidak cerdas. Kecerdasan sebagai “construct” ilmiah memiliki makna yang berbeda dengan pengertiannya sebagai konsep. Dalam hal ini para ilmuwan menggunakannya secara sadar dan sistematik dari dua aspek: (1) Masuk kedalam kerangka teoritik dan hubungkan sedemikian rupa dengan construct-construct yang lain. Misalnya kita dapat menjelaskan bahwa loyalitas konsumen terhadap suatu toko merupakan fungsi dari kepuasan dan kualitas pelayanan; (2) Dioperasikan ke dalam konsep-konsep yang dapat diamati dan diukur. Misalnya kita dapat mengetahui loyalitas konsumen dengan bertanya kepada konsumen melalui wawancara atau dengan cara menyebarkan kuesioner yang harus mereka jawab.
Oleh karena itu construct merupakan abstraksi-abstraksi dari fenomena-fenomena yang dapat diamati dari banyak dimensi. Misalnya construct orientasi pasar dalam pemasaran dapat diamati dari 3 dimensi: (1) Customer Orientation; (2) Competitor orientation; (3) Intefunctional coordination. Construct kualitas pelayanan dapat dilihat dari 5 dimensi: (1) Reliability; (2) Responsiveness; (3) Assurance; (4) Empathy; (5) Tangibles.
- Variabel Penelitian
Kalau ada pertanyaan tentang apa yang Anda teliti, maka jawabannya berkenaan dengan variabel penelitian. Jadi variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Periset bekerja pada tingkat teoretis maupun empiris. Pada tingkat teoretis, perhatiannya tercurah pada pengidentifikasian konsep dan hubungannya dengan proposisi. Pada taraf empiris, pernyataan riset akan diuji, periset akan berhadapan dengan variabel-variabel. Dalam praktek, istilah variabel dipakai sebagai sinonim untuk suatu konsep atau hal yang sedang diriset. Dalam konteks penjelasan ini, variabel yang dimaksud adalah suatu simbol yang akan diberi angka atau nilai (Kerlinger, 2002).
Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau obyek yang mempunyai variasi antara satu dengan yang lainnya. Variabel juga dapat merupakan atribut dari bidang keilmuwan atau kegiatan tertentu (Sudjarwo & Basrowi, 2007). Tinggi, berat badan, sikap, motivasi, kepemimpinan, disiplin kerja, merupakan atribut-atribut dari setiap orang. Pengontrolan mutu sistem informasi, penggunaan teknologi Raharja Multimedia Edutainment, Technology Acceptance Model, bahasa pemrograman visual basic, IT Government merupakan atribut teknologi informasi. Dinamakan variabel karena ada variasinya. Berat badan dapat dikatakan variabel, karena berat badan sekelompok orang itu bervariasi antara satu orang dengan yang lain.
Demikian pula motivasi, persepsi, dapat juga dikatakan sebagai variabel karena misalnya persepsi dari sekelompok orang bisa bervariasi. Jadi kalau peneliti akan memilih variabel penelitian baik yang dimiliki oleh orang atau objek maupun bidang kegiatan dan keilmuwan tertentu, maka harus ada variasinya. Kerlinger (2002) menyatakan bahwa variabel adalah konstruk (constructs) atau sifat yang akan dipelajari. Diberikan contoh misalnya tingkat aspirasi, penghasilan, pendidikan, status sosial, jenis kelamin, golongan gaji, produktivitas kerja, dan lain-lain.
Selanjutnya Kerlinger menyatakan bahwa variabel dapat dikatakan sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda (different values). Dengan demikian variabel itu merupakan suatu yang bervariasi. Selanjutnya Cresswell (2008) menyatakan bahwa variabel adalah suatu kualitas (qualities) dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan darinya. Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan disini bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel ini akan diberi nilai didasarkan atas ciri-ciri variabel tersebut, misalnya variabel dikotomis, kategoris, diskrit, dan variabel kontinu. Dikatakan dikotomis jika variabel tersebut hanya berisi dua nilai, misalnya Ya-Tidak, Laki-Perempuan, dan Puas-Kecewa. Dikatakan variabel diskrit jika datanya hanya mempunyai nilai tertentu saja; dan dikatakan sebagai variabel kontinyu jika nilai-nilainya dalam interval tertentu, atau kadang-kadang, dalam suatu himpunan tak terbatas.
Variabel adalah segala sesuatu yang memiliki variasi nilai, misalnya: nilai ujian bervariasi bisa memiliki nilai dari 0-100. Tingkat motivasi bisa bervariasi dari sangat rendah hingga sangat tinggi; Tingkat kepuasan konsumen bervariasi dari sangat rendah hingga sangat tinggi. Contoh lain adalah tingkat kinerja perusahaan yang bisa bervariasi diukur dengan berbagai rasio keuangan, total aktiva, perolehan laba, dan lain-lain. Nilai numerik yang ditetapkan terhadap suatu variabel adalah berdasarkan karakteristik dari variabel yang bersangkutan. Misalnya beberapa variabel disebut variabel “dichotomous” dalam hal ini hanya memiliki dua nilai yang menunjukkan ada tidaknya suatu karakteristik. Misalnya: Bekerja-Tidak Bekerja; Pria-Wanita, memiliki dua nilai besarnya 0 dan 1.
Beberapa variabel yang memiliki nilai yang menunjukkan kategori tambahan (lebih dari dua), disebut variabel discrete, misalnya beberapa variabel demografik seperti agama: Islam, Kristen, Budha, Konghucu, dan lain-lain atau ras: Hispanik, Asia, Kulit Hitam, dan lain-lain. Variabel lain yang memiliki nilai dalam suatu rangkaian nilai tertentu disebut variabel continous, misalnya: pendapatan, usia, volume penjualan dan lain-lain. Dalam penelitian eksperimen dikenal ada control variabel dan extraneous variabel. Control variabel adalah variabel yang dikendalikan peneliti agar tidak mempengaruhi hubungan fungsional antara variabel bebas dan variabel terikat dalam suatu eksperimen. Misalnya suatu perusahaan ingin mengetahui pengaruh murni desain alternatif dari kemasan sabun deterjen terhadap penjualan.
Untuk itu persahaan tersebut melakukan hal-hal sebagai berikut: (1) Selama periode eksperimen konsumen harus berbelanja di suatu toko tertentu; (2) Konsumen hanya berbelanja pada suatu waktu atau jam tertentu dengan jumlah keramaian yang sama; (3) Konsumen berbelanja selama beberapa hari berturut-turut tanpa diekspose terhadap iklan; (4) Harga serta rak panjang produk dibuat selama periode eksperiman tersebut. Dalam hal ini semua variabel yang bisa berpengaruh terhadap penjualan sabun detergen tersebut harus dikendalikan sedapat mungkin (Cresswell, 2007).
Kemudian extraneours variable adalah variabel yang tidak dapat dikendalikan oleh peneliti dalam suatu penelitian eksperimen. Jika variabel tersebut tidak diperhatikan dengan cermat, bisa menimbulkan pengaruh yang mengaburkan (confounding impact) dalam menguji pengaruh variabel bebas tanpa variabel terikat dalam suatu eksperimen. Beberapa contoh dari extraneous variable adalah: perubahan temperature, mood, kondisi kesehatan bahkan kondisi fisik seseorang. Variabel-variabel tersebut tidak bisa dikendalikan oleh peneliti. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi pengaruh variabel tersebut adalah melakukan randomization. Dalam contoh perusahaan sabun diterjen tersebut, maka yang dapat dilakukan adalah melakukan randomization kondisi manipulasi desain kemasan sabun tadi pada sejumlah konsumen dan mengukur unit penjualannya.
- Ciri-Ciri Variabel Penelitian
Dalam penelitian variabel mempunyai tiga ciri, yaitu: mempunyai variasi nilai, membedakan satu objek dengan objek yang lain dalam satu populasi, dan dapat diukur (Widoyoko, 2012). Oleh karena variabel membedakan satu objek dengan objek lain dalam satu populasi, maka variabel harus mempunyai nilai yang bervariasi. Sebagai contoh, dari populasi yang terdiri dari 30 orang mahasiswa, indeks prestasi (IP) hanya akan menjadi variabel apabila terdapat variasi dalam IP pada populasi tersebut.
Sebaliknya, apabila dari 30 mahasiswa tersebut tidak terdapat variasi dalam IP karena mempunyai IP yang sama, maka IP bukanlah variabel pada populasi yang bersangkutan. Contoh lain, dari populasi penduduk yang mendiami suatu wilayah tertentu, jenis pekerjaan atau profesi bukan merupakan variabel apabila seluruh penduduk tersebut memiliki pekerjaan atau profesi yang sama.
Variabel membedakan satu objek dari objek yang lain. Objek-objek menjadi anggota populasi karena mempunyai satu karakterirstik yang sama. Meskipun sama, objek-objek dalam populasi dapat dibedakan satu sama lain dalam suatu variabel. Sebagai contoh, populasi mahasiswa terdiri dari anggota yang memiliki satu kesamaan karakteristik, yaitu mahasiswa. Selain kesamaan itu, antara mereka berbeda dalam usia, jenis kelamin, agama, motivasi belajar, kecerdasan, bakat dan lain sebagainya. Perbedaan-perbedaan tersebut merupakan variasi karena mempunyai sifat membedakan di antara objek yang ada dalam populasi.
Variabel harus dapat diukur. Penelitian kuantitaif mengharuskan hasil penelitian yang objektif, terukur, dan selalu terbuka untuk diuji. Variabel berbeda dengan konsep. Konsep belum dapat diukur, sedangkan variabel dapat diukur. Variabel adalah operasionalisasi konsep, sebagai contoh belajar adalah konsep dan hasil belajar adalah variabel, siswa adalah konsep, jumlah siswa adalah variabel. Dengan demikian data dari variabel penelitian harus tampak dalam perilaku yang dapat diobservasi dan diukur, misalnya prestasi belajar adalah jumlah jawaban benar yang dibuat siswa dalam mengerjakan sebuah tes.
Jadi, nilai variabel di dalam riset, mempunyai variasi antara satu dan lainnya, misalnya dalam hal tinggi badan dan berat badan yang merupakan atribut dari seseorang. Berat badan dan tinggi badan akan bervariasi bila terjadi pada sekelompok orang, apalagi diambil secara acak. Jika sekelompok orang tadi tinggi dan berat badannya sama, maka semua itu bukan variabel melainkan konstanta. Jika suatu variabel dikaitkan dengan variabel lain sampai terbentu sebuah model, maka variabel akan mempunyai bermacam-macam bentuk. Untuk riset dalam bidang pendidikan, variabel-variabel yang umum dipakai antara lain, variabel independen (bebas) dan dependen (tidak bebas), variabel kontrol, variabel moderating, dan variabel intervening.
- Macam-Macam Variabel Penelitian
Berdasarkan fungsinya variabel dapat dikelompokkan ke dalam: (1) Variabel bebas (Independent Variable atau Predictor); (2) Variabel terikat (dependen variable atau criterion variable); (3) Variabel moderating (moderating variable) dan; (4) Variabel intervening (intervening variable). Variabel Bebas (independent variable atau predictor variable) merupakan variabel yang mempengaruhi variabel terikat secara positif maupun negatif. Variabel terikat (dependen variable atau criterion variable) merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas. Tujuan dari penelitian adalah untuk menjelaskan atau memprediksi variabilitas dari variabel bebas. Misalnya suatu penelitian yang ingin mengetahui pengaruh atau hubungan kualitas pelayan terhadap kepuasan konsumen. Kualitas pelayanan menjelaskan atau memprediksi variabilitas dari loyalitas konsumen.
- Variabel Independen dan Dependen
Variabel independen: variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, prediktor, antecedent. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas. Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel independen (bebas) adalah variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel yang lain, sedangkan variabel dependen (tergantung) adalah variabel yang dijelaskan atau yang dipengaruhi oleh variabel independen. Penjelasan suatu fenomena tertentu secara sistematis digambarkan dengan variabel-variabel dependen. Misalnya, suatu riset bertujuan untuk menguji pengaruh biaya promosi terhadap pendapatan (sales) suatu produk detergen.
Di sini, terdapat satu variabel independen yaitu biaya promosi dan satu variabel dependen yaitu pendapatan. Variabel dependen: sering disebut sebagai variabel output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai veriabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Contoh pendapatan, dalam hal ini, menjadi fenomenanya. Selain satu variabel independen, banyak riset dilakukan untuk menguji beberapa variabel independen (bebas) dan satu variabel dependen (tidak bebas). Misalnya, riset yang ditujukan untuk menguji pengaruh biaya promosi, biaya distribusi, dan biaya produksi terhadap pendapatan (sales). Di sini terdapat tiga variabel bebas. Semakin tinggi kualitas pelayanan maka diduga semakin tinggi loyalitas konsumen. Oleh karena itu kualitas pelayanan merupakan variabel bebas dan kepuasan konsumen merupakan variabel terikat.
- Variabel Moderating (Moderating Variable)
Variabel moderator adalah variabel yang mempengaruhi (memperkuat atau memperlemah) hubungan antara variabel independen dengan dependen. Variabel disebut juga sebagai variabel independen kedua. Hubungan perilaku suami dan istri akan semakin baik kalau mempunyai anak. Di sini anak adalah sebagai variabel moderator yang memperkuat hubungan dan fihak ketiga adalah sebagai variabel moderator yang memperlemah hubungan. Hubungan langsung antara variabel-variabel independen dan dependen kadang-kadang dipengaruhi oleh variabel lain. Variabel lain ini dapat memperlemah atau memperkuat arah hubungan antara variabel independen dan dependen.
Variabel ini juga dapat mengubah nilai hubungan dari positif ke negatif atau sebaliknya. Misal, hasil belajar mahasiswa dipengaruhi oleh motivasi belajar mereka. Artinya, makin besar motivasi belajar akan semakin baik pula hasil belajar mereka, atau sebaliknya. Sikap dosen, dalam hal ini dapat dijadikan contoh sebagai variabel moderating-nya. Sikap dosen yang tegas dipandang oleh mahasiswa sebagai sikap yang positif. Sikap tegas dapat memotivasi belajar mahasiswa. Begitu pula sebaliknya, jika sikapnya arogan, maka dipandang oleh mahasiswa sebagai sikap yang negatif. Arogan dapat membuat motivasi belajar mahasiswa menurun, misalnya mahasiswa absen kuliah. Akibatnya, hasil belajar mahasiswa pun menjadi buruk (Sugiyono, 2005).
Variabel moderating adalah variabel yang mempengaruhi hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Misalnya suatu teori menyatakan bahwa kualitas pelayanan akan mempengaruhi “loyalitas konsumen”. Pengaruh kualitas pelayanan terhadap loyalitas konsumen akan bervariasi berdasarkan faktor demografik (misalnya pendidikan, pendapatan) sebagai variabel moderating. Hubungan tersebut dapat dilihat pada gambar 8.1.
Variabel Bebas Variabel Terikat
Variabel Moderating
Gambar 8.1. Hubungan antara Kualitas Pelayanan, Loyalitas Konsumen dan Faktor Demografik.
- Variabel Intervening
Variabel intervening merupakan variabel yang berada di antara variabel bebas dan variabel terikat, sehingga sebelum variabel bebas mempengaruhi variabel terikat, terlebih dahulu akan melalui variabel intervening. Variabel intervening adalah variabel yang mempengaruhi hubungan langsung antara variabel independen dan variabel dependen, sehingga terjadi hubungan yang tidak langsung. Artinya, variabel intervening merupakan variabel yang terletak di antara variabel-variabel independen dan dependen, sehingga variabel independen tidak langsung menjelaskan atau mempengaruhi variabel dependen.
Penelitian yang lebih kompleks, menunjukkan pengaruh variabel bebas, variabel terikat, variabel moderating dan variabel intervening. Misalnya penelitian yang menguji pengaruh variabel moderating yaitu faktor demografi terhadap hubungan antara kualitas pelayanan, kepuasan konsumen dan loyalitas konsumen. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar 8.2.
Gambar 8.2. Hubungan antara Kualitas Pelayanan, Faktor Demografi, Kepuasan Konsumen dan Loyalitas konsumen.
Model-model hubungan antarvariabel masih dapat dikembangkan lagi, sesuai dengan paradigma riset yang ada di benak periset itu sendiri. Untuk dapat menentukan kedudukan variabel independen, dan dependen, moderator, intervening atau variabel yang lain, harus dilihat konteksnya dengan dilandasi konsep teoritis yang mendasari maupun hasil dari pengalaman empiris. Untuk itu sebelum peneliti memilih variabel apa yang akan diteliti perlu melakukan kajian teoritis, dan melakukan studi pendahuluan terlebih dahulu pada objek yang akan diteliti. Jangan sampai terjadi membuat rancangan penelitian dilakukan dibelakang meja dan tanpa mengetahui terlebih dahulu permasalahan yang ada di objek penelitian.
- Variabel Kontrol
Di samping variabel-variabel atau factor-faktor tersebut di atas, peneliti juga bekerja dengan variabel-variabel seperti variabel kendali (kontrol) dan intervening. Seluruh variabel dalam situasi atau dalam diri seseorang (dispositional variable) tidak dapat dikaji secara bersamaan waktunya. Variabel-variabel tersebut harus dinetralisasikan untuk menjamin bahwa variabel-variabel itu tidak akan memiliki dampak yang berbeda atau moderate terhadap variabel-variabel yang dicari hubungannya. Variabel yang dinetralisasi inilah yang diidentifikasi sebagai variabel kontrol atau kendali (Sugiyono, 2011).
Menurut Darmadi (2011), variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan sehingga tidak mempengaruhi variabel bebas dan terikat. Jadi yang dimaksud dengan variabel kendali atau kontrol adalah variabel yang diusahakan untuk dinetralisasi oleh peneliti. Dampak variabel kontrol atau variabel kendali ini dilakukan dengan cara melakukan eliminasi (pembatasan), menyamakan kelompok, dan randomisasi atau pengacakan.
- Kerangka Teoritik dan Kerangka Berpikir
Kerangka teoritik merupakan landasan dari keseluruhan proses penelitian. Secara logis mengembangkan, menguraikan dan menjelaskan hubungan-hubungan yang terjadi antara variabel yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian. Kaitan antara tinjauan pustaka dengan kerangka teoritik yaitu tinjauan pustaka menyajikan suatu dasar untuk membentuk kerangka teoritik untuk selanjutnya hipotesis yang relevan dapat ditarik dari kerangka teoritik tersebut.
Kerangka teoritik menjelaskan hubungan antar variabel, menjelaskan teori yang melandasi hubungan-hubungan tersebut, serta menjelaskan karakteritik serta arah dari hubungan-hubungan tersebut. Suatu kerangka teoritik yang baik mengidentifikasi serta menentukan variabel-variabel yang relevan dengan masalah penelitian yang telah dirumuskan. Secara logik menjelaskan hubungan-hubungan antar variabel: variabel bebas, variabel terikat, variabel moderating serta variabel intervening.
Terdapat empat hal yang perlu ada dalam setiap kerangka teoritik: (1) Variabel yang dianggap relevan harus dengan jelas diidentifikasi dan ditentukan dalam pembahasan; (2) Pembahasan harus menyatakan bagaimana dua variabel atau lebih berhubungan satu sama lain; (3) Jika karakteritik dan arah hubungan dapat dijelaskan secara teoritik berdasarkan hasil-hasil penelitian sebelumnya, maka dalam pembahasan dapat ditentukan apakah hubungan yang terjadi positif atau negatif. (4) Seharusnya ada penjelasan mengenai mengapa kita menduga hubungan-hubungan itu terjadi.
Kerangka berpikir merupakan inti dari teori yang telah dikembangkan yang mendasari perumusan hipotesis. Yaitu teori yang telah dikembangkan dalam rangka member jawaban terhadap pendekatan pemecahan masalah. Argumentasinya dapat ditarik dari temuan-temuan penelitian sebelumnya. Sekaran (2006) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting. Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis peraturan antar variabel yang akan diteliti.
Kerangka berfikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut berkenaan dua variabel atau lebih. Apabila penelitian hanya membahas sebuah variabel atau lebih secara mandiri, maka yang dilakukan peneliti disamping mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing-masing variabel, juga argumentasi terhadap variasi besaran variabel yang diteliti (Sukmadinata, 2006). Penelitian yang berkenaan dengan dua variabel atua lebih, biasanya dirumuskan hipotesis yang berbentuk komparasi maupun hubungan. Oleh karena itu dalam rangka menyusun hipotesis penelitian yang berbentuk hubungan maupun komparasi, maka perlu dikemukakan kerangka berfikir.
Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi obyek permasalahan (Suriasumantri, 2003). Kriteria utama agar suatu kerangka pemikiran bisa meyakinkan sesama ilmuwan, adalah alur-alur pemikiran yang logis dalam membangun suatu kerangka berfikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis. Jadi kerangka berfikir merupakan sintesa tentang hubungan antar variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan. Berdasarkan teori-teori yang telah dideskripsikan tersebut, selanjutnya dianalisis secara kritis dan sistematis, sehingga menghasilkan sintesa tentang hubungan antar variabel yang diteliti.
Selanjutnya Sekaran (2006) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir yang baik, memuat hal-hal sebagai berikut:
- Variabel-variabel yang akan diteliti harus dijelaskan.
- Diskusi dalam kerangka berfikir harus dapat menunjukkan dan menjelaskan hubungan atau keterkaitan antar variabel yang diteliti, dan ada teori yang mendasari.
- Diskusi juga harus dapat menunjukkan dan menjelaskan apakah hubungan antar variabel itu positif atau negative, berbentuk simetris, kausal atau interaktif (timbal balik atau umpan balik).
- Kerangka berpikir tersebut selanjutnya perlu dinyatakan dalam bentuk diagram (paradigma penelitian), sehingga pihak lain dapat memahami kerangka berfikir yang dikemukakan dalam penelitian.
Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi objek permasalahan (Suriasumantri, 2003). Kriteria utama agar suatu kerangka pemikiran bisa meyakinkan sesama ilmuwan, adalah alur-alur pikiran yang logis dalam membangun suatu kerangka berfikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis. Jadi kerangka berfikir merupakan sintesa tentang hubungan antar variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan. Berdasarkan teori-teori yang telah dideskripsikan tersebut, selanjutnya dianalisis secara kritis dan sistematis, sehingga menghasilkan sintesa tentang hubungan antar variabel yang diteliti. Sintesa tentang hubungan variabel tersebut, selanjutnya digunakan untuk merumuskan hipotesis.
- Definisi Operasional (Operational Definition)
Dalam proposal atau laporan penelitian, terdapat satu bagian dari subbab yang meskipun tidak wajib ada namun sangat penting jika laporan penelitian tersebut ingin dikatakan lengkap. Bagian tersebut yaitu definisi operasional. Secara sederhana definisi operasional dimaknai sebagai sebuah petunjuk yang menjelaskan kepada peneliti mengenai bagaimana mengukur sebuah variabel secara konkret. Melalui definisi operasional, peneliti akan lebih mudah menentukan metode untuk mengukur sebuah variabel serta menentukan indikator yang lebih konkret sehingga lebih mudah untuk diukur dan diuji secara empiris.
Definisi operasional mengongkretkan makna yang dimaksudkan dari sebuah konsep yang berkaitan dengan studi tertentu dan memberikan beberapa kriteria untuk mengukur keberadaan konsep empiris tersebut. Menyusun definisi operasional adalah proses yang wajib dilakukan oleh peneliti sebelum mengukur sebuah variabel yang diturunkan ke dalam bentuk pertanyaan penelitian. Ada kalanya konsep, proposisi, serta hipotesis masih bersifat abstrak dan belum sesuai atau belum mampu menggambarkan kondisi empiris gejala sosial yang akan diteliti. Oleh karena itu, peneliti harus menjelaskan konsep atau hipotesis tersebut sesuai dengan gambaran riil di lokasi penelitian.
Ruane (2005) menulis, definisi operasional membantu menentukan langkah-langkah atau prosedur yang tepat yang digunakan saat melakukan pengukuran. Sebagai contoh, konsep disiplin akan berbeda konteksnya apabila diterapkan untuk menjelaskan kondisi disiplin karyawan, disiplin mahasiswa, dan konsep disiplin dalam lingkungan masayarakat awam. Tingkat kedisiplinan mahasiswa dapat didefinisikan sebagai tingkat kepatuhan mahasiswa pada peraturan yang berlaku di kampus. Tingkat disiplin karyawan dapat didefinisikan sebagai tingkat kepatuhan karyawan pada peraturan yang berlaku di kantornya. Perbedaan definisi akan berdampak pada rumusan indikator dan pertanyaan dalam kuesioner. Indikator mahasiswa disiplin dengan karyawan disiplin tentu berbeda.
Secara pribadi, banyak ditemukan laporan penelitian skripsi maupun tesis yang salah memahami definisi operasional ini. Kebanyakan mendefinisikan judul penelitian kata demi kata, padahal definisi operasional adalah penjelasan variabel yang akan diamati dalam pemecahan masalah. Definisi operasional variabel merupakan proses mengubah kata yang digunakan dalam definisi normal. Contoh judul penelitian: pengaruh gaya kepemimpinan dengan peningkatan kinerja pegawai, maka variabelnya adalah gaya kepeimpinan dan kinerja pegawai. Definisi operasionalnya bisa berupa penjelasan dari segi makna atau mengungkapkan skala pengukuran untuk masing-masing variabel (Ahmad, 2015: 130).
Ada tiga cara yang dapat digunakan untuk menyusun definisi operasional (Nanang Martono, 2015: 68): Pertama, menyusun definisi operasional berdasarkan kegiatan yang harus dilakukan agar hal yang akan didefinisikan itu terjadi. Definisi ini menekankan cara untuk menghasilkan keadaan atau hal yang didefinisikan, terutama mendefinisikan variabel bebas. Misalnya: miskin adalah sebuah kondisi ketika seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, sehingga ia pun tidak mampu memenuhi kebutuhan lain dengan cukup.
Kedua, definisi operasional disusun dengan menjelaskan bagaimana hal yang didefinisikan itu beroperasi. Misalnya: keluarga bahagia adalah keluarga yang mampu menghadapi masalah keluarga dengan baik sehingga tidak pernah mengalami konflik dalam rumah tangga; ketidaksetaraan merupakan kondisi ketika setiap individu atau kelompok berada dalam posisi yang tidak setara akibatnya salah satu individu atau kelompok tersebut mendominasi atau menguasai individu atau kelompok lainnya. Ketiga, definisi operasional disusun dengan menjelaskan bagaimana hal yang didefinisikan dapat diamati. Misalnya, posesif adalah kondisi ketika seseorang merasa sangat memiliki akan sesuatu yang ia miliki, termasuk pasangannya, sehingga ia membatasi ruang gerak pasangannya tersebut.
Rangkuman
Teori adalah alur logika atau penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang disusun secara sistematis. Secara umum teori mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction), dan pengendalian (control) suatu gejala. Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variabel-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variabel yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah.
Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau obyek yang mempunyai variasi antara satu dengan yang lainnya. Variabel juga dapat merupakan atribut dari bidang keilmuwan atau kegiatan tertentu. Berdasarkan fungsinya variabel dapat dikelompokkan ke dalam: (1) Variabel bebas (independent variable atau predictor); (2) Variabel terikat (dependen variable atau criterion variable); (3) Variabel moderating (moderating variable) dan; (4) Variabel intervening (intervening variable). Variabel Bebas (independent variable atau predictor variable) merupakan variabel yang mempengaruhi variabel terikat secara positif maupun negatif. Variabel terikat (dependen variable atau criterion variable) merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas. Tujuan dari penelitian adalah untuk menjelaskan atau memprediksi variabilitas dari variabel bebas. Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi objek permasalahan.
Daftar Pustaka
Ahmad, Jamaluddin. 2015. Metode Penelitian Administrasi Publik: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Penerbit Gava Media.
Cresswell, John W. 2008. Educational Research, New York: Pearson Merril Prentice-Hall.
Cresswell, John W. 2007. Designing and Conducting Mixed Methods Research. Toronto: Sage Publication.
Donald Ary, Jacobs L.C, Razavieh, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Terj. Arief Furchan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Donald R. Cooper. Pamela S. Schindler. 2003. Business Research Methods. New York: McGraw-Hill.
Darmadi, Hamid. 2011. Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Alfabeta.
Martono, Nanang. 2015. Metode Penelitian Sosial: Konsep-Konsep Kunci. Jakarta: Penerbit Raja Grafindo Perkasa.
Ruane, J.M. 2005. Essentials of Research Methods: A Guide to Social Science Research. Oxford: Blackwell Publishing.
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian dan Pengembangan. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods), Bandung: Alfabeta.
Sekaran. Uma. 2006. Research Methods for Business : Metodologi Penelitian untuk Bisnis. Terj. Kwan Men Yon. Jakarta: Salemba Empat.
Sudjarwo, Basrowi. 2007. Manajemen Penelitian Sosial, Bandung: Mandar Maju.
Suriasumantri, Jujun S. 2003. Ilmu Dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Sukmadinata, N,S. 2006. Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Rosdakarya.
Widoyoko, Eko Putro. 2012. Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian, Bandung: Pustaka Pelajar.
Anggaplah apa yang Anda inginkan sudah menjadi milik Anda. Ketahuilah bahwa keinginan Anda akan datang kepada Anda pada saat diperlukan. Kemudian biarkan datang. Jangan mengeluhkan atau mengkhawatirkannya. Jangan memikirkan ketiadaannya. Pikirkan keinginan Anda sebagai milik Anda, sebagai benda milik Anda, sebagai harta Anda.
Robert Collier



